Action · Angst · Drama · February Project · FF Project · Kekerasan · NC -17 · One Shoot

[Season Of Love Project]The Story Left Untold


 The Story Left Untold

Author  : minariFini /Title: The Story Left Untold/ Tema : Unspoken Confession/Cast: Kim Jaejong, Iim Hana (Oc) /Other Cast: Park Yoochun/Genre: Action, Angst, Drama /Lenght: Oneshoot/Rating: N17

Disclaimer: Ini hanya sebuah fanfiction yang dibuat untuk memeriahkan February The Season Of love Project di mnjfanfiction. Copy Paste are not allowed!! Ditulis pada 03 Januari 2016 dan diselesaikan pada 10 Februari 2016

AN: FF ini terinspirasi dari lagu yang berjudul ‘Rough- Gfriend’ dan ‘Don’t Forget – Crush feat Taeyon (SNSD)’ dan juga terinspirasi dari salah satu author fav-ku di asianfanfiction. kalau kalian pengen tau author fav-ku coba cari ffnya yang judulnya The Married life of Mr.Byun . Aku seneng banget akhirnya FF ini selesai. Terimakasih semangatnya para admin dan beberapa teman yang ingin membaca ff ini, semoga ceritanya tidak membosankan. FF ini tidaklah sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat dibutuhkan penulis. Enjoy ~

***

Jaejong menatap seorang gadis dengan sebelah matanya, dilihatnya gadis itu sedang terdiam membeku dan sebulir air mata jatuh membasahi pipinya. Jaejong benar-benar sangat sadar dengan apa yang sedang ia lakukan saat ini, ia sedang menahan dirinya untuk tidak berlari ke arah gadis itu untuk memeluknya atau  menghapus air matanya. Ia sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu, mungkin hanya inilah yang bisa ia lakukan karena tidak seharusunya ia membiarkan gadis itu masuk dalam hidupanya dan juga menyentuh hatinya.

Dengan menahan seluruh emosinya, jaejongpun meraih pinggang seorang perempuan yang sedari tadi berada dalam pangkuannya. Dilumutnya bibir manis perempuan itu , tidak hanya itu saja jaejong menjamahi seluruh lekuk tubuh perempuan itu hingga membuat perempuan itu menggeliat manja dalam pangkuannya. Jaejong sangat pandai membuat seorang perempuan mabuk akan sentuhannya, setelah cukup puas dengan bibir manis perumpuan itu, kini jaejong mengecup pangkal leher hingga bahu perempuan itu. Terdengar suara rintihan kenikmatan dari perempuan itu ketika jaejong mengigit bahunya dan diikuti bisikan mesra dari jaejong “ You are mine.”

 

 

BLAK!!

Hana pergi. Sejenak waktu terasa berhenti dan sejak saat itulah hati jaejong tertutup kembali.

“If only i could run through the time and grow up, i’d hold your hands in this crazy world. Selamat Ulang tahun oppa.”

 

Jaejong meremas secarik kertas dengan perasaan yang berkecambuk. Ia tidak sanggup memungkiri bahwa hatinya tergerak dan merasa hangat setelah membaca sajak konyol dari hana. Tidak seharusnya gadis polos itu jatuh hati padanya, jika gadis itu tahu apa yang sebenarnya terjadi dan identitas dirinya yang sesungguhnya, sudikah gadis itu berada di sisinya?

Sudah cukup bagi jaejong, kehilangan orang-orang yang berharga dalam kehidupannya karena dirinya. Dan hal itu berlaku untuk hana, mungkin hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mendorong hana menjauh dari hidupnya.

Meski hana adalah tanggung jawabnya, tetapi jika seperti ini ceritanya, sungguh hal itu hanya akan membahayakan hana. Beberapa kali hana berada dalam keadaan berbahaya, hal itu terjadi karena kecerobohan atau kelalaian jaejong ketika menjaganya. Jaejong tidak ingin hal itu terjadi pada hana, ia ingin menghentikannya. Jika memang musuh-musuhnya mengincar dirinya, hal itu bukanlah masalah baginya- tapi jika mereka semua mengincar hana- tentu ia tidak bisa diam seperti ini.

Perlahan jaejong mengambil sebuah kotak berukuran sedang yang dijatuhkan hana beberapa jam yang lalu. Jaejong membuka kotak itu dan sekali lagi nafasnya tercekat ketika melihat isinya. Sebuah bola kaca berukuran kecil, dalam bola kaca itu terdapat sepasang tedy bear duduk di atas bulan sabit. Jaejong sangat mengerti arti pemberian hana- ribuan kali hana mengatakan padanya “Aku tidak akan membiarkanmu kesepian, aku ingin segera tumbuh dewasa dan selalu berada di sisimu.”

