Freelance · Genre · Length · Mystery · One Shoot · Rating · Romance · School Life · Teen

[Project FF ] Adore U The8 Version


Author : @Yunietananda (IG, Twitter)

Title : Adore U (The8 Version)

Main Cast : Xu Minghao / The8 (Seventeen), Ikumi Matsumoto (Fiction Cast).

Other Cast : Ikumi’s Family, Oh Seo Min (Fiction Cast).

Genre : Romance, School life, A Bit Mistery.

Rating : Teen

Lenght : Oneshoot

Disclaimer : The8 Seventeen mutlak milik Keluarga, Pledis Ent, dan penggemarnya. Fiction cast and story is mine! Harap tidak mengCoPas tanpa ijin pemilik. Jika ditemukan kesamaan nama, karakter, watak, waktu dan tempat merupakan ketidak sengajaan.

Author Notes : Ini adalah Adore U project ke-6 ku. Setelah memikirkan beberapa ide, akhirnya terpilihlah konsep ini. Maaf jika ceritanya sedikit absurd, mohon meninggalkan komentar, kritik dan saran untuk perbaikan serta peningkatan penulisan author. Terima kasih. ^_^

Story :

 

ADORE U

(The8’s Version)

 

“Jangan takut! Semuanya akan baik – baik saja. Kejadian ini sangat langkah, kamu adalah anak yang istimewa. Hal itu yang membuat mereka tertarik padamu, Ikumi.” Lagi – lagi kalimat itu yang keluar dari Nenekku. Sudah hampir 3 bulan beliau selalu mendoktrin bahwa aku akan baik – baik saja.

 

Namaku Ikumi Matsumoto, 16 Tahun, Negara asal Jepang, baru seminggu ini aku pindah ke Korea. Disini aku tinggal bersama Nenek, Bibi, serta Pamanku. Bagaimana dengan orang tuaku? Mereka meninggal 6 bulan yang lalu akibat kecelakaan.

 

Andai saja malam itu aku turut serta di dalam mobil bersama orang tuaku menuju Shibuya, mungkin saat ini aku tengah berada diantara keduanya. Bukan disini, ditempat yang sangat asing bagiku.

 

“Ikumi, ini seragammu. Mulai besok kamu sudah bisa pergi ke sekolah.” Ujar Bibi sembari meletakkan beberapa setelan baju, tas serta perlengkapan sekolah lainnya. “Kamu akan masuk SMA International, jadi jangan khawatirkan akan terkendala dengan bahasa.”

 

Arigato Gozahimasite.” Sahutku patuh. Selepas kepergian Bibiku, aku hanya bisa memandangi barang – barang tersebut dengan diikuti helaan nafas panjang.

 

Semenjak kematian kedua orang tuaku, hal – hal mengerikan selalu datang menghampiriku. Dan itulah yang menyebabkan Nenekku mengajak hijrah kesini, tinggal di rumah Adik Perempuan Ayahku. Akupun berharap setelah ini, sebuah kehidupan normal kembali padaku, karena aku lelah di hinggapi ketakutan serta perasaan was – was setiap saat.

 

.

.

.

 

Di hari pertamaku sekolah, semuanya terasa lancar. Hanya saja aku sedikit membatasi diri dari murid lainnya. Bukan aku tak ingin berteman, atau tak butuh seseorang tapi aku tak bisa membuka percakapan yang hangat dengan orang lain. Ya, aku tipe anak yang kikuk serta jarang bicara. Namun aku bisa menjadi sosok yang berbeda bila bersama dengan orang yang tepat.

 

Annyeonghaseyo!” Sapa seorang siswa yang berdiri di sampingku. Dari caranya bicara, aku yakin dia bukan orang Korea. Karena Logat Mandarinnya terdengar masih kental di telinga.

 

A.. Annyeonghaseyo.” Sahutku berusaha sopan. Saat ini jam istirahat sedang berlangsung, dan kami berada di taman milik sekolah. Tepatnya di sebuah bangku taman yang terletak tepat di bawah Pohon Sakura.

 

“Kamu murid baru bukan?” Seru siswa yang kini sudah duduk di sampingku.

 

Dwae.” Jawabku singat. Lalu hening. Sekilas aku melirik kearahnya, anak laki – laki itu memakai seragam yang sama denganku. Di sekolah ini setiap tingkatan kelas memiliki corak warna seragam yang berbeda. ‘Mungkin dia berbeda kelas.’ Gumamku.

