Chaptered · Family · Friendship · Genre · Length · PG · Rating · Romance · sad

Oh! My Boy Chapter 6


Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

Eun Ji menidurkan kepalanya pada tangan yang menjadi bantalnya, dia berangkat pagi sekali ke kampus karena hari ini mata kuliah dosen favoritnya, tetapi tiba-tiba dosen itu tidak masuk dan membuat Eun Ji menjadi penunggu kantin. Dia benar-benar tidak berenergi setelah mengetahui jika dosennya tidak masuk dan juga akibat kejadian tadi malam, saat orang yang dicintainya berbuat kasar terhadapnya, Eun Ji tidak berharap Yoon Gi seperti lelaki lain diluar sana , tetapi setidaknya dia tidak terlalu kasar menanggapi ketakutan Eun Ji.

“Hya Eun Ji!” teman-teman Eun Ji menghampirinya.

“Jika kau mengantuk lebih baik pulang saja” ujar salah satu temannya.

“Aku tidak mengantuk hanya tidak berenergi saja” jelas Eun Ji.

“Seorang Eun Ji tidak berenergi, apa karena dosen favoritmu itu tidak masuk?” Eun Ji menjawab dengan anggukan kepala.

“Sama sekali tidak berubah”cibir salah satu teman Eun Ji.

“Kemarin malam aku melihat kau dan Eun Kyung berada dibioskop bersama Yoon Gi dan seorang lelaki lain” Eun Ji menegakkan tubuhnya, dia masih diam bingung apakah harus menceritakannya pada mereka atau tidak , Eun Ji sudah jarang bercerita pada teman-temannya dia takut jika teman-temannya melarang untuk mendekati Yoon Gi lagi.

Namun Eun Ji tetaplah seorang perempuan yang akan membagi cerita sedihnya pada teman-temannya , mungkin jika bukan Yoon Gi yang dia suka, dia akan berbagi cerita pada Eun Kyung. Namun sekarang dia tidak bisa berbagi cerita dengan Eun Kyung , Eun Ji tau Eun Kyung merasa bersalah, tapi Eun Ji berterima kasih pada Eun Kyung setidaknya dia bisa merasakan menonton film bersama orang yang dicintainya.

“Kamu masih mengejar lelaki dingin itu , kami sudah bilang jangan mengejarnya terus, dia itu tidak pantas untukmu Ji” Eun Ji sangat malas sebenarnya mendengar ucapan dari teman-temannya itu.

“Kenapa kamu tidak mengenalkan sepupumu pada kami , dia cukup tampan dan tampak friendly” Eun Ji ingin muntah mendengar pujian temannya untuk Ho Seok.

“Mereka saling mengenal dan mempunyai masa lalu yang belum selesai” jelas Eun Ji , membuat teman-temannya diam untuk sementara.

“Ji ayo ikut kami nanti malam pergi menghadiri pesta ulang tahun” ajak temannya , apakah Eun Ji harus menerima ajakan tersebut? Atau harus menolaknya.

“Entahlah , aku hanya ingin bermalas-malasan dirumah”

“Ayolah kau pasti akan terhibur , dan aku jamin kau akan melupakan masalahmu sejenak Ji”

“Baiklah aku ikut!”

“Oke kita pergi sekarang” tangan Eun Ji ditarik oleh salah satu temannya.

“Bukannya nanti malam acaranya , kenapa harus sekarang perginya?”

“Kita harus pergi berbelanja dan kesalon” Eun Ji hanya tersenyum menanggapinya.

Yoon Gi melihat Eun Ji bersama teman-temanya , dan merasa bingung karena biasanya Eun Ji akan bersama-sama dengan Eun Kyung , apa Eun Ji tidak menemukan keberadaan Eun Kyung. Yoon Gi sedari tadi sedang mencari Eun Kyung, sedari pagi Eun Kyung berangkat tanpa menunggu dirinya dan juga Ho Seok , Yoon Gi tau Eun Kyung marah padanya karena kejadian kemarin. Sementara itu seseorang yang dicari-cari oleh Yoon Gi berada dikelasnya dan sedang fokus mendengarkan penjelasan dosennya , Yoon Gi pun memilih untuk pergi kekantin untuk menunggu Eun Kyung.

“Apa kau tidak pulang?” tanya teman Eun Kyung saat melihat Eun Kyung berjalan ke arah perpustakaan.