Jaejong terduduk lemah dan hatinya terasa perih memikirkan hana. Mungkin ia sudah jatuh terlalu dalam pada gadis itu- bukan lebih tepatnya keduanya.

“Kau harus menebus dosamu, t-tolong jaga putriku.”

Pagi itu jaejong terbangun dengan perasaan kalut, dilihatnya samar-samar jam dindingnya menunjukkan pukul setengah tujuh. Kepalanya terasa berat dan untuk beberapa saat ia memejamkan kembali matanya untuk meredakan rasa peningnya. Setelah beberapa saat ia pun membuka matanya kembali seraya mengeluhkan sebuah nama Hana…

Cahaya matahari menyeruak masuk melalui tirai-tirai jendela kamarnya.  Jaejong hanya membiarkan dirinya terbaring di atas tempat tidurnya yang berantakan. Suara dentuman jam terdengar begitu jelas memecah kehingan kamar jaejong, hari ini tepat hari ke lima pada bulan februari. Upacara kelulusan SMA hana diadakan pada hari ini.

Perlahan jaejong membangkitkan dirinya, ia akan menghadiri upacara kelulusan hana- sesuai dengan janjinya.

Ketika jaejong sedang bersiap diri, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk. Pesan itu berasal dari rekan kerjanya. Sebuah peringatan, nampaknya.

[from YM 6;45] Mereka mulai bergerak pagi ini.

 

Jaejong memasang matanya pada seorang gadis yang berjalan tepat di depannya. Nampaknya ia tidak terlambat untuk pergi menghadiri upacara kelulusan hana. Hana terus melangkah ke depan tanpa terusik, mungkin ia tidak tahu bahwa jaejong mengikutinya.

Meski hanya melihatnya dari kejahuan hati jaejong terasa hangat. Mungkin jauh lebih baik seperti ini. Ia boleh mendorong hana pergi darinya, tetapi ia tidak sedikitpun berniat untuk meninggalkan gadis itu- ia ingin selalu bersama gadis itu layaknya sebuah bayangan yang akan selalu mengikuti langkah gadis itu kemanapun.

Nampaknya melindungi hana bukanlah sekedar menebus dosanya, tetapi jika jaejong lebih jujur dengan perasaannya, ia melakukannya karena hal lain. Cinta. Ia  mencintai gadis itu- seakan mengetahui apa yang akan terjadi , jaejong memilih untuk menyimpan perasaanya. Sekali lagi manusia kotor sepertinya tidak pantas untuk mencintai ataupun mendapatkan cinta. Cukup!! Jaejong mengepalkan jemarinya kuat untuk menahan agar sisi sentimentalnya tidak menguasai logikanya.

Jaejong terus berada di jarak yang aman, selain untuk menghadiri upacara kelulusan hana ada hal lain perlu ia lakukan. Para bedebah sialan itu akan melakukan penyerangan hari ini, target mereka tidak lain adalah dirinya namun, mereka tidak akan menggunakan cara sederhana untuk membuatnya bertekuk lutut. Musuhnya itu sangatlah pintar mengetahui kelemahannya.

Jaejong tidaklah bodoh, ia sangat sadar sekali beberapa orang tengah mengintai mereka. Menyerang saat inipun akan menimbulakn masalah, hana masih berada di sini. Salah perhitungan akan membuat kesalahan fatal. Jaejong tidak ingin bertindak gegabah. Ia harus bersabar menunggu waktu yang tepat. Namun sayang musuhnya tidak berpikir demikian. Mereka mulai melakukan persiapan penyerangannya.

Setitik lampu leser tengah terarah ke punggung hana, pupil jaejong membulat mengetahui hal itu.  Sebuah umpatan keluar dari mulutnya.. Ia berlari ke arah hana. Dengan cepat ia sengara mengambil pistol yang berada di saku belakangnya. Jaejong membakkan pistol ke arah apartement tua dan ia mengenai salah satu sasarannya. Detik kemudian suara tembakan terdengar, musuhnya menghujani beberapa tembakan untuk melumpuhkan langkahnya. Beruntung jaejong dapat menghindari serangan itu.

Jaejong berfikir cepat , ia melihat sebuah bagunan tak terpakai di sudut jalan. Ia akan mengamankan hana di sana. Jaejong menarik hana ke dalam pelukannya dan membawanya menghindari titik sasaran tembakan itu.

Musuhnya sudah menyiapkan dengan baik penyerangan pagi ini, mereka mengetahui jalan yang biasanya di lewati hana ketika pergi menuju sekolahnya. Dan daerah sepi ini sangat cocok untuk melakukan penyerangan. Beberapa bangunan tak terpakai terdapat di daerah ini. Lokasi yang sempurna untuk melakukan serangan jarak jauh.

