Angst · Comedy · February Project · FF Project · Genre · Length · Rating · Slice of Life · Teen · Vignette

[Season Of Love Project] Heart To Heart


Author : LaillaMP || Title :Heart to Heart || Tema : Unspoken Confession || Cast(s) : Kim Sungjoo (UNIQ), Wang Yira (OC), Lee Sora (OC), mentioned Li Wenhan, Zhou Yixuan (UNIQ) || Genre : College-life, A bit angst, Slice of Life, failed!Comedy || Length : Vignette [1K+ words] || Rating : Teenager || Disclaimer : I just own the story and the OCs. || Author’s Note : Yeap, firstly kenalkan saya adalah sesosok author yang dari dulu ‘gini gini aja’ dan ‘gitu gitu aja’ ((abaikan)) Lailla. Ini cerita yang entah ke-berapa dan ancurnya juga alaihim. But i hope you guys can enjoy this and review my weird fic, lol. Typo(s) may applied. Enjoy~^^

***

 

Entah setan apa yang membawanya duduk di taman belakang kampus yang masih sepi ini di tengah berembusnya angin musim dingin yang memilukan. Ya Tuhan, Yira pikir takdirnya benar-benar buruk.

“Apa kabar?” tanya lelaki bersurai kecoklatan itu.

Jangan salahkan Yira jika ia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan sederhana itu. Salahkan saja rumput-rumput yang belum terinjak olehnya siang hari ini.

 

****

 

“Ya Tuhan, acaranya besok ya?”

Wang Yira, si bawel dari Luoyang itu menepuk dahinya setelah pasangan heboh se-kampus tahun lalu tidak sengaja ditemuinya di depan ruang kelas seni.

“Ya Tuhan, ini bahkan masih liburan dan kau sudah masuk kelas? Keterlaluan!” balas si calon pengantin wanita, Lee Sora.

Yira tertawa setengah meringis. Dia memang sedikit lemah dalam urusan ingat mengingat, apalagi mengingat tanggal. Makanya ia lebih memilih kelas seni rupa dibanding seni musik yang harus mengingat lirik dan nada.

“Tidak, aku hanya mengecek saja siapa tahu ada backlog atau fail di tes kemarin,” Yira memasukkan tempat pensil ke dalam tasnya. “Oh ya, kalian kenapa kesini? Kelas kan belum berjalan.”

Lee Sora tersenyum manis, menggeleng. “Aku hanya ingin memastikan kau datang besok.”

“Kalau begitu kenapa tidak lewat SMS?”

Sora mendengus. “Sejak kapan kau membaca SMS? Semuanya SMS-mu kan dari operator.”

“Benar juga,” Yira mengikuti langkah kecil Sora. “Lewat kakao? Whatsapp? Memangnya tidak ada teknologi apa.”

“No.. no.. no! Kau pasti hanya membacanya, lalu melupakannya.”

Seburuk itukah ingatanku?

“Baiklah. Aku ingat sekarang. Besok acara pernikahanmu dan Sungjoo, jam? Jam berapa by the way?”

“Kau harus datang ke pemberkatan juga, jam sepuluh di Gereja Santo Antonio. No forget no late!

Yira mengangguk, mengingatnya sebentar. “Baiklah. Lalu?”

Sora menggumam sebentar, kemudian menatap Sungjoo yang masih bergeming disampingnya. Yira ikut menatapnya, sedetik kemudian ia memalingkan wajah ke arah lain.

Asal tahu saja, Yira dan Sungjoo adalah sepasang mantan kekasih yang gagal dua tahun lalu dan Lee Sora sebagai calon istri Sungjoo pun sudah tahu keseluruhan ceritanya. Tapi tetap saja status yang melekat diantara nama mereka itu mengganggu, bahkan sempat memutuskan tali pertemanan yang bisa saja disambung setelah hubungan yang agak serius itu kandas.

Baiklah, intinya Yira dan Sungjoo itu saling ‘memantani’.

“Ehm, So, boleh aku bicara dengan Yira sebentar?” Kim Sungjoo akhirnya bersuara, membuat detak jantung Yira tiba-tiba bertambah cepat.

