Ficlet · Freelance · G · Genre · Length · Rating · Romance

[FF Freelance] Confession


Author : hiharu

Title : I Only Have You (Confession)

Cast : Jeon Jungkook atau Jungkook BTS, Song Liliana, Kim Taehyung atau V BTS

Lenght : Ficlet

Rating : G

Disclaimer : Jungkook and V belong to their family, BigHitEnt, and ARMY. Ide cerita ff ini mutlak milik Author. Jika ada kesamaan dalam isi penulisan ff ini, dapat dipastikan bahwa itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Dedicated for you, the beloved readers.

A/N : FF sekuel dari “I Only Have You” dan merupakan FF ketiga saya setelah dipublikasikannya “O unloved A” di mnjfanfiction. Terima kasih dengan sangat untuk admin yang ramah. Masih di sela-sela kesibukan skripsi jadi kemungkinan alur cerita yang absurd dan masih banyak membutuhkan pengeditan sana sini :’D tetapi saya berharap kalian, para pembaca, dapat menikmatinya. Sangat dinantikan komentar, kritik, dan juga saran dari para pembaca. Terima kasih 🙂

 

I Only Have You

 

“Yeobo-ya, selamat pagi..!” Sengaja aku mengeraskan volume suaraku agar Jungkook bangun. Aku mengguncangkan tubuhnya. Tapi matanya sama sekali tidak terbuka sedikit pun. Dia seperti orang mati. “Jungkook-ah!!!! Makan pagi kita keburu dingin. Jungkook-ah.. aku lapaaaaar. Jungkook-ah…” Kataku sambil memelas.

Yes! Berhasil. Jungkook memang selalu begitu. Tidak tega dan mudah dirayu. Dan aku sangat menyukainya. Aku tersenyum puas melihat Jungkook membuka matanya, meski masih malas untuk bangun. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Eh!

Tiba-tiba dia mencium keningku dengan lembut.

Hangat.

Nyaman.

Jungkook selalu membuatku meleleh. Dan aku semakin menyukainya. Setiap hari sukaku selalu bertambah kepada dia.

Jungkook beranjak menuju ke kamar mandi dengan terseok-seok, membiarkan aku yang masih syok dengan kecupan pagi darinya.

BRUUK!!

Suara jatuh itu membuyarkan shocking pagiku. Saat aku menoleh ke arah sumber suara itu. Oh Tuhan!

“Yaa…Jungkook!!” Teriakku histeris. Jungkook jatuh sambil memegang perutnya. Dia mengerang kesakitan. Aku segera membantunya,membopong dia ketempat tidur lagi.

“Kim Taehyung sialan!!” Gerutunya dan aku hanya cekikikan mendengar suaranya yang parau.

“Yaa…Liliana!!” Katany asebal. Masa bodoh dengan gerutuannya sekarang. Setelah membantu dia berbaring di tempat tidur, segeraku bawakan sarapan untuknya.

“Aaa…” Kataku sambil mendekatkan sendok yang telah kuisi dengan nasi bibimbap. Tapi Jungkook malah berpaling. “Waeyo?”

“Tidak bisakah kamu memasak makanan yang berkuah?” Tanya Jungkook sebal. Aku hanya menggeleng dan mulai cemberut.

“Kau tahu sendiri ‘kan, Jungkook…” Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Jungkook memegang tanganku yang membawa sendok berisi nasi, mendekatkan ke mulutnya kemudian melahapnya.

Ah…Jungkook.

“Gomawo.” Kataku tulus sambil menatap matanya.

“Suapi aku, Lili.” Tanpa kau meminta pun akan aku lakukan.
Dia makan begitu lahap. Wajahnya yang begitu polos terlihat begitu imut.

“Jangan terus menatapku seperti itu, Liliana.” Katanya tersipu malu.

“Aigooo…Jangan melihatkan wajah seperti itu kepada wanita lain, mengerti Jungkook-ah?!” Perintahku. Wajahnya polos yang tersipu malu itu bisa membuat para wanita tertarik dan aku tidak menyukainya. “Mengerti, Jungkook-ah?!”

“Kau egois, Li.” Katanya terus terang.

“Benar.” Kataku mantap. “Aku memang seperti itu.” Kataku enteng.

“Kau keras kepala.”

“Keras kepala sekali.” Aku mengangguk, setuju.

“Kau pintar merayu.”

“Hanya merayumu.”

“Kau overprotektif.”

“Jika kau mendekati atau didekati wanita lain, aku akan begitu.”

