Drama · Ficlet · fluff · G · Slice of Life

Is The Dot Still A Far ?


31

Title: Is The Dot Still A Far? / Author : minariFini/ Cast : Choi Jihyun(OC), Im Wong Jae a.k.a Siwan (ZE:A), Son Hyun Wo a.k.a Show Nu (Monsta X)/ Genre : Slice of life, Romance, Drama/ Lenght: Ficlet

Disclaimer : Hanya sebuah fiction, segala bentuk penjiplakan dilarang keras! Ditulis pada 21/02./2016 dan diselesaikan pada 08/03/2016

A/N:    Hii, akhirnya aku bisa menyelesaikan ff singkat ini. Ff ini aku tulis pribadi untuk didedikasihkan kepada Uri Ceo- Nim Sandra Choi. Niatnya mau nulis ff ini untuk hadiah ulang tahun XD tapi g jadi karena pas februari kemarin para author tidak boleh mempublish ff jadi ceritnya aku simpan. Dan kebetulan baru di selesaikan pada 8/03/2016 kkkk aku berharap semoga pesan dalam FF ini tersampaikan dan tidak ada maksud untuk menggurui. Kurang lebihnya mohon maaf – Enjoy~~

 

 

Kau tahu, mengapa aku membenci titik? Karena ia tidak berseru, tidak bertanya melainkan ia mengakhiri.

Mungkin aku harus benar-benar berhenti mencintainya. Berhenti merindukannya. Berhenti memikirkannya. Aku bukanlah sesuatu baginya. Aku hanya bayangan yang selalu berada di belakangnya. Aku hanya seorang gadis yang hanya mampu melihatnya dari jauh.

 

Aku terdiam mematung tak berdaya di hadapannya. Senyum pasi nampak di wajahku. Pria itu memiliki daya tarik tersendiri, aku masih tidak bisa menghindarinya. Aku pun merutuki diriku , aku hanya bisa menundukkan kepalaku- sudah sejauh ini aku masih tidak mampu menatapnya. Aku jengah dengan diriku sendiri- Choi Jihyun mau sampai kapan kau akan  seperti ini?

 

“Ayah, kakak ini yang tadi memberiku permen coklat dan dia telah merawat luka di kakiku.” Suara ceria dari bocah laki-laki berumur lima tahun. Anak ini masih memegang jemariku erat sambil menceritakan apa yang baru saja terjadi. “Kakak ini sangat baik dan juga cantik seperti seorang putri.”

 

Deg!

 

Jantungku berdetak dua kali lebih cepat ketika mendengar kalimat polos anak ini. Anak kecil memang akan mengatakan apa yang ada dalam benaknya dengan jujur. Tapi entah mengapa perktaan bocah ini membuatku semakin gugup. Padahal aku hanya membantunya membersihkan luka. Kala itu aku melihatnya terjatuh dari sepeda kecilnya. Ia menangis cukup kencang dan memanggil nama kedua orang tuanya. Aku tidak sampai hati meningalkan anak ini sendiri menangis kesakitan karena luka kecilnya.

 

“Benar kah begitu, Ji Hunnie?” sambung ayahnya sambil menyamakan dirinya dengan tinggi anaknya. Anak kecil yang bernama Ji Hun itupun mengangguk dan detik kemudian ia menatapku senang. Aku hanya bisa tersenyum menanggapi tatapan lugunya. “Terimakasih Jihyun.” Ucap pria itu -atau agar lebih jelas ayah Ji Hun.

 

“Ah, a-aku harus pergi sekarang.”  Balasku gugup. Perlahan aku melepaskan tautan jemariku dengan Ji Hun, namun anak ini nampaknya tidak ingin berpisah denganku.

 

“Tidak mau, kakak mau pergi ke mana?”

 

“Ah.. ka..”

 

“Ji Hunnie, kakak jihyun sedang ada urusan. Ayah akan mengantarmu bertemu dengannya besok hmm.” Bujuk pria itu seraya memisahkan jemari kami lembut. Perlahan suara tangisan ji hun terdengar setelah jemari kami terlepas. Bocah itu menangis karena ia tidak mampu mengungkapkan keinginannya untuk terus bersamaku. Bohong jika aku tidak sedih karena hal ini. Aku masih ingin bersama ji hun. Namun, aku tidak sanggup selalu bersama anak kecil ini- aku tidak bisa.

