Genre · Hurt · Length · PG -15 · Rating · Romance · sad · Series · Two Shoot

Broken Heart Chapter 1


Author            : @SandraChoii

Tittle               : Broken Heart

Cast                : Son Hyun Woo (Shownu MonstaX)

                        Choi Ji Hyun (OC)

Other Cast     : Im Woong Jae (Siwan ZEA)

                             Kim Seok Jin (Jin BTS)

Genre              : Sad, Romance, Series, Hurt

Rating             : PG -15

Leght              : Twosoot (Chapter 1 of 2)

Disclaimer   : Seluruh Cast adalah idol author, cast “Aku” disini hanyalah sebuah imajinasi, persamaan cerita atau jalan cerita dengan fanfic lain mungkin hanya sebuah kebetulan yang tidak pernah author sengaja. Berkomentarlah sesuka anda, tapi jangan sesekali copas, plagiat, dan sejenisnya.

A/N               : Terimakasih untuk readers yang masih setia membaca fanfic author dari awal hingga cerita ini. Meskipun memiliki judul “Broken Heart” tetapi fanfic ini tidak memiliki kesamaan apapun dengan lagu dari “MonstaX” dengan judul yang sama. Sudut pandang seluruhnya sengaja author ambil dari “OC” Happy Reading ^^

 

Story:

Apakah kau tau, bagaimana rasanya diharuskan memilih satu dari tiga orang yang paling kau cintai? Bagiku ini sangat menyakitkan.

 

 

Sore ini cuaca sedikit lebih ekstrim dari biasanya, musim dingin baru saja di mulai. Aku mempercepat langkahku ketika baru saja keluar dari kelas setelah mata kuliah terakhir baru saja selesai aku ikuti. Sesekali aku melihat beberapa pasang kekasih berjalan beriringan melewati beberapa lorong kelas ketika jam perkulihan telah berakhir, mereka sedikit mengalihkan perhatianku dan membuatku berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan langkah kakiku untuk segera pergi. Aku adalah Choi Jihyun seorang mahasiswi tingkat akhir dari fakultas ekonomi.

Berjalan dengan langkah pasti sesekali aku menghembuskan nafas dalam-dalam, mencoba menormalkan pikiran serta detak jantungku yang kian tidak beraturan, begitu banyak hal-hal yang membuatku sedikit tidak tenang akhir-akhir ini, begitu banyak ketakutan yang sesungguhnya ingin segera aku akhiri.

Jogiyo…” Sapa seorang namja di sebuah lobby dari arah kelas yang baru saja aku lewati, aku seketika menghentikan langkahku, mencoba menormalkan pikiranku yang baru saja menyadari seharusnya aku tidak melewati kelas ini.

“Bisakah kita bicara sebentar? Aku hanya bertanya dan kau tidak satupun menjawab kakao-ku” Sahut seseorang itu seketika saat aku akan segera pergi dari hadapannya.

Aku kembali menghentikan langkah kakiku yang sesungguhnya sudah berjalan sedikit lebih jauh darinya, memaksaku untuk memutar otak memikirkan jawaban yang harus aku berikan padanya.

Dia adalah Son Hyun Woo kekasihku, mahasiswa dari fakultas kedokteran, dan kebetulan kami berada di satu universitas yang sama, tidak banyak yang tau tentang jalan pikiranku saat ini, ketika seseorang mengetahui hal yang sesungguhnya aku yakin sebagian manusia di dunia ini akan membenciku.

“Aku sibuk” Sahutku dengan menunduk sekilas sebelum pergi, tidak ada pilihan lain yang bisa aku katakan. karena memang saat ini aku belum ingin mengatakannya dan kembali beradu argumen lagi dengannya.

Aku melihat seorang keluar dari kelasnya dan sempat menghampiri Hyunwoo yang kini dalam jarak yang cukup jauh dari langkahku, samar-samar aku mendengar satu hal yang seseorang itu katakan padanya.

“Aku melihatnya bersama seorang pria kemarin saat pulang kuliah , bukankah dia kekasihmu?

Aku tersenyum masam saat ini, aku yakin hal seperti ini akan terjadi dan mungkin ini hanyalah permulaan.

**

 

“Kau sedang menunggu Woongjae oppa disini?” Sapa seseorang saat aku hanya terlihat kebosanan dengan mengaduk Expreso-ku

Aku segera tersenyum pada seorang yeoja yang tiba-tiba saja menghampiriku di sebuah cafe di dekat universitas. Dia adalah Park In Hee temanku dari saat aku masih berada di bangku sekolah.

