February Project · FF Project · Length · NC -17 · One Shoot · Rating

[Season Of Love Project] O Unloved A


Author             : hiharu

Title                 : O >E A (read: O Unloved A)

Theme             : Unspoken Confession

Cast                 : Jinhwan iKON, Song Jin Na, Member iKON, Han Sa Rang, Jinhwan Eomma, Choi Min Ah, Kim Yerin

Lenght             : Oneshoot

Rating             : NC 17

Disclaimer       : Jinhwan iKON dan member iKON merupakan milik keluarga, YG Ent, dan iKONIC. Ide cerita ff ini mutlak milik Author. Jika ada kesamaan dalam isi penulisan ff ini, dapat dipastikan bahwa itu merupakan unsur ketidaksengajaan.Dedicated for Jinhwan’s birthday.

A/N                 : O >E A (read: O Unloved A) merupakan ff kedua setelah dipublikasikannya “I Only Have You” di mnjfanfiction. Jika ada yang bertanya mengapa tanda >E dibaca unloved, itu kebalikan dari tanda ❤ yang dibaca love *LOL*. Terima kasih dengan sangat untuk admin yang ramah. By the way, saya menulisnya di sela-sela kesibukan skripsi jadi kemungkinan alur cerita yang absurd dan masih banyak membutuhkan pengeditan sana sini :’D tetapi saya berharap kalian, para pembaca, dapat menikmatinya. Sangat dinantikan komentar, kritik, dan juga saran dari para pembaca. Terima kasih 🙂

 

 

Dia meremas jari-jari kirinya dengan tangan kanannya. Seakan menguatkan dirinya yang begitu rapuh. Ingin sekali aku memeluknya sembari mengatakan, “Kau akan kuat bersamaku.” Tapi yang kulakukan hanya menatapnya. Bahkan langkah kakiku sama sekali tidak bergerak untuk mendekatinya. Dia mengigit bibirnya, menahan air mata yang akan jatuh dari mata beningnya. Kedua matanya menjadi sendu seperti mendung yang siap menurunkan tetesan air hujan padahal cuaca saat itu begitu cerah dengan sepoi angin. Namun entah mengapa angin yang bertiup lembut itu begitu menusuk tulangku, lalu ke hatiku. Tuhan… ingin sekali aku menguatkannya. Tuhan… biarkan aku memeluknya.

Dia lalu menundukan kepala dan setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Dia berbalik dan memunggungiku. Dengan mantap ku langkahkan kakiku. Ku buang semua rasa raguku, akan tetapi ketika kakiku baru menggantung di udara, seseorang menarik lenganku. Ku hembuskan nafas berat. Aku tidak bisa melangkah lagi. Seseorang itu telah menungguku terlalu lama, tidak mungkin aku mengibaskan genggaman tangannya. Jika itu kulakukan, maka akan ada seseorang lagi akan terluka dengan sikapku. Tetapi bagaimana dengan dia? Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh. Jauh, semakin jauh hingga kesempatan untuk merengkuhnya lagi adalah angan-angan semata.

Di depannya sekarang telah datang seorang laki-laki dengan kedua tangannya yang terbuka, siap untuk memeluk tubuhnya yang rapuh. Sedangkan aku menautkan jemariku dengan jemari orang itu. Perempuan yang menungguku selama 4 tahun dengan setia. Aku berbalik dan memunggunginya.

“Ayo!” Ajakku kepada perempuan itu dan perempuan itu tersenyum senang seakan baru pertama kali bertemu denganku. Lihatlah, bagaimana bisa aku mengkhianati perempuan itu. Bersama dengan perempuan itu, langkah kakiku semakin menjauhinya. Dia yang dipertemukan denganku hanya ketika berteduh.

>E

“Cheeeeeerssss!!” Secara bersamaan sekumpulan remaja mendentingkan gelas yang berisi jus. Secara bersamaan pula meraka meminum habis jus di gelas besar itu.

“Ahhh…” Beberapa remaja merasa lega usai menegak jus itu. Namun ada juga yang langsung ke kamar mandi untuk memuntahkan jus yang telah diminumnya hingga tak bersisa itu.

“Hhueekkk…” Seorang remaja laki-laki mendekap mulutnya yang ingin segera mengeluarkan jus dari perutnya.

“Ou.. Ou.. Hyung!! Kau jangan sampai muntah di sini!!” Kata Hanbin dengan muka jijik.

“Ingat, kau yang mengusulkan sendiri untuk bersulang dengan jus sayur busuk itu!!” Sahut Bobby.

“Beneran sayur busuk?!?!” Tanya Jinhwan syok. Teman-temannya tertawa dengan keras. “Serius?!?!” Mata Jinhwan melotot karena terlalu syok.

“Tidak. Mereka berbohong.” Suara perempuan yang berada di sisi kiri membuat Jinhwan terkejut. Tanpa meminta izin Jinhwa, perempuan itu langsung menyambar gelas yang masih berisi jus milik Jinhwan dan menegak habis jus itu. Bunyi glup yang melewati kerongkongan gadis itu membuat Jinhwan bergidik ngeri. Jinhwan tidak menyangka gadis itu bisa menegak habis jus ‘busuk’ itu dengan santai tanpa merasa mual.

“Ahhh…” Gadis itu meletakkan gelas milik Jinhwan, mengusap sudut bibirnya yang terdapat sisa jus itu lalu tersenyum kepada Jinhwan sedangkan Jinhwan melongo melihat gadis itu, masih dengan ketidakpercayaannya. Teman-teman Jinhwan riuh bertepuk tangan, memberikan ucapan selamat kepada gadis itu yang dibalasnya dengan tersenyum malu-malu namun bagi Jinhwan itu tidak seharusnya dilakukan oleh gadis itu. Mengingat mereka tidak saling mengenal dan gadis itu merebut perhatian teman-temannya termsuk teman baiknya, Hanbin. Jinhwan cemburu? Jinhwan merasa kalah? Jinhwan merasa harga dirinya turun?

Tanpa pikir panjang Jinhwan mencengkram lengan gadis itu hingga membuat gadis itu hampir terjatuh karena cengkraman Jinhwan yang begitu kuat. Ditariknya lengan gadis itu hingga jarak kedua wajah mereka hanya beberapa senti saja, hingga keduanya bisa saling merasakan hembusan hangat dari nafas lawan yang sedang ditatapnya. Jinhwan menatap gadis itu dengan pandangan tajam.

“Tak seharusnya seorang gadis melakukan hal seperti itu. Aku muak dengan sikapmu.” Kecam Jinhwan lalu mendorong lengan gadis itu hingga tubuhnya ikut jatuh terduduk.