 

Tangisan ji hun semakin kencang sehingga ayahnya pun memutuskan untuk menggendongnya. Aku tersenyum tipis kala melihat pria itu berusaha menenangkan anaknya. Nampaknya ia tidak kesulitan dengan peran barunya sebagai seorang ayah. Kau ayah yang baik Im Wong Jae- aku tahu itu.

 

Akupun membungkukkan badanku sebelum akhirnya aku mengambil langkah menjauh. Aku berjalan sambil meremas jemariku. Mungkin inilah yang terbaik.

 

Mungkin saja waktu itu, wong jae terlalu tuli untuk mendengar detak jantungku ketika berada di dekatnya.

 

Mungkin saja waktu itu,  ia terlalu buta untuk melihat perasaanku.

 

Atau mungkin aku yang tak mampu membuatnya mengerti perasaanku.

 

Aku menghela nafas pelan seraya berjalan menyusuri jalan setapak taman ini. Angin musim gugur menerpa wajahku lembut. Rumahku tidaklah jauh dari taman ini. Sudah lama sekali aku tidak berjalan melewati taman ini. Ada beberapa alasan mengapa aku tidak melewati taman ini. Salah satunya adalah rumah wong jae berada di sekitar taman ini. Cukup menyakitkan melihat wong jae telah berkeluarga, sehingga memutar jalan itulah satu-satunya caraku untuk menghindarinya.

 

Apakah aku menyesal bertemu dengan wong jae dan anaknya sore ini? tidak. Aku tidak menyesalinya, meski aku masih belum bisa menatapnya secara langsung tapi percayalah aku tidak menyesal ataupun merasa sakit hati. Sudah banyak air mata yang terjatuh sia-sia karenanya. Cukuplah sekarang, aku harus menerima kenyataan bahwa wong jae bukanlah untukku.

 

Perlahan aku menyelipkan beberapa helai rambut dibalik telingaku akibat tiupan angin. Aku masih mengingat, ketika wong jae menikahi wanita itu. Hatiku hancur dan aku mati-matian menutupi rasa sakitku. Aku selalu tersenyum menanggapi ucapan teman-teman dan keluargaku- aku selalu berdali bahwa Aku baik-baik saja….

 

Kau boleh menertawakanku, tentu saja, aku tidak baik-baik saja kala itu. Biarlah, biarkan waktu yang membawa pergi rasa sakit ini . Cepat atau lambat perih dan sesak di hati ini akan berlalu.

 

‘Kau tahu, mengapa aku membenci titik? Karena ia tidak berseru, tidak bertanya melainkan ia mengakhiri.’

 

Itulah sepenggal kutipan yang menggambarkan kisahku dengan wong jae. Aku selamanya hanya bisa menganguminya. Sedikitpun aku tidak pernah berhasil menyentuhnya. Wong jae bagaikan sebuah titik yang hanya bisa mengakhiri kisah ini tanpa berseru ataupun bertanya padaku. Tiba-tiba saja ia pergi bersama wanita itu dan hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Sedangkan aku? Entahlah, aku…

 

Brrr’ Brrrt

 

Lamunanku buyar ketika ponselku bergetar. Akupun segera mengambil ponsel di balik blazer kerjaku. Aku terdiam sejenak, dia? . Tanpa banyak berfikir lagi akupun mengangkat panggilan itu

 

“Hmm iya hyun wo, ada apa?” tanyaku yang diikuti dengan kekehan dari seberang sana. Aku mengeryit tak mengerti. Ia tertawa di seberang sana, memangnya ada yang lucu?  Oh Tuhan.  Aku membuang nafasku asal- aku tahu, ia pasti sedang ingin menggodaku.  “Hyun Wo, aku mohon jangan bercanda. Untuk apa kau menelfonku?”

 

“Tidak ada. Kau ada dimana?” aku menggerutkan dahiku ketika mendengar jawabannya.

 

“Di rumah.”  Ucapku asal.

 

“Sejak kapan seorang jihyun pandai berbohong?” Katanya dengan nada yang dibuat-buat. Benar , ia sedang menggodaku. Baiklah, Son Hyun Wo jika ini yang kau mau.

 

“Ah, Jihyun adalah gadis polos dan tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang pandai berbohong. Dan parahnya mereka berdua sangatlah dekat. Jihyun bahkan sekarang sangat pandai berbohong karenanya. Haruskah jihyun berterima kasih padanya?” sambungku sambil tersenyum. Aku sanggup membayangkan wajah Hyun Wo yang sedang menahan tawanya. Aku pun mendengus geli ketika  mendengar tawanya dari seberang sana. Aku yakin ia tidak sanggup menahan tawanya lebih lama lagi. Aku pun melanjutkan langkahku sambil mendengar ucapan hyun wo.