 

Na ireumen Xu Minghao.” Tiba – tiba saja anak itu menoleh ke arahku sembari menunjukkan name tag yang tertera pada seragamnya.

 

“Ah, My name Ikumi, Matsumoto Ikumi.” Responku sedikit kaku, lantaran terkejut dan tak tahu harus mengatakan apa.

 

“Boleh aku memanggilmu Ikumi-chan? Maukah kamu menjadi temanku?” Ini terdengar aneh dan kuno, tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda pada sosok ini. Sebuah perasaan tulus namun terbalut kesedihan serta kesepian terpancar dari sorot matanya yang sendu.

 

“Tentu saja!” Sambarku sambil memberikan senyum terbaik kepadanya. Kemudian laki – laki itu pun tersenyum tak kalah manis.

 

.

.

.

 

Hampir 2 pekan aku selalu menghabiskan waktu istirahat bersama Minghao di taman. Banyak cerita yang sudah kami bagi, tapi setiap kali aku ingin bertanya tentang kelasnya serta usianya, siswa itu selalu diam atau mengalihkan pembicaraan hingga aku selalu lupa untuk menuntut jawaban darinya.

 

Hampir setiap hari aku selalu melihat pemandangan yang sama. Minghao selalu saja membaca kamus bahasa Korea di sela – sela kesibukannya yang menunggu kedatanganku di taman ini.

 

Annyeong!” Seruku mencoba mengejutkannya.

 

“Uh? Kamu datang?” Ujarnya lirih lalu melihat jam tangannya. “10 menit lagi istirahat berakhir.” Lanjutnya kali ini kembali terfokus pada kamus di tangannya.

 

Mianh, tadi aku di ajak ke kantin terlebih dulu oleh teman – teman.” Aku berkata jujur padanya, entah kenapa aku selalu merasa bersalah jika melihatnya menungguku seperti ini.

 

“Syukurlah jika kamu mulai berteman dengan murid lain, setidaknya kamu tak akan kesepian.” Kata – kata Minghao lebih terdengar seperti curhatan daripada sindiran. Hagsaeng ini benar, beberapa hari belakangan anak – anak di kelasku mulai mengajakku bicara dan akupun membuka diri secara perlahan.

 

“Apa kamu marah padaku Minghao?”

 

Ani. Justru sebaliknya, aku senang melihat perkembanganmu Ikumi-chan. Hanya saja aku takut jika kamu mulai melupakanku.” Aku Minghao sembari menatapku lekat – lekat.

 

“Itu tidak mungkin! Kamu adalah teman pertamaku Minghao, jadi sampai kapanpun aku akan terus mengingatmu.” Celetukku yang dengan spontan menggenggam tangan namja ini. Namun aku sedikit tersentak saat merasakan sesuatu sedingin es menyentuh kulitku.

 

Wae geurae? Neo gwaenchana?” Tanya Minghao, kali ini aku bisa membaca kekhawatiran yang terlukis pada mata indahnya.

 

Mianata, Nan gwaenchana.” Sahutku lalu aku menyeringai layaknya orang bodoh.

 

.

.

.

 

Siang ini ada perasaan gelisah menerpaku, pada saat jam istirahat tadi aku sengaja tidak pergi ke taman. Selain karena teman – teman mengajakku ke perpustakaan, tapi juga karena aku ingin sedikit menghindari Minghao.

 

Sejauh ini tak banyak yang ku ketahui tentang namja itu. Aku bahkan ragu untuk bertanya kepada teman yang lain. Terlebih sebuah rasa takut mulai menyelimutiku sejak bersentuhan dengannya kemarin. Ada sebuah keraguan besar dibenakku.

 

Neo Gwaenchana, Ikumi?” Tanya salah seorang yang berdiri tepat di sampingku.

 

Dwae, ah jamkkanman! Boleh aku bertanya sesuatu?” Dengan tidak yakin akupun bertanya kepada Oh Seo Min, teman sekelasku yang menganggukan kepalanya. “Duduklah sebentar!” Pintahku mempersilahkan gadis cantik ini untuk duduk di bangku kosong sebelahku.

 

Ani. Aku berdiri saja. Apa yang ingin kau tanyakan Ikumi?” Raut wajah gadis itu berubah pucat saat aku memintanya untuk duduk.

 

“Kenapa? Aku perhatikan, selama ini kalian tak ada yang berani menyentuh bangku ini. Sebenarnya ada apa?” Tanyaku lantang, mungkin seisi kelas kini bisa mendengarku.

