Bromance · Family · G · Genre · Length · One Shoot · Rating

Brotherhood


Title     : Brotherhood (Happy Birthday V)

Author : ts_sora (@ts_sora)

Cast     : B.T.S’s Kim Seok Jin (Jin), B.T.S’s Kim Tae Hyung (V)

Length : oneshoot

Genre : bromance, family

A/N     : okay sebenarnya ini buat ulang tahun V yang saya tahu dan saya sadari sudah sangat terlambat -_- deadline harusnya ud jauh2 hari namun karena keadaan author yg memburuk jadi terlambat-_- anyway enjoy it!

Summary:

“Saengil chukkae…”

 

Kim Seok Jin mendengus pelan menatap beberapa helai won yang baru saja ia keluarkan dari dompet kulit miliknya tersebut. Ia memijit pelipisnya saat sekali lagi rasa sakit di kepalanya kembali menjalarinya sebelum ia kembali terlihat mencatat sesuatu dengan pena miliknya di atas notes kecil yang seakan menjadi temannya hari ini. Sesekali ia memijit tombol-tombol angka pada alat hitung digitalnya yang nyatanya tak pernah sepaham dengannya hari ini. Kiranya pekerjaan serabutan yang berusaha ia lakukan selama ini masih belum membiarkan hasil yang nyata.

“Dua hari lagi dan semuanya masih belum cukup,” ujarnya terdengar frustasi sembari menatap kalender digital ponselnya.

“Apa yang tidak cukup?” Kim Seok Jin cepat-cepat membereskan semua barangnya seketika ia sadar bukan hanya dia saja yang masih terjaga malam ini. Ia mencoba mengembangan senyumnya, berusaha terlihat baik-baik saja saat sosok laki-laki lain dengan wajah lelahnya berjalan malas ke arahnya.

“Kau belum tidur?” Kim Tae Hyung, laki-laki yang terlihat sangat mengantuk hanya mengangguk dan bergeleng bersamaan seakan sistem sarafnya masih tertidur pulas di otaknya hingga membuat Kim Seok Jin tersenyum akan kekonyolan adik laki-lakinya itu.

“Kau sendiri bagaimana hyeong? Apa kau baru saja pulang?” Kim Seok Jin hanya mengangkat bahunya sembari menatap adik laki-laki nya itu menuangkan air pada gelas yang baru saja ia ambil dan meminumnya.

Kim Seok Jin diam-diam memandangi adiknya tersebut yang kini lantas menduduki banhku makan tak jauh darinya sambil berusaha menahan kantuknya sendiri. Konyol memang, namun seperti itulah Kim Tae Hyung. Kim Seok Jin lalu berdehem sebentar saat sekali lagi sesuatu mengusik dirinya, ia kembali menatap Kim Tae Hyung dengan pandangan menerka-nerka meski sang empunya hanya menguap tak karuhan.

“Tae Hyung ah, apa yang kau inginkan untuk ulang tahunmu tahun ini?” ujar laki-laki itu pada akhirnya dan lantas seketika melenyapkan rasa kantuk Tae Hyung. Kini laki-laki itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha menatap kakak laki-lakinya dengan baik.

“Ulang tahunku?” Kim Seok Jin hanya mengangguk singkat.

“Kau akan mengabulkan apapun yang kuminta?” imbuh Tae Hyung yang sekali lagi hanya dibalas oleh anggukan Kim Seok Jin untuk kesekian kalinya. Seketika hal itu membuat Tae Hyung terdiam di tempatnya. Sebenarnya ia tengah berusaha membangunkan sistem sarafnya yang masih tertidur pulas saat ini sebelum akhirnya sebuah senyum mulai terlihat dari bibir tebalnya.

Hyeong, meski ini konyol dan terdengar tak mungkin tapi–” Kim Tae Hyung terdengar menarik nafasnya dalam-dalam seakan menahan rasa bahagianya yang entah ingin meluap dalam dirinya secara tiba-tiba, meski itu membuat Seok Jin kebingungan kali ini. Kim Tae Hyung lantas mengembangkan senyumnya saat ini sebelum akhirnya ia membuka mulutnya, “Aku ingin sup rumput laut yang eomma selalu buatkan untukku dahulu.”

