Freelance · Genre · Hurt · Length · Married Life · One Shoot · PG 17+ · Rating · Uncategorized

[FF Freelance]My Lady


PhotoGrid_1453142549202

Author : @Yunietananda (IG, Twitter)

Title : MY LADY

Main Cast : Kim Seokjin (BTS), Choi Jaehee (Fiction Cast).

Other Cast : Min Yoongi (BTS), Kim Yeonhee (Fiction Cast).

Genre : Married Life, Hurt.

Rating : PG + 17

Lenght : Oneshoot

Disclaimer : Member BTS (Jin dan Suga) mutlak milik Keluarga, Bighit Ent dan A.R.M.Y. Alur cerita milik author. Jika ada kesamaan karakter, nama, tempat dan waktu atau kemiripan dengan cerpen/fanfic/novel/film merupakan unsur ketidak sengajaan.

Author Notes : FF ini author tulis untuk memenuhi request dari seorang teman, Lisa Kim. Semoga tidak terlalu mengecewakan. Mohon maaf bila ada sedikit ke absurd-an yang terjadi. Selamat membaca! Sangat diharapkan untuk meninggalkan komentar, kritik ataupun saran. Terima kasih ^_^

Story :

MY LADY

 

Aku tak tahan melihatmu seperti ini. Pergilah!”

 

.

.

.

 

(Kim Seokjin POV)

 

10 Tahun waktu yang ku habiskan untuk menunggunya. Menunggu waktu agar dapat bersamanya. Dan malam ini aku bersyukur, karena dia telah resmi menjadi milikku.

 

Harusnya aku bisa tersenyum penuh bahagia begitu pesta pernikahan telah usai, nyatanya hatiku justru merasa tersayat ketika melihat dia menangis sembari membelakangi diriku yang terus menatapnya.

 

Punggung itu terguncang, isak tangisnya kian terdengar, pasti kesedihan yang ia rasakan begitu dasyat hingga membuatnya terlihat sangat rapuh. Ingin sekali tangan ini mendekapnya dalam pelukan, menyeka air mata yang merusak riasan di wajah cantiknya, serta berkata ‘Tenanglah, ada aku disini yang akan menjagamu’. Tapi nyatanya aku tak bisa, karena aku tahu bahwa kesedihan itu adalah ulahku juga keluarga kami.

 

“Jaehee-a, makanlah sesuatu. Sejak tadi kamu belum makan bukan?” Setelah seperkian menit terdiam, akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara pada yeoja yang masih memalingkan pandangannya dariku.

 

“Aku lelah, aku mau tidur saja.” Ujarnya dengan nada yang terdengar menahan emosi.

 

Joh-a! Jal Jayeo, Choi Jaehee.” Sahutku sebelum melangkahkan kaki keluar dari kamar kami. ‘Mungkin dia butuh waktu.’ aku bergumam didalam hati, mencoba menetralkan perasaan yang berkecambuk dihati.

 

.

.

.

 

Seingatku Choi Jaehee adalah gadis paling ceria yang pernah kutemui, tapi hampir 2 pekan senyum dan tawa seakan pergi dari kehidupannya. Dan itu lagi – lagi disebabkan oleh pernikahan kami.

 

Andai saja aku tahu kalau sebuah pernikahan justru membuatnya tersiksa, aku pasti lebih memilih menjadi sahabatnya seumur hidupku daripada memilikinya dengan keterpaksaan seperti ini.

 

Kupandangi foto lawas yang terbingkai rapi diatas meja kerjaku. Aku rindu masa – masa wanitaku tersenyum seperti di gambar ini, meskipun aku tahu senyuman itu karena seseorang yang berada diantara aku dan Jaehee.

 

‘Seandainya kau tidak pergi, mungkin Jaehee akan hidup bahagia bersamamu Min Yoongi.’ Pikiran sesat ini tiba – tiba terlintas di kepalaku. Jikalau namja yang juga sahabatku itu muncul kembali, aku tak akan tahu apa yang harus ku katakan serta lakukan kedepannya.

