Angst · Drama · Family · FluffyAngst · Genre · Hurt · Life · PG -15 · Romance · sad · Two Shoot

Broken Heart (Chapter 2)


Poster 2

Author            : @SandraChoii

Tittle               : Broken Heart

Cast                : Son Hyun Woo (Shownu MonstaX)

                          Choi Ji Hyun  (OC)

Other Cast     : Im Woong Jae (Siwan ZEA)

                          Kim Seok Jin (Jin BTS)
Park In Hee (OC)

Genre             : Sad, Romance, Series, Hurt

Rating             : PG 15

Leght              : Twoshoot (Chapter 2 of 2 end)

Disclaimer      : Seluruh Cast adalah idol author, cast “Aku” disini hanyalah sebuah imajinasi, persamaan cerita atau jalan cerita dengan fanfic lain mungkin hanya sebuah kebetulan yang tidak pernah author sengaja. Berkomentarlah sesuka anda, tapi jangan sesekali copas, plagiat, dan sejenisnya.

A/N                 : Melanjutkan cerita sebelumnya, di Chapter 1  Happy Reading ^^

 

Story:

Ketika Tuhan mempertemukanku denganmu, bahkan aku benar-benar lupa bagaimana rasanya “Patah Hati”

 

Aku membuka mataku perlahan ketika cahaya matahari menembus jendela kamarku yang seketika tepat mengenai mataku, refleks aku menghalanginya dengan telapak tanganku, mencoba meraih selimut tebalku yang entah sudah aku tendang menjauh dari arah bawah kakiku. Menyebalkan, ketika aku harus kembali terbangun untuk meraihnya disaat tubuhku benar-benar malas untuk bangkit.

“Ah… Tuhan, siapa yang membuka tirai jendelanya?” Gerutuku ketika aku tengah bangkit dan meraih selimutku yang memang sudah terjatuh di bawah ranjang.

Seketika aku menajamkan pendengaranku, suara-suara sedikit berisik dari arah dapur membuatku mengernyitkan dahi, bahkan aku mencium aroma roti panggang dengan keju mozarella yang cukup kuat dari arah dapur, aku berpikir sejenak..

“Seokjin, bukankah itu Kim Seokjin?” Batinku dengan ekspresi yang susah untuk aku jelaskan, aku hanya begitu bahagia ketika Seokjin menemuiku hari ini.

Aku segera bangkit dari posisiku saat ini, melangkahkan kakiku cepat ke arah dapur, senyumku mengembang saat aku melihat dari arah belakang seorang namja tengah sibuk dengan roti panggangnya.

“Aku merindukanmu, Kim Seok Jin” Gumamku seketika saat memeluk belakang tubuhnya dengan erat.

Dia menghentikan aktivitasnya sejenak, aku dapat merasakan ketika dia hanya diam dalam posisi yang sama ketika aku masih memeluknya. Sedikit demi sedikit aku mengendurkan pelukanku, seseorang itu masih dalam posisi yang sama. Bodoh, aroma parfumnya bukan milik Seokjin, bahkan aku merasakan tubuhnya sedikit lebih besar dari Seokjin.

Aku segera mundur beberapa langkah setelah melepaskan pelukanku padanya, dengan sangat jelas aku melihat sosok seseorang itu yang kini menatapku dengan senyuman yang begitu menyakitkan bagiku.

“Harusnya aku tidak terlalu mengkhawatirkanmu, karena pada kenyataannya hanya dia yang kau pikirkan,” Hyunwoo segera melepas celmek yang dia gunakan, lalu meraih satu piring roti panggang dan menyerahkannya padaku.
“Makanlah, Kim Seokjin sengaja membuatkannya untukmu”

Perasaanku begitu sakit saat ini, ketika dia benar-benar terlihat kecewa dengan apa yang telah aku lakukan padanya. Tidak seperti biasanya ketika dia terlihat begitu emosi atas semua hal yang aku lakukan, kali ini Hyunwoo hanya mencoba tersenyum senyum yang begitu dingin padaku, dan aku yakin kali ini dia benar-benar akan…

“Iya, benar.. lebih baik kau berpikir jika Seokjin yang menemuimu dan menyiapkan ini semua untukmu, dan anggap saja aku tidak pernah datang kesini lagi”

Hyunwoo memaksakan dirinya untuk tersenyum, lalu menepuk bahuku sebelum berjalan pergi.

“Hyunwoo.. Son Hyun Woo!!” Aku mencoba menghentikannya ketika Hyunwoo akan segera membuka pintu untuk keluar.

Hyunwoo berbalik menghadap ke arahku

“Mulai hari ini, kekasihmu hanya Kim Seokjin dan Im Woongjae” Gumamnya dengan tatapannya yang begitu dingin.

 

 

***

 

Aku hanya menatap roti panggang buatan Hyunwoo dengan isakan yang begitu lirih, dan sejujurnya Son Hyunwoo adalah seseorang yang jauh lebih perhatian padaku mengenai hal-hal kecil dibandingkan dengan Im Woong Jae, Son Hyunwoo juga yang selalu berusaha melakukan hal-hal tidak penting yang aku sukai seperti memasak yang memang pada kenyataannya dia tidak memiliki kemampuan memasak sehebat Seokjin.

Ponselku tiba-tiba berdering, aku segera meraihnya yang memang tidak terlalu jauh dariku, dan Park In Hee menelponku?? Aku mengerutkan alisku sedikit bingung, tidak biasanya In Hee menelponku sepagi ini.

“Hem?” Jawabku sedikit malas.

‘Apa kau sudah bangun? Apa tidurmu begitu nyenyak kali ini Choi Ji Hyun?’

Apa?? In Hee sepertinya sedang terisak saat ini, dia menyindirku dengan begitu banyak kalimat-kalimat yang mengharuskanku berpikir keras dengan apa yang dia sampaikan saat ini.

‘Aku menunggumu di Myeongdong, jika kau masih memikirkan Seokjin temui aku saat ini juga’ Ucapnya singkat lalu mematikan sambungan telponnya.

Ya!! Park In Hee..” Aku berusaha bertanya tetapi tidak berguna, bahkan aku sempat mencoba menghubunginya kembali tetapi In Hee sudah mematikan ponselnya.

 

Aku mematikan mesin mobilku, ketika baru saja memarkirkan mobilku di area parkir apartemen milik Seokjin tidak jauh dari tempat Seokjin bekerja, aku yakin In Hee berada disana dan dia memintaku menemuinya.

Sedikit canggung ketika aku mengetuk pintunya, dan In Hee sendiri yang membuka pintunya untukku. Dengan mata yang sedikit sembab dan isakan kecil, In Hee menatap tajam kearahku.

“Masuklah,” Sahutnya, aku hanya menatap In Hee dengan tatapan tidak mengerti.

“Dimana Kim Seokjin?” Tanyaku dengan sesekali mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan untuk mencarinya,

Plak…

Aku membulatkan mataku, aku benar-benar terkejut ketika Park In Hee menamparku cukup keras.

Ya!!!” Teriakku, aku berusaha ingin memakinya tetapi aku melihat In Hee menangis kali ini.

“Apakah itu sakit?? Aku sudah berkali mengingatkanmu jangan mempermaikan perasaan Im Woongjae, Kim Seokjin, dan Son Hyunwoo.. apakah kau pikir tamparan itu jauh lebih sakit dari perasaan mereka?”

Aku hanya diam sejenak mendengarnya, tidak biasanya In Hee begitu mencampuri urusan pribadiku.

“Dimana Kim Seokjin?” Tanyaku sekali lagi dengan isakan yang tidak lagi dapat aku tahan.

In Hee hanya menatapku sejenak,

“Seokjin meninggal..” Gumamnya lirih

“Apa? Kau jangan main-main..” Teriakku dengan mengguncang-guncangkan bahu In Hee tanpa ada respon sedikitpun darinya,

Nafasku terasa berhenti sejenak saat In Hee mengatakannya, sungguh aku tidak begitu percaya padanya kali ini, Seokjin aku yakin dia sedang bekerja atau entah kemana.