 

“Apa kau belum mengetahuinya Ikumi?” Seomin justru berbalik tanya padaku. Akupun hanya menggelengkan kepala dengan mantapnya.

 

“Bangku itu berpenghuni. Menurut cerita yang beredar, setahun yang lalu tepat sebulan penerimaan siswa baru, siswa pemilik bangku itu mengalami kecelakaan. Kabar yang terakhir diterima oleh teman sekelasnya, siswa itu masih dalam keadaan kritis.” Penjelasan Seomin sontak membuatku lemas. Sekujur tubuhku serasa menggigil.

 

“Apa siswa itu bernama Xu Minghao?” Seketika kelas berubah menjadi senyap. Tatapan mata mereka kini hanya tertuju padaku. Mungkin dalam hati mereka bertanya ‘Bagaimana anak pindahan itu bisa tahu tentang hal ini?’. Dan saat aku menatap Seomin untuk menagih jawaban, gadis itu hanya mengangguk pelan.

 

.

.

.

 

“Nenek! Kenapa aku masih saja bisa melihat arwah?” Gerutuku kepada wanita tua yang sedang merajut syal.

 

“Apa wujud mereka masih sama seramnya?”

 

“Tidak! Kali ini hanya satu sosok berwujud manusia biasa. Jika saja teman – teman tidak memberitahuku bahwa orang itu sedang koma, mungkin aku tak akan tahu bahwa dia adalah arwah.”

 

“Nenek rasa, arwah itu hanya tertarik padamu saja. Selama dia tidak mengganggumu, maka semuanya akan baik – baik saja.”

 

“Tertarik? Yang benar saja!”

 

“Mungkin dia merasa kalian memiliki kemiripan, hingga dia menampakkan diri hanya dihadapanmu. Jika dia belum meninggal, kamu bisa memintanya untuk kembali ke tubuhnya.”

 

“Ke.. kenapa harus aku?”

 

“Karena ada ketertarikan antara kalian berdua. Cinta.”

 

Andai saja cenayang itu bukan Nenek kandungku, mungkin aku sudah mencaci makinya. ‘Bagaimana bisa arwah menyukaiku?’ – ‘Ah! Bagaimana ini?’ – Semakin aku memikirkan Minghao, semakin dada ini terasa sakit. Apa ini kecewa? Atau perasaan yang lainnya? Yang pasti aku sangat sedih kala mengetahui orang yang kusukai dan kutemui selama ini adalah arwah.

 

.

.

.

 

Aku berlarian mengelilingi area sekolah, namun tak juga ku temukan sosok yang kumaksud. Bahkan di tempat biasa kami bertemu, aku tak juga melihatnya. ‘Apa karena sekarang masih jam pelajaran?’ Pikirku dalam diam. ‘Atau dia sudah kembali?’ pekikku.

 

Dengan langkah gontai aku kembali ke kelasku. Namun mataku terbelalak saat mendapati sosok Minghao duduk di bangku sebelahku. Aku hanya menatapnya dalam diam, lalu iapun tersenyum kearahku. Hanya membisu, itulah yang ku lakukan selama pelajaran berlangsung. Aku tak ingin membuat anak – anak lain menganggapku aneh kali ini.

 

“Kenapa sekarang kamu muncul di kelas juga?” Tanyaku pada sosok tak nyata saat kami tengah berada di taman pada jam istirahat.

 

Molla. Mungkin karena kamu sudah tahu tentangku.” Jawab Minghao sangat santai.

 

“Kamu belum meninggal kan, Minghao Keke?”

 

“Belum! Tapi, mungkin akan.”

 

Wae?”

 

“Sudah lebih setahun aku tertidur, sepertinya orang tuaku sudah tak sanggup lagi.”

 

“Kalau begitu, kembalilah pada tubuhmu!”

 

“Aku ingin, tapi aku tidak bisa.”

 

Wae?”

 

“Aku tak tahu. Aku hanya takut kehilangan ingatanku saat tersadar nanti. Aku takut tak bisa melihat serta ingat teman – temanku lagi.”

 

“Kembalilah! Tak masalah jika kamu tak mengingat kami, Keke. Karena kami masih mengingatmu. Teman – temanmupun berharap kamu segera pulih, agar bisa berkumpul bersama dengan mereka.”

 

“Benarkah? Apa kamu yakin mereka masih akan mengingatku suatu saat nanti?”

 

“Tentu saja! Kalaupun mereka tak mengenalimu, setidaknya aku pasti mengingatmu.”

