Freelance · Friendship · Length · PG -13 · Rating · Romance · Two Shoot

[FF Freelance] Let’s Try (Sequel of Just Try)


Tittle: Let’s Try! (Sequel of Just Try)

Author: Lisa Kim  @LisaKim0403 or @Parklisha

Genre: Romance, Friendship.

Cast:

  • Cho Soyeon (OC)
  • Jung Hoseok (BTS)
  • Kim Namjoon (BTS)
  • Choi Jaehee (OC)

Special Cameo:

  • Jeon Jungkook (BTS)

Rating: PG-13

Length: Twoshoot

Cr Poster by: @Yunietananda (Thanks bgt buat posternya, Kak, Nand ^^)

Disclaimer

Fanfic ini murni hasil Imajenasiku yang rada sedikit abal. OC’s dan Semua yang ada dalam FF ini MILIKKU!!! Jung Hoseok & Kim Namjoon milik Tuhan, Orangtuanya, BIGHIT –Selama masa kontrak berlaku- dan yang pasti milik istri dan anak-anaknya kelak.kkkk~

Hati-hati banyak Typo bertebaran!

Happy Reading  ^_^

Silent Readers? Go Away!!!!!! Hush…Hush…Hush *NgusirBrngMemberBTS*

Summary:

“Baguslah, dengan begitu kau tidak akan dibuat pusing lagi dengan kejahilannya. Ahh, kau juga tidak perlu repot-repot mencoba membuka hatimu untuk pemuda yang kau bilang mirip kuda dan super aneh itu. Iyakan?”

 

###

“Tumben sekali kau disini,”

“Memangnya salah kalau aku disini?”

“Tidak, sih. Hanya sedikit aneh saja.kkkk~”

Mendengus kecil, Hoseok memilih untuk mengabaikan ucapan Namjoon. Lalu kembali menyantap sepotong roti isi menu sarapannya pagi ini dalam diam.

Sementara, Namjoon yang baru saja mendudukan diri disamping Hoseok terkekeh kecil melihat respon dari sahabat baiknya itu.  Oh, ayolah… ia berucap seperti itu bukan tanpa alasan. Kenyataanya memang cukup aneh baginya untuk melihat Hoseok sepagi ini sudah berada di kantin. Karena yang Namjoon tahu sahabatnya itu punya satu kebiasaan rutin yang akan dilakukannya sebelum pergi ke kantin.

“Biasanya kau akan menjahili Soyeon dulu sebelum ke kantin,”

Iya. Itulah kebiasaan rutin yang dimaksud Namjoon. Biasanya Hoseok akan terlebih dahulu menjalankan aksi jahilnya pada Soyeon. Seperti yang pemuda itu lakukan pada hari kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Namjoon sudah terlampau hapal dengan kegiatan rutin dari sahabat anehnya itu.

Namun, pagi ini Namjoon dibuat bingung. Pasalnya, ketika ia sampai di ruang kelasnya, suasana kelas nampak sangat damai. Biasanya, ‘kan, ia akan langsung disambut oleh teriakan-teriakan memaki seorang Cho Soyeon pada seorang Jung Hoseok. Tapi pagi ini nampak berbeda dari pagi-pagi biasanya, karena yang ia dapatkan justru Hoseok yang termenung sendirian di kantin.

Aneh, bukan!?

Menelan kunyahan roti terakhirnya, Hoseok lantas menatap Namjoon, “Sepertinya aku akan menyerah,” Ujarnya, lalu meminum banana milknya sampai tandas tak tersisa.

Dahi Namjoon berkerut bingung, “Menyerah?”

“Iya,  menyerah. Menyerah untuk mendapatkan hati Soyeon,” Hoseok menjawab lirih.

Mata Namjoon melebar, “Ke-kenapa?” Tanyanya penasaran, kelewat penasaran malah.

Selama ini yang Namjoon tahu, Hoseok adalah tipe orang yang pantang menyerah. Sahabatnya itu pasti akan berjuang mati-matian demi mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Terlebih lagi dalam kasus ini yang ingin Hoseok dapatkan adalah hati seorang Cho Soyeon, gadis yang sangat dicintainya. Jadi, mana mungkin Hoseok bisa menyerah begitu saja. Aneh!

“Semua usahaku sia-sia, Joon,” Hoseok menghelan napas berat, “Soyeon tidak akan pernah bisa menyukaiku. Mendengar namaku saja mungkin dia sudah muak,” ia tertunduk lesu.

Terdiam, Namjoon tengah memikirkan jawaban apa yang sebaiknya ia berikan pada Hoseok, “Memangnya kau sudah tidak mencintai Soyeon?” Pada akhirnya hanya pertanyaan itulah yang dapat ia suarakan.