 

“Seokjin-a, makanan sudah siap!” Suara Jaehee masih terdengar merdu di telingaku sekalipun aku tahu kalau dia terpaksa berbicara denganku.

 

Kaku, hening, dan canggung. Itulah situasi saat hanya ada aku dan Jaehee dirumah. Namun semuanya akan berubah mencair ketika naui eomma dan aboeji berada disini, ya keduanya saat ini sedang berada di Busan untuk menikmati liburan.

 

“Apa kamu ingin pergi ke rumah ibu mertua?” Tanyaku kepada wanita yang baru 2 minggu menjadi istriku.

 

Ani. Wae?” Sahutnya dengan nada datar tanpa melihat kearahku.

 

“Aku hanya takut kamu kesepian disini saat aku bekerja. Jika merasa bosan, pergilah keluar rumah untuk bertemu teman – temanmu.” Entah kenapa aku justru merasa bersalah setelah memberikannya usulan tersebut.

 

“Jangan khawatirkan aku. Nan gwaencanayeo.” Celetuknya kini sembari membereskan makanan dari meja makan.

 

Inilah kehidupan pernikahanku yang sesungguhnya. Sekalipun Jaehee adalah istriku, tapi kami sangat jarang bicara satu sama lain. Terlebih aku belum pernah menyentuh gadis itu sama sekali.

 

Dia menikah denganku karena terpaksa, ayahnya meninggal setahun yang lalu. Sejak saat itu keadaan financial keluarganya cukup kacau. Jaehee harus bekerja extra keras untuk menghidupi neoui eomma dan 3 dongsaeng-nya.

 

Keluarga kami saling mengenal sudah cukup lama, bahkan ibuku adalah sahabat dari ibu Jaehee. Akupun sedari SMA telah berteman baik dengannya dan juga Yoongi. Karena alasan kedekatan kami itulah yang membuat kedua keluarga memaksa kami untuk menikah.

 

Sekalipun Jaehee tidak mencintaiku, aku tetap ingin menikahinya dengan tujuan untuk membantunya. Tapi niatan itu justru banyak menyakiti wanitaku. Hampir setiap malam aku mendengar tangisnya dan itu membuatku semakin merasa bersalah.

 

.

.

.

 

Uri mariya, Kim Seokjin.” Sapa seseorang yang tak pernah ku bayangkan kehadirannya. Tak ada kata yang berhasil lolos dari kerongkonganku yang tercekat kuat. Aku hanya bisa menatap sosok itu dalam diam.

 

“Aku dengar kau sudah menikah, maka dari itulah aku sengaja pulang dan menemuimu, Chukae Seokjin-a.” Lanjut namja itu kemudian memelukku.

 

Gomawo, Min Yoongi.” Sahutku terdengar lirih.

 

“Siapa yeoja beruntung yang berhasil memikat hatimu?” Seketika aku hanya bisa mematung, keringat dingin bercucuran membasahi wajahku. Aku tidak bisa mengatakan kenyataan kepada sahabatku ini, karena aku takut akan menyakitinya.

 

Kkkkkkrrrrriiiiiingggggg ~ Sebuah alarm berbunyi begitu keras. ‘Untung saja hanya mimpi.’ Gumamku sesaat setelah berhasil membuka mata lebar – lebar.

 

Ireona! Sarapan sudah siap.” Seru Jaehee masih dengan nada bicara yang memuakkan.

 

Jamkkanman!” Pintahku, dan itu berhasil membuat langkahnya terhenti.

 

Mwo?” Sungutnya, saat ini dia menatapku dengan kesal.

 

“Aku tak tahan melihatmu seperti ini. Pergilah!” Ujarku tak kalah kesal, Jaehee semakin menunjukkan ketidak sukaannya dengan sorotan mata tajamnya.

 

“Apa maksudmu sebenarnya Seokjin-a?”

