Freelance · Hurt · Length · One Shoot · PG - 17 · Rating · Romance

[FF Freelance] Love’s Not A Crime


Author: @Yunietananda (IG, Twitter)

Title: LOVE’S NOT A CRIME

Main Cast: Park Soo Young (OC), Jeon Jungkook (BTS)

Other Cast: Other BTS Member, Sung A Ra (OC)

Genre: Romantic, Hurt

Rating: PG – 17

Lenght: Oneshoot

Disclaimer: Inspirasi dari lagu Love’s not a crime by Baek Ji Young, OC ataupun Fiction cast milik Author. Begitu juga alur ceritanya ^^ BTS member tetaplah milik orang tua, Big Hit dan Army.

Author Notes: Setelah memeriksa file yang sedikit lama akhirnya aku menemukan FF ini dan berencana untuk mempublishnya. Awalnya FF ini ingin aku buat begitu memilukan, maaf jika belum sempurna penyampaiannya. Typo masih terjadi, Ah mianhae! Jangan lupa tinggalkan komentar, kritik, saran ataupun req FF yang terinpirasi dari lagu. ^_^

Story:

LOVE’S NOT A CRIME

 

~Cinta bukan sebuah dosa, melainkan sebuah anugerah.~

 

 

Musim semi tahun lalu aku mulai memperhatikannya. Sesosok namja pelanggan setia Cafe tempatku kerja paruh waktu. Dia selalu memilih meja yang sama di setiap harinya dan itu adalah spot terbaik di cafe ini karena viewnya langsung kearah laut. Hampir setiap hari namja itu mengunjungi serta memesan menu favoritnya Avocado Cappuchino yang menjadi andalan Cafe kami serta beberapa dessert.

 

Awalnya aku mengira dia sosok yang senang menyendiri dan tertutup, namun dugaanku terpatahkan kala beberapa kali ia berkunjung bersama ke enam teman namja nya. Mereka bertujuh begitu menonjol bagiku. Postur tubuh, wajah serta gaya berpakaian mereka sangat berkelas dan professional. “Hmmm mungkin mereka artis atau anak konglomerat.” pikirku kala itu.

 

Semakin aku memperhatikan namja bergigi kelinci itu, semakin sering jantungku berdebar tak beraturan. Bahkan aku harus menghela nafas panjang untuk mengantarkan pesanan ke mejanya. Hanya mendengar ucapan “Terima Kasih” darinya, aku merasa bahagia bagaikan mendapat hembusan angin dari surga. It’s so stupid! Tapi begitulah perasaanku.

 

Beberapa bulan terakhir wajah namja yang tanpa sengaja kuketahui bernama Jeon Jungkook itu tak seceria biasanya. Entah apa yang membuat senyum manisnya memudar, tapi ku yakin pasti terjadi sesuatu yang salah padanya.

 

“Ini pesanan anda tuan!” ujarku sembari meletakkan Avocado Cappuchino hangat miliknya.

“Tapi aku belum memesan.” seketika ia tersentak, dan aku tahu hal ini akan terjadi.

“Maafkan saya tuan, sudah satu jam lebih anda hanya duduk diam disini. Saya pikir anda akan memesan Avovado Cappuchino seperti biasanya, Oleh karena itu saya membawakannya untuk anda. Apa perlu saya ganti menu nya?”

“Ah Anni! Terima kasih dan maaf karena aku lupa memesan sebelumnya.”

“Bukan masalah tuan. Kalau begitu saya permisi.”

“Jamkkanman!”

“Ye?”

“Gamsahabnida, Park Soo Young.”

Itu adalah hari bersejarah dalam hidupku, hari pertama aku berbicara secara langsung dengan Jeon Jungkook serta hari dimana namja itu menyebut namaku. I’m so happy!

 

Hari – hari berikutnya kami jadi sering berbincang – bincang singkat. Dan itu membuatku berharap untuk bisa dekat dengan namja yang setahun lebih tua dariku tersebut. Semakin sering kami berinteraksi, aku semakin menyukai sosoknya yang friendly. Dan perkiraanku benar! Jungkook seorang putra tunggal dari keluarga yang cukup kaya. Dia juga alumni sebuah International High School bergengsi di kota ini, dan sekarang dia mahasiswa di salah satu Universitas ternama. Sangat jauh berbeda denganku yang kehidupannya serba biasa saja. Meskipun jenjang sosial kami jauh berbeda, namun hal itu tidak menyurutkan rasa sukaku kepada Jungkook.

