Angst · AU · February Project · FF Project · Genre · Length · One Shoot · PG · Rating

[Season Of Love Project] Fate is Betrayed


Author          : Hana

Judul             : Fate is Betrayed

Tema             : Unforgiven Mistake

Cast(s)          : Kang Sora/Park Jungsoo/Kang Soyeon (OC)

Genre           : Angst, AU

Length          : Oneshot (5031 words)

Rating           : PG

Disclaimer   : I do not own the characters, I only take credit for the story.

a/n:

Hello! It has been a very while for me since the last time I do writing a story. Hope you’ll enjoy it, and please take my apologize if you don’t. Comments are very welcomed (and I wish you’ll give me a word or two). Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca! 🙂

 

 

FATE IS BETRAYED

 

Sudah pukul sebelas malam ketika Sora melintasi pelataran bangunan. Sepasang kaki milik gadis itu mula-mula bergerak dengan perlahan, kemudian meningkat secara bertahap hingga akhirnya kini ia menjadi setengah berlari. Musim gugur memang baru saja dimulai, tapi cuaca malam ini sudah luar biasa gila hingga Sora berpikir bahwa ia mungkin saja akan mati membeku kalau terus berada di luar ruangan dengan keadannya saat ini—gadis itu hanya mengenakan sweater tipis di luar pakaian utamanya.

Ketika kemudian Sora mencapai selasar bangunan, ia buru-buru mencapai meja penjaga yang berada di posisi sentral. Ada dua orang berjaga di belakang meja, masing-masing berada pada sisi terjauh dari meja. Sora menghampiri salah satunya lalu berkata dengan hati-hati, “Permisi. Saya ingin menjemput—”

“Kang Soyeon, benar?”

Sora mengerjap dua kali. Pikirannya mendengungkan pertanyaan ‘Bagaimana petugas ini bisa tahu?’ berulang kali, tetapi yang ia katakan pada akhirnya hanya, “Benar.”

Lima belas menit kemudian, Sora telah berada di dalam mobil yang membawanya pulang. Di sampingnya, Soyeon duduk bersandar dalam keadaan setengah sadar. Aroma alkohol tidak hanya menguar dari mulut Soyeon, tetapi juga pada beberapa bagian dari pakaian yang dikenakan gadis itu.

Sora mengamati adiknya dengan teliti: rambutnya dicat warna tembaga, gaun malam yang dikenakannya hanya mampu menutupi setengah bagian dari paha, serta wajahnya dipenuhi riasan yang tampak tak beraturan. Melalui deksripsi dalam satu kata, Soyeon tampak kacau. Berantakan. Tetapi ini aneh sekali, karena dalam kondisi berantakan seperti ini pun Sora tetap menganggap bahwa adiknya begitu mempesona, entah kenapa.

Sora mengalihkan pandangannya, berganti mengamati keadaan di balik kaca jendela. Jalanan tampak sepi. Bukan hal yang mengherankan, sejujurnya, mengingat saat ini hari sudah larut dan cuaca sedang gila.

“Kau sudah makan?” Jungsoo berbicara secara tiba-tiba, sepasang matanya menemukan milik Sora melalui kaca spion bagian dalam mobil.

“Sudah,” Sora mengatakannya sambil mengangguk. “Bagaimana denganmu?”

Ada beberapa hal dalam hidup ini yang tidak dapat ditolak oleh Sora. Salah satunya adalah Park Jungsoo.

Sora mengenal Park Jungsoo pada tahun pertamanya di universitas. Kalau dipikir-pikir, pertemuan Sora dan Jungsoo diawali oleh kejadian yang tidak pantas. Saat itu Sora baru saja menutup pintu ruang staf pengajar saat ia merasakan satu tepukan ringan di bahunya. Ketika gadis itu membalikkan badan, hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria sedang menatapnya dari balik kacamata.

“Ada orang di dalam?” Pria itu bertanya, suaranya setengah berbisik sementara telunjuknya diarahkan pada ruangan yang ada di belakang Sora.

“Hanya ada Mrs. Jung,” Sora ikut-ikutan berbicara dengan suara nyaris berbisik.

Sora tidak begitu yakin, tetapi ia merasa mendengar bahwa pria ini mengembuskan napas. Sora sedang mempertimbangkan bagaimana cara yang tepat untuk pergi ketika pria di hadapannya kembali berkata, “Kupikir aku butuh sedikit bantuan. Bisakah kau membantuku?”

Tidak butuh waktu lama hingga Sora menyanggupi permintaan itu. Maksudnya, tentu saja, tidak ada masalah bagi Sora untuk membantu orang lain selama ia memiliki kapabilitas untuk melakukannya. Tapi, coba tebak bantuan apa yang diminta dari lelaki yang memperkenalkan dirinya dengan nama Park Jungsoo ini?

“Mudah, kan? Kau hanya perlu masuk, meletakkan ini di meja milik Mr. Kim, lalu voilá, selesai sudah!” Jungsoo menjelaskan hal ini di balkon yang hanya berjarak sepuluh meter dari ruang staf pengajar. Keduanya memutuskan untuk kesini terlebih dahulu untuk berdiskusi—sebenarnya itu hanya keputusan Jungsoo, sementara Sora mau tidak mau mengikuti lelaki itu karena sebelah lengannya ditarik tanpa persetujuan.

Jemari milik Sora saling berpilin sementara kepalanya sibuk melakukan kalkulasi. Sesungguhnya Jungsoo benar, yang harus dilakukannya memang sangat mudah, kalau saja Sora tidak tahu kertas apa yang harus ia letakkan disana. Tapi Sora sudah melihatnya dan cepat atau lambat ia akan tetap melihatnya.

