fluff · PG - 17 · Romance · Vignette

WTBH #6 : GET ON


 Author : riseuki || Cast: Big Bang’s TOP & OC’s Mona  ||

 Genre: Romance | Fluff  || Duration : Vignette || Rating : PG-17

photogrid_1451697583958.jpg

“Mungkin memang sudah saatnya, ‘kan?”

.

.

Hari ini, nissan abu-abu tua itu agaknya berjalan dengan lambat. Tidak seperti beberapa hari lalu ketika mesinnya yang tua dipacu melawan angin di jalanan oleh gadis yang masih saja setia duduk di belakang kemudi itu. Kini musik dari dashboard pun bisa di dengar dengan jelas, dan bibir gadis itu pun tak lupa untuk melagukan apa yang telinganya dengar.

Mona –yang kini melepas satu tangan dari kemudi, merasakan angin jalanan yang masuk dari jendela –yang sebelumnya ia turunkan, menerpa wajahnya perlahan-lahan. ‘satu lagi hari yang panjang akhirnya berakhir’ kemamnya dalam balutan senyum puas sembari membayangkan kasurnya yang sudah menunggu untuk direbahi juga air panas dari kamar mandi yang sebelum kantuknya datang akan mengangkat semua lelah dan bau-bau yang dia bawa dari tempat kerja. Cukup menarik.

Seratus meter dari rumahnya yang tentu masih gelap karena belum ada satu pun bohlam yang dinyalakan, membuat atensi Mona ke balik setir kembali lagi, jendela sudah di naikkan dan kedua tangannya yang menggenggam setir dengan mantap sudah siap membelokkan Nissan abu-abu tua itu ke dalam garasi.

Tentu tadinya seperti itu.

Sebelum dwimaniknya yang cokelat muda menangkap bayangan Choi Seunghyun di depan pagar yang masih tersegel kunci.

‘apa yang lelaki itu lakukan di depan rumahku?’ lagi-lagi sebuah gumaman muncul di bibir yang sebenarnya tidak bisa menyembunyikan jejak kekagetan –atau lebih bisa dibilang kebingungan, akibat kemunculan sosok yang sangat ia kenal selama beberapa tahun itu.

Dengan sigap, Mona masih bisa meraih ponselnya dan mengecek daftar pesan, daftar telepon hingga daftar chat dari sosial media, no one seems to tell her ‘bout this guy presence and what he is doing there. Jadi –dengan setengah hati, gadis itu membuka pagar dan menidurkan nissannya sebelum akhirnya turun dan berniat menyapa si lelaki.

“Ikut aku”

Belum jadi mulutnya mengeluarkan sepatah kata yang sudah siap dilontarkan, lelaki itu dengan enteng menggamit lengannya dan menunjuk pintu audi hitam yang disenderinya sewaktu menunggu tadi, memasukkan Mona ke kursi penumpang dan melompat ke jalanan yang tidak lengang.

Tentu Mona hanya bisa merutuk –yah, itu yang selalu gadis itu lakukan, sebelum meminta penjelasan dari apa yang terjadi padanya. Nissan bobroknya bahkan belum di kunci, pagarnya masih terbuka dan dia belum masuk ke rumahnya! Dengan semudah senyum yang bisa digambar di wajah, lelaki itu menculiknya dengan dua kata, ikut aku katanya.

Cih.

Hilang sudah bayangan air panas dan ranjang yang empuk yang dinantikannya.

“Apa yang kau lakukan, uh?”

“Aku membawamu”

Damn.

Oppa memang selalu saja bertindak semaunya terhadap Mona, memang dia pikir yang namanya kekasih itu digunakan untuk apa sih, karena perlakuan yang Mona dapat selama ini rasa-rasanya seperti Choi Seunghyun itu yang berkuasa dan Mona yang menerima. Dan, jawaban singkat seperti tadi tentu tidak menjelaskan apa yang Mona tanyakan.

Sial.

Kenapa juga dia masih tetap bertahan, kenapa juga dia masih terima dengan apa yang dia dapatkan, dan kenapa juga dia masih tidak bisa benar-benar merasa kesal pada lelaki yang sedang mengemudi itu, paling hanya sebal –yang kadang berkepanjangan.

“Maksudku kita mau kem—“

“Kau akan bertemu Ibuku”

Dan huruf O berhasil terbentuk dari mulut Mona di detik berikut setelah kalimat yang menjelaskan segalanya itu diucapkan. Punggungnya segera menjamah senderan empuk audi, tangannya segera memegang keningnya yang mendadak pening dan irisnya yang cokelat muda segera memberi tatapan yang menunjukkan perasaannya sekarang ini –bingung, tak percaya, kesal dan sedikit gemas.