Dan saat itu pula Kim Seok Jin seakan kehilangan sejuta bahasanya.

Aku ingin sup rumput laut yang eomma selalu buatkan untukku dahulu.”

Kim Seok Jin menatap ujung kakinya yang sedari tadi membawanya entah kemana. Berulang kali ia terdengar mendengus dan berulang kali ia terlihat mengusap rambutnya frustasi. Laki-laki itu, Kim Tae Hyung masih berharap lebih akan kehadiran orang tua mereka.

Kim Seok Jin masih ingat betul dengan reaksi yang ia berikan malam tadi. Ia tak lebih dari mengembangkan kedua ujungnya secara paksa meski nyatanya hanya senyuman hambar yang ia tunjukkan. Ia tak akan pernah lupa bagaimana Tae Hyung pada akhirnya menatapnya dengan penuh penyesalan ataa apa yang baru saja ia katakan. Tidak, Kim Seok Jin tidak bermaksud demikian.

Hanya saja, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Kiranya apa yang telah ia jelaskan pada Tae Hyung kala itu sekali tak dapat Tae Hyung mengerti. Tentang keadaan mereka tanpa orang tua mereka. Tentang arti dimana kedewasaan mereka tengah diuji.

Haruskah ia mengatakan sejujurnya pada laki-laki itu? Mengatakan bahwa mereka ini ditinggalkan. Anggap saja mereka kini tak memiliki orang tua dan anggap saja mereka telah dibuang. Memang sebuah kenyataan pahit nyatanya, namun tak ada yang lebih buruk dari seorang kakak laki-laki yang akan merusak harapan besar di hari penting adiknya tersebut.

Apa yang bisa ia usahakan? Tak ada. Bagaimana bisa ia menemukan ibu mereka? Tidak akan pernah bisa.

Kim Seok Jin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia akhirnya mengeluarkannya dengan terkesan sedikit kasar. Benar, ia harus mengatakannya. Sekarang. Ia harus menjelaskan pada Kim Tae Hyung akan kondisi mereka saat ini. Dan menyadarkan tak ada kemungkinan untuk mereka kembali bertemu dengan orang tua mereka dan melenyapkan atas ketergantungan Tae Hyung akan ibunya.

Tapi tunggu.

Kim Seok Jin mengernyit dalam sesaat ia sadar sebuah sedan buatan dalam negeri tengah terparkir di depan rumahnya, namun sejurus kemudian Seok Jin melajukan kakinya secepat yang ia bisa menuju rumahnya. Benar saja, Kim Tae Hyung baru saja pulang. Ia dapat menemukan sepasang sepatu Tae Hyung di sana dan juga sepasang high heels?

“Aku mohon,” ujar seseorang yang terdengar begitu familiar baginya. Kim Seok Jin bergegas menuju ruang tamu namun langkahnya terhenti seketika saat ia menemukan seorang wanita tengah duduk manis dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah Kim Tae Hyung yang membuatnya memilih untuk bersembunyi kali ini.

“Eomma,” ujar Seok Jin lirih yang masih bersembunyi di tempatnya sembari berusaha mereda degup jantungnya yang tiba-tiba saja memacu lebih cepat dari biasanya.

“Aku mohon. Kau akan baik-baik saja jika kau ikut dengan eomma. Bukankah itu yang kau inginkan Tae Hyung ah?”

Kim Seok Jin masih terdiam di tempatnya membiarkan kedua orang tersebut masih sibuk dengan perbincangam keduanya yang entah sempat membuat sekelebat rasa kecewa yang menderanya tiba-tiba. Mungkin saja, mungkin saja wanita itu baru saja menceritakan apa yang telah terjadi. Mungkin saja wanita itu telah menjelaskan situasi mereka saat ini. Namun bukannya menjawab Kim Tae Hyung sama sekali tak bersuara.

“Bagaimana dengan Seok Jin hyeong?” Wanita itu terdengar menghela nafasnya yang lantas membuat dada Seok Jin terasa lebih sesak dari sebelumnya.