“Bagaimana kalau Mrs. Jung bertanya? Aku tidak tahu harus mengatakan apa.”

“Bilang saja kalau kau ingin menyerahkan tugas. Tapi, percaya padaku, Mrs. Jung tidak akan bertanya selama kau tidak terlihat mencurigakan. Apalagi kau terlihat sangat baik-baik, ia tidak akan curiga.”

“Kenapa kau tidak melakukannya sendiri?” Sora akhirnya menanyakan pertanyaan yang ingin ditanyakannya sejak awal. Kenapa repot-repot menyuruh orang lain kalau ia sendiri tahu bahwa pekerjaan ini sangat mudah?

“Karena Mrs. Jung,” jawab Jungsoo. Lelaki itu nyengir sesaat sebelum menjelaskan lebih lanjut. “Aku.. well, pernah diusir dari kelas Mrs. Jung. Dua kali. Jadi, yah, tebak saja bagaimana ia akan mempersulitku di dalam sana. Apalagi yang akan kulakukan sebenarnya memang, yah, melanggar aturan, sih.”

Aha! Melanggar aturan! Sora meneriakkan kalimat itu dalam hati. Tentu saja menyisipkan kertas jawaban ujian secara diam-diam adalah tindakan yang tidak sesuai aturan. Bagaimana mungkin pria ini menyuruh gadis yang baru saja dikenalnya untuk melakukan tindakan melanggar hukum seperti ini?

“Hei, kaubilang tadi namamu Kang Sora, benar? Ayolah, Sora-ssi, bantu aku sekali ini saja. Aku akan melakukannya sendiri kalau saja Mrs. Jung tidak ada di ruangan. Begini, sebagai gantinya kau bisa meminta satu hal padaku, apa saja. Sepakat?”

Diskusi kala itu diakhiri oleh anggukan Sora. Ia merasa tidak punya pilihan lain, meskipun ketika Sora kemudian bercerita pada Soyeon, adiknya itu membantah dan mengatakan bahwa sebenarnya ia jelas-jelas punya pilihan. Pada akhirnya, Sora, dengan jantung berdegup kencang dan tangan nyaris gemetar, berjalan menuju ruanganstaf pengajar dengan langkah yang dijaganya agar terlihat normal.

Sora tidak pernah percaya pada keberadaan hari beruntung dan hari sial. Ia bahkan tidak pernah menganggap bahwa hari ulang tahun memiliki keistimewaan dsri hari lainnya. Akan tetapi ketika saat itu ia masih berjarak dua meter dari pintu sementara pintu sudah terbuka lebih dulu dan ia melihat Mrs. Jung berlalu meninggalkan ruangan, Sora serta-merta meyakini bahwa hari itu pasti adalah hari keberuntungannya.

Singkatnya, Sora berhasil membantu Jungsoo pada hari itu. Mrs. Jung meninggalkan ruangan sehingga ia bisa leluasa meletakkan kertas ujian milik Jungsoo. Ketika ia kembali ke balkon dan menemui Jungsoo, lelaki itu mengucapkan terima kasih sebanyak tiga belas kali dalam kurun waktu satu menit. Jadi, untuk menghindari ucapan yang keempat belas kali, Sora buru-buru pergi.

Dalam perjalanannya meninggalkan balkon, Sora mendengar Jungsoo meneriakkan ucapan yang keempat belas dan kelima belas.

“Kau tahu, seharusnya kau membuka toko ramen atau semacamnya. Aku tidak mengerti bagaimana kau dapat membuat ramen dengan begitu enak.”

Jungsoo mengatakan itu di sela-sela kegiatannya melahap ramen. Sepuluh menit yang lalu hari sudah berganti, tapi Jungsoo tampak tidak peduli. Kalau bukan karena Sora yang menolak permintaannya, saat ini lelaki itu mungkin sudah menghabiskan tiga bungkus ramen.

“Kalau kau benar-benarmembuka toko ramen, kau sudah pasti akan punya minimal satu pelanggan paling setia yang akan datang setiap hari untuk makan di kedaimu.” Jungsoo menghentikan kegiatannya hanya untuk menanyakan hal paling retoris sedunia, “Coba tebak siapa orangnya—maksudku, pelangganmu yang paling setia itu?”

Sora memutar bola matanya dengan gerak isyarat jenaka sebelum berkata, “Sudah pasti orang itu adalah kau. Dan jika kata-katamu tadi benar-benar direalisasikan, sudah dapat dipastikan bahwa kau akan mati karena infeksi saluran cerna sebelum usiamu tiga puluh.”

Jungsoo tertawa keras sekali hingga Sora berpikir bahwa mungkin saja setelah ini akan ada tetangganya yang akan datang untuk menegurnya karena membuat keributan pada malam hari.

“Kau tahu, sebaiknya kau berhenti mengulur-ulur waktu, Jungsoo. Cepat habiskan kuah ramenmu lalu pulang. Ini sudah lewat tengah malam.” Sora mengatakan itu dengan mata menyipit dan alis bertautan seolah-olah ia sedang marah.

Padahal Sora sama sekali tidak marah. Ia justru sedang menahan agar dirinya tidak ikutan tertawa.

“Sudah selesai, kok,” Jungsoo tiba-tiba berkata sambil berdiri.

Tetapi, alih-alih menuju pintu keluar lalu pulang, yang dilakukan oleh Jungsoo justru menuju dapur. Ia mencapai bak cuci piring lalu menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk mencuci satu buah mangkuk, sepasang sumpit, serta garpu. Usai mencuci, Jungsoo menjelajahi dapur. Ia berkeliling dari satu sudut ke sudut lainnya dan meraih apa pun yang bisa diraihnya.

