Angst · AU · Chaptered · Drama · Family · Hurt · PG -15 · Romance · sad · School Life

2 Sides of Love – 01


[Chaptered] 2 Sides of Love (Pt. 1)

 

Author: Pinkchaejin

Rate: PG 15+

Length: chapter

Genre: angst, sad, AU, romance, brothership

Cast:

-Kim Seok Jin (Seokjin)

-Han Chae Young (Chaeyoung)

-Kim Yong Jin (Yongjin/OC/Seokjin’s twins)

 

Other cast:

-Kim Chan Rin (Chanrin)

-Happy Reading-

 

“Hidup ini tidak seindah kehidupan peri-peri seperti di buku cerita, Yongjin-ah.”

 

Kedua insan tersebut memandangi pemandangan indah kota industri bernama Seoul itu dari balkon kamar. Sesekali salah satu dari mereka mengumbar sebuah senyuman tipis. Lebih tepatnya senyuman miris. Seokjin dan Yongjin, keduanya adalah saudara kembar yang sangat akur. Ah, sangat jarang menemukan sepasang saudara kembar yang akur seperti mereka. Walaupun hidup berdua dengan sifat dan karakter yang jauh berbeda, keduanya dekat, sangat dekat. Tidak bisa dipungkiri bahwa keduanya pasti sangat jarang berselisih. Keduanya tidak pernah beranggapan bahwa dirinya sendiri jauh lebih baik daripada sang saudara. Sungguh harmonis hubungan kedua sejoli ini.

 

“Karena Tuhan tidak pernah membiarkan umatnya hidup dalam segala kesempurnaan.” sambung pria bernama Yongjin itu melanjutkan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Seokjin.

“Aku ingin, Ayah dan Ibu bisa memaafkanku walaupun tidak tahu harus menunggu kapan waktu itu tiba.” Ujar Seokjin dengan tatapan mata yang masih setia memandangi pemandangan yang terlukis pada pengelihatannya.

“Dan aku ingin, rasa sakit dan penderitaan yang kualami ini segera pergi menjauhi kehidupanku.” Disusul Yongjin yang juga mengucapkan permintaannya.

 

Bersamaan pada saat itu, keduanya melihat bintang jatuh. Seokjin merangkul Yongjin dengan seulas senyuman tipis di bibirnya. Berharap jika bintang dapat mengabulkan permintaan mereka.

 

Seokjin kembali menatap selembar kertas di tangannya dengan air muka yang cukup menyedihkan. Adik kembarnya, Yongjin positif mengidap leukimia. Sungguh, ini adalah sebuah kenyataan yang sangat mengerikan dalam hidup Seokjin. Karena hanya Yongjin lah satu-satunya orang yang bisa memahami dirinya. Tetapi, sebuah penyakit bernama leukimia itu terus menggerogoti tubuh Yongjin. Sehingga membuat dokter menyatakan bahwa penyakit itu telah memasuki stadium 3. Ya, hampir mendekati puncak. Namun sebagai makhluk Tuhan yang lemah, ia harus berbuat apa?

 

“Apa kau bisa merahasiakannya, Seokjin-ah? Jangan biarkan Ayah dan Ibu tahu. Juga jangan biarkan Chaeyoung tahu. Aku tidak ingin mereka bersedih.” ucapan Yongjin dibalas oleh sebuah anggukan kecil dari Seokjin.

“Dan sebaiknya kertas ini harus dimusnahkan. Karena aku khawatir jika tiba-tiba ada yang menemukan kertas ini dan membacanya.” lanjut Yongjin. Refleks, Seokjin pun menyodorkan korek api pada Yongjin. Kemudian membiarkan kertas itu terbakar secara sempurna. Menyisakan butiran-butiran abu yang sedikit demi sedikit tertiup oleh angin.

 

Seokjin menghela nafas sejenak.

 

“Mengapa penyakit itu harus bersarang di tubuhmu? Mengapa bukan aku saja yang merasakan penderitaan itu? Aku sudah cukup merasakan bahwa tidak ada gunanya hidup jika kedua orang tuaku sendiri membenciku. Aku lebih pantas merasakan penderitaanmu.”

“Seokjin, jangan beranggapan seperti itu.”

“Yongjin, melihatmu bahagia, aku juga akan ikut merasa bahagia.”

 

Keheningan pun langsung menyeruak di antara mereka. Ada kalanya mereka harus saling berdiam diri tatkala memikirkan sesuatu yang amat sangat serius.

