Angst · February Project · FF Project · Ficlet · PG -13 · Romance · Slight!Angst

[Season Of Love Project] Bila Pahit


LFUMBRAYQP

Shiana || Bilah Pahit
Unforgiven Mistake || [RV] Wendy, [OC] Dillon || slight!Romance, Angst || Ficlet || PG-13
I only own the plot.

Seingat Wendy, ia tidak ketiban durian atau kejatuhan tai burung selama seharian ini. Wendy juga tidak kesandung batu atau terpeleset di lantai yang sedang dipel di kafe tempatnya mampir sebentar untuk membeli segelas latte hangat pagi tadi. Dan kalau boleh Wendy tambahkan, ia benar-benar tidak punya firasat buruk apa pun, terutama sewaktu retinanya menangkap figur Dillon di ujung jalan raya—kelihatan hendak menyeberang. Kendati Wendy memang sudah capai saat itu sampai ia merasa badannya bakal protol satu-satu, gadis itu berlari kecil menghampiri Dillon.

“Hei,” sapa Wendy, napasnya acak-acakan, “mau pulang? Ayo bareng.”

Dillon sedikit melebarkan matanya terkejut, wajahnya tampak aneh kalau Wendy perhatikan. Agak pucat, ditambah bayangan hitam di bawah matanya yang makin memperparah penampilannya. Wendy mendadak cemas; Dillon nyaris tidak pernah terlihat kacau seperti itu. Dillon itu sempurna. Dan hot. Selalu.

“Kau kenapa?” tanya Wendy, tangannya terulur menangkup sebelah pipi lelaki itu. “Sakit?”

Dillon tidak menyahut, malah memalingkan muka pelan dan mulai melangkah lantaran lampu hijau menyala untuk pejalan kaki. Wendy ikut terseret arus orang-orang tidak sabaran yang tampaknya buru-buru ingin sampai ke tujuan mereka. Wajar, kalau Wendy pikir—malam makin pekat saja dan gadis itu pun inginnya segera mencapai rumah lalu tidur nyenyak di kasur empuk.

Tapi, Dillon yang barusan ditemuinya menyita semua pemikiran untuk pulang cepat.

Biasanya, Dillon bakal tersenyum cerah dan merangkulnya kalau mereka tidak sengaja bertemu di jalan. Lalu, kalau Wendy mau dan Dillon tidak keberatan, mereka akan mampir-mampir dulu ke bar atau sekadar ngemil di depan supermarket sebelum berakhir menghabiskan malam bersama.

“Hei, ada masalah?” Wendy mencoba lagi. Langkahnya agak berantakan. “Kau tampak seperti tidak tidur berhari-hari.”

Dillon diam saja. Gerakan kakinya makin tergesa. Seolah hendak meninggalkan Wendy di belakang.

“Dillon,” panggil Wendy lumayan keras saat ia benar-benar tertinggal dan cuma bisa menatap punggung lelaki yang tinggal di depan rumahnya itu dengan bingung. Sialnya, si empunya nama tampak tidak acuh sama sekali. Dan baru saat itu, Wendy sadar kalau ia berada di jalan yang bukan menuju arah rumahnya. Beberapa detik kemudian, “DILLON! Tunggu!”

Wendy berlari menyusul lelaki itu yang entah sedang mendapat hari buruk atau apa. Masalahnya adalah: Wendy tidak tahu ia di mana dan jalanan begitu sepi dan tentu saja gadis sepertinya mana mau berjalan sendirian di kegelapan malam.

“Oke, aku tahu kau mungkin sedang ada masalah, tapi, jangan tinggalkan aku, bisa?” tutur Wendy, tidak peduli lagi dengan Dillon yang tak kunjung membuka mulut. Masa bodohlah. “Omong-omong, kau mau ke mana? Aku tidak pernah kauajak melewati jalan ini.”

Tak aja jawaban dan Wendy geram dibuatnya.

Baru ketika Wendy hendak menyemprotkan lagi pikirannya, Dillon berhenti tiba-tiba. Tangannya masuk ke saku mantel. Laki-laki itu menoleh ke arah Wendy dan di waktu yang bersamaan, gadis itu menahan napas. Dillon tidak pernah memandangnya seperti itu. Setidaknya, sampai saat ini. Ada marah yang menjilat-jilat tersembunyi di sana, dan Wendy mendadak merinding karenanya.

“Oke—” cicit Wendy. Ia jadi sibuk meraup kata-kata, memilih-milih mana yang pas. “—aku pasti sangat menyebalkan, ya, barusan?”

Lalu, Wendy melihat tatapan Dillon melunak ketika dia menyahut, “Wendy,” katanya, “apa kau tidak penasaran kenapa kau seorang yatim piatu?”

Wendy melongo saja. Perasaannya berubah jadi tak enak.

Namun, alih-alih, Wendy malah tersenyum samar dan menggeleng. “Tidak,” jawabnya, berbohong. “Kau sendiri bagaimana? Tumben bertanya seperti itu.”

“Hanya … penasaran.”