Sora baru saja akan beranjak, menuju dapur, dan menyeret Jungsoo untuk keluar ketika lelaki itu muncul di hadapannya dengan sebotol soju berada dalam genggaman.

“Temani aku minum dua atau tiga gelas, lalu aku akan pulang.” Jungsoo menunjukkan cengiran khas miliknya—membuat sepasang lesung pipinya muncul ke permukaan.

Esok paginya, Sora baru terbangun ketika jam di kamarnya telah menunjukkan pukul sembilan, kurang-lebih.

Sora terbangun ketika ia mendengar keributan dari arah dapur. Awalnya Sora berpikir bahwa itu ulah tikus atau semacamnya, tapi kemudian intensitas keributan yang ada meningkat dan Sora juga merasa bahwa ia mendengar suara perempuan samar-samar dari arah yang sama. Jadi, pada akhirnya Sora memaksa dirinya untuk bangun dan memeriksa keadaan.

Sesampainya di dapur, Sora menemukan Soyeon tengah berdiri di antara peralatan dapur yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan kapal yang baru saja diterjang badai.

“Hai, Kak.” Soyeon menyapa malu-malu. “Aku mencari wadah untuk memasak nasi, tapi tidak ketemu.”

Sora mengerjapkan matanya dua kali. Ia membutuhkan waktu beberapa saat sebelum berjalan menuju alat penanak nasi otomatis dan mengeluarkan wadah yang dimaksudkan oleh adiknya dari sana. Ia tidak akan mengajukan protes mengenai Soyeon yang tidak dapat menemukan wadah yang dicarinya. Yang ingin dilakukan Sora justru mengecek temperatur badan atau menguji tingkat kesadaran adiknya. Karena, untuk diketahui, kejadi seperti ini adalah nyaris-langka. Pada hari yang normal, Sora dan Soyeon hanya bertemu pada saat-saat tertentu. Misalnya, ketika Sora akan menggunakan kamar mandi yang sedang digunakan oleh Soyeon, atau sebaliknya. Atau ketika Sora membukakan pintu untuk Soyeon ketika adiknya itu lupa untuk membawa kunci.

Saat ini Sora sedang berdiri menyandar pada sisi depan kulkas dengan segelas air mineral dingin berada dalam genggamannya. Ia mengamati kegiatan Soyeon dengan teliti. Kapan terakhir kali ia menghabiskan waktu bersama adiknya dalam durasi lebih dari sepuluh menit seperti ini? Sora tidak dapat mengingat dengan tepat.

Jika dipikirkan kembali, sebenarnya Sora dan Soyeon tidak punya alasan spesifik mengenai penyebab keduanya berhenti berbicara pada satu sama lain. Keduanya mulai hidup bersama sejak tujuh tahun lalu, ketika kedua orang tua mereka meninggal pada kecelakaan mobil—saat itu Sora berusia tujuh belas sementara Soyeon berusia sepuluh. Karena ayah dan Ibu Sora adalah anak tunggal dan satu-satunya kerabat yang tersisa dan mereka punya hanyalah nenek dari pihak ibu mereka, jadi pada akhirnya Sora dan Soyeon ditetapkan untuk tinggal bersama nenek mereka di rumah orang tua keduanya.

Pada awalnya, tidak ada masalah yang berarti dalam pengaturan ini. Sora adalah remaja yang cenderung pendiam dan penurut. Ia tidak pernah bolos sekolah atau pulang larut malam hanya untuk menyusup ke dalam klub malam. Sedangkan, pada saat itu, Soyeon hanya gadis berusia sepuluh tahun yang meskipun agak sulit dikendalikan, tetapi tindakannya masih berada pada batas wajar. Sora, Soyeon, dan Nenek Lim—ketiganya hidup bersama dengan normal pada tahun-tahun pertama mereka.

Tiga tahun berlalu dan kini Soyeon berusia tiga belas—tahun-tahun awal ia menjadi seorang remaja. Nenek Lim sudah dapat menduga bahwa menghadapi Soyeon versi remaja akan lebih sulit dibanding Sora. Ketika hal paling nakal yang pernah Sora lakukan hingga usianya tujuh belas adalah menyelundupkan novel favoritnya dalam tas sekolah, kenakalan Soyeon berada di level yang jauh berbeda. Seminggu setelah ulang tahunnya yang ketiga belas, wali kelas Soyeon melaporkan bahwa gadis itu bolos sekolah selama 3 kali dalam kurun waktu satu minggu. Meskipun begitu, Nenek Lim masih mampu menangani situasi pada saat itu. Setidaknya, selama waktu berlalu hingga dua tahun berikutnya.

Pada musim semi di usia Soyeon yang kelima belas, terjadi keributan besar antara Nenek Lim dan Soyeon.

Malam itu, Soyeon mencicipi kantor polisi untuk pertama kalinya. Ia dibawa oleh polisi karena tidak dapat menunjukkan kartu identitas ketika dilakukan pemeriksaan di sebuah klub malam. Nenek Lim dikabari melalui telepon dan Sora datang menjemput Soyeon lima belas menit kemudian. Sesampainya di rumah, Nenek Lim marah besar kepada Soyeon.

Soyeon, dengan tipikalnya yang demikian dan jiwa remajanya yang sedang meletup-letup, tidak dapat menerima dirinya dimarahi begitu saja. Ia membalas teriakan neneknya dengan balik meneriaki. Keduanya saling berteriak dengan argumennya masing-masing. Sora mencoba mengendalikan situasi, tetapi pada akhirnya yang dilakukannya justru ikut berteriak, membuat suasana semakin riuh oleh teriakan tiga orang yang dalam satu ruangan. Hingga secara tiba-tiba, keadaan berbalik menjadi sunyi.