“Kau masih memikirkan laki-laki itu? Ia akan baik-baik saja. Lagipula ia sudah dewasa. Bukankah tinggal dengan eomma akan lebih baik? Bukankah itu yang kau inginkan Tae Hyung ah?” ujar wanita itu yang seketika membuat Seok Jin menahan nafasnya kali ini. Wanita itu terdengar kembali membuang nafasnya kali ini. “Bukankah eomma sudah menjelaskan semuanya? Menjelaskan tentang siapa Seok Jin sebenarnya? Dia bukan kakak kandungmu. Ia bahkan bukan berasal dari rahimku,” imbuhnya sekali lagi yang terang-terangan membuat Kim Tae Hyung tak dapat berkata-kata lagi.

Sedangkan Kim Seok Jin terlihat mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya benar-benar memutih kali ini. Haruskah wanita itu mengatakannya sekarang? Hingga membuatnya benar-benar tak berarti di mata keduanya?

“Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Besok kita akan berangkat ke Amerika secepatnya dan di sanalah kita akan tinggal, Tae Hyung ah. Bukankah kau sangat menginginkannya?”

Kim Seok Jin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya sememit kemudian ia lebih memilih untuk pergi dari sana.

“Seok Jin hyeong.” Kim Tae Hyung lantas beranjak dari kursinya saat kakak laki-lakinya baru saja memasuki rumah mereka. Kim Tae Hyung yang awalnya akan menyambut laki-laki itu lantas mengurungkan niatnya saat ia tahu kini Seok Jin datang dengan membawa hawa yang berbeda. Entahlah, namun ia merasa demikian.

Jujur saja, hari ini Kim Seok Jin pulang terlambat tak seperti biasanya. Laki-laki itu biasanya akan menelepon Tae Hyung demi memberitahu keterlambatannya yang biasanya dikarenakan jam lemburnya. Namun tidak untuk saat ini. Laki-laki itu juga sama sekali tak membuka mulutnya sebelum akhirnya berjalan menuju dapur dengan beberapa kantung plastik di tangannya.

Hyeong, bagaimana kau tahu kalau aku lapar?” Kim Seok Jin menepis tangan Tae Hyung yang hendak meraih semangkuk jjangmyeon yang baru saja Seok Jin keluarkan dari kantung plastik yang ia bawa dan membuat Tae Hyung tersentak di tempatnya.

“Cuci tanganmu dahulu,” ujarnya begitu datar dan tanpa menatap Tae Hyung di hadapannya. Kim Tae Hyung yang masih berada di tempatnya memilih untuk sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan pergi untuk membasuh kedua tangannya.

Bahkan saat ia kembali berada di meja makan, Kim Seok Jin sama sekali tak berucap. Jauh berbeda dengan Kim Seok Jin yang biasanya. Ia hanya sibuk mengaduk-aduk jjangmyeon di mangkuknya sebelum akhirnya ia memasukkannya ke dalam mulutnya. Itu saja.

Kim Tae Hyung meletakkan sumpitnya demi menatap Kim Seok Jin yang seakan menghindari matanya. Ia menarik nafasnya samar. “Jadi kenapa kau terlambat–”

“Apa hari ini kau sekali lagi mangkir dari kelasmu?” ucap Seok Jin pada akhirnya yang lantas membuat Tae Hyung menghentikan kalimatnya seketika.

Kim Tae Hyung yang hendak membuka mulutnya lantas mengurungkan niatnya saat ia kembali teringatkan atas kedatangan wanita itu yang terkesan tak terduga. Benar, setelah beberapa tahun lamanya, pada akhirnya kerinduan akan ibunya terbalas sudah. Namun siaoa yang menduga pertemuan kecil itu nyatanya menguak semua kenyataan yang tak pernah dirinya ketahui. Tentang siapa Kim Seok Jin sebenarnya, tentang siapa laki-laki itu sebenrnya untuknya. Kim Tae Hyung menundukkan kepalanya saat Seok Jin menatapnya seakan menagih jawab kali ini.

Haruskah ia mengatakan yang sejujurnya atas kedatangan wanita itu tadi siang? Dan tentang ajakan ibunya kala itu?