 

“Tidak perlu, seseorang itu tidak mengharapkan apapun darinya. Hanya satu hal. Tolong katakan pada jihyun, seseorang yang pandai berbohong itu akan menunggu Jihyun. Ia akan menunggu hingga hati jihyun terbuka kembali. Meski ia harus menunggu seribu tahun lama.” Aku tertawa. Iya , Tertawa sangat lepas. Jika di dalam drama seorang pria mengatakan hal itu, aku yakin ia bisa meluluhkan hati tokoh perempuan tersebut dengan mudahnya. Sedangkan Hyun Wo, entahlah aku sungguh tidak menduga ia akan mengatakan itu.  Bagaimana bisa seorang Son Hyun Wo mengatakan kalimat konyol itu?  Aku yakin ia sedang mengigau.

 

“Kau gila.” Sambungku di sela-sela tawaku.

 

“Sejujurnya kau sendiri yang nampak seperti orang gila. Kau tertawa sepanjang perjalanan, Bodoh.”  Aku mengerutkan bibirku sebal dan diikuti kekehan tawa dari seberang sana. Nampaknya ia sangat senang karena telah berhasil mengerjaiku. Entah sejak kapan hyun wo memiliki kesenangan untuk mengerjaiku. Dasar!!

 

“Hyun wo, hentikan. Kau bilang aku seperti orang gila? Kau bahkan tidak di sini untuk melihatku. Berhenti bersikap sok tahu seperti itu. huh.” Aku menggerutu sebal.

 

“Maaf.” Ucapnya lembut. Perlahan kekehan hyun wo berhenti. Suara nafas lembut hyun wo sempat terdengar. Senyum pasi terukir di wajahku, setidaknya aku tidak kesepian sore ini. Aku merasa hyun wo seakan sedang bersamaku. “Jihyun-ah , Apa kau baik-baik saja?” tanya hyun wo dengan suara beratnya. Suaranya terdengar serius hingga membuatku menghentikan langkahku sejenak.

 

Entah mengapa bibirku menjadi keluh. Aku ingin sekali berkata bahwa ‘aku tidak sedang baik-baik saja’ tetapi, peduli apa hyun wo dengan masalahku. Keheningan pun tiba-tiba mengantung di antara kami. Hyun wo sedang menunggu jawabanku.  “Aku baik-baik saja.” Bisikku lemah.

 

“Aku harap begitu. Sepanjang sore ini aku melihatku bersama anak kecil itu dan raut wajahmu berubah ketika bertemu dengan ayahnya. Apakah itu wong jae?” aku tertunduk meng-iyakan dugaan hyun wo. Apakah hyun wo sedang berada di sini? Apakah ia melihatku sekarang?

 

“Dasar penguntit.” Sambungku cepat. Seulas senyum samar muncul kembali di wajahku. Terdengar dari sana hyun wo mendengus geli. Jika ia memang sedang melihatku saat ini, aku harap dia tidak sedang mengasianiku. “Keluarlah hyun wo, kau ada dimana?” lanjutku dengan intonasi ceria yang ku buat-buat. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain -terutama Hyun Wo.

 

“Sebegitu besarkah pengaruh Wong Jae padamu hingga kau tidak menyadari keberadaanku, Jihyun-ah?”tanyanya dengan menekan beberapa kata. Suara hyun wo terdengar sedikit lebih dekat.

 

“Tentu, pengaruhnya sangat besar sekali.” jawabku mantap dan selanjutnya sambungan kami terputus. Aku menutup mulutku untuk menyembunyikan tawaku. Sekarang aku baru menyadari ternyata hyun wo memang mengikutiku sejak tadi. Hal itu terbukti suara derap kakinya terdengar semakin dekat. Aku menahan diriku untuk tidak membalikkan badanku. Aku yakin dia sedang kesal sekarang.

 

Akhirnya , seorang pria dengan tubuh jangkung dan tegap berada di sampingku. Aroma maskulin tubuhnya  menyelimutiku. Aku merasa nyaman di dekatnya. Ia seakan sedang melindungiku. ‘Ehm’ ia berdeham untuk menarik perhatianku. Aku terkekeh geli karenanya. Itulah Son Hyun Wo.

