Family · Ficlet · G · Genre · Length · Rating

Tuxedo Man


Title                : Tuxedo Man

Author            : ts_sora (@ts_sora)

Cast                : BTS’s Min Yoon Gi (Suga), OC’s Min Yoon Jae, OC’s Jang Geu Rim

Length            : Ficlet

Genre              : Family

Rating             : G

“Laki-laki tidak boleh menangis.”

Seorang bocah laki-laki mencoba menerawang menatap pria yang tengah berdiri di hadapannya. Masih dengan sisa tangisnya, bocah laki-laki itu berusaha menghapus jejak air matanya yang senantiasa membasahi wajah mungilnya. Ia menatap bingung sosok pria yang tengah mengenakan tuxedo bewarna putih yang kini berdiri di hadapannya, menatapnya dengan senyum khas miliknya. Namun bocah laki-laki itu kiranya tak ingin membuka mulut mungilnya, sadar bahwa kini orang asing tengah berbicara dengannya.

“Jadi, kau tidak ingin berbicara dengan paman?” ujar pria itu yang memilih untuk duduk tepat di samping bocah laki-laki itu yang masih memeluk kedua kakinya sembari menundukkan kepalanya. Bocah laki-laki itu yang kini dengan tangisnya yang telah mereda diam-diam mencuri pandang pada sosok pria dengan tak tahu dirinya duduk di sampingnya seakan laki-laki itu mengenal dirinya dengan baik.

“Sekarang apa yang membuatmu menangis? Semua orang terlihat bahagia saat ini, tapi kenapa kau tidak?”

Bocah laki-laki itu menghapus sisa genangan di matanya sembari menatap sayu sosok asing yang ada di sampingnya tersebut. ia lalu memainkan jemari kecilnya. “eomma berjanji akan merayakan malam tahun baru ini di luar negeri, tapi eomma berbohong. Ia malah mengajak kami ke gereja untuk berdoa. Padahal kita sudah pergi ke gereja di malam natal. Aku sudah memberi tahu teman-temanku kalau kami akan ke luar negeri. Jika mereka tahu, mereka akan mengira aku adalah seorang pembohong.”

“Jadi kau marah dengan ibumu? Hingga akhirnya kau lari dari rumah dan menangis di sini?” ucap pria itu yang berhasil membuat bocah laki-laki itu menghentikan kalimatnya. Ia semakin menenggelamkan kepalanya saat kali ini apa yang baru saja diucapkan pria itu terasa mengintimidasinya.

Sadar mendung kembali terbentuk pada kedua mata bocah laki-laki itu, pria bertuxedo tersebut lantas mengelus puncak kepalanya hingga mendung tersebut kembali mereda. Pria itu terlihat mengulum senyumnya sebelum ia terlihat menghelan nafasnya kali ini.

“Aku pernah mengenal seorang gadis kecil yang juga sering menangis karena hal kecil sama sepertimu. Ia juga mudah mempercayai hal-hal konyol yang semua orang tahu memang terdengar tak mungkin.” Pria itu terlihat menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia mengembangkan senyumnya menatap bocah laki-laki yang kini tengah menatapnya penuh. Lupa dengan tangisnya tadi.

“Tapi kau tahu, seseorang tak bisa selalu merasa kecewa dan mengeluh dengan apa yang ia dapat. Dengan hanya menangis, apa semua akan terselesaikan begitu saja? Menangis hanya untuk orang-orang yang tak terima dengan apa yang ia dapat. Bukankah mereka terlihat begitu lemah?”ujar pria itu yang kali ini menghentikan kalimatnya. Bocah laki-laki itu menatapnya dengan bingung yang sesaat kemudian membuat pria bertuxedo itu tertawa pelan.

“Maaf, apa paman membuatmu bingung? Maksud paman, mungkin saja ibumu memiliki maksud tersendiri untuk merayakan tahun baru di gereja. Semua tak bisa kau lihat dari satu sisi saja. Jadi apa ibumu memberitahumu alasan mengapa mengajakmu ke gereja?”

Bocah laki-laki itu terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk sebentar. Air mukanya kembali terlihat sedih. “Eomma bilang, ia merindukan appa. Eomma bilang appa juga merindukan kami,” ujar bocah laki-laki itu lirih namun berhasil menciptakan segaris senyum di wajah pria itu.

“Tapi aku tak pernah bertemu dengan appa sebelumnya,” imbuh bocah laki-laki itu dengan polos. Pria berkulit pucat itu menyeringai tipis sebelum kembali mengusap puncak kepala bocah laki-laki itu dengan sayang. Ia lantas menghelan nafasnya sejenak sebelum akhirnya ia meletakkan sesuatu ke telapak tangan bocah kecil tersebut. Sebuah kertas berbentuk bintang kini mencuri penuh perhatian bocah laki-laki itu.

“Bintang?” Pria itu mengangguk kecil, lalu mengarahkan tangannya menuju langit malam yang bertabur hamparan bintang berkerlap-kerlip seakan bersekutu dengan langit untuk memperindah malam. Bocah laki-laki itu hanya mengedipkan matanya beberapa kali sebelum ia mengerti apa yang tengah pria itu tunjukkan padanya. Sebuah bintang yang terlihat paling terang dibandingkan bintang-bintang lainnya.

