Angst · February Project · FF Project · One Shoot · PG -15 · Romance

[Season Of Love Project] Danke


photostudio_1452343232032

Scriptwriter: Nathaniel Jung | Title: Danke | Tema: Never Ending Love | Main Cast: f(x)’s Song Qian, actor’s Lee Dongwook, actress Lee Jain | Genre: romance, angst | Lenght: oneshoot | Rating: PG-15 | Disclaimer: I was own this stories.

 

Notes: Hai hai, ini pertama kalinya aku ikutan project di blog besar. Biasanya cuma pos karya-karyaku di blog pribadi, hehe. Kali ini aku dapet cast Qian eonni, yey! Dua februari ya? Waa, selamat ulangtahun kakakku tersayang. Semoga sukses selalu, jangan lupa jaga kesehatan. Maaf maaf ni kalo misal karyaku di sini kurang berkenan di hati kalian. Selamat membaca yaa, ppyong! ∩_∩

 

\(☆o☆)/

nathanieljung©2016

 

“Kakak, mau berkenalan dengan ayahku?”

 

Tongkat wanita itu terus mengayun seiring dengan rajutan langkahnya, membawanya pada sebuah taman. Tangannya sesekali menyingkirkan helaian rambutnya yang tertiup angin.

Aroma musim panas yang menyenangkan mampu membuat matanya ikut tersenyum, walau sejatinya manik indah itu penuh kekosongan pun hanya diterpa gelap.

“Kakak!”

Gadis kecil berkepang dua berlari menghampiri wanita itu. Tangannya yang mungil menggenggam serta setangkai lily putih dan boneka kelinci kesayangannya.

“Jain, kah?”

Wanita itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Pandangannya tetap sama, gelap. Namun, ia dapat merasakan bahwa Jain berada tepat di hadapannya saat ini.

“Iya, ini aku.”

Qian —wanita itu lantas mendudukan tubuhnya pada rerumputan, tongkatnya pun ia taruh di sampingnya persis. Bermaksud mengajak bersila, namun tak lantas dituruti Jain.

“Kau sudah kembali. Kapan kau pulang?”

Jain tersenyum manis, “Baru saja, Kak.”

“Kenapa tidak pulang dulu, hm?”

Jain menggeleng, rambut kepang duanya ikut bergerak, sangat manis.

“Aku ingin bertemu kakak. Selama di Jerman, aku sangat merindukan kakak. Dan aku membawakan sesuatu untuk kakak.”

Tangan mungil Jain bergerak meraih tangan Qian, menyerahkan setangkai lily putih yang ia beli sebelum menyusul Qian kemari.

“Wah, terimakasih. Kau sangat manis.”

Qian mendekatkan bunga pemberian Jain pada wajahnya. Menghirup aroma wangi Sang Lily —kembang favoritnya di samping bunga mawar.

“Kak Qian?”

Bunga lily yang tadinya berada dekat di hidung Qian, kini perlahan menjauh. Atensi Qian kini sepenuhnya ia berikan kepada Jain. Qian tahu, dari nada bicara Jain yang seperti itu, pasti gadis kecil itu sedang serius, sok serius dasar anak kecil —batin Qian.

“Ada apa?”

Jain tak lantas membalas. Ia memilih mendudukan tubuhnya di hadapan Qian, ikut bersila. Ia tak peduli nanti apa kata neneknya sepulangnya ia dari sini —dress putihnya kotor.

“Kak, aku pernah menceritakan tentang ayahku, kan?”

Kini nada suaranya menjadi lebih ceria, khas anak-anak.

“Wah, ingatanku tidak terlalu baik.”

Setelah berujar demikian, Qian melepas tawanya ringan. Tak tahu jika Jain hanya memerhatikannya dengan senyuman kagum menatap Qian.

“Kau cantik, kak.” Ujar Jain polos.

Qian berhenti tertawa. Kini ulasan senyum yang manis tersemat di wajahnya, dengan rona kemerahan di kedua pipinya.

“Terimakasih, kau juga pasti sangat cantik. Malah lebih cantik dariku.”

“Aku memang cantik. Teman-temanku di sekolah juga mengatakan itu. Hehe.”