 

“Hubungan ini tidaklah benar Jaehee, aku yakin kamu tahu itu! Sejujurnya aku tidak sanggup menjalaninya, jadi mari kita akhiri saja semuanya.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, alasan yang sesungguhnya masih bisa tertahan dihatiku. Ya, sebenarnya aku tak tahan melihatnya terluka apalagi itu karenaku.

 

“Jadi kau ingin menceraikanku, Kim Seokjin?”

 

Dwae.” Lalu hening sesaat. “Aku tahu kamu masih mencintai Yoongi, sampai kapanpun aku tidak bisa menggantikannya di hatimu. Aku tetap akan membantu keluargamu tanpa harus kamu menjadi istriku. Geunyang…” saat ini aku tak kuasa untuk mengutarakan harapan terbesarku.

 

Geunyang, mwo?

 

“Sebelum kamu pergi, bisakah kamu menjadikanku seorang ayah, Jaehee-a?” Akhirnya aku berhasil juga mengatakannya. Aku tak peduli dengan tatapan jijik yang dilemparkan oleh Jaehee kepadaku. Saat ini hanya itulah yang bisa kuminta darinya. Tak masalah jika aku tak bisa memiliki dan hidup bersama Jaehee, setidaknya aku ingin memiliki anak dari wanitaku tersebut. “Mungkin aku terlihat jahat bagimu, tapi kumohon pikirkanlah permintaanku kali ini.” imbuhku sebelum meninggalkan Jaehee yang terduduk lemas di kursi rias miliknya.

 

Aku sekali lagi mendengar tangisnya dari balik kamar mandi. Dan itu membuat air mataku turut mengalir bebas dari sumbernya. ‘Tolaklah! Tolaklah! Kumohon tetaplah bersamaku Jaehee-a. Jebal!’ Rintihku dalam tangis yang tak terbendung. Mungkin aku berlebihan, tapi rasa ini terlampau sakit untuk terus ditahan.

 

.

.

.

 

Semalam aku tidak menyangka bahwa Jaehee benar – benar mau melakukan ‘hubungan intim’ denganku. ‘Sepertinya Jaehee pun ingin segera pergi’ itulah yang terbesit di otakku saat wanitaku menyatakan kesediaannya. Sejuta perasaan bercampur aduk kala aku melancarkan aksi yang seharusnya sejak lama kami lakukan sebagai suami – istri.

 

Aku dapat mengingat dengan jelas ekspresi sekaligus desahan kesakitan Jaehee di ranjang ini semalam. Bahkan harum tubuhnya serasa menempel di indera penciuman dan pengecapku yang berhasil mencumbunya. Mungkin hari ini aku bisa tersenyum bahagia, tapi tidak dengan Jaehee yang justru seharian ini tak mau memandangku.

 

.

 

Seminggu telah berlalu, pagi ini ku menangkap ekspresi aneh di wajah Jaehee. Ia terlihat pucat, disertai mata yang berkaca – kaca, tapi bibir peachnya justru terkatup rapat dan tangan kirinya memegang sesuatu.

 

Wae geurae? Neoneun apha?” Tanyaku sangat khawatir melihat wanitaku.

 

“A.. aku.. hamil.” Mendengar ucapannya, dengan cepat aku menghambur kerahnya lalu spontan memeluk serta mencium kening Jaehee yang terkejut melihat tingkahku.

 

“Mulai sekarang kamu harus banyak istirahat! Jangan mengerjakan pekerjaan rumah yang berat – berat. Ok?” Kelegaan begitu merajaiku hingga lupa akan rasa bersalah yang selama ini menghantuiku. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan istri juga janin kami, aku akan mengesampingkan hal – hal yang selama ini menyiksaku.

 

.

.

.

 

Entah mengapa waktu terasa cepat berlalu? Rasanya baru kemarin aku dan Jaehee pergi kedokter untuk memeriksakan hasil tes kehamilannya. Aku juga merasa baru satu jam tadi mengikuti parenting class, menemani Jaehee mengikuti Yoga khusus ibu hamil, dan juga berbelanja segala keperluan bayi kami.

 

Sekarang putri kecil yang selama 9 bulan di rahim ibunya telah hadir diantara kami. Kim Yeonhee, itulah nama yang aku berikan pada bayi cantik ini.

