Genre · Length · Life · One Shoot · PG - 17 · Rating

Girl’s In Red


Title : Girl’s in Red

Author : ts_sora (@ts_sora)

Cast :BTS’s Jung Heo Seok (J-Hope)

Genre : Life

Rating : PG-17

Length : Oneshoot

Summary:

"Di tengah keramaian ini, aku tak bisa berhenti melihatmu sosokmu."--kryzelnut

 

Jung Heo Seok menatap malas sekitarnya. Dentuman keras musik yang terdengar dari penjuru ruangan nyatanya tak lantas membuatnya bangun untuk bergabung dengan beberapa orang yang menikmati harinya dengan menari dengan begitu meriah pada lantai dansa. Bukan, Jung Heo Seok bukan seseorang yang buruk dalam menari. Ia bahkan dapat dikatakan ahli di bidang tersebut. Namun yakinlah ia memiliki suatu maksud lain untuk datang pada sebuah bar ternama di distrik Gangnam tersebut. Hanya sebuah agenda rutin tiap malamnya yang ia selalu lakukan.

“Tuan, butuh seorang teman?” Jung Heo Seok hanya tersenyum seperlunya menatap dua orang gadis berpakaian super minim menatapnya penuh sensualitas. Ia hanya mengangkat sebuah gelas winenya sebagai satu-satunya penolakan darinya. Mungkin terdengar konyol, dengan bagaimana dirinya yang tak pernah absen untuk datang ke bar tersebut tiap malamnya hanya untuk menikmati suguhan khas yang diberikan bar tersebut. Atau mungkin lebih tepatnya ia hanya duduk menikmati segelas wine kesukaannya dan menikmati pemandangan khas bar yang selalu ia kunjungi tersebut.

“Ah, maaf. Aku tidak sengaja.” Jung Heo Seok memutar tubuhnya ke arah dimana seorang gadis dengan tubuh sempurnanya tengah berdiri cukup jauh darinya dengan seorang laki-laki berambut klemis di hadapannya. Jung Heo Seok sempat mengernyit sebentar sebelum akhirnya seringaian lain mulai nampak di wajahnya.

“Oh ya Tuhan, aku baru saja membuat kotor pakaian Anda, Tuan,” ujar sang gadis menyesal sembari menatap sisa cairan bewarna kemerahan dari gelas champagne miliknya. Laki-laki di hadapannya terlihat menggeleng sebentar sebelum akhirnya ia terlihat mengangguk dengan percakapan yang tak dapat Jung Heo Seok dengar dengan baik. Namun ia tahu apa itu artinya. Benar saja, beberapa menit kemudian gadis bergaun merah maron dengan sebuah tattoo kupu-kupu yang terlihat jelas di punggungnya terlihat tertawa pelan sebelum akhirnya ia terlihat berbisik pada laki-laki itu. Dan sedetik kemudian mereka terlihat saling menatap dengan penuh arti sebelum akhirnya mereka berjalan menuju lantai dansa.

Jung Heo Seok tak dapat menahan dirinya untuk tidak mengembangkan senyumnya yang lantas membawanya pada tawa kecil khas miliknya. Ia terlihat menggelengkan kepalanya sesaat kini kedua sejoli itu nampak tengah beradu kasih di lantai dansa yang saat ini penuh dengan sesak namun tak lantas membuat keduanya terganggu. Jung Heo Seok menghela nafasnya lirih sembari mengalihkan pandangannya pada setangkai bunga mawar bewarna merah menyala yang sedari tadi berada di atas mejanya. Sekali lagi seringaiannya kembali terbentuk sebelum ia meraih bunga tersebut dan memainkannya dengan jemarinya.

“The same trick huh?,” ujarnya lirih sebelum kembali menatap kedua sejoli yang terlihat semakin intim kali ini dan membuat Jung Heo Seok tanpa sadar mencoba mereda gemeratak giginya. Namun sedetik kemudian laki-laki itu terlihat menarik nafasnya sekali lagi hingga seringaiannya kembali nampak di wajahnya.

Jung Heok Seok menatap langit-langit ruangan yang penuh gemerlap warna-warni lampu yang bisa membuat siapa saja pusing karenanya. Diam-diam sekali lagi ia menarik nafasnya dalam-dalam yang lantas membawanya menerawang jauh beberapa hari, beberapa bulan, beberapa tahun masanya ke belakang. Tentang waktu dimana ia untuk pertama kakinya menginjakkan kakinya pada bar dimana ia berada saat ini. Tentang waktu dimana semua dimulai. Tentang waktu dimana membawanya bertemu dengan seorang gadis yang mampu merubah hidupnya hanya dalam beberapa jam saja.