Gadis itu merintih kesakitan dan mengusap lengan bekas cengkraman Jinhwan. Teman-teman Jinhwan kaget melihat perubahan sikap Jinhwan.

“Yaa… Hyung!!!” Seru Hanbin.

“Kau!!! Tak seharunya bersikap seperti itu kepada Jin Na.” Kecam Bobby. Yunhyeong yang memahami bad mood milik Jinhwan segera menetralkan situasi.

“Sudahlah, hyung. Ayo kita pergi! Kau butuh udara segar.” Kata Yunhyeong sambil menarik paksa Jinhwan yang masih menatap tajam kepada Jin Na. Jinhwan tetap bersikukuh berada di tempatnya. Yunhyeong lalu memeluk pundak Jinhwan dan mengajaknya menjauh dari Jin Na. Setelah Jinhwan benar-benar pergi, teman-teman Jinhwan baru bisa bernapas lega.

“Jinhwan hyung benar-benar marah.” Kata Hanbin bergidik ngeri.

“Tak biasanya dia bersikap kekanak-kanakan seperti itu.” Sahut Bobby. “Lalu bagaimana dengan kondisimu? Kau baik-baik saja, Jin Na?” Tanya Bobby kepada Jin Na. Jin Na hanya mengangguk pelan. Gadis itu juga begitu syok melihat kemarahan Jinhwan.

“Apakah sunbaepernah semarah itu? Apakah aku tadi membuat kesalahan?” Tanya Jin Na hati-hati. Teman-teman Jinhwan hanya tersenyum.

“Mungkin Jinhwan hyung sedang PMS atau mungkin dia ingin marah. Entahlah. Sebentar lagi marahnya akan reda. Yunhyeong bisa menjinakkan dia. Kau tak usah khawatir Jin Na.” Kata Hanbin berusaha menenangkan Jin Na. Tapi Jin Na tak puas dengan jawaban Hanbin. Jin Na merasa bersalah, tentu saja.

“Laki-laki memang seperti itu Jin Na. Dia tak ingin kalah. Kau sudah melakukan hal yang benar. Tak usah kau risaukan.” Sahut Bobby sambil tersenyum. Jin Na membalas senyuman Bobby, berusaha tersenyum setenang mungkin padahal hatinya begitu gusar. Ini pertama kalinya Jin Na mendapati sikap kasar dari laki-laki. Jin Na menghembuskan nafas berat.

Di lain tempat, Jinhwan masih memasang wajah masam dan Yunhyeong bersusah payah membujuk Jinhwan untuk meredakan kemarahannya. Di antara teman-teman mereka, Jinhwan dianggap yang paling dewasa. Namun Yunhyeong tak habis pikir dengan sikap Jinhwan. Hanya karena Jin Na meneguk jusnya, Jinhwan bersikap kasar seperti itu.

“Berhentilah bersikap seperti anak kecil, hyung.” Nasehat Yunhyeong. “Jin Na hanya ingin membantumu meneguk habis jusmu itu.” Jinhwan masih keras kepala. Dia pura-pura tidak mendengarkan nasehat Yunhyeong. “Tunggulah.” Perintah Yunhyeong.

Setelah mengatakan itu, Yunhyeong pergi entah kemana. Jinhwan tidak terlalu ambil pusing. Dia mengacak rambutnya dengan kesal. Menendang apapun yang ia temukan dengan sekuat tenaga dan tanpa arah.

“Gukk!! Gukk!!” Tiba-tiba dia dikejutkan dengan gongonggan anjing dari arah jam 10. Jinhwan yang sedang kesal menjadi gelisah. Wajahnya mulai memucat. Tubuhnya berkeringat.

“Argh… Sialan!!!” Jinhwan segera berlari secepat mungkin. Sepertinya tendangannya tadi terkena anjing di seberang sana dan anjing itu menjadi marah. Entahlah, Jinhwan tidak tahu apakah tendangan ‘emosi’nya tadi terkena salah satu bagian tubuh anjing itu atau tidak. Yang ia tahu ia harus berlari sekencang mungkin untuk menghindari amukan dari anjing itu.

“Hyung.. kau mau kemana?!” Teriak Yunhyeong. Jinhwan berlari ke arah Yunhyeong dan segera menarik tangan Yunhyeong. Masih dengan kebingungan, Yunhyeong mengikuti lari kesetanan dari Jinhwan.

“Anjing itu marah dan mengejarku!!” Kata Jinhwan dengan napas ngos-ngosan dan masih berlari. Yunhyeong terkejut dan ikutan berlari secepat mungkin, meninggal Jinhwan tertinggal jauh. “Yunhyeong sial!!! Ya… tunggu aku!!!” Teriak Jinhwan. Tapi Yunhyeong tidak mempedulikan Jinhwan yang tertinggal jauh di belakangnya. Yunhyeong tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba juga terkena imbas dari perbuatan Jinhwan, yang ia lakukan hanya berlari sekencang-kencangnya dari kejaran anjing itu. Jinhwan masih berlari dan tiba-tiba seseorang memanggilnya.

Sunbae!!! Kemarilah!!!” Teriak Jin Na sambil melambaikan tangannya. Tanpa pikir panjang Jinhwan berlari menuju ke tempat Jin Na. Dengan segera, Jin Na menutup pintu dan menguncinya rapat. Anjing itu menggonggong marah di balik pintu yang ditutup oleh Jin Na.

Dimana Jinhwan sekarang? Ia tak begitu peduli, yang terpenting dia selamat dari kejaran anjing itu. Tak berapa lama, gonggongan anjing itu berhenti. Jinhwan bersikap waspada, mengintip dari celah-celah pintu. Seperti dugaan Jinhwan, anjing itu menungguinya di balik pintu. Jinhwan menepuk dahinya.

“Sial…!!!” Meski terjebak, Jinhwan bersyukur masih bisa menyelamatkan diri dari kejaran anjing dan bisa bernapas lega. Jinhwan terduduk di lantai, melepas lelahnya. Dia mengibas-kibaskan kaosnya yang penuh keringat, mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Ketika tubuhnya merasa nyaman, Jinhwan tersadar. Dia tidak sendiri di ruangan ini. Dia menengadahkan kepalanya dan Jin Na sedang berdiri di depannya dengan tatapan khawatir.

Tanpa Jin Na perlu berkata, tatapan itu seakan mengatakan “Kau baik-baik saja?”, “Apa kau terluka?”, “Dimana luka itu?”. Entah mengapa Jinhwan bisa memahaminya. Jinhwan tersenyum simpul kepada Jin Na dan Jin Na membalasnya dengan kerutan di dahi, kedua alisnya saling bertautan, tak mengerti dengan sikap Jinhwan.