“Bicara apa? Jangan-jangan….”

“Tidak tidak tidak!! Tidak usah dipikirkan, So. Aku tidak mau bicara dengannya kok,” sanggah Yira sebelum Sora sempat menduga-duga. “Benar! Ah, aku ada janji—“

“Janji apa? Dengan Wenhan? Dia bukannya masih di kampungnya?”

Sekakmat. Sungjoo dan Wenhan kan teman dekat, dan makin canggung saja hubungan mereka karena Wang Yira memacari teman mantannya.

“Dengan Yixuan….”

“Dia sudah lulus tahun lalu.”

“Ah, Joshua!”

Sepertinya hubungan ini sangat semrawut.

Kim Sungjoo menggeleng, kemudian menatap gadisnya dengan tatapan penuh cinta.

“Tidak akan, aku tidak akan melakukan apapun dengannya kok,” Sungjoo merangkul Sora, mengecup puncak kepalanya. “Kau percaya padaku kan, So?”

Yira menatap nanar pasangan di depannya. Mungkin memang seratus persen salahnya karena telah menjodohkan sahabat dengan mantannya.

Sekali lagi ini tentang status ‘mantan’.

Hold my pinky, So. Kau tahu kan aku sudah over dengannya?” Yira mengangkat jari kelingkingnya di depan wajah, membuat Sora di depannya langsung tertawa keras melihat keseriusan sahabatnya.

“Tenang saja, lagi, Wang! Baiklah, lima belas menit dan kalian harus ada di toko es krim depan. Call?

 

****

 

Itulah sebab musabab Yira bisa terjebak di tengah angin musim dingin ini, ditambah lagi duduk disebelah mantan kekasih yang membuat udara jadi lebih dingin berpuluh-puluh derajat.

“B…baik,” akhirnya satu kata itu bisa diucapkan walaupun setelahnya ia menghisap kopi panas yang dibelikan Sungjoo berkali-kali.

Kim Sungjoo terdiam di sampingnya, entah apa yang akan dikatakan lelaki ini sampai-sampai ia harus ‘menurunkan’ diri dari sahabatnya.

“Kau sendiri, bagaimana?” Yira balas bertanya akhirnya.

Sungjoo mengangguk setelah menyedot americano-nya. “As you can see, i’m fine. So fine.”

Yira manggut-manggut. “Ah ya, you will married tomorrow. Congratulation, by the way.

Angin sepoi-sepoi kembali menerpa, menerbangkan anak rambut Yira yang tidak tertangkap kunciran seribuannya.

Thanks.”

Jujur saja, tidak enak berlama-lama duduk dengan mantan, apalagi yang putus karena hal tidak jelas. Apalagi mantannya akan jadi suami dari orang yang dikenalnya. Bolehlah sebut Yira berlebihan, tapi ini benar-benar menggelikan.

“Err… kau mau bicara?” Yira kembali buka suara, sepuluh menit sudah mereka membuang waktu.

“Ah,” Sungjoo meletakkan gelas americano-nya ke tengah-tengah mereka, kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. “tidak ada hal khusus. Aku hanya ingin bicara denganmu. Kenapa kau menghindariku selama ini?”

Yira menggoyangkan gelas latte-nya yang sudah tinggal udara. “Tidak ada hal khusus. Hanya saja… kita mantan?”

“Seingatku kau tidak pernah memperlakukan mantanmu sepertiku, err… bukan apa-apa, tapi… kau seperti membuangku.”

Bolehkah gadis itu jujur sekarang?

Yira menghela nafas. Memang ia memperlakukan Sungjoo berbeda dari orang-orang lainnya. Sungjoo sangat spesial untuknya. Sangat sangat spesial.

“Semua mantanku sama-sama ku ‘buang’, kok, tidak hanya kau.”

Sungjoo menggeleng. “Kau mantan ketua klub seni, Zhou Yixuan. Sampai dia lulus kalian masih berkomunikasi lewat email, kan? Kalian masih membicarakan sesuatu dan…”

“Dia sunbae untukku, biarpun dia mantanku.”

“Bagaimana dengan Minhyuk? Kau masih sering datang ke pertandingannya kalau ada perlombaan antar kampus.”

