Comedy · Freelance · Friendship · Genre · Length · PG -13 · Rating · Romance · Two Shoot

[FF Freelance] Let’s Try! #2A (Sequel of Just Try)


Tittle: Let’s Try! #2A (Sequel of Just Try)

Author:  Bianca Erfisa

Genre: Romance, Friendship, little bit comedy.

Cast:

  • Cho Soyeon (OC)
  • Jung Hoseok (BTS)
  • Kim Namjoon (BTS)
  • Choi Jaehee (OC)

Rating: PG-13

Length: Twoshoot

Cr Poster by: @Yunietananda (Thanks bgt buat posternya, Kak, Nand ^^)

Hati-hati banyak Typo bertebaran!

Happy Reading  ^_^

Silent Readers? Go Away!!!!!! Hush…Hush…Hush *NgusirBrngMemberBTS*

Summary:

“Yya, Cho Soyeon, kau bilang kau tak menyukainya’kan?

Lalu apa masalahnya jika aku memang menyukai Jung Hoseok?”

 

 

###

Soyeon menutup pintu lokernya dengan sedikit keras, membuat Jaehee yang berdiri di depan pintu loker miliknya terperanjat lalu menatap Soyeon jengah.

“Ini aneh,” Membalik badan, Soyeon menatap Jaehee dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Apanya?” Jaehee mengambil beberapa catatannya dari dalam loker lalu menutupnya dengan kesal, berbalik menatap Soyeon yang sekarang tengah menatap punggung Hoseok yang tengah berbincang dengan Namjoon dibangkunya. Jaehee berjalan mendekati Soyeon dan berbisik pelan pada telinga sahabatnya itu, “Kau menyukai Hoseok kan? Akui saja!” Kalimat Jaehee itu sontak membuat Seyeon menolehkan wajahnya dengan cepat dan menatap Jaehee dengan pandangan ‘Kau bercanda?’

“Oh ayolah, seminggu ini kau benar-benar aneh Soyeon-ah,”

“Aku tidak aneh, sungguh. Aku hanya sedang berfikir,”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Jaehee membalik badan, ikut memusatkan pandangannya pada Hoseok dan Namjoon.

“Hoseok..-”

“Got it! Kau memikirkan Hoseok,” Jaehee menjentikan jarinya di depan wajah Soyeon.

“Hey, aku belum selesai bicara,” Soyeon memukul kening Jaehee dengan telapak tangannya, membuat Jaehee mendengus kesal “Aku sedang berpikir ada apa dengan Hoseok akhir-akhir ini. Maksudku, dia jadi lebih tenang dan… begitulah. Ah, dulu ku kira Hoseok akan terlihat lebih baik kalau dia bersikap normal, sekarang aku tarik pemikiran ku itu. Karena sekarang dia justru terlihat lebih aneh, tidak seperti diri nya yang selama ini,” Soyeon berujar seraya berjalan ke arah bangkunya.

“Menurutku tidak, dia justru terlihat tampan..- aww,” Jaehee yang berjalan mengikuti Soyeon terhenti dan sedikit terhuyung kebelakang karena menubruk tubuh Soyeon yang berhenti tiba tiba, Soyeon membalik badan dan menatap Jaehee dengan keritan dikeningnya.

“Hey, ini sakit,” Jaehee mengusap usap keningnya.

“Jaehee-ah, sekarang jujur padaku. Apa kau…” Soyeon menolehkan wajahnya kekanan dan kekiri lalu menatap Jaehee lekat “..Menyukai Hoseok?” Soyeon mengecilkan suaranya.

“Tentu saja, aku tak pernah membenci nya.  Dia ramah, pintar walaupun tidak sepintar Kim Namjoon, ah.. dan dia juga tampan,” Jaehee tersenyum lima jari menatap Soyeon yang terdiam “Hey Soyeon-ah kau kenapa?”

Soyeon mengerjabkan mata lalu menyilangkan kedua tangannya didepan Jaehee hingga membentuk huruf X “Tidak boleh, kau tidak boleh menyukainya. Kau tau dia menyukaiku kan?”

“Kalau dia menyukaimu memangnya kenapa? Apa kau juga menyukainya?”

“Kau bercanda?! Tentu saja tidak!” Sembur Soyeon dengan memutar kedua bola matanya, sedang Jaehee menatap Soyeon dengan seringaian pada sudut bibir nya, ia melipat kedua tangan nya menatap lekat Soyeon yang juga menatapnya “Yya, Cho Soyeon, kau bilang kau tak menyukainya  kan? Lalu apa masalahnya kalau aku memang menyukai Jung Hoseok?”

