Comedy · PG -13 · Romance

[FF Freelance] Just Try!?


20160326_123042_Cover

Author: Lisa Kim  @LisaKim0403 or @Parklisha

Genre: Romance, lil bit comedy.

Cast:

  • Cho Soyeon (OC)
  • Jung Hoseok (BTS)
  • Kim Namjoon (BTS)
  • Choi Jaehee (OC)

Rating: PG-13

Length: Oneshoot

Cr Poster by: @Yunietananda (Kak Nanda)

Disclaimer

Fanfic ini murni hasil Imajenasiku yang rada sedikit abal. OC’s dan Semua yang ada dalam FF ini MILIKKU!!! Jung Hoseok & Kim Namjoon milik Tuhan, Orangtuanya, BIGHIT –Selama masa kontrak berlaku- dan yang pasti milik istri dan anak-anaknya kelak.kkkk~

Hati-hati banyak Typo bertebaran!

Happy Reading  ^_^

Silent Readers? Go Away!!!!!! Hush…Hush…Hush *NgusirBrngMemberBTS*

Summary:

“Tidak bisakah dia menarik perhatianku dengan cara yang manis seperti Namjoon? Ahh, bahkan apapun yang Namjoon lakukan selalu terlihat manis dimataku,”

 

###

“Cepat berikan ikat rambut itu padaku!”

“Kalau kau mau ambil saja sendiri,kkkk~”

“Yya! Cepat berikan! Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu, Jung Hoseok!”

Aku menatap geram pada Jung Hoseok, pemuda yang berdiri dua langkah di depanku. Hanya ingin memberitahu, dia adalah teman sekelasku. Dan sumpah, kelakuan pemuda berwajah lonjong seperti kuda itu sungguh amat sangat menyebalkan. Hoseok memiliki keperibadian yang sangat aneh, -menurutku. Terlebih lagi tingkahnya sangat konyol dan juga kekanak-kanakan.

Ugh, dia benar-benar menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan jika setiap hari selalu ada saja tingkah konyol dan keusilan yang ia lakukan padaku. Anehnya, bocah itu hanya menjalankan aski usilnya itu padaku. Aku katakan sekali lagi, HANYA PADAKU!!!

Seperti saat ini, aku bahkan belum benar-benar masuk ke dalam ruang kelas tetapi Hoseok sudah menjahiliku. Iya, tiba-tiba saja bocah itu datang dan langsung menarik ikat rambutku, membuat rambutku yang semula terkuncir rapi menjadi tergerai indah seperti ini.

Benar-benar menyebalkan, bukan?

Menghembuskan napas berlahan, aku mencoba lebih bersabar menghadapi keusilannya, “Hoseok, please. Aku tidak ada waktu untuk meladenimu. Jadi, tolong berikan ikat rambut itu padaku!” Aku mengulurkan tangan kearahnya, bermaksud meminta ikat rambut milikku darinya.

Alih-alih memberikan ikat rambut itu padaku, ia justru mengangkat tinggi tangannya, “Sudah aku bilang, kalau kau mau ambil saja sendiri,” Bocah itu bahkan meledekku dengan juluran lidahnya.

“YYA! JUNG HOSEOK, CEPAT BERIKAN!”

Oke, kesabaranku sudah habis. Oh, ayolah… aku masih harus menyalin tugas Fisika dari Guru Ahn yang belum sempat aku kerjakan semalam dan sekarang waktuku harus terbuang percuma hanya karena meladeni bocah kelewat aneh ini.

Ugh, sungguh menyebalkan!

Mendengar bentakanku bukannya merasa takut, Hoseok justru terkekeh, “Hey, kau tahu, kau lebih manis dengan rambut tergerai seperti itu,”

Aku memutar bola mataku jengah saat mendengar gombalan dari seorang Jung Hoseok. Mungkin, jika gombalan seperti itu keluar dari mulut pria lain aku akan tersipu malu saat mendengarnya, tetapi jika Hoseok yang mengatakannya, sungguh… aku ingin muntah.