Keadaan setelah itu seolah terjadi dalam gerak lambat. Nenek Lim jatuh di lantai dengan tangan kanannya berada di dada kiri. Sora berteriak sekali lalu berada di sisi Nenek Lim untuk memeriksa keadaan, sementara Soyeon meraih telepon dan menghubungi panggilan darurat untuk meminta bantuan. Delapan menit kemudian, paramedis datang. Nenek Lim dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans dengan Sora dan Soyeon masing-masing memegangi tangan kanan dan kirinya.

Sora tidak dapat mengingat terlalu banyak setelah itu. Ia hanya ingat bahwa dirinya dan Soyeon menghabiskan waktu cukup lama di kursi ruang tunggu operasi, kemudian ia mendengarnya.

“Maafkan kami, tapi kondisi vital pasien terus memburuk sehingga operasi jantungnya tidak dapat dilakukan dengan segera. Ketika kondisi pasien telah stabil, semua tindakan sudah terlambat untuk dilakukan. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa, tetapi Tuhan berkehendak lain. Maafkan kami.”

Dokter laki-laki yang mengatakan itu menyentuh bahu Sora usai memberi penjelasan. Ia bahkan membungkukkan badannya cukup lama sebelum berlalu dari hadapan Sora, tetapi satu-satunya hal yang Sora lakukan sepanjang waktu adalah diam.

Sora membeku. Seluruh tubuhnya kaku, tetapi ia dapat merasakan bahwa kedua matanya panas dan basah.

Di sisi lain, Soyeon mulai menangis. Kedua tangannya menutupi wajah, sementara isak tangisnya muncul satu demi satu dengan perlahan.

Malam itu, Sora dan Soyeon menghabiskan sisa malam mereka berada di ruang tunggu, menggenggam satu sama lain dan menangis hingga pagi tiba.

Sora tidak pernah menyalahkan Soyeon atas keadaan yang ada, tetapi ia juga tidak mencoba memperbaiki hubungan ketika Soyeon berhenti bicara padanya.

“Kau”—ehm—“tidak kerja?” Sora mencoba membuka percakapan dengan hati-hati. Ini kali pertama mereka mengalami interaksi yang intensif dalam kurun waktu lebih dari lima menit. Kali terakhir mereka mengalami hal serupa adalah pada dua tahun lalu, pada dini hari ketika nenek mereka pergi meninggalkan dunia.

“Aku mengajukan cuti.” Soyeon mengatakan itu dengan santai, seolah kegiatan yang terjadi saat ini hanya rutinitas biasa.

Soyeon memang memiliki pribadi yang lebih unggul dalam hal kehidupan sosial dibanding Sora, semua orang tahu itu.

“Cuti? Kenapa?”

“Karena hingga pukul 7.30 pagi tadi aku masih berada di toilet dan muntah terus-menerus, sementara batas absensi berakhir pada pukul 8.”

Sora menganggukkan kepala beberapa kali, mengisyaratkan bahwa ia memahami.

“Kak, ehm, apa terjadi sesuatu semalam?”

Kegiatan Sora terhenti dan kedua alisnya bertaut saat ia bertanya, “Maksudmu?”

“Aku melihat beberapa botol soju di tempat sampah. Well, semua orang tahu kalau mabuk bukan salah satu kegemaranmu. Kau hanya mabuk jika terjadi sesuatu. Jadi, aku bertanya apakah terjadi sesuatu semalam?” Soyeon ikut menghentikan kegiatannya saat memberi penjelasan.

“Oh.” Ketegangan di wajah Sora mengendur usai mendengar penjelasan adiknya. Kalian tidak akan dapat menduga asumsi apa saja yang sudah dibentuk di kepala Sora hanya karena ia mendengar perkataan adiknya tadi. “Itu… aku hanya menemani Jungsoo. Dia meminta beberapa gelas soju sebelum pulang. Tidak sampai mabuk, kok.”

“Jungsoo? Semalam ia ada disini?”

“Mm-hmm,” Sora mengangguk. “Ia membantu membawamu pulang dari…ehm, kantor polisi.”

“Oh,” kali ini Soyeon yang ganti mengangguk. Kalimat terakhir yang dikatakan Sora cukup membuatnya merasa buruk.

Tapi Soyeon tahu, kakaknya memang hanya memberi penjelasan. Ia mengatakan itu tanpa intensi tertentu. Dan pemikiran bahwa ia sedikit kesal pada Soyeon hanya karena hal itu cukup membuatnya semakin merasa buruk.

Jadi, pada akhirnya, untuk mengalihkan situasi, Soyeon berkata, “Kak, apa kau pernah berpikir bahwa mungkin saja—mungkin, ya—Jungsoo menyukaimu?”

“Aku serius, Kak. Kupikir Jungsoo menyukaimu..”

Sora tidak pernah menganggap serius perkataan adiknya kala itu. Bahkan ia tertawa keras-keras ketika Soyeon memberinya argumentasi mengenai alasan atas kesimpulan itu.

“Ia terlalu baik. Aku juga memiliki banyak teman laki-laki, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bersikap seperti Jungsoo padamu. Ia selalu membantumu dalam berbagai hal, diminta atau pun tidak. Aku ingat sekali bahkan ia sampai berhari-hari menemanimu saat kita kehilangan nenek dulu.”

Saat itu, Sora bahkan sampai tertawa hingga air matanya keluar. Ia dan Jungsoo berteman sejak enam tahun lalu—hampir tujuh tahun. Dan bukankah membantu sesama teman adalah hal yang wajar?

Saat itu, Soyeon bersikeras dengan pendapatnya sementara Sora juga tak kalah keras kepala. Maka, perdebatan mereka kali itu diakhiri oleh perkataan Soyeon.