In Hee menatapku penuh kebencian, aku bahkan tidak dapat mempercayai semua yang dia jelaskan padaku terkait kematian Seokjin, tentang Seokjin terlalu banyak mengkonsumi obat penenang atau apalah itu, aku benar-benar tidak mempercayainya sedikipun.

“Dia meninggal seminggu yang lalu, bukankah minggu lalu kau ke myeongdong? Bukankah kau menemuinya?”

In Hee bangkit dari posisinya lalu mengambil sesuatu dan memberikannya padaku, sebuah amplop kecil berwarna-warni yang jumlahnya cukup banyak.

“Ini milik Seokjin, hanya itu yang dia tinggalkan untukmu”

Aku meraihnya dari tangan In Hee dan membuka satu persatu,

29-04-2013

Seharusnya aku bersyukur pada Tuhan,
Ketika Tuhan mempertemukanku denganmu
Bahkan aku benar-benar lupa bagaimana rasanya
Patah Hati

19-05-2013

Aku belajar banyak darimu, tentang cinta dan
Tentang bagiamana cara mencintai,
Hingga saat ini aku dapat menerapkannya dengan baik,
Aku mencintaimu lebih dari yang kau bayangkan

Isakanku semakin kencang ketika membaca sebuah amplop kecil berwarna pink, khusus amplop berwarna pink itu menceritakan mengenai kapan pertama kali aku dan Seokjin merayakan hari pepero.

11-09-2015

Sudah berapa lama kita bersama?
Walaupun tidak sering,tetapi aku begitu menikmati saat kebersamaan kita
Sejauh ini aku hanya ingin satu hal dalam diriku, yaitu
Menjadi seorang pria yang terbaik untukmu

Aku menangis kencang saat membaca kalimat terakhir Seokjin, nafasku terasa sesak, aku ingin menemuinya dan memeluknya erat, seharusnya Seokjin tidak perlu terlalu mencintaiku begitu dalam, hal ini sangat menyakitkan untukku.

“Aku sudah membaca semua isinya, dan aku benar-benar kecewa mengapa Kim Seokjin begitu mencintaimu?”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah In Hee yang sedang bergumam lirih tepat di sampingku.

“Kau.. bukankah kau yang mengatakan semuanya pada Seokjin? Jika kau diam, jika kau tidak terlalu mencampuri urusanku, tidak akan terjadi seperti ini..” Aku menghapus air mataku dan menatap In Hee kesal

“Kau menyalahkan aku atas semua kesalahan yang kau buat sendiri? Kenapa kau begitu pintar” Sahut In Hee tanpa ada jawaban apapun dariku

In Hee Kembali terisak kali ini,

“Kau tau, aku begitu sakit ketika melihat kau memperlakukan Seokjin seperti itu hingga dia berakhir seperti saat ini. Aku begitu iri padamu, kau bahkan tidak pernah menyadarinya?”

“Kau berkata apa?”

“Aku mencintai Seokjin jauh sebelum dia mencintaimu” Lanjut In Hee lirih, aku segera mengalihkan perhatianku padanya, mendengar banyak hal yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya, bagaimana mungkin aku tidak menyadari jika Park In Hee memiliki perasaan pada Kim Seokjin? Sejak SMA kami memang berada di sekolah yang sama tetapi sungguh aku tidak pernah menyadarinya jika Park In Hee menyukai Seokjin.

“Kau bahkan tidak pernah membayangkan, bagaimana perasaanku saat itu, ketika Kim Seokjin mengatakan dia begitu menyukaimu? Kau akan merasakan bagaimana sakitnya perasaan Seokjin karenamu.”

In Hee menatapku dengan seringaiannya yang tajam, dan berjalan pergi dariku.

 

 

***

 

Aku menggenggam erat beberapa surat-surat kecil milik Seokjin. Mengingat kembali banyak hal tentangnya, beberapa fotoku dan Seokjin yang masih aku simpan  dalam folder khusus di ponselku yang membuatku tidak dapat menahan air mataku, sungguh aku merindukannya saat ini.

“Kim Seok Jin, kau sudah benar-benar menjadi seorang pria terbaik untukku. Kau tidak mengetahui satu hal, jika aku sangat mencintaimu lebih dari yang kau pikirkan”

Beberapa saat ponselku berbunyi, sebuah pesan melalui Kakaotalk baru saja masuk,

From: Im Woong Jae

Kau ada di rumah?
Buka pintunya

Aku segera menghapus air mataku dan menyembunyikan surat milik Seokjin ke dalam laci sebelum membuka pintunya. Woongjae tersenyum padaku dengan menunjukkan sebuah kantung plastik kearahku.

“Aku baru saja berbelanja untuk membuat sup gurita pedas,”

Aku berusaha tersenyum padanya, meraih kantung plastik dari tangannya yang dia angkat begitu tinggi hingga menutupi wajahnya.

“Apa kau baik-baik saja? Matamu bengkak, apa kau baru saja menangis?” Tanya Woongjae yang tiba-tiba memperhatikan wajahku.

“Tidak, apa oppa ingin aku memasaknya sekarang?” Tanyaku mencoba mengalihkan perhatiannya

Woongjae hanya mengangguk dan tersenyum,

“Jihyun-ah.. kau tidak membersihkan rumahmu lagi?” dan sekali lagi dia selalu mengoceh mengenai rumah yang belum sempat aku bersihkan,

Aku tersenyum mendengarnya

“Aku tau oppa akan datang, jadi aku sengaja tidak membersihkannya, bukankah itu tugasmu?”

Aku melihat Woongjae begitu bersemangat mengambil alat pembersih lantai, beberapa kali aku tersenyum ketika dia melepaskan kemejanya dan menyisakan t-shirt putih polos ketika mulai membantuku membersihkan rumah, sedangkan aku masih sibuk dengan kegiatan memasakku yang hampir saja selesai.

Setiap kali Im Woong Jae datang dia selalu memintaku membuatkan sesuatu untuknya sedangkan dia akan membantuku membersihkan rumah. Berbeda dengan Seokjin, ketika Seokjin datang kami akan bersama-sama memasak dan aku yakin setelah itu kami akan berdebat mengenai resep masakan dan step memasak yang paling benar, walau pada kenyataanya di mulai dari manapun itu tidak memiliki pengaruh, tetapi bagi Seokjin kesalahan memulai akan bermasalah besar pada masakannya, hal itulah yang membuatku begitu merindukannya, dia mengajariku banyak hal dan sekali lagi aku tidak dapat menahan air mataku ketika mengingatnya kembali.

Lalu bagaimana dengan Son Hyun Woo? Tidak banyak yang tau, mungkin Hyunwoo tidak sepandai Seokjin untuk hal memasak tetapi Hyunwoo bisa melakukannya walau tidak sebaik Seokjin, dia juga membantuku membersikan rumah ketika aku memasak, dan terkadang aku melihat Im Woong Jae dan Kim Seok Jin dalam diri Son Hyun Woo.

Aku melihat beberapa kali ponsel Woongjae berdering saat aku baru saja menyelesaikan masakanku dan menatanya rapi di meja. Beberapa kali aku menoleh mencari pemilik ponsel yang entah dimana, biasanya dia sedang membersihkan ruang utama tetapi kali ini aku rasa dia sudah menyelesaikannya dengan baik.

“Oppa.. kau dimana? Ponselmu berbunyi..” Teriakku mencoba memanggilnya, tidak ada jawaban apapun darinya. Hanya gemercik air yang terdengar dari arah kamar mandi dan mungkin dia sedang mandi.

Sesungguhnya aku ingin membiarkannya tetapi ponsel itu berkali-kali berdering,

“Kim Gyu Ri?” Gumamku saat membaca seseorang yang sejak tadi menelponnya.

Aku belum sempat menerima panggilannya tetapi seseorang itu sudah menutupnya, ada sekitar 20 missed call dan 8 kakaotalk dari seseorang yang entah siapa.

 

From: Kim Gyu Ri

Woongjae-ah kau dimana?
Aku merindukanmu

 

Kau sedang menemui kekasihmu?
Segera putuskan dia,

 

Jika kau tidak mengangkat panggilanku sekali lagi,
aku akan menghubungi kekasihmu dan mengatakan hubungan kita.