“Dan aku menyukainya. Menyukaimu.”

“Nado. Sangat menyukaimu.” Kataku tersenyum, dia pun membalasnya dengan tersenyum tulus. “Berjanjilah, Jungkook. Biarkan aku tetap di sampingmu. Kau tidak tahu betapa menderitanya hidupku jika tanpamu.”

Kami terdiam. Ku beranikan diriku untuk meminta maaf kepadanya. “Maaf aku tidak menceritakan hubunganku dengan Taehyung.” Kataku lambat-lambat. Takut dia akan mengamuk seperti kemarin.

“Berceritalah jika kau sudah siap, Lili. Aku baik-baik saja.” Perkataannya begitu menyejukkan hatiku, menguatkanku untuk mengatakan semuanya.

 

[FLASHBACK]

Aku meminta Jungkook menunggunya di luar studio. Aku tidak ingin dia melihatku yang sangat, sangat, sangat bahagia saat bersama Taehyung. Jujur, aku merindukan Taehyung. Pertemuan pertama dengan Taehyung tidak seperti harapanku. Aku hanya dapat berbicara sebentar dengannya, mengatakan halo lalu membahas script yang akan dibacakan. Padahal banyak sekali yang ingin aku katakan kepadanya. Kemudian hari itu tiba. Aku sengaja menyusuri setiap jengkal ruangan di studio itu untuk bertemu dengannya padahal script sudah berada di tanganku. Tapi aku sama sekali tidak menemukan Taehyung. Mungkin dia sudah pulang. Jadwal manggungnya begitu padat, batinku.

“Hey, Liliana.” Seseorang menyapaku dari belakang, aku reflek menoleh ke arah sumber suara itu.

“Hey ju..ga” Jeda. Bumi seakan berhenti berputar. Syok sekaligus gembira. Tuhan, itu dia. Kim Taehyung menyapaku dan tersenyum. Masa bodoh dengan pipiku yang gampang merona merah. Aku juga tidak tahu apakah pipiku benar-benar memerah atau tidak, tapi itulah yang dikatakan Jungkook ketika aku tersipu malu dan saat bahagia. Ah..Jungkook.

“Apa yang kau lakukan, Lili?” Tanya Taehyung kemudian membuatku melupakan Jungkook yang sempat singgah di pikiranku.

“Eh…sedang mencarimu. Ah…tidak. Aku mau mengambil script untuk job kita.” Bodohnya Liliana, batinku. Taehyung tersenyum.

“Ayo. Aku juga mau mengambil script.” Aku pun mengikutinya. Aku perhatikan tubuh tegapnya. Dia bertambah tinggi. Tubuhnya sedikit kekar, mungkin dia sering pergi gym. Punggungnya terlihat hangat, ingin sekali aku memeluknya. Tuhan. Apa yang kamu pikirkan,Lili? Runtukku. Bodoh, bodoh, bodoh.

Aku pun mengikuti langkahnya dari belakang. Ingin berbicara banyak dengannya. Ayo, Lili. Jangan sia-siakan kesempatan ini!

“Bagaimana hari-harimu? Apa yang kau lakukan selama ini?” Taehyung menoleh kepadaku. Dia tersenyum. Omo… manis sekali. Untuk seperkian detik aku terbius dengan senyum manisnya itu.

“Ehm… baik.” Jawabku. Kemudian aku mempercepat langkah kakiku agar bisa berjalan di sampingnya. “Terkadang aku mengisi beberapa acara dengan menjadi MC seperti sekarang ini. Entah acara off atau on air. Tapi aku menjadi pembawa acara tetap di sebuah radio.” Lanjutku.

“Tak ku sangka. Liliana yang begitu pendiam dan hanya bicara ketika ditanya bisa begitu bawel. Bahkan sekarang menjadi pembicara yang membuat orang lain merindukan suara dan kata-kata indahnya.” Katanya tulus.

“Kau sering mendengarkanku ketika on air radio?” Tanyaku kaget. Tidak menyangka Taehyung akan mendengarkanku.

“Tentu saja, Liliana. Ternyata suaramu begitu membahana seperti monster radio.” Dia tertawa. Aku cemberut.