“Jihyun-ah, apa yang sebenarnya kau pikirkan? kau sedang menjauh dari Hyunwoo dan kau menemui Woongjae oppa? lalu kau mengabaikan Kim Seokjin?” Tanya In Hee sekali lagi dengan nada penekanan pada setiap pertanyaannya.

“Aku mohon jangan menanyakan hal yang susah untuk aku jawab saat ini”

Park In Hee menatap dengan pandangan menyerah kali ini, beberapa kali setiap dia mengatakan hal ini aku selalu meresponnya demikian. Hanya sebuah pemikiran konyolku yang sanggup menyembunyikan kisah cinta pada tiga orang pria sekaligus.

Aku menghela nafas panjang saat In Hee menatapku dengan kekhawatiran besar akhir-akhir ini, beberapa pertanyaan bahkan tidak satupun dapat terucap saat aku mulai memasang wajah memelas padanya.

In Hee mendudukkan dirinya di sebuah sofa tepat di sampingku dengan menghela nafas panjangnya, sesungguhnya aku tau jika dia sedang berusaha memahami sikapku yang sedikit oh tidak bahkan sangat keterlaluan.

“Aku hanya memikirkanmu untuk mengakhirinya, bagaimana bisa kau bertahan dalam kondisi seperti ini selama beberapa tahun?”

“Aku mencintainya” Jujurku, lalu aku harus mengatakan apa jika pada kenyataannya aku benar-benar mencinta ketiga pria yang sedang aku kencani saat ini juga, haruskah aku bersikap munafik jika aku hanya mencinta satu orang di antara ketiganya?

In Hee melihat ekspresi lain dari wajahku, aku yakin dia cukup mengerti siapa diriku yang sesungguhnya, aku sungguh tidak memiliki niat buruk pada semuanya, hal ini hanya tiba-tiba terjadi tanpa bisa aku hindari.

“Tidak bisakah kau memilih dari salah satunya?” Tanyanya sekali lagi, aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.

Sungguh aku ingin mengakhirinya tapi aku tidak ingin kehilangan mereka, apakah tidak ada yang bisa memahami kondisiku saat ini? mungkin aku cukup egois mementingkan diriku sendiri, tetapi aku tidak punya pilihan, aku sangat mencintai mereka dan apakah kau tau bagaimana rasanya diharuskan memilih satu dari tiga orang yang paling kau cintai? Bagiku ini sangat menyakitkan.

Park In Hee menepuk-nepuk pundakku, entah dia memahami bagaimana perasaanku atau hanya sekedar perasaan iba, dan saat itulah aku mencoba tersenyum di hadapannya.

“Hyunwoo terlihat sedih akhir-akhir ini, kau begitu mengabaikannya” Ceritanya, dia memang mengetahui banyak hal tentang Hyunwoo karena mereka memang berada di fakultas dan kelas yang sama.

Tidak ada yang bisa aku katakan saat Park In Hee menyampaikan hal demikian di hadapanku, ucapannya beberapa saat lalu masih terus berputar-putar dalam kepalaku. Dan Son Hyun Woo, aku bahkan tidak bisa serta-marta menjatuhkan pilihanku padanya, sedangkan Im Woongjae adalah seseorang yang telah lebih dulu ada.

***

Im Woongjae melepas jas kerjanya dan menggulung lengan kemejanya, sebelum mengambil sebuah vacum cleaner dari arah lemari peralatan didekat dapur. Sambil sesekali melihat kearahku yang tengah sibuk dengan sebuah resep masakan baru yang minggu lalu Seokjin ajarkan padaku, memang Seokjin dapat di katakan jauh lebih ahli dalam memasak dibandingkan denganku, karena Seokjin memang berprofesi sebagai seorang chef di salah satu restoran ternama di kota Myeongdong.

“Kau sudah berapa tahun tidak membersihkan lantai rumahmu?” Candanya dengan menyalakan mesin pembersih, saat dia mulai membersihkan dari arah dapur.

Aku hanya terkekeh pelan mendengar pertanyaan konyol kekasihku yang berusia 4 tahun lebih tua dariku, kami jarang sekali bertemu karena kesibukan kami masing-masing, dan karena pekerjaannya sebagai seorang arsitek juga yang memang mengharuskan dia tinggal di luar kota beberapa bulan ini.