Di lain sisi, hana hanya sanggup mengunci mulutnya. Pikirannya terasa penuh, ada luapan emosi yang tertahan di dadanya. Ini bukan kali pertama ia berada dalam keadaan seperti ini, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Jaejong terus berlari membawa hana masuk ke dalam gedung tak terpakai itu. Ia mencari tempat untuk mereka, setidaknya ia harus mampu menahan bedebahbedebah sialan itu sebelum rekannya datang. Iapun menghentikan langkahnya pada suatu ruangan. Ia melihat raut wajah hana, gadis itu menatapnya nanar. Apakah kau takut, hana?

 

“Pegang ini.” perintah jaejong seraya memberikan sebuah pistol kepada hana. “Lakukan saja. Jangan ragu, bila mereka mencoba melakukan sesuatu padamu.”  Jajeong terdiam ketika hana menepis tangannya sedikit kasar.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya hana memberanikan diri. Hana menatapnya lekat dan ia sedang mencari-cari jawaban dari raut muka pria yang ia kenal sebagai oppa-nya.

Jaejong mengalihkan pandangannya sejenak, ia tidak pernah menyangka bahwa hana akan menanyakan hal itu. Perlahan jaejong membuka mulutnya “Aku hanya seorang Sgarrista. Di dunia mafia, mereka mengenal hukum, nyawa dibalas nyawa. Mereka sedang mengincar nyawaku, karena aku berhasil membunuh pemimpin mereka. Mereka sangat bengis dan tidak memperdulikan apakah kau  terlibat atau tidak, mereka bisa saja membunuhmu juga. Ambillah ini.” Jaejong mengakhiri penjelasannya dengan menyerahkan sebuah pistol kepada hana.

Beberapa saat kemudian hana pun menerima pistol itu dengan tangan yang bergetar. Sesungguhnya , Jaejong tidak berniat untuk mengajari hana untuk membunuh, ia ingin hana bisa melindungi dirinya sendiri. Entah sejenak jaejong merasa tidak percaya diri, akankah ia mampu melindungi gadis yang ia cintai kali ini?

‘Duar’

 

Suara tembakan pistol menggema di seluruh gedung itu, jaejong meraih tubuh hana mendekat. Musuhnya memulai serangannya, ia harus menahan mereka. Rekannya akan datang secepatnya.

“Kau tetap di sini, lakukan saja. Kau tidak perlu ragu hmm.” Kata jaejong tegas sebelum pergi meninggalkan hana.

Jajeong berlari keluar dari ruangan itu , ia mengeluarkan dua pistol sekaligus. Matanya tajam. Ia sangat lihai mencari lawan yang bersembunyi di balik pilar-pilar gedung itu. Tanpa berfikir panjang, ia menembak lawannya ketika mereka keluar dari balik pilar. Suara rentetan tembakan pistol bergema dan diikuti beberapa orang tumbang bersimbah darah.

Jaejong terus berjalan dan membiarkan instingnya yang membimbing langkahnya untuk menemukan musuh selanjutnya. Jaejong berasumsi mereka berjumlah lebih dari sepuluh orang. Dalam setiap langkahnya ia berharap semoga tidak satupun bedebah itu menyentuh hana. Jaejong terus berjaga untuk serangan tiba-tiba. Dan benar kini seseorang tengah berlari ke arahnya, dengan gerakan yang terlatih jaejong menyiku orang tersebut tepat di uluh hatinya. Orang itupun tumbang dengan mudah. Bukan berarti orang itu menyerah, orang itupun mencoba mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya,namun.

‘Duar’

Percikan darah mengenai sepatu jaejong ketika ia berhasil menembak orang itu tepat di jantungnya. Orang itu pun tewas dengan mudah. Detik kemudian jaejong mendengar suara tembakan, iapun berlari ke arah sumber suara tersebut. sesampainya di sana, ia melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang mengeksekusi lawannya. Itulah rekannya. Rekannya terlihat handal membunuh lawannya. Sekali lagi suara tembakan menggema diikuti tiga orang musuhnya tewas.

“Maaf membuat anda menunggu, tuan.” Kata rekannya itu setelah melakukan tugasnya. “ Nampaknya mereka sudah menyiapkan penyerangan ini dengan baik dan aku sudah menyiapkan beberapa pasukan untuk berjaga. Tuan kang juga akan mengirimkan beberapa bantuan, beliau sangat senang dengan keberhasilan anda, tuan.”  Laporan rekannya itu ditanggapi jaejong dengan senyum pasi. “Kita harus segera keluar, apa anda bersama nona hana?” tanya rekannya.