Tiba-tiba dia mencubit kedua pipiku. “Becanda, Liliana. Suaramu indah. Entah dari script atau bukan tapi ketika kau mengatakan beberapa kalimat sepertiquote di akhir acara, aku merasa kau mengatakannnya begitu tulus. Aku menyukainya.” Aku mengerjapkan kedua mataku. Wajahku Taehyung begitu dekat dengan wajahku. Aku bisa melihat bibir tipisnya yang begitu merah, bola matanya yang hitam, dan pipinya yang sedikit chubby. “Maaf.” Katanya sambil melepaskan cubitannya di pipiku.

Salah tingkah. Hening. Aku benci suasana seperti ini. Kami berjalan bersama dengan canggung.

“Ini ruangannya?” Tanyanya sambil menunjuk salah satu ruangan. Aku hanya mengangguk.

“Eh, scriptnya kok hanya ada satu kopian saja?”Tanyanya sambil mencari di tumpukan dokumen lainnya.

“Ah… tidak apa-apa, Taehyung. Aku bisa meminta kopian script ke staff lainnya.”

“Kau pakai punyaku sajalah.” Katanya sambil menyerahkan scriptnya. Aku menolaknya.

“Serius tidak apa-apa?” Aku hanya mengangguk. “Baiklah.” Taehyung memasukkan scriptnya ke dalam tas ranselnya. Kemudian dia melangkahkan kakinya ke luar ruangan dan aku masih mengikutinya seperti itik yang mengekor kepada induknya. Begitu menurut. Lebih tepatnya aku terbius.

“Taehyung-ah…”

“Ne?”Jawabnya sambil menoleh kepadaku. “Berjalanlah di sampingku, Liliana. Kau partnerku sekarang. Kau tak sekarusnya berjalan di belakangku.” Aku pun menurutinya. Benar, dia adalah partnerku dan tidak seharusnya aku berjalan di belakangnya seperti yang aku lakukan seperti dulu.

Dia tersenyum puas ketika aku berjalan di sampingnya. Sedikit canggung tapi sekali lagi, kesempatan ini tidak akan datang untuk yang kedua kalinya.

“Sesibuk apa kau sekarang, Taehyung?” Tanyaku mencoba mengakrabkan diri. Dia terdiam, berpikir. Dia masih seperti dulu. Blank eyes ketika ditanya.

“Tak banyak yang berubah, Liliana. Aku masih ke sana kemari untuk mengisi acara, menjadi bintang tamu, bernyanyi, latihanWaktuku dengan keluarga dan teman-teman tersita. Tapi menyenangkan bertemu dengan para fans dan staff. Aku bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka. Lalu, siapa namanya?”Perkataan taehyung tiba-tiba berhenti, mengingat nama seseorang.“Ah, iya. Jungkook? Bagaimana hubunganmu dengan dia?”

Glup. Bagaimana dia bisa mengetahui hubunganku dengan Jungkook?

“Tak perlu malu, Liliana.” Kata Taehyung santai. “Meski kita jarang berbicara, aku masih bisa mendengarkan para staff membicarakan seorang laki-laki yang selalu menunggumu ketika usai kerja. Waktu itu kau juga berjanji akan memperkenalkan dia kepadaku di awal pertemuan kita.” Kalimat yang diucapkan Taehyung tepat mengenai sasaran

Tuhan.

Sengaja aku menghentikan ceritaku dan melihat reaksi Jungkook. Aku takut dia akan marah lalu pergi dari hidupku. Aku menatapnya dan dia sama sekali tidak bicara. Dia hanya menundukkan kepalanya.

“Hhhh…” Jungkook menghembuskan nafasnya. Panjang dan berat. Lalu dia menatapku dengan tajam tanpa bicara.

“Lalu…” Katanya memecah keheningan. “Lalu mengapa kau datang ke apartemenku bersama dia?”

“Dia mengikutiku, mungkin. Entahlah aku juga tidak tahu pasti karena saat itu yang ada di pikiranku, aku harus segera bertemu denganmu dan memperbaiki apa yang telah aku lakukan kepadamu.”

“Berceritalah.”

“Aku mengambil cuti hampir seminggu.”

“Wae?!” Tanya Jungkook tidak percaya. “Lili, kau tahu kerja itu tidak main-main. Bagaimana kalau nanti gajimu dipotong? Lalu bagaimana kau membiayai hidupmu? Bukankah tahun ini kau akan kuliah?”

“Bawel.” Olokku dengan tersenyum dan Jungkook membalasnya dengan cibiran. “Aku sudah menyisihkan uangku, Jungkook. Kau tak perlu khawatir. Kau tahu aku tak menghubungimu dan cuti karena aku kalut dengan perasaanku. Bodohnya aku.” Runtukku.