 

Gomawo, Jaehee-a.” Ujarku sambil menggendong buah hatiku, kupandangi sesaat wanita yang masih terkulai lemah di tempat tidurnya. “Jaga dirimu Jaehee-a. Hidup bahagialah bersama Yoongi. Aku akan menjaga anak kita dengan baik.” Lanjutku kemudian mengecup kening wanita cantik itu untuk terakhir kalinya.

 

Sesuai ucapanku awal, aku akan membiarkan Jaehee pergi setelah dia menjadikanku seorang ayah. Kini putri kami telah lahir dengan selamat, dan itu artinya sudah saatnya Jaehee pergi. Setahun ini aku telah membuang waktu dan membuat Jaehee tersiksa. Sudah sewajarnya jika kini aku membiarkannya pergi untuk menemui kebahagiannya yaitu bersama Yoongi.

 

Sekalipun sakit, aku harus bertahan demi anak kami. Aku meninggalkan alamat Yoongi yang berhasil di temukan oleh orang – orangku beserta dengan uang tunjangan untuk Jaehee sekaligus surat perceraian kami. Mungkin aku adalah penjahat sungguhan, tapi aku rela melakukannya demi melihat wanitaku bahagia.

 

.

.

.

 

(Author POV)

 

Washington DC, 14 Tahun kemudian…

 

Appaaaaaaa!” Teriakan itu mengejutkan lelaki berusia 39 Tahun yang sedang sibuk memasak di dapurnya.

 

Waeyeo?” Tanya sang ayah penuh perhatian menghampiri putrinya yang mengunci diri di kamar mandi sejak bangun tidur.

 

Oettoekke Appa?” Terdengar kecemasan disertai isak dari anak perempuannya.

 

Wae geurae?”

 

“A.. aku mengeluarkan darah Appa. Oettoekke?”

 

Jamkkanman.” Seru lelaki yang mengambil sebuah barang milik wanita dari almari di dekat dapur kemudiam kembali ketempat putrinya berada.

 

Tok tok tok ~ lelaki tadi mengetuk pintu kamar mandi. “Buka pintunya sayang!” Seru Seokjin.

 

Sirheo!”

 

Appa membawakan pembalut untukku.” Mendengar ucapan sang ayah dengan malu – malu gadis itu membuka pintu yang dari tadi terkunci rapat. “Kamu tahu cara memakainya kan?”

 

Arasseo. Gomawo Appa.

 

Berselang beberapa menit akhirnya ayah dan anak itu telah duduk sambil menyantap menu sarapan mereka.

 

Appa, seandainya eomma disini kejadian memalukan seperti ini tidak akan terjadi kan?” Gumam Kim Yeonhee. Wajahnya terlihat mendung, ada kerinduan serta kesedihan yang menyelimutinya.

 

“Kamu ingin pergi ke Korea?” Sontak gadis itu menengadahkan kepala, menatap sang ayah dengan sorotan mata yang berbinar. “Bersiaplah, besok Appa akan mengantarmu ke bandara.”

 

Appa tidak ikut? Apa Appa tidak ingin pulang bersamaku?” Kalimat Yeonhee membuat hati Seokjin bergetar. Remaja itu benar, sekalipun selama ini mereka tinggal dengan baik di Washington bukan berarti mereka berada dirumah. Karena seluruh anggota keluarga mereka berada di Korea.

 

‘Ah bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?’ Pikir Seokjin sembari menatap gadisnya yang mulai tumbuh dewasa.

 

.

.

.

 

Seoul, Summer…

 

Appa tidak ikut menemui eomma?” Tanya Yeonhee kepada lelaki yang terdiam memandangi sosok wanita dari bangku kemudinya.

 

Ani. Pergilah! Beri salam pada neoui eomma. Dia pasti sudah menunggumu.” Jawab Seokjin.

