Angst · February Project · FF Project · One Shoot · PG -15 · Romance · sad · Song Fic

[Season Of Love Project] 고엽


Untitled-2

[Oneshot] 고엽 / Tema: Never Ending Love / Author: Pinkchaejin /Rate: PG 15+/Length: oneshot /Genre: angst, romance, sad/Songfict from: BTS – 고엽 (Dead Leaves)/Cast:-Kim Hyun Jung (Daye of Berry Good)-Kim Seok Jin (Jin of BTS)/Cameo: -Kim Tae Hyung (V of BTS) -Han Chae Young (Pinkchaejin’s OC)

 

-Happy Reading-

 

Semilir angin berhembus sejuk menelusuri segala penjuru dunia, menyebarkan triliun lebih molekul-molekul unsur bernama oksigen yang diperuntukkan untuk segala makhluk hidup yang bertempat tinggal di planet Bumi. Hembusan udara tersebut melanglang buana hingga menyebabkan bunga-bunga dandelion berterbangan bak butiran-butiran salju. Butiran-butiran bunga tersebut terbang kesana-kemari mengikuti langlangan arah angin menelusuri hiruk pikuk negara Korea Selatan yang bertepatan di kota Seoul. Bunga-bunga dandelion itu tampaknya sangat mempertahankan diri untuk tetap berada di udara tanpa mau membiarkan dirinya jatuh di atas jalanan. Terus saja mereka mengikuti arah angin sejuk yang selalu ada setiap saat dan tidak pernah hilang wujudnya. Masih saja butiran-butiran bunga tersebut menjelajahi kota Seoul itu dengan terbang di udara walaupun tak memiliki sebatang sayap pun. Tetap berada di udara tanpa rasa penat datang mengelabuhi mereka demi tidak membiarkan tubuhnya jatuh begitu saja di atas jalanan, karena pada akhirnya mereka pastinya akan diinjaki oleh telapak-telapak kaki manusia yang seenaknya berjalan tanpa memperhatikan di jalan tersebut ada mereka. Memperhatikan butiran-butiran bunga dandelion? Apakah ada orang yang mau melakukan hal se-tidak menarik itu? Mereka hanya butiran bunga yang lama kelamaan akan layu dan akan terinjak-injak jika ada yang sedang melintas, bukan butiran-butiran berlian yang dangan berharga sehingga benda tersebut jika tergeletak di jalanan akan ada orang yang memungutnya sekaligus menghargainya. Butiran bunga-bunga dandelion itu kini tak lagi mengikuti kemana arah udara berjalan, butiran-butiran berwarna putih itu kini melekat di surai kecoklatan seharum bunga lidah buaya. Sepertinya jatuh di atas surai yang harum itu lebih highclass jika dibandingkan dengan jatuh di atas jalanan yang selalu dilewati kendaraan-kendaraan yang mungkin memiliki roda yang berlumpur, atau mungkin jalanan tersebut telah dinodai oleh tinja-tinja milik para burung yang tak bertanggung jawab, dan bisa saja jalanan tersebut terdapat tulang-tulang ikan bekas makanan kucing liar yang selalu membuang sampah sembarangan. Sang pemilik surai pun terkikik tatkala sadar butiran-butiran kecil tersebut tersangkut di surainya. Dengan tujuan membersihkan surai kecoklatannya bak model-model cantik di majalah dengan surai yang indah, gadis pemilik surai tersebut pun mengangkat tangan lentik nan mulusnya menuju pada surainya atau yang biasa disebut sebagai rambut. Sebelum tangan itu sampai di tempat tujuan, seonggok tangan lain pun terkebih dahulu melaksanakan tujuan dari tangan milik gadis tersebut. Tangan kekar itu menyapu-nyapukan butiran-butiran bunga dandelion tersebut dari surai sang gadis hingga butiran-butiran tersebut pun saling berjatuhan ke atas jalanan. Maka inilah akhir dari perjuangan bunga dandelion yang berjuang dengan sunguh-sungguh agar tak jatuh ke jalanan namun pada akhirnya yang tak mereka inginkan itu pun terjadi hanya karena ada orang yang tak menyukai keberadaan mereka yang tampak mengganggu keindahan surai lembut dan harum tersebut. Tak semua perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang baik, ibaratnya seperti bagaimana perjuangan bunga dandelion yang sungguh-sungguh namun hasil akhirnya sia-sia.

 

Gadis bersurai indah tersebut sibuk mencuri-curi pandang dengan seorang pria yang barusan menyingkirkan bunga-bunga dandelion yang menempel di rambutnya. Keduanya berjalan bersama-sama menelusuri jalanan ramai di kota bernama Seoul itu sembari merasakan sejuknya udara sekitar yang mampu membuat semua orang nyaman walaupun tak sedang berada di tempat tinggal. Kedua sejoli tersebut pun berbelok arah menuju café bernama Starbucks untuk sejenak mengistirahatkan kaki-kaki mereka yang telah meronta-ronta meminta istirahat. Lalu mereka pun memilih tempat duduk yang tepat di dekat pintu dengan alasan mereka masih dapat menghirup udara alami dibanding udara yang berasal dari pendingin ruangan. Sang pelayan berseragam merah yang tampak memegangi daftar menu, buku berukuran kecil, serta sebuah pena pun menghampiri pelanggannya yang baru saja datang. Kemudian pelayan tersebut memberikan daftar menu pada kedua pelanggannya dan tak lupa buku kecil dan penanya juga ia letakkan di atas meja pelanggannya agar mereka sendiri yang menulis pesanan. Tak sampai satu menit, buku kecil itu pun telah tertera pesanan pelanggannya, yakni dua gelas caramel macchiato yang merupakan minuman favorit keduanya di café Starbucks tersebut. Pelayan berseragam merah tersebut pun segera mengambil kembali daftar menu, buku pesanan, serta penanya. Sekitar tiga menit, pelayan lain membawakan dua gelas caramel macchiato untuk kedua sejoli tersebut. Sembari menyeruput minuman masing-masing, sesekali mereka berbincang-bincang mengenai kuliah dan dosen mereka yang berkepala botak. Dosen berkepala botak tersebut selalu saja menjadi bahan perbincangan mereka yang berujung menjadi sebuah candaan. Walaupun telah lulus dari perkuliahan, satu onggok dosen itu tak pernah terhapus dari memori para mahasiswa maupun mantan mahasiswa. Dialah satu-satunya dosen yang paling unik sehingga membuat para mahasiswa tak akan bisa melupakannya.

 

“Kalau boleh tahu, seperti apa tipe priamu nanti?” Gadis bersurai kecoklatan tersebut tiba-tiba mengerutkan kening pertanda bingung. Bisa-bisanya pria yang ada di hadapannya mengalihkan pembicaraan begitu saja tanpa ada sebuah izin apapun. Manakala pria itu bisa saja menyadari bahwa gadis bersurai kecoklatan itu menyimpan seonggok perasaan padanya jika ia menjawab seutas pertanyaan tersebut.

“Rahasia.” Ujar gadis itu singkat sembari terkikik pelan. Tentu saja ia tak ingin pria itu tahu akan perasaannya sebelum ia mengetahui lebih lanjut bagaimana hubungan mereka, apakah tetap berteman atau tiba-tiba di masa depan nanti memiliki anak, semua itu tergantung pada mereka.

“Rahasia? Oh, kalau begitu biarkan aku yang menebaknya. Apakah berkacamata tebal? Berjenggot? Berkepala botak?”

“Dasar Kak Seokjin idiot! Mana mungkin tipeku seperti dosen aneh itu.”

“Kalau bukan, untuk apa kau merahasiakan bagaimana ciri-ciri tipe idealmu?” Lelaki bernama Seokjin itu menaikkan salah satu alisnya sembari menatap gadis yang kini tengah menyeruput caramel macchiatonya. Yang ditatap pun kini sibuk menetralkan degup jantungnya yang berdebar-debar. “Kim Hyunjung! Hei, kau tidak menjawabku? Apa kau mendadak bisu?” Pria itu kini mulai mengomel layaknya seorang Ibu-ibu yang diacuhkan oleh anaknya lantaran gadis bernama Kim Hyunjung tersebut tak menggubris ucapannya.