“Jadi kau tidak bisa menjawabnya?” ujar Seok Jin kali ini yang membuat Tae Hyung kembali menatap laki-laki itu takut.

“T-tapi, hyeong—”

“Kau bertambah dewasa sekarang. Bisakah kau lebih bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan?” ujar Seok Jin sekali lagi yang membuat Tae Hyung menundukkan kepalanya seketika. Seok Jin terlihat menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia membuang nafasnya dalam sekali hembus dan Kim Tae Hyung tahu bahwa hal tersebut adalah pertanda buruk.

“Bisakah kau mengerti bagaimana keadaan kita saat ini? Bisakah kau mengerti bahwa semuanya tak semudah seperti dahulu? Kita harus berusaha dengan tenaga kita sendiri untuk mendapatkan apa yang kita mau. Dan apakah kau menyia-nyiakan semuanya?” ujar Seok Jin yang lantas membuat Tae Hyung menahan nafas di tempatnya. Ia tak akan pernah tahu bahwa semuanya akan berdampak atas kemarahan Seok Jin yang meluap-luap. Dan haruskah ia mengatakan yang sebenarnya pada kakak laki-lakinya tersebut agar laki-laki itu memaafkan kesalahan yang sebenarnya tak ia sengaja?

Ini memang bukan pertama kalinya ia mangkir dari kelasnya. Ia memang adalah seorang yang pemalas dulunya, namun tidak untuk sekarang. Ia berubah dan ia dapat menjamin akan hal itu. Sedangkan untuk hari ini, ia mana mungkin bisa menolak keinginan wanita itu untuk bertemu dengannya. Setelah bertahun-tahun lamanya, ia tak dapat menahan dirinya untuk tidak mengiyakan pertemuan itu. Pertemuan yang mungkin Kim Seok Jin tak perlu ketahui. Pertemuan yang mungkin akan menyakiti perasaan kakaknya tersebut lebih jauh lagi.

“Kau tahu bagaimana aku bekerja keras untuk semua keperluan hidup kita?” Kim Tae Hyung menatap laki-laki yang kini mengusap rambut cokelatnya kasar saat ini meski sesaat ia memutuskan untuk menundukkan kepalanya lagi. “Jika kau tidak bisa berubah sampai detik ini. Jika kau tak ingin mendengarkanku lagi. Maka tak ada piliihan lain, Kim Tae Hyung,” imbuh laki-laki itu yang membuat Kim Tae Hyung tersentak di tempatnya yang membuatnya menatap Seok Jin dengan pandangan tak percaya.

Kim Seok Jin membuang nafasnya frustasi saat Tae Hyung menatapnya seakan memohon, namun laki-laki itu kiranya masih teguh dengan pendiriannya. “Aku tak bisa lagi hidup dengan seperti ini terus denganmu, Tae Hyung ah. Aku tak bisa hidup seseorang yang tidak pernah mau mendengarkanku. Mungkin lebih baik kau hidup tanpaku.”

Bak seribu pisau menusuk dada yang seakan beriringan menciptakan seribu rasa sesak yang menyiksanya. Ia memandang kakak laki-lakinya tak percaya bahkan lidahnya terlalu kelu untuk berucap sekalipun. Nyatanya ia hanya bisa memandang kakak laki-laki itu dengan sendu, namun kiranya kakak laki-lakinya tak peduli dengannya lagi. Jadi apa seperti inikah rasanya memiliki seorang kakak yang berasal dari rahim yang berbeda? Entah rasanya kini berbeda saat kenyataan akan hal itu terkuak sudah yang meski ia elak hanya sebagai alibi yang tak perlu.

“Jika kau ingin hidup bebas maka pergilah, aku tak akan memaksakan kehendakmu atau mengaturmu lagi. Bukankah itu yang kau mau selama ini?” ujar Kim Seok Jin yang benar-benar menyadarkan Tae Hyung dari pikirannya yang sempat melayang. Bahkan saat kini Tae Hyung menatap sosok kakak laki-lakinya dengan sedikit kabur akibat air mata yang entah sejak kapan tercipta di kedua matanya, laki-laki itu kiranya tak peduli. Kim Tae Hyung menarik nafasnya dalam-dalam berusaha agar ia tak menangis dengan begitu mudahnya meski semua terasa begitu menyiksanya saat ini.