“Lalu mengapa kau kembali?”

“Perasaanku dengan Taehyung hanyalah masa lalu, Jungkook. Aku menyukainya karena dia tampan dan mudah bergaul. Aku membuat diriku agar mudah diterima di sisinya tapi semakin aku melakukannya, aku semakin muak dengan sikapku. Bukan itu yang aku butuhkan.”
Aku menatap Jungkook dan dia membalasnya dengan anggukan.

“Berawal dari itu aku sadar bahwa ketika aku bersamamu, aku merasa nyaman. Sore itu aku datang ke apartemen Taehyung dan mengatakan semuanya. Tanpa menunggu reaksinya, aku segera berlari ke apartemenmu. Dan bodohnya aku…”

“Kau lemah menghafal jalan, bukan?” aku mengangguk lemah.

“Sebenarnya aku datang ke apartemen Taehyung di siang hari tapi baru sampai menjelang sore hari.” Cengirku. “Begitu juga ketika berlari ke apartemenmu. Aku mencari terus mencari. Terus berusaha mengahafal tapi entah mengapa sulit sekali menemukannya hingga air mataku menetes. Lalu Taehyung sudah berada di belakangku dan memukulmu.”
Jungkook menghembuskan nafas dengan berat.

“Jangan!” Kataku tiba-tiba. Tatapan Jungkook berubah menjadi heran. “Jangan katakan apapun!” Aku menundukkan kepala. Aku benar-benar mulai pasrah dengan keputusan Jungkook nanti. “Aku tahu aku sudah mengecewakanmu. Maaf aku tidak bisa menjaga hati dengan baik.” Air mataku mulai tergenang.

“Tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf.”
Kata-kata Jungkook mengagetkanku. Mengapa dia yang harus meminta maaf?

“I am so sorry I can’t be a good man for you babe. Mungkin karena aku belum dewasa untukmu….”

“Tidak, Jungkook-ah… kau selalu ada untukku. Setiap saat.” Sebelum Jungkook meneruskan kata-kata yang tidak aku ingin dengar, aku memotong perkataanya. “Bukan karena usia ku yang lebih tua 2 tahun darimu atau Taehyung yang sudah lebih dewasa darimu. Bukan itu Jungkook-ah.” Aku memegang tangannya. “Aku menyukaimu karena kamu adalah Jungkook. Jungkook yang selalu bisa menyenangkan aku. Jungkook yang selalu meredakan marah. Jungkook yang selalu membuatku rindu dengan kehadirannya.” Kataku akhirnya. Aku menatapnya dengan tatapan memohon untuk tidak mengatakan sesuatu yang ‘tidak-tidak’.

“Kau selalu begitu, Lili.” Katanya sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas. “Lalu apa yang membuatku bisa bertahan di sampingmu? Kau tahu kau sangat egois dan keras kepala.” Katanya sambil beranjak pergi.

Tanpa pikir panjang lagi, aku meraih punggungnya dengan sedikit loncatan.

“YA! Apa yang kau lakukan?” Meski kaget dengan ulahku, Jungkook secara otomatis memegang bagian belakang tubuhku agar tidak jatuh.

“Kau tidak akan pernah menemukan gadis yang sangat egois dan keras kepala seperti aku. Kau pasti akan merindukan gadis sepertiku.” Kataku sambil tertawa ringan. “Kumohon, bertahanlah untukku, Jungkook.” Ku eratkan pelukanku.

“Hari ini aku tidak ingin mendengar apapun tentang Taehyung darimu. Aku bosan kau terus menyebutnya pagi ini.”

“Siap komandan!” Balasku dengan semangat. “Tapi kau tidak akan pergi bukan?”

“Aku akan pergi, Liliana. Ke kamar mandi. Kamu mau ikut?” tanyanya dengan menggoda.

“YA! Lepaskan aku!” kataku meronta-ronta digendongannya.

“Tidak akan kulepas. Tidak akan pernah melepaskanmu.”

 

FIN

 

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Confession

  1. Hai L! Btw jarak antara ff sblmny ckup jauh hingga hrus mngingat2 lbih keras, atau mmbaca ulang agar tetap nyambung.

    Well, bnyak tnda baca yg hilang dan juga bbrpa typo, itu sdkit mngganggu. Jujur aku kurang srek di bgian Lili cerita ttg Taehyung. Awalnya ada kta flasback tp tiba2 udh ada jungkook, itu sdikit mmbingungkan.

    Secara keseluruhan aku suka^^ keep writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s