 

Tak diduga, seonggok jitakan pun mendarat mulus di jidat Seokjin yang tak berdosa. Sang pemilik jidat pun refleks mengeluh sembari mengusap-usap jidatnya sembari menyupah serapahi Hyunjung dalam hati yang seenaknya menjitak jidatnya yang tak bersalah. Sementara sang penjitak hanya bisa memandangi korbannya dengan tatapan sebal. Wajah yang menggambarkan ekspresi sebal itu pun mengundang Seokjin untuk mencubiti kedua pipi gadis itu dengan gemas. Seakan-akan gadis berumur 18 tahun tersebut seperti layaknya anak umur 5 tahun yang masih memiliki pipi yang bagus untuk sarana yang akan dicubiti. Lagipula sebenarnya jarak umur Seokjin dengan Hyunjung berbeda 6 tahun sehingga Seokjin sangat sering memperlakukan Hyunjung seperti anak kecil. Soal tentang lulus dari perkuliahan yang tadi baru saja dibahas, Seokjin lah yang telah lulus dari perkuliahan, bukan Hyunjung. Gadis ingusan itu masih berkutat dengan segala macam jenis proposal, tugas, serta skripsi yang harus diselesaikannya. Mimpinya untuk menjadi seorang profesor selalu menuntut dirinya untuk meraih S3.

 

“Hati-hati dengan jitakanmu, Hyunjung-ah. Kau itu berada 6 tahun dibawah umurku, bocah manis.” Manik kelabu Seokjin tak juga luput dari wajah Hyunjung dan secara tak sadar membuat gadis itu semakin menunduk, menyembunyikan wajahnya yang perlahan-lahan memerah.

“Aku tak peduli. Lagipun tanganku sedikit terasa gatal dan semakin gatal tatkala kau mengomeliku hingga rasanya tangan ini sangat ingin menjitakmu. Aku bukan anak kecil lagi, Kak Seokjin. Saat kau berumur 6 tahun, aku memang baru dilahirkan oleh ibuku. Tetapi aku sudah dewasa, aku bukan anak balita seperti yang kau pikirkan selama ini.”

 

Mendadak kedua alis Seokjin bertautan tatkala mendengar nada bicara Hyunjung yang kurang sedap. Seakan gadis itu ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia bukanlah seorang anak balita lagi, terutama pada Seokjin. Namun Seokjin tahu, jika Hyunjung seperti ini pastilah ia sedang menyimpan sesuatu yang sangat rahasia hingga terbawa perasaan, inilah salah satu contohnya. Pasalnya Seokjin telah mengetahui bagaimana seluk beluk gadis itu tatkala menyimpan suatu rahasia, ia akan menjadi seorang yang memiliki mood tidak jelas, bahkan ia selalu mencari topik lain untuk mengelabuhi rahasia yang disimpannya itu. Tetapi bukan Seokjin namanya jika tidak bisa membaca pikiran Hyunjung. Segala sesuatu yang terlihat memiliki gerak-gerik mencurigakan akan selalu bisa ditebak oleh manik kelabu Seokjin.

Hyunjung melempar pandang pada kaca transparan café Starbucks tersebut. Memandangi dua onggok kupu-kupu yang saling beterbangan diatas bunga kembang sepatu putih, memperebutkan sari yang nikmat dari bunga tersebut. Korneanya pun beralih pada dua onggok kucing yang saling bercinta di tengah jalan tanpa menyimpan rasa malu, saling beradu nikmat dengan rasa penuh nafsu. Tetapi ia bukan kucing yang otaknya entah pergi kemana hingga tak malu untuk mempraktekkan adegan tak senonoh di depan publik. Ia adalah seorang manusia, manusia yang memiliki bemiliyar volume otak yang cukup canggih dibandingkan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Ia tak se-frontal kucing yang langsung mengutarakan perasaan dengan cara seperti itu. Ada kalanya ia harus menunggu lawannya berbicara mengenai perasaan sebenarnya.

 

“Marga kita sama, Hyunjung-ah. Sebanyak apapun kau mencintaiku, negara ini akan menolak mentah-mentah. Aku tahu kita tidak sedarah, tetapi peraturan tetap peraturan. Orang bermarga Kim harus menikah dengan marga lain, bukan menikah dengan sesama marga. Peraturan ini bukan hanya untuk marga Kim, tetapi untuk semua marga. Kau harus sadar akan hal itu.”

 

Hyunjung menengadah, pria itu seakan menggunakan sihir untuk membaca gerak-geriknya selama ini. Namun penuturan kata yang keluar dari bibir tebal Seokjin perlahan menyebabkan hatinya berangsur retak bak gelas kaca yang berisi air panas yang tiba-tiba dicampur air dingin. Jika Seokjin telah mengetahui bagaimana bentuk perasaannya, ia hanya ingin tahu selama ini Seokjin menganggapnya sebagai apa, apakah sebagai seorang gadis ataukah hanya seorang sahabat? Semua itu kembali pada diri Seokjin sendiri. Pasalnya, ia tak pernah berharap jika itulah jawaban Seokjin atas perasaannya selama ini. Marga? Siapa yang peduli soal marga jika telah mencinta? Hanya orang idiot yang masih memikirkan secuil peraturan yang akan membatasi seonggok rasa cinta yang telah mendalam. Jikalau Seokjin memang tak mencintainya, ia tak suka bertele-tele dan lebih suka jika Seokjin langsung berkata bahwa ia tak mencintainya, bukan menuturkan alasan untuk menolak rasa cintanya dengan membawa perkara marga ke dalam dasar tema. Itu lebih menyakitinya, lebih dari rasa dijatuhkan ke dalam jurang. Kristal-kristal bening yang tak diharapkan keberadaannya pun mengintip dari balik kelopak hingga lama-kelamaan volumenya kian bertambah dan tanpa komando, kristal-kristal bening bak es yang meleleh tersebut dengan membludak deras turun membasahi pipinya. Tipe seorang Kim Seokjin bukanlah seorang yang pintar mengoyak hati orang lain. Yang diketahui oleh banyak orang, Kim Seokjin merupakan seorang yang lembut dan mampu menjaga kata per kata yang akan keluar dari pita suaranya, ia bukan jenis orang bergolongan darah AB yang selalu frontal dengan keadaan, namun ia adalah tipe golongan darah O. Itulah sebabnya ada fakta yang membenarkan bahwa O tidak cocok dengan AB. Namun mengapa sekarang seorang Kim Seokjin dapat merangkap sifat yang dikutip dari golongan darah AB? Padahal sendirinya juga tak menyukai hal yang blak-blakan dan frontal.

 

“Jika kau telah mengetahui perasaanku, kau tak seharusnya berkata seperti tadi! Perkara marga, apa aku terlihat mempedulikan itu? Kak Seokjin, aku tak pernah peduli akan hal yang akan memberi batas untuk mencintaimu. Aku tak ingin kau membahas marga, karena aku pernah melihat orang yang menikah dengan sesama marga. Aku hanya ingin tahu perasaanmu. Apakah sama? Atau tidak?” Gadis itu kini menatap dalam pada kornea Seokjin. Ia tak peduli lagi caramel macchiatonya berangsur-angsur kehilangan rasa dinginnya tatkala ia tak lagi menyentuhnya.

“Tidak, jangan terlalu banyak berharap, Jung-ah.” Refleks Seokjin lekas membuang pandangan ke sisi lain, menghindari tatapan Hyunjung yang semakin terkejut oleh ulahnya.

“K-kau? Aku sungguh tak percaya. Aku merasa kalau kau itu banyak berubah, Kak Seokjin. Aku sama sekali tak mengenalimu, dimana Kak Seokjin yang dulu? Apakah kau ini merupakan jelmaan Kak Seokjin dan menyembunyikan Kak Seokjin yang asli? Katakan padaku! Mengapa kau sekarang seperti ini padaku?!”

“Sepertinya aku lebih baik mengurusi urusanku diluar sana ketimbang meladeni anak kecil sepertimu yang haus akan cinta. Kau tak lebih dari seorang balita yang menangis meminta es krim pada ibunya.”

