Drama · Ficlet · G · Life · Romance · Slight!Hurt

[Alphabet Series] D for Dyslexia, E for Encore & F for Favorite


ab-33

Tittle : D for Dyslexia, E for Encore & F for Favorite

Author : riseuki || Cast: EXO’s Kai & f(x)’s Krystal

 Genre: Hurt/Comfort  || Duration : Ficlet

Disclaimer : Cast belong to themselves. The plot & the absurdness surely mine.

©Riseuki, 2016

.

“It’s okay if I’m not your favorite chapter you have written, but I hope you sometimes smile when you flip back to the pages I was still part of”

.

.

.

Bruk!

Krystal begitu saja menjatuhkan berkas-berkas di lengannya ke atas meja. Tebal kertas-kertas itu sejajar dengan tebal novel Harry Potter, ketika ketujuh serinya ditumpuk bersamaan.

“Haaaaah—“, keluh Krystal sembari mendudukkan diri di belakang meja kerja, tangannya mengetuk keyboard dengan sedikit gamang, dia sudah lelah. Bukan hanya pikirannya –yang setidaknya sudah seminggu ini berkutat dengan audit untuk tutup buku 2 hari ke depan, tapi raganya pun sudah tidak bisa kompromi. Benar deh, Krystal butuh tidur sungguhan, bukan kafein yang terus-terusan menjamah darah.

Perempuan itu sudah kembali menghadap kotak-kotak Excel yang penuh dengan angka, dan hanya dalam satu menit, layar itu ditutup. Sungguh, mata Krystal tidak bisa lagi melihat angka, dia akan gila jika melanjutkan pekerjaan ini sedikit saja lebih lama.

Dengan nafas berat, Krystal mengambil tas dan memutuskan untuk pulang.

Byur!

Rasanya menyenangkan, menyegarkan dan agaknya sedikit mengangkat beban. Begitulah, jika mandi di malam hari setelah minggu yang berat dan panjang. Tapi, bukan berarti hal itu berlaku untuk Krystal. Bahkan setelah dia keramas sebanyak tiga kali dan berendam dengan air hangat hingga ujung-ujung jarinya memutih, pikiran akan kertas-kertas yang belum dikerjakan tapi harus selesai dan diserahkan kurang dari 48 jam dari sekarang membuat kepalanya berputar.

“Haaaaaah—“, Krystal mengacak rambutnya. Tanggung jawab memang berat, iya kan ?

Dengan enggan, Krystal membuka notebook. Jemarinya sudah hampir mengarahkan pointer untuk membuka Excel, tapi entah sengaja entah terpeleset, justru Explorernya yang terbuka. Bisa saja sih Krystal menggerutu lagi dan menutup aplikasi itu dengan segera, kalau saja histori terakhirnya tidak menunjukkan blog itu.

Blog terkutuk.

Bukan, bukan terkutuk dalam arti yang sesungguhnya. Tapi Krystal memang mengutuk isi blog itu dengan sungguh-sungguh.

Alasannya ?

Pertama, karena sudah membuatnya jatuh cinta.

Kedua, karena membuatnya terus merasa bersalah.

Ketiga, karena dengan dua alasan tadi, membuatnya menitikkan air mata.

Bibir Krystal menyimpul, tapi matanya meredup. Kenangan itu menyerangnya dengan tiba-tiba seperti wabah yang tidak diketahui awal maupun akhirnya. Hingga beberapa menit yang lalu pikiran lelah dan raga yang lemah masih menguasai Krystal, tapi kini hati perempuan itu pun turut digerogoti kenangan.

“Waaah, ini seperti drama ya, Kai?”, dengan satu gerakan kecil jemari Krystal menscroll tulisan di blog itu satu persatu dan mulai membacanya. Bagaimana pun, perasaan ini tetap jadi favoritnya, karena semua yang ada di situ ditujukan untuknya, dibuat untuknya, di dedikasikan dengan sepenuh hati. Dari awal kisah hingga akhir kisah, dari yang membuat pipi merah hingga yang membuat pipi basah.

Semua ini tentang Krystal.

Dan Kai.

“Lihat deh, sepertinya Kai sedang jatuh cinta. Aku tidak sengaja menemukan ini di mejanya”, Vic melambai-lambaikan sebuah buku tulis bersampul cokelat sembari tertawa-tawa. Hari itu kami ada di kelas, tiga puluh hari tepat sebelum ujian nasional.

“Cieeeeeeeeeee—“, serentak seisi kelas bersorak mendengar berita itu, terutama karena Kai yang kami kenal adalah sosok yang rajin belajar, tidak begitu supel tapi tidak juga pendiam, dan selama ini tidak ada tanda-tanda apapun bahwa lelaki itu menaruh perhatian kepada sosok yang bernama perempuan. Ini adalah berita besar.

“Kau tahu siapa dia?”

“Memang apa yang tertulis di sana?”