 

…………..

 

“Soo Young, bisakah kau menunjukkan tempat yang nyaman, tenang dan tak banyak orang?” celetuk Jungkook suatu sore, kala itu ia terlihat kurang baik bahkan tak ada senyuman menghiasi wajahnya.

“Ada! Ttalawa!” dengan cepat dan reflek aku menarik namja tadi dari tempat duduknya. Lalu kami bersepeda dengan sedikit terburu – buru menuju tebing terumbu karang yang berada di salah satu tepian pantai berjarak kurang lebih 1,5 km dari pusat kota.

“Ini tempat favoritku! Kamu bisa melakukan apa saja disini karena tak akan ada orang yang menghiraukanmu.” Jelasku dengan nafas terengah – engah. Jujur saja, cukup melelahkan mengkayuh sepeda sejauh itu dengan membonceng seorang namja seperti tadi. Tapi itu cukup menyenangkan, karena aku bisa berbagi tempat favorit kepada orang yang kusukai.

“Jika itu kamu, apa yang kamu lakukan disini? Saat perasaanmu sedang kesal misalnya.” Tanya Jungkook.

“Naega? Hmmmm saat kesal aku akan berteriak dengan keras dan mengeluarkan semua keresahanku.”

“Bereriak?”

“Dwe! Like this… AAAAAAAAAAAAA!!!!!!…. Cobalah!” sesaat kulihat keraguan di wajah Jungkook. Namun beberapa detik kemudian dia berlari ke bibir pantai lalu berteriak sangat keras.

“AAAAAARRRRRRGGGGGGGGHHHHHHH!!! AKU MUAAAAK DENGAN SEMUA INI!!!!! FUCK THIS!!!” Melihatnya duduk berjongkok di pasir dengan kepala tertunduk menggambarkan jelas bahwa ia tidak dalam keadaan dan perasaan yang baik.

“Bagaimana? Jauh lebih baik?” Seruku berusaha sedikit menghiburnya.

“Dwe, gomawo.” Jawabnya, lalu kami memutuskan duduk bersebelahan beralaskan pasir, memandang terbenamnya matahari didepan kami. Setelah beberapa menit terdiam dan tenggelam dengan pikiran masing – masing, akhirnya Jungkookpun bercerita tentang dirinya yang merasa tak lagi nyaman dengan hidupnya.

 

Kesimpulan yang ku ambil dari ceritanya, ia tak lagi nyaman dengan keluarga yang terus menerus ikut campur bahkan mengatur kehidupan pribadinya. Ia dilanda perasaan bersalah kepada 6 Hyung-nim yang selama ini membantunya. Ya, Dengan berbagai cara orang tua Jungkook berhasil menjauhkan putranya dari ke enam sahabat baiknya itu sedangkan Jungkook tak mampu melawan kekuasaan orang tuanya. Tanpa ku sadari air mataku jatuh begitu saja saat mendengar isi hati Jungkook yang sebenarnya.

 

Tak banyak yang bisa ku lakukan untuk Jungkook, selain membantu meluruskan salah paham yang di tebar oleh orang tuanya terhadap para sahabatnya. Pertama – tama yang ku lakukan adalah mendekati Hyung tertuanya yaitu Kim Seok Jin. Kemudian Hyung yang sering membuatnya tertawa Kim Tae Hyung. Barulah ke Hyung – Hyungnya yang lain. Akhirnya usahaku tidak sia – sia, akhir pekan belakangan ini ke enam namja tersebut bersedia menemui Jungkook lagi dan itu artinya aku bisa melihat senyuman termanis milik namja bertinggi badan 177 cm tersebut.

 

~Kling~ terdengar suara pintu cafe terbuka.

“Maaf kami sudah tutup!” Teriakku dari balik mini bar cafe. Saat itu aku sedang mengepel lantai. Sedangkan pegawai lainnya berbenah di dapur.

“Jam berapa waktu kerjamu berakhir?” Tanya namja yang sangat tidak ku duga kedatangannya.

“Sebentar lagi. Kamu ada perlu denganku?”

“Dwe.”

“Ah baiklah. Tunggu 10 menit. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat.”

“Baik.”

Ku kira ini hanya halusinasi, tapi 10 menit kemudian aku di kejutkan oleh Jungkook yang sudah duduk di sepeda milikku.