Eomma datang padaku tadi siang,” ujar Kim Tae Hyung pada akhirnya memberanikan diri dan membuat Kim Seok Jin terdiam seribu bahasa di tempatnya kali ini. Bukan, Kim Tae Hyung bukan seorang pengadu dimana ia akan menceritakan semua yang telah terjadi atau alih-alih mengatakan secara rinci pertemuan mereka. Hanya saja, semua terasa begitu berat untuknya dan ia harus mengatakannya.

“Bukankah itu berita bagus?” Kim Tae Hyung menatap laki-laki yang lebih tua tiga tahun darinya tersebut dengan sedikit tersentak, namun nyatanya laki-laki itu terlihat lebih santai dari sebelumnya. “Kau bisa hidup dengannya, dengan begitu aku tak perlu mengurus anak keras kepala sepertimu,” imbuhnya yang lantas membuat Kim Tae Hyung terdiam di tempatnya. Entah setan apa yang kini berada pada tubuh laki-laki itu, hingga ia mengatakan semua yang tak seharusnya ia katakan. Hingga ia melakukan semua yang bahkan tak pernah terbayangkan laki-laki itu lakukan. Jadi apakah semua berakhir begitu saja?

Kim Tae Hyung menarik nafasnya dalam-dalam dan saat itu pula ia terlihat mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Haruskah ia melawan kakak laki-lakinya saat ini hingga membuatnya tersadar bahwa apa yang tengah laki-laki itu lakukan sangat menyiksanya kali ini? Namun sekali lagi, hal yang selalu ia pegang teguh dari dulu, ia tak akan pernah melakukannya.

Kim Tae Hyung menghembuskan nafasnya dengan terkesan kasar sebelum ia akhirnya beranjak dari bangkunya kali ini. Ia mencoba menatap manik kecokelatan milik laki-laki yang masih berada di bangkunya tersebut, berharap laki-laki itu tak bersungguh-sungguh. Namun nyatanya, laki-laki itu lebih serius dari biasanya.

“Baiklah. Jika itu yang kau mau, hyeong,” ujar Kim Tae Hyung saat ini berusaha untuk tegar. Laki-laki itu terlihat membungkukkan tubuhnya sebentar sebelum akhirnya benar-benar pergi dan membiarkan Seok Jin terdiam menatap punggung tersebut pergi darinya.

Kim Seok Jin menatap sendu jarum jam dinding yang seakan tanpa lelah menemaninya hingga malam ini. Pukul 11 malam setidaknya itu yang tergambar jelas di sana. Sudah terlalu larut kiranya, namun ia masih ingin terjaga kali ini. Kim Tae Hyung. Apakah laki-laki itu sudah makan di sana?

Satu hari sudah laki-laki itu pergi dari rumah. Entah dimana keberadaannya saat ini, namun ia begitu yakin laki-laki itu akan lebih bahagia dengan wanita yang selalu ia rindukan selama ini, meski tanpa dirinya. Ia yakin bahwa Kim Tae Hyung hidup lebih berkecukupan jika ia tinggal bersama ibunya tersebut. Ia yakin hal itu.

Namun, bagaimana dengan dirinya?

Kim Seok Jin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia terdengar menghembuskan nafasnya perlahan. Selama ini ia tidak pernah peduli dengan kehidupannya. Yang hanya ia ingat adalah laki-laki itu. Selama ia mempunyai seseorang yang menunggunya, ia rela melakukan apapun hanya untuk membahagiakan laki-laki yang ia sebut adik selama ini.

Ia merindukannya saat ini. Sangat. Haruskah ia menyusul laki-laki itu agar tinggal dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan padanya kala itu hingga mereka dapat memulai semuanya dari awal. Seperti dahulu sebagai sepasang adik dan kakak. Seperti dahulu sebelum sebuah kenyataan bahwa mereka bukan berasal dari rahim yang sama terkuak sudah. Namun, apa haknya? Ia tak lebih dari bukan siapa-siapa dibandingkan dengan seorang wanita yang memang melahirkan laki-laki itu setelah sembilan bulan lamanya. Ia hanyalah seorang laki-laki yang menganggap bahwa Tae Hyung adalah tanggung jawabnya dan bersedia menanggung apapun hanya demi kebahagiaan seorang Tae Hyung.

