Family · February Project · FF Project · G · Genre · Greek Myth! AU · Length · One Shoot · Rating · sad

[Season Of Love Project] EL Recuerdo


Author : baekpear | Title : El Recuerdo

Cast : Chinese actor Han Geng and Soloist Zhang Li Yin | Genre : Greek myth! AU, Family, Sad | Length : Oneshot |Rating : General

“Aku merasa berdiri di suatu tempat yang lama telah kulupakan.” –Footstep, Emerald Castle–


Di sela perjalananku kini, ada banyak pohon pinus membentuk barisan rapat. Rantingnya saling berdesakan memenuhi udara. Batangnya menjulang kokoh dengan berpijak pada hamparan tanah. Menciptakan pemandangan hijau yang tak pernah menuai jemu. Hanya kepuasan indra penglihatanku yang mencapai tahap termanjakan.

Tubuhku mengisi ruang kosong dari barisan belakang kendaraan yang disewa Frank –asistenku. Sedan biasa yang cukup sepi karena pemuda berdarah China-Kanada itu memilih bungkam. Dia mengemudi dengan fokusnya. Sesekali melirikku lewat kaca tengah mobil. Mengamati tindakanku sebagai penikmat alam.

Aku pun tak banyak bicara. Aku ingin kesunyian. Aku perlu waktu untuk merenungkan hal-hal yang menimpaku akhir-akhir ini. Alasan kedatanganku kembali ke tanah kelahiranku. Aku ingin membuktikan bahwa kejadian-kejadian itu hanya ilusi semata. Dan tentu, akan kupastikan demikian.

Hampir sebulan ini aku diteror oleh sosok asing. Wanita bersurai gelap. Matanya sendu namun begitu memikat. Seolah aku pernah jatuh sangat dalam disana. Bibirnya kering. Gincunya telah pudar sejak lama. Kerutan diseputar keningnya menambah puluhan usia dari yang terlihat. Meski begitu, wanita itu tetap saja terlihat cantik. Mempesona.

Ia menghampiriku tanpa henti. Saat aku terbangun dan belum sadar sepenuhnya, ia berdiri di ambang pintu. Tersenyum, seakan memang itulah yang harus ia lakukan sejak dulu. Kalau saja aku ingat siapa wanita ini, mungkin aku akan sangat menikmati lekukan layaknya rembulan itu. Bukan merasa ngeri dan takut.

Kala diriku tengah berurusan dengan pekerjaanku, derap langkahnya membuntutiku. Berdentum-dentum, menciptkan ritme yang membuatku pening. Mengapa aku bisa tahu itu milik sang wanita? Entahlah, aku juga tak paham. Seolah bagian dari memoriku berusaha menormalkan hal yang tidak wajar. Berkata bahwa memang itulah yang seharusnya terjadi.

Wanita itu tak memberiku ruang untuk sendiri. Ia memburuku seperti bayangan. Disandingku, setiap aku menoleh, aku merasakan nafasnya menerpa kulit luarku. Di depanku, kala aku berkedip, matanya selalu berusaha mencuri titik tumpuku. Di belakangku, lengan kurusnya mencoba meraihku lebih dekat, mendekapku erat. Dingin, namun sensasinya bak candu yang ingin terus kunikmati. Seolah itulah yang menjadi tujuannya menggangguku. Membuatku tak bisa lepas akan keberadaan dirinya.

Kugali otak dangkalku. Mencoba mengingat, adakah wanita tersebut dalam kenanganku. Walau pun secuil, tak masalah. Yang jelas aku ingin memastikan bahwa perasaanku yang terbilang sangat aneh ini tertuju pada sosok yang jelas. Namun sekeras apa pun aku berusaha, sekeras itu pula aku dikecewakan. Tak ada. Tak pernah ada wanita itu dalam kehidupanku.

Aku menyakinkan diri bahwa itu semua hanya halusinasiku. Semua hanya permainan indra tubuhku. Segalanya termasuk rasa candu itu. Sayangnya batinku berontak. Bergemuruh tak terima akan keraguan yang diajukan sel-sel sarafku.

Perasaan tidak tenang itu memberiku mimpi buruk seminggu terakhir ini. Kepalaku seolah memiliki jantung kedua yang berdenyut semaunya. Membuyarkan konsentrasi yang kuperlukan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan kantorku. Menyiksaku dalam setiap perbuatan yang hendak kulakukan. Hingga keputusan itu turun dari benakku.

Suatu tempat yang sempat tergambar samar dalam ilusi buatan sang wanita. Aku mencoba mengingatnya tapi sia-sia. Beruntung ada asistenku, Frank Zhang yang entah bagaimana, menebak-nebak tempat itu. Ia bilang itu adalah kediamannya dengan sang ibu saat masih kanak-kanak. Letaknya tentu saja di tanah kelahirannya, China.