“Kau tak mengerjaiku lagi, ‘kan?”

Pernyataan itu tentu merujuk pada apa yang Seunghyun lakukan kurang dari seminggu lalu, saat ia memaksa Mona menstarter nissan abu-abunya dengan terburu karena dia mengatakan –lebih tepatnya mengirim pesan, bahwa dia membutuhkan sebuah pertolongan dengan segera! Yang memacu jantung Mona dalam tingkat kecemasan tertentu karena saat dia bertanya balik, tidak ada jawaban yang dia dapat.

Bukankah itu bisa dikategorikan dalam kata sialan.

Apalagi setelahnya, lelaki itu mengatakan bahwa dia salah kirim. Harusnya untuk Momanya bukan untuk Monanya. Jadi, iris cokelat muda Mona menyipit memandang kekasihnya, menuntut jawaban.

“Kapan aku pernah melakukan itu?”, mungkin kejahilan itu yang Seunghyun maksud, joke yang tidak dia akui sebagai candaan –yah, karena memang berakhir serius.

“Sudahlah—“, Mona mengibaskan tangannya, “—kau benar-benar aku ingin bertemu ibumu?”

Lelaki itu mengangguk.

“Maksudku—“, lagi-lagi tangan Mona keluar kendali, “—sekarang?”, nada tanyanya jadi agak tinggi.

Dan lagi-lagi anggukan diperoleh dari lelaki di sampingnya, lengkap dengan senyum tipis yang menghias wajah tampan dan mudah di rindukan itu.

Mona segera saja mematut dirinya di kaca, hey dia baru saja selesai melalui hari yang panjang –yang sebenarnya belum selesai, belum mandi, belum makan, bahkan belum sempat menyisir rambutnya yang berwarna senada dengan manik cokelat di bola mata itu. Gadis itu tiba-tiba merasa penampilannya sangat berantakan –dalam artian yang sesungguhnya.

Choi Seunghyun keparat.

“Kenapa oppa tidak memberitahuku dulu? Kenapa mendadak seperti ini? Aku kan berant—“

“Kau tetap terlihat cantik, sayang”

Benar-benar keparat tampan yang tetap saja menyebalkan. Double sialan jika Mona memang harus mengulang rutukannya. Pertama, karena dengan tiba-tiba menculik Mona dan mengatakan mereka akan bertemu ibu lelaki itu –hey, jika sudah begini keseriusan hubungan mereka sudah ada di level tinggi, ‘kan? Kedua, karena Choi Seunghyun mengucapkan kata sayang itu tepat saat Mona sedang merajuk akan tingkah lelaki itu.

Benar-benar pintar.

Mona jadi tidak bisa menyelesaikan perkataannya dan mulai berfokus lagi pada rambut cokelat yang kini dicumbu sisir hijau tosca yang berhasil gadis itu temukan di tas yang untungnya tadi dia bawa turun saat akan menyapa Seunghyun.

“Apa yang ibumu inginkan hingga mau menemuiku?”

Seunghyun kali ini menoleh, lalu tersenyum dengan lebar –oh shit, yang terlihat tampan di pandang Mona, sebelum akhirnya menjawab, “Bukankah kita akan menikah?”

Ya Tuhan.

.

.

Ini bukan pertama kalinya Mona bertemu dengan ibu Seunghyun –calon mertuanya. Mereka sudah pernah berjumpa sebelumnya, satu kali.

Ya. Satu kali yang sungguh tak disengaja juga dengan suasana yang rasa-rasanya kurang menyenangkan –bagi Mona. Karena sesudahnya, dia merasa pandangan calon ibunya kelak itu sangat tidak bagus. Tentu saja, bagaimana mungkin penilaian seorang ibu akan baik jika mereka bertemu saat Mona mengantarkan Seunghyun yang sedang mabuk –benar-benar teler dan tidak sadar, kembali ke apartemennya pada pukul dua pagi?

Tidak aka nada seorang Ibu yang menganggapmu gadis baik-baik. Tidak ada.

Padahal, jika saja waktu itu Mona punya kesempatan untuk menjelaskan, penilaian itu pasti akan sedikit berubah. Buktinya, dia kan tidak mabuk waktu itu, dia bahkan sama sekali tidak bau alkohol. Dia terpaksa menjemput Seunghyun akibat telepon bertanggung jawab dari petugas –mungkin lebih benar disebut penjaga, disana.

Tapi, apa yang dia dapat? Meninggalkan mimpinya yang baru akan mulai dan merangkul seorang lelaki yang sudah tidak ingat siapa dirinya lalu bertemu dengan orang yang melahirkan pria itu dalam kondisi demikian. Miris, ‘kan?