Namun ayolah, Tae Hyung tak pernah bahagia dengan dirinya. Hidup dengan segala keterbatasan dan tanpa kasih sayang orang tua. Ia begitu yakin kehidupannya ke depan akan lebih baik. Ada ibunya yang akan selalu menemaninya, memberikan kasih sayang cukup dan memenuhi semua kebutuhannya.

Semangkuk sup rumput laut di hadapannya lantas menciptakan segaris seringaian di wajahnya kali ini. Ia tahu semangkuk sup rumput laut yang ia buat tak menandingi suo rumput laut buatan ibunya yang selama ini laki-laki itu rindukan. Ia yakin bahwa kali ini Kim Tae Hyung tengah merayakan ulang tahunnya dengan begitu meriah dan penuh kasih sayang ibunya. Ia yakin akan hal itu.

“Kurang sepuluh menit lagi sebelum ulang tahunmu berakhir.” Kim Seok Jin tersenyum kecil menatap jam dinding yang menjadi satu-satunya kawan malam ini. Ia ingat bagaimana laki-laki itu begitu bahagia di hari ulang tahunnya. Ia bahkan ingat saat laki-laki itu seakan tak ingin ulang tahunnya berakhir. Ia ingat akan hal itu.

Kim Seok Jin tersenyum nanar menatap sebuah pematik api yang ada di tangannya sedari tadi sebelum akhirnya ia menyalakan sebuah api bewarna indah di sana. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membiarkan sistem sarafnya mengingat sejuta asa masa lalunya. Tentang laki-laki itu, Kim Tae Hyung dan semua kenangan yang pernah ia lewati bersama.

“Saengil chukkae hamnida..” Kim Seok Jin menarik nafasnya dalam-dalam saat entah mengapa dadanya terasa lebih sesak dari biasanya. “Saengil chukkae hamnida...” Kim Seok Jin menarik nafasnya sekali lagi saat entah kini matanya memburam akibat genangan yang mulai tercipta.

Saranghaneun uri Tae Hyungie..” Kim Seok Jin menatap arah depan seakan memang laki-laki itu tengah berada di hadapannya menunggu gilirannya untuk meniup lilin ulang tahunnya dengan tidak sabar yang seketika membuat senyum Kim Seok Jin terkembang tanpa sadar, meski dalam sekali tarikan nafas fatamorgana itu menghilang begitu saja tak bersisa. “Saengil chukkae hamnida,” ujarnya mengakhiri yang pada waktu bersamaan api pada pematik api tersebut padam meninggalkan dirinya sendirian. Kim Seok Jin menarik nafasnya dalam-dalam saat kali ini air matanya sudah tak tertahankan lagi.

Tak bisa. Ia tak bisa. Ia tak bisa hidup tanpa laki-laki itu. Kim Seok Jin berusaha menghapus dengan cepat air matanya yang terjun bebas dari kedua matanya, namun sayang sebesar apapun usahanya, sebesar itu pula ia gagal menahan tangisnya yang semakin menjadi kali ini.

“Apakah ulang tahun boleh dirayakan tanpa orang yang berulang tahun?” Kim Seok Jin yang tersentak. Ia lekas-lekas mengusap air matanya cepat saat sesosok lain tengah berada di ruang tamunya entah sejak kapan. Ia sempat mengernyit sebentar sebelum akhirnya wajahnya terlihat cukup terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. Kim Tae Hyung tengah berdiri di sana dengan sebuah senyum khas miliknya.

“Aku ketinggalan pesawat, maka dari itu aku–” Kim Tae Hyung menghentikan kalimatnya saat kini laki-laki yang lebih tua darinya tersebut menghambur padanya dan memeluknya erat-erat. Kim Tae Hyung tersenyum tipis, ia tak bisa menampik rasa bahagianya yang begitu bergejolak di dalam dirinya. Inilah sosok Kim Seok Jin yang selama ini ia kenal. Sosok laki-laki yang siap memeluknya erat-erat saat ia butuh seseorang. Seseorang yang akan menjaganya dari orang-orang yang akan melukainya. Seseorang yang bahkan tak peduli dengan kebahagiannya sendiri hanya untuk orang yang ia sebut adik.