“Iya, aku menyembunyikannya. Kita bawa hana keluar sekarang.” Rekannya menngguk setuju , dan detik kemudian jaejong membuka mulutnya kembali “Terimakasih atas segalanya, Yoochun.” Rekannya hanya bisa membungkukkan badannya atas ungkapan terimakasih jaejong. Selanjutnya mereka pun bergegas pergi menuju ruangan dimana hana berada.

Hana mengarahkan pistolnya ke arah seorang pria yang berjalan mendekatinya. Hana mengambil langkah mundur , tubuhnya bergetar ketakutan.

Pria itu menunjukkan seringainya kala ia mengetahui gadis itu ketakutan. Ia mendapatkan apa yang ia perlukan. Gadis itu berada dalam gengamannya sekarang.

“Lakukan saja. Jangan ragu.” Hana teringat ucapan jaejong beberapa menit yang lalu. ia harus berusaha untuk bertahan, ia bukanlah gadis yang cengeng yang hanya menunggu sebuah pertolongan. Inilah saatnya ia berdiri dan memperjuangkan hidupnya. Hana memasang matanya tajam. Dengan membulatkan tekatnya, ia melepaskan pemantik pistolnya dan bersiap untuk menembak. Hana pun melepaskan tembakannya.

‘Duar’

Nafas hana tercekat , tubuhnya bergetar panik. Rasa takut kini merasukinya lebih dalam. Tembakannya meleset. Pria yang ada di depannya itu tersenyum lebar ke arahanya.

Dengan cepat pria itu berjalan mendekatinya dan merebut pistol yang ada di tangannya. Pria itu menarik lengan hana lalu melingkarkan lenganya pada leher hana. Selanjutnya pria itu mendekatkan ujung pistol pada pelipis hana. Kini hana menjadi sandera.

Oho, kita bertemu kembali Kim Jaejong.” Kata pria itu kala melihat jaejong dan rekannya tiba di hadapannya. Senyum liciknya mengembang penuh kemenangan. Ia sedang memegang kartu utama dalam permainan ini.

“Lepaskan dia!!” ujar jaejong dengan suara meninggi. Ia terlihat marah. Jika sedikit saja bedebah itu melukai hana, ia berjanji ia akan membunuhnya detik itu juga.

“Kau mengenalnya?” tanya pria itu menggoda dan ia terlihat menikmati aksinya kali. Di sisi sana jeajong mengepalkan tangannya erat. Jaejong memasang matanya tajam kepada pria sialan itu. “Dia gadis yang pintar, hampir saja ia melukaiku. Apakah kau yang mengajarinya cara menggunakan pistol dengan baik? Kurasa itu bukanlah tata krama yang baik. Kau seharusnya mengajari bagaimana caranya bersikap sopan kepada seseorang yang lebih tua….” bedebah itupun mengakhiri kalimat sindirannya dengan mempererat lengannya pada leher hana. Ia ingin sedikit bersenang-senang dengan apa yang ia dapatkan. Gadis malang itu pun mulai meronta-ronta kesakitan akibat cekikannya.

Jaejongpun naik pitam, entah ia tidak sanggup menahan emosinya ketika melihat hana kesakitan seperti itu. Ia ingin segera membunuh pria sialan itu. Jaejong hendak berjalan mendekati pria itu namun langkahnya ditahan oleh rekannya.

“Ck..ck…Kim jaejong kau ingin gadis ini selamat, huh?” jaejong tidak menjawab pertanyaan bodoh pria itu. Jaejong terus memasang matanya tajam ke arah pria itu. “Buang seluruh senjatamu! aku akan melepaskan gadis cantik ini.” sejujurnya jaejong sangat jengah dengan ancaman konyol itu, namun ia tidak punya pilihan selain mengikuti permainan yang sedang diciptakan oleh pria itu.

Perlahan jaejong meletakkan seluruh senjatanya, rekannya juga pun melakukan hal yang sama. Selanjutnya jaejong dan rekannya mengangkat tanga ke atas menyerahkan diri. Suara tawa sumbang pria itu pun terdengar , ia terlihat sangat puas. Ia menang kali ini. Dendamnya akan terlaksanakan kali ini.

Beberapa orang-orang dari pria itupun keluar membentuk sebuah formasi melingkar untuk mengepung jaejong dan rekannya. Mata jaejong memperhatikan setiap orang-orang itu. Mereka membawa beberapa jenis senjata. Ini adalah situasi yang cukup sulit, jaejong harus benar-benar berhati-hati karena  hana sedang berada dalam gengaman musuhnya seperti ini.