“Apa yang akan kita bicarakan?”

Eomma hanya ingin mengenalmu lebih jauh, kita kan akan jadi keluarga. Dan lagi, katanya kalian pernah bertemu ya? Kapan—“ terang lelaki itu, “—aku tidak ingat sudah pernah memperkenalkan kalian”

Tentu saja. Kau bahkan tidak ingat siapa namamu.

Perjalanan yang sebenarnya hanya memakan waktu tiga puluh menit itu terasa sangat panjang bagi Mona, tapi ketika Seunghyun sudah meminggirkan audi hitam itu di depan pintu restoran dan membukakan pintu untuknya, waktu jadi seperti marathon, cepat tapi berat.

Mona mengambil langkah kecil dan lambat di belakang Seunghyun yang menggandeng tangannya dengan erat, disinilah Mona merasakan perasaan suka yang membuncah lagi dari lelakinya, karena terasa sekali ada kasih sayang yang tersalur dari jeratan jari-jemari yang mengerat.

Eomma”

Dan seorang wanita di usia lima-puluhan itu pun mendongak dan –tersenyum? Rasanya sungguh melegakan melihat kurva itu terbentuk di wajah calon mertuanya.

Setelah basa-basi yang biasa, untuk kesopanan, Ibu Seunghyun tiba-tiba menatap Mona dengan serius. “Jadi, kau menerima anakku dan mau menikahinya?”

Eh.

“Dia sudah melamarmu?”

Eh.

Mona hanya bisa menjawab dengan anggukan-anggukan, karena gadis itu tidak tahu apa yang harus dikatakannya, taku-takut dia salah berucap. Dan sialnya, Seunghyun sama sekali tidak membantu, dia hanya sibuk melahap makan malam yang dihidangkan.

“Kami terlihat serasi, ‘kan?”

Pertanyaan itu diajukan Seunghyun sambil merengkuh bahu Mona yang duduk disampingnya, ditujukan pada ibunya yang menjawab dengan kekeh dan mengatai anaknya tentang betapa tidak dewasanya pertanyaan itu. Tapi karena suasana di sekeliling mereka memang mendukung terciptanya pertanyaan sejenis itu, mereka bertiga akhirnya tertawa.

“Kalian siapkan saja tanggalnya”

Jder!

Benar-benar to the point, padahal belum genap seminggu Seunghyun melamarnya, lelaki itu juga belum pernah bertemu orang tua Mona, apalagi keluarga mereka, pasti sama sekali tidak mengenal. Tapi? Ibu Seunghyun sudah meminta mereka mencari tanggal? Astaga.

Dan nampaknya serius, karena setelah mengucap kalimat itu, Ibu Seunghyun pamit, meninggalkan Mona dan Seunghyun berdua di meja yang sama yang mereka pakai untuk makan malam, di restoran yang sama dimana mereka bicara tentang hal yang serius, pernikahan.

Mona menghembuskan nafasnya dan melemaskan punggungnya, “Apa yang baru saja terjadi ini nyata, oppa?”

“Apa yang kau maksud, um? Tentu saja kau baru bertemu ibuku, dan tentu saja kita harus segera mencari tanggal yang cocok”, dengan sebuah seringai yang agak jahil, Seunghyun menggamit Mona dan berniat mengantarkan gadis itu kembali ke rumah yang ditelantarkannya.

Mona diam sepanjang jalan, masih shock dengan apa yang baru dihadapinya. Dia sungguh butuh air panas untuk menjernihkan kepalanya, dan bantal untuk menopang kepalanya.

“Kau baik?”, Mungkin karena melihat gadisnya jadi pendiam, Seunghyun bertanya.

‘Tidak. Sialan kau Choi Seunghyun. Aku tidak baik’, gadis itu hanya membatin dan tetap menjaga kebisuan sampai mereka tiba di rumahnya.

“Tenangkanlah pemikiranmu, aku serius semenjak awal, bahkan sejak aku mengenalmu. Dan aku sangat-sangat serius mengajakmu untuk menghabiskan sisa hidup denganku, tidak usah terlalu memikirkan apa kata orang lain, atau apa yang mereka pikirkan. Pikirkan saja oppa”

Mona sebenarnya hampir menangis saat dia membuka pintu rumah –lebih karena pening bukan karena sedih. Tapi kalimat Seunghyun, melegakan mendengarnya.