Tanpa pikir panjang kuikuti intuisinya. Aku benar-benar putus asa akibat tak menemukan jawaban hingga mengikuti angan-angan bocah yang tak jelas ini.

“Tuan Han, kita telah tiba.” Frank berucap. Ia lantas berderap untuk membukakan pintu bagiku.

Langit sore terbenam dibalik bangunan kayu itu. Lantainya, dindingnya, pagar dan segala aspek rumah tersebut didominasi oleh kayu. Dicat putih bersih dan corak-corak cerah sebagai elemen tambahan. Tamannya sedikit tak terawat. Banyak kembang mencuat kesegala arah, akar-akar merambat keluar potnya. Rumput liar menyembul sembarangan bahkan hampir menghilangkan jejak jalan setapak.

“Bagaimana kau bisa tahu persis jika ini rumah yang kumaksud, Frank? Aku bahkan tak menjelaskan begitu detail?” Mataku masih mengamati bagian atap rumah yang berwarna keemasan, ditempa mentari senja.

“Hanya sekedar menebak, Tuan.” Ia menundukkan kepalanya.

“Kurasa bukan sekedar tebakan yang beruntung.” Aku mencoba menggodanya. Selain tubuhnya yang kekar layaknya bodyguard, Frank tak lebih dari bocah bernyali ciut. Dan sangat menyenangkan bisa membuatnya panik.

Frank terlihat pucat. “Saya, sa–“

“Kau merindukannya ‘kan?” lanjutku. “Ibumu dan kenanganmu bersama di rumah ini.”

Ia menatapku seolah aku baru saja memberinya libur setahun penuh dan kenaikan gaji lima kali lipat tanpa syarat. Rupa terkejut yang begitu menggemaskan bagi pemuda berumur seperempat abad. Aku hanya mampu menggelengkan kepala saking gelinya.

Aku merangsek menuju pelataran rumah tersebut tanpa memerdulikan Frank. Ia yang sadar aku sudah melaju duluan, menyusulku dengan sedikit berlari. Alas kakiku bergesek dengan puluhan ilalang kuning. Sesekali memijaknya untuk mempermudah jalanku. Hingga aku tiba di beranda dan meneliti papan kayu berkenop yang menjadi jalur masuk rumah ini.

Sedikit ragu terselip, namun segera kuenyahkan. Aku sudah sampai sejauh ini. Mana mungkin aku sanggup kembali ke Kanada dengan tangan hampa? Membiarkan ilusi wanita itu mengacaukan hidupku lagi? Bah! Benar-benar pilihan terburuk.

Aku mengatupkan mata, menghalau debu. Bagian dalam bangunan ini benar-benar menyesakkan. Dan saat aku membuka mata, ada yang aneh pada diriku. Semuanya terasa familiar. Perabotan yang berbaris pada tempatnya mencengangkanku. Suasana yang begitu tenang namun menyimpan berjuta kenangan menghantam bilik ingatanku. Aku merasa berdiri di suatu tempat yang lama telah kulupakan.

Tanpa aba-aba, rasa bersalah itu merecoki isi pikiranku. Kepalaku seberat bola boling seketika. Sanggup membuatku terhuyung, hampir membentur dinding kayu. Beruntung ada Frank yang sigap menyanggaku.

“Tuan Han Geng, anda tak apa?” Lengannya menopang bahuku. Aku mengangkat tangan, tanda bahwa aku memang baik-baik saja. Pemuda itu melepaskan bantuannya dan segera mundur memberiku spasi untuk melihat-lihat kembali.

Tungkaiku menapak lebih dalam. Melewati segudang debu disepanjang dinding kayu. Lemari usang yang siap reot mematung saat aku menjadikannya tumpuan lengan. Diminimnya cahaya akibat sepetak jendela yang terkunci rapat, pupilku menilik liar. Berusaha keras menyesuaikan sinar redup seiring langkahku yang makin jauh.

Aku menangkap visi ruang gelap dengan meja panjang ditengahnya. Mirip meja makan. Apalagi empat kursi berjejer mengapitnya, makin menjelaskan fungsinya. Aku bisa merasakan benda-benda mati itu merindukan keberadaan mereka kembali digunakan. Bukan ditelantarkan hingga ngengat menggerogoti kaki rapuhnya.

Frank pasti juga merindukan kehangatan makan malam bersama keluarganya, sama seperti mereka, pikirku.

Segera kupalingkan tatapanku. Ada beberapa bilik lain yang harus kuamati. Ruang makan tadi cukup mengesankan dengan perkakasnya yang terasa memiliki memorinya sendiri. Tapi itu tidak membantu. Tak sesuai dengan tujuanku kemari untuk melacak tentang wanita itu. Ya, dia tak membuatku berhalusinasi disana.