 

“Kim Yongjin!”

 

Keduanya tersentak secara bersamaan saat mendengar sebuah suara berat yang terdengar seperti layaknya suara orang yang sedang meluapkan amarahnya. Sedikit takut, Seokjin dan Yongjin pun menoleh ke arah sumber suara. Sang Ayah tampak berdiri dengan tatapan mata yang membuat perasaan Seokjin berubah tidak enak. Tatapan itu menggambarkan seseorang yang sedang berapi-api.

 

“Harus berapa ribu kali kukatakan, jangan berhubungan dengan Seokjin!” Bentak sang Ayah.

“Tapi Ayah, aku ini saudaranya. Ayah tidak berhak melarangku untuk berhubungan dengan Seokjin!”

“Oh, sudah berani menentang kau rupanya? Ini pasti karena ulah saudaramu yang berhati busuk itu. Dia pasti telah mempengaruhimu.”

 

Seokjin hanya tertunduk lesu mendengar penuturan Ayahnya. Sampai kapan ia harus di cap sebagai anak yang tidak baik di mata kedua orang tuanya?

 

“Berhenti berprasangka buruk pada Seokjin, Ayah. Dia tidak seperti yang Ayah bayangkan.” Kini Yongjin mulai mengutarakan bagaimana perasaan yang dialami Seokjin. Sungguh, ia sangat prihatin melihat saudaranya yang terus diperlakukan secara semena-mena oleh orang tuanya. Terutama sang Ayah yang sangat membenci Seokjin.

“Sudahlah, Yongjin. Kembali ke kamarmu.” Seokjin pun menengahi keduanya.

“Baiklah.” Yongjin pun menuruti ucapan saudaranya. Ia pun beranjak keluar dari kamar Seokjin.

 

Seokjin menatap Ayahnya lirih. Jantungnya terasa berdebar dengan kencang. Tampaknya ia sedang menyiapkan diri untuk mendengarkan segala caci dan makian dari Ayahnya. Secara, Yongjin adalah anak kesayangan sang Ayah. Namun kini keduanya tidak memiliki hubungan yang baik. Hanya karena satu hal, yaitu karena Yongjin membela Seokjin.

 

Tidak, pria yang bertubuh lebih tinggi 3 cm darinya itu kini berjalan ke arahnya. Seokjin hanya terdiam tanpa ekspresi. Ayahnya pasti sangat marah atas semua yang dilakukan Yongjin dan dikiranya Seokjin yang telah mempengaruhi Yongjin.

 

“Sudah puas melihat aku dan Yongjin bertengkar?” Ucap sang Ayah sembari meninggikan suaranya. “Jawab aku!”

“Maafkan aku, Ayah.” Lirih Seokjin.

“Aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu sebelum Chanrin kembali.”

 

Tiba-tiba saja Seokjin berlutut di depan Ayahnya. Kemudian bersujud di kaki Ayahnya. Namun yang diperbuat sang Ayah kini sangat keterlaluan. Ia menyingkirkan kakinya dari hadapan Seokjin. Ah, bukan itu letak tindak keterlaluannya. Dengan entengnya, ia mengayunkan kakinya. Menendang Seokjin, menendang anak kandungnya sendiri.

 

“Kau tidak tahu betapa pentingnya Chanrin di keluarga ini? Dasar anak tidak tahu di untung!”

 

Seokjin hanya bisa meringis mendengar ucapan Ayahnya. Untunglah pria setengah baya itu kini meninggalkan kamarnya. Karena Seokjin tidak ingin lagi mendengar kata-kata menyakitkan yang akan keluar dari mulut Ayahnya.

 

“Aku juga rindu pada Chanrin, Ayah.”

 

14 years ago…

 

“Kak Seokjin, Chan mau itu!”

 

Gadis kecil yang tampak berumur 3 tahunan itu menarik tangan kakak lelakinya. Jari telunjuknya menunjuk ke arah penjual lolipop di seberang sana. Lelaki yang dipanggil Seokjin itu merogoh saku celananya. Ah, ini bukan saat-saat yang beruntung. Tidak ada satu sen pun di dalam saku celananya. Yongjin beserta Ayah dan Ibunya sedang berada di toko pakaian untuk memilihkan baju untuk Yongjin yang akan mengikuti lomba pidato antar sekolah. Sementara itu Seokjin diberi amanah untuk mengajak adik perempuannya yang bernama Chanrin itu berjalan-jalan mengelilingi mall. Siapa yang tidak tahu bagaimana susahnya anak kecil jika sudah dibawa ke mall yang akan membuatnya ingin ini dan ingin itu? Dan kini Chanrin tampak merengek-rengek meminta lolipop pada kakaknya. Oh baiklah, seharusnya tadi orang tuanya memberikan sedikit uang saku pada Seokjin. Mereka lupa dengan poin itu.