 

Percaya tak percaya, namun kau harus mempercayainya. Apa kau percaya bahwa Seokjin lekas pergi dari café tersebut? Meninggalkan Hyunjung yang masih berderai air mata dan tak mengerti ada apa dengan Seokjin. Ya, itu semua benar. Dengan teganya, ia membiarkan gadis itu terisak di tempatnya tanpa ada kesadaran untuk meminta maaf karena telah menyakiti hatinya. Malahan Seokjin semakin membunuh perasaannya tatkala menambah lagi kata-kata yang lumayan kasar pada gadis itu. Dengan ini, dimulailah awal mula dunia Hyunjung tanpa adanya sosok seorang Kim Seokjin. Tak ada lagi candaan, tak ada lagi orang yang selalu menjemputnya jika pulang dari kampus, tak ada lagi dering ponsel yang menunjukkan bahwa Seokjin menghubunginya. Hubungan itu kian lama kian merenggang hingga secara tak sadar keduanya tak pernah lagi bertatap muka ataupun hanya sebatas berhubungan lewat telepon. Semua itu terasa berakhir begitu saja. Terkadang seutas perasaan cinta dapat merubah segalanya, baik itu positif maupun negatif.

 

“My weak love crumbles

Your heart just keeps drifting

I can’t catch you

I can’t hold on anymore.”

고엽

 

 

***

 

Lima bulan pun berlalu, kini negara bernama Korea Selatan tersebut dilanda oleh musim gugur. Daun-daun berwarna jingga kecoklatan tampak selalu menjadi seonggok objek yang sering dipandang mata. Tiada hari tanpa melihat para daun-daun layu yang saling berlomba-lomba untuk melepaskan diri dari ikatannya pada pohon yang selama ini menjadi tempat kelangsungan hidupnya, membiarkan diri mereka perlahan-lahan mati bersama dedaunan lainnya, kemudian pasrah tatkala disapu oleh penyapu jalanan. Hingga para pepohonan pun tak tampak lagi aura cantiknya. Seluruhnya telah gundul bak pohon yang telah mati. Diantara yang masih memiliki daun, hanya daun-daun berwarna jingga kecoklatan lah yang mereka punya, itu pun hanya beberapa onggok yang masih bisa bertahan hidup. Sangat langka menemukan daun hijau yang menggantung pada seonggok pohon. Bagaikan air mata, dedaunan tersebut jatuh dengan pasrah. Angin yang berbisik akan selalu menghasilkan jutaan daun yang berjatuhan setiap hari. Hujan yang datang akan selalu mematahkannya pula.

 

Cinta, sepertinya Seokjin sangat benci dengan cinta. Pria itu tak pernah lagi berhubungan dengan Hyunjung setelah tahu apa yang dirasakan gadis itu padanya selama ini, membiarkan gadis itu larut dalam luka-luka yang masih membekas di hatinya dan tak pernah kunjung sembuh. Hubungan keduanya menggantung begitu saja tanpa ada salah satu yang memancing untuk kembali seperti dahulu. Menggantung tanpa ada kejelasan yang pasti. Padahal Hyunjung tak apa-apa jika Seokjin tak menjadi kekasihnya, ia senang bersama Seokjin walaupun hanya sebatas sahabat. Namun ada apa dengan Seokjin? Mengapa pria itu langsung menghilang tanpa sebab? Hanya seutas kata cinta, pria itu secara spontan langsung membencinya. Seonggok alasan tentang marga menjadi tantangannya. Padahal sebenarnya ada orang yang menikah dengan sesama marga, bukankah masalah persamaan marga itu merupakan hal yang sangat sepele? Jika marga sama namun tak sedarah, tentu saja bisa menikah, bukan?

 

Hyunjung menengadah menatap seonggok daun berwarna jingga kekuningan yang masih ada sedikit campuran warna hijau yang menjadi satu-satunya daun yang masih bertahan di sana, tetap setia menggantung di atas pohon walaupun seluruh temannya telah mati berjatuhan menodai jalanan. Hanya tinggal dia sendiri yang masih mempertahankan hidup walau keadaan dirinya sendiri juga hampir sekarat. Gadis itu menatap nanar pada seonggok daun tersebut. Layu, kering, dan tak lagi menampakkan bahwa keadaannya baik-baik saja.

 

Jangan jatuh.

Jangan jatuh.

Jangan jatuh.

 

Terus saja ia berbisik bak memberi pesan pada satu onggok daun tersebut untuk terus berada di atas sana. Memaksa daun tersebut untuk tetap bertahan walaupun hampir sekarat. Daun terakhir itulah yang selalu menjadi objek pengamatannya tatkala melintasi jalanan tersebut. Ketika sadar ia sedang berjalan atau melintas di tempat itu, kepalanya selalu menengadah ke atas, memastikan masih ada atau tidaknya satu onggok daun tersebut. Tak lama kemudian, kristal-kristal bening kembali merembes keluar, menodai pipinya yang halus dan menyebabkan polesan bedak di wajahnya pun luntur. Ia tak pernah menginginkan hubungan seperti ini. Kandas tanpa alasan yang jelas. Ia sangat membutuhkan Seokjin disisinya mengingat dirinya hidup sebatang kara, tak ada orang tua, sanak saudara, ataupun yang lainnya. Hanya Seokjin yang ia miliki. Jika tak ada Seokjin disisinya, lantas untuk siapa ia hidup?

 

Apa seperti ini keadaan hubunganku dengan Kak Seokjin? Telah layu dan sekarat, dan tak lama lagi akan mati begitu saja. Gumam Hyunjung dalam hati.

 

“Like how all the leaves fall

What seemed like it’d last forever suddenly drifts off.”

고엽

 

***

 

Halo?”

“Kak Seokjin, aku…”

“Bisakah kau tak menggangguku lagi?”

“Sebenarnya apa salahku? Mengapa kau mengacuhkanku? Kau membuangku! Oke, jika kau tak mencintaiku aku tak apa. Aku juga tak apa jika Kak Seokjin tidak mau menjadi kekasihku, dan aku merasa cukup walaupun hubungan kita hanya sebatas sahabat. Tetapi haruskah kau mengacuhkanku seperti ini, Kak Seokjin?! Membiarkanku sendirian selama hampir kurang lima bulan?! Kau itu benar-benar tidak punya hati!”

“Cukup, hentikan pembicaraan ini! Aku hanya sudah terlalu bosan bersamamu. Gadis yang masih menyerupai anak balita sepertimu tidak akan pernah cocok denganku.”

“A-apa?!”

 

Tut tut tut..

 

Tanpa mendengar sepatah kata pun dari seberang sana, sambungan telepon tersebut putus. Seokjin lah yang memutuskannya. Seokjin seakan-seakan telah membuang dirinya. Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinganya. Ia baru saja mencoba untuk menelepon Seokjin dan inilah hasilnya, membuat hatinya semakin patah. Seokjin yang dulunya lembut kini berubah menjadi seseorang yang menyakitkan hati. Ia tak percaya Seokjin bisa mengucapkan kalimat itu padanya. Gadis itu tak mengerti apa kesalahannya yang sangat fatal hingga membuat Seokjin seakan menghindarinya. Jikalau Seokjin tak mencintai Hyunjung, apakah harus Seokjin membencinya hanya karena orang yang tak dicintainya mencintai dirinya? Hal itu selalu membuat tanda tanya besar di kepala Hyunjung dan beranggapan bahwa Seokjin itu aneh. Mengapa aneh? Mungkin kau bisa menemukan jawabannya.

 

“BODOH! Aku sangat bodoh! Mengapa aku mengharapkan seseorang yang tak mencintaiku?! Bahkan ia sekarang membenciku tanpa apasan. Mengapa?!” Teriak Hyunjung sembari mengacak meja belajarnya. Tak lupa juga ia melempari buku-bukunya, menyingkirkan segala macam benda yang ada di mejanya. Hatinya sakit, diikuti oleh derasnya bulir-bulir air mata yang turun.

 

Sungguh, hatinya benar-benar telah dihancurkan oleh Seokjin. Ia tak mengerti, mengapa Seokjin membencinya? Bahkan Seokjin tak mau memberitahu dimana letak kesalahannya. Pria itu seakan ingin menjauhinya tanpa mau lagi peduli soal keadaan Hyunjung yang sudah mirip orang gila tatkala hidup tanpa adanya Seokjin di sisinya.