“Kau yakin?” Suara pelan yang berhasil menarik perhatianku seketika.

Percayalah, aku tadi tak melihatnya. Wanita itu tak ada disana. Kursi paling ujung itu kosong. Keempat-empatnya tak berpenghuni. Aku yakin tak ada setitik pun cahaya yang mengindikasikan ada jalan keluar semacam pintu atau pun jendela. Ruang makan tertutup rapat. Dan ajaibnya, wanita itu kini duduk dengan anggunnya. Seolah ia telah memesan tempat itu bahkan sejak rumah ini belum diciptakan.

Matanya menusuk tepat pada milikku. Menghujaniku dengan ketakutan serta kerinduan, kombinasi yang benar-benar parah.

“Siapa kau? Mengapa kau selalu menggangguku? Apa hubunganmu denganku?” Kutumpahkan segala rasa penasaranku disana. Sebenarnya masih sejuta lagi, tapi kucoba sebisa mungkin tak terlihat panik.

Sang wanita hanya mengulas senyum sedingin belati perunggu. Seakan sanggup menjawab tumpukan pertanyaanku dengan hal sepele seperti itu. “Sayang sekali kau tak mengenaliku.” Tersirat penyesalan yang kentara di kalimatnya.

Demi apa pun yang bernafas di dunia ini, aku tak mengenalinya. Aku memang sudah tua. Hampir setengah abad. Tapi itu tak berarti ingatanku mulai payah. Memang dalam kasus tertentu, aku sering sekali ceroboh. Namun untuk kenangan sepenting serta seberharga ini, keterlaluan sekali jika aku melupakannya.

Aku mengeraskan raut wajahku. Setengah kesal dengan diriku sendiri, setengahnya lagi pada wanita yang bertele-tele ini. “Katakan siapa dirimu.”

Ia bangkit kali ini. Disertai senyuman mengerikannya itu. Satu hal aneh lagi yang kutemui. Halusinasi atau tidak, wanita itu kini berubah. Tubuhnya, wajahnya, surainya, dirombak total. Dalam sekejap dan itu jelas tertangkap sorot mataku. Ada kabut tipis yang menutupinya, tapi selebihnya semua nampak nyata. Wanita itu bertranformasi menjadi sosok lain.

Sosok yang membuatku tertegun. Nafasku tersendat. Aku mengenalnya.

“Bagaimana kalau begini, Han Geng?”

Bibirku serasa tersumbat pasir pantai yang membuat lidahnya kelu. Susah payah kugerakkan otot tak bertulang itu. Merangkai satu kata yang tersirat pertama dalam benakku. Hampir gagal saat sinar kuat matanya menegelupas satu per satu keberanianku.

“Li Yin.” sahutku lemah.

Aku berharap Li Yin tak mampu mendengar degup gila jantungku. Tak bisa kusimpulkan sebab mengapa sirkulasi darahku berlari begitu kencang. Takutkah, rindukah, terkejut mungkin? Semuanya terlalu masuk akal menjadi alasan.

“Bahkan setelah menjadi pria tua, kau tetap terlihat tampan.” Pujiannya dulu selalu berhasil melambungkan diriku. Tapi sekarang entah kenapa malah membuatku diburu rasa bersalah.

“Kemana saja kau selama ini?” Aku bertanya tak sabaran. “Tahukah kau aku hampir gila saat mencari keberadaanmu? Kau berkata akan segera kembali. Tapi apa? Bertahun-tahun kuhabiskan menunggumu yang tak kunjung tiba. Kau mengoceh tentang segala Mitologi Yunani dan Dewa Hantu yang melibatkan dirimu. Itu membuatku gila Li Yin! Aku, aku–”

Kalimatku terhenti. Heran akan arah pembicaraanku yang lepas kendali. Aku sendiri tak paham apa yang sedang kukatakan. Memori lain bermunculan saat aku berusaha saling mengaitkan. Masa lampau yang terpaksa dipendam memberontak lepas seperti semburan gunung berapi. Yang tentu saja membuatku kewalahan mengartikannya.

Li Yin. Kepergiannya. Kalimat terakhirnya sebelum ia sirna. Kedatangannya yang misterius. Mitologi Yunani. Aku menekan keningku yang bobotnya bertambah seribu kali lipat. Seolah tak sanggup menahan terjangan memori yang datang beramai-ramai.

Kilatan cahaya melintas di pikiranku. Begitu cepatnya, hingga aku merasa kosong untuk beberapa detik. Hanya beberapa sekon, sebelum semuanya terbuka lebar. Tirai luas yang menutupi separuh kenangan pentingku. Aku menatap Li Yin meminta penjelasan atau paling tidak persetujuan.