Terserah padamu, tapi percaya padaku, Jungsoo benar-benar menyukaimu.”

Dan Sora tetap tidak mempercayainya.

Setidaknya, hingga beberapa saat lalu.

Empat jam lalu, Sora masih berada di tempat tidurnya, bergelung di antara selimut tebal. Hari ini hari Sabtu, esok hari kantor libur dan malam ini serial favoritnya tayang di Netflix. Sora sedang menyusun rencana untuk menghabiskan empat jam yang terisa dari hari ini dan seluruh waktunya besok berada di kasur ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama yang muncul di layar sebelum menjawab panggilan.

Park Jungsoo.

“Halo.”

“Halo, Sora! Sedang apa?”

“Bermalas-malasan di kasur.” Sora mengatakan itu sambil tertawa. “Ada apa, Jungsoo?”

“Bersiap-siaplah, aku akan kesana.”

Sora baru akan menanyakan tujuan Jungsoo akan kesini pada hari yang dingin seperti ini, tapi sambungan telepon sudah diputuskan. Ketika Sora mencoba menelepon balik, panggilannya berakhir tanpa jawaban. Merasa tidak punya pilihan lain, Sora akhirnya melakukan apa yang diminta: bersiap-siap.

Lima belas menit kemudian, Jungsoo mengetuk pintu rumahnya. Saat itu Sora masih melakukan persiapan akhir, jadi Soyeon yang membukakan pintu untuk Jungsoo.

“Apa kalian akan berkencan?” Soyeon bertanya tanpa basa-basi.

“Tidak, Soyeon. Singkirkan pemikiran-pemikiran aneh itu dari kepalamu, oke?”

“Lalu kalian mau kemana?”

“Aku belum punya kesempatan bertanya, tapi kupikir ia ingin mencari sesuatu dan minta ditemani. Seperti biasa.”

“Kau akan berpikir bahwa ini sama sekali tidak biasa setelah kau melihatnya.”

Dan Soyeon benar, mau tidak mau Sora harus mengakui.

Jungsoo berada di hadapannya, mengenakan kemeja berwarna putih dan jas hitam semi-formal. Ia terlihat terlalu rapi untuk ukuran seorang Park Jungsoo dan terlihat kontras ketika berdiri bersisian dengan Sora yang hanya mengenakan kemeja non-formal berwarna putih gading dan celana jins.

“Kupikir aku perlu berganti pakaian,” Sora berkata lalu berbalik badan dan buru-buru berlalu dari hadapan Jungsoo.

Tapi Jungsoo bertindak lebih cepat, karena tangannya sudah meraih lengan Sora sebelum gadis itu pergi. “Tidak perlu. Ayo kita berangkat.”

Saat ini malam minggu, jadi cobalah menerka keadaan jalanan saat ini.

“Macetnya parah sekali!” gerutu Sora. Mobil yang ia dan Jungsoo tumpangi telah berada jalanan yang sama sejak sepuluh menit terakhir. Lalu lintas memang tidak benar-benar berhenti secara total, tapi apa bedanya ketika yang terjadi adalah kendaran hanya bergerak pada jarak sepuluh meter dalam waktu sepuluh menit?

Dan Jungsoo menanggapi gerutuan Sora dengan tertawa sambil berkata, “Tenang saja, Sora, acaranya baru akan dimulai pukul delapan. Kita masih punya dua puluh menit.”

Acara yang dimaksud Jungsoo adalah temu reuni dengan alumni sekolah menengahnya—maksudnya sekolah Jungsoo, tentu saja, karena Sora tidak akan hadir dalam reuni kecuali dipaksa. Ketika Sora mendapatkan informasi ini beberapa saat lalu, ia dapat memahami alasan Jungsoo tidak memberitahu perihal ini melalui telepon. Kalau Sora tahu, gadis itu tentu akan mengunci kamarnya dan menolak dengan telak. Saat ini saja ia sudah merencanakan melompat dari jendela untuk kabur. Kalau reuni dengan teman-temannya sendiri saja Sora enggan, bagaimana mungkin ia hadir di reuni sekelompok orang yang tidak dikenalnya sama sekali?

“Aku tahu kau tidak menyukai acara seperti ini, tapi tolong aku sekali saja. Aku tidak mungkin datang sendiri sementara semua orang membawa pasangan. Kita akan terus bersama-sama disana. Aku bahkan tidak akan keberatan kalau kau ikut menyeretku ke toilet wanita.”

Sora tertawa ketika mendengar Jungsoo mengatakan itu kala tadi. Kalau sudah begini, Sora yakin semua orang akan mengerti mengapa ia tidak pernah bisa menolak seorang Park Jungsoo.

Mereka—Sora dan Jungsoo—pada akhirnya tiba di reuni pada pukul 8.30. Ketika mereka tiba, semua orang bersorak ramai sekali dan menghentikan semua kegiatan yang ada hanya untuk menyambut Jungsoo. Sora sampai bertanya-tanya apakah dulunya Jungsoo seorang bintang sekolah atau sesuatu semacam itu.

Jungsoo memperkenalkan Sora pada semua orang yang datang—-sekitar tiga puluh orang, Sora memperkirakan.

“Apakah itu kekasihmu?”

“Tentu saja, dia pasti kekasihnya!”

“Hai, Sora! Sudah berapa lama kalian berdua berkencan?”

Sebelum situasi menjadi lebih riuh, Jungsoo berbicara. Ia menjelaskan dengan amat singkat.

“Kami hanya berteman, kok. Sora sahabatku sejak kuliah dulu. Benar, kan, Sora?”