 

“Channie, aku tidak punya uang untuk membeli lolipop.” Ucap lelaki berumur 9 tahunan itu sembari menatap adiknya.

“Tapi Chan mau itu!” Suara Chanrin mulai meninggi.

“Kita jalan-jalan disana saja yuk!” Seokjin mencoba mengalihkan perhatian Chanrin terhadap lolipop yang ia inginkan itu.

“Kalau begitu, lebih baik Chan meminta Ibu untuk membeli itu. Chan akan mencari Ibu.” Ucapnya yang kemudian berlari begitu saja.

“Chanrin! Tunggu!” Seokjin pun mengejar Chanrin.

“Channie, kita mencari Ibu sama-sama!” Seokjin masih terus mengejar Chanrin yang semakin mempercepat larinya.

“Kak Seokjin pelit! Chan ingin mencari Ibu sendiri!”

“Channie!”

 

Gawat, Seokjin pun kehilangan jejak adiknya. Tak henti-hentinya ia berlari kesana kemari mencari dimana keberadaan Chanrin. Namun nihil, ia tak kunjung menemukan dimana adiknya berada. Ia mulai takut untuk mengatakan hal ini kepada orang tuanya. Ia tidak bisa membayangkan seberapa besar kemarahan orang tuanya jika mengetahui bahwa Chanrin telah hilang.

 

“Channie …” Seokjin pun menyerah. Ia tidak menemukan dimana keberadaan Chanrin.

 

Rasa takut pun mulai menghantui dirinya. Membuat wajahnya mendadak berubah pucat disusul dengan tubuhnya yang gemetar ketakutan.

 

“Seokjin-ah.”

 

Seokjin bergidik ngeri mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Ia pun menoleh ke arah sumber suara. Baiklah, posisinya masih aman. Ternyata hanya Yongjin yang datang menghampirinya.

 

“H-hei, kau sudah siap? Di … dimana Ayah dan Ibu?” Ucap Seokjin takut-takut.

“Aku sudah siap. Ayah dan Ibu masih di tempat yang sama, tiba-tiba Ibu ingin membeli baju baru,” balas Yongjin. “Tunggu, dimana Chanrin?”

“Cha … Chanrin.. Di … Dia …”

“Apa yang sedang kau ucapkan? Berbicaralah dengan benar.”

“Chanrin … Hilang.”

 

Seketika wajah Yongjin pun mendadak pucat.

 

“Seokjin-ah, aku tahu kau itu jarang bercanda. Dan kau tahu, yang kau ucapkan tadi sungguh tidak lucu.”

“Aku tidak bercanda, Yongjin. Aku serius.”

“Apa? Ba … Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

“Sebaiknya kau membantuku untuk mencarinya. Sambil mencari, aku akan menceritakannya padamu.”

 

Yongjin pun mengangguk setuju. Kemudian keduanya pun menelusuri mall besar tersebut ke segala tempat. Nihil, Chanrin tidak ada dimanapun. Hal itu membuat Seokjin tertunduk lesu. Ia benar-benar harus menerima resiko yang akan terjadi.

 

“Kita sudah mengelilingi tempat ini sebanyak 5 kali, Seokjin-ah. Tetapi aku belum menemukan Chanrin.” Ujar Yongjin.

“Yongjin, lebih baik aku berkata apa adanya pada Ayah dan Ibu. Aku menyerah, Chanrin sudah tidak ada di tempat ini.” Tutur Seokjin pasrah.

“Aku yakin, Chanrin pasti masih ada disini.”

“Tidak, Yongjin-ah. Aku sudah mencarinya belasan kali. Namun nihil, aku tidak menemukan Chanrin. Bahkan aku sempat bertanya di pusat informasi. Tetapi aku juga tidak menemukan Chanrin.”