Hoseok mengangkat kepalanya yang tertunduk, kembali menatap Namjoon, “Tentu saja aku masih mencintainya. Bahkan akan selalu mencintainya!” Jawabnya tegas.

“Kalau kau memang masih mencintainya, untuk apa kau menyerah, bodoh!?” Namjoon mendesis, “Aku rasa kau hanya perlu merubah cara pendekatanmu padanya. Jujur saja, caramu untuk menarik perhatian Soyeon memang sedikit…. emm,”

“Iya, aku tahu. Caraku itu memang norak, konyol dan kelewat aneh,” Hoseok mendengus.

“Oops, bukan aku yang bilang, loh,” Namjoon terkekeh, yang langsung mendapatkan desisan tajam dari lawan bicaranya, “Iya, menurutku kau hanya perlu merubah cara pendekatanmu itu. Emm, coba kau tarik perhatiannya dengan cara yang manis seperti—”

“Seperti menaruh setangkai mawar merah dan sekotak coklat dilaci mejanya?”

Namjoon mengangguk ragu, “Ya..ya, seperti itu misalnya,”

“Ck, aku pernah melakukan itu di masa-masa awal aku menyukai Soyeon. Dan hasilnya apa? Setangkai mawar merah pemberianku itu justru berakhir di tempat sampah. Oh, jangan lupakan juga sekotak coklat yang aku berikan padanya justru bersemayam diperut Kim Taehyung dan Park Jimin, dua sahabat aliennya itu,” Hoseok mendengus kesal.

Namjoon sudah hampir tertawa kalau saja ia tidak buru-buru menutup mulutnya sendiri, berdeham pelan, lalu kembali berujar, “Kalau begitu coba cara lain. Seperti—”

“Seperti menyelipkan sepucuk surat cinta dilokernya ala-ala pengagum rahasia, begitu?” Hoseok berdecih, “Kau lupa, aku pernah melakukannya dulu!? Dan hasil yang aku dapat apa? Soyeon justru menyangka surat cinta itu pemberian dari Min Yoongi Sunbae, yang memang menyukainya. Dan sialnya, Yoongi Sunbae juga ikut berbohong dan mengatakan surat cinta itu memang pemberiannya. Ugh, kalau saja Yoongi Sunbae tidak menyeramkan seperti ketua geng mafia sudah aku telan hidup-hidup dia,” Hoseok mengerang kesal.

Terkekeh geli, Namjoon menepuk-nepuk punggung belakang Hoseok, “Sudah-sudah, jangan diingat-ingat lagi. Toh, mereka hanya berkencan lima bulan lamanya. Yang penting sekarang mereka sudah putus,”

“Ya, selama lima bulan itu juga aku galau, Joon,” Hoseok meringis nyeri.

Lagi-lagi, Namjoon terkekeh geli. Sementara Hoseok memilih untuk diam, tengah meratapi nasibnya mungkin.

Hening mengambil alih untuk beberapa saat. Sampai akhirnya…

“Hoseok Hyung!?”

Terdengar suara seseorang menyerukan nama Hoseok dengan lantang. Lantas membuat Hoseok dan juga Namjoon menoleh ke sumber suara. Kedua pemuda itu langsung disuguhi sebuah cengiran lebar dari seorang pemuda yang saat ini tengah berjalan menghampiri meja yang mereka tempati.

“Hyung, apa kabar? Sepertinya sudah lama kita tidak bertemu, ya. O..ya, begaimana kelanjutan hubungan Hyung dengan Soyeon Noona? Apa sudah ada kemajuan? Atau bahkan kalian sudah berkencan? Informasi yang aku berikan pasti sangat membantukan, Hyung?” Jungkook. seseorang dengan cengiran lebar itu, bertanya tanpa jeda.

Hoseok mengerang tertahan, lantas balik menatap bocah bergigi kelinci yang berdiri dihadapannya itu geram, “Menurutmu!?” Ujarnya penuh penekanan dan diakhiri dengan sebuah gertakan gigi. Terlihat sekali ia tengah menahan kesal pada pemuda Jeon itu.

Entah memang masih polos atau hanya pura-pura polos, melihat tanggapan tak bersahabat dari Hoseok, bukannya takut Jungkook justru terkekeh geli, “Kalau menurutku, sih, pasti berhasil. Karena semua informasi tentang Soyeon Noona yang aku berikan pada Hyung sudah terbukti kebenaranya. Aku tidak mungkin salah,” Ujarnya yakin.