Tanpa jaejong sadari seseorang dari belakangnya menendang punggungnnya hingga membuatnya berlutut dihadapan musuhnya. Pria sinting yang menyandra hana memamerkan senyuman makian ke arah jaejong. “Lihatlah, seorang Kim jaejong rela bertekuk lutut untuk menyelamatkanmu, sayang.” Ucap pria itu senang seraya ia mengecup rahang bawah hana.

Dan hal kecil itu menyulut amarah jaejong, ia tidak sanggup menahannya. Pria itu menyeringai mengetahui amarah jaejong memuncah.  Ia tidak terima hana- gadisnya diperlalukan seperti itu. “Bedebah sialan enyahlah kau!!!” Teriak jaejong seraya bangkit Dari tempatnya ,namun gerakannya terhenti ketika beberapa pasukan musuhnya memukul punggungnnya jaejong. Mereka tidak segan-segan memukul dan menendang jaejong. Mereka mengeroyok jaejong bagaikan binatang yang sedang berebut mangsa.

Jaejong mendengar isak tangis hana. Ia nampak menyedihakn saat ini. Karena saat ini  ia tidak sanggup berbuat banyak ketika ia dipukul dan ditendang oleh kawanan musuhnya. Melakukan perlawan saat ini bukanlah tindakan yang bijak, bisa saja musuhnya membunuh hana di tempat. Rekannya sendiripun tidak sanggup membantu, rekannya juga mengalami hal yang sama. Menunggu cela adalah satu-satunya cara yang dapat dilakukan.

“Oppa…. Oppaaaaa. Tolong hentikan!” Hana berteriak ditengah isak tangisnya. Ia tidak kuasa menahan kehawatirannya ketika melihat jaejong – pria yang ia kasihi dipukul dan ditendang bertubi-tubi hanya untuk menyelamatkannya. Ia melihat jaejong seakan berserah diri dengan tidak melakukan perlawan apapun. “Aku mohon hentikan. Aku akan mengikuti ucapanmu. Aku mohon.” Pintah hana ditengah rintihan tangisnya. Hana boleh marah dan kecewa dengan perbuatan jaejong waktu itu tetapi untuk saat ini semua rasa itu sirna. Ia tidak sanggup melihat jaejong diperlakukan seperti itu.

Pria sinting itu tertawa menanggapi permintaan hana sebelum ia membuka mulutnya “Kau sangat menarik.” Gumamnya sambil menatap mata jaejong di sana. “Hentikan semua!” perintah pria itu pada bawahannya. Dengan segera anak buahnya pun menuruti perintah pria itu. Senyum liciknya terpancar ketika melihat anak buahnya memaksa jaejong untuk bertekuk lutut padanya. Saat itu wajah jaejong nampak lebam dan ujung bibirnya berdarah. Pria itu pun melanjutkan permainan konyolnya, nampaknya permainan semakin menarik kali ini. Kemudian pria itu melepaskan hana seraya berkata “Kau tidak ingin melihatnya semakin tersiksa, bukan? Aku ingin kau mengakhiri penderitaannya, bunuhlah dia.” Pria itupun mengakhiri kalimatnya dengan meletakkan ujung pistol pada tengkorak hana sebagai tanda ancaman. Jika sedikit saja hana berbuat kesalahan , pria itu tidak segan-segan untuk membunuh hana.

Jaejong hanya menatap hana dengan mata sayunya. Ia melihat hana berjalan ke arahnya dengan mengepalkan jarinya. Tubuh hana terlihat bergetar.  Pria sinting itu mengikutinya dan terus menempelkan ujung pistol pada tengkorak hana. Pria itu siap menembak hana kapan pun. Hana terlihat takut namun ia tetap melanjutkan langkahnya. Jaejong mendongakkan kepalanya ketika hana berdiri tepat di hadapannya. Perlahan hana mengambil sebuah pistol yang terletak di depan jaejong sambil mentap matanya lekat. Ekspresi wajah hana terlihat dingin seakan menyembunyikan segala perasaanya. Untuk pertama kalinya jaejong tidak sanggup membaca sorot mata dan ekspresi hana- jaejong seakan tidak mengenali gadis yang ada di depannya. Hana pun berdiri lalu mengarahkan pistol tepat di kepalanya. Akankah hidupnya berakhir di tangan gadis yang ia cintai?

 

Mata jaejong seakan tidak sanggup lepas dari manik mata hana. Dilihatnya hana memantikkan pistolnya. Sial, jaejong gugup. Udara dingin tiba-tiba menyelimutinya. Hana terlihat siap melepaskan anak peluru dari pistolnya.

‘Duar’

Suara rentetan tembakan terdengar ke seluruh penjuru gedung itu. Percikan darah menodai baju seragam hana ketika ia berhasil menembakkan sasarannya. Hana menjatuhkan pistolnya kala melihat targetnya tumbang. Tubuhnya pun bergetar hebat.