 

Yongjin menggenggam tangan kakaknya yang mulai berkeringat dingin. Tampaknya Seokjin sangat ketakutan untuk mengatakan hal yang sebenarnya telah terjadi pada kedua orang tuanya. Langkah demi langkah, akhirnya mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju, yaitu toko pakaian.

 

“Bagaimana cara aku mengatakannya, Yongjin-ah?” Ucap Seokjin tidak tenang.

“Nanti aku akan membantumu berbicara. Semoga saja mereka tidak marah.”

“Tetapi ini adalah sebuah masalah besar.”

“Tenanglah, kita jelaskan bersama-sama.”

 

Dengan langkah gemetar, Seokjin pun mendekati Ayah dan Ibunya ditemani oleh Yongjin. Langsung saja Seokjin bersimpuh di depan Ayah dan Ibunya. Memohon ampun atas kesalahan yang telah ia perbuat sembari menangis tersedu-sedu. Sedikit demi sedikit Seokjin pun menjelaskan apa yang telah terjadi pada Chanrin.

 

Marah?

 

Siapa yang tidak marah jika anaknya hilang? Dan kini Seokjin pun dimarahi habis-habisan oleh Ayahnya. Sementara itu sang Ibu hanya bisa menangis sembari memanggili nama anak perempuannya itu. Berulang kali, kata maaf terucap oleh bibir Seokjin. Namun apa daya, tampaklah jika kedua orang tuanya tidak memaafkan dirinya. Yongjin dari tadi yang mencoba menenangkan keadaan pun akhirnya memilih untuk diam karena tidak ada yang menggubris dirinya sama sekali. Itulah awal mula adanya hubungan tidak sehat di keluarga tersebut.

 

End of flashback

 

***

 

Suasana hening masih setia menemani keluarga itu. Hanyalah suara sendok dan garpu yang saling beradu mengambil dan menyuap makanan yang terdengar. Tidak ada kasak kusuk atau sepatah kata pun yang terucapkan di ruang makan tersebut. Semuanya sibuk dengan perutnya sendiri. Dan seperti biasa, di ruang makan itu Seokjin selalu tidak menampakkan wujudnya. Bukan hanya itu, ia juga tidak ikut makan bersama di tempat itu. Lalu, dimana ia sarapan? Tentu saja ia sarapan sendirian di ruang tengah.

 

Sang Ayah pun kini merasa tidak nyaman atas suasana canggung tersebut. Terlebih lagi sepanjang sarapan, Yongjin tidak sedikitpun menatap ke arahnya. Padahal keduanya duduk berhadap-hadapan.

 

“Yongjin-ah.” Akhirnya sang Ayah pun bersuara. Dan akhirnya Yongjin pun menolehkan pandangan kepada Ayahnya.

“Maaf, atas kejadian semalam.” Ucap Ayahnya.

“Seharusnya Ayah meminta maaf pada Seokjin, bukan aku.”

 

Pria setengah baya itu pun menghela nafas.

 

“Aku ingin berdamai denganmu.”

“Dan aku ingin Ayah berdamai dengan Seokjin.”

“Bisakah untuk tidak membawa nama Seokjin dalam pembicaraan ini?”

“Ayah, dendam tidak akan pernah bisa membawa Chanrin kembali. Harus berapa tahun lagi Ayah membenci Seokjin? Tidak tahukah Ayah bahwa Seokjin sangat tertekan? Sebenarnya aku sangat muak melihat perlakuan Ayah kepada Seokjin. Tetapi selama ini aku hanya bisa diam. Dan sekarang aku sudah semakin muak melihat tingkah Ayah yang semakin tua tetapi semakin kekanak-kanakan.”

“YONGJIN!”

 

Yongjin mengepalkan tangannya mendengar bentakan dari sang Ayah. Berusaha meredam segala amarahnya. Baiklah, memang tidak baik seorang anak melawan kepada orang tuanya. Namun apakah baik jika orang tua sudah sangat keterlaluan mengingat sebuah kesalahan besar anaknya yang sudah belasan tahun yang lalu sampai-sampai tidak pernah mau berdamai dengan anaknya? Jadi maklum saja jika Yongjin merasa muak.

 

“Aku tidak ingin menambah masalah lagi. Jika Ayah ingin keluarga ini bahagia, maka anggaplah Seokjin ada. Jangan lukiskan sebuah kebencian di dalam keluarga ini. Ayah, hari ini aku berangkat kuliah dengan Seokjin, Ayah langsung saja berangkat ke kantor. Tidak usah antar aku. Permisi, aku berangkat dahulu, Ayah.”