Hanya dengusan kesal yang mampu Hoseok keluarkan saat ini, enggan untuk kembali meladeni Hoobae satu tingkat dibawahnya itu. Ia hanya berharap Jungkook segera sadar bahwa kehadirannya tidak diharapkan. Ia ingin Jungkook cepat-cepat menghilang dari hadapannya.

“Hyung, sepertinya sudah mau masuk. Aku pamit ke kelas dulu ya,”

Baguslah, akhirnya Jungkook tahu isi hati Hoseok.

“Tapi Hyung, jika tidak keberatan aku ingin minta tolong padamu,”

Hoseok memincingkan matanya pada Jungkook, ‘Mau apa lagi sekarang!!!?’ Batinnya.

“Tolong bayarkan hutangku pada Bibi Nam, ya, Hyung. Tadi aku membeli 3 banana milk, 3 bungkus roti isi, 2 batang coklat dan beberapa permen disana. Tapi saat ingin membayarnya ternyata aku lupa membawa uang. Niatnya sih akan aku bayar saat jam istirahat nanti, tapi berhubung kita bertemu disini, kenapa tidak Hyung saja yang membayar hutangku. Iyakan, Hyung? Sebagai gantinya akan aku sampaikan salammu pada Soyeon Noona, deh,” Jungkook nyengir lebar.

“Apa? YYA! KAU—”

“Baiklah, aku anggap Hyung bersedia. Kalau begitu aku pamit. Annyeong, Hyung,”

Sebelum Hoseok berhasil mengeluarkannya makiannya, Jungkook sudah terlebih dahulu mengambil langkah seribu pergi meninggalkan kantin.

“YYA! DASAR KAU BOCAH SIALAN. BOCAH TENGIK. BOCAH KURANG AJARRRR!!! MEMANGNYA KAU PIKIR AKU KAKEK MOYANGMU, HAH!? SEENAKNYA SAJA MENYURUHKU MEMBAYAR HUTANGMU. ARGH! KALAU SAJA KAU BUKAN ADIK SEPUPUH KESAYANGAN SOYEON SUDAH AKU TELAN HIDUP-HIDUP KAU, JEON JUNGKOOKKKKKKKK!!!”

Pada akhirnya Hoseok hanya bisa mencak-mencak sendiri. Membuat seisi kantin menatapnya horror. Terlebih lagi Namjoon, yang dibuat melongo takjub melihatnya.

“Ja-jadi, bocah itu yang bernama Jeon Jungkook? Adik sepupuh Soyeon?” Setelah beberapa detik dibuat takjub oleh makian Hoseok, akhirnya Namjoon bisa kembali berseru.

Selepas mengeluarkan seluruh emosi dan makiannya pada Jungkook –yang bahkan Jungkook tidak mendengarnya-, Hoseok menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu menghembuskannya berlahan, “Eoh, bocah itu yang bernama Jeon Jungkook. Adik sepupuh kesayangan Soyeon,” Jawabnya, masih dengan napas yang sedikit terengah.

“Ahhh,” Namjoon mengangguk mengerti, “Dia mirip dengan Soyeon. Sama-sama imut,”

Hoseok menatap lawan bicaranya jengah, “Ugh, tolong jangan tertipu dengan wajah imut nan polosnya itu. Karena pada kenyataanya bocah itu sungguh amat sangat menjengkelkan!”

“Kenapa? Apa yang salah dengannya?”

“Kau ingatkan, dulu kau pernah menyarankanku untuk mendekati seseorang yang dekat dengan Soyeon, guna mengorek informasi tantang apa yang disuka dan tidak disukai Soyeon? Itu untuk mempermudah proses pendekatanku pada Soyeon,”

“Memangnya aku pernah menyarankannya, ya?” Namjoon nampak berpikir. Sepertinya ia lupa.

Hoseok mendengus, “Anggap saja iya,”

“Oh, oke. Lalu?”

“Lalu atas dasar saranmu itu akhirnya aku mendekati Jungkook. Karena selain Jaehee, Taehyung dan Jimin, Soyeon juga sangat dekat dengan Jungkook. Bahkan, Soyeon sudah menganggap Jungkook seperti adik kandungnya sendiri,” Hoseok berhenti sejenak, menghirup udara, “Jadi, saat itu aku mendekati Jungkook demi mengorek informasi tentang Soyeon,”

Namjoon manggut-manggut paham, “Lalu masalahnya dimana?”

“Masalahnya terjadi disaat Jungkook memberitahuku tentang Soyeon yang sangat menyukai kodok,”

“Kodok?”