“Naiklah!” Seru Jungkook sembari melirik ke boncengan namun aku masih tertegun. “Ppaleun!”

“Ah Ye.” Jawabku dan segera duduk di boncengannya.

“Are you ready?”

“Huh?”

“Gaaa..jjaaaaaa!”

“Wuuaaahh!” aku sedikit was – was karena cara bersepeda Jungkook sedikit mengkhawatirkan. Dan benar saja, saat kami sudah dekat dengan tempat tujuan (*Read : tebing karang / tempat sebelumnya) kami berdua terjatuh dari sepeda.

“Auw.” rintihku menahan perih, sepertinya kakiku tergores salah satu dari bagian sepeda.

“Ah Mian Soo Young, Gwenchanayeo?”

“Nan gwenchana.”

“Keojimal!” sungutnya sembari mengeluarkan sehelai sapu tangan dari kantong celananya dan mencoba menutupi lukaku dengan sapu tangan tersebut.

“Gomawo Jungkook. Hmmm sebenarnya kenapa kamu mengajakku kemari? Apa terjadi sesuatu?”

“Anni! Aku cuma ingin melihat bintang bersamamu malam ini.”

“Wae?”

“Aku tidak tahu harus memberikan hadiah apa untukmu sebagai tanda terima kasih karena telah membuat Hyungnim kembali mempercayaiku. Oleh karena itu aku berniat menemanimu melihat bintang. Kamu sangat menyukai bintang bukan?”

~Oh So romantic!~ gumamku riang di dalam hati namun aku berusaha menahannya dan berkata hal lain “Darimana kamu tahu?”

“Aku bertanya kepada salah satu rekan kerjamu. Dia bilang, kamu sangat suka melihat bintang disini. Setiap pulang kerja disaat langit cerah kamu selalu datang kesini kan?”

“Ya, itu benar.”

“Joh-a! Tunggu apalagi? Ayo!” Jungkook menggandeng tanganku erat lalu kami duduk di pasir dan menengadahkan pandangan ke langit lepas yang bertabur jutaan bintang. Malam itu sangat terasa romantis, angin berhembus sepoi – sepoi di tambah pemandangan bintang jatuh. Dan tanpa ku sadari aku mulai memejamkan mata lalu berdoa didalam hati ‘Tuhan, jika perasaan yang kumiliki ini benar tolong tunjukkan cara padaku untuk mengutarakannya.’

“Kamu sedang apa?”

“Anni!”

“Kau memohon kepada bintang jatuh?”

“Ye???”

“Apa aku boleh tahu permohonanmu?”

~Ah mungkin ini saatnya!~ pekikku seketika “Hmmmm sebenarnya aku…”

“Mwo?”

Seluruh tubuhku terasa bergemetar, aku tidak bisa melanjutkan ucapanku karena tatapan matanya. Ya, saat ini sorotan mata Jungkook hanya tertujuh padaku dan itu membuatku sangat kacau. Sebelumnya kami tidak pernah melakukan kontak mata sedekat sekarang “A..akuuuu….” kalimatku terhenti namun kali ini bukan karena diriku, melaikan karena bibir namja dihadapanku ini tengah menempel tepat dibibirku. Bagimana perasaanku? sangat berantakan. Bisa saja ku menolak, namun hati ini bergejolak lalu aku memilih untuk menikmatinya, sebuah ciuman pertamaku dengan orang yang kusukai.

 

………

 

Semenjak malam itu hubungan kami jauh lebih dekat dari sebelumnya. Namun tak ada satupun diantara kami yang mengutarakan perasaan seusai ciuman itu. Bahkan karena hal tersebut aku di buat salah tingkah saat berhadapan dengan Jungkook di Cafe ke esokan harinya. Jika ku ingat – ingat, kejadiaannya sangat memalukan. Hanya karena kami tak sengaja berpapasan pandang, semua yang kulakukan jadi berantakan, menumpahkan kopi ke customer, salah menuangkan garam ke minuman dan masih banyak lagi. Sedangkan namja itu hanya tersenyum bahkan menertawaiku selepas jam kerja.