 

“Baiklah aku mengerti. Mungkin kalian tidak nyaman untuk saling bertemu. Aku pergi dulu!” Seru siswi SMP itu keluar dari mobil lalu berlari kecil menuju sosok yang tengah sibuk dengan para siswanya.

 

Annyeonghaseyo!” Sapa Yeonhee sangat sopan, ada tatapan yang sangat sulit dilukiskan kala Jaehee melihat anak ini. “Apa kabar, Eomma?” Lanjut Yeonhee yang di sambut pelukan disertai air mata oleh ibunya.

 

Kerinduan itu melebur sudah. Terlebih bagi Choi Jaehee, ini merupakan pertama kalinya wanita itu memeluk erat putrinya setelah bertahun – tahun berpisah. Selama ini dia tidak pernah berkesempatan menimang anaknya dalam dekapannya, itu karena mantan suaminya membawa pergi bayi mereka sehari setelah dilahirkan.

 

.

 

“Kenapa eomma tidak pernah membalas surat dariku?” Celetuk Yeonhee saat dia dan Jaehee duduk berdua di sebuah bangku taman.

 

Mianhae, jeongmal mianhae Yeonhee-a.” Gumam wanita itu lirih masih dalam tangisnya.

 

Ani! Akulah yang harusnya meminta maaf pada eomma. Seharusnya aku mengunjungi eomma sejak lama. Pasti eomma disini sibuk dengan keluarga dan pekerjaan.”

 

Neo?”

 

Dwae eomma, aku tahu kisah antara eomma dan appa. Aku tidak marah pada kalian berdua, aku juga tidak menyesal menjadi anak kalian. Bagaimana kabar keluarga eomma?” Yeonhee berusah menahan air matanya saat menanyakan kehidupan sang ibu.

 

“Keluarga? Maksudmu neoui halmeoni dan adik – adikku?”

 

Ani. Aku baru saja mengunjungi halmeoni dan juga Samchun kemarin. Yang aku maksud disini adalah Min Yoongi Ahjussi.”

 

“Min Yoongi?” Jaehee justru menatap putrinya penuh tanya. “Kami tidak bersama. Apa nenekmu tidak menceritakan hal ini padamu?”

 

Mwo? Waeyeo eomma? Bukankah eomma mencintai ahjussi? Halmeoni tidak banyak bercerita, mungkin beliau sangat terkejut bertemu denganku dan juga Appa.”

 

“Dulu mungkin eomma mengira sangat mencintai Yoongi hingga tidak bisa hidup tanpanya, namun setelah eomma memilikimu selama 9 bulan semuanya berubah.” Hening sesaat, Yeonhee menangkap sebuah simpul manis di wajah ibunya. “Lalu bagaimana dengan kehidupanmu selama di Amerika?” lanjut Jaehee.

 

“Seperti yang pernah kutulis dalam suratku sebelumnya, Appa merawat, mendidik dan menjagaku dengan sangat baik. Appa adalah pria luar biasa yang pandai membagi waktu antara bekerja, memasak, mengurus rumah sekaligus membesarkanku. Aku sangat bangga lahir dari orang tua seperti kalian.” Kata – kata yang terakhir itu sengaja di tambahkan oleh Yeonhee dengan tujuan terselubung.

 

“Pasti neoui appa mengalami kesulitan selama ini, tapi kenapa dia tidak menikah lagi saja?”

 

Nado molla. Yang aku tahu Appa selama ini menyukai seseorang, tapi aku tidak tahu alasan kenapa dia tidak menikahi wanita itu.”

 

.

 

Di tengah cuaca terik seorang namja berlari dengan segera mencari seseorang. Kemudian langkahnya terhenti saat menangkap sosok yang beberapa menit lalu mengirim pesan padanya.

 

Yeonhee-a, neo gwaenchana?” Seru Seokjin mendekati putrinya dan memeriksa jikalau anak itu terluka.

 

Nan gwaenchana appa.” Ujar Yeohee sambil terkekeh ringan.

 

Neo? Kamu pasti sengaja membohongi appa!” Gertak Seokjin hampir menjewer telinga gadis itu.