Sora mengangguk dengan kuat. Ia memandang berkeliling dan melihat semua orang memperhatikan dirinya seolah ia objek pertunjukan. Dalam sekejap, Sora merasakan aliran darah di wajahnya begitu deras. Ia yakin wajahnya kini merah padam.

Bersyukurlah Sora karena Jungsoo dapat memahami dan menangani situasi dengan cekatan. Mereka berdua berlalu dari hadapan orang-orang setelah Jungsoo mengatakan bahwa mereka akan memesan makanan.

“Maafkan teman-temanku, ya. Mereka kadang berbicara terlalu jauh.” Jungsoo berbicara setelah mereka menghilang dari jarak pandang orang-orang. Ia tertawa sebelum melanjutkan, “Aku kadang juga seperti itu sih.”

Sora ikut tertawa—separuh tertawa dan separuh meringis, sebenarnya.

“Hei, apa kau marah padaku? Aku akan memberitahu teman-temanku untuk berhenti berbicara seperti itu. Aku benar-benar minta maaf.”

“Aku tidak marah kok. Cuma rasanya aneh sekali mendengar orang-orang berbicara seperti itu.”

“Hanya teman-temanku, kok, dan mereka memang suka berbicara asal seperti itu.”

“Sejujurnya, Soyeon juga mengatakan hal semacam itu.” Sora menggigit bibirnya usai mengatakan itu. Ia merasa canggung secara tiba-tiba.

Tapi Jungsoo tertawa sehingga suasana kembali terasa normal. “Apa yang Soyeon katakan?”

“Ia bilang kalau kau mungkin saja menyukaiku.” Lidah Sora terasa aneh ketika mengucapkan kata-kata itu. “Tapi aku sudah bilang pada Soyeon kalau ia jelas-jelas meracau. Tenang saja, oke?” Sora buru-buru melanjutkan.

Tapi kali ini Jungsoo tidak tertawa. Ia bahkan tidak menanggapi sama sekali. Ia hanya diam sementara matanya menatap Sora dan sekeliling secara acak. Sora baru saja akan berbicara guna mengalihkan situasi ketika Jungsoo menariknya untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia.

“Bagaimana kalau adikmu benar?” Sepasang mata milik Jungsoo menatap tepat ke arah Sora. “Bagaimana kalau aku memang menyukaimu?”

Saat itu, Sora tidak mengatakan apa-apa. Ia bisa saja menghamburkan kata-kata untuk menghentikan Jungsoo seperti ketika lelaki itu mengucapkan lelucon-leluconnya yang seringkali tidak lucu. Tapi Sora tidak dapat menemukan tatapan bergurau di mata Jungsoo kala itu.

Hingga beberapa jam kemudian Jungsoo menghilangkan kata ‘kalau’ dalam ucapannya—pada waktu sesaat sebelum Sora meninggalkan mobil dan masuk ke dalam rumah—Sora tetap tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengucapkan terima kasih karena Jungsoo telah mengantarnya pulang.

Bahkan, ketika lima menit lalu Soyeon menyerbu kamarnya hanya untuk membuka jendela dan memberitahu bahwa salju telah turun, Sora hanya menanggapi sambil tertawa sebisanya hingga akhirnya Soyeon menyerah dan menghilang di balik pintu.

Saat ini, pada hari ke-21 dari November, ketika salju pertama dari musim dingin tahun ini menyentuh kota Seoul, Sora berada di antara kasur dan selimut tebalnya. Matanya menatap butiran salju melalui jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka oleh Soyeon, sementara pikirannya melakukan reka ulang kejadian hari ini berulang kali.

Saat ini, ketika usianya mencapai dua puluh lima, untuk pertama kalinya Sora merasakan dadanya berdesir ketika ia melihat Jungsoo dalam kepalanya.

Sembilan hari kemudian, Sora dan Jungsoo berakhir menjadi sepasang kekasih.

Hari itu, Jungsoo dan Sora bertemu untuk pertama kali setelah kejadian satu minggu lalu. Jungsoo menemui Sora di universitas setelah ia mendapatkan informasi dari tempat kerja gadis itu.

“Kenapa tidak bilang kalau kau akan kuliah lagi?” Jungsoo membuka percakapan sementara ia mengendarai mobil dengan Sora berada di sampingnya.

“Aku juga baru diberitahu satu minggu yang lalu. Kantor memberiku beasiswa.”

Jungsoo berhitung dalam kepalanya. Satu minggu yang lalu adalah Senin pertama setelah kejadian di reuni.

“Kenapa menghindariku?”

Sora tidak menjawab.

“Dengarkan aku, Sora. Kalau kau marah, aku minta maaf karena sudah berbicara di luar batas. Aku hanya berpikir, mungkin saja kau juga merasa sama terhadapku. Anggap saja aku tidak—”

“Aku tidak marah padamu, sungguh.” Sora menyela ucapan Jungsoo. “Aku juga tidak tahu kenapa. Rasanya aneh sekali… aku bahkan merasa canggung hanya untuk berbicara denganmu melalui telepon.”

Sora memang tidak mengatakannya secara tersurat, tapi Jungsoo dapat membaca apa yang tersirat. Senyum memenuhi wajah Jungsoo selama beberapa saat setelah itu.

Ketika Jungsoo secara tiba-tiba menghentikan laju mobilnya dan menepi, Sora tersentak.

Tetapi, Sora lebih tersentak ketika ia mendengar apa yang dikatakan Jungsoo kemudian. “Bersedia jadi kekasihku?”

Di penghujung usianya yang ke-25, Sora memiliki sepasang kekasih—pada akhirnya!

Soyeon tidak dapat menahan tawanya ketika Sora bercerita pada malam harinya. Ia bahkan berjanji akan mengecat rambutnya kembali menjadi hitam seperti permintaan kakaknya sejak berbulan-bulan lalu. Soyeon mengatakan bahwa ia melakukan itu sebagai bentuk perayaan.