 

Jinca? Wae?

 

“Karena aku tertarik padamu. Dan jujur saja, aku tidak berniat untuk berkencan dengan arwah. Keureonikka, kembalilah ke tubuhmu Keke! Jebal!” Akupun memohon pada sosok di hadapanku diiringi air mata yang mengalir perlahan dari sumbernya.

 

“Apa kamu akan menungguku?”

 

Dwae, aku berjanji akan menunggu Keke kembali.”

 

Gomawo, Ikumi-chan.” Sesaat aku terhanyut akan perasaanku hingga suhu dingin yang mengecup bibirkupun tak terhiraukan. Beberapa menit kemudian sosok itu mulai lenyap hingga aku tak dapat mententuh serta melihatnya lagi.

 

.

.

.

 

Waktu terus bergulir, baik aku atau siapapun tak dapat menghentikannya. Selepas kepergian arwah Minghao Keke, akupun masih terus menerus bisa melihat makhluk astral lainnya.

 

Sebenarnya kemampuan ini aku dapatkan pasca kematian orang tuaku. Disaat hari pemakaman, aku menangis sejadi – jadinya sambil memanjatkan doa untuk bisa melihat orang tuaku lagi. Namun bukan orang tuaku yang hadir melainkan sosok orang mati lainnya yang sering mendatangiku silih berganti.

 

Karena Indera keenam ini pulalah yang membuatku harus pindah kesini, lantaran Nenek khawatir jikalau aku benar – benar akan melihat sosok orang tuaku yang meninggal dengan cara mengenaskan disana.

 

.

 

Kini sekolah memasuki semester genap, dan hingga detik ini aku tak pernah melihat sosok seniorku itu. Setiap hari aku menunggunya di taman tempat favorit kami, namun Minghao tak lagi muncul. “Apakah dia selamat?” – “Ataukah arwahnya tak pernah kembali lagi ke tubuhnya?” – pertanyaan itulah yang setiap hari mengganggu jalan pikiranku.

 

Annyeonghaseyo!” Tegur sapa itu terdengar familiar di telingahku. Aku menengadahkan kepalaku mencoba melihat siapa pemilik suara itu.

 

‘Seragamnya sama denganku!’ – Gumamku sesaat setelah membaca name tag di baju hagsaeng tersebut. Spontan aku tersenyum lebar ke arahnya.

 

“Selamat datang kembali, Xu Minghao Keke!” Ujarku penuh dengan kegembiraan.

 

“Kamu mengenalku?” Tanya namja itu heran.

 

“Hmm.” Sahutku sambil menggangguk dengan semangat.

 

“Pasti banyak anak yang membicarakanku, tadinya aku tidak yakin untuk kembali ke sekolah ini karena takut tak akan mendapatkan teman. Tapi syukurlah aku bertemu denganmu disini. Siapa namamu?”

 

Na ireumeun Matsumoto Ikumi kelas 1-10. Keke masuk di kelas berapa?”

 

“Hahahaha jangan memanggilku Keke! Sekalipun aku setahun lebih tua, tapi kini kita berada di tingkat yang sama. Aku harus mengulang kelas di 1-09.”

 

“Bukan masalah! Yang terpenting Keke sudah kembali.” Ujarku seraya bersyukur di dalam hati karena bisa melihat Minghao saat ini.

 

“I.. Ikumi-chan?” Celetuknya, dan itu membuatku hampir berteriak histeris. “Kenapa aku begitu tertarik padamu? Aku merasa sangat nyaman bicara denganmu. Padahal aku yakin, ini adalah pertama kali kita bertemu bukan? Siapa kamu sebenarnya?” Tanya laki – laki Chinese ini menatapku teduh.

 

Keke akan segera mengetahuinya nanti.” Entah darimana keberanian ini, dengan cepat aku mencium bibir Minghao yang kali ini terasa hangat. “Aishiteru.” Gumamku, sekilas aku melihat ekspresi terkejut darinya.

 

Tak apa meskipun kini dia belum mengingatku. Setidaknya kini kami bisa memulai segalanya dari awal. Karena bukan hanya aku, tapi saat dia menjadi arwahpun Minghao sudah tertarik padaku.

 

-FIN-

 

 

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=9a2e69b0-293b-48ad-ba05-b493e4211662

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=9a2e69b0-293b-48ad-ba05-b493e4211662

Advertisements

3 thoughts on “[Project FF ] Adore U The8 Version

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s