“Iya, kodok. Dan Jungkook juga bilang Soyeon akan sangat senang jika ada seseorang yang memberikannya kodok sebagai hadiah. Awalnya aku tidak mempercayai informasi dan saran dari bocah itu. Karena, mana mungkin gadis manis seperti Soyeon menyukai kodok. Bukankah itu aneh?”

“Ya, cukup aneh,” Namjoon mengangguk setuju.

“Tapi entah mengapa saat aku melihat wajah Jungkook yang nampak sangat serius saat mengatakannya, aku jadi mempercayainya. Jadi—”

“Tunggu sebentar!” Namjoon memamerkan kelima jarinya di depan wajah Hoseok, “Sepertinya aku tahu kelanjutan ceritamu. Jadi, itulah sebabnya disaat ulang tahun Soyeon dua bulan lalu kau memberikannya hadiah berupa puluhan anak kodok? Anak – kodok – hidup!?” Ia menekan intonasi suaranya pada akhir kalimat.

Namjoon ingat sekarang. 2 bulan yang lalu, tepatnya dihari ulang tahun Soyeon, Hoseok memang memberikan sebuah kotak hadiah pada gadis itu. Ia juga ingat disaat Soyeon membuka kotak hadiah dari Hoseok, gadis itu langsung menjerit histeris, lalu pingsan ditempat. Bagaimana tidak pingsan jika yang keluar dari kotak berpita pink itu adalah puluhan anak kodok yang meloncat-loncat dengan lincahnya. Bukan hanya Soyeon yang dibuat histeris, seisi kelaspun dibuat gaduh atas kehadiran puluhan anak kodok pemberian Hoseok.

Hoseok benar-benar tidak waras!

“Ya, aku, ‘kan, hanya mencoba mendengarkan saran dari Jungkook,” Hoseok berujar tanpa dosa.

“Yya! Kau ini polos atau bodoh, sih!?” Namjoon mengerang tertahan, “Mungkin yang dimaksud Jungkook itu bukan kodok sungguhan. Mungkin yang dimaksudnya itu adalah tokoh kartun yang berupa kodok, emm… seperti, tokoh kartun keropi. Ya, boneka keropi. Pasti yang dimaksud Jungkook adalah itu. Bukan kodok sungguhan. Oh, ya ampun, Jung Hoseok!” Pemuda berlesung pipi itu menepuk dahinya frustasi.

“Ishhh, mana aku tahu. Kalaupun memang begitu seharusnya Jungkook memberitahuku lebih detail. Jadi, aku kira Soyeon memang menyukai kodok sungguhan. Memangnya aku salah? Tidak, ‘kan?”

Namjoon menatap Hoseok dengan rahang jatuh kebawah, terlampau takjub dengan jawaban Hoseok.

Tapi baiklah, saat ini Namjoon tidak akan menyalahkan Hoseok sepenuhnya. Mungkin memang benar kesalahpahaman itu terjadi karena informasi yang diberikan Jungkook kurang detail dan Hoseok terlampau bodoh saat mempercayainya.

Jadi, jika ingin menyalahkan seseorang, cukup salahkan Namjoon saja, kenapa juga dia bisa berteman dengan seorang Jung Hoseok yang kelewat aneh itu.

“Lagipula, kalaupun memang Soyeon tidak menyukai kodok pemberianku, setidaknya gadis itu bisa sedikit menghargai perasaan dan usahaku, dong. Bukannya malah memakiku dan bahkan karena kejadian itu dia langsung melebeliku dengan julukan ‘Pemuda berwajah kuda yang amat sangat norak, konyol, aneh dan menyebalkan!’” Hoseok mendengus kesal, “Tidak tahukah dia, seberapa besar pengorbananku untuknya saat itu. Asal tahu saja, aku bahkan rela bangun jam 2 pagi, lalu pergi ke sawah Ayahku yang ada di desa hanya demi mengumpulkan puluhan anak kodok itu. Dan, aku rasa anak-anak kodok itu imut, kok. Buktinya saja, Micky, anak anjing kesayanganku sangat menyukainya,”

Lagi-lagi, Namjoon dibuat takjub dengan penuturan panjang dari Hoseok, ‘Jadi, kau menyamakan Soyeon dengan anak anjing!?’ Batinnya.

Sungguh, ingin rasanya Namjoon menjambak-jambak surai Hoseok saat ini juga. Namun, mati-matian ia menahannya, mengingat saat ini mereka masih berada dikantin. Ia tidak ingin membuat keributan.

“Oke. Terserah kau saja, Jung Hoseok!” Namjoon menyerah. Ia ingin segera mengakhiri pembahasan tentang anak kodok itu sebelum dirinya lepas kendali dan sungguh-sungguh menjambak surai Hoseok, “Jadi, intinya sekarang kau akan berhenti berusaha?” Tanyanya.