“Duduklah.” Kata Jinhwan sambil menepuk lantai di samping kirinya. Jin Na masih berdiri, terpaku. “Duduklah. Aku baik-baik saja. Tak ada yang terluka, hanya lelah.” Tambah Jinhwan sambil mengibas-kibaskan kaosnya kembali.

Tiba-tiba suhu dingin menempel pada pipi kirinya. “Minumlah.” Kata Jin Na. Jinhwan menerima botol yang berisi air mineral dingin itu lalu menatap Jin Na yang masih berdiri di depannya.

“Untukmu. Kau kelelahan dan membutuhkan cairan. Minumlah.” Kata Jin Na yang memahami tatapan Jinhwan.

“Terima kasih.” Jinhwan langsung meneguk setengah air dingin yang ada di dalam botol tersebut. Lalu dia menyodorkan botol itu kepada Jin Na yang sekarang duduk di depan Jinhwan.

“Tidak. Aku sudah minum jus sayur terlalu banyak tadi. Ah…” Kata Jin Na menggigit bibirnya yang diikuti raut muka penuh penyesalan, teringat kejadian yang membuat Jinhwan marah. Jinhwan memahaminya.

“Maaf atas sikap kasarku tadi.” Kata Jinhwan memulai untuk berdamai.

“Tidak… Kau tidak perlu meminta maaf. Aku.. Aku yang terlalu ikut campur. Aku.. Aku tak seharusnya meminum jusmu tadi. Aku membuatmu marah dan… Kau dan teman-temanmu bertengkar. Kau… kau pasti kesal. Aku… sungguh…” Jin Na kehilangan kata-katanya ketika melihat Jinhwan cekikan pelan. Kerutan di dahinya keluar kembali pertanda Jin Na heran dengan sikap Jinhwan.

“Kau lucu sekali.” Kata Jinhwan sambil tersenyum tipis. Jin Na tertunduk malu. “Hei… mukamu memerah.” Cekikikan Jinhwan berubah menjadi tawa. Jin Na benar-benar malu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jinhwan menggodanya dengan menempelkan botol yang terisi air dingin ke punggung tangan Jin Na.

Tak tahan digoda, Jin Na merebut botol itu namun gerakan Jinhwan lebih cepat, membuat kedua tangan Jin Na lepas dari wajah merona yang ingin ia tutupi dan Jinhwan dengan leluasa dapat melihat wajah meronanya.

“Wah… mukamu merah seperti tomat. Kau tidak pernah digoda laki-laki sebelumnya atau kau tidak pernah pacaran sebelumnya?” Goda Jinhwan. Jin Na cemberut dan mengalihkan pandangannya dari Jinhwan, bahkan ia duduk membelakangi Jinhwan.

“Tidak sopan.” Kata Jin Na kesal. Jinhwan menghentikan tawanya. Sadar bahwa sikapnya sudah keterlaluan.

“Maaf…” Kata Jinhwan tulus. Jin Na tetap pada posisinya. Tiba-tiba ponsel Jinhwan berdering. Jinhwan segera mengangkatnya. “Ya, Hanbin. Aku terjebak. Anjing itu masih menunggu di depan. Ya, aku tidak apa-apa. Siapa yang menolongku?” Jinhwan berhenti sejenak ketika Hanbin menanyakan siapa yang telah menolongnya dan menatap punggung Jin Na. Jinhwan berpikir sejenak. “Ya, Hanbin. Si tomat merah yang menolongku.” Kata Jinhwan akhirnya. Jin Na langsung memutar duduknya dan memasang wajah semasam mungkin kepada Jinhwan. “Nanti kau kuhubungi lagi ketika aku telah keluar dari tempat ini. Bye.” Jinhwan menutup panggilannya dan tersenyum tak bersalah kepada Jin Na.

Jin Na masih cemberut, “Minggir!” Katanya dengan nada kesal. Jin Na membuka sedikit pintu untuk mengintip anjing itu sedangkan Jinhwan tersentak karena sebelum Jinhwan menyingkir dari pintu yang sedari tadi dibuat sandarannya, Jin Na sudah menarik paksa pintu itu.

Jin Na lalu keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Rupanya anjing itu sudah pergi tanpa mereka sadari. Jinhwan mengikuti Jin Na dan tetap waspada menengok kanan kiri apabila anjing itu tiba-tiba menyerang mereka.

Jinhwan masih mengikutinya dan Jin Na tetap diam seribu bahasa. Hingga Jinhwan tidak sadar bahwa ia mengikuti Jin Na ke tempat yang tidak begitu dikenal Jinhwan. Jin Na tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, Jinhwan buru-buru menghentikan langkah kakinya juga, takut akan menabrak punggung Jin Na. Tanpa bicara, Jin Na menunjuk ke samping kiri. Jinhwan mengikuti jari telunjuk Jin Na yang mengarahkan pada sebuah papan seperti rambu-rambu lalu lintas dengan gambar siluet laki-laki yang dicoret dengan garis miring, yang terdapat tulisan “KAWASAN HANYA UNTUK PEREMPUAN. LAKI-LAKI YANG MENCOBA MENEROBOS MASUK, BERSIAPLAH “ITUNYA” AKAN DICINCANG”

Rupanya Jinhwan tanpa sadar telah mengikuti Jin Na hingga sampai di tempat tinggal perempuan. Oleh karena itu, Jinhwan begitu asing dengan tempat itu. Mengingat Jinhwan baru sampai di wilayah itu kemarin sore dan dia belum sempat berkeliling karena harus fokus dengan tugas terlebih dahulu. Jinhwan syok melihat tulisan itu dan spontan dia memegang area vitalnya. “Sial…!!!” Jinhwan pun berbalik arah dan lupa akan tujuannya untuk menggoda Jin Na kembali. Jin Na tersemyum tipis melihat kelakuan Jinhwan. Dengan segera Jinhwan lari terbirit-birit menjauh dari kawasan perempuan itu.

“Hei.. tomat merah!” Teriak Jinhwan dari jarak yang lumayan jauh. Jin Na yang akan menutup pagar dari kawasan perempuan itu diurungkan dan memasang wajah masam kembali. “Bersiaplah tersipu kembali. Aku suka wajah meronamu itu. Bye!” Teriak Jinhwan sambil lalu.

Lalu bagaimana dengan Jin Na? Ia terpaku dengan kata-kata Jinhwan. Lalu ia memegang pipinya yang terasa hangat.

“Mengapa bisa sehangat ini?” Tanya Jin Na bingung kepada dirinya sendiri.