 

Im Woong Jae, apa perlu aku katakan pada kekasihmu
jika kau dan aku akan segera mempunyai anak? Angkat panggilanku..

 

Aku memandang pesan itu nanar, tidak ada yang bisa aku lakukan saat membacanya selain hanya diam dalam posisiku sebelumnya.

“Jihyun-ah, kau sedang apa?” Panggil Woongjae ketika dirinya baru saja meneyelesaikan mandinya.

Aku menatap tajam padanya, menggenggam erat ponselnya yang masih berada di tanganku dan segera melempar ponsel ke arahya.

Ya!! Apa yang kau lakukan?” Protes Woongjae yang berhasil menangkap ponsel miliknya yang baru saja aku lempar ke arahnya.

Woongjae segera mengecek isi ponselnya, aku dapat melihat ekspresi terkejutnya dengan diikuti kelopak matanya yang membulat saat membaca pesan dari seseorang bernama Kim Gyu Ri.

“Jihyun-ah, ini tidak seperti yang kau pikirkan.. sungguh” Woongjae menghampiriku dan meraih tanganku.

Aku menepis tangan Woongjae, dadaku tiba-tiba sesak mungkin hal ini yang di rasakan oleh Kim Seokjin dan Son Hyunwoo saat itu, aku merutuki nasibku sendiri, aku tersenyum dalam pahit kenyataan yang membawa karma menjadi begitu dekat padaku, kini aku benar-benar tau bagaimana rasanya patah hati dua kali, pertama patah hati atas meninggalnya Seokjin dan  kedua patah hati mengetahui perilaku Woongjae.

“Apa benar kau akan memiliki anak dari wanita itu?” Gumamku begitu lirih, aku yakin Woongjae mendengarnya karena kami dalam jarak yang begitu dekat.

“Maafkan aku,” Hanya itu yang Woongjae ucapkan.

Aku tersenyum getir mendengarnya, sebuah situasi yang mengingatkanku bagaimana sakitnya perasaan Kim Seokjin dan Son Hyunwoo ketika aku mengatakan hal yang sama seperti jawaban dari Im Woongjae kali ini.

“Siapa Kim Gyu Ri?” Tanyaku sekali lagi dengan mundur beberapa langkah darinya.

“Aku bisa menjelaskannya..”

“Aku tidak ingin mendengarnya, aku lelah pergilah” Sahutku seketika lalu berjalan meninggalkannya,

Woongjae mengikuti langkahku lalu menarik pergelangan tanganku.

“Jihyun-ah, tolong dengarkan aku..”

Aku menepis tangannya sekali lagi,

“Aku tidak ingin mendengarnya, dan aku minta kau keluar!!”

 

 

***

 

Aku mengikuti perkuliahan hari ini dengan sedikit tidak fokus, kepalaku terasa begitu sakit. Beberapa kali aku menahannya tetapi sepertinya sakit kepalaku kali ini cukup parah, mungkin pikiranku benar-benar penuh akhir-akhir ini, dan seharusnya memang hari ini aku tidak perlu mengikuti kuliah.

Aku mencoba menguatkan diriku untuk berjalan keluar kelas ketika baru saja perkuliahan berakhir,

“Choi Ji Hyun, kau baik-baik saja?” Tanya salah seorang teman kelasku ketika aku terlihat berjalan dengan memegang kepalaku yang terasa cukup sakit.

Aku tersenyum menanggapinya,

“Iya, aku bak-baik saja”

“Tapi kau terlihat begitu pucat, seharusnya jika kau sakit jangan memaksakan diri untuk kuliah,”

Aku tersenyum sekali lagi mendengarkannya dan kembali melanjutkan jalanku untuk segera pulang. Baru beberapa langkah aku berjalan dan sialnya pandanganku kembali buram, semua rasanya seperti gelap, dan kakiku tidak dapat lagi di gerakkan, bahkan untuk menopang tubuhku sekalipun.

Ya!! Jihyun-ah…

Aku hanya mendengar seseorang berlari kearahku untuk menahanku agar aku tidak terjatuh, dan..

 

Aku membuka mataku perlahan, kepalaku masih sedikit pusing walau tidak separah tadi, dan tunggu.. bukankah tadi aku masih di universitasku? Lalu bagaimana aku sudah berada di kamarku?

“Kau sudah bangun?”

Aku segera menoleh pada seseorang itu,

“Hyunwoo?” Gumamku pelan, Son Hyunwoo ternyata sejak tadi berada disini, dia duduk di sebuah kursi yang dia letakkan tepat di samping ranjangku, menungguku hingga aku terbangun.

Hyunwoo mencoba tersenyum padaku, walau ada sedikit rasa canggung dari raut wajahnya dan sesekali dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah dia benar-benar tidak ingin melihat ke arahku.

“Kau sudah baik-baik saja kan? Kalau begitu seharusnya aku pergi sekarang,” Sahutnya lalu bangkit dari tempat duduknya.

Air mataku tiba-tiba saja mengalir tanpa aku sadari sebelumnya, dadaku terasa sesak, dan perasaanku mulai berontak melarang Hyunwoo pergi saat ini, refleks aku menahan tangannya dengan sisa tenaga yang aku miliki, bahkan untuk bangun dari posisiku kali ini rasanya sedikit susah.

“Hyunwoo..” Panggilku dengan suara yang sedikit serak, seketika Hyunwoo menghentikan langkahnya lalu kembali duduk dalam posisinya, dia menatapku dengan menyentuhkan punggung tangannya tepat pada keningku.

Ada sedikit ekspresi kekhawatiran dalam raut wajahnya, entah kenapa setiap aku sakit selalu aku ingin mendapatkan perhatian dari Son Hyun Woo daripada Woongjae dan Seokjin saat itu, mungkin karena Hyunwoo calon dokter? Aku rasa bukan.

“Kau yakin baik-baik saja?” Serunya menyadarkanku dari lamunanku

Aku hanya mengangguk ketika menjawab pertanyaannya,

“Aku belum benar-benar menjadi dokter, tapi saat kau pingsan dan aku membawamu kesini tadi aku sudah sempat memeriksa keadaanmu, dan aku butuh bertanya sesuatu denganmu,”

“Kenapa?”

“Apa kau pernah melakukan hal itu dengan  Im Woongjae atau Kim Seokjin?”

“Apa?” Tanyaku sekali lagi untuk memperjelas pertanyaan Hyunwoo yang aku rasa sedikit ambigu.

Hyunwoo menatapku sedikit lebih intens, mata kecilnya terlihat semakin menyipit kala menajamkan pandangannya ke arahku.

“Apa kau yakin jika saat ini kau tidak sedang hamil?”

Aku mengerutkan dahiku mendengarnya, nafasku terasa sesak ketika aku benar-benar menahan isakanku dari hadapan Hyunwoo.

“Itu tidak mungkin, aku yakin kau pasti salah kan?”

Hyunwoo mencoba tersenyum di hadapanku, aku rasa dia sangat kecewa tapi sekali lagi ada ekspresi lain dari wajahnya, seolah dia tidak benar-benar ingin meninggalkanku kali ini.

“Hyunwoo, maafkan aku” Gumamku dengan sedikit terisak dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, aku merasakan Hyunwoo mendekat duduk di sampingku lalu meraihku dalam pelukannya.

“Kau tenanglah,” Hanya itu yang Hyunwoo ucapkan dengan beberapa kali menepuk bahuku.

Perlakuan Hyunwoo padaku saat ini membuat perasaan bersalahku semakin besar, seharusnya dia marah padaku seperti waktu sebelumnya, seperti ketika dia pertama kali mengetahui hubunganku dengan Im Woongjae ataupun Kim Seokjin. Tapi kali ini Hyunwoo benar-benar memelukku, mencoba membuatku tenang walau sesungguhnya aku tau perasannya jauh lebih hancur dariku.

“Apa kau melakukannya dengan Kim Seokjin?” Tanya Hyunwoo sekali lagi ketika dia baru saja melepaskan pelukannya dariku.