 

Ia berlari meninggalkan apartemennya. Tak peduli lagi bahwa pintu apartemennya lupa ia kunci. Entah ada perampok menyelinap ke dalam apartemennya pun ia sudah tak peduli lagi. Kakinya tetap mengambil langkah seribu, menelusuri jalanan yang ramai dengan hiruk pikuk kota tersebut. Surai indahnya yang berantakan kini bak sapu ijuk. Tanpa malu, ia menunjukkan wajah sembab itu di depan umum, persis seperti orang gila. Ia tak bisa tenang, maka inilah yang selalu dilakukannya tatkala rasa kecewa itu telah berada di ambang batas. Berlari-lari sembari menebarkan derai air mata di setiap derap langkahnya. Dalam langkahnya ia mempunyai satu tempat tujuan, yaitu tempat dimana pohon berdaun satu itu berada, tempat dimana ia selalu meneteskan air mata. Langkah demi langkah ia lewati, namun siapa sangka seonggok sepeda motor melintas dan menyerempetnya. Hingga kejadian tersebut menjadi sebuah tontonan heboh bagi para pengguna jalan. Gadis berwajah sembab itu terkapar di jalanan, air matanya masih menguncur deras meratapi nasib, seakan sebuah kecelakaan kecil itu membuat dirinya tiba-tiba menjadi lumpuh sampai-sampai tak mau berdiri, tetap terkapar dengan posisi yang sama. Rasa syok setelah kejadian tersebut pun menuntunnya menjadi hilang kesadaran. Cahaya matanya pun meredup dan lama kelamaan menjadi gelap gulita.

 

“I want you, who stares into my eyes

I want you who wants me

Please don’t fall

Please don’t try to wither.”

고엽

 

***

 

“Kak Seokjin… Kak Seokjin…”

 

Hyunjung terus mengigau di tengah pingsannya. Bibirnya terus menyebutkan nama lelaki yang telah menyebabkannya kecewa seribu kali lipat. Tak lama, kedua mata itu pun terbuka. Dalam pengelihatannya, tampaklah sesosok wajah milik seorang pria yang dikenalinya.

 

“Hyunjung-ssi, kau tak apa?”

 

Makhluk itu pun berbicara padanya. Kemudian Hyunjung mengerjapkan matanya, melihat wajah pria itu dengan jelas dan seksama. Ternyata dia adalah Kim Taehyung, adik dari Kim Seokjin. Tunggu dulu, mengapa dia ada disini?

 

“Tak apa. Dimana aku?” Ujar Hyunjung sembari menatap ke segala oenjuru ruangan.

“Kau di rumah sakit, tadi ada motor yang menyerempetmu. Untunglah pengendaranya mau bertanggung jawab dan beruntung juga lukamu tidak terlalu parah.” Jelas Taehyung seadanya.

 

Gadis itu tersenyum miris, menggoblok-gobloki dirinya di dalam hati. Hanya karena patah hati, ia berubah menjadi seseorang yang tidak teliti. Bahkan seonggok motor saja bisa menyerempetnya. Lebih kasihan lagi, si pengendara motor itu yang bertanggung jawab atas semuanya. Padahal kecelakaan itu terjadi karena ulahnya sendiri. Ulahnya yang tak hati-hati dan merugikan diri sendiri, juga orang lain.

 

“Apa kau bisa berjalan, Hyunjung-ssi?” Pria bernama Kim Taehyung itu kembali berujar.

“Tentu saja, lagipun lukaku tidak parah.” Hyunjung berusaha berbincang bebas tanpa mau mengucapkan nama Seokjin di depan Taehyung.

“Kalau begitu, ikutlah denganku. Ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu. Ini menyangkut Kak Seokjin.”

 

Usahanya untuk tak mengucapkan nama Seokjin memang berjalan dengan lancar. Namun malah sebaliknya, Taehyung membawa nama itu dalam pembicaraan mereka. Tanpa ada balasan apapun dari bibir Hyunjung, refleks gadis itu segera mengikuti arah langkah Taehyung dari belakangnya setelah mendengar nama Seokjin telah tersebutkan oleh bibir Taehyung. Keduanya menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang rasanya begitu panjang. Perasaannya tak karu-karuan, berharap Taehyung cepat-cepat memberitahukan hal yang ia maksud. Ia belum siap jika dihadapkan pada Seokjin sekarang ini, mengingat percakapan singkat di telepon yang membuatnya depresi membuatnya semakin takut menghadapi Seokjin. Hyunjung menghentikan langkah mengikuti ritme langkah kaki Taehyung yang juga berhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan VVIP.

 

“Aku tak bisa melihat Seokjin hyung terus menderita. Nyatanya ia sangat membutuhkanmu, semua yang ia ucapkan padamu semuanya bohong.” Setetes air mata pun jatuh dari mata elang milik Taehyung. Sementara Hyunjung masih dibuat bingung olehnya.

“Maksudmu?”

 

Tanpa menjawab ucapan Hyunjung, Taehyung memutar knop pintu tersebut. Perasaan Hyunjung semakin tak karuan, bahkan rasanya semakin menyiksa tatkala Taehyung membuka pintu tersebut. Berbagai macam rasa tak sedap pun menghantui dirinya. Ia tak tahu kejutan apa yang sedang direncanakan oleh Taehyung saat ini. Ketika iris matanya mengerling ke dalam ruangan, disanalah ia mendapati sosok yang selama ini ia rindukan keberadaannya. Antara percaya tak percaya, namun inilah kenyataan. Kenyataan bahwa pasien yang ada di dalam sana adalah Kim Seokjin. Berkali-kali ia mengerjapkan mata pun pasien itu benar-benar Kim Seokjin. Dialah makhluk pengguna infus beserta selang oksigen di dalam sana. Tanpa komando, bulir-bulir bening tersebut pun mengintip dari balik kelopak hingga saat kelebihan volume, bulir-bulir tersebut berjatuhan dan mengalir di pipinya. Hatinya semakin terasa sakit tatkala melihat Kim Seokjin yang tersenyum simpul ke arahnya. Kaki-kakinya yang lemas pun mengantarkannya ke dalam ruangan serba putih tersebut. Ia semakin tak mengerti dengan keadaan ini.

 

“Maaf.”

 

Sepatah kata tersebut berhasil keluar dari tenggorokan Seokjin. Suara beratnya kini bak bisikan. Hyunjung masih tak mengerti, mengapa Seokjin bisa seperti ini? Tampak lemah dan hampir sekarat bak seonggok daun yang selalu menjadi perhatiannya beberapa hari belakangan ini. Ia tak mengerti mengapa selang oksigen itu harus menancap pada kedua lubang hidung Seokjin, juga selang infus yang tertancap di tangan kiri Seokjin. Mengapa harus ia menggunakan alat-alat itu? Sebenarnya ada apa? Sungguh, rasanya Hyunjung tak dapat mengeluarkan suara. Tetap menunggu lawan bicaranya menjelaskan yang sejelas-jelasnya tentang apa yang terjadi. Gadis itu tetap menangis dalam diam dan tak dapat berkata apa-apa.

 

“Maaf telah menyakitimu terlalu banyak. Aku hanya ingin kau membenciku, kemudian melupakanku. Namun nyatanya aku sangat membutuhkanmu, aku tak bisa hidup tanpamu.”

 

Alih-alih kedua tangannya melepaskan selang oksigen yang menancap di kedua lubang hidungnya. Walau sebenarnya alat itu dilarang oleh dokter untuk dilepas, ia tak peduli. Makhluk itu pun bangkit dari ranjangnya, membiarkan kedua kakinya yang lemah berpijak di atas lantai yang terasa dingin, kemudian berdiri secara berhadap-hadapan dengan Hyunjung. Tampak gontai memang, namun Seokjin tetap berusaha untuk berdiri tegak, lalu ia pun merengkuh Hyunjung ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan gadis itu membanjiri pakaiannya dengan air mata.