>E

Hari kedua Jinhwan dan teman-temannya melakukan penelitian di sebuah desa terpencil yang cukup jauh dari kota. Yup, penelitian tentang gizi warga sekitar dan pengetahuan mereka tentang cara menjaga kesehatan. Untuk alumni di kampus Jinhwan yang ingin menambah wawasan dan pengalaman, mereka dapat mengikuti kegiatan sosial itu selama 3 minggu di sebuah wilayah terpencil yang minim pengetahuan warga tentang kesehatan. Kegiatan itu diikuti oleh 10 alumni termasuk Jinhwan, yang terdiri dari 7 alumni laki-laki dan 3 perempuan. Untuk mengikuti kegiatan sosial itu, mereka harus melalui beberapa tes dan bersaing dengan teman-teman mereka yang lain. Jinhwan bersyukur bisa menjadi salah satu yang terpilih karena ia tahu tidak mudah untuk lolos dari serangkain tes dan saingan-saingannya.

Di sinilah Jinhwan dan teman-temannya. Mereka sudah siap untuk terjun ke wilayah lain dari desa itu tapi sebelum itu, mereka harus berkumpul terlebih dahulu untuk berdiskusi membagi pekerjaan antar divisi. Di perjalanan menuju balai dimana mereka akan berdiskusi, yang juga merupakan tempat dimana Jinhwan menjadi pemarah seperti kemarin, teman-teman Jinhwan yakni Bobby, Hanbin, Yunhyeong, Chanwoo, Junhoe, dan Donghyuk menggoda Jinhwan yang lari terbirit-birit. Jinhwan juga dipaksa bercerita tentang si tomat merah. Sambil tersenyum penuh arti, Jinhwan hanya menjawab sekedarnya membuat teman-temannya penasaran dengan si tomat merah.

“Kau pelit sekali, hyung. Ceritakan pada kami siapa si tomat merah itu.” Pinta Hanbin dengan memelas.

“Tidak.” Kata Jinhwan sambil menggelengkan kepalanya.

“Ya… pendek! Tidak ada ruginya kau bercerita.” Bobby mulai kesal. Jinhwan tetap menggeleng. Meski diejek, Jinhwan tidak pernah marah. Baginya, mereka seperti itu karena mereka perhatian dengannya.

Tiba-tiba langkah Jinhwan terhenti. Pandangannya lurus ke depan. Terlihat seorang perempuan dengan rambut panjang yang digerai begitu saja sedang berdiri di depan kios. Begitu manis di mata Jinhwan dengan memakai rok mini selutut dan blus berwarna putih tulang. Angin sepoi-sepoi menerpa rambutnya kemudian jarinya bergerak, menyelipkan beberapa helai rambut yang diterpa angin ke belakang telinga kanannya. Perempuan itu membuka tas kecil yang berada di bahu kanannya lalu mengecek ponselnya, mungkin membaca pesan atau apa hingga perempuan itu tersenyum tipis dan memasukkan lagi ponsel itu ke dalam tas kecilnya. Cantik, gumam Jinhwan.

Kemudian dua perempuan lain keluar dari kios dan menepuk bahunya. Dia tersenyum dan menerima minuman yang diberikan oleh teman-temannya. Jinhwan begitu terlena dengan pemandangan pagi itu. Ingin rasanya setiap pagi dia menemui perempuan itu.

“Hei, Jin Na.” Sapa Yunhyeong. Jin Na menoleh dan melambaikan tangannya. Tersenyum bahagia seperti baru pertama kali bertemu dengan Yunhyeong dan teman-temannya, termasuk Jinhwan. Ketika Jin Na menatap Jinhwan, senyumnya tiba-tiba hilang dan tidak melambaikan tangannya lagi. Jin Na memalingkan mukanya dan mulai bercakap-cakap dengan Yunhyeong.

“Pagi, Jinhwan sunbae.” Sapa Choi Min Ah dengan ramah. Jinhwan membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum kepada Min Ah. “Bagaimana kabarmu pagi ini sunbae?”

“Tidak begitu buruk.” Jawab Jinhwan. “Kau sendiri?”

“Keadaanku baik, sunbae.” Jawab Min Ah dengan tersenyum. Sebelum Min Ah mengatakan sesuatu, Jinhwan berjalan mendahulinya, mengurungkan niat Min Ah untuk bercakap-cakap dengan Jinhwan.

“Keburu siang. Bisakah kita tidak berbicara santai seperti ini?” Tanya Jinhwan tiba-tiba.

“Baiklah.” Sahut teman-temannya dan mempercepat langkah kakinya menuju balai pertemuan.

“Haruskah kita buru-buru?” Bisik Junheo kepada Chanwoo

“Jinhwan hyung tidak biasanya berkata seperti itu.” Sahut Chanwoo.

“Iya. Dia biasanya memanjakan kita.” Tambah Donghyuk sambil mempraktikkan sikap manjanya kepada Chanwoo yang dibalas dengan tatapan jijik.

“Aku mendengar pembicaraan kalian.” Sindir Jinhwan sambil melirik mereka bertiga. Bukannya takut, mereka malah cekikikan. Hanbin lalu merangkul pundak Jinhwan.

“Pagi ini begitu cerah, hyung.” Hibur Hanbin sambil menatap langit biru. “Sangat disayangkan bila kau terus membawa hawa gelapmu kemari.” Katanya sambil menatap mata Jinhwan. “Lebih baik kau ceritakan pada kami tentang tomatmu itu.” Teman-teman Jinhwan tertawa serempak. Jinhwan benar-benar dibully oleh para dongsaengnya.

Di balik kecerian itu, seorang gadis sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam, khawatir apabila pipinya yang merona terlihat oleh teman-temannya, termasuk Jinhwan.

>E

Di balai pertemuan, mereka berdiskusi dan di sinilah Jinhwan. Berada di wilayah yang paling ujung dan jauh dari tempat tinggal sementaranya, Jinhwan menghembuskan nafas berat dan panjang.

“Tak perlu mengeluh, sunbae.” Kata Jin Na sambil menatap sekeliling. Jinhwan menatapnya kesal. “Kau sendiri yang mengusulkan untuk berada di tempat ini. Kau berargumen dengan mereka bahwa wilayah yang paling ujung pun harus kita teliti, harus kita beri penyuluhan dan pengetahuan tentang kesehatan.” Tambah Jin Na sambil mendongkakkan sedikit kepalanya ke arah Jinhwan yang berada di samping kirinya. “Kau begitu ngotot ketika Yunhyeong menolak argumenmu untuk melakukan hari ini karena bisa ditunda untuk dilakukan di minggu depannya dan bersama-sama melakukan penelitian di wilayah ini. Tapi kau terus ngotot dengan alasan minggu depan kita bisa beristirahat dan bisa liburan. Yaa.. Di sinilah kita.” Jelas Jin Na.