I really liked you”

Sebuah pelukan memang melegakan. Apalagi mencium aroma pinus yang menguar dari tubuh Seunghyun, yah mungkin jalan hidup Mona memang sudah seharusnya jatuh ke tahap ini. Mencintai lelaki seperti Seunghyun mungkin memang awalnya, tapi menikahi lelaki semacam Seunghyun mungkin akan jadi akhirnya.

Akhir yang manis.

Yeah, mungkin tidak seharusnya mona berpikir macam-macam. As usual, just this jerk is enough. Damn it, for real! Choi Seunghyun saja sudah cukup, hidup Mona jadi berwarna dan menyenangkan lebih dari apa yang dia pikir akan terjadi.

And for God shake, a kiss to seal a long day is a yes!

Gadis itu menerima saja saat Seunghyun memagutnya di depan pintu, menyalurkan kehangatan lewat bibir mereka yang bersatu. Beberapa menit yang menyenangkan, melegakan dan menenangkan.

Keduanya tersenyum saat mengucapkan selamat malam.

.

.

.

“Kau mengganti lipstickmu ya, rasanya berbeda”

.

.

.

Damn you, Choi Seunghyun! Mengerti sekali sih bagaimana cara merusak suasana!”

.

fin

 

a/n : holla! Happy new year! First couple whose I brought back. Seunghyun-Mona XD. Gatau kenapa idenya jalan begini dan maaf untuk banyak kata sialan pada fic di atas (/.\) Ini sebenernya sequel dari WTBH #4 : HELP yang bisa kalian baca di sini

Terusss, maaf buat Mona (dan siapapun yg udah baik baca cerita ini) kalo endingnya ga jelas, bener deh abis ketemu mamanya tiopi pikiran langsung nge-blank gituh.  So, tolong review-nya ya! Supaya di next fic bisa jadi lebih baik. Annyeong!

Advertisements

11 thoughts on “WTBH #6 : GET ON

  1. Sebenernya aku suka dengan fiction ini, tp mungkin karena blm pernah baca sequel lainnya jadi sdkit gak paham. Selebihnya ‘I really like… This’ hehehehe

    Like

    1. sequelnya cuma ada satu kok yun, bisa di baca di link yang ada diatas 😂 dan sebenernya ga gitu berhubungan kok sama ini. Krn sequel satunya cuman bab xxx doang (ga asik kalo di kasih tau) haha. Mampir ya kalo sempat!
      thankyou for readng and liking this fic anw 😉

      Like

  2. ya Allah berasa ngebayangin diri sendiri didalem cerita. Harusnya sampe janur kuning melengkung dulu nih biar lega 😂💓💋

    Like

  3. Padahal eonni ga ngebiasin seunghyun kan? Tapi kenapa sifatnya seunghyun “dapet” banget disini ya 😂 hahahahaha jadi pengen nikah sama seunghyun /halah emg mau lo ini mah/ coba bikin sequelnya eonni, tp dari pov si seunghyun. Sequel yg kmrn kan juga dr povnya mona, yg sering banget ngegerutu disini. Kita liat povnya seunghyun. Pengen tau sifat seunghyun yg eonni bikin disini selain nyebelin apaan 😂 wkwkwk GOOD JOB buat ff yg ini. Mona mesem2 sendiri pas baca 😝😝😝

    Like

    1. ini challenge nih? aduh eonni harus belajar sifat seunghyun dong, gawat bgt liat fotonya aja kesengsem gimana belajar sifatnya bisa jadi cintaahh 😂 eonni sebenernya nebak doang sifat tabi dari mukanya dan di otak eonni cuma ada kata ‘sialan’ 😂 yaudah deh tungguin POV tabi ya!!

      Like

  4. hahah entah kenapa tapi kamu berhasil mmbawakan karakter TOP oppa ini dengan sbenar-benarnya. absurd aneh dan entahlah. dan saya sudah terbiasa dengan kata-kata ‘sialan’atau kata-kata menghujat/? skalipun XD anyway ini menghibur sekali dan lebih menarik lagi kalau kamu mau buat kelanjutan hidup Mona yang semakin absurd akibat ulah TOP oppa :3 hahaha oh ya, koreksi sedikit it’s “sake” not “shake” dan saya malah salah fokus dimana Tuhan bergoyang-_- ya Allah maafkan saya

    Like

    1. Ya Allah aku ngakak baca komen sora tapi sekaligus sedih karena salah ketik ‘sake’ jadi ‘shake’. Ya Allah ampuni aku juga :((
      iya ada rencana lanjut sih, cuman yaaa idenya belom ada. Dinanti ya XD

      Like

  5. ini kurang panjang, harusnya sampe nikah sekalian 😀 *maksa
    baru sweet2nya eh udahan kan gantung 😀
    ayo dilanjut lagi, can 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s