 

Namun kini semua terasa berbeda, kebahagiaan itu perlahan menghilang. Kedekatanku dan Jungkook hanya berlangsung kurang lebih sebulan saja. Akhir – akhir ini dia jarang berkunjung. Sekalipun datang selalu dengan teman – temannya atau rekan bisnis (*aku tidak tahu pasti, tapi orang yang di temui selalu mengenakan pakain rapi dan formal). Bahkan saat aku sengaja melihat ke arahnya, Jungkook justru membuang muka serta bersikap seolah tidak mengenaliku bahkan menganggapku tak ada didekatnya. Sikap dinginnya itu, diam – diam telah melukaiku dan sering kali membuatku menangis.

 

“Hyung, perkenalkan dia Sung A Ra. Calon istriku.” ujar Jungkook suatu malam kepada enam Hyungnim yang berada satu meja dengannya. Aku bisa mendengar perkataan namja itu karena aku sedang menata hidangan disana. Hatiku sakit, Tidak! Ini lebih dari sekedar sakit. Samar – samar ku lihat mata keenam namja yang ku kenal itu sedikit iba kearahku, tapi aku balas dengan senyuman. Aku ingin mereka beranggapan bahwa aku baik – baik saja. Aku tidak ingin Seok Jin, Ho Seok, Ji Min, Nam Joo, Yoon Gi, Tae Hyung maupun Jung Kook bersimpati dan merasa kasihan kepadaku. Aku tidak mau orang – orang tahu bahwa aku sangat mencintai Jeon Jungkook, bahkan setiap malam menangisi namja itu. Aku tidak ingin mendengar argumen bahwa cintaku ini salah, salah dalam memilih orang. Aku juga tidak ingin orang lain tahu bahwa aku masih menyukai Jungkook, sebab aku tidak mau mendengar komentar bahwa cintaku ini bodoh, karena masih bertahan untuk setia. Aku juga tidak rela jika di olok – olok oleh perkataan orang bahwa cintaku sebuah dosa, karena aku yakin perasaan ini murni anugerah dari Tuhan.

 

……….

 

Flashback malam sebelum pengumaman…

 

“Apa kau menyukaiku Soo Young?”

“Dwe.”

“Bisakah kau membuangnya? Lupakanlah aku! Kamu berhak mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dariku.”

“Molla. Yang aku tahu, saat ini aku sangat menyukaimu Jeon Jungkook. Aku sangat senang saat kamu berada disisiku, namun disisi lain aku merasa sakit ketika kamu bersikap dingin dan memalingkan wajah dariku. Jika perasaanku ini mengganggumu tolong maafkan aku.”

“Wae??? Kenapa kamu begitu menyukaiku Soo Young? Apa yang kau lihat dariku?”

“Molla. Sejak awal aku menyukaimu begitu saja tanpa tahu alasan jelasnya.”

“Hapus perasaanmu So Young! Aku tidak mau melihatmu terluka dan menderita karenaku.”

“Wae??”

“Aku akan segera menikah. Itu keinginan kedua orang tuaku dan aku tidak bisa menolaknya. Sebelum kau terluka lebih dalam, menjauhlah dari kehidupanku. Karena aku tidak sanggup jika melihatmu menderita. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kamu menangis karenaku.”

“Dwe. Arrassheo. Aku akan menjauhimu perlahan, tapi aku tidak bisa memastikan pastinya kapan perasaanku terhadapmu bisa lenyap. Jangan menoleh ke arahku Jungkook! Aku akan mengurus perasaanku sendiri. Terima kasih telah memikirkanku. Aku… menyukaimu.”

 

-THE END-

Advertisements

8 thoughts on “[FF Freelance] Love’s Not A Crime

  1. aduh kenapa harus gini ceritanya , sakit banget rasanya jadi sooyoung . kenapa dedek jungkook harus seperti ini? aduh thor jalan ceritanya bener-bener naik turun buat aku seneng , jengkel , sedih.

    kenapa cinta harus seperti itu ?pengambarannya ngena banget

    good job thor

    Like

    1. Iya nih, kenapa Jungkook jadi gitu banget?

      Ah maaf ya jika merasa tersakiti, authornya pun ikut kasihan sama Sooyoung.

      Terima kasih Author Vizky untuk reviewnya^^

      Like

  2. omg jahat banget, tega!
    juki kenapa ngasih harapan di awal? tapi suka sama ketegarannya sooyoung. good job thor ngefeel banget ini daebak

    Like

  3. Aaah…saki banget…butuh pundaknya jimin../plak!/ jungkook gitu sih…kasian soyoong…
    .
    Good job kak thor! Menyentuhh..banget!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s