Yang ditanya terdiam cukup lama, sampai akhirnya menjawab, “Kurasa apapun yang aku lakukan tidak akan pernah bisa membuatnya menyukaiku. Soyeon sudah terlampau muak denganku,” Hoseok menghelan napas berat, “Lagipula, kau tahukan, Soyeon menyukaimu,” ia tersenyum hambar.

“Ya, aku tahu. Dan mungkin jika aku tidak memandangmu sebagai sahabat aku sudah mengencani Soyeon sejak dulu. Jujur saja, aku juga menyukainya,”

“Yya! Kau!” Hoseok menatap Namjoon tajam.

Huh, asal tahu saja, walaupun tadi Hoseok bilang ia akan berhenti berusaha dan menyerah untuk mendapatkan hati Soyeon, itu bukan berarti ia merelakan Soyeon berkencan dengan Namjoon, sahabatnya sendiri.

Melihat respon dari Hoseok, Namjoon justru terkekeh, “Bercanda,” Ujarnya, “Aku memang menyukainya. Menyukai dalam arti sebagai teman, tidak lebih,”

Mendengar jawaban Namjoon, Hoseok bernapas lega. Saat ini ia hanya berharap Namjoon berkata jujur, mengingat seminggu yang lalu Namjoon sempat mengatakan dia sedang menyukai seorang gadis. Gadis yang dimaksud Namjoon itu bukan Soyeon, ‘kan? Hoseok harap bukan. Karena jika memang gadis yang Namjoon sukai itu adalah Soyeon, jangan harap Namjoon mendapat restu darinya.

Baiklah, anggap saja Hoseok egois. Tapi sungguh, dia benar-benar tidak rela!

“Oke. Aku tanya sekali lagi. Jadi, kau serius akan menyerah?” Namjoon menatap Hoseok lekat.

Tidak langsung menjawab, Hoseok justru menghelan napas beratnya beberapa kali, sampai akhirnya ia balik menatap Namjoon lekat, “Ya, aku akan menyerah!” Jawabnya yakin.

Tanpa Hoseok sadari, saat ini Namjoon tengah menyunggingkan sebuah senyuman yang nampak lebih mirip seringaian padanya. Entah apa yang ada pada benak Namjoon saat ini, hanya dia yang tahu.

****

Sudah sejak setengah jam yang lalu kepala Soyeon celangak-celinguk menyusuri seisi kelas. Gadis bersurai legam itu tampak tengah mencari sesuatu, entah apa.

“Yya! Cho Soyeon, kau sedang mencari apa, sih?”

Sampai akhirnya membuat geram Choi Jaehee yang memang sendari tadi memperhatikan gerak-gerik teman sebangkunya itu.

Menghentikan kesibukannya, Soyeon lantas menoleh pada Jaehee, “Jung Hoseok,” Jawabnya, lalu kembali menekuni kegiatannya.

Mata sipit Jaehee melebar, “Apa? Aku tidak salah dengarkan? Kau bilang kau mencari Hoseok? Omo, jangan-jangan kau sudah mulai—”

Pletak~

Belum sempat Jaehee meyelesaikan ucapannya, ia sudah terlebih dahulu menerima jitakan dari Soyeon. Gadis bersurai kecoklatan itu meringis seraya mengelus-ngelus dahinya yang baru saja menjadi korban jitakan sahabatnya.

“Apapun yang ada dibenakmu, jawabannya adalah tidak!” Soyeon berujar tegas.

“Ishhh,  memangnya kau tahu aku mau mengucapkan apa tadi?” Jaehee mencibir samar.

“Kau pasti ingin mengucapkan, ‘Omo, jangan-jangan kau sudah mulai menyukai Jung Hoseok?’. Iyakan?”

“Tidak!” Jaehee menggeleng cepat, “Tadi aku hanya ingin mengatakan, ‘Omo, jangan-jangan kau sudah mulai gila,’. Gila karena tiba-tiba saja kau mencari keberadaan Hoseok. Biasanya, ‘kan, kau tidak akan pernah perduli dengan bocah itu,”

Spontan, kedua mata Soyeon mengerjab. Lalu, menatap Jaehee dengan tatapan kosong. Sepertinya ia baru saja mengambil kesimpulan yang salah.

“Lagipula, kenapa kau bisa berpikir aku akan mengucapkan it—, eoh, astaga… atau jangan-jangan kau memang sudah mulai menyukainya? Kau sudah mulai menyukai Jung Ho—”

Pletak~

“Tidak. Aku tidak menyukainya!”