“Ah molla, aku bilang tidak boleh ya tidak boleh. Lagi pula kau bilang kau memiliki seseorang yang kau sukai?” Soyeon membalik badannya dan berjalan meninggalkan Jaehee yang kembali mengekorinya.

“Memang. Yya, Soyeon-ah.., bagaimana kalau seseorang yang aku maksud itu adalah Hoseok?” Soyeon menghentikan langkahnya, tanpa membalikan tubuh gadis itu sedikit memutar kepalanya menatap Jaehee yang tersenyum dengan wajah memerah “Bagaimana kalau orang yang aku sukai itu adalah Jung Hoseok?”

Soyeon terdiam, menatap senyum tulus yang terukir diwajah sahabatnya, ia menyentuh dadanya yang berdegub tak beraturan.

Hey perasaan macam apa ini?

.

.

.

“Ah sialan, kenapa harus hujan, sih?” Soyeon menghentakan kakinya dengan kesal seraya mendongakan wajahnya menatap ke arah awan yang dengan tiba tiba saja menjadi mendung pekat, “Ramalan cuaca jaman sekarang tidak bisa di percaya, tadi pagi bilang tidak akan hujan kenapa sekarang justru hujan turun deras sekali,” Lagi,  Soyeon menghentakan kakinya, kali ini dengan dengusan yang terdengar frustasi.

“Soyeon-ah,” Suara di balik punggungnya membuat Soyeon berbalik dan terkejut saat mendapati kedua sosok yang berjalan kearahnya.

“Eoh Namjoon-ah,” Alih-alih menatap Namjoon Soyeon justru melirik Hoseok yang berjalan disamping lelaki berdimple itu.

“Kau sendiri ? Dimana Jaehee?”

“Aku tadi menyelesaikan jadwal piket ku, jadi dia pulang lebih dulu,” Soyeon melirik Hoseok dengan ujung matanya, “Hose..-“ Soyeon hendak membuka mulutnya namun ucapannya dengan cepat terpotong dengan kalimat Hoseok.

“Joon, aku pulang dulu, okay,” Hoseok menepuk pundak Namjoon lalu berbalik meninggalkan Soyeon dan Namjoon yang bahkan belum menjawab ucapannya.

“YYAK! JUNG HOSEOK SIALAN!! KAU PIKIR AKU INI VIRUS YANG HARUS DI HINDARI, HAH ??!!  DASAR KUDA GWANGJU BURUK RUPA!! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBAKAR MU HIDUP-HIDUP DAN MENJADIKAN ABU MU SEBAGAI PUPUK KANDANG, KAU DENGAR? JUNG HOSEOK!!” Soyeon mengepalkan tangannya jengkel, gadis itu berteriak dengan telunjuk yang menunjuk kearah punggung Hoseok yang telah samar, gadis itu menarik napas panjang dengan mata terpejam erat dengan sesekali bergumam “Sabar Cho Soyeon, sabar,”

Melihat dan mendengar teriakan anarkis Soyeon, tawa Namjoon meledak, namun ia segera menghentikannya saat mendapati Soyeon menatapnya tajam.

“Namjoon-ah,” Soyeon berujar kesal menatap Namjoon yang masih terkekeh.

“Eoh wae?”

“Ada apa dengan teman mu itu ? Dia benar benar menyebalkan,” Soyeon menghentakan kakinya kesal.

“Bukannya dari dulu kau bilang dia menyebalkan?” Namjoon mengangkat satu alisnya.

“Memang! Tapi sekarang bahkan 1000 kali lipat lebih menyebalkan, aku benar-benar ingin mencekik lehernya hingga sekarat,”

“Ppfft…hahahah, kau cantik dengan wajah memerah seperti itu,”  Soyeon menghentikan tawanya dan menatap Namjoon heran.

“Kau bilanng aku cantik?”

“Iya, aku bilang kau cantik,” Namjoon tersenyum menatap Soyeon yang terdiam “Hey kau melamun?”

“Aah, ini aneh,” Soyeon bergumam, tanpa sadar tangan kanannya merambat pada dadanya.

“Apanya?” Namjoon menatap Soyeon dengan  dahi berkerut.