 

Andwae!” Cegah seseorang yang langsung memeluk Yeonhee. “Kenapa kau begitu kasar padanya?” imbuh Jaehee tak kalah keras pada lelaki itu.

 

“Hya! Itu bukan kasar! Aku hanya ingin menakut – nakutinya.” Bantah Seokjin.

 

Appa! Eomma! Kenapa kalian justru bertengkar?” Teriak Yeonhee membuat kedua dewasa itu terdiam seketika.

 

Berselang beberapa menit situasi canggung menyelimuti kebersamaan mereka. Bahkan Yeonhee hanya bisa bicara via chat room dengan sang ayah membicarakan Choi Jaehee yang duduk tak jauh dari mereka.

 

“Aku haus! Aku akan pergi membeli ice cream.” Celetuk Yeonhee membuat ayah ibunya tersentak.

 

Eomma akan menemanimu.” Ujar Jaehee.

 

Sirheo! Aku mau pergi sendiri. Lagipula aku sudah tahu ice cream favorit kalian. Cokelat untuk Appa dan Vanila untuk Eomma.”

 

“Bukan Vanila, tapi Strawberry!” Seru Seokjin dan Jaehee serempak.

 

Arasseo. Tadi aku sengaja menggoda kalian. Bicaralah baik – baik, jangan bertengkar lagi. Ok?” Kata Yeonhee yang belum beranjak dari tempat duduknya. “Appa Fighting!” Bisik anak itu menggoda ayahnya.

 

Sepersekian menit sepeninggalan Yeonhee hening dan kekakuan masih melanda kedua orang dewasa yang duduk saling berjauhan.

 

Uri mariya, Jaehee-a!” Ucap Seokjin terbata – bata. Gugup yang menghinggapinya membuat lelaki itu kehilangan kata – kata yang sudah dipikirkannya sebelumnya.

 

“Kenapa kau berubah seperti robot lagi?” Protes Jaehee.

 

Naega? Ani! Aku tidak pernah menjadi robot.” Elak Seokjin kini dengan leluasa menatap lawan bicaranya.

 

“Syukurlah.” Gumam Wanita itu diikuti senyuman yang tersungging di wajah cantiknya.

 

“Senang rasanya melihatmu tersenyum seperti itu. Aku kira tidak akan pernah melihatnya lagi.”

 

Jinca? Wae? Yoongi ttaemune?” Kini cara pandang Jaehee sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, bisa dibilang saat ini yeoja itu justru cinderung menggoda Seokjin yang terdiam.

 

Gomawo Seokjin-a, kamu berhasil menjadi ayah yang baik. Terima kasih sudah menjaga putri kita.”

 

“Kenapa tiba – tiba…” Pertanyaan Seokjin terhenti. “Tidak bisakah kita hidup bersama?” Mungkin pertanyaan kali ini kurang tepat, tapi hal ini justru yang terpenting.

 

Mianhae, aku tidak bisa dan tolong jangan bertanya apalagi mencari tahu alasanku.” Jawaban ini bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh Seokjin maupun Yeonhee yang sudah berdiri mematung menahan tangis dihadapan kedua orang tuanya.

 

.

.

.

 

Kebohongan tetaplah kebohongan, sekalipun berdalih untuk kebaikan. Sesakit apapun kenyataan, lebih sakit lagi jika merasa telah tertipu.

 

Dua insan beda usia itu berdiri tepat di sebuah makam yang bertuliskan nama yang sangat mereka cintai. Penyesalan, perasaan bersalah, kesedihan memenuhi hati mereka. Bahkan sang ayah mulai berandai – andai ‘Jika saja beberapa bulan yang lalu kamu memberitahu kami, mungkin kita masih bisa bersama saat ini’.

 

Eomma, beristirahatlah dengan tenang disana. I Love You Mom.” celetuk Yeonhee yang kini menangis di pelukan ayahnya

 

Dear Kim Seokjin…

 

Maafkan aku yang selalu menyakitimu dengan segala tingkah lakuku. Sebenarnya aku merasa bersyukur karena itu kamu yang menjadi suamiku. Tapi aku sangat menderita dengan penyakit ini. Maaf aku sudah membuatmu salah paham selama ini.