“Itu formalitas. Sebenarnya kau mau membicarakan apa sih?!” Yira mulai kehabisan kesabaran walaupun banyak hal yang ingin ia katakan. “Waktu kita hanya sebentar.”

“Baiklah, begini. Aku tahu kita putus tanpa alasan jelas. Kau tiba-tiba menuduhku selingkuh dan kau dekat dengan Wenhan. Aku tahu hubungan kalian saat itu hanya sebatas teman sekampung, tapi akhirnya kau jadian dengannya. Lalu kau tiba-tiba datang bersama Sora dan mengenalkan dia, setelah itu kita putus hubungan.”

Yira menggigit bibir, memikirkan berjuta kata dalam bahasa korea untuk menjelaskan kebenaran dibalik ini semua.

“Yang sering menempelkan memo di lokermu, yang sering memberimu bekal di pagi hari, dan yang paling duluan memberimu minum selepas basketmu itu Sora.”

Sungjoo terdiam, kemudian mencoba menelan ludah sendiri dengan susah payah.

“Kau tahu, Sora benar-benar pemalu. Dia bahkan tidak berani memegang keningmu saat kau demam,” Yira melanjutkan, membuat Sungjoo makin terdiam.

“Saat aku tahu Sora sering diam-diam menangis karena malah aku yang jadi pacarmu, aku mulai mencari alasan untuk pergi. Aku kencan dengan banyak lelaki, aku mengerjakan diktat yang bertumpuk-tumpuk, aku mencari alasan supaya kau memutuskanku.

“Aku tahu aku benar-benar brengsek sebagai seorang gadis, dan itu memang harus ku lakukan karena aku….” Yira menelan ludah. “….aku benar-benar menyukaimu tapi sahabatku menderita karenaku.”

Sungjoo mengusap wajahnya mendengar kenyataan yang diberitahu Yira kepadanya. Ia memang tahu Yira adalah sosok gadis cuek yang tidak bisa membedakan mana pacar mana teman lelaki. Yira juga tidak pernah peduli baju apa yang ia pakai selama tiga hari berturut-turut. Ia sangat menyukai Yira kalau diingat karena kecuekannya itu, dan jujur saja hatinya ikut sakit saat Wenhan tiba-tiba mencium Yira di depannya.

“Aku dan Wenhan hanya sandiwara waktu itu. Aku memintanya menciumku, dan ternyata dia memang benar menciumku. Wah, kalau begini ceritanya aku jadi brengsek sekali, ya.”

Wang Yira yang bawel, Wang Yira yang cuek, Wang Yira yang sangat disukainya kembali mengobrol dengannya setelah setahun melaksanakan aksi diam. Tidak, Sungjoo tidak goyah. Ia tetap mencintai Sora, dan Yira hanya sebatas mantan.

Yira kemudian menatap jam tangan di pergelangan kirinya. Sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang ditentukan Sora.

“Hei, Kim, sudah lewat sepuluh menit, lho. Sora akan mengamuk nanti,” Yira tersenyum lebar, mengalihkan pembicaraan. “Sekali lagi, selamat kalian akan menikah! Aku pasti akan datang paling pagi besok. Tunggu saja aku.”

Yira kemudian berdiri dari bangku taman, melempar seulas senyum kemudian membalikkan badan. Langkah gadis itu sangat pelan dan masih bisa terhitung jari.

“Ah, ada satu lagi yang harus ku katakan,” Yira membalik badan, menarik nafas—tepatnya menyedot ingus—sebentar. “waktu yang kita jalani bersama, jujur, itu adalah salah satu waktu terindah dalam hidupku. Terima kasih, mantan!”

Yira kembali membalikkan badan, melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat. Bayangan gadis itu cepat sekali hilang, bahkan Sungjoo tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.

Sial! Sungjoo mengusap wajahnya lagi. Keringat dingin membasahi. Nafasnya tidak teratur untuk sejenak. Suara hatinya terus mencoba menenangkan, mengatakan ini semua baik-baik saja, toh hanya mantan; hanya cerita lama.