 

“Aku mencintaimu, Jung-ah,” Seokjin menarik nafas dalam. Air matanya pun tanpa komando keluar dari tempat persembunyiannya. “Namun, waktuku tak banyak. Aku tak bisa terus berada di sampingmu. Sungguh, aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin kau perlahan membenciku, dengan begitu kau akan dengan mudah melupakanku. Karena kau mencintaiku, maka dari itu aku langsung menghindarimu. Aku tak ingin menggoreskan banyak luka dihatimu jika kau melihat keadaanku yang seperti ini, sekarat dan hampir mati. Tetapi aku lebih sakit lagi ketika tak bertatap muka lagi denganmu, rasanya aku seperti kehilangan sebagian dari nyawaku.”

“Kau hanya perlu jujur padaku, Kak Seokjin. Bukan menyembunyikannya dariku,” Hyunjung pun akhirnya mengeluarkan suara. “Jujur padaku, kau sakit apa? Mengapa kau harus dirawat di tempat ini?”

“Kelainan tulang belakang, stadium akhir. Aku mengidapnya,” ucapnya setengah berbisik. Ada seoggok getaran pada suaranya tatkala berucap, terlebih lagi pada kalimat tadi. Perlahan pelukan itu merenggang, gadis itu pun menatap dalam wajah sayu Seokjin. Wajah itu tampak menyimpan segalanya. Beban pikiran, ketakutan, rasa sakit, semuanya bercampur aduk menjadi satu pada wajah sayu tersebut, ia memikulnya seorang diri.

“Aku yakin, Kak Seokjin akan sembuh, itu pasti.” Hyunjung mengulas seulas senyum, walaupun senyuman itu dilakukannya secara terpaksa. Tetapi mau tak mau ia harus menghibur makhluk yang ada dihadapannya, agar menghilangkan sayu di wajah pria itu. Sayang, Seokjin selalu mempercayai realita dibanding ekspektasi. Semua orang dapat berekspektasi ria, namun tak semua ekspektasi tersebut berubah menjadi seonggok realita.

“Jika hanya dengan bantuan obat, itu semua sia-sia, Jung-ah. Jika tak ada donor untukku, maka aku tak akan bisa hidup lebih lama. Aku barusan bertengkar dengan Taehyung mengenai hal itu.”

“Bertengkar?” Seokjin mengangguk.

“Ia berkata bahwa ia ingin mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukku, tetapi aku tidak mau karena aku tahu persentase resiko kematian terbesar di meja operasi adalah pendonor, bukan penerima donor. Hidupku bagaikan seonggok daun layu yang masih tetap berada di atas rantingnya, sekarat, menguning, tak ada harapan, dan pada akhirnya mati mengenaskan.” Seokjin tersenyum miris mengejek dirinya.

 

Hyunjung tertegun mendengar ucapan Seokjin. Matanya menatap nanar makhluk tersebut. Tak pernah ia melihat Seokjin memasang wajah kusut bak orang yang putus asa. Keheningan pun menyeruak di tengah-tengah keadaan. Keduanya hanya saling beradu pandang tanpa ada inisiatif lagi untuk membuka suara. Sembari menikmati hembusan udara yang melanglang. Keheningan itu pun sirna tatkala Hyunjung yang gelagapan melihat Seokjin yang hampir oleng sembari memompa napas dengan berat dan refleks gadis itu segera memegangi kedua bahu Seokjin agar pria itu tidak jadi pingsan. Cahaya mata Seokjin yang hampir meredup itu pun tak jadi membuatnya kehilangan kesadaran berkat pegangan erat Hyunjung pada bahunya. Membuat kerja otaknya yang hampir berhenti seakan diberi aliran lagi untuk bekerja. Sementara Seokjin yang merasakan tubuhnya yang tadinya ringan bak tengah melayang di udara pun tersadar, kemudian tangan kanannya meraih dada, tubuhnya meringkuk, mulutnya sibuk menarik-ulur oksigen yang kini sedang tak berpihak padanya. Bagai orang yang baru saja diperintahkan untuk berlari keliling lapangan sebanyak seratus kali. Sejenak ia memejamkan mata, dengan susah payah ia menghirup molekul-molekul oksigen di sekitar untuk mengisi paru-parunya yang kehabisan udara. Tak seharusnya ia bersikap sok berenergi, nyatanya itu tak akan membuat Hyunjung percaya bahwa ia baik-baik saja. Realitanya, ia masih membutuhkan ranjang dan selang oksigen itu.

 

“Kak Seokjin! Kembalilah ke ranjangmu! Jangan memaksakan dirimu seperti ini!” Ujar Hyunjung di tengah kekhawatirannya. Tangannya menepuk pelan bahu Seokjin bak memerintahkannya untuk segera memenuhi ucapannya.

 

Wajah sepucat mayat itu menatap sayu ke arah Hyunjung. Sayup-sayup suara Hyunjung tak lagi terekam oleh telinganya. Guratan matanya menunjukkan bahwa ia sangat lelah, ia cukup lelah atas segala penderitaan ini. Tubuh itu terasa lemas tanpa ada seonggok tenaga yang tersisa. Hingga tubuh yang berkisar 180 sentimeter itu pun jatuh ambruk, diikuti juga dengan tumbangnya tiang infus ke atas lantai yang mengakibatkan pantulan suara yang begitu nyaring. Gadis yang berada di ruangan bercat putih tersebut kini dihantui oleh rasa takut dan khawatir sehingga tanpa malu lagi ia berteriak-teriak meminta pertolongan. Disaat itu juga lah, para tim medis pun tergopoh-gopoh mendatangi ruangan itu. Dengan sigap menangani pasiennya yang kolaps.

 

“Why can’t I give you up

Holding on to rotting memories

Is it greed? I try to redo the seasons

Redo them.”

고엽

 

***

 

“…Hidupku bagaikan seonggok daun layu yang masih tetap berada di atas rantingnya, sekarat, menguning, rapuh, tak ada harapan, dan pada akhirnya mati mengenaskan.”

 

Mata yang berkaca-kaca tersebut tak henti-hentinya memandangi seonggok pohon dengan sebuah daun layu yang menjadi tontonannya selama ini. Ditambah dengan ngiangan di telinganya tentang ucapan Seokjin yang sangat berkaitan dengan seonggok daun tersebut. Apakah daun itu tengah menggambarkan keadaan seorang Kim Seokjin saat ini?

 

“Tidak, kau bukan pria selemah daun itu, Kak Seokjin.” Lirihnya ditengah angin yang berbisik.

 

Gadis itu tak dapat menahan air mata yang kini tengah memaksa keluar. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa ia tak sanggup melihat keadaan Seokjin saat ini. Lemah, tak berdaya, dan membuat khawatir seluruh tim medis. Sengaja ia tak menunggui Seokjin yang tengah ditangani secara medis di dalam sana sebab ia tak mampu menerima kenyataan tersebut. Kenyataan bahwa umur Seokjin yang hanya tinggal menghitung bulan membuatnya tak henti menyalahkan takdir. Tanpa Seokjin disisinya, dengan siapa lagi ia harus hidup?

 

Dua jam berlalu, selama itu juga air mata Hyunjung membludak keluar. Ia tak peduli jika ia harus menangis darah. Yang ia butuhkan hanyalah Seokjin, bahwasannya Seokjin adalah orang yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup walaupun dirinya sebatang kara. Kini ia menangisi segala angan-angannya yang melanglang buana. Angan-angan untuk menikah dengan Seokjin, memiliki keturunan dari Seokjin, hidup bersama Seokjin, dan sebagainya, kini bagaikan pasir diterpa angin.

 

“Jung-ah.”

 

Hyunjung menoleh tatkala suara itu memanggilnya. Ia ingat betul, hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya dengan nama yang merupakan kosa kata namanya yang paling belakang. ‘Jung-ah’, itulah nama panggilan kesayangan Seokjin untuknya. Benar rupanya, ternyata Seokjin datang menghampirinya dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh Taehyung dari belakang. Juga tak lupa ia membawa botol infus dan tabung oksigennya ikut serta. Selang oksigen yang setia menancap di kedua lubang hidungnya tak membuat sedikitpun ketampanannya luntur.

 

Tanpa ada komando dari siapapun, Taehyung yang merasa bahwa kedua insan tersebut harus berbicara empat mata pun dengan otomatis berjalan menjauhi mereka. Membiarkan keduanya saling beradu pandang tanpa ada pihak lain yang mengganggu.