Wendy memandang Dillon sekilas. Alisnya terangkat sebelah. “O … ke.”

“Lalu, apa kau bahagia jadi yatim piatu?”

Wendy terdiam sebentar, lalu tertawa kering. “Apa-apaan, sih, yang kau tanyakan itu. Kau dapat omelan lagi, ya, dari atasan menyebalkanmu itu?”

“Jadi, kau tidak bahagia. Benar?” tanya Dillon merenung, mengesampingkan gurauan Wendy. Matanya tetap melekat pada wajah Wendy, enggan menyingkir walau hanya sedetik. “Kau … ingin bertemu mereka. Iya ‘kan, Wendy?”

Sisa-sisa tawa Wendy mendadak lenyap seketika. Dillon tidak pernah bertanya hal yang sensitif baginya seperti barusan. Apa laki-laki itu benar-benar melalui hari yang sangat buruk? Kalau iya, seburuk apa memangnya? Kenapa bisa mengubahnya sebegitu bedanya?

Wendy mengangkat pandangan ragu-ragu, lalu, “Tentu. Aku tidak pernah melihat mereka dari kecil.”

Dillon tersenyum kecil—tapi, entah kenapa, Wendy mendapati sesuatu yang aneh di sana. Seperti … kepahitan? Detik selanjutnya yang Wendy tahu, tubuhnya dibalik dan lengan Dillon melingkarinya dari belakang. Kehangatan langsung saja menjalari tiap-tiap pembuluh darahnya. Oh, ini baru Dillon yang Wendy kenal. Hangat dan romantis.

“Aku harap aku tidak menyesal,” kata Dillon, berbisik di telinganya. “Kau tahu aku mencintaimu, kan, Wendy?”

Meski tidak mengerti kata-kata Dillon barusan, Wendy mengangguk.

“Kau tahu, Wendy, aku menemukan orang tuaku bulan lalu.” Tubuh Wendy berubah tegang, tapi ia tidak berkutik. Dillon melanjutkan, “Dan aku menyesal. Aku berharap aku tidak pernah menemukan mereka. Aku harap, aku bukan anak mereka.”

Wendy ingin memutar tubuhnya demi keinginan untuk melihat wajah Dillon barang sebentar, tapi lengan Dillon kuat mengurungnya di tempat. Jadi, Wendy bertanya, “Kenapa? Kenapa kau tidak senang? Apa mereka tidak mengakuimu?”

Ada jeda yang lama, sebelum terpatahkan oleh kekehan Dillon. Lalu, suaranya berubah sedingin angin malam yang menusuk. Dia menggeleng. “Mereka pembunuh, Wendy.”

Gadis dalam pelukan Dillon terenyak. Dadanya berubah berdebar keras. Ya, Tuhan. Pantas saja Dillon bersikap tak biasa. Pasti, laki-laki itu sedang berusaha menenangkan diri soal kenyataan pahit yang baru diterimanya. Tapi, bagaimanapun, Wendy yakin Dillon tidak bakal berakhir seperti orang tuanya yang sesat itu.

“Maaf, Wendy.”

Belum sempat Wendy mengucap sepatah kata, otaknya terlanjur terkejut akan rasa nyeri yang tiba-tiba terdeteksi. Napasnya tertahan di tenggorokan, ada yang menyumpalnya di sana, bulatan entah apa yang membuatnya sesak dan tersedak-sedak. Lengahnya ia, baru menyadari bahwa lengan yang tadinya menyelubunginya tak lagi berada di tubuhnya. Wendy merasakan sakit yang luar biasa dan kakinya mendadak jadi jeli—ia meraih-raih udara, berharap ada sesuatu yang membantunya menopang tubuh sebelum ia merosot ke tanah.

Lehernya yang lecet kini basah. Bau amis menguar. Wendy terlalu terguncang untuk berpikir apa yang sedang terjadi.

“Aku mencintaimu, Wendy.” Samar, suara Dillon tertangkap rungunya. “Dan, aku tidak kuasa lagi melihatmu tanpa merasa bersalah padamu atas apa yang telah mereka lakukan padamu. Aku tak bisa memaafkan mereka—terlebih diriku sendiri. Lebih baik, kau tidak pernah mendengar kenyataan kejam itu.” Dillon menjatuhkan sebilah benda tajam berlumur darah yang digenggamnya lama, menyebabkan bunyi berisik di jalan yang sepi. Wajahnya berpaling dari punggung gadis yang barusan menubruk aspal keras. “Aku harap, kau akan senang karena sebentar lagi, kaudapat bertemu orang tuamu.”

Note:

  1. Failed much?
  2. Fiksi beginian (??) bukan keahlian aku, jadi mohon dimaklumi kalo jatuhnya malah abal xD Aslinya, pengin buat fluff atau sesuatu yang udah biasa aku buat, tapi entah kenapa yang kepikiran ini dan ya udah aku putusin buat mencoba hal baru.
  3. Thanks for those who read this till the end! I don’t expect anything because this is too absurd and too long for me.
  4. Reviews would be so lovely!
Advertisements

16 thoughts on “[Season Of Love Project] Bila Pahit

  1. Huaaa, jadi orang tua Wendy meninggal gegara ortunya Dilon? Dan skrg Dilon juga ngelakuin hal sama teradap Wendy? Ckckckckckckck kejam!