Jung Heo Seok kembali menatap gadis bergaun merah itu yang kini mulai dengan sensualitasnya membisikkan sesuatu yang membuat siapapun tak akan pernah bisa menolak pesonanya. Gadis dengan penuh pesona yang membuat siapapun jatuh atas dirinya. Termasuk dirinya.

Ia tak akan pernah lupa. Ia tak akan pernah lupa dengan bagaimana ia bertemu dengan gadis itu untuk pertama kalinya. Dan membuat dirinya buta dan tenggelam atas pembodohan. Sebuah kecelakaan kecil yang memulai segalanya. Atau memang itu sesuatu yang telah direncanakan gadis itu untuk bertemu dengan laki-laki sepertinya? Entahlah. Ia tak tahu menahu akan hal itu. Yang ia tahu adalah dimana ia menjadi orang terbodoh di dunia kala itu.

Ia ingat bagaimana sebuah kejadian kecil itu membawa mereka pada perbincangan malam yang mereka lakoni berdua. Hingga mereka sadar bahwa perbincangan tersebutlah yang membawa mereka pada sebuah hubungan intim berdua malam itu. Entah ini gila. Ia bukanlah seorang yang begitu ceroboh melakukannya dengan sembarang orang. Namun entahlah, ia kala itu tak bisa menahan gejolaknya yang seketika membutakannya. Kecewa? Tentu tidak. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Mereka sama sekali tak memaksakan satu sama lain. Hanya berjanjikan kepuasan dan kenikmatan berdua. Itu saja.

Namun siapa sangka kejadian tak terduga itu membawa mereka pada pertemuan-pertemuan berikutnya yang menawarkan sejuta kenikmatan duniawi semata. Yang mana tanpa Heo Seok sadari membangun asanya sendiri untuk mengharapkan lebih dari sebuah hubungan friends with benefit. Benar, tanpa ia sadari ia menginginkan gadis itu lebih dari segalanya.

Jung Heo Seok meraih gelas wine nya sembari memiring-miringkannya sedikit. Masih sama seringaiannya tak pernah lepas dari wajah tampannya sedangkan kedua matanya yang masih tertuju pada dua sejoli yang senantiasa mengumbar sensualitas satu sama lain di lantai dansa. Bukan, ini bukan pertama kalinya. Ini bukan pertama kalinya ia disuguhi oleh pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Atau lebih tepatnya pemandangan atas gadis-‘nya’ itu suguhan padanya. Ia tak ingat berapa kali ia melihat pemandangan tersebut diam-diam dari kejauhan. Yang seakan merelakan satu-satunya gadis yang ia cintai dengan pesona yang ia punya merayu para lelaki hidung belang. Bukankah ia bodoh?

“Aku mencintaimu, Jung Heo Seok. Hanya kau yang kucintai.”

Jung Heo Seok tertawa kecil saat sekali lagi kalimat bodoh itu kembali teringatkan olehnya. Sebuah kalimat yang sarat akan sensualitas yang selalu gadis itu ucapkan padanya dan hanya dengan itu, ia mampu memberikan apapun bahkan segalanya hanya untuk gadis itu. Ia telah diperdaya. Ia sadar akan hal itu, namun ia tak bisa untuk mengatakan tidak kala itu.

Jung Heo Seok menatap sebuah cincin yang melingkar indah pada salah satu jemarinya sebelum ia kembali menatap dua sejoli yang masih berada di lantai dansa yang kini tengah saling mengecap bibir satu sama lain. Ia sudah terlalu terbiasa dengan ini. Hingga entah perasaannya benar-benar memilih untuk bungkam. Atau mungkin ia memang terlalu lelah untuk menyimpan semuanya.

“Bahkan di tengah keramaian ini, aku tak bisa berhenti melihat sosokmu, Nona.” ujarnya dengan segaris miring seringaian penuh kebencian di wajahnya.  Ia tak lagi merasakan amarah yang meluap saat pertama kali ia mendapati gadis itu tengah bermain dengan laki-laki lain. Baginya ini tak lebih dari sebuah hiburan semata. Yang bahkan membuatnya rela meyempatkan diri untuk datang hanya untuk sebuah hiburan yang begitu menyenangkan baginya. Meski terkadang akhir pertunjukkan selalu dapat ia tebak dengan baik.