“Sejak kau pergi aku tidak membersihkan lantainya,” Timpalku, membuat Woongjae menggelengkan kepala mendengarnya

“Ya!! Kau pikir aku seperti itu? Aku selalu membersihkannya” Sahutku dengan kembali fokus pada beberapa bahan masakanku yang hampir selesai.

“Aku tidak percaya ada seorang wanita sejorok dirimu,” Gumam Woongjae yang sekali lagi membuatku menertawakannya.

“Bagaimana kuliahmu saat ini?” Tanya Woongjae tiba-tiba

“Apa?” Aku sedikit kehilangan konsentrasiku kali ini, saat Woongjae bertanya tiba-tiba ketika aku baru saja membaca kakaotalk masuk dari Kim Seokjin.

“Aku bertanya bagaimana kuliahmu? Bukankah kau akan segera lulus?” Ulangnya sekali lagi

“Oh, iya aku akan menyelesaikan tugas akhirku” Gumamku singkat, sebisa mungkin aku ingin mengalihkan pembicaraannya ketika Woongjae mulai menyinggung permasalahan yang menyangkut dengan kuliah dan universitas.

“Saat upacara kelulusanmu nanti aku akan menyempatkan diri untuk datang, aku sedang menyiapkan sesuatu untukmu”

Mwo?

“Apa tidak boleh?” Tanya Woongjae kembali saat dirinya mendapati ekpresiku sedikit terkejut karenanya.

“Iya tentu saja, jika kau sangat sibuk sebaiknya tidak perlu memaksakan diri. Bukankah memang selalu seperti itu?”

Im Woongjae mematikan mesin pembersihnya saat dirinya baru saja selesai membersihkan ruang tengah sebelum akhirnya menghampiriku yang baru saja selesai dengan masakan yang tertata rapi di ruang makan.

“Apa kau marah padaku?” Tanya Woongjae yang tiba-tiba berada di hadapanku kini

Sungguh aku begitu merindukan tatapan hangat milik Im Woongjae yang bahkan selalu membuatku ingin segera bertemu dengannya, namja yang bahkan menemaniku lebih dari 5 tahun tetapi aku bisa setega itu padanya. Aku memeluknya membuatnya tersenyum dan menepuk pundakku beberapa kali.

“Aku merindukanmu, sungguh sejak beberapa bulan ini aku ingin segera bertemu denganmu..” Bisik Woongjae yang sempat membuatku semakin merasa bersalah padanya,

“Apa ketika kau menanyakan tentang kelulusanku itu berhubungan dengan sebuah pernikahan?” Tanyaku sedikit ragu padanya.

Woongjae menatapku dengan tersenyum,

“Apa kau tidak pernah memikirkannya? Kau tidak ingin menjadi istriku?”

Nafasku seperti berhenti sejenak saat mendengarnya, aku tidak punya pilihan, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaannya dengan mudah, bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi bukankah jika hal ini berhubungan dengan pernikahan, apakah ini bukan berarti aku harus segera mengakhiri hubunganku dengan Kim Seok Jin dan Son Hyun Woo? Sedangkan aku tidak ingin kehilangan mereka, lalu jika aku mengatakan tidak ingin menikah dengan Im Woong Jae apa itu artinya aku harus mengakhiri hubunganku dan dia? Disisi lain aku juga tidak ingin Woongjae meninggalkanku.

“Beberapa bulan kedepan aku mendapatkan project di rusia selama 6 bulan sedangkan aku tidak ingin berpisah darimu selama itu, setelah kita menikah aku bisa mengajakmu kemanapun, dan aku rasa honeymoon di rusia bukanlah hal buruk”

Aku mengalihkan pandanganku darinya, mundur beberapa langkah untuk mengambil sebotol jus jeruk dari dalam lemasi es dan dua buah gelas untuk menatanya di meja makan. Terlihat jelas Woongjae sangat tidak puas melihat ekspresi yang aku tunjukkan, sesekali dia menatapku dengan mencoba memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menghampiriku dan memeluk dari belakang tubuhku.

“Jihyun-ah, setiap wanita akan berbunga-bunga ketika kekasihnya membicarakan tentang pernikahan dan kau??” Woongjae semakin erat memelukku dan menyandarkan kepalanya pada bahuku.

Aku mencoba menanggapinya dengan senyum, melepaskan pelukannya secara perlahan dan memposisikan diriku di hadapnnya.

“Tapi untuk saat ini masih banyak hal yang aku pikirkan, sungguh aku tidak bisa mengatakan apapun,”

Woongjae tersenyum dan mengelus salah satu pipiku.