“Hatiku,” Soyeon mengerjabkan matanya lucu, lalu menatap Namjoon lekat “Hati ku tidak berdebar lagi saat kau bilang aku cantik Namjoon-ah, ini aneh. Aku pikir aku menyukaimu,”

Namjoon terkekeh, lalu mengulurkan tangannya dan mengusap pucuk kepala Soyeon.

“Yah, ini memang aneh,”

Soyeon hanya menatap bingung Namjoon yang tersenyum dan membiarkan lelaki itu mengusap pucuk kepalanya.

.

.

.

Hoseok melirik Namjoon dengan ekor matanya, lelaki itu sedang fokus dengan stick game di tangannya dengan kedua mata yang menatap layar 21’’ dihadapannya.

“Ck sial!” Namjoon membanting stick gamenya saat sang layar menampilkan tayangan mobil animasi yang terbakar karna menabrak gedung.

“Itu milik ku kalau kau lupa, Joon,” Hoseok menatap horor stick game miliknya, alih alih merasa bersalah Namjoon justru berdiri meraih bantal yang digunakan Hoseok yang tertidur diatas ranjang dan merebahkan tubuhnya disamping Hoseok yang langsung terduduk di atas kasur.

“Apa yang kau lakukan?” Hoseok mendelik risih.

“Tidur,”

“Aku tau bodoh, tapi jangan tidur disampingku, kalau Jiwoo Noona masuk kesini jiwa fujoshi gilanya itu akan meledak-ledak. Aku benar-benar frustasi menjadi obyek khayalan konyolnya bersamamu,”

“Kau ini berisik sekali, sih. Aku mengantuk, Jung,” Namjoon membalik tubuhnya hingga tertelungkup dan menenggelamkan wajahnya pada bantal. Melihat Namjoon yang bersikap seenak jidat di dalam kamar nya itu bukan hal baru, namun sejak kejadian 3 minggu lalu saat kakak perempuannya menyelonong masuk tepat saat dia keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dengan handuk yang melilit pada pinggangnya dan Namjoon sudah bertelanjang dada hendak menumpang mandi karna kehujanan membuat ia benar-benar menyesal tak pernah mengunci pintu kamarnya, kakak perempuannya dengan pikirannya yang kurang ajar dengan seenak jidat mengklaim bahwa mereka adalah pasangan kekasih yang manis.

Demi Tuhan! Hoseok benar-benar ingin menjambak rambut kakaknya saat melihat seringaian dan wajah tengik Jiwoo menatapnya penuh arti.

Oke lupakan, buang jauh-jauh kenangan mengerikannya itu.

Hoseok menatap lekat rambut Namjoon yang menjuntai saat lelaki itu menelungkupkan badannya.

“Joon?”

“Eoh?” Namjoon bergumam tanpa merubah posisinya.

“Kau benar-benar tidak menyukai Soyeon kan?”

“Apa maksud mu? Namjoon mengangkat wajahnya dan melirik Hoseok.

“Aku melihat mu kemarin, kau tak langsung pulang. Apa yang kau bicarakan dengan Soyeon?” Namjoon megangkat tubuhnya hingga terduduk.

“Menurut mu bagaimana?”

“Apanya? Aku bertanya sialan, jangan balik bertanya!” Hoseok melempar bantal disampingnya kearah wajah Namjoon, yang langsung ditangkap oleh Namjoon, lelaki itu terkekeh.

“Menurut mu apa aku terlihat menyukainya?”

“Kau boleh menyukai siapa pun, tapi tidak dengan Soyeon. Aku serius, Joon!” Hoseok berujar tegas.

“Kenapa? Kau bilang kau menyerah, lagi pula kau tau dia juga menyukaiku kan?” Namjoon menyeringai samar.

“Kau tau aku menyukainya Joon!”

“Aku tau. Tapi bukannya kau bilang kau akan menyerah?” Namjoon berdiri dan meraih kunci motornya yang tergeletak dilantai.

“Tapi bukan berarti kau bisa menyukainya!” Hoseok menatap kesal Namjoon yang tersenyum menatapnya.

“Kalau begitu bagaimana jika kita melakukannya dengan terbuka?”

“Maksudmu?”

“Selama dia tidak menjadi kekasihmu, aku akan mendekatinya.” Namjoon melipat kedua tangannya di depan dada, “So, jadikan dia kekasihmu secepatnya agar aku memiliki alasan untuk tidak menyukainya,”  Namjoon berjalan keluar kamar, meninggalkan Hoseok yang meneriakan namanya.