“Aku merindukanmu, Tae Hyung ah. Kumohon maafkan aku yang telah bodoh melepaskanmu begitu saja.” Kim Tae Hyung mengangguk pelan meski ia tahu itu tak akan ada artinya karena laki-laki itu masih belum melepaskan pelukannya saat ini. Bahkan ia tahu kini pelukannya semakin terasa erat dan ia tak keberatan jika ia mati hanya karena kehabisan nafas karenanya.

“Kau tahu hyeong. Meski kita bukan saudara kandung, meski kita bukan dari ibu yang sama atau bahkan jika kita bukanlah siapa-siapa yang tidak saling berhubungan sekalipun. Aku akan tetap memilihmu. Aku bahagia hidup denganmu. Tak ada yang lain,” ujar Kim Tae Hyung penuh penekanan yang lantas membuat Kim Seok Jin terdiam penuh haru. Bahkan saat adik kecilnya tersebut mengekus punggungnya lembut, ia tak bisa menampik rasa bahagia yang seakan dianugerahkan Tuhan khusus hanya untuknya tersebut.

Entahlah haruskah ia belajar dari apa yang terjadi saat ini dimana kini adik laki-lakinya seakan menjadi guru besar dalam hal ini. Bukan sebuah permasalahan dimana mereka berasal dari rahim yang berbeda atau bahkan ayah yang berbeda. Yang mereka tahu mereka adalah sepasang adik-kakak, dimana membutuhkan satu sama lain dan bertanggung jawab atas satu sama lain. Meski seluruh dunia menghujat mereka, meski seluruh dunia membenci mereka, mereka hanya butuh ingat masih ada seseorang yang mereka sebut saudara sebagai satu-satunya sandaran.

Kim Seok Jin menghembuskan nafasnya lega masih dengan memeluk laki-laki yang lebih muda darinya tersebut meski laki-laki itu sedikit bergerak gusar seakan bosan dengan perlakuannya kali ini. Namun Kim Seok Jin tak peduli dengan hal itu, ia sangat merindukanmu laki-laki itu. Itu saja.

Hyeong, bisakah kau melepaskanku sekarang? Aku yakin aku akan mati karena kehabisan nafas,” ujar Tae Hyung polos yang lantas membuat Kim Seok Jin tertawa di tempatnya, namun bukannya melepaskan, Seok Jin semakin mengeratkan pelukannya.

Saengil chukkae Tae Hyungie.”

.

.

.

.

-Fin-

 

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=9a2e69b0-293b-48ad-ba05-b493e4211662

Advertisements

4 thoughts on “Brotherhood

  1. Uwah, TaeJin fav bgt. Aku suka bgt klw mereka dipasangin jd adik kka gini 😍
    Perbanyak FFnya TaeJin dong thor….plaseeeeee *kedip2UnyuBrngJin* 😉

    Like

    1. hahaha LisaKim longtime no see! XD uda berapa taun ga ketemu? #eh. hahaha iya nih lagi seneng2nya bkin mas seokjin sama dek taehyung ini :3 soalnya dalam pikiranku mereka cocok banget dibuat kakak adek yang menye-menye gitu lol anyway ditunggu karya TaeJin selanjutnya yee :3

      Like

  2. Apa ini lanjutan dari Hyeongnim? Aku suka thor dg ceritanya. Seperti yg kmu blg, memang typo masih bnyk. (Aku jg seperti itu). God job thor! ^_^

    Like

  3. anyeong :# iyeassss.. ini sequel dari Hyeongnim gitu hehe jadi masih ada sangkut pautnya gitu hehehe. saya TaeJin shipper gitu /.\ hahah iya nih gimana caranya untuk menghilangkan typo yang semakin sialan ini-_- kan ketiknya pakai di hp jadi correction word gabisa dimatikan gitu jadi bete-_- anyway terima kasih sudah mau baca sayang! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s