Jinhwan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Apa yang dikatakan Jin Na benar adanya. Diskusi yang semakin panas tadi akhirnya harus divoting dan argumen Jinhwan yang diterima oleh teman-temannya tetapi Jinhwan tidak menyangka bahwa dia juga harus meneliti di tempat nan jauh ini.

“Kau juga tidak mengeluh harus meneliti bersama aku dan Jin Na kan hyung?” Tanya Hanbin hati-hati, mengingat kejadian ketika Jinhwan marah. Jinhwan hanya menggeleng pasrah. “Syukurlah…” Kata Hanbin lega. “Aku juga tidak tahu mengapa mereka menunjuk ku untuk menemani kalian.” Keluh Hanbin.

“Kau mulai mengeluh.” Kata Jinhwan.

“Bukan begitu, hyung. Kalian sudah dewasa dan bisa menjaga diri masing-masing bukan?” tanya Hanbin hati-hati. “Mereka hanya khawatir kau marah-marah lagi dan meninggalkan Jin Na di tempat tak kenal ini sendirian.” Cengir Hanbin. Jinhwan menjitak Hanbin. “Awww….” sambil mengusap kepalanya.

“Aku tidak seburuk itu.” Bela Jinhwan. Jin Na tersenyum melihat kelakukan mereka. “Baiklah mari kita lakukan apa yang kita bisa hari ini.” Kata Jinhwan bersemangat.

“Yosh!!” Hanbin membalasnya dengan penuh semangat.

Door to door. Itu yang dilakukan mereka. Mengamati keadaan rumah warga dan lingkungannya, meminta warga untuk mengisi kuisioner kesehatan, dan memberikan susu bubuk untuk dikonsumsi balita. Lelah? Tidak. Mereka bahagia bisa berbagi dengan warga sekitar, mendengarkan keluh kesah mereka, tertawa bersama, dan tentu saja merasa prihatin dengan warga yang hidupnya serba kekurangan.

“Ahh… Leganya sudah usai.” Kata Hanbin melepas lelah sambil berbaring di sebuah dipan dekat lapangan terbuka.

“Iya. Warganya juga baik dan ramah. Kita dibawakan berbagai makanan dan minuman padahal hidup mereka masih memprihatinkan.” Sahut Jin Na sambil menatap banyak kantong plastik di sebelahnya. Jinhwan hanya mengangguk setuju.

Ponsel Jinhwan berdering. Han Sa Rang calling. Dia mengabaikan panggilan itu lalu ikut berbaring di antara Hanbin dan Jin Na, menikmati indahnya matahari tenggelam tanpa terhalang gedung-gedung tinggi. Tak lama kemudian ponsel Jinhwan berdering kembali. Han Sa Rang calling, lagi. Dan Jinhwan mengabaikannya lagi.

“Hanbin, bisakah kau mengambil video matahari tenggelam itu? Aku tidak seberapa handal untuk melakukannya.” Pinta Jin Na.

“Tentu saja.” Jawab Hanbin dengan senang hati.“Lagipula sayang sekali jika momen sebagus ini tidak diabadikan.” Hanbin lalu mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan mulai merekam.

“Yaa… Song Jin Na! Memangnya kau punya keahlian yang keren?” Ejek Jinhwan. Jin Na langsung menatapnya dengan tajam. Di saat lelah, Jinhwan malah memancing perkara.

“Yaaa!!! Kau malah lari terbirit-birit dikejar anjing!!” Balas Jin Na tajam. Jinhwan syok dengan ejekan Jin Na. “Kau memang keren sunbae!! Tapi sikapmu sungguh tidak keren! Aku heran dengan Min Ah dan Yerin begitu tertarik denganmu. Setiap akan tidur, mereka berharap bertemu denganmu di mimpi. Heol!! Omong kosong macam apa itu?! Jika mereka tahu betapa takutnya kamu dikejar anjing itu, mungkin mereka akan mengusirmu dari mimpi mereka.” Balas Jin Na sengit, tidak mau kalah dengan Jinhwan. “Padahal Hanbin lebih keren daripada kamu.” Jinhwan langsung mengambil posisi duduk, sejajar dengan Jin Na.

“Yaaaa!!! Kau tomat merah!! Hanbin tidak akan mau denganmu. Pede sekali. Jika ia tahu pipimu yang bersemu merah seperti tomat yang kepanasan itu, dia tidak akan menoleh kepadamu.” Balas Jinhwan tidak kalah sengit.

“Hyung…. hyu…” Hanbin berusaha melerai pertikaian mereka dengan mengambil posisi tengah di antara mereka. Hanbin kebingungan melerai mereka.

“Lebih baik Min Ah yang anggun atau Yerin yang imut itu. Aku ragu kau perempuan atau tidak. Tidak ada anggunnya sama sekali.” Ejek Jinhwan.

“Yaaa!!! Kau pilih saja mereka. Pacari saja mereka!!! Aku memang tidak anggun. Tidak imut. Terserah!! Itu otak hanya bisa judge dari penampilan saja. Aku ragu pacarmu akan bisa bertahan denganmu!!”

“Jin Na.. Jin Na…” Hanbin masih berusaha melarai.

“Yaaaaaa!!!!” Keduanya berteriak tepat di kedua telinga Hanbin. Akhirnya Hanbin menyerah dan mengambil sesuatu dari dalam kantong plastik.

“Dinginkan kepala kalian dulu.” Kata Hanbin kesal sambil menempelkan botol minuman dingin di kepala masing-masing temannya yang sedang bertengkar itu. “Hyung, hentikan. Aku tahu kau lelah, kita juga lelah. Mengertilah. Tak perlu bertengkar seperti itu. Lalu kau Jin Na…” Hanbin menghentikkan kalimatnya dan menatap Jin Na lekat-lekat. “Terima kasih telah mengatakan aku keren. Aku sangat tersanjung tapi tak perlu kau tanggapi perkataan hyungku yang seperti itu. Meski kau tidak anggun dan tidak imut, kau wanita tangguh yang pernah aku keanl.” Kata Hanbin akhirnya. “Kalian berdua berhenti bertengkar oke?!” Perintah Hanbin lalu mengecek ponselnya yang rupanya tadi telah merekam langit sore dan terdengar suara Jinhwan dan Jin Na yang sedang bertengkar. “Aishhhh… aku kehilangan sunset gara-gara kalian. HUH!” Amuk Hanbin lalu pergi menjauh, meninggalkan kedua temannya yang merasa canggung setelah berdebat.