“YYAK, KIM NAMJOON! JANGAN MENDEKATI GADIS KU, ATAU AKU AKAN MENGIRIM BOM ATOM KE RUMAH MU SIALAN!!!” Hoseok berlari keluar kamar dan bergegas menuruni tangga mengejar Namjoon yang sama sekali tak berniat menghentikan langkahnya.

.

.

.

Soyeon mengernyit, benar-benar mengernyit. Disana, 10 meter dihadapannya ia melihat Jaehee baru saja turun dari atas motor Hoseok dan memberikan helm yang telah dilepasnya pada Hoseok, dan apa-apa’an dengan jenis tawa sahabatnya itu, Jaehee tertawa dengan sesekali memukul bahu Hoseok pelan, sedangkan Hoseok yang juga tertawa sambil mengusap-usap bahunya yang terkena pukulan Jaehee.

Soyeon meremas ujung roknya dengan kuat, menarik dan menghembuskan napas dengan kasar. Ia masih ingat dengan jelas kalau ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung, tapi kenapa akhir-akhir ini jantungnya sering berdebar tak nyaman saat melihat kedekatan Jaehee dan Hoseok.

Sudah 1 bulan ini Hoseok menjauhinya tanpa alasan, dan itu juga sudah terhitung 1 bulan ia melihat Jaehee dan Hoseok akrab, akrab yang benar benar dekat kalau boleh diperjelas. Ia merasa wajahnya memanas hingga ke telinga saat melihat tangan Hoseok merapikan rambut Jaehee yang berantakan karna tertiup angin, dengan sisa kesabaran yang ia miliki Soyeon berjalan cepat kearah Hoseok dan Jaehee yang saat ini tengah berjalan di koridor kelas.

Tersadar bahwa kakinya yang pend— -maksudnya- tidak panjang itu akan mustahil mengejar mereka, maka Soyeon menghentikan langkahnya dan berteriak kencang.

“JUNG HOSEOK BERHENTI DISITU!!!” Teriakan menggelegar itu sontak membuat Hoseok dan Jaehee menghentikan langkah mereka dan berbalik menatap Soyeon yang berusaha bernapas senormal mungkin, entahlah, menahan emosinya yang nyaris meledak mungkin.

Melihat Hoseok dan Jaehee menghentikan langkahnya Soyeon lantas berjalan menghampiri mereka dengan cepat dan berhenti tepat dua langkah dihadapan Hoseok.

“Kau!” Soyeon menunjuk Hoseok dengan telunjuknya, menggertakan giginya geram. Melihat sikap Soyeon, Hoseok hanya mengangkat satu alisnya tak mengerti.

“Berhenti memasang tampang bodohmu, Hoseok!”  Sembur Soyeon murka.

“Yyak, apa maksudmu?” Hoseok meninggikan suaranya.

“Jangan membentak ku kuda!” Bentak Soyeon tak kalah sengit. Melihat perdebatan di depannya Jaehee memilih mundur beberapa langkah, tidak ingin terlibat.

“Kau yang lebih dulu meneriakiku, pendek!” Hoseok mencondongkan tubuhnya kearah Soyeon, balik menatap Soyeon sengit.

“Kau bilang aku pendek?” Soyeon menatap Hoseok geram dan ikut mencondongkan tubuhnya kearah Hoseok.

“Eoh, wae? Tidak terima?” Hoseok melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kau mau ku bunuh ya?!”

“Ugh, dasar gadis menyeramkan! Yyak, Cho Soyeon, aku jadi kasihan dengan lelaki bodoh yang menyukaimu nantinya,” Hoseok tersenyum meremehkan.

“Oh lihat siapa yang bicara. Bukan kah kau bilang kau pernah menyukaiku, Jung Hoseok?”  Soyeon balik tersenyum meremehkan, membuat Hoseok tergagap karena ucapannya.

Rasakan kau kuda Gwangju!  

“Dasar penyihir!”

“Dasar playboy!”

“Hey aku bukan playboy!” Hoseok berujar tak terima.

“Kau playboy! Buaya darat! Penghianat, suka mempermainkan perasaan perempuan!” Soyeon memukul bahu Hoseok dengan emosi hingga ke ubun-ubun.

“Yyak! Apa maksudmu? Yyak, Cho soyeon ini sakit!”  Hoseok mencekal kedua tangan Soyeon yang memukul bahu dan dadanya.