Aku menggeleng singkat dengan sedikit menunduk,

“Bukan, tapi Im Woong Jae dan..” Aku seketika tidak dapat melanjutkan kalimatku, tetapi Hyunwoo seolah memaksaku untuk segera menjawabnya.

“Kenapa dengan Im Woongjae?”

“Woongjae, dia juga akan memiliki anak dari seorang wanita bernama Kim Gyuri” Jawabku kini dengan berusaha tenang, berusaha tersenyum di Hadapan Hyunwoo yang terlihat sedikit mengkhawatirkan kondisiku kali ini.

“Kau tenang saja, aku baik-baik saja” Lanjutku menyadarkan lamunan Hyunwoo

“Tapi aku rasa kau harus mengatakannya pada Woongjae,”

Aku segera menggeleng cepat menganggapi saran Hyunwoo, bagaimanapun aku tidak ingin Woongjae mengetahuinya, jika perlu aku akan benar-benar menjauh hingga Im Woongjae tidak akan pernah menemuiku lagi, aku benar-benar muak dengan sikapnya, dengan semua yang dia lakukan padaku bahkan mengenai seorang wanita itu.

“Tidak, Hyunwoo aku benar-benar tidak ingin berurusan dengannya”

Hyunwoo mengangguk lalu memelukku, tangan kanannya menepuk bahuku sedangkan tangan kirinya mengusap kepalaku. Sungguh aku merindukan saat saat seperti ini, tetapi aku cukup tau diri kali ini jika seorang pria sebaik Son Hyunwoo tidak selayaknya menjadi takdir seorang wanita sepertiku.

 

***

 

Son Hyun Woo menuntunku keluar dari dalam mobilnya, beberapa minggu lalu dia selalu mendesakku untuk memeriksakan kondisiku, mungkin Hyunwoo benar tidak ada salahnya kali ini aku mengikutinya.

“Jihyun, tunggu sebentar..” Gumamnya pelan dengan menghentikan langkahku ketika akan masuk ke dalam klinik kandungan.

“Lihatlah, apakah itu Park In Hee?” Lanjutnya yang membuatku seketika menoleh ke arah yang Hyunwoo tunjuk.

Aku membulatkan mataku, mencoba mengamati apa yang aku lihat kali ini. Hyunwoo menyeretku sedikit menjauh untuk bersembunyi di sekitar lokasi setidaknya agar mereka tidak mengetahui keberadaan kami.

Terlihat dengan jelas bagaiman Park In Hee menggandeng lengan Woongjae manja, sesekali In Hee tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu Woongjae ketika mereka berjalan masuk ke dalam klinik.

“Park In Hee? Apa yang dia lakukan?” Gumam Hyunwoo tidak mengerti

“Hyunwoo itu Im Woongjae, seorang pria yang sedang pergi dengan Park In Hee itu adalah Im Woong jae,” Gumamku memperjelas.

“Apa?” Hyunwoo menajamkan pandangannya ke arah mereka “Jadi dia Im Woongjae?” Lanjutnya yang hanya aku jawab dengan anggukan.

Hyunwoo segera menuntunku, tangannya segera menarik tanganku untuk mengikutinya masuk ke dalam.

“Hyunwoo, bisa kita pindah ke tempat lain saja?” Tanyaku dengan sesekali menahannya.

“Kita harus mengetahui untuk apa mereka ke sini, tidak mungkin dia memiliki hubungan dengan Park In Hee kan?” Tanya Hyunwoo sesekali dengan tetap memaksaku mengikutinya.

“………..”

Aku tidak menjawab apapun kali ini, hanya mengatur nafasku dan menutup mulutku dengan telapak tanganku.

“Jihyun-ah, kau baik-baik saja?” Tanya Hyunwoo dengan sesekali memperhatikan ke arahku

“Aku baik-baik saja, hanya saja aku sedikit mual” Jawabku dengan menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi ruang tunggu setelah Woongjae dan In Hee masuk terlebih dahuu ke dalam ruang periksa.

Hyunwoo merangkulkan lengannya pada pundakku, mengeratkannya dengan sesekali menepuk bahuku, tanpa sadar untuk kesekian kalinya aku kembali menjatuhkan air mataku karena Hyunwoo. Bagaimana dia masih dapat bersikap begitu baik padaku yang telah terlalu banyak menyakitinya selama ini?

“Kau menangis?” Tanya Hyunwoo ketika sesekali dia mendengar suara isakan yang aku tahan mati-matian sedari tadi, Hyunwoo semakin mengeratkan rangkulan lengan kanannya pada pundakku, kini tangan kirinya mencoba mengangkat daguku untuk membuatku menatap ke arahnya.

“Aku benci melihatmu menangis hanya untuk seorang pria seperti Im Woongjae” Gumamnya dengan menghapus air mataku.

“Kau salah, aku tidak menangisi Im Woongjae” Sahutku lirih, sedangkan Hyunwoo hanya menatapku tidak mengerti.

“Maafkan aku, aku menangis karena aku begitu menyesal atas sikapku terhadapmu selama ini, semakin kau bersikap baik padaku semakin aku merasakan sakit karena penyesalan,” Lanjutku dengan  mencoba melepaskan lengan Hyunwoo pada pundakku.

Hyunwoo hanya mencoba tersenyum mendengarnya,

“Kau salah, aku bukan bersikap baik tetapi aku begitu mengkhawatirkanmu, jika kekawatiranku begitu menyakitkan aku akan berhenti menunjukkan rasa khawatirku”

Aku meraih tangan Hyunwoo lalu menggenggamnya erat.

.

.

Beberapa menit setelahnya pintu ruang periksa terbuka, aku dan Hyunwoo segera bangkit dari tempat duduk kami. Dalam hitungan detik kami benar-benar melihat dengan jelas siapa yang baru saja keluar dari dalam ruangan itu.

Im Woongjae dan Park In Hee membulatkan matanya terkejut ketika melihat kami, aku hanya menunjukkan seringaian yang begitu pahit di hadapan mereka, sedangkan Son Hyunwoo telah menunjukkan wajah emosinya yang dapat kapan saja menonjok muka Woongjae andaikan aku tidak menahan tangannya sedari tadi.

“Ji.. Jihyun-ah, kau..” Woongjae masih terlihat begitu shock saat ini, seolah masih begitu sulit untuk mempercayai jika aku melihat apa yang dia lakukan dengan Park In Hee yang sesungguhnya dia begitu tau dan begitu menyadari jika kami adalah teman sejak masih berada di bangku sekolah.

“Apakah dia yang kau sebut dengan Park Gyuri?” Tanyaku

In Hee menatapku dan Hyunwoo dengan tersenyum, seolah dirinya benar-benar tidak memiliki salah apapun terhadapku. Bukankah ini begitu memuakkan?

“Jihyun-ah, ini tidak seperti yang kau pikirkan” Woongjae mendekat padaku untuk meraih tanganku, aku hanya diam tidak bergeming dalam posisiku, tidak ingin mengatakan apapun padanya, tetapi Son Hyunwoo seolah memahami apa yang aku pikirkan dan melepaskan tangan Woongjae dengan paksa dari pergelangan tanganku.

“Ya!!” Teriak Woongjae pada Hyunwoo, dan saat itu aku tau jika jari-jari Hyunwoo telah mengepal dengan eratnya, emosi Hyunwoo seakan tidak terkontrol dengan baik.

“Hyunwoo, tolong jaga sikapmu” Bisikku

“Jihyun, bisa kau jelaskan siapa dia?” Tanya Woongjae dengan nada yang cukup tinggi.

Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum,

“Untuk apa aku harus menjelaskan padamu? Aku juga tidak meminta penjelasan darimu kenapa kau dan Park In Hee berada di sini”

Woongjae hanya diam beberapa menit sebelum In Hee akhirnya angkat bicara.

“Iya, aku adalah Kim Gyuri yang di maksud oleh Im Woongjae dan mengenai isi pesan kakaotalk itu benar adanya, kau bisa melihatnya sendiri kan untuk apa aku dan Woongjae berada disini?” Sahutnya dengan nada yang cukup santai, tanpa ada sedikitpun rasa penyesalan, bahkan In Hee mendekat ke arahku dengan membisikkan kalimat yang menurutku itu sangat keterlaluan.