 

“K-kak Seokjin? Mengapa kau menyusulku kemari? Seharusnya kau beristirahat di dalam, kau itu..”

“Aku tak butuh dokter, Jung-ah. Tetapi aku membutuhkanmu.” Potong Seokjin.

“Ini demi kebaikanmu.”

“Tolong, mengertilah. Berada di dalam sana hanya membuang waktu. Aku tak ingin membuang waktu sia-sia, aku ingin menghabiskan waktu ini bersamamu. Hanya kau, Kim Hyunjung.”

 

Tangan dingin itu kini mulai memegangi tangan Hyunjung. Mata kelabunya menatap lekat-lekat wajah manis nan jelita tersebut, bak tengah memberikan aliran-aliran elektron padanya, ibarat dirinya adalah elektron dan gadis itu merupakan protonnya. Jika keduanya didekatkan maka akan timbulah suatu reaksi. Reaksi yang tengah mereka rasakan ini adalah degupan jantung yang seirama. Degupan yang menyatakan bahwa keduanya memiliki perasaan yang sejalan.

 

“Daun itu, apa kau memperhatikannya?” Seokjin tampak mengalihkan perhatiannya pada seonggok daun yang bertengger di sebuah pohon botak tersebut. Sang pendengar pertanyaan pun hanya mengangguk kecil. “Dia sama sepertiku.” Ujar Seokjin sembari tersenyum datar tanpa ekspresi.

 

Dalam hati Hyunjung baru sadar. Pohon-pohon botak yang hanya bersisa beberapa onggok daun-daun berwarna kuning kejinggaan yang berbaris rapi di sepanjang jalan kesukaannya ternyata hanya berjarak beberapa meter dari rumah sakit tempat Seokjin dirawat. Mungkinkah tak hanya dirinya yang selalu memperhatikan keadaan satu onggok daun tersebut? Apakah Seokjin juga selalu memperhatikannya selama ini?

 

“Warna hijaunya mulai habis, kini tergantikan oleh warna jingga, kemudian akan berubah menjadi cokelat, lalu ia sekarat, tak memiliki harapan, dan akhirnya mati bersama yang lain,” Seokjin menelan salivanya sejenak. “Jika diprediksikan lewat keadaan daun tersebut dari hari ke hari, ibarat aku yang kini sedang berada di posisi daun yang mulai berwarna jingga hingga semakin hari grafiknya akan semakin menurun. Tak ada peningkatan apapun.”

 

Terus saja Seokjin menyerocos panjang soal rasa keputusasaannya. Sementara Hyunjung hanya bisa diam, tak menanggapi, membiarkan Seokjin terus berkutat dengan segala macam diksi yang ia ciptakan hingga membentuk rangkaian cerpen lisan. Menganggap kehidupan yang penuh kebahagiaan merupakan sebuah ironi untuknya. Sungguh, Seokjin tak pernah berpikir secara matang bahwasannya seluruh celotehannya yang tak berguna hanya membuat Hyunjung semakin tak kuasa menahan air mata.

 

“Cukup! Hentikan!” Langsung saja cairan liquid bening tersebut merembes keluar dari pelupuk matanya. Dirinya meneriaki Seokjin yang terus berkata-kata tanpa ada seonggok semangat pun. Kini Seokjin terdiam, menyadari bahwa gadis itu mulai marah. Perlahan Hyunjung menepis genggaman tangan Seokjin, matanya memilih mencari pemandangan lain dibanding memandangi wajah Seokjin yang telah kehilangan asanya. Cairan-cairan bening tersebut terus saja mengalir tanpa henti. Membuat seonggok rasa bersalah pun kini timbul di dalam benak Seokjin.

 

“Jung-ah, aku …”

“Tak tahukah kau bahwa aku benci jika kau mulai menjadi orang yang pesimis?”

 

Getaran suara Hyunjung membuat Seokjin tak dapat berkutik. Ia sadar bahwasannya gadis itu sangat peduli padanya. Seokjin bangkit dari kursi rodanya, memindahkan letak bokongnya pada bangku yang tengah di duduki oleh Hyunjung. Seokjin pun kembali meraih tangan Hyunjung, tatapannya kembali mendalami bola mata milik gadis itu. Tangan kirinya beralih mencopot selang berwarna hijau bening yang menancap di hidungnya. Secara perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada seonggok gadis yang tengah berhadapan dengannya. Perlahan namun pasti, dan pada akhirnya benda lembut yang bernama bibir itu kini saling beradu. Kornea Hyunjung yang mengalirkan beberapa aliran air mata pun terasa oleh Seokjin tatkala air mata itu mengaliri bibirnya. Sembari terisak memang, namun Hyunjung tetap membalas ciuman hangat tersebut sembari menggulung segala rasa pedih. Barulah setelah dirasa cukup, Seokjin kembali pada posisi semula, disusul oleh Hyunjung yang memasangkan kembali selang oksigen untuk Seokjin.

 

“Maafkan aku telah membuatmu menangis.” Bisik Seokjin dikala gadis itu tengah menyeka air matanya.

“Jangan lagi berkata seolah-olah kau akan pergi. Bukan hanya kau yang membutuhkanku, tetapi aku juga membutuhkanmu, Kak Seokjin.”

 

Kini giliran air mata Seokjin yang mengalir. Antara sedih dan terharu tatkala mendengar kalimat yang dilontarkan Hyunjung barusan. Sedih sebab ia tak tahu sampai kapan dirinya dapat berada disisi Hyunjung dan terharu sebab mengatahui bahwa Hyunjung membutuhkan dirinya. Dirinya tak ingin lagi berprasangka buruk terhadap Tuhan, ia hanya dapat berserah diri dan tinggal menunggu keputusan Tuhan yang sebenarnya.

 

“Even if we’re close my eyes drift off

I’m trashed like this

In my memories, I become young.”

고엽

 

***

 

“Ada kabar bagus, Kak Seokjin! Kau mendapat donor sumsum tulang belakang!”

 

Seokjin yang tengah membaca novel pun sedikit tersentak oleh seruan Hyunjung yang tiba-tiba. Gadis itu berlari kecil menghampirinya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya. Sementara itu Seokjin masih terdiam kaku di tempatnya, antara percaya dan tak percaya atas penuturan Hyunjung. Dirinya tak memberi respon apa-apa, hanya tetap memasang wajah terkejutnya sembari menunggu gadis itu kembali bersuara.

 

“Hei! Aku bersungguh-sungguh! Aku tidak berbohong, Kak Seokjin.” Gadis itu pun menyatakan bahwa dirinya tak berbohong dan mengisyaratkan bahwa Seokjin harus mempercayainya.

“Donor? Apa aku benar-benar mendapatkannya? Dari siapa?” Seokjin menutup buku novelnya, ia pun memperbaiki posisi duduknya sembari membetulkan letak selang oksigennya yang sedikit miring. “Bukan Taehyung, kan?” Sambungnya.

 

Belum sempat Hyunjung membuka suara, tiba-tiba sosok Taehyung pun muncul dari balik pintu.

 

“Ya, memang benar itu aku.” Ujar sosok itu dengan nada santai, namun tak membuat santai sosok yang berada di atas ranjang tersebut.

“Apa? Aku tidak akan menerimanya, Taehyung-ah! Jangan bodoh! Sudah berapa kali dokter menjelaskan soal resiko kematian persentasenya lebih berat di pendonor? Harus dengan bahasa apa lagi agar kau bisa memahaminya?!” Ucap Seokjin dengan nada yang meninggi, disusul oleh Hyunjung yang mencoba untuk menenangkan Seokjin.

“Kak Seokjin, tenanglah!” Hyunjung memegangi kedua pundak Seokjin.

“Mau tidak mau kau harus menerimanya, tak ada gunanya lagi kau membentakku. Karena aku tetap akan melakukannya.”