Dan di sisi lain jaejong seakan tidak mempercayai dengan apa yang telah terjadi. Segalanya terjadi dengan begitu cepat. Keheningan pun terjadi untuk beberapa detik kala dalang permainan konyol itu terjatuh tak berdaya bersimbah darah. Inilah saatnya membalik situasi. Jaejong dan rekannya segera mengambil  beberapa pistol. Saatnya membalik situasi. Jaejong menarik hana ke dalam dekapannya sebelum menembakkan pelurunya ke arah musuhnya. Suara rentetan tembakan pun kembali terdengar.

Jaejong pergi membawa lari hana setelah beberapa bantuan datang. Jaejong menggengam jemari hana erat. Mengajaknya berlari menuju pintu keluar. Di tengah pelariannya, tiba-tiba kaki hana terkilir dan terjatuh.

“Kau tak apa?”

“Eung, hanya terkilir. Aku baik-baik saja.” Jawab hana sambil tersenyum samar. Perlahan jaejong membantu hana berdiri. Rasa lega menguasi dirinya kini, mereka selamat dan hana baik-baik saja. Namun rasa lega itu tidak bertahan lama. Seseorang tengah mengintai keduanya dan sebuah senapan jarak jauh siap untuk membidik sang target.

Detik kemudian jaejong baru menyadari hal itu. Nampaknya ia terlambat.  Seseorang di balik pilar itu sudah mengunci targetnya. Titik target berwarna merah tertuju pada hana.  Tidak membutuhkan waktu lama orang pun itu melepaskan tembakannya. Jaejong kembali menarik hana dalam dekapannya. Iapun memutar tubuhnya ke arah titik target tersebut. Lalu….

‘Duar’

EPILOG

Hana memasukki kamar flat seorang pria sambil memeluk bantal kesayangannya. Senyum samar nampak di wajahnya. Ia terus berjalan mendekati tempat tidurnya. Ruangan ini nampak lenggang dan sunyi tanpanya. Hana merangkak di atas tempat tidur itu. Perlahan ia pun meletakkan bantalnya lalu merebahkan dirinya.

Ia menatap sepasang teddy bear  yang tersenyum dalam bola kaca. Bola kaca itu terletak di nakas samping tempat tidur pria itu. Ia merasa suatu ketenangan seakan pria itu sedang bersamanya dan memelukknya. Meski ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu dengan pria itu. Hana masih mengingat dengan jelas kejadian dua minggu yang lalu. Pria yang dikenlanya sebagai Oppa-nya- pria yang ia cintai- Kim Jaejong tewas tertembak demi melindunginya.

Mata hana mulai sayu. Kesedihan menyelimutinya kini namun ia berusaha untuk tidak menangis. Ia sudah berjanji hal pada dirinya sendiri. Ia meringkuk di atas tempat tidur jaejong sambil memeluk dirinya. Mungkin ini malam terakhir ia tidur dalam kamar jaejong karena esok paginya, ia akan pindah ke flat baru yang dekat dengan kampusnya. Hana seorang mahasiswa kini. ‘Oppa lihatlah aku sudah dewasa sekarang!’ begitulah kiranya yang akan ia sampaikan jika jaejong masih hidup.

Sejenak hana terdiam dan menenggelamkan dirinya dalam kesunyian. Ia teringat akan sebuah cerita yang disembunyikan jaejong selama hidupnya dan kini pun terungkap. Beberapa hari yang lalu, hana menemukan gumpalan kertas berserakan di sekitar kamar jaejong. Nampaknya waktu itu jaejong sedang berusaha menulis sesuatu, tetapi ia tidak cukup percaya diri.

Hana masih mengingat isi gumpalan-gumpalan kertas itu. jaejong mengungkapkan bahwa ayahnya tidak meninggal akibat kecelakaan. Jaejong lah yang membunuh ayahnya. Kala itu ayah hana masuk dalam daftar target jaejong. Hana tidak sanggup mendiskripsikan perasaannya ketika mengetahui fakta itu.

Rahasia demi rahasia terungkap, jaejong bukanlah seorang Sgarrista seperti yang ia katakan waktu itu tetapi ia adalah  Consigliere  atau kaki tangan pemimpin mafia terbesar di korea. Jaejong selalu menjalankan misinya dengan baik meski itu ia harus membunuh ataupun membantai orang dan ayahnya salah satu targetnya. Hana meneteskan air matanya mengenang hal itu. Hana pun mengingat beberapa kalimat yang telah di tulis jaejong ‘Aku tidak tahu mengapa , paman memintaku untuk menjagamu. Ia menitipkanmu kepada seorang pria seperti diriku. Tidak kah ia merasa khawatir- bagaimana jika aku membunuhmu juga waktu itu. Kau yang saat itu masih lugu tidak mengetahui bahwa ayahmu tewas terbunuh di tanganku tengah menangis dalam pusaran ayahmu- tangisanmu sangat memiluhkan dan untuk pertama kalinya aku merasa bersalah karena telah membunuh seseorang.  Itulah awal perjumpaan kita, hana. Maaf.’