Untuk diketahui, Soyeon—saat ini berusia delapan belas—telah berganti-ganti pacar sebanyak lima kali, sedangkan Sora—saat ini berusia hampir dua puluh enam—baru pertama kali memiliki pacar.

Malam itu, Sora dan Soyeon menghabiskan malam mereka dengan saling bercerita, memesan dua loyang pizza, dan menghabiskan dua botol soju (Sora hanya meminum satu gelas dan Soyeon menghabiskan sisanya).

Pada pukul dini hari, ketika Soyeon telah tumbang oleh soju, secara tiba-tiba Sora menyadari sesuatu.

Saat ini, Sora adalah seseorang dengan multiperan: seorang pekerja di sebuah perusahaan, mahasiswa yang dibiayai oleh beasiswa, seorang kekasih, dan kakak.

Sora menyadari bahwa ia bukan seorang yang dapat membagi waktu dengan bijaksana, jadi ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai bagaimana jika ia tidak bisa melakukan segalanya dengan baik.

Pertanyaan itu terjawab tiga minggu kemudian.

Pada masa seperti ini, ketika kebanyakan orang sedang menjalani liburan musim dingin dan akhir tahun dengan suka cita, Sora justru menghabiskan harinya di Distrik Songdo, Incheon. Sora, bersama salah seorang temannya bernama Byun Yohan, akan menghabiskan lima hari dan empat malam di kota ini untuk urusan perusahaan.

Ketika Sora memberitahu Jungsoo perihal ini tiga hari lalu, ia mendapat reaksi yang lebih keras dari dugaannya. Jungsoo keberatan—tentu saja—dan ia memiliki alasan yang logis: pertama, ini adalah pelanggaran hak karyawan; kedua, Sora akan pergi ke luar kota hanya berdua dengan teman sekantornya; dan ketiga, keempat, serta kelima, Sora akan pergi ke luar kota hanya berdua dengan teman sekantornya yang berjenis kelamin laki-laki.

LAKI-LAKI, DEMI TUHAN!

Jungsoo bersikeras bahwa ia tidak peduli dan akan menghadapi perusahaan, tapi Sora tetap mencoba menjelaskan perlahan-lahan. Bahwa ini menyangkut beasiswanya, bahwa Byun Yohan dipilih karena alasan yang sama, dan bahwa ia dan Yohan akan mendapatkan kamar terpisah di penginapan nanti.

Tetapi Jungsoo tidak menerima alasan yang diberikan. Ia tetap mengajukan keberatan.

Meskipun pada akhirnya, Sora tetap pergi meskipun Jungsoo tetap keberatan.

Saat itu adalah malam ketiga Sora berada di Incheon. Ia baru saja memejamkan mata ketika ponselnya berdering.

Satu nomor tidak dikenal berpendar di layar dan entah kenapa Sora mendapat perasaan buruk.

Dua menit kemudian, Sora memutuskan panggilan di ponselnya. Ia kemudian membuat satu panggilan lain hanya untuk menyampaikan berita buruk yang diterimanya.

“Jungsoo, tolong dengarkan aku dulu. Aku tahu kau sedang marah padaku, tapi saat ini Soyeon berada di kantor polisi. Ia mabuk dan bertengkar—lagi.”

Malam itu, Sora terjaga hingga pukul dua pagi.

Malam itu, Sora baru menyadari bahwa ia tanpa sengaja meletakkan nama Soyeon pada posisi terbawah di antara semua peran yang saat ini dimilikinya.

Ketika Sora kembali ke Seoul sepulangnya dari Incheon, ia dapat merasakan bahwa terdapat sesuatu yang ganjil. Dan meskipun tiga minggu telah berlalu tanpa terjadi sesuatu yang buruk, perasaan itu masih menetap dalam diri Sora.

Pada pertengahan bulan Januari—minggu keempat sejak kepulangannya, Sora mendapati adiknya menangis di kamar mandi. Sora baru saja akan meraih badan Soyeon dan mendekapnya erat ketika ia menyadari sesuatu berada di tangan kiri Soyeon.

Sebuah test pack.

Sekarang Sora tahu perasaan apa yang menghinggapinya dalam satu bulan terakhir ini.

Sora seringkali mendengar orang-orang mengatakan bahwa ia memiliki kemiripan yang menakjubkan dengan ibunya—secara fisik dan kepribadian. Tetapi, seolah dua kemiripan itu tidak cukup, Sora berbagi takdir yang sama dengan ibunya.

Delapan tahun yang lalu, Sora memeluk ibunya dengan erat saat ibunya bercerita bahwa ayah terlibat perselingkuhan dengan sekretaris pribadinya di kantor. Saat ini, Sora berharap ibunya memeluknya ketika ia menemukan kenyataan bahwa Soyeon mengandung anak milik Jungsoo.

Sora duduk menyandar pada dinding kamar mandi. Soyeon berada di hadapannya, menangis tanpa henti sejak lima belas menit yang lalu. Soyeon sudah menjelaskan semuanya dan Sora sudah mendengarkan semuanya.

“Kami sama-sama mabuk saat itu. Kau tahu, kan, ketika aku ditangkap karena berkelahi saat kau sedang berada di Incheon. Aku tidak bisa mengingat apa pun, tetapi Jungsoo mengatakan kau menyuruhnya menjemputku dari kantor polisi, lalu membawaku pulang. Saat itu Jungsoo sudah setengah mabuk karena hubungannya sedang tidak baik denganmu. Lalu semua terjadi begitu saja. Aku baru menyadari saat bangun pada pagi berikutnya.”