Huh, baiklah. Jika memang dia tidak mau memberikan ikat rambut itu secara baik-baik, aku akan mengambilnya secara paksa. Maka, detik itupun aku langsung melangkah mendekat padanya, mengjinjitkan kaki, mencoba untuk mensejajarkan tinggi badanku yang tentu saja kalah tinggi darinya. Tanganku terangkat tinggi, berusaha untuk menggapai ikat rambutku yang masih diangkat tinggi-tinggi olehnya.

“Ayo, ambil saja kalau kau bisa.hehehe,”

Sial!

Dia mempermainkanku dengan memindah-mindahkan ikat rambut itu dari tangan kiri ke tangan kanannya dan begitu seterusnya. Terlebih lagi bocah itu ikut mengjinjitkan kaki, membuatku harus sampai melompat-lompat kecil untuk menggapai lengannya.

“Hahahaha, Nona Cho, sepertinya usahamu sia-sia,”

Menyebalkan. Melihatku kesusahan bocah itu justru tertawa meremehkan.

“Hey, sudahlah, menyerah saja. Percaya padaku, kau itu memang jauh lebih manis dengan rambut tergerai, sayang,”

Ugh, sungguh. Aku ingin muntah saat mendengarnya memanggilku ‘sayang’.

Memilih mengabaikan ledekan dan gombalan menggelikan darinya, saat ini aku justru semakin mempertinggi loncatanku guna menggapai lengannya. Masa bodo jika kegiatan kami ini sudah mulai mengundang perhatian dari murid-murid lain yang mulai berdatangan, yang terpenting aku bisa segera mengambil ikat rambutku dari tangannya dan segera meninggalkan bocah aneh ini. Aku benar-benar malas berurusan dengannya.

“Eh?”

Tiba-tiba saja aksiku itu terhenti saat aku melihat seseorang dari arah belakang Hoseok sudah terlebih dahulu mengambil ikat rambutku dari genggaman tangan Hoseok, yang langsung membuatku dan juga Hoseok sama-sama menoleh kearah orang tersebut. Dan,

“Eoh…”

Aku berguman kecil dengan mataku yang sedikit melebar saat melihat siapa seseorang itu. Dia kan…

“Ck, kau mengganggu kesenanganku, Kim Namjoon!”

Hoseok menatap kesal pada Kim Namjoon, seseorang itu.

Iya, seseorang itu adalah Kim Namjoon, pemuda dengan sejuta pesona -bagiku. Sama seperti Hoseok, Namjoon juga teman sekelasku dan dia juga berteman baik dengan Hoseok. Mereka sangat dekat dan kedekatan mereka selalu membuatku merasa heran. Pasalnya, bagaimana bisa seorang Kim Namjoon yang memiliki keperibadian sangat baik dan juga tenang –terlebih lagi dia juga tampan dan pintar-  bisa memiliki seorang teman seperti Hoseok yang sungguh sangat konyol, aneh, bodoh, menyebalkan dan… ahhh, dia juga mirip kuda, maaf.

Selama ini aku selalu bertanya-tanya, ‘Apa Namjoon tidak muak dengan kelakuan konyol dan kelewat aneh dari temannya itu?’. Aku saja muak.

“Ini masih terlalu pagi untuk kau menjahili seorang gadis cantik, Hoseok-ah,”

Uh’oh…

Apa aku tidak salah dengar? Apa Namjoon baru saja mengatakan aku cantik? Tolong sadarkan aku jika memang aku salah dengar. Tetapi sepertinya aku tidak salah dengar, jelas-jelas tadi dia mengatakan aku ‘gadis cantik’, iyakan? Tanpa sadar aku tersenyum kecil.

“Ugh, menggelikan,”

Umpatan kecil dari mulut Hoseok membuat senyuman kecilku sirna. Aku menoleh padanya, mendapatinya tengah menatapku dengan tatapan…. hey, tatapan macam apa itu?

Ahh, masa bodo. Lebih baik aku kembali fokus pada Namjoon.

“Ini,”

“E-eh?”