“Apakah kau tau bagaimana sakitnya perasaan Seokjin? Kau sudah menuai dari apa yang kau tanam sendiri, aku merayu Woongjae dan aku mendapatkannya sekarang, semoga kau segera sadar dengan apa yang kau lakukan.”

Aku mengerutkan dahiku mendengarnya, apakah ini sesungguhnya Park In Hee? Bukankah aku juga tidak lebih kejam darinya?

In Hee menyeringai lalu mundur perlahan sedikit menjauh dariku dengan kembali menautkan tangannya pada lengan Woongjae.

“Oh, atau kau juga berada disini karena..” Lanjut In Hee sebelum akhirnya aku memotong kalimatnya.

“Itu bukan urusanmu”

In Hee hanya tersenyum puas kali ini, aku baru menyadari jika selama ini dirinya benar-benar selicik ini.

“Dan apa kau tau Woongjae-ah, aku sudah mengatakan padamu siapa Choi Jihyun yang sesungguhnya? Kau bisa melihat bukan jika kekasihnya bukan hanya kau?”

Woongjae menatap kesal padaku, aku bahkan tidak melihatnya seperti Im Woongjae yang selama ini aku kenal

“Jihyun, ini giliranmu untuk periksa dan tidak perlu lagi berdebat dengan mereka” Bisik Hyunwoo padaku sebelum akhirnya menuntunku dengan paksa untuk masuk dalam ruang periksa. Aku tau bagimana beratnya perasaan Hyunwoo ketika menahan emosinya beberapa waktu lalu.

Dokter memeriksaku beberapa saat ketika baru saja aku mengeluh pusing yang cukup parah, aku hampir pingsan kembali tetapi aku berusaha menguatkan diriku untuk tetap dalam kondisi stabil.

“Maaf, tuan Son Hyun Woo apakah anda adalah suaminya?” Tanya dokter yang baru saja memeriksaku, kami terdiam cukup lama sebelum akhirya Hyunwoo menatap ke arahku dengan tersenyum tipis.

“Iya dokter, bagaimana kondisi istri dan anak saya?”

Sekali lagi aku hanya diam mendengarnya, aku hanya tidak menyangka jika Hyunwoo aku menjawab seperti itu.

“Tuan Son Hyunwoo, kandugannya dalam kondisi lemah kali ini di karenakan begitu banyaknya tekanan yang di dapatkan pada awal kehamilan juga beberapa kelainan darah yang dapat menyebabkan pendarahan hebat pada saat kelahiran, tetapi hingga saat ini bayi dalam kondisi stabil, untuk mengatisipasi hal buruk yang dapat terjadi saya mencoba menyarankan untuk pengangkatan janinnya.”

“Apa?” Tanya Hyunwoo kembali mengulang pertanyaan pada dokter tersebut,

“Untuk saat ini hanya itu jalan terbaiknya, setelah kondisinya mulai stabil istri anda masih bisa merencanakan untuk ke hamilan berikutnya”

Aku segera menggenggam erat tangan Hyunwoo, dengan binar air mata yang aku tahan aku mencoba menggelengkan kepalaku pada Hyunwoo untuk mengisyaratkan aku tidak ingin kehilangan anakku dengan alasan apapun.

Hyunwoo mencoba menenangkanku,

“Tolong anda pikirkan kembali jika hal ini di biarkan maka cukup membahayakan dan dapat menyebabkan kematian pada ibunya,”

“Maaf dokter, saya akan menjaganya dengan baik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan mengenai ibu dan anaknya.”

Aku segera tersenyum mendengar penolakan secara tidak langsung dari Hyunwoo kepada seorang dokter yang baru saja memeriksaku sebelum kami pergi.

“Terimakasih Son Hyunwoo” Sahutku lirih yang hanya di tanggapi oleh senyuman darinya.

 

***

 

Hyunwoo menuntunku masuk dalam rumah dan mendudukkanku di sofa ruang tengah,

“Terimakasih, kau begitu banyak membantuku” Gumamku, Hyunwoo tersenyum mendengarnya.

“Dan seharusnya kau tidak perlu berbohong pada dokter, katakan saja apa yang sesungguhnya” Lanjutku ketika Hyunwoo baru saja mendudukkan dirinya di sampingku.

Hyunwoo tersenyum dengan mengusap rambutku lembut,

“Aku tidak berbohong, sungguh aku ingin kau menikah denganku, coba kau pikirkan lagi.”

“Apa?” Tanyaku tidak begitu yakin dengan kalimat yang baru saja Hyunwoo ucapkan.

“Jika saja kau tau mungkin aku begitu kecewa terhadapmu, tetapi setidaknya kau juga harus mengetahui satu hal, sebesar apapun kecewaku terhadapmu tidak sedikitpun mengubah perasaanku terhadapmu.”

Entah kenapa penyataan Hyunwoo kali ini terdengar begitu manis di telingaku, tetapi aku tidak mungkin dapat mengiyakan  apa yang  sedang Hyunwoo pertanyakan padaku, ini begitu tidak adil untuknya, seberapa bodoh seorang Son Hyun Woo sehingga dia mengatakan hal demikian padaku?

Hyunwoo menghapus air mataku, mengarahkan wajahku untuk menatapnya.

“Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku, aku menyayangimu dan aku akan menyayangi anakmu sama seperti anakku sendiri” Lanjutnya, aku tersenyum dengan menghapus air mata dari pipinya.

“Kau tidak seharusnya menjadi seorang ayah dari anak yang bukanlah anakmu, kau bersikap terlalu baik padaku dan aku sudah mengatakannya padamu itu begitu menyakitkan,”

“Hal yang begitu menyakitkan bagiku adalah penolakan darimu, setelah kau begitu dalam menyakitiku apakah aku akan menyakitiku kembali?”

Hyunwoo tersenyum dengan menghapus sisa air mata dari pipiku, perlahan dia mendekatkan wajahnya kearahku. Aku memejamkan mataku saat Hyunwoo mendaratkan bibirnya dengan lembut pada bibirku dan menciumnya untuk beberapa saat tanpa ada reaksi penolakan dariku.

 

***

 

Setelah kami menikah, Hyunwoo benar-benar bersikap begitu baik padaku menjagaku bahkan bersikap seperti seorang suami yang benar-benar memperhatikanku. Dia baru saja meneyelasikan kuliah kedokterannya dan kali ini telah bekerja di salah satu rumah sakit cukup ternama di seoul.

“Hyunwoo, apalagi yang kau beli?” Keluhku ketika Hyunwoo baru saja pulang dengan  membawa sebuah kereta bayi dengan wajahnya yang begitu bahagia, tetapi sungguh tidak dapat di tutupi, dalam raut kebahagiaan di wajahnya dia terlihat cukup lelah, pekerjaannya sebagai dokter akhir-akhir ini begitu membuatnya sibuk hingga dirinya kekurangan waktu untuk beristirahat, terlebih setelah mengetahui ada permasalahan dalam kandunganku yang membuatnya setiap hari selalu sibuk menjagaku, memenuhi segala yang aku butuhkan hingga aku tertidur dan menolak untuk aku minta beristirahat.

“Aku membeli kereta bayi, aku sungguh tidak sabar menunggu purti kecilku lahir” Gumamnya, seketika air mataku menetes mendengarnya aku begitu terkesan pada Son Hyun Woo yang menyayangi anakku seperti anaknya sendiri.

“Kenapa kau menangis? Kau tidak suka dengan warnanya? Bukankah ini warna kesukaanmu?” Tanya Hyunwoo sekali lagi, benar dia membelikan sebuah kereta bayi berwarna pink dan motif  beruang  dengan warna senada, dia begitu tau perpaduan warna yang aku suka, bahkan ketika dia mengetahui jenis kelamin bayiku dia telah menyiapkan kamar bayi itu jauh-jauh hari, dengan desain yang dia rancang sendiri.