“Hey, bukankah kau sudah mendengarkanku? Aku tidak akan menikahimu hari ini aku akan menunggu kelulusanmu..” Lanjutnya lalu menciumku singkat, aku masih diam dalam posisiku, memikirkan banyak hal kedepan yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin bertahan dalam keadaan seperti ini untuk seterusnya.

“Baiklah, sebelum makan aku akan mengganti bajuku dan kau lanjutkan membersihkan lantai di ruang utama. Apa lemari pakaianku masih di tempat yang sama?” Tanya Woongjae yang hanya aku jawab dengan anggukan.

***

Son Hyunwoo menatap tajam padaku yang baru saja keluar dari kelas, dengan langkah cepat Hyunwoo segera menghampiriku.

“Kau masih sibuk? Masih tidak bisa menjawab pertanyaanku? Tidak membalas satupun pesanku?” Tanya Hyunwoo bertubi-tubi ketika dirinya mulai tersulut emosi.

Aku hanya menatapnya sedikit terkejut, aku bahkan tidak berpikir jika Hyunwoo akan semarah ini padaku.

Kajja..” Sahut Hyunwoo yang tiba-tiba menarik tanganku untuk mengikutinya.

Ya!! Kau mau kemana?” Aku mencoba melepaskan tanganku, tetapi Hyunwoo terlalu erat menggenggamnya.

Hyunwoo menatap kesal padaku, dia adalah seseorang yang sudah menjadi kekasihku dua tahun belakangan ini.

“Masuk..!!” Perintah Hyunwoo saat membuka pintu mobilnya, dan aku tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.

“Aku akan mengantarkan kau pulang, dan tolong kau jawab semua yang aku tanyakan,” Sahutnya saat setelah menjalankan mesin mobilnya untuk pulang.

Aku hanya diam mendengarnya, hanya beberapa kali Hyunwoo melihat kearahku dan aku tau jika dia mulai sadar dengan pergelangan tanganku yang sedikit memar karenanya.

Hyunwoo segera mengambil beberapa obat serta gel ketika baru saja sampai di rumahku untuk menurangi sedikit lebam pada pergelangan tanganku, sedikit banyak aku yakin jika Hyunwoo begitu merasa bersalah setelah bersikap kasar pada seseorang yang sesungguhnya memang layak untuk diperlakukan demikian.

“Maafkan aku, apa masih sakit?” Tanya Hyunwoo sesaat setelah selesai mengobati tanganku.

“Tidak”

“Lalu bisa kau menjawabku saat ini?” Tanya Hyunwoo sekali lagi, dan untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menjawabnya.

“Jihyun-ah..” Panggilnya sekali lagi

Aku menutup mataku dengan bersandar di antara dua telapak tanganku saat ini, Hyunwoo mencoba menenangkanku dengan beberapa kali mengelus pucuk kepalaku. Tidak biasanya aku seperti ini, biasanya aku masih memiliki seribu kata untuk mengelak tetapi kali ini aku rasa semuanya tidak perlu.

“Sekali lagi aku menanyakannya, apakah kau berkencan dengan pria itu? Seseorang selain aku? Berkali aku menanyakannya, berkali pula kau tidak menjawabnya, hal itulah yang semakin menguatkan keraguanku tentangmu,”

Aku bangkit dari posisiku, mendekat dan memeluk Hyunwoo erat, hanya itu yang bisa aku lakukan. Saat ini diriku seolah diselimuti kehawatiran yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

“Aku mencintaimu, sungguh..” Aku berusahana meyakinkan saat Hyunwoo membalas pelukannya lebih erat

“Hanya aku? Kau mencintai hanya aku bukan begitu?” Tanya Hyunwoo sekali lagi penuh penekanan, hal yang tidak mungkin bisa aku jawab karena aku juga mencintai Woongjae dan Seokjin.

“Maafkan aku..” Hanya itu yang aku katakan saat ini, dengan mencoba memberanikan diri menatap ekspresi Hyunwoo yang cukup terkejut.

Hyunwoo menatapku tidak percaya saat mendengar pengakuan singkatku yang aku sangat sadar hal ini begitu menyakitkan untuknya, Hyunwoo segera mundur beberapa langkah dariku, tanpa bisa mengatakan satu katapun. Terlalu marah kiranya yang membuatnya menatapku dengan pandangan penuh kebencian. Aku mencoba meredakan tangisanku lalu mendekat kearah Hyunwoo yang masih terpaku dalam posisinya, meraih tangan Hyunwoo yang seketika ditepisnya.