Kini tatapannya kembali terpaku pada setangkai mawar yang ada di atas meja. Dan dalam sekali genggam, kelopak ringkih tersebut kini terurai di atas telapak tangannya. Ia kembali tersenyum saat kini gadis bergaun merah tersebut beranjak dari lantai dansa menuju toilet bar. Diam-diam, Jung Heo Seok ikut beranjak dari bangkunya dengan membawa gelas wine miliknya menuju kemana gadis itu pergi. Mengetahui gadis itu berada di toilet bar saat ini, Jung Heo Seok memilih menghentikan langkahnya.

Laki-laki itu menatap gelas wine yang ada di tangannya sedari tadi dengan bosan. Sesekali ia terdengar bersiul pelan sembari menunggu gadis bergaun merah itu keluar dari sana. Dan benar saja, tak lama waktu berselang, senyum laki-laki itu kembali mereka saat gadis bergaun merah tersebut melangkahkan kakinya keluar.

“Sebaiknya kau berhenti melakukan semua tipu dayamu hanya untuk meraup keuntungan duniawi semata,” ujar laki-laki itu yang mampu membuat gadis bergaun merah itu menghentikan langkahnya saat itu juga. Ia nampak tersentak mengetahui kehadiran Heo Seok kala ini. Namun nyatanya wanita jalang itu tak ingin terlihat lemah, ia masih saja mengangkat dagunya menatap Heo Seok dengan tanpa rasa takut sedikit pun.

“Mau apa kau kemari? Ingin memintaku kembali, Tuan?” ujar gadis itu licik yang lantas membuat Heo Seok tertawa pelan. Inilah dia. Inilah sosok gadis itu yang sebenarnya. Licik dan bengis. Ia tak pernah menyangka bahwa dahulu ia begitu menggilai dan menginginkan gadis itu sebagai pendamping hidupnya. Dan kini entah ia merasa jijik pada dirinya sendiri atas pemikiran bodohnya itu.

Heo Seok mengaduk-aduk gelas wine yang ada di tangannya. Ia terdengar menghela nafasnya sembari menatap gadis bergaun merah itu dari atas hingga ke bawah dengan tatapan miris.

“Kau tahu mungkin kau yang seharusnya memintaku kembali. Perlu kau tahu, aku tak sebodoh yang kau kira, sayang.” Gadis itu menepis tangannya Heo Seok yang menyentuh pipinya dan lantas membuat Heo Seok tertawa licik.

Baginya sudah cukup sudah. Cukup atas dirinya dengan kebodohannya selama ini. Cukup atas harapan naive-nya dahulu. Tak ada lagi perasaan yang tersisa untuk gadis itu. Hanya ada rasa muak dan benci yang kini rasanya ingin meluap dan mengalahkan semua logikanya. Jika ia bisa, mungkin ia sudah membunuh atau menyiksa gadis itu jauh-jauh hari. Namun ia tidak selicik gadis itu.

Heo Seok melepaskan cincin yang selama ini menjadi satu-satunya penghubung dirinya dengan gadis itu atas ikatan yang terasa semu dan memasukkannya ke dalam gelas wine yang ia genggam. Ia lalu menarik sebelah tangan  gadis itu paksa sebelum ia meletakkan gelas wine miliknya di sana. Ia lantas pengembangan senyumnya saat itu juga.

“Untukmu. Aku kira kau akan lebih membutuhkannya, Nona.” Jung Heo Seok menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia mendekatkan bibirnya tepat di telinga gadis. “Good luck, miss. You’re gonna miss me soon,” ujarnya pada akhirnya sebelum ia terlihat mengerlingkan matanya penuh arti dan beranjak pergi.

-Fin-

Advertisements

4 thoughts on “Girl’s In Red

  1. Auw!
    Ini FF Jhope dg karakter ‘dewasa’ pertama yg aku baca. Seru juga ngebayangin full of hope jd kyk gini. God job thor 🙂

    Like

  2. sisi lain dari Jhope , kalau chapter bagus tsar jadi lebih dalam membuat karakter jhope yang sesungguhnya . Sifat yang kamu lihat dari jhope itu , aku suka karakternya ini natural , aku juga ngerasa jhope punya karakter lain selain konyol itu.

    jhope disini pengen berkomitmen tapi ceweknya hanya mau one night stand ya , poor heo seok hahaha

    kalau aja scene NCnya ada hahaha tambah seru tsar

    good job

    keep writing

    Like

  3. Uwah, ini pertama kalinya aku baca ff Hoseoknya jd dewasa gini…biasanya kan itu bocah konyol2 unyu gmna gt. tp entah mengapa aku suka karakter Hoseok yg kya gini… lbh menggoda #Eaaaaa kekekekek

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s