Tapi ia lagi-lagi tersenyum. Membiarkanku gila dalam tebakan tak berujung. “Benar, Han. Aku memang bukan manusia. Sudah kukatakan padamu sekali tapi akal sehatmu tak mampu menerimanya.” Li Yin tersenyum miris. “Aku Melinoe, Dewi Hantu.”

Tubuhku lemas seketika. Kuraih dinding terdekat sebagai penyangga. Kegelapan terasa makin mencekat. Ditambah sosok Li Yin yang memancarkan aura aneh kala ia mengatakan jati diri yang sesungguhnya. Seolah ribuan arwah tengah berjaga di sekelilingnya dan siap melumatku dalam sekali gempuran.

Aku mengutuk memori busukku. Aku menyumpahi pendapatku yang bersikukuh bahwa segala kejadian di depan mataku hanyalah fatamorgana. Karena semua itu runtuh kala aku mengingat apa yang terlupakan. Li Yin pernah mengatakan hal serupa. Dulu, dua dekade lebih dengan bibirnya sendiri. Dirinya yang sebenarnya. Fakta yang ia simpan selama kami saling menjalin kasih. Dan hal yang ia ungkapkan sebagai salam perpisahan.

Hal yang membuatku tak waras akibat merenungkannya.

“Tapi, aku datang bukan untuk mengingatkanmu tentang hal itu.” Gaunnya bersentuhan dengan jajaran kayu lantai saat ia mengambil langkah. Puluhan senti dibabat cepat dengan langkah tak kasat matanya. “Dimana Lay?”

Kalimatnya tenang namun menusuk dalam tepat pada inti memoriku. Aku mendongak seketika. Terkesiap akan pertanyaan yang diajukan Li Yin dalam rupa kalemnya. Aku mengatupkan ujung jariku yang bergetar gelisah. Berusaha menormalkan detak jantungku yang berdegup keluar tempo. Lekas kubuang pandangku kala Li Yin mengawasi setiap ruang gerakku.

“Dimana putraku, Han Geng?” Nadanya meninggi. Siap menyemburkan sejuta amarah.

Sekarang aku mirip bocah autis yang gelisah tanpa sebab. Sebenarnya bukan tak beralasan, aku berjuang keras menghalau memoar yang benar-benar mustahil. Kenangan itu muncul dengan tidak sopan dan memintaku memercayainya. Tapi jelas saja itu tidak mungkin. Aku tidak segila itu untuk melakukannya.

“Jadi memang benar.” Raut kecewa Li Yin meremukkan batinku. “Kau membunuhnya. Kau membunuh Lay.”

Tubuhku seperti dibakar api tak terlihat. Panasnya menjilat lapis luar kulitku. Menyisahkan sensasi terbakar yang sanggup membuatku meraung tertahan. Seharusnya aku sadar lebih awal mengenai rasa bersalahku yang meminta latar belakang. Bukannya dengan peringatan Li Yin yang melucuti nyaliku seperti ini.

Ragu, kutelisik kembali sejarahnya. Bocah manis berlesung pipi yang senyumnya begitu mirip dengan milik Li Yin. Bedanya, seribu kali lebih hangat dan haus kasih sayang. Surai lurusnya dimodel cepak, bergoyang lembut kala ia berlari. Tawanya adalah yang terbaik dari makhluk mana pun. Ucapan polosnya jauh lebih menenangkan dari kenikmatan dunia.

Kesalahan terbesarku adalah tak menjaganya. Aku terlalu sibuk dengan gejolak batinku sendiri. Berkutat dengan akal sehatku yang tak sanggup menerima kenyataan dari diri wanitaku. Hingga kegilaan membutakan mataku. Aku tak mampu menerima putraku sama seperti sebelumnya. Aku mengira telah memperanakkan seorang monster.

Aku melarikan diri dengan pengecutnya.

“Kupikir setelah kau menginginkanku untuk kedua kalinya, aku bisa mempercayaimu. Kau berbeda dari manusia lainnya. Aku bahkan menunjukkan identitasku yang sesungguhnya padamu. Tapi–“ Li Yin mendesah berat. “kau menamparku cukup keras dengan tindakanmu. Aku bahkan tak sadar akan keberadaan Lay yang sudah berwujud roh. Berkeliaran mencari orang tuanya.”

“Li Yin maafkan aku.” Tenggorokanku tercekat seolah menghirup asap dalam jumlah besar. “Aku benar-benar bodoh masa itu. Aku–“

“Aku yang bodoh.” selanya. “Memenuhi keinginanmu memilikiku untuk kedua kalinya adalah hal yang dilarang. Tapi aku tak tega denganmu yang mengurus putra kita seorang diri. Aku menemuimu dan membeberkan siapa diriku agar kau tak bertanya-tanya tentang keberadaanku saat nanti kita berpisah. Ekspektasiku terlalu tinggi rupanya.”