Dalam waktu bersamaan, ponselku yang secara tidak sengaja aku letakkan di meja ruang tengah tepat di hadapan Hyunwoo berdering. Aku tidak memiliki keberanian untuk meraihnya, ketika Hyunwoo sempat memperhatikan ponsel yang dengan jelas terpampang sebuah panggilan dari Kim Seok Jin.

“Kau…” Hyunwoo tidak dapat melanjutkan kalimatnya, seketika jari-jarinya menggepal dengan sangat erat, emosinya membuncah dalam waktu singkat.

Braaak…

Aku menutup mataku dengan kedua telapak tanganku, nafasku tidak beraturan kini. Aku benar-benar ketakutan saat Hyunwoo melempar ponsel milikku ke arah cermin ruang tengah yang membuat pecahan cerminnya memenuhi lantai yang baru kemarin Woongjae bersihkan.

Hyunwoo mengatur nafasnya, dia benar-benar marah saat ini. Wajahnya merah padam masih dalam emosi yang sama. Hanya sesekali dirinya memandangku yang sedang menangis di sudut ruangan sebelum pergi.

Aku mencoba meredakan tangisku saat ponsel yang masih tergeletak di lantai tiba-tiba kembali berdering, dengan sedikit hati-hati dari beberapa pecahan cermin yang masih berserakan di lantai, aku meraih ponselku saat ada sebuah panggilan masuk dari Kim Seok Jin.

Yoboseo” Jawabku dengan mencoba meredakan tangisanku

Kau baik-baik saja? Apa kau sedang menangis?’

Aku baik-baik saja

‘Oh, bisa kau buka pintunya?Kau mengganti pasword pintu masuknya? Aku didepan rumahmu’

“Apa?”

Aku bangkit dari posisiku, sebisa mungkin aku merapikan diriku yang terlihat sedikit acak-acakan dan menghapus sisa air mataku agar Seokjin tidak curiga.

Seokjin segera memelukku saat baru saja aku membuka pintu, setidaknya pelukan Seokjin cukup membantu untuk membuatku sedikit lebih tenang.

“Aku merindukanmu, apa kau sesibuk itu sampai jarang menerima telponku?” Oceh namja tampan yang menurutku memiliki daya tarik dari sikapnya yang sedikit manja dan kekanakan itu. Kim Seokjin juga memiliki salah satu daya tarik tersendiri ketika sedang memasak, dia salah satu chef yang cukup di kenal karena keahliannya di usia yang terbilang muda. hal itulah yang membuatku sangat jatuh hati ketika dia mengajari banyak hal tentang memasak.

Aku tersenyum dan mengeratkan pelukanku pada Kim Seokjin, seseorang yang menjadi kekasihku tiga tahun lalu, satu tahun sebelum Son Hyunwoo. Sungguh tidak dapat di pungkiri jika aku juga sangat merindukan Seokjin, hanya saja aku benar-benar tidak dapat merespon siapapun ketika sedang bersama dengan Im Woongjae.

Ketika Seokjin akan melepaskan pelukannya, aku semakin mengeratkannya. Hal itulah yang tiba-tiba membuat Seokjin tersenyum kembali memelukku dan menepuk bahuku membuatku tenang.

“Apa kau sangat merindukanku sehingga kau tidak ingin melepaskan pelukanmu?” Godanya membuatku yang masih memeluknya tersenyum.

“Diamlah sebentar, aku ingin memelukmu sedikit lebih lama dari biasanya”

Seokjin menatapku sedikit aneh saat ruang tengah masih di penuhi pecahan cermin, mungkin dia juga menyadari mataku sedikit sembab dan pergelangan tanganku sedikit memar.

“Kau sungguh baik-baik saja Jihyun-ah?” Tanya Seokjin dengan sedikit memperhatikan sekitarnya.

Aku seketika mengalihkan pandanganku dari Seokjin,

“Aku akan membersihkannya, kau berhati-hatilah masih banyak pecahan cermin di sekitar sini.” Jawabku lalu beranjak mengambil vacum cleaner untuk membersikannya.

Seokjin segera menghampiriku dan meraih vacum cleaner dari tanganku.

“Biar aku bersihkan, apa kau baik-baik saja? Kenapa tanganmu lebam? Siapa yang memecahkan cerminnya?” Tanya Seokjin bertubi-tubi saat dirinya masih sibuk membersihkan pecahan cerminnya.

