Ficlet · fluff · Freelance · Genre · Length · PG -13 · Rating

[FF Freelance] Exhausted of Waiting


Exhausted of Waiting

OtherwiseM present

 

based from prompt

Tahun baru, hari baru, semua baru, tapi aku tak ingin cintaku diperbaharui.—by ettaeminho

 

|| You and [Boyfriend] Kwangmin, with mention of [Boyfriend] Youngmin || Fluff, failed! Comedy || Ficlet (500+ words) ||PG-13 ||

 

warning! Jo Kwangmin and Jo Youngmin aren’t twin here.

 

Kalau sudah bosan menunggu, kau bisa mencariku. Cintaku ini tidak pernah diperbaharui kok. Masih sama seperti dulu.

 

.

.

.

Aku lelah menunggu.

 

Hubungan jarak jauh memang bukan hal yang ‘menyenangkan’. Aku harus ekstra sabar dan membuang jauh pikiran negatif yang senantiasa menggerayangi tiap sekonnya. Awalnya aku baik-baik saja, apalagi Youngmin juga memang sering menghubungiku. Tapi belakangan, segalanya terasa semakin sulit dan aku mulai tidak yakin bisa menjalaninya dengan baik.

 

Aku marah. Aku kesal. Kepalaku sudah pada suhu paling tinggi dan rasanya ingin cepat-cepat meletakkannya di antara balok es. Bahkan hamparan bintang di atas sana tak mampu juga mengusir gundahku. Ponselku sudah puluhan kali berdering—aku yakin Youngmin sedang marah besar di sana—tapi aku masih enggan menyentuh benda persegi tersebut.

 

“Hei!”

 

Sebuah pekikan menelisik indra pendengaranku. Pekikan yang begitu familiar. Lantas saat aku menoleh, siluet lelaki berseragam dengan tas tersampir di bahu kudapati tengah berlari kecil menghampiriku. Lengkap dengan seulas senyum lebar. Oh, Jo Kwangmin.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?”

 

Aku mendesis, “Harusnya aku yang tanya, apa yang kau lakukan jam segini baru pulang? Dasar anak nakal.”

 

“Hei, kenapa aku jadi dimarahi?”

 

Masih dengan senyum lebar, Kwangmin merebahkan diri di sisiku. Semakin lama semakin bergeser mendekat dan aku bersumpah ingin menoyor kepalanya dengan sapu.

 

“Kau tidak merasa dingin hanya pakai kardigan begitu?”

 

“Kau juga tidak merasa dingin hanya pakai mantel saja? Ke mana syalmu?”

 

Kwangmin tersenyum lebih lebar lagi dan aku penasaran kenapa bibirnya tidak robek juga. “Aku menunggumu merajutkan satu untukku.”

 

“Terus saja menunggu sampai kau jadi manusia salju.”

 

“Asal kau akan merajut untukku, sampai jadi balok es pun aku akan tetap sabar menunggu kok.”

 

Aku memutar bola mata jengah. Sekon berikutnya aku baru sadar kalau Kwangmin mendekatkan wajahnya padaku. Oh, dia ingin mati ya? Apa yang mau dilakukannya?

 

“Ya!” Kuletakan telunjuk di dahinya, dan dalam sekali hentak, kepalanya terdorong jauh ke belakang. Bahkan sampai bergeser dari posisi duduknya. Ha! Rasakan itu!

 

“Uh, kau ini kasar sekali!”

 

Aku bersidekap, memandangnya sambil mengangkat dagu tinggi-tinggi. “Makannya jangan berani macam-macam padaku!”

 

Kwangmin hanya mendengus sambil mengelus dahinya. Oh, apa sesakit itu ya? Apa tanpa sadar aku mengeluarkan tenaga dalam saat melakukannya tadi? Ah tidak! Lagian ini juga salahnya! Ya, aku tidak seharusnya merasa bersalah.

 

Setelah itu senyap merayap di antara kami. Membuatku merasa agak tidak enak. Apa Kwangmin marah? Apa aku sudah terlalu kasar? Pemikiran macam itu masih saja bertandang dalam benak meski berulang kali aku menampiknya.

 

“Tidak bosan menunggu Hyung?” Suara bariton Kwangmin meretas sunyi.

 

Aku menoleh dan mendapati tatapan iseng menyebalkan itu sudah sirna dari kedua bola matanya. “Kenapa tanya begitu?”

 

“Ya, hanya penasaran saja. Ini sudah hampir setahun dan sepertinya urusan bisnis Youngmin Hyung di London belum juga beres.”

 

Aku berdehem pelan sebelum bicara, “Kalau dibilang bosan, tentu saja bosan. Tapi mau bagaimana lagi? Satu-satunya yang bisa kulakukan hanya ini. Menunggunya pulang.”

 

Kwangmin mengangguk paham. Namun sejurus kemudian mengulas senyum lebar yang membuatku curiga. “Kalau sudah bosan menunggu, kau bisa mencariku. Cintaku ini tidak pernah diperharahui kok. Masih sama seperti dulu.”

 

Aku merasakan rahangku jatuh ke tanah. Apalagi saat Kwangmin mengerling genit dan mengecup pipiku sebelum melesat pergi.

 

MENGECUP LOH MENGECUP! INI SERIUSAN MENGECUP!
.

.

.
“Hei, aku ini kakak iparmu, bodoh!”

 

—End—

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] Exhausted of Waiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s