 

“Jihyun-ah.” Aku menatapnya kala ia memanggil namaku. Hyun wo tersenyum padaku. Matanya tenggelam saat ia tersenyum seperti itu. Dan untuk sore ini, aku harus berterima kasih padanya karena ia membawa kembali senyumku. Aku merasa lebih baik sekarang. “ Jangan menahannya sendiri. Jika kau ingin menangis atau membutuhkan sandaran. Aku ada di sini.” Imbuhnya sambil menepuk-nepuk bahunya.

 

“Terimakasih Hyun Wo.” Ucapku sambil mendengus geli. Hyun wo pun tersenyum padaku. Senyumnya dapat menenangkan jiwaku. Perlahan tangannya menggenggam jemariku. Aku menatapnya sejenak dan membiarkan hyun wo menautkan jemarinya.

 

Lihatlah, apakah kalian sadar bahwa satu titik kesedihan akan berujung dengan setitik kebahagian. Begitulah seharusnya. Meski Wong Jae tidak bersamaku, aku tahu suatu saat nanti akan datang seseorang pengganti. Dimana seseorang itu akan tulus memegang tanganku, meminjami bahunya sebagai sandaranku, bersedia menjagaku dan membahagiakanku.

 

Tuhan selalu memiliki rencana yang baik bagi hambanya. Aku yakin Tuhan telah menyiapkan titik kebahagianku sendiri. Apakah titik kebahagianku masih jauh? Apakah titik kebahagianku bersama hyun wo? Aku tidak tahu. Sekali lagi, biarkan waktu yang menjawab segalanya.   Biarkan sejenak aku menikmati indahnya sore di musim gugur ini dan gengaman hangat tangan hyun wo. Aku bersyukur untuk hari ini. Bersama dengan hyun wo, segalanya terasa lebih baik dan ringan.

 

“Apakah kau ada waktu malam ini?” aku mengangguk sambil menatap hyun wo. “Teman baikku, memberikan kupon makan di kedainya. Tetapi kupon itu berlaku untuk sepasang kekasih saja. Aku.. maukah kau…” aku berusaha menahan tawaku. Aku melihat hyun wo sedang menggaruk kepalanya. Ia terlihat gugup. Namun perlahan ia membuka suaranya- ia bertanya padaku “Apakah kau mau menemaniku, Jihyun?”

 

Aku menghentikan langkahku seraya menatap bola mata Hyun Wo. Ia terlihat bersungguh-sungguh. Mata kami bertemu. Tiupan angin menerpa wajahku lembut dan membuat beberapa helai rambut menutupi wajahku. Perlahan jemari hyun wo menyilahkan helai rambutku dan menyelipkannya dibalik telingaku. Aku tersenyum padanya “ Tentu, aku akan menemanimu.”

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Is The Dot Still A Far ?

  1. Annyeong author Minarifini.. hahaha aku gak nyangka kamu akan buat cerita hidupku yg kamu sambungkan dengan kutipan favoritku hahaha, aku baca ngakak campur nangis, aku tau siapa yg kamu maksud dengan Im Woongjae disitu juga anak laki-lakinya XD ini beneran mirip kayak yg aku rasain.. kamu bawakan ceritanya santai juga gak terlalu buru buru aku suka, dan peran Hyunwoo disitu bikin aku makin jatuh cinta sama Hyunwoo hahaha terimakasih banyak ya sudah nulis ff ini dan menceritakan kisahku yang cukup detail ini, tapi pembawaan ceritamu jauh lebih bagus daripada kisahku yg sesungguhnya XD bagus fini, pesannya dapat banget kok..
    Semangat untuk fanfiction selanjutnya!! ^^

    Like

  2. astaga ini mah cerita realnya Ceonim hehehehe #ketawaevil
    kamu ini ngambil dari lagu2 gak sih kutipannya, aku kok kayak pernah tau kata-katanya #maafkalausalah 😦
    aku ketawa baca karakter shownu oppa disini, dia itu gak akan berkata seperti ini “ Jangan menahannya sendiri. Jika kau ingin menangis atau membutuhkan sandaran. Aku ada di sini.” cheesy banget, masalahnya shownu itu orangnya gak cheesy hehehe.
    good job Authornim, next buat FF monstaX lainnya.

    Like

  3. hahaha. ini entah kenapa jadi keinget bener sama ceritanya ceo-nim #ups. saengil chukkae buat ceo-nim! hihi. nunna, ini bagus banget. cerita simple tapi sarat akan makna kekeke. aku suka! banyakin deh buat ginian hehe. buatin aku juga boleh /.\

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s