“Ikat rambutmu,”

Dengan senyumannya yang kelewat manis Namjoon mengulurkan tangan kanannya kearahku, bermaksud untuk memberikan ikat rambutku yang berhasil ia curi tadi Hoseok tadi.

Oh, Tuhan. Kenapa dia harus tersenyum semanis itu!? Membuat jantungku berdegup tidak karuan saja, huh.

Jujur saja. Aku memang menyukainya, iya… aku menyukai Namjoon. Apapun yang ia lakukan selalu berhasil menarik perhatianku. Namjoon itu tampan –tentu saja, dia pintar –bahkan dia selalu menjadi juara umum, dan yang paling penting dia tidak usil seperti Hoseok. Keperibadian Namjoon dan Hoseok sungguh jauh berbeda. Aku menyukai keperibadian Namjoon yang selalu terlihat tenang, tidak seperti Hoseok yang pecicilan.

“Hey, kau melamun, Soyeon-ah?”

Oh, astaga. Apa yang aku lakukan? Berhenti melamun, Cho Soyeon!

“he..he..he,”

Bukannya jawaban yang aku berikan padanya, saat ini aku justru terkekeh bodoh. Sungguh, berhadapan dengannya benar-benar membuatku gugup dan salah tingkah.

Mungkin Namjoon menyadari kegugupanku, karena saat ini ia terkekeh geli, “Ikat rambutmu,” ia kembali menyodorkan ikat rambut berwarna ungu itu padaku.

Masih dengan senyuman salah tingkah aku segera mengambil ikat rambut itu dari tangannya, “Te-terima kasih,” ujarku gugup.

“Bukan masalah,” Sekilas, ia menggedikan bahunya acuh. Lagi-lagi, pemuda berlesung pipi itu tersenyum manis, “Hey, yang diucapkan Hoseok itu benar juga, loh.”

“Eh, apa?” Dahiku berkerut, tanda tidak mengerti dengan kelanjutan ucapan Namjoon.

Memangnya apa yang diucapan Hoseok tadi?

“Kau jauh lebih manis dengan rambut tergerai seperti itu,”

Deg!

Pipiku memanas seketika. Bahkan senyuman kelewat lebar tak bisa aku sembunyikan darinya. Oh, ayolah. Kalian dengarkan, Namjoon, seseorang yang aku sukai baru saja mengatakan aku manis, oh… jangan lupakan diawal tadi dia juga sempat mengatakan aku ‘cantik’. Bukankah itu menjadi suatu kebahagian tersendiri untukku?

Dan, baiklah. Berhubung kali ini Namjoon yang mengatakan ‘Kau jauh lebih manis dengan rambut tergerai’, maka aku akan menuruti sarannya. Ya, aku akan menggerai rambutku setiap hari, agar aku selalu terlihat manis dimatanya.heheheh…

Plukkk~

“Akhhh~”

Siapa? Siapa yang menepuk dahiku?

“Jangan tersenyum seperti itu, Nona Cho. Kau jelek sekali tahu,”

Jung Hoseok, sialan. Ternyata dia yang menepuk dahiku.

Apa-apaan dia, senaknya saja menepuk dahiku.

Aku menatapnya dengan tatapan membunuh, sementara dia, yang mendapat tatapan membunuh dariku hanya balas menatapku dengan tatapan kelewat polosnya, seakan tidak tahu kesalahan apa yang baru saja ia perbuat.

Kau merusak moment berhargaku bersama Namjoon, Jung Hoseok!

Argh!

“Joon, kau belum sarapankan? Ayo kita ke kantin,”

Lihat. Hoseok memang sangat menyebalkan. Saat ini, tanpa menghiraukanku lagi bocah itu langsung menarik Namjoon pergi menjauh. Meninggalkanku termenung di depan pintu kelas sendirian. Miris.

Demi Tuhan, kau sungguh menyebalkan, Jung Hoseok. Aku membencimu, sungguh!

“Soyeon-ah,”

Ditengah-tengah rutukanku, tiba-tiba saja ada seseorang yang bergelayut manja pada lengan kiriku. Aku lantas menoleh kesamping, yang langsung diperlihatkan cengiran lebar dari Jaehee, sehabatku, seseorang yang bergelayut manja pada lenganku.