“Joo Joo Joo!” suara akrab itu menyapa telinganya, membuatnya sedikit melupakan pengakuan panjang beberapa menit tadi. “Lama sekali. Seru ya, bicara dengan mantan?”

Sungjoo tertawa kecil, menyuruh gadis itu mendekat duduk disampingnya. Tangannya dengan aktif mengelus rambutnya, kemudian melayangkan kecupan di dahi.

“Iya, seru sekali sampai aku tidak bisa pergi tepat waktu,” balas Sungjoo.

Itu benar-benar cerita lama, ‘kan? Tidak akan terulang lagi? Tidak mungkin juga, sih, karena bagaimanapun Sungjoo sudah menemukan Sora yang lebih baik dari mantan-mantannya—Yira saja sebenarnya—walaupun jujur saja, kadang-kadang ia merindukan mantannya yang satu itu.

 

****

 

“Pasti aku dilupakan lagi!”

Sesendok es krim kembali masuk ke dalam mulut Yira. Udara memang dingin, tetapi es krim tetap menjadi santapan wajibnya setiap hari.

Baiklah, yang penting kisah cinta bodohnya dengan Kim Sungjoo sudah berakhir. Yira bisa dengan tenang menghadiri pernikahan kedua orang itu.

 

From : Sungjoo

Jangan lupa datang besok. Tolong jangan canggung lagi denganku.

 

Ah, ternyata jujur memang melegakan.

 

.fin

 

i know this is not good at all /.\ but mind to review? 🙂

Thanks for reading~^^

 

LaillaMP

Advertisements

7 thoughts on “[Season Of Love Project] Heart To Heart

  1. yira masih menyimpang perasaan sama sungjoo tapi dia merelakan sungjoo demi sahabatnya sora
    kata2 yira yang soralah yang menempelan memo diloker sungjoo benar atau hanya bualan dia? aku ngerasa yira memang menjauhi sungjoo
    dia gak mau kehilangan sungjoo makannya menghindar dengan cara pura2 lupa.
    jalan ceritanya sudah jelas dan sesuai sama temanya
    good job autornim , keep writing ^^

    Like

    1. ayo silakan ditebak apa yira bener-bener jujur atau boong xD /digampar/
      syukurlah kalo jalan ceritanya jelas (padahal sebenernya dagdigdug antara bener apa ngga ini sama tema))

      thanks for reading and comment btw ^^

      Like

  2. Bicara soal mantan itu kadang ada ‘nyesek’ tersendiri ya (?) /apaan sih/

    Bagus ceritanya, meski di awal aku sempat bingung gara – gara awalnya di luar ruangan kok tiba2 di kampus ternyata alur mundur sejenak.

    Mungkin utk percakapan lebih dari 2 org, bolehlah di kasih keterangan siapa yg sdg bicara serta gmn ekspresinya utk mempermudah pembaca ngebayanginnya, itu aja dri aku.

    Good Job author-nim

    Like

    1. iya aku yang ga punya mantan aja ikut ikutan nyesek ((nahloh))
      lagi nyoba bikin jalan cerita yang maju mundur cantik gitu jadi mohon dimaafkan kalo kaget(?) hehehehe….

      takut monoton kalo aku kasih keterangan tiap dialog, tapi biasanya aku sih ngasih keterangan kalo udah ganti orang yang ngomong ((jadi curcol))

      makasih udah baca dan komentar btw ^^

      Like

  3. Jadi…mantan ya? hahaha entah bahasa mantan tidak mengenakkan/? #apaaan-_- hahaha anyway aku suka ceritanya. Ringan tapi seperti biasa ada pesan disini. Aku suka sifat Yira, aku suka dia benar-benar merelakan seseorang demi sahabatnya. Haha mgkin nyesek sih yam atau kalau km nambahin bagian angst nya bakal keren hahaha. But anyway itu kerasa drama bgt ya :’)) hahah good joob Laila, it’s sora by the way 😀

    Like

  4. memantani ? wkwkwk
    ceritanya sih ringan dan mudah di terima biarpun kalo di kenyataan mau jujur juga boro-boro *nah* wkwk hanya saja untuk bahasanya campur aduk ya dan teenlit banget dengan banyaknya percakapan di atas. But, keep writing ya!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s