“Hari ini aku bertugas untuk membereskan buku-buku diperpustakaan” jelasnya lalu teman Eun Kyung berpamit untuk pulang. Yoon Gi sudah 1 jam menunggu Eun Kyung, namun dia belum melihat Eun Kyung melewati kantin ataupun keluar dari gerbang kampus.

Setelah mengirim pesan pada Eun Kyung , Yoon Gi pun meninggalkan kampus untuk pulang kerumah , karena dia mempunyai janji dengan teman-temannya. Sebelum melakukan tuganys Eun Kyung mencari hand phonenya di dalam tas , namun benda persegi panjang itu tidak ditemukan didalam tasnya.

“Ah hand phone aku , kenapa bisa sampai tertinggal?” ujar Eun Kyung lalu menyimpan tasnya dalam loker dan segera membereskan buku-buku yang tidak tertata rapi.

“Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku dan membalas pesanku? Dan dari mana saja kamu baru pulang” ujar Yoon Gi saat melihat Eun Kyung masuk kedalam rumah, lalu Eun Kyung memilih untuk duduk dihadapan Yoon Gi.

“Satu Hand phone aku ketinggalan dirumah , dua aku hari ini ada jadwal membereskan buku di perpustakan , dan membuat aku telat pulang” jelas Eun Kyung jujur.

“Kenapa bisa lupa? Setidaknya kamu meminjam hand phone teman kamu untuk memberitauku” Eun Kyung bangkit dari duduknya.

“Dan membuat seluruh perempuan tau nomer ponselmu , bukannya oppa tidak suka akan hal itu?” Yoon Gi terdiam, ya memang benar dia tidak memperbolehkan Eun Kyung untuk memberitaukan nomer ponselnya pada siapapun, kecuali orang-orang yang memang sudah dia kenal.

“Aku istirahat dulu” ucap Eun Kyung sambil berlalu melewati Yoon Gi.

Suara ketukan pada pintu menggangu tidur nyenyak Eun Kyung , dengan malas Eun Kyung membuka pintu kamarnya dan memperlihatkan Yoon Gi yang berdiri tepat di depan pintu dengan pakaian rapi.

“Oppa mau kemana?” tanya Eun Kyung

“Aku akan pergi ke pesta ulang tahun temanku saat SMA , jadi kunci pintu rumah sekarang dan jaga rumah baik-baik” Eun Kyung cemberut sebal , Yoon Gi meninggalkannya sendirian dirumah tanpa mengatakan ‘ingin ikut’. Eun Kyung pun langsung mengunci pintu rumah dan kembali kedalam kamarnya untuk meneruskan tidurnya yang sempat terganggu. 

Sebenarnya Yoon Gi tidak ingin datang ke acara ulang tahun temannya , bukan karena tidak ingin bertemu dengan teman-teman semasa SMAnya, tetapi tempat pesta ulang tahunlah yang menjadi masalah. Yoon Gi tidak pernah menginjakkan kakinya di sebuah club/bar, tempat yang selalu Yoon Gi hindari dan pastinya tidak memperbolehkan Eun Kyung untuk pergi ke tempat laknat tersebut. Yoon Gi memberikan kartu undangan kepada penjaga bar tersebut dan dia segera masuk kedalam bar dan mengikuti pelayan yang akan mengantarnya ketempat dimana acara diadakan.

“Oh Brother Yoon Gi” ucap temannya yang kebetulan sedang berdiri, dan langsung menghampiri Yoon Gi yang masih setia di depan pintu.

“Oremanida” ucap teman-temannya bergantian, Yoon Gi hanya membalasnya dengan senyum, lalu memberikan selamat pada temannya yang sedang berulang tahun.

“Aku senang kamu datang, aku tau kamu pasti tidak nyaman berada disini, tetapi aku ingin melihat teman baikku berada disini merayakan ulang tahunku” jelas teman Yoon Gi, dan Yoon Gi langsung memeluknya, sudah lama dia memutus kontak dengan teman semasa SMAnya.

Saat Yoon Gi akan meminum minumannya, pintu ruangan terbuka dan masuklah beberapa wanita , Yoon Gi mengurungkan niatnya untuk minum karena melihat seseorang yang dia kenal masuk bersama dengan beberapa wanita tadi. 

“Yoon Gi kenalkan dia kekasihku dan calon istriku” ujar temannya yang berulang tahun, dan Yoon Gi hanya menundukkan kepalanya tanpa mau menjabat tangan kekasih temannya itu.