Aku mengerjap lemah. Mendengarkan kata demi kata yang lolos dari bibir Li Yin, menguras energiku. Memoriku seperti diaduk dan dipaksa untuk mengulang kembali masa-masa yang telah dibuangnya. Hampir saja limbung akibat efeknya yang tak main-main. Beruntung ada dinding kayu yang bersedia menegakkan tubuhku kembali.

Hingga potongan gambar itu terbentuk dalam angan-anganku. Aku ingat kala kerinduanku akan Li Yin tak terbendung. Bermalam-malam kuhabiskan untuk membayangkannya berada disampingku. Berharap ia juga merindukanku dan kembali setelah sekian tahun meninggalkanku begitu saja bersama Lay.

Li Yin memang kembali. Singkat, namun cukup untuk menyalurkan emosi yang telah terbangun kuat sejak ia pergi. Ia bilang juga merasakan persis seperti yang kurasakan. Hanya saja Li Yin tak bisa sesering itu untuk menjumpaiku. Ia menunggu waktu yang tepat. Dan aku tak mengerti definisi ‘waktu yang tepat’ miliknya. Karena hampir setiap hari aku merindunya, mengharapkannya tinggal bersamaku selamanya. Bukankah waktu yang tepat itu seharusnya tiba cukup sering? Mengapa ia harus menunggu?

Entahlah, aku tak pernah sanggup memahaminya. Terlebih kala ia mengucapkan fakta paling mustahil yang pernah ditangkap indra pendengaranku. Mengakui bahwa dirinya seorang Dewi. Dan mengucapkan selamat tinggal setelahnya. Membuat akal sehatku berulah dan menimbulkan malapetaka.

“Aku tak bisa memaafkanmu.” ucapnya getir. “Aku bahkan lebih memilih bawahanku –para roh– untuk membesarkan putra kedua kita ketimbang dirimu.”

Kalimat Li Yin berhasil memancing atensiku kembali. “P-putra kedua?”

Untuk kesekian kali dalam hari ini, aku merasa bak bayi baru lahir yang buta akan keberadaan dunia. Bertanya-tanya akan apa yang terjadi setelah sekian lama diapit kegelapan. Menerka-nerka dengan keterbatasan nalarku, yang tentu saja tak membuahkan banyak hasil. Anak kedua kami? Li Yin tak pernah menyinggung hal itu sebelumnya. Dan jika ia sampai memilih anak buahnya untuk mengasuh putra kami, bisa kubayangkan seberapa besar ia membenciku.

Bukannya mengatasi rasa heranku, Li Yin malah menampilkan pandangan kosong. Seolah ia begitu benci membeberkan fakta itu di hadapanku. Para antek-antek gaibnya menggeliat, menungguku selesai menafsirkan segalanya dan melahapku sebagai makan malam mereka.

“Ayah.”

Aku memutar cepat leherku. Di balik punggungku, ada sosok Frank dengan nyala lilin di telapaknya. Sinar redup memberiku sedikit kelegaan. Aku berusaha mencari sumber suara barusan, tapi hanya ada asistenku disana. Mematung di tengah pandanganku, seolah menantiku memastikan sesuatu.

Sepersekian detik, aku merasa bodoh karena terlambat menyadarinya.

“F-frank? Frank Zhang? Putraku?” ucapku terbata. Kulihat sudut bibirnya berkedut, bersikeras menahan ulasan senyum bahagia. Meskipun kelegaan jelas terpeta disana.

“Ia mendekatimu, bukanlah sebuah kebetulan. Putraku berjanji untuk membuatmu sadar akan dirimu di masa lalu. Mengingatkanmu akan kepahitan yang dialami kakaknya.” Li Yin berseru. “ Ia tumbuh dalam kegelapan. Dan ditakdirkan untuk melepaskan pembalasan.”

Sosok Li Yin berubah-ubah menjadi beberapa wanita berbeda. Kabut tipis berpusing di sekeliling tubuhnya. Keberadaan para arwah makin menambah kekuatan yang terpacar dalam auranya. Ia menampakkan banyak wajah yang tak kukenali. Semuanya menusuk penglihatanku dengan sorot tidak suka.

Li Yin bahkan memperlihatkan rupa Lay. Mata sendunya yang menuntunku untuk merasakan rasa sakit yang sama, seperti yang ia alami. Tungkaiku melemah seketika. Lututku membentur lantai. Begitu pula tangisku yang terlalu lama dikekang, mulai mencari jalan mereka untuk terjun bebas.

“Bunuh dia, sayang.” Li Yin berucap datar. Sia-sia usahaku mencari belas kasihan disana, karena Li Yin telah membuangnya jauh sebelum ia tiba.

Aku tak bisa mengamati Frank. Rasa bersalah itu sudah menjadi-jadi. Bahkan sanggup mengendalikan separuh kesadaranku. Yang jelas, kalau sebentar lagi tubuhku jatuh dan mati rasa, aku tak perlu mencari tahu atau menyalahkan siapa pun itu.