“Jangan membuat kesabaranku habis, Kim Taehyung! Berapa kali kubilang bahwa aku tidak akan pernah mengizinkanmu menjadi donor untukku,” Seokjin berusaha meredam amarahnya, kedua bahunya terlihat naik turun tak teratur sebab mendadak dirinya merasakan sesak di dada, tangannya pun meraih dada, kemudian berusaha menarik-ulur udara melalui mulutnya. “Jika memang tak ada donor dari orang lain, biarkan aku mati secara perlahan. A..ku tak i..ngin mem..bu..at nya..wa or..ang lain me..layang hanya ka..rena menye..lamat..kan..ku.” Lirihnya lemah sembari memompa napasnya yang terputus-putus, bibirnya sedikit mengeluarkan rintihan-rintihan kecil tatkala rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya.

“Hyung!” Seru Taehyung tatkala melihat kakaknya yang tiba-tiba kolaps, disusul Hyunjung yang dibuat panik oleh Seokjin.

“Cepat panggil dokter!” Ujar Taehyung yang masih gelagapan, Hyunjung pun berlari keluar dan segera memanggil tim medis.

 

Tak lama, rombongan makhluk berbaju putih pun memasuki ruang inap Seokjin. Salah satu dari mereka menyuruh Taehyung dan Hyunjung untuk menunggu diluar.

 

“Aku akan meminta dokter untuk melakukan operasinya sebelum Seokjin hyung sadar. Aku tahu, dia hanya kolaps sementara. Ia baik-baik saja dan aku yakin keadaannya memungkinkan untuk melakukan operasi secepatnya.” Ujar Taehyung pada Hyunjung.

“Jadi, tadi kau sebenarnya hanya memancing emosi Kak Seokjin?” Taehyung mengangguk mendengar penuturan Hyunjung.

“Jika ia mendengar bahwa ada donor untuknya, orang pertama yang akan ia curigai sebagai donor adalah aku. Jika aku berkata bukan, ia juga tak akan menyerah untuk mencari siapa pendonornya. Hal itu pernah terjadi sebelumnya. Aku pernah mendaftarkan diri menjadi donor, ketika ia mengetahui bahwa ada donor untuknya, ia mencurigaiku. Lalu aku berkata bahwa bukan aku yang menjadi pendonor tersebut, setelah itu ia pun mencari tahu siapa pendonor itu dan akhirnya aku ketahuan olehnya. Maka dari itu, aku memancing emosinya agar ia kolaps. Sejujurnya, aku tak sampai hati melihat Seokjin hyung kesakitan seperti tadi. Namun, itulah satu-satunya cara. Aku ingin Seokjin hyung menjalani operasi tanpa harus sadar bahwa dirinya tengah berada di meja operasi tersebut.”

 

Gadis besurai kecoklatan tersebut mengangguk paham. Kemudian keduanya pun tak lagi melanjutkan pembicaraan. Hanya duduk tenang sembari menunggui salah satu atau seluruh dari rombongan berbaju putih tersebut keluar. Tak disangka, dalam hitungan waktu 15 menit, salah satu dari tim medis tersebut pun keluar. Refleks kedua makhluk yang sedari tadi menunggui pintu ruangan tersebut terbuka pun langsung mengangkat bokong masing-masing tatkala sadar bahwa manusia berseragam putih dengan seonggok stetoskop yang menggantung di lehernya keluar dari ruangan tersebut.

 

“Bagaimana keadaannya? Ia tak apa-apa, ‘kan?” Taehyung terlebih dahulu membuka suara.

“Ya, pasien baik-baik saja. Ia…” Dengan cepat, Taehyung pun memotong ucapan sang dokter.

“Kalau begitu, lakukan operasi itu secepatnya, dokter. Kalau bisa sekarang juga. Jangan biarkan ia sadar bahwa ia akan di operasi.”

 

“Like the falling leaves

Like the leaves, this love

Never, never fall

Is rotting.”

 

고엽

 

***

 

Tak banyak manusia yang menyukai musim gugur. Seluruh alam seakan tampak jelek jika hanya disuguhi oleh warna kuning, jingga, ataupun cokelat. Tak ada warna hijau yang selalu menyegarkan mata, para pecinta alam tentu tak menyukainya. Tukang sapu jalanan juga sangat membenci musim gugur, sebab beban yang dipikulnya akan bertambah lima kali lipat dari pekerjaannya. Pemandangan di musim tersebut sedikit terasa tak enak dipandang mata, warna hijau seakan punah saat musim gugur tengah berlangsung. Daun-daun kering dan layu dengan entengnya bertebaran di segala tempat tanpa peduli bahwa keberadaannya merusak mata.

 

Bagaikan cinta diterpa angin.

Menyisakan luka dan sakit yang begitu dalam.

Bak daun-daun yang melayang, cinta telah melayu.

Hilang dibawa oleh angin yang melanglang buana.

 

Mata yang tertutup kurang lebih sekitar 17 jam itu kini memiliki tanda-tanda  akan membuka. Diikuti pergerakan kecil dari ruas-ruas jari tangan, cahaya matanya yang redup kini seakan diberi aliran untuk mendapatkan kembali cahaya matanya. Pandangannya yang masih memburam lama kelamaan berubah fokus tatkala cahaya menembus korneanya. Disitulah, ia melihat seonggok manusia berbaju putih dengan topi yang khas di atas kepala. Tanpa harus berpikir lagi, semua orang tahu bahwa makhluk itu merupakan seorang suster.

 

“Ah, akhirnya anda sadar juga. Saya akan memanggilkan dokter.” Ujar suster tersebut.

“Dimana Taehyung dan Hyunjung?” Ujarnya sembari membuka sedikit masker oksigennya.

“Oh, yang selalu menjenguk anda? Nanti akan saya panggilkan. Omong-omong, selamat untuk operasi anda! Tim medis menyatakan bahwa anda telah sembuh. Mungkin anda akan menjalani beberapa terapi untuk…” Ucapan suster itu terputus tatkala pria di atas ranjang tersebut memotongnya.

“Apa? Operasi?” Ucapnya terkejut. “D-dimana mereka? Cepat panggil mereka!” Perintahnya.

“Ba-baiklah.” Segera suster itu pun keluar dari ruangan tersebut.

 

Perlahan, tangannya meraba sedikit bagian tubuh belakangnya. Mencari-cari dimana bekas operasi tersebut. Di tengah kegiatannya, akhirnya ia pun menemukan seonggok gundukan yang merupakan bantal kasa yang digunakan untuk memerbannya. Ketika ia sedikit menekan gundukan tersebut, bibirnya mengeluarkan rintihan kecil pertanda merasakan sakit. Ia pun kini benar-benar sadar bahwa dirinya telah di operasi.

 

Manik keabuannya pun beralih tatkala telinganya mendengar suara pintu terbuka. Jantungnya semakin memompa darahnya dengan laju tatkala ia hanya melihat satu onggok manusia yang masuk ke dalam ruangannya, padahal ia meminta suster tadi untuk memanggilkan dua orang.

 

“Tae…hyung-ah, di..mana Hyunjung?” Dengan bibir yang bergetar, pria itu mengajak manusia bernama Taehyung tersebut untuk memulai percakapan.

“Ia telah bersamamu, Seokjin hyung.” Lirih Taehyung, ia tak tahu apa respon Seokjin mengenai ini. Namun Seokjin tak terlalu paham dengan ucapan Taehyung. Sekali lagi, ia mengajukan pertanyaan yang sama pada Taehyung.

“Sumsum itu miliknya, ia telah menyelamatkan hidupmu.”

 

Bagai tertusuk oleh ribuan pedang tatkala ia menyadari arti dari kalimat yang terlontar dari mulut Taehyung. Terlebih lagi saat Taehyung menyodorkan seonggok amplop berwarna merah jambu untuknya. Dengan tangan yang bergetar, Seokjin meraih amplop tersebut. Tangannya mengeluarkan sepucuk surat yang terselip manis di dalamnya. Sembari menelan saliva, ia membaca kata per kata yang ada di kertas tersebut. Meresapi apa yang dimaksudkan oleh sang pengirim untuknya.