Seorang gadis yang melihat hal tersebut, hanya diam tanpa melepas pandangannya pada wajah Yoon Gi, teman gadis itu mendekatinya dan berbisik

“Kau lihat dia bukan pria yang baik dan kau lihat dia tidak ingin menjabat tanganku, aku rasa dia punya kelainan tidak bisa menyentuh seorang wanita, jadi lebih baik kau cari saja pria lain. Lihatlah disini banyak pria yang singel, kau harus berkenalan dengan mereka” Eun Ji hanya menganggukkan kepalanya, tanpa berkomentar.

Dan Eun Ji melanjutkan menatap Yoon Gi, entahlah dia tidak bisa memalingkan matanya dari wajah Yoon Gi, malam ini Yoon Gi berbeda mulai dari cara berpakaian dan berbicara dengan temannya, dan juga cara Yoon Gi memegang gelas krystal yang berisi wine itu tampak begitu sexy. Yoon Gi tau sejak tadi Eun Ji memperhatikannya, tetapi dia tidak peduli seakan membiarkan Eun Ji menatapnya terus menerus.

“Lady mau aku tuangkan minuman” Eun Ji tampak bingung, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini, apakah ini sebuah rayuan ujar Eun Ji dalam hatinya.

“Baiklah tetapi sedikit saja” ujar Eun Ji dengan menampilkan senyum khasnya.

Namun, pria yang menawarkan untuk menuangkan minuman pada Eun Ji, memberikan terus menerus minuman itu pada Eun Ji padahal dia sudah menolaknya,  saat akan menuang kembali sebuah tangan menahan tangan pria itu. Semua aktivitas yang dilakukan semua orang didalam ruang itu berhenti seketika, dan Yoon Gi tidak peduli dengan tatapan semua orang padanya.

“Dia bilang cukup, apakah kau tidak mengerti ucapannya?” Eun Ji membulatkan matanya, tidak percaya bahwa Yoon Gi sedari tadi memperhatikannya.

“Kau pria yang naif sekali tuan Min, kau tidak pernah berubah, ayolah biarkan aku me…”Yoon Gi menghempaskan tangan pria itu dan membuat botol yang ada digenggaman pria itu terlempar ke lantai.

Tanpa banyak bicara Yoon Gi langsung berdiri dan berjalan menuju sisi lain lalu menarik tangan Eun Ji untuk keluar dari ruangan itu, Yoon Gi terus menarik Eun Ji tanpa melepaskan genggaman tangannya. Dan Eun Ji hanya mengikuti langkah Yoon Gi yang entah akan membawanya kemana. Eun Kyung sedang berada di kamar Yoon Gi, dia ingin meminjam charger milik Yoon Gi. Namun, sudah setengah jam dia mencari dan belum juga menemukan charger milik Yoon Gi, saat akan memeriksa tempat tidur suara bel rumah berbunyi.

“Siapa yang bertamu malam-malam?” dengan berat hati Eun Kyung melihat siapa yang bertamu malam-malam.

Seorang pria dengan jaket musim dinginnya berdiri di depan pintu rumah Eun Kyung dengan membawa sebuah kantong plastik.

“Apakah sopan seorang pria malam-malam berkunjung kerumah seorang wanita?”Ho Seok hanya tersenyum dan menunjukkan kantong plastik yang dia bawa.

“Apakah aku sudah boleh masuk?”Eun Kyung pun mempersilahkan Ho Seok untuk masuk dan Ho Seok memberikan kantong plastik itu pada Eun Kyung.

“Apa Yoon Gi tidak ada dirumah?”tanya Ho Seok sambil menatap sekeliling ruangan.

“Iya dia pergi ke pesta ulang tahun temannya. Kamu kenapa membawa fried chicken? Dan siapa yang akan memakan ini semua” Eun Kyung terkejut setelah membuka kantong plastik yang berisikan 2 box ayam goreng.

“Pantas saja sepi, yang menghabiskan kita berdua” ujarnya lalu menunjukkan deretan giginya.

“Kau kesini hanya mau memberi ayam goreng saja atau ada hal lain yang ingin kamu tuju” dia berubah ujar Ho Seok dalam hatinya.

“Sebenarnya aku tadi sedang mencari Eun Ji dan aku tidak bisa menghubungi kalian berdua, aku fikir kalian sedang bersama maka dari itu aku kemari” jelas Ho Seok.

“Aku di kampus tadi sama sekali tidak melihatnya, aku rasa Eun Ji menghindariku”ujar Eun Kyung sambil memakan ayam goreng.