Ucapan Jain membuat Qian gemas bukan main. Tangannya bergerak di udara mencari keberadaan Jain. Tahu yang dimaksud Qian, Jain pun menuntun tangan Qian menuju wajahnya. Membiarkannya menyubit gemas kedua pipinya yang berisi.

“Kakak, mau berkenalan dengan Ayahku?”

Tangan ramping Qian seketika berhenti. Berkenalan dengan ayah Jain —Tuan Lee? Untuk apa?

Qian sudah tahu siapa ayah gadis kecil ini. Sejak awal ia memang sudah tahu. Mendadak ia teringat kejadian delapan tahun yang lalu. Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya ngilu, saat tahu lelaki itu kini sudah menikah. Terlebih lagi, gadis di hadapannya ini merupakan putri semata-wayangnya. Tapi, itu memang sudah konsekuensi dari apa yang telah terjadi.

“Kakak mau bertemu ayahku?”

Lee Dongwook.

Fokusnya kini bukan lagi pada Jain yang masih dengan sabar menanti jawaban Qian. Melainkan pada satu nama yang kini terlintas dalam benaknya.

Dulu, Dongwook adalah teman semasa kuliahnya. Mereka berdua sama-sama memiliki rasa, hingga saat ini. Dulu pun dunia Qian tak segelap sekarang. Qian merupakan gadis cerdas yang rendah hati.

Calon ibu mertuanya begitu mengelu-elukan dirinya di hadapan keluarga besar Qian dan juga Dongwook. Qian memang calon menantu idaman. Sikapnya yang santun, tutur katanya yang anggun, pun dengan gelarnya sebagai lulusan Columbia University jurusan perfilman —membuatnya begitu langka dan menganggumkan di mata para orang tua.

Perhelatan sederhana pun digelar. Bertepatan dengan hari kelahiran Qian yang ke-22, mereka resmi bertunangan.

Namun, seakan takdir tak merestui mereka, keluarga besar Dongwook yang gila akan kesempurnaan mendadak membatalkan pertunangan mereka. Bukan tanpa alasan sebenarnya.

Seusai acara pertunangan, mobil yang dikendarai keluarga Qian mengalami kecelakaan. Qian mau tak mau harus merelakan kedua orang tuanya yang meninggalkannya selamanya dan dunianya yang berubah gelap.

Qian tahu diri, ia kini memang tak pantas lagi bersanding dengan Dongwook. Walau hatinya tak rela berpisah dengannya, ia akan tetap melakukannya, demi kebaikan Dongwook dan juga nama baik keluarga Dongwook.

“Kak Qian?”

Seketika Qian tersadar dari lamunannya. “Eh, ada apa Jain?”

“Tuh kan, aku diabaikan lagi.” Jain memberengut lucu saat tahu sejak tadi dirinya tak dihiraukan.

“Maafkan aku, nona Lee. Jadi, maukah kau mengulang ucapanmu tadi, hm?”

Ini sisi Qian yang amat disukai Jain, keibuan. Selain santun dan anggun, salah satu karakter Qian adalah ia sosok yang dewasa dan keibuan. Hangat serta penuh kasih. Jain mendadak merindukan ibunya yang telah tiada saat usianya menginjak enam tahun.

“Kakak mau jadi ibuku?” Ucapan Jain yang spontan itu membuat Qian terkejut. Ia tak bereaksi selain matanya yang membola terkejut.

“Aku hanya bercanda, kak. Hehe.”

Astaga! Dasar anak kecil, batin Qian.

“Hehe, tadi aku ingin mengajak kakak membeli bunga lagi. Mau kan, kak?”

Senyum manis terlihat lagi di wajah Qian. Ia mengangguk antusias mendengar ajakan Jain. Bunga merupakan salah satu hal yang disukai Qian. Tanpa pikir panjang pun jika kau memberikan embel-embel bunga, Qian akan langsung menanggapi dengan antusias.

“Kau mau membawaku kemana Jain?”

Seusai mereka membeli dua buket bunga lily putih —lagi, Jain memaksanya untuk ikut dengannya. Entah kemana, Qian sendiri tidak tahu.

Selama perjalanan, tangan Jain senantiasa membantu Qian berjalan —atau malah tidak mau membiarkan Qian melarikan diri. Hey, yang anak kecil itu Jain. Seharusnya Qian yang menggandengnya.