Masih dengan senyum lebarnya gadis itu berujar, “Kalian nampak semakin serasi.hheee,”

“Siapa? Aku dan Namjoon?” Balasku penuh percaya diri.

“Bukan. Tapi kau dengan….” Jaehee menggantungkan kalimatnya, gadis bersurai coklat itu menatap lurus ke depan, lebih tepatnya menatap punggung belakang Namjoon dan juga Hoseok yang sudah semakin menjauh, “…Hoseok. Kalian semakin serasi, loh,”

Apa?

Aku dengan Hoseok makin serasi?

“YYA! CHOI JAEHEE, KAU MAU MATI, EOH!!!?”

****

“Ugh, pelajaran Guru Park sangat membosankan. Tidak tahu apa aku sudah setengah mati menahan lapar,”

Itulah gerutuan pertama yang aku dengar dari mulut Jaehee saat kami baru saja mendudukan diri dibangku kantin. Benar apa yang Jaehee katakan, pelajaran Guru Park memang sangat membosankan –aku benci pelajaran sejarah. Tapi untunglah bel istirahat berdering juga, sehingga aku dengannya bisa buru-buru ke kantin dan menyantap makan siang kami.

Tapi, ngomong-ngomong…

“Jaehee-ya, kenapa kita harus duduk disini, sih?”

Aku harus menunggu Jaehee menelan kunyahan kimbabnya, sampai akhirnya ia menjawab, “Tidak ada kursi kosong selain disini,”

Mendengar jawabannya aku lantas mengedarkan pandanganku keseisi kantin. Ahh, memang benar, tidak ada kursi kosong selain disini. Aku mendengus kecil.

“Kenapa? Kau malas duduk berdekatan dengan Hoseok, eoh?”

Binggo!

Kau benar sekali, Choi Jaehee. Sejak kejadian pagi tadi aku menjadi benar-benar malas melihat wajah Hoseok. Bahkan, dikelas tadi aku berusaha mati-matian untuk tidak menoleh pada sosoknya yang kebetulan duduk tidak jauh dariku. Padahal, sepanjang pelajaran berlangsung Hoseok selalu bertingkah konyol untuk menarik perhatianku dan aku berhasil mengabaikannya.

Tetapi sialnya, sekarang dikantin pun aku harus kembali dihadapkan dengan wajah kudanya itu. Pasalnya, bocah itu juga tengah menyantap makan siangnya di meja kantin yang berada tepat di depan meja yang aku dan Jaehee tempati. Sial, bukan?

“Setidaknya kau bisa melihat Namjoon juga’kan?”

Memang benar sih, selain Hoseok disana juga ada Namjoon. Tetapi tetap saja Hoseok merusak pemandanganku. Huh…

“Ngomong-ngomong, apa sih yang membuatmu begitu membenci Hoseok, Soyeon-ah?”

“Dia itu menyebalkan tahu,” Aku menggidik saat mengingat betapa menyebalkannya seorang Jung Hoseok, “Bagaimana tidak menyebalkan jika setiap hari bocah itu selalu menjahiliku. Seperti tidak punya kerjaan lain saja, huh. Dan juga, kenapa harus aku dan hanya aku yang menjadi korban kejahilannya itu? Kenapa tidak kau saja? Atau gadis-gadis lain, mungkin,”

“Soyeon-ah, kau sendiri tahukan, Hoseok melakukan semua itu karena dia ingin menarik perhatianmu. Hoseok itu menyukaimu!”

Ya…ya..ya, aku tahu, aku tahu prihal Hoseok yang menyukaiku. Bahkan sudah sejak lama. Dan bukannya aku tidak ingin menghargai perasaanya, hanya saja cara dia untuk menarik perhatianku itu salah. Iyakan?

Bagaimana aku bisa balik menyukainya jika setiap hari dia justru selalu menjahiliku dan selalu bertingkah konyol dan kelewat aneh di hadapanku!? Karena yang justru terjadi aku malah membencinya.