Jin Na hanya menunduk menatap botol minuman yang sekarang berada di pangkuannya sedangkan Jinhwan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari perut Jinhwan. Jin Na langsung menoleh dan bertemu dengan mata Jinhwan. Jinhwan hanya cengir, melihakan giginya yang putih dan tersusun rapi.

“Kau lapar?” Tanya Jin Na heran. Jinhwan hanya mengangguk. Jin Na mengambil kantong plastik dan mencari makanan yang sesuai. Mereka menikmati makanan sore itu dalam diam. Berkutat dengan pikiran masing-masing.

“Eh…” Tiba-Tiba Jinhwan memecahkan keheningan dan menatap Jin Na.

Waeyo?” Tanya Jin Na heran, menatap balik Jinhwan.

Jinhwan mendekatkan tubuhnya kepada Jin Na. Semakin dekat hingga Jin Na dapat merasakan hembusan nafas Jinhwan. Jin Na mengedipkan matanya berkali-kali. Apa yang akan dilakukannya? Mengapa sedekat ini? Apa yang harus aku lakukan? Pikiran Jin Na berkecamuk sedangkan Jinhwan semakin mendekat dan tangannya tiba-tiba menjulur ke kepala Jin Na. Oh, tidak! Apakah dia akan menciumku? Tidak! Tidak mungkin! Tapi, tapi apa yang dilakukannya? Jin Na menutup matanya rapat-rapat ketika Jinhwan semakin mendekatinya.

“Tadaaa….” Kata Jinhwan mengejutkan Jin Na yang langsung membuka matanya. “Lihatlah!” Jin Na menatap sesuatu yang dibawa oleh Jinhwan. Jin Na cemberut. “Tomat mungil ini mirip kau, Jin Na.” Jinhwan cekikikan.

“Kalau sunbae ingin main sulap, bermainlah dengan anak-anak TK. Aku tahu sunbae sudah membawa tomat itu sejak tadi ketika akan makan.” Kata Jin Na ketus.

“Tunggu sebentar.” Jinhwan tersenyum lalu melakukan hal yang sama kembali. Jin Na yang terlanjur sebal dengan sikap Jinhwan, hanya memasang wajah ketus. “Tadaaaa….” Kata Jinhwan sambil menunjukkan sekuntum bunga yang Jin Na tidak tahu namanya –mungkin bunga liar, pikir Jin Na– Tetapi sekuntum bunga tidak merubah sikap ketus Jin Na.

“Mari kita lihat. Apakah bunga ini cocok untuk tomat merahku?” Jinhwan berkata pada dirinya sendiri lalu menyematkan bunga itu di sela-sela daun telinga Jin Na.

FROZE.

Jin Na hanya menatap Jinhwan dengan mata bulatnya. Tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Jinhwan.

Jinhwan tersenyum puas. “Cantik.” Pipi Jin Na bersemu merah dan dia tidak bisa berpikir untuk menyembunyikannya. Sudah terlambat. Jinhwan menikmatinya. Menikmati pipi merona Jin Na. Sedangkan Jin Na masih menatap Jinhwan dengan ketidakpercayaan untuk beberapa saat yang kemudian dibuyarkan oleh dering ponsel Jinhwan.

Jinhwan menatap ponselnya. Eommacalling. Jinhwan menghembuskan nafas berat. Dia tidak ingin mengangkat panggilan itu tetapi apabila dia mengabaikannya….

“Angkatlah sunbae.” Kata Jin Na akhirnya. Jinhwan pun segera menekan tombol hijau pada layar ponselnya.

“Iya, eomma. Aku sedang berada di luar. Aku sudah makan. Eomma tak perlu khawatir. Iya, Sa Rang tadi menghubungiku tapi aku tidak bisa mengangkat panggilannya. Aku lelah, eomma.” Jawab Jinhwan ogah-ogahan. “Nanti aku akan meng-SMS-nya. Baik eomma.” Jinhwan menutup panggilannya dan meletakkan ponselnya begitu saja.

Mereka diam kembali. Berkutat dengan pikiran masing-masing. Tak tahu harus berbicara apa lagi. Jinhwan tidak menyukai suasana canggung seperti ini.

“Jin Na?”

“Hm?” Jin Na menunggu apa yang akan dikatakan oleh Jinhwan.

“Ah.. tidak.” Kata Jinhwan mengurungkan niatnya untuk mengucapkan sesuatu kepada Jin Na.

“Katakan jika kau ingin mengatakannya, sunbae.” Jin Na masih menunggu tetapi Jinhwan hanya menggeleng. “Baiklah.” Jin Na berdiri dan mengambil kantong plastik.

“Kau akan kemana?”

“Tentu saja kembali, sunbae. Hanbin menunggu kita di tempat tadi. Jemputan kita sudah datang.” Jin Na melangkahkan kakinya kemudian disusul Jinhwan.

“Biar aku yang membawa ini.” Kata Jinhwan sambil mengambil kantong plastik yang dibawa Jin Na.

“Gomawo.”

>E

Jin Na mondar mandir ke balai pertemuan lalu berjalan ke homestay teman laki-lakinya tetapi belum sampai di gang menuju ke homestay, Jin Na berjalan menjauh. Hampir seminggu setelah pulang dari penelitian, dia tidak melihat Jinhwan. Tidak ada kabar darinya. Tugas yang berbeda dan kesibukan melakukan penelitian membuat Jin Na tidak bisa bertanya kepada teman laki-lakinya tentang keberadaan Jinhwan. Jin Na juga tidak terbiasa untuk menanyakan kabar lewat ponsel. Yang bisa dilakukan Jin Na selama seminggu itu hanya melihat dari kejauhan, berharap Jinhwan akan muncul dengan kejutan yang biasa ia lakukan kepada Jin Na.

Jin Na menghela nafas, “Apakah mungkin dia sakit? Tetapi selama itukah? Kalau tidak sakit, mengapa dia tidak pernah muncul?” Kata Jin Na berkata pada dirinya sendiri.

Ponsel Jin Na tiba-tiba berdering. SMS dari nomor yang tidak ia kenal. Jin Na tersenyum membacanya.

Hei, tomat merah. ( ^ v ^ )

Jin Na ingin membalasnya tetapi mengingat Jinhwan yang tak kunjung muncul, diurungkan niat itu. Jin Na terlanjur kesal.

Kau marah? Ah… bukan. Kau pasti sedang merindukanku.

“Percaya diri sekali.” Kata Jin Na sinis. Dia pun membalas sms Jinhwan dengan singkat.

Jin Na: Kapan kau kembali?><

Jinhwan: Kau pasti sudah sangat merindukan aku (^.^) Aku akan tiba dalam hitungan 3..2..1. Aku berada di depanmu.