Kubayangkan masa-masa bahagiaku bersama Li Yin. Pertemuan pertama kami dikala usiaku yang masih belia. Keberadaan Lay yang melengkapi semuanya. Kebanggan kala menyaksikannya tumbuh mandiri dan begitu pengertian. Bersua kembali setelah sekian tahun berjauhan dengan wanitaku. Aku ingin menyimpannya baik-baik. Menghilangkan kenangan sepenting itu adalah kesalahan terbesarku.

 

“Aku tak bisa, bu.” Vokal lemah Frank terdengar. Disusul kelontang keras benda mengkilat yang membentur balok kayu.“Aku tak sanggup melakukannya.”

Pemuda itu menundukkan kepalanya. Tangannya tergantung lemas di sisi tubuhnya. Lamat-lamat kutilik bahunya yang bergetar. Lelehan menuruni tepi wajahnya. Isakan tertahan menjelaskan segalanya.

“Kau telah berjanji pada ibu Frank! Bahkan pada mendiang kakakmu!” seru Li Yin. “Kau melihat sendiri Lay terlunta-lunta dalam dunia orang mati. Ia tak pernah bersemayam dengan tenang. Ia menderita bah– ”

“Dan aku tak bisa membuat ayah seperti itu juga!” bentak Frank. Kalimatnya bergema, sanggup membungkam Li Yin. “Ibu pasti akan membuat ayah menjadi roh penasaran. Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Kesalahan ayah di masa lalu bukanlah keinginannya. Ayah tak punya niatan menyakiti kakak, ayah hanya terlalu terguncang dengan identitas ibu. Akal sehatnya tak sanggup mengolahnya, ibu tahu itu.”

Aku tertegun. Begitu pula Li Yin. Air mukanya terlihat kecewa dan juga tak percaya. Para arwah di ujung gaunnya mulai gelisah. Seolah cemas akan keadaan Frank yang mungkin sanggup membinasakan mereka untuk kedua kalinya.

“Lagipula,” kata Frank. Nadanya melunak. “aku ingin hidup dengan manusia. Bukan dengan hantu yang tak bisa bicara. “

Ungkapan jujur Frank sanggup mengubah luapan emosi Li Yin. Bahunya yang sempat menegang, kini merosot seakan kehilangan tulangnya. Sorot matanya memindai Frank lamat-lamat, takut anak itu mungkin sudah mengubur akalnya di suatu tempat. Para bawahan hantunya mulai menyingkirkan diri dari sekitar tubuhnya. Meninggalkan Li Yin ‘biasa’ yang meratap iba.

Ia mencoba tersenyum. “Dari sekian skenario yang mungkin terjadi, kenapa harus memilih yang paling menyedihkan, Frank? Sudah kuduga kau tak mewarisi sifat kejamku.”

Suhu di ruangan itu tiba-tiba menghangat. Di belakangku, bisa kudengar Frank meloloskan napas berat. Ia mungkin tak menatap Li Yin, namun telinganya terpasang lekat pada setiap penuturan ibunya.

“Tapi tetap saja Frank.” Li Yin melanjutkan. “Aku tak bisa memaafkan pria ini. Tidak untuk sekarang. Ini semua kulakukan hanya demi putraku seorang.”

Telapak Li Yin terbuka. Kabut hitam tipis membubung rendah dan berputar spiral di tangannya. Saat angin meniupnya pergi, sebuah botol kaca berleher tinggi menggantikannya. Sumbat kayu menutup bagian atas benda tersebut. Cairan warna hijau cerah beriak dari dalam kaca beningnya.

“Ini ramuan Hecate. Berikan ini padanya.“ Li Yin melirikku sekilas. “Kau akan membutuhkannya untuk memulai semua dari awal lagi. Ia akan melupakan apa yang terjadi hari ini. Ia akan melupakan siapa dirimu, Frank. Dan siapa diriku sebenarnya. Namun kutinggalkan kenangan tentang Lay untuk membuatnya merenung senantiasa.”

Frank memberanikan diri untuk menatap Li Yin kembali. Sedikit ragu, ia tumpukan pandangannya pada netra gelap ibunya. Ada ungkapan terima kasih yang ditukar dalam tilikan singkat itu. Begitu dalam hingga aku ikut terlarut kedalamnya.

“Jaga dirimu.”

Sosok terakhir Li Yin yang kulihat adalah dirinya dengan gaun tunik hitam yang tergerai hingga ujung kakinya. Kelabu surainya yang membalut sisi wajahnya. Serta kabut hitam yang menghapus presensinya dari visiku. Dan kalimat terakhirnya yang tentu saja ditujukan untuk Frank. Namun aku berharap satu dari seribu kemungkinan, ada aku dalam ucapannya.