“Tapi cara dia untuk menarik perhatianku itu salah, Jaehee-ya,” Aku mendengus kecil, “Tidak bisakah dia menarik perhatianku dengan cara yang manis seperti Namjoon? Ahh, bahkan apapun yang Namjoon lakukan selalu terlihat manis dimataku,”

Seulas senyuman terukir di kedua sudut bibirku saat aku memperhatikan Namjoon yang tengah menyantap makan siangnya dengan tenang. Bahkan disaat makan saja dia nampak sangat manis.

Berbeda sekali dengan Hoseok yang menyantap makan siangnya dengan sangat rakus dan berantakan. Ugh, bahkan beberapa butir nasi menempel ‘indah’ pada sudut-sudut bibirnya. Menjijikan.

“Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menunjukan rasa cintanya pada seseorang, bukan? Dan mungkin itu memang cara seorang Jung Hoseok,”

Memutar bola mataku jengah sebelum akhirnya menjawab, “Ya, cara yang membuatku ingin membakarnya hidup-hidup,”

Jaehee terkekeh kecil, “Setidaknya coba saja dulu,” ujarnya.

“Mencoba apa? Membakarnya hidup-hidup? Hem, sepertinya menarik,”

“Ishhh, bukan itu,”

“Lalu mencoba apa maksudmu?”

“Coba saja berkencan dengannya. Siapa tahu kalian memang cocok,”

Perlu beberapa detik untukku dapat memahami ucapan Jaehee, sebelum akhirnya menjawab, “Ugh, idemu sangat konyol, Nona Choi. Kau tahu, menyuruhku berkencan dengannya sama saja kau menyuruhku mengerjakan 50 soal matematika di depan kelas. Sungguh, Mengerikan!” Aku menggidik ngeri.

“Hahahaha, segitu buruknya kah Hoseok dimatamu, Nona Cho?”

Aku mengangguk yakin, “Eoh, sangat buruk malah,”

“Hey, jangan seperti itu, bisa-bisa nanti kau justru jatuh hati padanya, loh,”

“Tidak akan!” Ujarku yakin.

Huh, mana mungkin aku bisa jatuh hati pada pria aneh seperti dia? Hoseok itukan—

“Tampan,”

Eh, apa? Apa yang Jaehee katakan?

“Coba lihat. Terlepas dari kelakuan anehnya itu, Hoseok itu tampan, loh,”

Sama seperti Jaehee yang tengah memusatkan perhatiannya pada Hoseok, akupun melakukan hal yang sama. Mendapati bocah itu sudah menyelesaikan makan siangnya dan tengah berbincang dengan Namjoon.

“Tampankan?”

Tampan?

Iya, sih. Jika lebih diamati Hoseok memang memiliki wajah yang bisa dibilang cukup tampan. Dia juga memiliki senyuman yang manis dan…

Eh?

Apa aku baru saja memuji seorang Jung Hoseok?

Omg, kurasa aku mulai gila.

“Tampan apanya? Dia seperti kuda, tahu,” Jawabku akhirnya.

Kalaupun memang benar Hoseok itu tampan, buat apa? Toh, kelakuan konyol dan kelewat anehnya itu selalu berhasil menutupi kadar ketampanannya.

Kalau saja, ingat…. ini hanya kalau saja! Kalau saja Hoseok bisa sedikit bersikap normal, mungkin aku bisa jatuh hati padanya. Tapi nyatanya dia benar-benar tidak normal. Dan aku tidak menyukainya, titik.

Oke, cukup. Cukup, membahas manusia kuda itu. Lebih baik aku memperhatikan Namjoon saja, yang jelas-jelas normal dan 1000 kali lipat lebih tampan dari Hoseok. Lihat saja—

“E-eh,”

Aku terperanjat saat melihat Namjoon yang tengah menjadi pusat perhatianku tiba-tiba saja bangkit berdiri, lalu melangkahkan kakinya kearah meja yang aku dan Jaehee tempati.

Uh’oh, apa dia menuju kesini? Menghampiriku?

Eyy, tidak mungkin. Dia pasti hanya  sekedar lewat sa—

“Hai, Soyeon-ah,”

Deg!