Seketika itu juga Jin Na memandang sekeliling tetapi dia tak melihat seorang pun.

Kau berbohong.

Setelah menunggu beberapa saat tak ada balasan dari Jinhwan, Jin Na pun pergi. Kecewa. Di tempat lain, dua orang sedang mengamati gerak gerik Jin Na. Setelah Jin Na pergi, Yunhyeong melepaskan Jinhwan yang sedari tadi dipegang begitu erat hingga Jinhwan tidak dapat bergerak.

“Hentikan semua itu, hyung.” Kata Yunhyeong tegas. Jinhwan hanya menggeleng lemah. “Kau hanya akan menyakiti dia dan Sa Rang, hyung.”

“Kau tak mengerti, Yunhyeong.”

“Karena aku mengerti, maka aku memintamu untuk menghentikan semua ini sebelum terlambat.

“Sudah terlambat, Yunhyeong.”

“Belum, hyung. Belum jika kau menghentikannya sekarang. Hentikan pengakuanmu kepada Jin Na. Hentikan perasaanmu kepadanya. Ingat, acara pertunanganmu tinggal 2 minggu lagi. Kau tak bisa membatalkannya.”

“Aku bisa, Yunhyeong.”

“HYUNG!” Kecam Yunhyeong. Jinhwan membisu. “Jika cintamu kepada Sa Rang mulai memudar, ingatlah kembali ketika pertama kali kalian bertemu. Betapa Sa Rang begitu mengorbankan semuanya untukmu sejak appamu tiada.” Yunhyeong tercekat. Yunhyeong sebenarnya tak ingin mengatakan sesuatu yang dapat mengingatkan Jinhwan tentang appanya yang meninggal 2 tahun lalu karena kanker tetapi jika itu dapat menyadarkan Jinhwan tentang keputusan yang dianggapnya bodoh, apa boleh buat.

“Aku terlanjur menyukainya, Yunhyeong. Aku memperhatikan dia sebelum kita berada di tempat ini. Aku selalu melihatnya tetapi dia tidak pernah memandangku. Memalingkan wajahnya pun tidak. Ketika dia bersemangat di acara ini, ketika dia membantu warga sekitar, ketika dia mendengarkan keluh kesah warga, aku selalu memperhatikannya dan rasa sukaku semakin bertambah. Lalu ketika ia merasa malu, dia akan menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan pipinya yang merona. Aku ingin melihatnya setiap saat, Yunhyeong. Dan kejadian itu datang.” Kata Jinhwan sambil menerawang kembali ingatannya. “Aku tidak menyukai ketika ia hanya memandang teman-teman yang lain. Aku begitu kekanak-kanakan. Aku iri dengan kalian. Aku iri dengan perhatiannya kepada kalian.” Jinhwan menatap Yunhyeong dengan nanar.

Yunhyeong syok mendengar pengakuan Jinhwan yang begitu dianggap paling dewasa dan memahami teman-temannya ternyata di balik semua itu. Yunhyeong membisu. Pikirannya berkecamuk. Tak tahu harus berkata apa. Yunhyeong mengira dia mengerti tentang Jinhwan namun Yunhyeong sama sekali tak bisa memahaminya.

“Lalu apa yang akan hyung lakukan?”

“Entahlah, Yunhyeong.”

>E

Seminggu dilalui dengan keceriaan. Yunhyeong dan Jinhwan melakukan berbagai aktivitas seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Jinhwan dan Jin Na masih menjalin hubungan. Jinhwan meminta maaf dengan tulus karena telah membohongi Jin Na waktu itu. Jinhwan memberikan 5 kilogram tomat merah kepada Jin Na sebagai permintaan maaf yang dibalas dengan perang tomat bersama teman-temannya.

Cukup lama mereka perang tomat, akhirnya permainan itu disudahi. Hari menjelang malam dan besok pagi mereka harus pergi dari tempat itu. Jinhwan dan teman-temannya membersihkan bekas perang tomat mereka.

Jin Na berjalan mendekati Jinhwan, “Terima kasih, sunbae.” Jinhwan membalasnya dengan senyuman.

“Terima kasih juga sudah merindukanku.” Kata Jinhwan sambil tersenyum menggoda. Jin Na tersenyum. “Kau sungguh merindukanku?” tanya Jinhwan tidak percaya. Jin Na hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. “Hei, katakan kalau kau merindukan aku.”

“Yaa.. sunbae. Haruskah aku mengatakannya dengan jelas?” Tanya Jin Na pura-pura marah.

“Tidak.” Jawab Jinhwan dengan riang yang disusul dengan memeluk Jin Na secara tiba-tiba.

Sunbae…” Jin Na kaget.

“Terima kasih sudah benar-benar merindukanku.” Jinhwan mengeratkan pelukannya kepada Jin Na hingga Jin Na merasa hangat dalam dekapan Jinhwan.

Sunbae?”

“Hm?”

“Apakah ini pelukan perpisahan?” Pertanyaan Jin Na membuat tubuh Jinhwan membeku. Dia tak sanggup berkata-kata lagi.

>E

“Oppa. Oppa.” Kata Han Sa Rang membuyarkan lamunan Jinhwan. “Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak menikmati pesta pertunangan kita?” Tanya Sa Rang cemberut. Jinhwan tersenyum menatap tunangannya. Dibelainya kepala Sa Rang dengan lembut.

“Tidak. Hanya saja aku merasa canggung di tengah keramaian dan sorotan mata para tamu.” Kata Jinhwan menenangkan Sa Rang. “Lebih baik aku mencari udara segar dulu di luar.”

Jinhwan berjalan keluar rumahnya yang ramai dengan para undangan. Hari ini Jinhwan resmi bertunangan dengan Sa Rang dan memilih tidak mengatakan apapun kepada Jin Na. Dua hari setelah pulang dari tempat penelitian, Jinhwan masih berhubungan dengan Jin Na bahkan mereka sempat menghabiskan waktu bersama.

Sa Rang mengetahui hubungan Jinhwan dengan Jin Na tetapi Sa Rang tidak marah. Dia hanya diam menatap Jinhwan lalu satu demi satu air matanya menetes. Jinhwan memeluknya dan meminta maaf. Dan di sinilah Jinhwan. Bertunangan dengan Sa Rang tanpa menjelaskan apapun kepada Jin Na.

Hati Jinhwan begitu sakit. Dia merasa begitu serakah dan egois. Eomma dan tunangannya telah banyak berkorban untuk kebahagiaannya tetapi Jinhwan malah membuat semuanya rumit. Lalu bagaimana kabar Jin Na di sana? Jinhwan tak sanggup lagi membayangkan Jin Na.