“Dia juga menghindariku saat dirumah, apa kamu mempunyai ide baru untuk mendekatkan mereka berdua?”ucap Ho Seok dan mengikuti Eun Kyung memakan ayam goreng yang dia bawa. Eun Kyung menggelengkan kepalanya, dia benar-benar kehabisan ide, apalagi dengan sifat Yoon Gi dia tidak mau membuat Eun Ji sakit hati lagi.

“Jangan mencari kesempatan!” Eun Kyung memperingatkan Ho Seok. Ya Ho Seok mencoba menyandarkan kepalanya lagi pada pundak Eun Kyung, namun Eun Kyung langsung menghindarinya. 

Eun Ji sebenarnya ingin menanyakan sesuatu pada Yoon Gi tetapi mulutnya seakan terkunci rapat agar tidak bisa berbicara, sementara itu Yoon Gi fokus menyetir tanpa mau mejelaskan sesuatu pada Eun Ji. Dan bunyi perut Eun Ji menghancurkan kesunyian yang terjadi di dalam mobil dan hal itu membuat Yoon Gi sedikit menyunggingkan senyumnya, tanpa bertanya Yoon Gi membelokkan mobilnya pada sebuah restaurant siap saji. Eun Ji tidak percaya bahwa Yoon Gi akan membawanya kesebuah restaurant, Eun Ji bisa saja menahan laparnya sampai dirumah, tetapi tanpa bertanya terlebih dahulu Yoon Gi sudah memberhentikan mobilnya dihalaman parkir restaurant siap saji. Sebuah ketukan pada jendela disamping Eun Ji membuat dia kembali pada dunia nyata, dilihatnya Yoon Gi yang sudah berada diluar, tanpa bertanya Yoon Gi membukakan pintu mobil untuk Eun Ji.

“Kau lapar bukan? Ayo kita makan!”ajak Yoon Gi, Eun Ji pun mengikutinya dari belakang.

Mereka makan dalam diam, tidak ada satupun yang berniat untuk membuka suara. Yoon Gi menghentikan aktifitas makannya, lalu menatap Eun Ji yang masih menyantap makanannya.

“Aku minta maaf atas perlakuanku” ujar Yoon Gi, dan membuat Eun Ji menghentikan aktifitas makannya.

Eun Ji hanya menatap Yoon Gi tidak percaya, dan yang terjadi dalam beberapa detik hanya saling menatap.

“Aku minta maaf atas perlakuanku tempo hari saat kita menonton dan juga tadi tiba-tiba membawamu pergi dari club” ujar Yoon Gi kembali, dalam hati Eun Ji berbunga-bunga atas permintaan maaf Yoon Gi.

“Terima kasih” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Eun Ji dan mereka kembali melanjutkan makan malam yang sempat terhenti. 

“Lebih baik kau pulang saja, aku sudah mengantuk” usir Eun Kyung pada Ho Seok.

“Aku masih ingin disini sampai Yoon Gi pulang, apa kamu tidak takut sendirian berada dirumah?”Eun Kyung hanya memutar matanya tidak peduli dan melanjutkan menonton televisi tanpa menghiraukan tatapan dari Ho Seok. 

Yoon Gi menatap Eun Ji diam-diam dari sudut matanya, gadis itu tampak mengantuk tetapi entah apa yang membuatnya tidak tidur. Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundaknya dan membuat Eun Ji menolehkan kepalanya kearah kiri

“Tidurlah jika mengantuk” ujar Yoon Gi yang seperti perintah, dan membuat Eun Ji langsung terlelap begitu saja.

Yoon Gi teringat sesuatu jika dirinya tidak mengetahui dimana tempat tinggal Eun Ji, dan dirinya menyuruh Eun Ji tidur tanpa menanyakan terlebih dahulu alamat rumahnya. Yoon Gi menatap Eun Ji yang tertidur, dia tidak tega membangunkan Eun Ji yang tertidur nyenyak, akhirnya Yoon Gipun memutuskan untuk membawa Eun Ji kerumahnya saja.

“Sepertinya oppa sudah datang” seru Eun Kyung langsung bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju halaman rumahnya.

Langkah kaki Eun Kyung terhenti saat melihat orang lain berada di dalam mobil saudara kembarnya, membuat Ho Seok ikut berhenti tepat dibelakangnya.Yoon Gi yang baru saja keluar dari mobilnya menatap bingung pada Eun Kyung dan juga Ho Seok.

“Kebetulan sekali kau ada disini, bantu aku membawa Eun Ji kedalam” baik Ho Seok dan Eun Kyung sama-sama terkejut, dengan cepat Ho Seok membantu Yoon Gi membawa Eun Ji kedalam rumah.