Tidak. Dia tidak hanya sekedar lewat saja. Namjoon memang menghampiriku. Dia bahkan menyapaku dengan lambaian tangannya dan oh… jangan lupakan senyuman manisnya itu.

Huaaaaa, apa yang harus aku lakukan?

“Sapa dia balik, bodoh,” Bisikan itu terdengar beriringan dengan cubitan pelan pada lengan kiriku. Tentu saja Jaehee yang melakukannya.

Aku menoleh pada Jaehee, mendapatinya tengah menatapku jengah, seolah ia malas melihat tingkah kelewat gugupku saat ini. Oh, ayolah….. tidak tahukah dia berhadapan dengan seorang Kim Namjoon benar-benar membuatku gugup dan salah tingkah!?

Tapi baiklah, Cho Soyeon, kau tidak bisa seperti ini terus. Bisa-bisa Namjoon menganggapku aneh. Ugh, jangan sampai.

Maka detik itupun kuputuskan untuk kembali menoleh padanya dan, “E-eoh, Hai, Nam-Namjoon-ah,” menyapanya balik. Ya, walaupun masih dengan tingkah kelewat gugupku.

Namjoon terkekeh kecil. Kurasa dia memang manganggapku aneh.

Tapi syukurlah kekehannya itu tidak berlangsung lama, karena sekarang ia sudah kembali berujar, “Untukmu,” seraya mengulurkan tangan kanannya kearahku.

“A-apa itu?”

“Permen,”

Permen? Dia memberiku sebuah permen?

“Ambillah!”

Sebenarnya aku agak sedikit bingung untuk apa Namjoon memberiku sebuah permen? Tapi mau tidak mau aku tetap menerimanya, “Terima kasih,” ujarku dengan senyuman yang aku buat semanis mungkin.

Memang sih ini hanya sebuah permen biasa yang tentu saja aku bisa membelinya sendiri di minimarket, terlebih lagi dia hanya memberiku satu buah permen. Tapi percayalah, jika Namjoon yang memberikannya apapun itu akan terasa sangat manis, semanis senyumannya.

Eh,

Tunggu sebentar!

Bukankah ini jenis permen yang jika kita membalik bungkusannya maka kita bisa membaca sebuah kata-kata atau kalimat disana? (A/n: semacam permen k*s)

“Lihatlah!”

“Eoh?”

Aku kembali menatap Namjoon. Mendapatinya masih tersenyum manis padaku. Ia menggerakan dagunya, seolah tengah menunjuk permen yang berada ditanganku, “Lihatlah!” ulangnya lagi.

Apa dia bermaksud menyuruhku melihat kata-kata yang berada dibalik bungkusan permen ini?

Jika iya, baiklah…. aku akan melihatnya. Maka detik itupun aku langsung membalik bungkusan permen itu dan…

‘I Love You’

Itulah kata-kata yang aku baca pada balik bungkus permen rasa mint tersebut.

Apa, apa maksudnya? Apa maksud dari—

Ikhhhhh~

Tubuhku menegang saat aku telah berhasil memahami maksud Namjoon disini. Hey, bukankah itu berarti saat ini Namjoon secara tidak langsung tengah menyatakan cintanya padaku?

‘I Love You’

Ya, Namjoon baru saja mengatakannya lewat permen pemberiannya itu padaku. Iyakan?

Kembali menatapnya, aku memasang wajah terkejut. Tidak salah lagi, analisisku pasti benar. Itukan permen darinya. Jadi…

“Itu dari Hoseok,”

Apa?

Mataku mengerjab lambat.

A-apa yang dia katakan? Permen itu bukan darinya, melainkan dari Ho-hoseok?

Eyy, aku pasti salah dengar. Permen ini pasti darinya. Bukan dari Hoseok si bocah aneh itu. Aku pasti salah dengar. Ya, pasti salah dengar!

“Permen itu dari Hoseok. Dia yang menyuruhku memberikannya padamu,”

Oh, shit!

Ternyata aku tidak salah dengar. Nyatanya, permen itu memang pemberian Hoseok dan Namjoon hanya sekedar menjadi kulir.