Soyeon menjelaskan itu di sela-sela tangisannya. Ia berulang kali mengucapkan maaf dan mengatakan akan menggugurkan kandungannya.

Tapi Sora hanya diam. Sepasang mulutnya terkatup rapat. Gadis itu mengulangi penjelasan yang diberikan Soyeon dalam kepalanya berulang-ulang seolah itu adalah mantra.

Saat itu kau sedang berada di Incheon.

Kau menyuruhnya menjemputku di kantor polisi.

Jungsoo mabuk karena hubungannya sedang tidak baik denganmu.

Bahkan pada kejadian seperti ini, Sora tetap harus mengemban persentasi kesalahan cukup besar. Oh, betapa lucunya!

Masa-masa setelah itu berlalu seolah dalam mode fast forward.

Soyeon bersikeras untuk melakukan aborsi, tetapi Sora tentu saja tidak menyetujui. Keduanya terlibat perdebatan panjang hingga pada satu titik Soyeon menyerah dan melakukan apa yang diminta kakaknya.

Soyeon menemui Jungsoo pada hari berikutnya. Ia meminta Sora untuk menemani, tapi permintaannya ditolak. Ketika Soyeon ingin menyampaikan dan meminta saran mengenai hasil diskusinya dengan Jungsoo kepada Sora, lagi-lagi yang ia dapatkan hanya penolakan.

“Aku membutuhkan waktu untuk meyendiri.”

Sora berbicara pada Soyeon untuk pertama kalinya sejak insiden terjadi pada lima hari lalu. Saat itu adalah akhir minggu dan Sora berbicara dengan membawa koper di tangan kanannya. Lima menit kemudian taksi tiba dan Sora meninggalkan rumah tanpa kata-kata.

Soyeon tidak pernah mendengar kabar dari Sora lagi setelah itu. Sora seakan menghilang bagai gelembung sabun yang pecah di udara—nomor ponselnya tidak aktif dan ia mengajukan cuti pada perusahaan serta universitas.

Ketika tiga minggu akhirnya berlalu dan sebuah kabar mengenai Sora akhirnya diterima oleh Soyeon, gadis itu secara tiba-tiba tidak dapat merasakan keberadaan udara di sekitarnya.

Sora seringkali mendengar orang-orang mengatakan bahwa ia memiliki kemiripan yang menakjubkan dengan ibunya—secara fisik dan kepribadian. Tetapi, seolah dua kemiripan itu tidak cukup, Sora berbagi takdir yang sama dengan ibunya.

Delapan tahun yang lalu, Sora memeluk ibunya dengan erat saat ibunya bercerita bahwa ayah terlibat perselingkuhan dengan sekretaris pribadinya di kantor. Saat ini, Sora berharap ibunya memeluknya ketika ia menemukan kenyataan bahwa Soyeon mengandung anak milik Jungsoo.

Delapan tahun yang lalu, Sora menjerit tertahan ketika ia menemukan ibunya berada di ruang baca dengan pistol berada di tangan kanannya. Saat itu pukul sebelas malam. Soyeon sudah tertidur di kamarnya di lantai dua, sedangkan ayahnya belum pulang—seperti biasa. Kala itu Sora mendekati ibunya dengan hati-hati. Ketika Sora memposisikan diri berhadapan dengan ibunya, gadis itu mulai menangis. Ia memohon dan memohon dan memohon pada ibunya dengan air mata berjatuhan. Hingga pada akhirnya, Sora berhasil menyelamatkan ibunya pada hari itu (meskipun ketika satu minggu berlalu dan ia mendapatkan berita kecelakaan kedua orangtuanya dari polisi, Sora tahu bahwa kali ini ibunya telah berhasil).

Saat ini, satu minggu menjelang usia dua puluh limanya berakhir dan nyaris sembilan tahun telah berlalu sejak kejadian itu, secara tiba-tiba Sora merasakan déjà vu.

Subjek yang berbeda. Kondisi yang serupa.

Pikiran Sora terus berlari melintasi waktu sementara tangannya terasa amat dingin. Ketika tangannya menggenggam logam berwarna hitam di tangan kanannya, ia dapat merasakan bahwa tangannya terasa semakin dingin.

Detik berikutnya, Sora mendengar sebuah letusan yang berjarak amat dekat dari telinganya.

Lalu rasa dingin yang mengganggu itu pergi.

Advertisements

2 thoughts on “[Season Of Love Project] Fate is Betrayed

  1. Astaga! Kenapa Sora seperti itu?

    Sangat bagus dan tak tertebak arahnya. Hanya aku (pribadi) sedikit tetganggu dg pengulangan paragraf, mungkin klo di ringkas dg ‘Keadiam yg lalu/Masa lalunya/Kejadian beberapa tahun lalu’ akan lebih simple. Toh di bagian sblmnya kan sudah di jelaskan juga klo Sora mirip dg Ibunya, nasibnya pun sama.

    Itu aja sih, well, Good Job 🙂

    Like

  2. halo hana! wah mengenang masamasa teuk-sora nih rasanya u.u
    uhuhu, yang pas bagian soyeon hamil itu gatau kenapa aku ga kaget berhubung kelakuan dia disini emang digambarin brutal (?) banget, dan lagi di atas dia udah bilang “aku mual-mual dan muntah terus” yg pas alesan cuti, aku udh mikir “maybe dia bakal hamil”
    BUT THEN AKU SHOCK BGT PAS TAU ITU ANAKNYA JUNGSOO T^T
    apalagi endingnya malah sora kena dejaboo yang buruk kek gitu, aigoo aigoo.
    Penulisannya rapih, well done! kalimat penutupnya juga bagus. keep writing ya hana ^^ nice fic!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s