“Tenang saja, sebentar lagi juga sampai.”

Qian mengangguk, “Tapi, yakinkan dirimu jika kau hapal betul daerah ini.”

Jain menoleh, “Aku sering kemari bersama nenek.”

“Baiklah, aku percaya padamu.” Jain tersenyum ceria.

Selama perjalanan mereka saling melempar guyonan. Qian selalu terbahak saat melihat kepolosan Jain menceritakan teman-temannya di sekolah. Jain yang walaupun kesal saat bercerita karena selalu ditertawakan Qian, pun merasa senang melihat wanita di sampingnya tertawa. Seperti ada suatu ikatan yang tak terlihat di antara mereka.

Di tengah perjalanan mereka sempat berhenti sejenak untuk menolong seekor anjing yang kakinya terlilit tali. Jain merengek ingin membawa pulang anjing itu, namun Qian melarangnya. Takut-takut kalau anjing itu sudah ada yang punya. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menyenangkan mereka.

Saat mereka sampai di tempat tujuan, Jain langsung melepas gandengannya dengan Qian. Ia maju beberapa langkah di depan Qian.

“Ayah, aku datang lagi.”

Sapaan ringan terujar dari mulut Jain. Qian mendadak cemas. Tentu saja, karena gadis kecil itu ternyata membawanya bertemu ayahnya, Lee Dongwook.

“Dan kali ini bukan nenek yang menemaniku.” Jain menoleh ke arah Qian.

“Tetapi, aku kemari bersama kakak cantik—”

Qian sedikit tersipu mendengar perkataan tulus Jain.

“—yang sering aku ceritakan kepada ayah.”

Apa?

Benarkah perkataan Jain barusan?

Jain sering bercerita tentangnya?

Oh, Tuhan. Kenapa gadis kecil ini terlalu polos? Tapi, walaupun begitu, Qian justru senang. Setidaknya, Qian masih merasa ada yang memerhatikannya.

“Bukankah ayah juga ingin bertemu dengannya?”

Qian mendongak, hatinya terkejut bukan main. Entah terlalu naif atau memang tidak tahu, Jain dengan santainya mengatakan itu. Tak tahukah Jain jantung Qian kembali berdegub kencang —setelah lama berpisah delapan tahun dengan lelaki yang Jain panggil ayah.

“Kak Qian, kemarilah. Tenang saja, ayahku orang yang ramah.”

Iya Jain, aku tahu ayahmu memang ramah, aku sudah mengenalnya sejak lama, batin Qian.

Tongkatnya ia ayunkan kembali, kakinya pun juga ikut melangkah ke depan, sampai di samping Jain.

“Annyeonghaseyo.” Sapa Qian sembari membungkukan badannya sedikit.

“Kau dengar kan ayah? Mendengar suaranya saja, aku langsung senang. Apalagi kalau dia jadi ibuku, hehe.” Jain menyenggol lengan Qian jahil. Lagi, Qian dibuatnya tersipu.

Sudah lama Qian tidak melihat rupa sang pujaan hati. Pasti jika Qian bisa melihat, ia akan kembali terjatuh dalam pesona seorang Lee Dongwook.

“Kakak, berikan bunganya.” bisik Jain.

Qian yang masih dilanda gugup, segera mengacungkan sebuket bunga yang digenggamnya ke depan.

“Lee Dongwook-ssi, aku mebawakanmu bunga. Bukan untuk apa-apa sih sebenarnya. Ini, semoga kau menyukainya.”

Lama tangan Qian berada di udara, tak ada yang menyambutnya. Dalam hati Qian khawatir, kalau Dongwook tak lagi mau bertemu dengannya setelah sekian lama.

“Kak Qian—” Suara Jain kembali terdengar. “—biar kubantu.”

Qian merasakan tangan mungil Jain menuntunnya. Kali ini Jain membawa tubuh Qian untuk duduk berhadapan dengannya. Perasaan Qian mendadak tak nyaman. Apa gerangan yang dilakukan Dongwook sehingga membuatnya harus terduduk di rumput hijau.

“Nah, Kak Qian. Taruh bunganya di atas sini.”