“Yya! Kenapa kau hobi sekali memukul dahiku, sih!!!? Sakit, tahu,” Jaehee mendengus kesal, lagi-lagi dahinya menjadi korban jitakan Soyeon.

“Salahmu sendiri, kenapa juga kau harus mengatakan aku menyukai Hoseok? Aku, ‘kan, tidak menyukai bocah aneh itu,” Kali ini Soyeon yang mendengus kesal.

“Aku, ‘kan, hanya bertanya. Memangnya salah?” Jaehee mengerjab polos, “Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang akan mencobanya. Mencoba membuka hatimu untuk Hoseok? Iyakan?”

Menghembuskan napasnya agak kasar, Soyeon lantas menjawab, “Iya, aku memang bilang akan mencobanya. Tapi itu bukan berarti aku bisa langsung menyukainya, Choi Jaehee! Semua itu perlu proses dan aku rasa prosesnya akan berjalan sangat panjang, karena sampai detik ini mendengar namanya saja aku masih mual,”

Jaehee lagi-lagi mengerjab polos.

“Dan, alasan mengapa aku mencarinya pagi ini, itu bukan karena aku sudah mulai menyukainya. Tentu saja bukan. Aku hanya merasa aneh. Tidakkah kau juga merasa aneh, Jaehee-ya?”

Kali ini Jaehee menggeleng tidak mengerti.

“Huh, bukankah biasanya Hoseok akan menjahiliku pada jam-jam seperti ini? Tapi lihat, kemana dia sekarang?”

“Ahh, iya, kau benar,” Nampaknya Jaehee sudah mulai mengerti maksud Soyeon, “Biasanya pada jam-jam seperti ini seisi kelas akan dibuat pusing mendengar makianmu pada Hoseok. Tapi sekarang kelas ini terasa sangat damai,”

Soyeon manggut-manggut setuju, “Apa pagi ini kau sudah melihat Hoseok? Kau, ‘kan, yang terlebih dulu tiba di sekolah,”

“Tadi aku hanya melihat Namjoon pergi ke kantin. Mungkin Hoseok ada disana,”

Soyeon mengerutkan dahi, “Biasanya dia akan menjahiliku dulu sebelum pergi ke kantin. Aneh sekali,” Ujarnya, nampak lebih mirip sebuah gumanan kecil, sampai-sampai Jaehee pun tidak bisa mendengarnya.

“Kau bilang apa?”

“Ahh, tidak,” Soyeon tersenyum bodoh, “Sudahlah, jangan bahas manusia aneh itu lagi. Seperti tidak punya kerjaan lain saja, huh,”

“Aku tidak membahasnya. Kau yang memulai pembahasan tentangnya, ngomong-ngomong,” Jaehee menggedikan bahunya acuh. Sementara Soyeon, ia berdeham, mencoba bersikap normal, walau sebenarnya ia sedikit salah tingkah.

Lalu, hening mengambil alih untuk beberapa saat. Sampai akhirnya…

“Jaehee-ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu,” Soyeon kembali berujar, “Apa gossip itu benar?” Tanyanya, menatap Jaehee lekat.

“Gosip? Gosip apa?” Dahi Jaehee berkerut bingung.

“Gosip kau berkencan dengan Kim Seokjin Sunbae. Apa benar?”

Untuk kedua kalinya mata sipit Jaehee dibuat melebar, “Yya! Kau dengar gosip itu dari mana?”

“Yoongi Oppa yang memberitahuku. Kau tahukan, Yoongi Oppa dan Jin Sunbae berteman baik?”

“Eyyy, jadi selama ini kau masih sering berkomunikasi dengan Yoongi Sunbae, mantanmu itu, eoh?” Jaehee tersenyum jahil, bermaksud meledek Soyeon.

“Berteman dengan mantan memangnya salah? Aku rasa tidak, tuh,” Soyeon menggedikan bahu acuh, “Dan kau, jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan. Jawab aku, apa benar kau dan Jin Sunbae sudah resmi berkencan?”

Jaehee menggigit bibir bawahnya, lalu menghelan napas dalam, “Dua hari yang lalu Jin Oppa memang menyatakan cintanya padaku. Tapi aku belum menjawabnya. Jadi, bagaimana bisa gosip seperti itu tersebar?” Tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.

“Kau belum menjawabnya? Jadi, kau belum menerimanya?”

Jaehee menggeleng.

“Tapi mengapa? Bukankah kau sangat menganguminya, Jaehee-ya?” Soyeon menatap Jaehee heran.