Kalian tahu apa yang aku rasakan sekarang?

Rasanya itu seperti kau baru saja diajak terbang tinggi ke angkasa dan tiba-tiba saja kau dihempaskan lagi ke bumi saat mengetahui permen itu bukan dari Namjoon melainkan dari Hoseok.

Jadi, ungkapan ‘I Love You’ yang berada pada bungkus permen itu mewakilkan perasaan Hoseok padaku?

“Hoseok sangat menyukaimu, ahh…tidak, dia bahkan mencintaimu, Soyeon-ah,” Namjoon kembali berujar, “Apa kau tidak ingin mencoba berkencan dengannya? Saranku sih, coba saja!”

Ishhh, apa-apaan sih, Namjoon. Asal tahu saja, yang aku sukai itu kau. Tapi kau justru menyarankanku berkencan dengan manusia kuda super aneh itu. Tidak peka sekali, sih. Menyebalkan. Aku lantas merenggut sebal.

“Lihat, dia bertingkah seperti itu karena kau,”

Aku mengalihkan fokus mataku untuk melihat Hoseok. Disana, bocah itu juga tengah menatapku dengan senyuman kelewat lebarnya. Tangannya bahkan membentuk heart sign yang ia tunjukan kepadaku.

Huh, kenapa dia norak sekali, sih?

Lihat, saat ini kami sudah menjadi bahan tontonan penghuni kantin. Memalukan.

“Aku akui tingkahnya memang sedikit konyol…”

‘Sedikit konyol’? Sedikit apanya? Itu sih sudah kelewat konyol bagiku.

“…..Tapi percayalah, dia itu pria yang baik dan yang pasti dia sangat mencintaimu. Kurasa tidak ada salahnya jika kau mencoba membuka hati untuknya. Bukankah benar begitu, Jaehee-ya?”

Ceramahan Namjoon langsung dihadiahi anggukan kelewat bersemangat dari Jaehee.

Ya, Tuhan, kenapa sekarang mereka berdua menjadi ikut-ikutan menyebalkan, sih?

Aku menatap jengah pada Jaehee dan juga Namjoon sebelum akhirnya fokus mataku kembali berpusat pada Hoseok. Bocah itu masih saja menatapku dengan senyuman yang semakin lebar dan kali ini ia membuat heart sign diatas kepalanya.

Aku menghembuskan napas kasar.

Demi Tuhan, kelakuanmu benar-benar konyol, Jung Hoseok!

Tapi,

Memikirkan perkataan Jaehee dan juga Namjoon tadi, Apa aku memang harus mencobanya?

Mencoba membuka hatiku untuk seorang Jung Hoseok, si manusia kuda kelewat aneh itu?

Jadi, Coba saja, nih!?

~Fin~

Yeah, aku kembali!!!

Adakah yang masih inget aku? Engga! Oke, tak apa.heheh…

Aku mulai nulis FF lagi karena aku dah lulus kuliah.Hohoho…

Btw, Terimakasih banyak buat kalian yang bersedia baca ff abal ini *BowBrngMemberBTS* ^^ buat endingnya pikirkan aja sendiri. Apa Soyeon bakal mencobanya atau engga. Klw aku jd Soyeon sih bakal coba.kekekek

 

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Just Try!?

  1. hiii lisa kim ^^
    selamat udah lulus kuliah ya, ini secara langsung jd motivasi author di sini yang pada semester 2, pada sibuk nyusun skripsi >< tp karena aku suka caramu nulis jd aku baca wkwkwk dan ceritanya lucu bngt kkkk
    harus ada lanjutannya ini kkk
    buat dong lanjutannya XD

    Like

    1. Hai Chingu, lama tak jumpa *Lambai2unyuBrngJin* ^^

      Wah, kalian jg udh pada sibuk nyusun skripsi nie? Semangat ya… Toga udh menanti kalian.hehehe..
      Btw, makasih banyak loh dh nyempetin baca *Bow*
      Buat sequel lg dlm proses kok…tunggu aja.hehehe..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s