Aku memeluk Hyunwoo begtu erat, menumpahkan tangisku dalam pelukannya yang terasa begitu nyaman untukku.

“Maafkan aku, aku begitu menyusahkamu” Gumamku lirih,

Hyunwoo membalas pelukanku dengan beberapa kali menepuk pundakku

“Hey.. bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali, aku tidak suka mendengar kalimat itu darimu, dan berhentilah memikirkan jika bayimu adalah anak dari Woongjae, dia putriku, putri kecilku semua orang mengetahui jika dia adalah putriku dan aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi ibunya”

Aku tersenyum mendengarnya, bahkan aku baru saja menyadari jika Hyunwoo begitu tulus padaku.

“Aku hanya meminta padamu, jangan pernah mengungkit nama Im Woong Jae lagi terutama setelah putri kita lahir, biarkan dia hanya mengetahui aku adalah ayahnya. Apakah kau akan memenuh permintaaku?” Bisik Hyunwoo dengan sesekali mengusap kepalaku.

Aku mengangguk pelan dalam pelukannya, suara isakanku masih terdengar walau cukup lirih

 

 

***

 

Aku membuka mataku perlahan ketika aku merasakan seseorang mengenggam telapak tanganku cukup erat, Son Hyun Woo mencoba tersenyum ke araku ketika aku membuka mataku, tetapi ini seperti bukan kamarku.

“Kau berada di rumah sakit saat ini, kemarin malam kau pingsan” Sahutnya saat mendapati aku mengedarkan pandanganku mengelilingi ruangan.

Aku mencoba tersenyum mendengarnya, tetapi tiba-tiba aku menahan sakit yang luar biasa seolah bayiku mencoba mendorong untuk keluar.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Hyunwoo ketika mendapati raut wajaku menahan sakit.

Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku pada Hyunwoo,

“Sakit Hyunwoo..” Keluhku dengan bulir air mata yang sudah sedari tadi mengalir dari kelopak mataku.

Hyunwoo segera menangkanku, mencium keningku singkat dan menghapus sisa air mataku.

“Kau tenaglah putri kecil kita akan lahir, sepertinya dia tidak sabar ingin melihat ibunya dan dokter sedang mempersiapan ruang operasinya”

Air mata Hyunwoo mengalir melewati pipinya, tangisan Hyunwoo seolah bukanlah kebahagiaan tetapi sebuah kesediahan yang dia sembunyikan dariku selama ini.

Aku tau, setiap kali melakukan pemeriksaan dokter selalu mengatakan ada permasalahan dalam kandunganku, bahkan dokter berkali-kali mengatakan jika lebih baik aku menggugurkannya karena cukup membahayakan, namun aku bersikeras untuk tetap mempertahankannya, dan sebagai konsekuensinya aku tidak bisa melahiran dengan normal namun harus melalui proses operasi.

.

.

Beberapa menit lalu aku sudah berada dalam ruang operasi, Hyunwoo masih menungguku dengan raut wajahnya yang tidak dapat aku sebut dengan biasa.

“Kenapa Hyunwoo?” Tanyaku lirih

Hyunwoo menatapku dalam, tangannya menggenggam telapak tanganku erat.

“Kau harus berjanji padaku kau akan baik-baik saja, kita harus membesarkan putri kita bersama-sama” Gumam Hyunwoo

“……”

Tidak ada kalimat yang dapat aku katakan pada Hyunwoo saat ini, aku cukup memahami kondisiku akhir-akhir ini dan aku mencoba tersenyum.

“Hyunwoo, aku sangat ingin melihat putriku, merawatnya, mendengar semua keluh kesahnya ketika dia mulai beranjak dewasa, tetapi jika suatu hal terjadi padaku aku mohon jadilah sosok penggantiku, dengarkan dia, jaga dia dan aku meminta maaf sebelumnya karena begitu menyulitkanmu.”

“Kau akan melakukannya dengan baik, kau akan ada bersamanya hingga dia tumbuh dewasa kau harus yakin dengan hal itu.”

Hyunwoo segera memelukku dan terisak cukup parah sebelum dokter memintanya untuk keluar dari ruang operasi.

 

***

 

“Papi…” Panggil seorang gadis kecil yang masih berusia 4tahun itu ke arah Hyunwoo dari arah kamarnya menuju dapur, aku tersenyum bahagia melihatnya. Putri kecilku kini tumbuh semakin dewasa, dia sangat cantik dan manja pada seseorang yang dia sebut dengan kata ‘Papi’

Hyunwoo tersenyum lalu menghampirinya, berlutut untuk mensejajarkan posisinya di hadapan Son Yura.

“Kau sudah mandi sayang? Hebat..” Puji Hyunwoo bangga dengan beberapa kali menciumnya, ini adalah pertama kalinya putri cantikku mandi sendiri.

“Papi sedang apa?” Tanya Yura kembali ketika melihat Hyunwoo terlihat sibuk dengan sebuah kue dari arah dapur setelah selesai merapikan baju ganti Yura dan mengenakan sebuah pita pada rambut gadis kecil itu sehingga membuatnya terlihat semakin cantik.

Hyunwoo membawa sebuah cake ulang tahun dengan ukuran yang tidak terlalu besar dengan sebuah lilin angka 4 ke arah Yura, gadis kecil itu tersenyum lalu berlari menghampiri Hyunwoo. Aku benar-benar bangga pada Hyunwoo, dia memiliki banyak kemajuan kali ini, dia benar-benar menjadi seorang ayah yang bagitu baik untuk Son Yura yang pada kenyataannya bukanlah putri kandungnya sendiri.

Hyunwoo meletakkan cake ulang tahun itu pada meja dan segera menggendong Yura, mereka terlihat sangat manis. Yura memberikan ciuman bertubi-tubi pada pipi Hyunwoo sedangkan Son Hyunwoo tidak sedikitpun dapat menahan air matanya walau dalam raut wajah imut Yura tidak sedikitput tampak ekspresi kesedihan.

“Selamat ulang tahun sayang..” Gumam Hyunwoo lalu mendekatkan Yura pada cake uang tahunnya untuk meniup lilin.

.

.

Hyunwoo berjalan ke arah laci, mengambil sebuah album foto yang tersimpan rapi di dalamnya, foto pernikahan kami, foto-foto ketika aku masih mengandung Yura, bahkan foto-foto Yura ketika masih bayi hingga saat ini, semuanya Hyunwoo simpan rapi dalam album itu.

Sebuah foto membuat kefokusan Hyunwoo teralihkan, foto pernikahan kami. Hyunwoo mencoba tersenyum dengan sesekali membersihkan pipinya yang cukup basah oleh air matanya sendiri.

“Sayang, tetaplah tersenyum seperti saat ini.. putri kecil kita telah tumbuh semakin dewasa dan sangat cantik, aku sangat mencintainya seperti yang telah aku sampaikan padamu sebelumnya, aku sangat menyayanginya dan dia adalah putriku bukan putri dari Im Woong jae, hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 4, setelah 4 tahun lalu kau berjuang begitu banyak untuknya, berharap dia selalu sehat dan bahagia, kau kali ini tidak perlu mencemaskannya, dia tumbuh menjadi gadis sehat dan bahagia. Maafkan aku, aku begitu merasa bersalah ketika dia meminta sebuah pesta perayaan ulang tahun bersama teman-teman sekolahnya, dan aku tidak pernah melakukannya. Bagaimana aku bisa mengadakan pesta di hari kepergianmu walaupun hari itu seorang putri cantik menggantikanmu di sisiku? Dan apa kau tau, percayalah ketika kau pergi perasaanku jauh lebih sakit dari sekedar patah hati? Aku harap kau beristirahat dengan tenang, berbanggalah pada putri kecilmu yang begitu manis dan sangat patuh pada ayahnya, terimakasih kau telah menitipkannya padaku” Gumam Hyunwoo singkat sebelum kembali menutup album foto itu dan kembali menyimpannya pada laci.

“Papi kenapa?” Yura segera menghampri Hyunwoo, dia selalu menangis ketika melihat Hyunwoo menangis

“Tidak sayang,” Hyunwoo mencoba mengelak dan tersenyum lalu mencium Yura beberapa kali.