Soyeon tahu betul sahabatnya itu sudah sejak lama mengagumi sosok seorang Kim Seokjin, pemuda yang sangat terkenal dengan ketampanannya. Bukan hanya tampan, pemuda berbahu lebar itu juga terkenal sangat ramah dan murah senyum. Dan juga pintar. Jika ditingkat dua ada Namjoon yang selalu menjadi juara umum, maka di tingkat akhir Kim Seokjin lah yang menyandang gelar itu.

“Mengagumi bukan berarti mencintaikan? Seperti perasaanmu pada Namjoon, aku rasa kau hanya mengaguminya, bukan rasa suka yang sesungguhnya,”

“Jangan bawa-bawa Namjoon. Asal tahu saja, sejak dia menyarankanku berkencan dengan teman anehnya itu, aku sudah tidak tertarik lagi dengannya,” Soyeon mencibir samar, “Oke. Jadi, kau akan menerima pernyataan cinta Jin Sunbae, tidak?” Soyeon kembali kepembahasan awal.

“Entahlah,” Jaehee tersenyum bodoh, “Aku masih harus memikirkannya,”

“Aku sarankan jangan terlalu lama berpikir, kalau tidak mau Jin Sunbae diambil orang. Kau tahukan, banyak gadis yang mengantri untuk menjadi pacarnya?” Soyeon terkekeh kecil, “Eoh, atau jangan-jangan kau menyukai pria lain?”

“Eoh?” Jaehee mengerjab lambat, “Ti-tidak!” Jawabnya, terlihat salah tingkah.

“Eyy, kalau memang tidak, kenapa kau terlihat gugup dan salah tingkah, eoh?”

“Gu-gugup? Aku tidak gugup, kok,” Sanggah Jaehee, berusaha kembali bersikap normal.

“Cih, bahkan pipimu merona merah, Nona Choi,” Soyeon mencibir, “Sudahlah. Kau tidak akan bisa membohongiku. Aku tahu jika kau sudah bersikap seperti ini, itu tandanya kau sedang jatuh cinta. Ayo, mengaku saja,” Sebuah senyuman jahil terukir dikedua sudut bibir Soyeon.

Dan kali ini Jaehee hanya mampu memberikan sebuah senyuman, nampak salah tingkah. Secara tidak langsung ia baru saja membenarkan perkataan Soyeon. Ya, dia memang sedang jatuh cinta, jatuh cinta pada seorang pemuda, dan itu bukan Kim Seokjin.

“Uwah, jadi benar kau sedang menyukai seorang pria?” Soyeon bertanya heboh, “Lalu, siapa dia? Apa aku mengenalnya?” Tanyanya antusias.

Sedikit ragu Jaehee mengangguk kecil.

“Siapa? Apa dia Jung Ilhoon, kapten team basket sekolah kita? Kau, ‘kan, dekat dengannya,”

“Bukan. Aku dengannya hanya berteman dan kebetulan bertetangga juga,”

“Lalu, apa dia Hong Jisoo? Kalau tidak salah kau sempat tertarik padanya dulu,”

Jaehee menggelang, “Bukan. Jisoo sudah punya pacar, ngomong-ngomong,”

“Ahh, atau Jeon Jungkook? Kau, ‘kan, selalu memuji ketampanan adik sepupuhku itu,”

“Ishhhh, bukan. Adik sepupuhmu itu memang tampan, tapi kau tahukan, aku tidak suka brondong!?”

“Lalu siapa?” Soyeon semakin dibuat penasaran.

“Huh, sudahlah, lupakan. Aku juga masih belum yakin, kok,” Jaehee tersenyum kikuk.

“Jadi sekarang kau sudah mulai main rahasia-rahasian denganku, eoh?”  Soyeon merengut sebal.

“Bu-bukan begitu,” Jaehee mengibaskan kedua tangannya, “Hanya saja, aku memang belum yakin dengan perasaanku ini. Tenang saja, jika aku sudah benar-benar yakin aku pasti akan memberitahumu,” Gadis itu tersenyum meyakinkan.

“Huh, kau menyebalkan,” Lagi-lagi Soyeon merengut sebal, “Tapi baiklah, siapapun pria yang sedang kau sukai itu, aku hanya berharap dia adalah pria yang normal. Tidak seperti Hoseok, si manusia kuda aneh itu,”

“Ya, semoga saja,” Jaehee tersenyum kecil.

“Eh, ngomong-ngomong, kenapa Hoseok belum datang juga? Ini bahkan sudah hampir masuk. Apa dia tidak masuk sekolah?” Soyeon mengarahkan pandangan matanya kearah pintu masuk kelas.

“Kau mengkhawatirkannya, eoh?” Jaehee ikut mengalihkan fokus matanya kearah pintu masuk kelas.