“Kenapa Eun Ji bisa bersamamu oppa? Dan apa yang oppa lakukan pada Eun Ji?” tanya Eun Kyung Khawatir. Yoon Gi masih diam tidak menjawab pertanyaan Eun Kyung, Yoon Gi masih sibuk mengurus Eun Ji dan membuat terkejut dua orang yang tidak tau apa-apa.

“Berbeda sekali dengan waktu itu” sindir Ho Seok dan Eun Kyung mengangguk begitu saja. Yoon Gi baru saja menyelimuti Eun Ji dengan coat biru dongker miliknya.

“Setelah dia bangun, segera bawa dia pulang” ucap Yoon Gi lalu meninggalkan Eun Kyung dan Ho Seok yang sedang kebingungan.

“Sepertinya kita tidak perlu menyusun rencana lagi” ujar Ho Seok

“Sepertinya begitu, aku harap mereka ada kemajuan tanpa bantuan dari kita” balas Eun Kyung.

Tidak lama terdengar suara orang bergumam tidak jelas, perlahan Eun Ji membuka matanya lalu beradaptasi dengan apa yang dia lihat, dengan cepat Eun Ji bangkit dari tidurnya dan melihat keadaan sekitarnya. Mata Eun Ji menangkap dua orang yang sedang berdiri tidak jauh dari sofa dimana dia tertidur, Eun Ji menjulurkan tangannya pada Eun Kyung dan menariknya lalu Eun Ji memeluk tubuh Eun Kyung erat.

“Ji ah … sesak, jangan erat-erat memelukku” Eun Ji yang sadar jika memeluk Eun Kyung terlalu erat langsung mengendurkan pelukannya.

“Kyungie terima kasih, terima kasih banyak” Eun Kyung bingung, benar-benar bingung.

“Kamu berterima kasih untuk apa? Aku tidak mengerti” sebelum Eun Ji menjelaskannya pada Eun Kyung, Ho Seok menarik kedua gadis itu.

“Ayo kita pulang! Ini sudah malam Eun Ji” ajak Ho Seok.

“Tapi… tapi… aku ingin bercerita pada Eun Kyung” ujar Eun Ji.

“Besok saja, kalian ada kelas yang sama bukan, jadi sekarang lebih baik kita pulang” Eun Ji memasang raut kesal, padahal dia ingin sekali menceritakannya sekarang, tetapi apa daya waktu sudah sangat malam.

“Kyungie besok saja aku ceritakan semuanya di kampus”

“Aku tunggu cerita kamu, andai saja kamu bisa menginap disini” ucap Eun Kyung sambil melirik Ho Seok, Eun Ji pun ikut melirik Ho Seok.

“Tidak akan aku izinkan, disini kamu berbahaya ada orang yang kamu cintai”

“Tidak ada hubungannya” jawab kedua gadis secara bersamaan.

“Sudahlah, ayo kita pulang!”

Eun Ji sekali lagi memeluk Eun Kyung erat sebelum dirinya benar-benar masuk kedalam mobil.

“Kamu janjikan Ji , aku harap besok kau langsung menceritakannya padaku”

“Tentu saja Kyungie, andai saja aku bisa menginap” ucapnya dengan memasang wajah sedih. Suara klakson memecahkan drama yang dibuat Eun Ji.

“Tidak sabaran sekali. Kyungie sampai bertemu besok” ucap Eun Ji lalu dia masuk kedalam mobil dan melambaikan tangannya pada Eun Kyung. Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan mereka dari kamarnya, ya Yoon Gi lah yang memperhatikan mereka, bukan mereka tetapi Eun Ji. Dan seulas senyum muncul saat dia melihat Eun Ji yang kesal karena Ho Seok menyuruhnya segera untuk masuk kedalam mobil.

Di dalam mobil Eun Ji hanya diam, ya dia marah pada sepupunya itu, bagaimana tidak dia ingin sekali mencurahkan kebahagiaannya pada Eun Kyung. Namun, sepupunya mengajaknya untuk pulang.

“Sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi pada kalian berdua?” tanya Ho Seok.

“Aku tidak akan menceritakannya sebelum bercerita pada Eun Kyung”

“Kenapa? Akukan sepupumu Ji”

“Dia sahabatku. Jadi kau tunggu saja giliranmu, oke” ujar Eun Ji lalu tertawa mengejek pada Ho Seok.

Advertisements

One thought on “Oh! My Boy Chapter 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s