Aku tersenyum mendengar kalimat Hyunwoo dari sini, maafkan aku karena begitu banyak menyakitimu sebelumnya bahkan masih membuatmu patah hati hingga akhir hidupku, terimakasih Son Hyun Woo karena hanya kau satu-satunya pria yang tidak pernah membuatku merasakan sakitnya patah hati.

 

 

 

Yeee… terimakasih banyak readers yang sudah membaca, maaf sekali lagi untuk kalian yang meminta fanfic ini berakir dengan Kim Seokjin atau Im Woongjae, maaf sekali lagi, karena pada awalnya Kim Seokjin dan Im Woongjae (Siwan) hanya “other cast” loh hahaha dan Main Castnya adalah Son Hyunwoo aku harap kalian tidak lupa(?) maaf sekali lagi atas segala bentuk kekurangannya!! See you ^^

Advertisements

47 thoughts on “Broken Heart (Chapter 2)

  1. Annyeong author-nim….
    aku bnr* gak nyangka kl endingnya bakal gini ;_;
    jadi nangis baca part akhirnya, hyunwoo baikbanget, gak ngira kl in hee itu gyuri bnr* gak terduga, tega sekali author buat jin jg jihyun mati?? DAEBAK walau ada beberapa typo jg cuma masih bisa di pahami thor..
    keep writing

    Liked by 1 person

    1. Annyeong Amalia Risa, terimakasih sudah mau baca dan komen disini.. iya disini author masih ada kebingungan waktu penulisan ending dam jadinya gitu, untuk typo maaf sekali lagi.. hahaha terimakasih ya ^^

      Like

  2. Endingnya kok gini? sedih…. bener thor aku baru sadar main castnya hyunwoo bkn siwan bkn jin
    keren tapi,bikin nangis pas hyunwoo anggap yura anaknya sendiri
    ditunggu ff selanjutbya ya thor T^T #UsapIngus

    Liked by 1 person

  3. Huaaaa…….. serius sedih bgt kak endingnya..
    knpa tbtb seokjin mati? jihyun mati? wongjae kok kampret? in hee ngeselin
    beneran sukaaa sifat hyunwoo disini, kereeen… yura kecil kasian kisahnya menyentuh, sungguh
    ngga mikir kalo endingnya jd ky gitu..
    gilaa ngga kebayang smua konfliknya dramanya dapet bgt
    sukses kak, suka semua genre yg kamu buat!!

    Liked by 1 person

    1. Annyeong Kjhyuk, maaf sudah bikin sedih.. hahaha iya tapi aslinya woongjar baik kok coma di ff aja gitu maaf… mereka semua biasku hahaha terimakasih ya.. beneran terimakasih banyak sudah suka dengan ceritanya ^^

      Like

  4. Setelah baca ini aku jadi suka shownu… keren thor, karakternya shownu kuat banget disini walau di part sblmnya shownu gk banyak muncul>\<
    aku suka siwan cuma karakter siwan disitu nyebelin kekekeee

    sukaaa endingnya, jauh lbh feel disini dari part sblmnya,
    ditunggu ff selanjutnya thor…

    Liked by 1 person

    1. Annyeong Belinda.. wahhhh? Serius? Hahaha akhirnya.. untung ya aku sengaja bikin karakter shownu kuat disitu karena dia maincm castnya, iya di chapter awal memang aku batasi shownunya karena sengaja kau bikin banyak disini, terimakasih banyak ya sudah suka dan baca… ^^

      Like

  5. Annyeong authornim
    >….<
    akhirnya ff ini ada juga gak nyangka author bikin end macam gini😂
    hyunwoo feelnya dapat, tp pas seokjin mati partnya kurang panjang thor,
    aku suka wkt in hee jg wongjae ada hub, tiba" aku mikir ff ini menariiikk
    pengembangan ceritanya dr ff awal aku lbh suka ini, cuma typo byk disini drpda di chp 1😂 koreksi ya thor😂
    overall aku suka terutama endingnya yg sad ya lumayan dapat, penggambarannya sederhana gak neko" tapi cukup nyentuh jg byk pelajaran yg di dapat!!!
    keep writing ceo mnjfanfic!!😘😘😘

    Liked by 1 person

    1. Annyeong Bian Nurmala, maaf ya bikin kamu nunggu ff ini agak lama gak ngetik jadi gimana gitu.. hahaha iya maaf aku batasi part seokjin karena aku sudah janji bikin twoshoot kalo seokjin banyak nanti kelebihan cerita hahaha iya makasih banyak ya sudah baca… makasih juga koreksinya… jangan bosen ya ^^ dan panggil author aja gak perlu ceo mnjfanfic hahaha ^^

      Like

  6. Huhuhuu
    yura kasian thor ㅠ_ㅠ hyunwoo baik sekali.. thor coba ini di jelasin pas part NC wongjae sm jihyunnya kan lucu/? kkkkk
    kurang asem ya in hee, dia sahabat kok gitu… wongjae jg bs kena rayu -__-
    dari beberapa part ada yg kurang di jelasin thor, tapi part ending cukup jelas dan suka
    thor aku mau ff cast seokjin lagi yaaaaa
    Gomawoooo *\(>_<)/*

    Liked by 1 person

  7. Shownu kasian :”((
    sebenernya In hee jg bener krn itu karmanya jihyun sendiri, tp ga seharusnya dy bls dendam krn jin sakit hati -…-
    kak aku setuju komen di atas, coba ada nc antara jihyun sm wongjae lbh bagus/.\ wkekeeke
    DAEBAK ini cerita cinta yg rumit dan menarik, di tunggu ff lain ya kak tp jin jgn di bunuh ×_×

    Liked by 1 person

  8. Malem minggu bacaannya beginian makin galau thor…huuahuaahuaa
    seriuss endingnya aku sedih, yura, hyunwoo pengen nangis :””
    aku sedih wkt jin meninggal, woongjae selingkuh ma temen jihyun sendiri, trs jihyun hamil sampe mininggal
    suka dari awal hingga akhir cerita, blm pernah baca model gini thor, btw anak ya woongjae ma inhee ngga di ceritain jg thor?? #Banyaknanya hiks.. next ff di tunggu ya thor!!!

    Liked by 1 person

    1. Annyeong SwagYeoja, maaf sudah bikin nangis.. hahaha masa sih? Iya maaf gak aku masukkan dalam cerita karena sepertinya gak terlalu penting maybe.. okey, jangan bosen ya.. makasih sudah baca dan komen.. ^^

      Like

  9. SEDIIHH…
    btw napa endingnya gitu sih thorr??? 😭😭
    aku lebih suka itu anaknya jin bkn wongjae
    beneran hyunwoo disini manis bnget

    thor, part jin disini kurang banyak:((
    kebanyakan wongjae, dan aku gak tau banyak siapa wongjae/siwan
    aaahhhh mianhae thor tp ffnya bgus koq serius :3

    Liked by 1 person

  10. Hmmm…. aku kira endingnya gagini
    author php ;__;
    aku kira nanti sama seokjin
    tapi aku suka sikap hyunwoo berubah derastis disini
    dia mulai bisa beraikap dewasa dr sebelumnya……
    In hee itu Kim Gyuri kan??? astagaaaa thor… aku kira gak gini… aku kira wongjae baik tapi…tapi…tapi… X_X
    kenapa harus seokjin yg mati thor?? tolong jelaskan/? (┳Д┳) #Lebay kkakakaa
    fighting ff selanjutnya thor!!! jangan pikirkan daku yg cerewet ini ;__;

    Like

  11. Kok jadi sedih😂
    sebenernya aku kesel sama kelakuan jihyun tapi lama kelamaan kasian jg semakin kesini in hee yg nyebelin, aku gak mikir endinya sampe dia mati dan punya anak.. OMG shownu disini keren abiss thor!!! gak nyangka endingnya giniY.Y

    Like

  12. Yaampuuun…. aku uda nunggu lama thor
    rasanya pngen nangis peluk hyunwoo, dia idaman banget>_<
    penggambaran dramanya lumayan dapat thor, kalo jalan ceritanya JJANG!! cuma gak kepikiran bakal ending begituuu╥_╥