Ya! Ternyata Kai—“

Belum selesai kegaduhan yang terjadi, sosok yang dibicarakan masuk ke dalam kelas dan membuat kelas hening. Hening dalam artian menggoda, dengan senyum-senyum usil dan tatapan-tatapan yang menuntut penjelasan. Hingga Vic mengambil suara.

Ya! Jadi siapa perempuan itu, huh?”, Vic bertanya sembari menepuk sebelah pundak Kai yang segera saja menunjukkan tatapan kaget, matanya membesar ketika menyadari buku cokelat yang sepertinya selama ini disembunyikannya dikibas-kibaskan oleh Vic dengan sebelah tangannya yang bebas.

Ya! Darimana kau dapat buku itu? Kau membacanya? Kembalikan!”

Dengan segera kelas bertambah gaduh karena Vic tak menyerahkan buku itu dengan segera dan malah mengopernya ke beberapa teman, pun aku kebagian jatah memegang buku itu. Dan, aku membukanya. Ternyata, isinya kumpulan puisi. Yang ditulis sendiri oleh Kai.

“Waaaah, ternyata kau pandai merangkai kata-kata”, komentarku saat itu dengan senyum yang sama jahilnya dengan senyum semua orang yang ada di kelas, tanpa menyadari kegugupan mau pun raut Kai yang begitu cemas? Malu? Entahlah, aku sungguh tidak bisa membacanya saat itu.

Grep!

Begitu saja buku itu direbut dari tanganku.

“Ka –kau membacanya?”

Aku menggeleng. Dan raut Kai terlihat membaik.

“Memang, boleh aku membacanya?”

Saat itu aku belum juga sadar dengan arti tatapan yang diberikan Kai padaku, atau pun raut wajah yang ditampakkannya di depanku, hingga lelaki itu menggeleng dan berlalu dari hadapanku. Yang berakhir dengan rasa penasaranku hingga akhirnya berhasil menemukan blog pribadi miliknya.

Dan aku yakin apa yang ditulis di blog itu adalah apa yang ada di buku cokelat itu, walau mungkin tidak semuanya. Tapi semua itu sudah cukup untuk membuat dadaku berdesir.

Krystal masih berkutat dengan notebooknya padahal jam di atas meja sudah menunjukkan pukul tiga. Matanya masih mengekor gerak pointer di layar, hatinya masih sibuk mengenang, otaknya pun masih sibuk memutar waktu yang hilang.

.

Pena mengerat kata malam pada senja

Pena mengukir perpisahan pada malam

Tapi tinta masih basah karena tangis

Tinta mengering seiring pagi yang menguap

.

Mungkin, bagi mereka yang tidak terbiasa, empat kalimat yang baru saja di baca Krystal terasa seperti angin lalu, tapi bagi mereka yang tidak hanya membaca lewat mata tapi juga merasa dengan hati, empat kalimat itu akan terasa begitu tragis. Perpisahan yang tak terucap tapi tetap terjadi, pernahkah ada yang tahu bagaimana rasanya ?

Krystal mengusir air yang turun dari pelupuknya dan membuka judul lain, postingan pertama, awal kisah. Dengan akhir yang selalu Krystal baca tapi tidak ingin Krystal ingat, dia selalu mengucap selamat malam pada akhir kisah ini, tapi selalu membuka awal kisah agar hatinya tidak begitu sakit. Agar rasa bersalahnya lenyap, walau tetap membekas.

Tapi entah kenapa kali ini jemari Krystal bergerak-gerak di atas keyboard dan sebuah kalimat terukir di kotak komentar. Krystal benar-benar merasa dia gila saat memposting komentar itu. Tapi dia yakin ini hal yang benar. Dia tidak boleh membuat hatinya lelah lagi dan lagi.

Jadi dia ingin mengakhiri ini sama seperti dia ingin menyelesaikan tumpukan berkas di meja kantornya. Dia tidak bisa lagi membaca puisi-puisi cinta itu seperti tidak bisanya ia membaca angka-angka yang memenuhi Excelnya. Dengan alasan yang sama.

Krystal sudah muak.

Dengan senyum dan nafas panjang Krystal menutup notebook itu dan mengucapkan perpisahan, “Selamat Malam, Kai. Berbahagialah”.

.

.

.

Ting!

Komentar itu dibaca dalam real time. Lelaki itu masih terjaga pun karena angin apa sedang membuka blog yang sebenarnya telah lama tak ia jamah.

“It’s okay if I’m not your favorite chapter you have written, but I hope you sometimes smile when you flip back to the pages I was still part of”.

.

“Ini seperti drama, ya ‘kan, Krys?”

 

-fin-

 

A/N :

  1. Ga jelas gitu ya ceritanya gantung banget? Sengaja GA sengaja sih wkwk *sob*
  2. Alphabet Project aku bakal agak pending nih sepertinya
  3. Doain skripsi aku cepet selesai T^T
  4. Quotes from @bestsaying / @theexploringduo
  5. Maaf buat poster yang seadanya, cc : google ^^
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s