Karena aku ingin mengingatnya, sebelum semua kulupakan. Lagi.

 

Fin.

Melinoe : Greek goddess of ghosts. Daughter of Hades and Persephone

El Recuerdo (n) : The Memory. (spanish)

 

Author’s note.

Maaf kalo seumpama ini keluar dari temanya TT TT aku berusaha buat nyambungin ini, tapi mau gimana lagi. Ini aja kejar tayang banget nulisnya. Thanks buat admin yang menyempatkan waktu buat menge-post abal-abal ini. Fyi, Lay dan Frank disini demigod, setengah dewa, setengah manusia. Dan ini Frank Zhang-nya Heroes of Olympus. HAHA. Iya, aku pinjem Om Rick sebentar. Abis dia imut banget, marganya Zhang pulakk. ❤

Thanks for reading. Review? Sangat ditunggu.

Pat

 

 

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=9a2e69b0-293b-48ad-ba05-b493e4211662

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=9a2e69b0-293b-48ad-ba05-b493e4211662

Advertisements

12 thoughts on “[Season Of Love Project] EL Recuerdo

  1. Wah jadi nyambungnya ke Percy Jackson ya(?)

    Klo menurutku ini masih masuk ke trma unforgiven mistake ya? Hehehe entahlah aku juga gk tau pasti.

    Secara keseluruhan rapi banget, utk FF aku baru baca yg bergenre kyk gini. Aku suka dan gaya bahasanya keren.

    Like

    1. Halo! Duh, maaf baru bisa balas komennya ya ;’)
      Haha, dibilang nyambung sih, cuma nyerempet dikit aja. Kaya kerangkanya aja yang pinjem/? percy jackson 😀 Setelah kubaca lagi, baru sadar kalo ini menjurus ke unforgiven mistake *apa* aku malah sebagian besar pake yang goodbye memories, abis stuck banget sama tema yang lain. :v Eh tapi makin kesini, malah readers yang sadar duluan .-.
      Wah, makasih sudah baca ya 🙂

      Like

  2. Istrinya hangeng dewa kematian?
    Kenapa li yin sama hangeng berpisah?
    Ide ceritanya bagus , aku belum pernah baca yang seperti ini.
    Temanya dari keleseluruan cerita masuk ke unforgiven mistake , li yin gak bisa maafin hangen karena buat lay meninggal.
    Good job authornim , keep writing 😀👍

    Like

    1. Halo! Maaf baru bisa balas komennya :’)
      Iya, sebenernya Melinoe itu lebih ke dewi hantu sih. Tapi dia masih dalam lingkup dunia kematian. Kalo dewa kematiannya ada sendiri 🙂 Aku ini berpatokan sama novel percy jackson, dan kalo dewa or dewi berhubungan sama manusia biasa trus punya anak, yang besarin si anak itu harus orang tua manusianya. Karena dewai/dewi ini ga boleh atau ga bisa. Mereka harus secepetnya pergi atau ga boleh lama-lama sama anak mereka (demigod). Dan yah, Li Yin emang diharusin pisah. Singkatnya gitu lah~
      Aku juga baru sadar ini masuk ke unforgiven mistake, padahal nulisnya make tema goodbye memories XD
      Makasih sudah baca ya~ ^^

      Like

  3. APA INI AKU BACA APAAAAAA OTPKU BALIK OTPKU HAHAHAHA
    pat notice me please :’D kamu tau aku baca ini dgn perasaan teraduk2, walau di tengahnya sempet ga ngerti tapi2 cerita ini sungguh beda dgn kisah Han family yg hangat yg biasa kubuat TT di sini gelap banget nuansanya dan bagian ini:
    .
    .
    Namun aku berharap satu dari seribu kemungkinan, ada aku dalam ucapannya.

    Karena aku ingin mengingatnya, sebelum semua kulupakan. Lagi.
    .
    .
    SHOT MY HEART haaaaaaaa bapak han TT
    kuakui di sini konfliknya agak sedikit ‘maksa’. entahlah, tapi mungkin bisa juga terjadi. krn kalo istrimu tiba2 ngaku sebagai dewi hantu kamu bisa aja gila dan bunuh anakmu sendiri. tapi daripada itu, mari kita fokus pada ibu liyin yg jadi kejem DX waktu aku baca greek myth!AU aku langsung menduga2 apa ini bakal jadi semacam dodekatheon retold? tapi ternyata tidak. aku juga nebak2 kakak han dan kakak liyin jadi siapa, eh ternyata bukan 12 inti ya? dan kakak liyin ternyata yg jadi. aku baru tau lho kalau hades-persephone itu punya anak. *eh bentar2, mengingat jajaran castmu berarti ortunya kakak liyin itu…. hm*
    penggambaran scene dan feelingnya detil banget, meski panjang aku betah bacanya krn sangat jelas banget visualnya kayak apa, dari scene dalam mobil, interaksi han-frank, pertemuan han-yin, sampe kemunculan mas yixing sedikit2 itu sangat tergambar. familynya kena, dan penyesalannya kakak han itu rasanya meremukkan hatiku TT
    aish aku rindu fluffy!Han-fam coba gara2 kamu pat…
    noh spazzing kan jadinya. udahlah pokoknya ini bagus ajah kamu berhasil mengembalikan feel hanyin ku XD
    keep writing!