Hana menangis dalam diam. Ia terlarut dalam kesedihan. Meski ia berjanji tidak akan menangis ataupun bersedih, sungguh ia tidak bisa menepati janjinya. Kematian jaejong dan fakta bahwa jaejong-lah yang membunuh ayahnya bagai sebuah pil pahit yang harus ia telan. Ia tidak sanggup mengerti perasaannya. Ia membenci jaejong. Tentu. Namun percayalah cinta dan benci perbedaannya sangatlah tipis. Dan perasaan itulah yang sedang hana rasakan saat ini.

Hana terisak dalam tangisannya. Hatinya terasa perih dan sesak. Mengapa ia bisa jatuh cinta pada pria yang telah membunuh ayahnya?. Dan bodohnya, pria itu sebenarnya memiliki rasa yang sama dengannya. Hal itu terbukti pada salah satu gumpalan kertas-kertas itu,  jaejong-Oppa menuliskan beberapa sajak mengenai isi hatinya.

‘Kau dan aku, kalaupun kita menjadi orang asing suatu hari nanti

Kalaupun kita menjadi dua orang yang tidak pernah bertemu

Jangan lupakan aku, Jangan hapus aku

Meskipun kau memegang tangan orang lain,

Meskipun kau berada di tempat yang tidak pernah bisa kutuju

Jangan lupakan aku ,Jangan hapus aku’

 

‘Begitu hangat ketika pipi kita bersentuhan

Ketika kau dengan lembut memegang tanganku yang dingin

Hatiku yang lelah akan dunia yang dingin ,tetapi kau memeluknya dengan kehangatanmu

Wajahmu yang memenuhi mataku , Wajahmu yang terlelap dalam pelukanku

Aku berharap waktu akan berhenti sekarang’

Hana menghembuskan nafasnya berat, berusaha menghentikan tangisnya sambil memukul-mukul dadanya. Hatinya masih terasa perih. Hana benar-benar tidak mengerti,  mengapa jaejong tidak membiarkannya mengetahui perasaannya secara langsung?

 

Advertisements

20 thoughts on “[Season Of Love Project]The Story Left Untold

    1. Hiiii unii
      Makasih udh menyempatkan waktu untuk membaca heheh iya syukur pas baca ff ini berasa nontn film action xD
      Sekali lagi makasih ya

      Like

      1. Sama2… Aku pun sudah bertekad utk membaca seluruh FF project ini sama dg kalian. Sekalian bljr bbrp penulisan dan genre baru.

        Dan sepertinya coba nulis action ataupun NC boleh juga heheehe.. secara aku blm pernah mnulis genre dan rating itu >_< #curcol

        Like

  1. Pantesan kata kamu panjang, ceritanya action sih hehe.
    Haduh jae oppa kau keterlaluan pada hana , hanya karena tidak ingin Hana dibunuh dia menyewa jalang agar hana membencinya ckckckc. NCnya sudah cukup 😃😃aku gak bisa komen bagian itu.
    Jalan ceritanya uhhh bikin takut aja jaejoong oppa bener2 dibunuh sama hana ternyata dia tewas karena melindungi hana.
    Aku gak pernah mau baca action sih karena isinya ya gini darah dan darah hahaha . Tapi karena castnya jaejooong oppa jadi aku harus baca apapun genrenya #curcol maaf ya Authornim.
    Good job 👍

    Like

    1. Aslinya g niat bikin action vin, tp entah kenapa tiba2 ada ide action gitu. Mungkin abis liat2 treasernya jaejong yg spy itu heheh dia jd mata2 dan ada beberapa scane action heheh
      Huwaaaa untuk nc nya ? Kkk agak susah buatnya butuh berhari2 nulis part awalnya hahah
      Sama aku juga g seberapa suka jenis ff action atau kekerasan =.= banyak darah dan kayak gmna itu tp ya entah idenya itu tiba2 muncul kkkk
      Pokoknya terimakasih ya author vizkylee udah menyempatkan waktu untuk membaca kkkk xD oh iya satu lagi gegara nulis ff ini aku jd suka jaejong gmana ini 😂😂😂

      Like

      1. Hehehe tiba-tiba dapet ide , iya dia keren disitu sama yg sebelum spy itu juga bagus. Aku lupa judulnya tapi hehe.
        Iya NC itu susah hehehe
        Memang ide itu ada2 aja ya
        Hehehe iya sama2
        Ya ampun gak papa dia itu pantes disukai banyak perempuan hehe.