 

Tanpa menunggu jawaban dari Ayahnya, Yongjin segera meninggalkan ruang makan dan menghampiri Seokjin yang sudah selesai makan. Kemudian, keduanya pun bergegas pergi ke kampus menggunakan mobil yang sudah di sediakan untuk mereka. Sebenarnya mobil itu milik Yongjin, tetapi Yongjin senang meminjamkannya pada Seokjin.

 

“Mengapa tidak berangkat dengan Ayah?” Tanya Seokjin sembari tetap fokus mengemudikan mobil.

“Tak apa, lagipula aku lebih baik berangkat bersamamu.”

“Aku tahu, hubungan kalian belum membaik. Tetapi, berdamailah dengan Ayah. Perselisihan itu bukan suatu cara untuk menyelesaikan masalah.”

“Baiklah.”

 

Seokjin pun memarkirkan mobil di parkiran kampusnya. Kemudian mereka pun berjalan bersama-sama ke area kampus dan berpisah di tengah lapangan menuju kelas masing-masing.

 

Seokjin melirik arlojinya. Oh baiklah, kali ini ia datang terlalu awal. Masih ada waktu luang 30 menit sebelum dosen masuk ke kelas. Ia pun memutuskan untuk bersantai di kantin dengan sepiring salad yang menemani waktu santainya. Salad? Hei, itu adalah menu di kantin yang sangat tidak laris alias tidak banyak yang meminatinya. Tsk, penggila makanan seperti Seokjin memang sangatlah langka di dunia ini. Sangat jarang menemukan penggila makanan yang juga menggilai sayuran. Disaat orang-orang di kantin hanya membeli segelas cappucino, ia sendiri yang menikmati salad dengan nikmat.

 

“Seokjin-ssi?”

 

Makhluk omnivora itu pun menoleh ke arah seseorang yang menyebutkan namanya. Ah, ternyata seorang gadis. Gadis itu bernama Han Chaeyoung yang merupakan kekasih adiknya, Yongjin.

 

“Ya?” Sahut Seokjin.

“Eum, kau tahu dimana Yongjin?”

“Yongjin? Setahuku dia di kelas.”

“Tetapi dia tidak ada di kelas.”

 

Sejenak Seokjin pun terdiam. Entah mengapa perasaannya berubah tidak enak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun segera beranjak cepat untuk mencari adiknya ke seluruh pelosok kampus. Langkahnya terhenti di depan sebuah toilet pria. Sosok yang ia cari ternyata ada di tempat itu. Menunduk di depan wastafel sembari mengeluarkan seluruh isi perutnya. Setelah dirasanya tidak ada lagi yang perlu di muntahkannya, ia pun membuka kran wastafel itu untuk membersihkan bekas muntahannya. Kemudian ia pun bersandar lemas di tembok dengan nafas yang tak beraturan.

 

“Yongjin-ah, kau tidak apa-apa?” Ucap Seokjin khawatir. Melihat kakaknya datang, refleks Yongjin pun pura-pura bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku baik-baik saja.” Balas Yongjin sembari tersenyum simpul.

 

Percuma, Seokjin tahu benar bagaimana keadaan Yongjin. Melihat wajah Yongjin yang mulai memucat saja ia sudah dapat menilai bahwa Yongjin tidak sedang baik-baik saja.

 

“Astaga, kau mimisan Yongjin-ah.”

 

Mendengar ucapan Seokjin, refleks Yongjin pun segera memegang hidungnya. Benar saja, cairan kental berwarna merah itu terus saja mengalir dari kedua lubang hidung Yongjin. Mendadak tiba-tiba tubuhnya ambruk lalu tak sengaja tubuhnya menabrak Seokjin dan akhirnya keduanya pun jatuh secara bersamaan di atas lantai. Pria itu masih setengah sadar. Masih saja sempat melemparkan sebuah senyuman pada Seokjin. Seokjin yang kini sedang panik pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

 

“Yongjin, kumohon bertahanlah.”

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

6 thoughts on “2 Sides of Love – 01

  1. Hi, authornim ini lanjutannya mana hue 😭
    Lagi seneng2nya sama Bangtan terutama sama si Soekjin
    Seneng bgt nemu blog ini karena kelihatannya banyak cast Soekjinnya tp kok kayaknya beberapa masih nanggung ya. . Tolong dilanjut thor please 🙇

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s