“Atas dasar apa aku mengkhawatirkanya, huh?” Soyeon menjawab tanpa mengalihkan fokus matanya, “Kan, sudah aku bilang, aku hanya merasa aneh, kenapa—, Eo-eoh…. i-itu dia!”

Mata bulat Soyeon melebar, seseorang yang dicarinya sendari tadi datang. Iya, Hoseok datang. Pemuda itu baru saja masuk ke dalam ruang kelas bersama Namjoon.

“Akhirnya dia datang,” Tanpa sadar Jaehee tersenyum kecil melihat kedatangan Hoseok dan Namjoon.

“Baiklah, mari kita lihat kejahilan apa lagi yang akan bocah itu lakukan padaku,” Soyeon menegakkan posisi duduknya. Fokus matanya mengikuti pergerakan Hoseok, yang saat ini tengah melangkah menghampirinya. Tapi ini menurut Soyeon, loh.

‘Ayo, aku sudah siap menerima apapun kejahilanmu pagi ini, Tuan Jung!’

Saat ini posisi Hoseok sudah semakin dekat dengannya. Soyeon menyeringai kecil dan semakin menatap Hoseok tajam.

Dan,

Deg!

‘Eoh, di-dia melewatiku?’

Soyeon terperangah, melihat Hoseok justru melewatinya begitu saja. Tanpa sedikitpun menoleh padanya. Eoh, Soyeon baru sadar, sejak Hoseok masuk ke dalam ruang kelas pemuda itu memang sama sekali tidak menoleh padanya, justru nampak sibuk berbincang dengan Namjoon. Aneh sekali. Kemana senyuman konyol yang biasanya selalu ia berikan pada Soyeon? Kenapa saat ini melihat kearah Soyeon saja Hoseok terlihat enggan.

Masih terheran-heran, Soyeon lantas memutar kepalanya, kembali memperhatikan pergerakan Hoseok. Saat ini Hoseok sudah mendudukan diri dikursinya sendiri. Ahh, benar, tampat duduk Hoseok, ‘kan, memang berada tak jauh dari kursinya. Lebih tepatnya berada tiga bangku dibelakang Soyeon. Jadi, bisa ditarik kesimpulan, sejak awal Hoseok memang berniat menuju kursinya sendiri, bukan menghampiri Soyeon. Maaf, Soyeon terlalu percaya diri tadi.

‘Ada apa dengannya? Tumben sekali dia tidak menjahiliku,’

Dahi Soyeon berkerut bingung. Aneh baginya melihat Hoseok bersikap normal dan tidak menjahilinya seperti kemarin-kemarin.

“Yya! Ada apa dengannya?” Jaehee berbisik, ikut memperhatikan Hoseok yang saat ini masih sibuk berbincang dengan Namjoon.

“Entahlah,” Masih dengan fokus mata mengarah pada Hoseok, Soyeon menggidikan bahu tidak mengerti, “Aneh sekali,” Gumannya.

“Eoh, jangan-jangan Hoseok sudah lelah,”

Bisikan Jaehee kali ini membuat Soyeon menoleh, “Maksudmu?” Tanyanya, menatap Jaehee tidak mengerti.

“Ya, lelah. Lelah untuk mengejarmu. Mungkin dia sudah menyerah untuk mendapatkan hatimu. Toh, apapun yang Hoseok lakukan tidak pernah berhasil menarik perhatianmu, ‘kan?”

Mendengar penuturan Jaehee, Soyeon lantas kembali memusatkan perhatiannya pada Hoseok, ‘Apa kau sudah benar-benar lelah? Kau menyerah, Hoseok-ah?’

Kalau Jaehee tidak salah lihat, saat ini tatapan mata Soyeon pada Hoseok mencerminkan sebuah kekecewaan. Dan hal itu membuatnya tersenyum, senyum yang nampak seperti sebuah seringaian.

“Baguslah, dengan begitu kau tidak akan dibuat pusing lagi dengan kejahilannya. Ahh, kau juga tidak perlu repot-repot mencoba membuka hatimu untuk pemuda yang kau bilang mirip kuda dan super aneh itu. Iyakan?” Jaehee berujar penuh penekanan.

Soyeon mendengar semua ucapan Jaehee, namun ia tidak berniat membalasnya. Gadis itu hanya menghelan napas berat. Entah mengapa hatinya merasa kecewa.

‘Padahal aku baru saja ingin mencobanya,’

TBC

Entah mengapa bikin sequel jadinya begini.wakakakakaka

Komen ya. Kalau gak ada yang komen aku gak bakal buat Chapter selanjutnya.hahahaha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Let’s Try (Sequel of Just Try)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s