Sunbae.” Suara Jin Na lirih tetapi Jinhwan mampu mendengarnya. Dia berjalan mendekati Jin Na. “Jangan mendekat lagi!” Suara Jin Na bergetar. Langkah Jinhwan terhenti.

“Jin Na?”

“Tak perlu kau jelaskan apapun, sunbae. Aku sudah memahaminya dengan baik. Aku memikirkan perasaanku selama beberapa hari.” Suara Jin Na tercekat. “Aku, aku yang terlalu percaya diri menganggap semua kebaikanmu itu karena kau, karena kau…” Jin Na tidak sanggup mengatakannya. Dia menggenggam jemarinya.

“Jin Na?” Jinhwan khawatir dan berjalan mendekatinya.

“Tidak, sunbae. Jangan mendekat! Aku mohon.Aku tidak ingin kau merasa kasihan denganku.” Jin Na menatap Jinhwan dengan nanar. Jinhwan ingin mendekap tubuh kurusnya.

“Maafkan aku, Jin Na.” Permintaan maaf Jinhwan membuat Jin Na semakin sakit.

“Tidak perlu meminta maaf, sunbae. Kau tidak bersalah. Kau berhak untuk mendekati siapapun. Kau berhak melakukan kebaikan kepada siapa pun, sunbae. Tetapi, jangan mendekat bila kau berniat untuk menghilang. Aku bukanlah payung yang hanya kau gunakan ketika hujan turun. Lalu kau letakkan begitu saja ketika matahari bersinar.” Jin Na berusaha sekuat tenaga membendung air matanya. “Bagiku, pertemuan itu tidak hanya terjadi ketika berteduh bersamamu.”

Hening.

“Kita memang tidak sejalan, sunbae. Aku, aku menyesal telah bertemu denganmu.” Air mata Jin Na menetes.

Tidak. Bukan seperti itu, Jin Na, batin Jinhwan.

Jin Na melihat Sa Rang mendekati Jinhwan dengan wajah bahagianya. Jin Na tidak mungkin merusak momen bahagia itu. Beberapa hari yang lalu ketika Jin Na menunggu kabar Jinhwan yang tak kunjung datang, Yunhyeong memberitahunya bahwa Jinhwan akan bertunangan.

Jin Na menangis berhari-hari memikirkan hari-harinya yang dilalui bersama Jinhwan. Dia sungguh tidak mengerti dengan sikap Jinhwan. Untuk apa Jinhwan berbuat sebaik itu jika pada akhirnya Jinhwan bertunangan tanpa menjelaskan apapun kepada Jin Na. Lalu apakah arti dari semua kebaikan itu. Jin Na hanya bisa menangis tanpa bisa menjawab semua itu.

Sebelum Jinhwan berjalan mendekati Jin Na, Sa Rang memegang lengan Jinhwan.

“Oppa, aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau berada di sini.” Kata Sa Rang lega. Dia tidak melihat Jin Na yang sudah berbalik, memunggungi Sa Rang yang menggandeng mesra tangan Jinhwan. “Masuk, yuk. Eomma sudah mencarimu. Katanya kau belum makan siang ini jadi kau terlihat lesu.”

“Ayo.” Kata Jinhwan sambil menautkan jemarinya dengan jemari Sa Rang.

Fin

Advertisements

11 thoughts on “[Season Of Love Project] O Unloved A

  1. Kenapa isti , kenapa kamu buat dedek jinhwan jadi orang yang pemarah padahal dia orang yang tidak bisa marah. Tapi gak papa kan gak harus sesuai sama karakter asli .
    Kenapa mereka harus dipertemukan kalau tidak bisa bersama, sumpah ini benar-benar nyesek .
    Jin na udah suka sama jinhwan dari awal pas dia minum jusnya jinhwan ? Tapi mereka malahan berantem hehehe , lucu sih cerita mereka.
    Good job isti , keep writing ya 😀 FF kamu kedua berhasil nih 👍

    Like

    1. Hehe.. Aku baca fakta2 ttg Jinhwan dia emg dewasa dan ga pemarah vinka tapi di sini sengaja bikin jinhwan seperti itu…
      Nah itu vinka.. Kebanyakan cinta emg ga dipertemukan utk bersama 😭 masih perlu belajar bnyk lg vinka. Terima kasih utk komentarnya😆

      Like

  2. hiiii L- ssi XD
    aku udah baca ffmu , ini ceritanya greget kkk si jinhwan tukang php T.T
    aku suka prolognya itu bgs bgt greget gitu.
    cuma aku kadang agak bingung sifatnya jinhwan di sini kayak agak labil XD abis marah terus baikan terus marah terus baikan lagi heheh
    lucu gitu heheh
    tp ga masalah ceritanya nyambung dan kamu ngejelasin pelan2 kenapa mereka saling menyukai meski si jinhwan udh punya tunangan T.T
    good job
    keep writing ya

    Like

    1. Semoga bisa keep writting fini :’) mengingat aku nulisnya moody.an 😂
      Thanks utk komentarnya, semoga fini sukaaa… Masih perlu belajar sama sesepuh2 mnjfanfiction hihi..
      Sengaja bikin Jinhwan labil fini😄😅 maafkan noona ya jinhwan…

      Like

  3. aku blm gitu ngeh sama personaliti anak iKon sih, tp membayangkan jinhwan jadi hyung yg suka marah2 gitu gapantessss kkk, tapi moral disini keambil banget, like ‘cinta itu kalo udah ada muaranya mau kemana juga bakal berakhir disana’ (eaaaaaa)
    and this is the longest fic I read for this project so far. keep writing!

    Like

    1. Cinta bisa bikin org yg pendiam jadi labil tingkah lakunya hihihi…
      Ga nyangka juga ternyta ffnya puanjaaaang.. Sempet syok liat halamannya bisa mencapai 15, padahal niatnya ga sepanjang ini ffku😂😂
      Terima kasih utk komentarnya riseuki.. Semoga bisa keep writting seperti kamu😆😉

      Like

  4. Hi L! Mianhae, aku baru baca ff kamu, karena ad insiden HP rusak dsttttt-___- jadi ga sempet utk baca semua ff di project. Wah jinhwan jadi pemarah disini 😦 jinhwan juga suka berubah perasaannya, kan kasian Jin Na nya :’))) oh ya, btw Apakah based on someone’s story? Hehe. Soalnya dari penjelasan penelitian itu keliatan rinci banget Dan kukira itu bner2 trjadi sblmnya :p #maafngaco. Ini ff kedua disini, saya tunggu utk ff ketiga, keempat DLL 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s