        Like

      2. Wkwkwkwk iya vin ^^ di spy ada adegan ciuman juga xD lucu ciumannya hahah pgn buat gitu tp g jd hehehe
        Iya , eh jaejong itu masih wamil atau bagaimana sih? Kok ada mv baru yg judulnya love you more, itu baru apa lama vin? Lama ya kekny?

        Like

      3. Kenapa enggak jadi ? Itu di spy malu2 gimana gitu ciumannya , menurutku sih hahaha.
        Aku kurang tau dia ngeluarin singel kan , kayaknya udah keluar wamil aku gak update 😢

        Like

  2. aku sudah bertekad akan baca semua ‘season of love’ nya MNJ dan ini adalah FF kedua yang genrenya biasa aku hindari wkwk terutama karena ada kata ‘kekerasan’, tapi actionnya abang jae boleeeeh banget *.*
    cuman pas bagian awal reaksiku gini pas baca alinea 1 : “oh mau bikin jelez kayaknya”
    alinea 2 : “gilak gilak gilak …. sampe bawah”
    hahahaha :^D
    I finally knew ur taste lah ya finiiii~~ keep writing!

    Like

    1. Wkwkkwkw sama risuki xD aku juga niatnya bakalan baca seluruh ff project ini hahah xD ya aku juga sama g seberapa suka genre ff model gitu hahah tp pas nulis percayalah enjoy bgt hahah xD feelsnya beda kkk coba deh kapan2 kamu buat hahah sekalian kayak ajang nantang diri kkk nulis keluar dari zona aman hahahah xD
      Yooo sekali lagi makasih ya risukiii udh mau baca dan berkomentar 😍

      Like

      1. Yosh!
        kalo action sih aku pernah kak waktu itu taecyeon main castnya, dan emang setu sih bayangin scene scenenya dan mikir gimana supaya readers juga dapet feelnya, cuma itu syudah lama sekali. 2013 Kali ya, pokoknya sebelum aku WB akut wkwk

        Like

      2. Seriusan pernh kkkk publish di sini gih xD setelah project heheh kalau mau sih kamunya kkkk xD
        Aki itu suka caramu nulis ff tau xD

        Like

  3. Haiihoo minariFini ^^
    sebenarnya aku termasuk orang yg menghindari bacaan nc kkk makanya aku td baca lincat bagian nc-nya hihi /sungkem/

    ffnya bagus banget, actionnya berasa. dan aku suka ><

    Like

  4. FINIIIII… SUKSES DEH!!!
    Actionnya dapet, cemburunya dapet, syedihnya dapet huhu..
    Dibikin chapter lebih greget deh fin hihi… Jadi alurnya lebih detail kyak pas dibikin cemburu itu.. Duh duh duh…😍😍😍

    Like

  5. Huaaaahhh, ini berbobot banget. Serious! Jadi malu sama ff abal-abal saya :’)) anyway, aku suka sama ceritanya. Mas jaejong penggoda iman :”) hahaha ada beberapa typo sih, but it’s okay karena saya juga sangat mencintai typo entah kenapa/? Hahaha. Aku suka jalan ceritanya, temanya dan yg terpenting kamu uda berani utk keluar dri zona amanmu untuk buat genre kekerasan dan action juga NC ini. Aku kasih apresiasi lebih untuk FF yang satu ini! 😀 saya aja blm tentu bisa bkin action muehehehe XD kalo saran sih mungkin epilog nya dibuat di atas deh, jadi alurnya flash back gitu. Hihihi itu mnrtku sih. But it’s super daebak dan saya suka 😀

    Like

  6. Annyeong author minarifini… bentar aku mau atur nafas dulu pas baca bagian actionnya… hahaha aku bacanya ikut tegang dan tiba-tiba kebayang drama Jaejoong oppa di Triangle(?) hahaha dia jadi gangster disitu dan kurang lebih karakternya gak jauh-jauh dari ini, akhirnya kau bisa bayangin gimana situasi menegangkan disini.. jujur aku suka sama ff yang kamu bilang biasa aja ini, apanya yang biasa aja? Bohong,, hahaha sumpah ini keren dan memang kalo ini di bikin singkat bakalan jelek, aku tau gimana waktu kamu berusaha mau bikin ff ini lebih singkat lagi karena (aturan) tapi ini kan sudah sesuai aturan juga dan aku bener-bener suka..
    sebenernya aku jarang suka fanficton action, tapi di fanfiction ini malah kamu bikin aku suka dan gak bosen baca dari awal sampe akhir..
    sering-sering isi mnjfanfic dengan ff daebakmu yang lain ya!! ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s