Ini…

Tidak, tidak mungkin. Jain pasti mengerjainya lagi.

Tapi, ia paham betul di mana sekarang dia berada. Gadis kecil yang ceria itu membawanya kemana, Qian tahu.

Jain membawanya ke sebuah makam.

Firasatnya sedari tadi memang tidak sedang mempermainkannya. Seketika tangannya meremas erat sebuket bunga yang masih digenggamnya. “Kak, ayah menunggu bunga darimu.”

Qian mengangguk. Tangannya terulur meletakkan bunga digenggamannya tadi. Hatinya perih mengetahui hal yang sudah terjadi. Bukannya tidak mau tahu, tapi Qian lebih memilih menjalani kehidupannya tanpa melihat kenangan-kenangan masa lalunya. Dan gadis kecil ini datang, semua pertahanan Qian perlahan terkikis.

Qian membekap mulutnya sendiri, menahan tangis yang meronta saat Jain kembali berujar.

“Nah, sekarang ayah sudah tenang di sana. Aku sudah menepati janjiku membawa kak Qian bertemu dengan ayah.”

 

-fin-

 

Huah!! Bagaimana? Kecepetan kah? Oh iya, yang belum tahu siapa itu Jain, aku kasih tahu. Jain itu anak kecil cewek yang jadi model di MV-nya GOT7 Just Right. Maaf maaf ni kalo judulnya ngga nyambung sama ceritanya. Danke itu dari bahasa Jerman, artinya Terimakasih.

Ditunggu review kalian ^^

Advertisements

8 thoughts on “[Season Of Love Project] Danke

  1. haaa jadi ternyata dongwook udah meninggal TT aduh fic ini bener2 penuh kejutan! dari qian yg ternyata buta, jain yg tiba2 bawa dia ke dongwook, dan dongwook yg ternyata sdh mati. bagus ceritanya! kata2nya pun gak sembarangan dipasang, penulisan sdh cukup rapi juga terkecuali ada bbrp kata ‘terimakasih’ yg mestinya jadi ‘terima kasih’. hehe. keep writing ya!
    -Liana

    Liked by 1 person

  2. Jadi ayah jian sudah meninggal dan orang yang dicintai qian pergi.
    Haduh nyesek pas qian kaget bunganya gak diterima sama ayah jian.
    Kalau gak ada peraturan 15lembar mungkin cerita ini mengharubiru sayangnya dibatasi , tapi udah jelas sih ceritanya udah menggambarkan keseluruhan cerita.
    Good job , keep writing

    Liked by 1 person

  3. Awalnya bingung. Danke. Apa itu danke(?) dan oh ternyata artinya terimakasih dalam bahasa jerman.

    It is a nice story dear! Aku kesel sm keluarga dongwook yg nuntut kesumpurnaan. Hello, nobody perfect okay expect God. Dan aku kasian sm victoria. Duh kakakku T__T udh buta, gk bs ngelanjutin hub.sm dongwook, eh tau2 ps ketemuan lg dongwooknya udah meninggal :”‘3

    Sudah ketebak pas jian blg “ayah aku datang lagi” 😥 udh tau ayahnya meninggal. Bener2 nyesss dan Jian emg udh niat nemuin dongwook sm qian kan ya? Udh ah ini kepanjangan muehehehe.

    Keep writing yaa ^^

    Liked by 1 person

  4. Hiii author nimmmm
    Maaf terlambat memberikan komentar
    Ini ff sesuatu bgt g nyangka si victoria buta T.T dan memiliki seuatu dengan bapaknya si anak kecil itu
    Tak kira mereka bakalan bersama eh malah si bapaknya udh meninggal ><
    Keep writing ya xD

    Liked by 1 person

  5. Huwaa, aku ga nyangka loh kalo dongwook dani uda ga ada. Dan yup entah sebuah kebetulan atau tidak Jian anaknya dongwook. Aku suka klimax disini. Aku kira Victoria bakal ketemu sama dongwook (yg masih hidup) dan aku berharap dongwook bakal balik ke Victoria but hell no, ternyata dongwook uda ga ada. Dan itu baper banget-_- hahaha anyway sudah berhasil ini mmbawa perasaan pembaca. Sora is here, salam kenal ya 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s