“Kau bilang kau menyukai ku, tapi hanya karna aku menolak mu kau langsung menyerah dan sekarang justru mendekati sahabat ku, ha-harusnya…” Soyeon meneteskan air matanya tanpa sadar, ia menghelan napasnya dalam dan menatap Hoseok lekat, “Harusnya kalau kau memang menyukaiku kau hanya boleh menggangguku, hanya boleh mendekatiku, bukan dengan gadis lain.  Kalau kau benar-benar menyukaiku kau tak akan menghindar dariku dan membuat ku bertanya-tanya dengan sikapmu itu, dasar bodoh!” Soyeon meninggikan suaranya, membentak Hoseok yang mengerjabkan matanya terkejut.

“Yya, Cho Soyeon,” Hoseok berujar pelan, masih menggenggam kedua pergelangan tangan Soyeon.

“APA??!! “ Bentak Soyeon.

“Kau cemburu, ya?”  Hoseok menyeringai tipis.

“Kau ini bodoh ya? Kenapa masih bertanya, aiisshh jinja! Mati saja kau,  Jung Hoseok!” Soyeon menendang keras tulang kering Hoseok dan langsung berlari meninggalkan Hoseok, Jaehee dan beberapa siswa yang kebetulan menatap aksi anarkis Soyeon.

Alih-alih mengejar Soyeon dan marah karena aksi anarkis dari gadis itu, Hoseok justru tertawa, lalu menoleh pada Jaehee yang masih nampak terkejut dengan perdebatan Hoseok dan Soyeon barusan.

“Kau lihat itu, Jaehee-ah? Bukankah Soyeon benar benar manis,”

“Kau itu buta, ya? Dia menggerikan seperti itu kau bilang manis?” Jaehee bergidik ngeri mengingat tendangan keras sahabatnya itu pada kaki Hoseok beberapa detik lalu. Ugh, itu pasti sangat menyakitkan.

“Yya..yya Jaehee-ah, menurutmu Soyeon cemburu padaku kan? Iya kan?  ahhahaha,” Hoseok berjalan dengan senyum lebar di wajahnya, meninggalkan Jaehee tanpa berniat mendengar jawaban dari gadis yang tengah memutar bola matanya itu, jengah.

“Aku akan berpikir seribu tahun lamanya untuk jatuh cinta padamu, Hoseok-ah,” Jaehee bergumam seraya menggelengkan kepalanya ngeri.

 

To Be Continue

Mari kita ucapkan terimakasih pada Bianca Erfisa yang telah berbaik hati melanjutkan FF abalku ini *SodorinNamjoonDanTaehyungKeBi*  kkkk~

Ada yang bingung kah?

Kalau kalian baca nama Author di ff ini bukan lagi ‘Lisa Kim’ tapi jadi ‘Bianca Erfisa’ pacarnya Bang MonMon, kekasih gelapnya TaeTae (Jangan rebutan sama Momy loh ya.kkkk~), tapi katanya Yoongi juga suka main-main dipikirannya (Bi, lain kali kalau Yoongi main dipikiranmu langsung suruh pulang aja ya. Jangan terlalu lama main dipikiranmu, nnti keburu Jin masuk kepikiranku lagi dan jadi rebutan Jin sama Kak Hyun, pdhl pasangan kita udah dibagi rata sama Kak Nand si pecinta Dedek Kelinci –Re: Kookie-) /GwNgomongApaCoba?/ Oke, abaikan. kkkk~

Jadi gini loh ceritanya, aku –Lisa Kim- entah mengapa terkena serangan WB yang berkepanjangan dan tak berujung. Dan, mood ku buat ngelanjutin FF ini hilang entah kemana. Itulah sebabnya kenapa ini FF gak update2. Maaf yaa. Dan karena aku ngerasa punya utang dan gak enak sama kalian (Khususnya Kak Nand, yang selalu nagih nie ff) jadi aku nyerahin ff ini ke Bi dan syukurlah Bi berbaik hati mau melanjutkan. Jadi, chap ini sampe end nanti Authornya bukan aku lagi, tapi Bianca. Tapi untuk plot-nya masih punyaku atau lebih tepatnya hasil diskusi aku dan Bianca yang ternyata kita sepemikiran dan sehati dalam merancang plot di ff ini #Eaaa

Oke, itu aja. Untuk yang baca dimohon tinggalkan jejaknya. Sekali lagi ucapkan terimakasih untuk Bianca Erfisa. Terimakasih banyak ya, Bi. Love u *HugBiErat2* ^^

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] Let’s Try! #2A (Sequel of Just Try)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s