 

Untuk: Kak Seokjin

 

Bagaimana keadaanmu? Kurasa kau sembuh setelah berhasil melaksanakan operasi. Kau tak akan lagi membutuhkan dokter, kau juga tak perlu di rawat di rumah sakit itu. Kak Seokjin, tataplah matahari di luar sana, hiruplah udara bebas di luar, kau bisa melakukannya kembali! Jangan pikirkan aku, aku telah bahagia disini. Mungkin saatnya aku harus berkumpul dengan kedua orang tuaku. Mungkin memang benar ucapanmu, sesama marga Kim tidak akan bisa saling memiliki. Tuhan tak mengizinkan kita untuk bersama. Mungkin juga, aku bukanlah takdirmu. Jalanmu masih panjang, carilah gadis lain di luar sana yang lebih baik, aku yakin kau akan segera menemukannya. Juga jaga Kak Taehyung, ia sangat menyayangimu. Sebelum operasi dilaksanakan, ia memang benar-benar telah berniat untuk menjadi donor untuk Kak Seokjin. Aku tahu kau tak pernah rela jikalau Taehyung menjadi donormu. Kami sempat beradu argumen untuk menentukan siapa yang layak menjadi donor, hingga ia pun kehabisan kata-kata dan akhirnya mengizinkanku menjadi donor. Jangan salahkan Kak Taehyung, ini adalah kemauanku sendiri.

Jaga dirimu baik-baik. Jika rindu padaku ingatlah bahwa sumsum tulang belakangku ada padamu.

 

Aku mencintaimu.

 

Kim Hyunjung.

 

Tatapan nanar itu kini berubah sendu. Manik keabuannya perlahan mengeluarkan cairan bening bagaikan es yang meleleh. Gadisnya pergi. Pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Tak ada lagi Kim Hyunjung yang selalu ada untuknya, gadis itu telah pergi menuju tempat keabadiannya. Mungkin Tuhan kebih merindukan Hyunjung daripada dirinya. Buktinya, vonis bahwa umurnya hanya tinggal menghitung bulan kini tak akan lagi datang menghantuinya. Padahal Hyunjung yang tak dianugerahi seonggok penyakit pun bisa pergi mendahuluinya.

 

“Aku juga mencintaimu..” Lirihnya dalam kepedihan hati. Bersamaan dengan itu, seonggok daun layu yang selalu menjadi tontonan bagi Hyunjung maupun Seokjin pun jatuh diterpa angin sekaligus hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya, dan pada akhirnya ia pun mati bersama dedaunan lainnya.

 

Daun itu bukanlah gambaran keadaan Seokjin, melainkan gambaran keadaan hubungan cinta Seokjin dan Hyunjung.

 

“It bursts up in flames

Everything was beautiful

But it’s withered now

The leaves fall like tears

The wind blows and they go away all day

The rain comes and breaks

even the last leaf.”

 

고엽

 

***

 

Summer.

1 years later..

 

Langlangan bunga dandelion tampak menelusuri hiruk pikuk kota Seoul tersebut. Kali ini sepasang tatapan mata mengikuti arah gerak rombongan butiran-butiran bunga dandelion tersebut. Bahkan kedua kaki bersepatu boot tersebut pun juga ikut melangkahkan kaki mengikuti kemana butiran-butiran bunga tersebut pergi. Kepalanya tetap menengadah ke atas mengawasi bunga tersebut agar tak hilang dari pandangannya. Hingga tanpa sadar, dirinya menabrak seonggok makhluk yang sejenis dengannya yang juga sedang ikut bertebaran di tengah hiruk pikuk kota tersebut. Surai coklat milik makhluk itu membuatnya terpesona. Mirip dengan surai seseorang. Sayangnya, makhluk itu tak memiliki wajah yang serupa dengan seseorang yang ia maksud. Bunga-bunga dandelion tersebut pun kini melekat di surai tersebut. Disitulah, sang penguntit bunga dandelion menghentikan langkahnya.

 

“Maaf, aku tidak sengaja.” Ucap keduanya secara bersamaan.

“Ehm, itu salahku.” Sambung makhluk berjenis kelamin laki-laki tersebut, alias sang penguntit bunga dandelion, alias Kim Seokjin.

 

“Tidak apa-apa. Oh ya, namaku Han Chaeyoung. Siapa namamu?”

“A..aku, Kim Seokjin.”

 

Inikah yang dinamakan déja vu?

 

.

.

.

.

THE END

 

***********

 

HAPPY BIRTHDAY KIM HYUNJUNG A.K.A DAYE BERRY GOOD ><

Maaf, sebenarnya aku engga terlalu kenal sama kamu Daye sayang… Tapi Yunhyeong ku taken T.T terpaksa deh aku harus nyariin member girlband supaya bisa dipasangin sama Seokjin :v (CHAEYOUNGIE MAAPKAN DIRIKUUHH)

 

GAPAPA YA SELIPIN MBAK CEYONG DI AKHIR AKHIR :v DIRIKU KAGA BISA LEPAS DARI OTP INI >< MAU MASANGIN SI SEOKJIN AMA YANG LAIN RASANYA GA RELA GITU >< YA, IKLASIN BENTAR YA MBAK CEYONG, JIN NYA GUA PINJEMIN DULU KE YANG LAIN :v TAPI ENDINGNYA KAN MBAK CEYONG JUGA AMA SUKJIN KAN ><

 

Ah, aku gak tau ini oneshot atau gimana. Oneshotku selalu kepanjangan T.T

 

GIVE YOUR COMMENTS, DEAR READER 🙂

 

 

Advertisements

6 thoughts on “[Season Of Love Project] 고엽

  1. Hmmmm ok, sebenernya ceritanya menarik. Ah aku gk begitu paham dg istilah2 nulis, entah itu diksi atau apa kurasa penulisannya bagus.

    Cuma aku kehilangan feel karakter mereka, kamu terlampau fokus menggambarkan suasana disekitarnya tanpa menjelaskan secara detail gmn sakitnya Jin, gmn galaunya si cwe dan sebagainya. Yg harusnya bisa bikin mewek gk jadi cz kurang nyesek.

    Satu lagi, jujur aku keganggu dg pengulangan kata ‘Seonggok’. Aku berharap itu bisa diganti dg kata lain sesuai dg kata bendanya. Misal selembar daur, sesosok gadis, sebongkah perasaan, dan sebagainya.

    Itu aja dari aku. Maaf ya atas cuap – cuapku ini. Good job authornim!

    Like

  2. halo! duh, pada akhirnya dayengasih sumsumnya juga buat seokjin saking putus asanya mereka ga bisa bersama.
    dan aku setuju sama komen di atas, ‘seonggok’ nya kebanyakan jadi rasanya tuh gimanaa gitu, ga pas aja.
    lalu penulisan paragrafnya juga terlalu panjang, so, begitu masuk wp rasanya bacanya harus pelan2 takut ilang. untuk masuk web,beberapa titik langsung di enter aja, untuk memuudahkan reader baca.
    ada hiperbolik yg ga perlu juga kayak ‘cairan liquid bening’ krn cairan dan liquid kan artinnya sama, kayak ‘sangat senang sekali’ yang ‘sangat’ sama ‘sekali’ artinya juga sama (ga ada di FF kamu kok, ini contoh aja^^)
    Tapi tapi, aku suka ide endingnya yang deja vu, bukan berenti di kesedihan kehilangan daye-nya, hihi. keep writing!

    Like

    1. Aku suka kebiasan nulis paragraf kepanjangan >< kayaknya kurang enak dibaca ya, okelah aku perbaiki.. Endingnya ya? Sengaja au gituin, abisan aku ga rela kalo seokjin kaga ama chaeyoung T_T jadi ya gitu deh '-'

      Like

  3. maknae! kekeke. well like the usual, seok jin menjadi favorit mu untuk setiap ff 😀 daye bener2 mau berkorban buat seok jin di sini. aku kira bakal taehyung yang mati :’) hehe salah fokus sih kalau mas taehyung yg mati -_- anyway, iya di sini entah “seonggok” menjadi trending topic/? hehe. mungkin penggunaan seonggok kurang pas untuk digunakan untuk kucing, motor, dsb seonggok bukannyauntuk daging? hehe
    iya, bener risekui, mgkin lebih baik kamu memperhatikan paragraf ceritanya. kalau terlalu panjang, jadi ribet. lebih baik di buat paragraf baru supaya tidak terlalu panjang.
    terus ide dejavu nya itu keren, tapi mungkin kalau alur mundur, pakai flashback gt keren kayaknya hehe. anyway keep writing!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s