    Sedikit note, disini aku kurang dapet sakitnya si Dilon. Mungkin klo sdkit di kasih penjelasan ttg apa dan kenapa penyebabnya akan bisa membantu.

    Well, bagus ceritanya gk ketebak. Good Job authornim! 🙂

    Like

    1. Halo 🙂
      Ehehe, iya bener. Makasih ya udah sempetin baca dan komen pula. Sarannya aku pelajari baik-baik deh biar ntar kalo bikin ginian lebih dapet feel-nya. Maaf baru sempet bales komen! xx

      Like

  2. huaaaa shiana ini serem banget TT aku udah curiga nih dillon apa hantukah or makhluk apa habis penggambarannya kayak gitu (btw aku sangat suka caramu mendeskripsikan dia dan suasana mencekam di sekitar wendy). ternyata latar belakangnya kayak gitu… aku merinding nih sumpah. pertama kali baca cast wendy dari kamu dan langsung jatuh cinta, keep writing ya!

    Like

    1. Halo kak lianaaa, walah nggak nyangka kakak bakal baca ini ;-;
      Serem gimana kak LOL Dillon manusia biasa (yang kehilangan arah) aja kok ehehehee. Seperti aku bilang di atas, nulis adegan yang deg-degan gini bukan yang aku bisa banget, tapi aku seneng kak lia suka. Anywayy, makasih for dropping by! Keep writing too buat kak liana!

      Like

  3. hiii author nim ^^
    ini aku suka sama wendy >< karakternya bagus di sini persis kayak wendy asli tapi kenapa harus dibunuh u,u aku sedih
    endingnya bener2 g ketebak. aku suka caramu menyampaikan ceritanya keren serius kkk
    okay itu saja, keep writing dan jangan bosen mengirimkan cerita2mu di wp kami

    Like

    1. Halo jugaa!
      Iya, aku sengaja buat Wendy di sini agak mirip karakter aslinya yang cheerful dan playful biar suasananya nggak terlalu gloomy, seneng kamu sukaa :’) Makasih ya udah mampir dan kasih feedback. 🙂

      Like

  4. belum pernah baca cerita yang seperti ini
    aduh dillon kenapa cinta jadi semengerikan itu coba , kalau tau kenyataannya dan merasa bersalah bukan malah dibunuh. aduh jadi serem sendiri
    bagus bagus aku suka , good job author nim ^^ , keep writing

    Like

    1. Haloo, makasih ya udah mampir. By the way, bebas buat mencaci maki Dillon LOL aku juga kesel sebenernya waktu nulis bagian dia dan sempet mau ganti haluan endingnya, tapi ya gimana kepikirannya itu hehee. Thanks for liking this. 🙂

      Like

  5. halo shiana! urgh, greget banget pas dillon tau ortunya pembunuh TAPI dia pada akhirnya jadi pembunuh juga T^T dan lagi yang di bunuh sahabat yg selalu nganggep dia ‘hangat dan romantis’ duh nonjok ulu hati banget. nice fic kok, keep on ya! 🙂

    Like

    1. Halo jugaa. Nah, di situlah letak kegalauannya ‘KENAPA DILLON HARUS JADI PEMBUNUH JUGAA??!?!?’ /slapped/ Heu, makasih ya udah baca dan komen, and saying that this is a nice fic really made my day! 🙂

      Like

  6. jadi disini wendy itu mati dibunuh kan? kok kejem-_- iya, ini unforgiven mistake banget-_- bukannya minta maaf karen perlakuan org tuanya yg uda bunuh ortunya wendy, tp malah wendy yang dbunuh 😦 anyway, akhir ceritanya bener2 gabisa ditebak. aku suka tata bahasanya dan aku suka kejutan pembunuhan disana hehe. nice story 🙂 ga sabar baca ff km lainnya 🙂

    Like

    1. Haloo, maaf telat balas komen kamu he he. Iya, Wendy mati hixeu :”””(
      Waaa, makasih sekali, such a relief kalo kamu suka x’D
      Thanks for dropping by!

      Like

  7. AAAKKKKHHH KEREEENN T.T
    Awalnya aku pikir dillon itu udah bosen atau apalah sama wendy, ga nyangka banget ternyata…. TT
    aakkkhh~ tapi kenapa juga harus bunuh wendy? kan kasian dia gatau apa-apa harus mati hiks T.T
    tapi sunpah deh ini keren :” plot twistnya bikin gemeess~
    diksinya yang berat tapi ringan /?/ ngalir dan buat feelnya ngena :”
    jleb banget lah TT
    keep nulis ^^

    Like

    1. Haii, maaf ya telat bales hehehe. Bosen gimana? Hahaha iya aku ngerti…. Aku mikirnya dia udah despresi gitu apalagi waktu tau orangtuanya pembunuh. Thankyou udah nyempetin baca! ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s