 

Kim Yeonhee gadis yang sangat mengagumkan, aku bangga sekaligus salut padamu Seokjin-a. Karena kamu bisa membesarkannya seorang diri. Aku selalu berdoa agar dia mendapatkan pendamping hidup sebaik dirimu. Mungkin itu akan sulit, karena hanya ada satu Kim Seokjin yang sesempurna dirimu. Meskipun begitu setidaknya semoga ada namja baik hati yang bisa menerima putri kita dengan segala kekurangannya.

 

Aku bahagia bisa melihatmu untuk terakhir kalinya sebelum aku melakukan perawatan intensif di rumah sakit. Sekali lagi maafkan aku telah membuatmu dan juga Yeonhee kecewa. Akupun ingin hidup ditengah – tengah kalian, namun lagi – lagi penyakit ini menghentikanku.

 

Kegagalan beberapa kali operasi yang ku jalani membuatku kian putus asa, aku hanya pasrah mengenai usiaku di dunia. Ini sangat terlambat, tapi aku tetap ingin kalian tahu bahwa aku mencintaimu Seokjin-a. Aku senang bisa menjadi istrimu dan ibu bagi Yeonhee sekalipun aku tak sebaik dan sesempurna keinginan kalian. Jaga dirimu Seokjin-a. Terimakasih untuk semuanya. Aku titipkan uri Yeonhee padamu.

 

Choi Jaehee.

 

-FIN-

 

 

 

 

 

 

Advertisements

7 thoughts on “[FF Freelance]My Lady

  1. kukira jaehee bakal sama yoongi..ternyata…
    astaga bodoh sekali, kalau jujur pada diri sendiri dan orang lain kam setidaknya bisa merasakan bahagia.
    coba kalo jujur dan bilang cinta ke seokjin. pasti bakalan jadi keluarga bahagia sampai maut menjemput kan. jaehee yg gegabah pada akhirnya malah melukai seokjin yang tulus, yeonhee juga gak dapet kasih sayang dari jaehee. pokoknya sangat disayangkan..nyeseknya dapet lagi thor..good job

    Like

    1. Iya ya, kesel juga sama karakter Jaehee disini. Maksudnya gak mau melukai eh justru membuat hati semua orang tersayat – sayat. (Untung bukan authornya yg di salahkan. Hahahaha *ketawaDevil*)

      Well, sekali lagi makasi atas waktu sekaligus reviewnya ^_^

      Like

      1. authornya nggak salah, yg salah jaehee tuh wkwkwk.
        ff lain ditunggu loh thor, keep writing ya tapi jangan pake cast hoseok hahahaha nanti aku camburu wkwkwk

        *ketjup muachh

        Like

  2. Boleh dibaca – baca Telepathy dan 17 Again (Main Cast member BTS Suga, Jungkook).

    Untuk yg terbaru di tunggu ya!

    *KirimKecupDariJauh*

    Like

  3. Sblmnya, mau bilang Terimakasih banyak buat Kak Nanda yg udh mau menuhin req aku yg banyak maunya itu *HugErat2BrngJin* kkkk~

    Dan jujur ini keren bgt ka. sesuai sama apa yg aku inginkan. Terlebih lg endingnya sad. Aku paling suka sama genre ff yg hurt sampe bikin mewek. Dan FF ini sukses bikin aku mewek. Sukses deh Author-nya.heheheh…

    Btw, kpn2 aku req lg yaa Kakak *Kedip2UnyuBrngJin* hohoh

    Like

    1. Terima kasih kembali Lisa. Aku juga mau bilang makasi karna udah mempercayakan sebuah request padaku. *Lebay*

      Aku bersyukur kalo FF ini bisa di terima dan memenuhi keinginan pembaca meskipun tak sempurna.

      Boleh dong! Dengan senang hati aku menerima reqst.

      Sekali lg makasi atas wktu dan reviewny.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s