    Liked by 1 person

  13. Penggambaran di antara ending cukup sedih thor, walau author nggak pake banyak narasi tapi feel matinya jihyun disitu cukup dapat dan suka sekali sikap hyunwoo disitu….yaampun aku masih nangis😂

    Liked by 1 person

    1. Annyeong Wilma… terimakasih banyak atas komennya dan sudah menyempatkan baca, iya aku memang gak terlalu ahli untuk masalah narasi dan sebagainya, tapi setidaknya aku berusaha biar yg baca paham maksud yang aku sampaikan disini, terimakasih banyak atas komennya, terimakasih juga sudah baca semoga gak bosen ya ^^

      Like

  14. Huaaaaa thor aku sdh nunggu lama akhirnyaa…. aku akhir* ini suka shownu apalgi baca ini>///< pngen peluk
    ada jg ya cwo mau rawat anak tirinya gitu huhuuhu endingnya suka pas ibunya meninggal aku kira masih hidup, ternyata hyunwoo lihat album itu… jd BAPER :")
    keceeeh thor :"))

    Liked by 1 person

    1. Annyeong Mellywidya, maaf sudah buat kamu nunggu lama, apa??? Serius??? Aku juga suka shownu (Curhat) hahahah iya seandainya ada dan mukanya kayak shownu gitu aku mau sama dia hahaha maaf atas kebaperannya, terimakasih atas komennya semoga gak bosen ya ^^

      Like

  15. Bagus thor..
    coba ada NC nya pasti makin kereen (/.\) wkkwkwk
    maapkan otak yadong ini thor, aku kira nanti jihyun sama wongjae ternyata hyunwoo, pas jin meninggal ceritanya kurang detail ;_;
    lain kali part sedih2nya di perjelas aja, kalo idenya sudah keceehh >_<
    keep writing authornim :33

    Liked by 1 person

    1. Annyeong Vyn, waah wah… aku sudah bilang di awal kalo gak bosa nulis NC hahaha maaf, iya karena hyunwoo main cast aku harus perbanyak di part hyunwoo pas part seokjin aku perkecil biar gak terlalu panjang maaf ya… okey lain kali aku coba perjelas part sedihnya terimakasih atas komen dan sarannya ^^ jangan bosen ya..

      Like

  16. Jinjja….!!!!!
    bnr2 ngga ketebak endingnya, aku ngga nyangka loh un klo Inhee itu gyuri..
    rapi bget dy sok sok baik sama jihyun fi chp 1 awal,, aku bersykur masih ada hyunwoo yg sayang ma jihyun, coba jin ngga mati pasti masih bingung pilih/? kakaakakaa
    Unnie… mau baca ffmu yg horor lagi dong tapi casynya jin>_< boleh yaaaa??

    Liked by 1 person

    1. Annyeobg Hasna Kim.. serius?? Hahaha iya aku juga gak mikir gitu(?) Nah… makanya aku buat jin meninggal disitu.. wah boleh sekali, silahkan baca ada kok cast jin di ff just one day jin version ^^ terimakasih sudah baca dan komen ^^

      Like

  17. Author-nim, ff mu selalu ceritanya gak kebayang😂😂
    aku pikir nanti jihyun gk dapat siapa” karena perbuatannya sendiri tapi malah punya anak dri wongjae Eotteokeee?????? aku nangis disini, wkt part yura ama hyunwoo gilaa manis amat..tapi kamu kurang detail ceritain kematian seokjinnya, jg anak wongjae ama inhee apakabar??
    idemu menarik dan aku beneran baper bacanya :((

    Liked by 1 person

    1. Annyeong PrisillaTaekook, masa sih? sebenernya aku kalo bikin konflik sederhana kok gak terlalu rumit hahaha maaf sudah bikin kamu nangis dan aku juga nangis waktu nulis part yura sama hyunwoo.. sudahlah anaknua woongjae dan inhee gak penting buat di bahas(?) Hahaha terimakasih banyak ya sudah baca dan komen… ^^

      Like

  18. Omg….. SHOWNU!!!!!
    bisa syg gitu ke anak tirinya, nyesek thor harusnya jihyun sadar gimana sakitnya perasaan shownu disitu
    sampe dia jg yg ngerawat anaknya jihyun jg pria lain, DAEBAK… BENER-BENER DAEBAK! suka thor..

    Liked by 1 person

    1. Annyeong Littlebaby.. OMG SHOWNUUUUUU… hahaha ada apa dengan shownu? Shownu ganteng iya ganteng(?), hahaha ah iya jihyun memang kapret(?) Terimakasih banyak ya sudah sempatkan baca juga komen ^^

      Like

  19. Aku simpati sekali ke hyunwoo, gila dia hebat banget walau bukan anaknya tp yura sayang sekali ke hyunwoo..
    feel sedihnya jauh lbh bagus disini dari chapter sebelumbya thor.. waktu jihyun meninggal itu nyesek, terutama waktu hyunwoo g mau rayain ultah yura karena g mau perayaan di hari kepergian jihyun
    huuaaaaaaa aku nyesek baca itu T_T

    Liked by 1 person

    1. Annyeonh Kjhyuj.. eits… kok ada dua komen(?) Hahaha amin terimakasih ya atas koreksinya maaf juga sudah bikin kamu nyesek.. hahaha iya aku sendiri sedih kok waktu bayangin part itu.. terimakasih sudah sempatkan baca juga komen ^^

      Like

  20. KEREN THOR… BAPER BAPER… SHOWNU KECEH SYAALLAH….. >_< endingnya bagus feelnya dapet….
    nangis juga waktu jin meninggal daaan jihyun meninggal juga, daebak lah..
    ditunggu ffmu yg lain thor :')

    Liked by 1 person

  21. Aku suka banget sama ide ceritanya thor, penggambaran ceritanya juga lumayan menarik, ada macam” tipuan yg menurutku keren.. sukses ya thor aku tunggu ff lainnya :3

    Liked by 1 person

  22. Looooh….loh…. thor aku baru tau kalo ini udah publis >__< #TELAT
    yaelahh thor kok endingnya sedih gini?? Serius thor, sengaja ya bikin shownu semacho ini?? Sungguh g nyangka kalo wongjae kek gitu︶︿︶ woongjae jg inhee malesin amat sih thor??
    SUMPAAH nangis pas ending, pas hyunwoo bilang
    "Bagaimana aku bisa mengadakan pesta di hari kepergianmu walaupun hari itu seorang putri cantik menggantikanmu di sisiku? Dan apa kau tau, percayalah ketika kau pergi perasaanku jauh lebih sakit dari sekedar patah hati?"
    Aku baper langsung thor.. greatjob… di tunggu ff keceh lainnya :))

    Liked by 1 person

    1. Annyeong OrangeCaramel, loh loh? Kok baru tau? Hahaha gak apa kok, maaf untuk endingnya memang gitu, dan untuk shownu memang di sengaja(?) Hahaha biarin aja woongjae dan in hee bahagia hahaha yaampun aku juga nangis waktu nulis itu karena terlalu aku hayati coba gak ya biasa aja gak nangis juga sih hehehe makasih banyak ya sudah menyempatkan baca dan komen, semoga tidak bosan ^^

      Like

  23. Sedih sekali endingnya thor, rasanya gak rela seok jin meninggal 😥
    Aku g suka ji hyun awalnya, tapi semakin kesini aku g rela dia meninggal juga, nyesek endingnya, hyun woo pria banget disini suka sekali
    Padahal aku sangka woong jae itu baik…. huuhuu akhirnya aku tau hyun woo yg paling tulus
    Sweet ending hyun woo jg yura bagus kak aku suka!!!

    Like

    1. Annyeong Sweetpink, terimakaish sudah baca dan komen sebelumnya.. hahaha iya ini genre drama dan gak jauh jauh dari kedrama drama’an(?) Hahaha yup!! Karena sebenernya main castnya adalah hyunwoo makanya di part ini dia yg paling banyak peran daripada seokjin dan woongjae, terimakasih banyak ya!! Hahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s