“Kau lihat bintang itu?” ujarnya yang dibalas anggukan kecil bocah laki-laki itu kali ini. “Anggap saja, ayahmu ada di sana. Berada di tempat terjauh darimu juga ibumu, namun itu tak membuatnya tak memperhatikanmu bukan? Bahkan ia juga berdoa demi kebahagiaan kalian dari sana. Jadi apakah kau masih perlu bertemu dengannya?” imbuhnya panjang lebar yang lantas membuat kening bocah laki-laki itu berkerut sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk mengerti.

“Paman, apa boleh aku bertanya?” tanya bocah laki-laki itu polos yang seketika dibalas oleh anggukan sang pria. “Apa aku mengenal paman? Eomma bilang kita tidak boleh berbicara dengan orang asing, tapi paman bukan orang asing ‘kan?” Sejenak pria terlihat berpikir sebelum sebuah senyum nyatanya kembali menghiasi wajahnya kali ini.

“Anggap saja paman berasal dari bintang itu. Anggap saja paman yang selalu memperhatikanmu dari sana dan selalu berusaha melindungi kalian dari jauh,” ujarnya sembari mengembangkan senyumnya lebar-lebar yang lantas membuat bocah laki-laki itu menatapnya bingung. “Dengar, kau harus menjadi anak baik untuk ibumu,” imbuhnya seraya terkekeh kecil, bocah kecil itu hanya mengembangkan senyum polosnya seakan ia mengerti apa yang dikatakan pria itu.

“Yoon Jae ah!”

Eomma!” pekiknya sembari beranjak dari tempatnya dan berhambur pada sosok wanita yang berlari ke arahnya dengan begitu khawatir. Tanpa berkata-kata lagi, wanita itu lantas menarik bocah laki-laki itu ke dalam pelukannya. Hanya sisa isaknya yang seakan menunjukkan betapa wanita itu menghawatirkan anak semata wayangnya tersebut.

Jeongmal mianhae eomma Aku berjanji tidak akan kabur lagi dari eomma,” ujar bocah laki-laki itu merenggangkan pelukannya sembari menatap wajah khawatir wanita di hadapannya yang perlahan namun pasti menghilang. Wanita itu hanya mengangguk lembut sebelum akhirnya ia mengembangkan senyumnya lega.

“Apa yang kau lakukan di sini sayang? Kau tahu bukan, di sini ada banyak orang asing yang mungkin berbahaya. Jangan lakukan ini, arasseo?” ujar wanita itu posesif namun terdengar lembut. Bocah laki-laki itu hanya mengangguk.

“Tapi, ada paman—oh, dimana paman itu?” Bocah laki-laki itu memandang bingung balik punggungnya dimana ia ingat jelas seorang pria tengah duduk bersamanya tadi. Ia mencoba memandang sekitarnya namun tetap saja sosok pria itu menghilang bak terbawa angin malam.

“Paman siapa?”

“Paman yang menemaniku tadi. Paman yang memberikanku kertas bintang ini,” ujar bocah laki-laki itu yang menunjukkan sebuah kertas berbentuk bintang dari salah satu tangannya yang lantas membuat wanita itu terdiam seketika. “Dia bilang dia tinggal di bintang, sama seperti appa. Dia bilang dia melindungi kita. Eomma, apa eomma kenal dengan paman itu? Apa paman itu teman appa di bintang? Eomma? Apa eomma menangis?”

Wanita itu menyeka pelupuk matanya yang entah sejak kapan berair dan berusaha menatap bocah laki-laki yang menatapnya penasaran dan khawatir secara bersamaan. Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia berusaha mengembangkan kedua sudut bibirnya, menegaskan bahwa ia baik-baik saja.

“Min Yoon Jae, mau menjadi anak baik?” Bocah laki-laki itu menatap ibunya saat wanita itu mengelus lembut rambutnya. Tak lama bocah laki-laki itu akhirnya mengangguk kecil sebelum senyumnya kembali terkembang yang lantas membuat wanita itu menarik kembali tubuh mungil tersebut ke dalam pelukannya dan saat itu pula ia tak dapat menahan tangisnya kala kedua matanya menangkap sosok pria yang begitu ia rindukan tengah berdiri di kejauhan dengan sebuah senyum khas miliknya.

Appa sangat merindukanmu sayang. Appa pasti senang kau mau datang untuk mendoakannya,”

 

 

 

 

-Fin-

 

p.s: sebenarnya ini fanfiction sequel dari Just One Day Suga Version dimana bang Suga ga dapat cinta sejatinya. Hanya saja setting waktu dsb saya ubah, dmana Suga ceritanya nih uda nikah sama ceweknya XD dimohon maklum keabsurdannya.

Advertisements

6 thoughts on “Tuxedo Man

  1. Apa cuma aku yg ga bisa bayangin suga jadi bijak ? /kemudian dijambak/ :v
    duh, mellow banget itu suga setan gitu? :”
    Hup hup, nice story, satu aja sih ‘kau marah dengan ibumu?’ kayaknya dengan-nya enak diganti ‘pada’ deh, kayaknya yaa wkwkwk

    Like

  2. aku mau komen pas setelah publish tapi lupa hehehe
    aku udah ngira Suga itu ayahnya anak kecil dari awal , awal gak sedih cuman heran aja tapi pas ibunya nemuin anaknya itu kerasa sedihnya
    good job

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s