    Like

    1. HALO SENPAI! MAAPKANKU YANG BARU MEMBALASMU SETELAH SEKIAN MINGGU TERTELAN TUGAS.
      Cerita ini memang absurd kak, pantes aja banyak yang tidak paham. Aku bikinnya juga udah guling-guling akibat ide yang banyak namun tak kuat disalurkan, jadil berasaplah otakku. Maapkan aku lagi kak yang menghancurkan kesan keluarga harmonis bapak Han dan ibu Li Yin ini TT TT Tapi kurasa Han sama Liyin perlu pencerahan baru yang keluar dari zona nyaman, cape manis-manisan terus *ditabok kak Li*

      Terlalu ngeneskah itu? Bapak Han emang berusaha kubuat semelas mungkin, sebersalah mungkin *apa* Iya kak, bikinnya emang maksa abis. Atau emang akunya yang gagal bikin permasalahan yang nendang. Aku sudah lelah sama dewa-dewi olimpus yang mau sampe kiamat, ceritanya juga ga bakal habis XD Apalagi masih banyak dewa-dewi minor yang nggak kalah seru, termasuk salah satu anaknya Hades ini. Ortunya Li Yin nggak ada hubungannya kak XD masa iya Hadesnya si kakak alumni *halah, lupakan* 😀

      Hehe, makasih udah baca kak! Keep writing too ❤

      Like

  4. Akhirnyaaa kebaca dengan konsentrasi tinggi… fiuh!
    aku nunggu2 mana greek-nya dan ternyata~ kirain aku endingnya bakal ngetwist karena dr awal penggambarannya apik dan serius banget, tapi ternyata enggak 😂 tapi malah tetep sukak karena rapih banget! Gambarannya han geng detail banget ke setiap emosi yg dia rasain, liyin unni (?) pun bisa dibayangin aura2nya itu >< nah tapi, despite of that, frank nya jadi karakter lemah gt disini, dan pas liyin pergi gitu aja I feels like "hah? udah? gitu aja?" but then kalimat penutupnya hangeng ngenaaaaa bray! nice shot :'3

    Like

    1. Halo! Maaf baru bisa bales komennya :’)
      Ceritanya emang agak absurd ya, bikin pusing aja bacanya XD Tbh, skenario aslinya Han Geng mau kubuat mati skalian *apa* biar Li Yin jadi antagonis karena emang dia kerjaannya kan bikin para hantu sengsara gitu. Eh tapi, kejem banget yah entar jadinya XD Frank-nya kaya sekedar lewat gitu aja ya. Aku berusaha bikin dia jadi kelemahannya Li Yin, sejahat-jahatnya dewi hantu tapi dia tetep mikirin atau pertimbangin pendapat dan perasaan anaknya. 🙂
      Makasih sudah baca ya~ 🙂

      Liked by 1 person

  5. hiii author nim ^^
    aduh maaf telat bgt ngasih komentarnya, well, sejak pertama kali baca ceritanya ini sesuatu bgt. butuh konsentrasi tinggi untuk mengerti seluruh maksdnya karena hampir seluruh isi FF menggunakan bahasa metafora dll , permainan diksinya oke punya. keren lah pokoknya XD cerita fantasinya mantep kkk pengen rasanya nulis cerita fantasi jadimya.
    keep writing ya ^^

    Like

    1. Halo! Aku juga minta maaf, telat banget reply-nya XD
      Butuh konsentrasinya mungkin karena ceritanya yang agak nggak jelas kali ya HAHA. Masih perlu banyak belajar sepertinya aku, diksinya juga udah dimaksimalin tapi masih saja pas-pasan. Fantasi emang seru, berasa punya dunia sendiri HEHE 😀
      Makasih udah baca ya~ Keep writing too

      Like

  6. Hey baekpear! maafkan saya yang terlambat membaca ff km ini-___- karena satu dari banyak alasan yg memang terjadi pada sya yg kurang mujur. I love your ff! aku suka kamu membawakan ceritanya, lembut dan membuat aku semakin penasaran sama ceritanya. Bener kata author minarifini, permainan diksi, metafora km keren. Ga sabar utk baca ff fantasy kamu lagi! aku tunggu ya 😉 anyway Sora’s here 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s