Aku mencoba tersenyum, sesungguhnya aku tidak ingin berbohong kembali hari ini tapi tidak ada pilihan lain, aku tidak mungkin menjelaskan pada Seokjin jika aku tidak ingin kejadian tadi terulang kembali.

“Tidak apa-apa, tanganku terkilir dan cermin itu pecah karena ada..”

“Ada apa?” Tanya Seokjin sekali lagi saat aku terlihat kesusahan untuk menjawabnya.

“Ada cicak yang merayap di cerminnya, aku benci cicak jadi aku melemparnya,” Jawabku sekenanya.

Seokjin menatap tidak percaya,

“Kau melempar cicak di cermin menggunakan ponselmu?” Seokjin seolah mengintrogasiku saat dirinya mendapati sebagian screen ponsel milikku retak.

Aku hanya mengangguk singkat,

“He’em, hanya ada ponsel di tanganku dan aku refleks melemparnya. Lagipula ponselku masih bisa di gunakan dan aku akan segera mengganti screen yang baru.”

Terlihat jelas sesungguhnya Seokjin tidak percaya dengan penjelasanku, tetapi seolah tidak ingin terlalu mendesakku, Seokjin hanya tersenyum mencoba mengerti.

“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku,”

“Setiap kali kau mengatakan agar aku tidak mengkhawatirkanmu, kau malah semakin membuatku berkali lipat mengkhawatirkanmu,”

***

Sudah beberapa hari ini Hyunwoo tidak pernah terlihat, bahkan panggilan dan pesenku tidak satupun dia jawab. Saat ini ketakutanku benar terjadi, sesungguhnya aku tidak ingin Hyunwoo meningalkanku. Jika boleh berkata jujur ibarat Im Woong Jae adalah sesuatu yang aku butuhan, Kim Seok Jin adalah sesuatu yang aku inginkan sedangkan Son Hyun Woo adalah sesuatu yang membuatku nyaman, lalu bagaimana aku bisa kehilangan salah satunya?

Aku mematikan ponselku hari ini, saat beberapa panggilan masuk dari Im Woong Jae dan Kim Seok Jin tidak dapat aku jawab hari ini, aku cukup lelah dan aku ingin melupakan sebagian masalahku tentang mereka.

Sesaat aku sampai di depan rumahku, aku benar-benar ingin istirahat hari ini tapi sepertiya seseorang sedang berada di dalam, dengan sedikit hati-hati aku berjalan masuk saat mendapati sepatu seorang namja terletak di depan pintu masuk ruang utama.

“Kau sudah pulang?”

Aku sedikit terkejut mendengarnya, saat Son Hyunwoo tiba-tiba berada di dalam rumahku.

“Kau mengganti pasword pintu masuk rumahmu dengan tanggal lahirku bukan begitu?” Sahutnya lalu berjalan masuk, aku mengikutinya dari belakang.

Aku memang menggantinya dengan tanggal lahir Hyunwoo, hanya agar Woongjae dan Seokjin mengetuk pintu dulu sebelum masuk, begitu juga Hyunwoo yang aku rasa seharusnya dia tidak sadar jika aku menggunakan tanggal lahirnya.

“Kenapa kau tidak mengangkat telponku?” Tanyaku, aku segera mengikutinya dan meraih tangannya.

Hyunwoo segera menatapku, dengan tatapan yang masih sama seperti terakhir kali kami bertemu. Ketika Hyunwoo benar-benar marah padaku dan saat ini juga dia menepis tanganku kasar.

“Sebuah pertanyaan yang sama sepertiku beberapa saat lalu, kenapa kau tidak mengangkat telponku? Aku SIBUK” Sahut Hyunwoo dengan menyeringai, dan penuh penekanan.

Aku menatapnya kesal,

“Kau sibuk dan masih sempat masuk kedalam rumah orang tanpa ijin? Apa kau benar-benar sibuk?”

Ya!!!” Teriak Hyunwoo yang seketika membuatku mundur beberapa langkah darinya, bagiku hari ini Son Hyunwoo terlihat begitu menakutkan.

Hyunwoo segera mendekat kearahku dengan perlahan, aku mundur beberapa langkah ketika dia mendekat sampai aku terhenti pada sudut ruangan yang sama sekali membuatku tidak bisa bergerak, saat Hyunwoo mulai mengunciku di antara kedua tangannya.

Tatapan Hyunwoo berubah saat ini, ada raut kesedihan yang tergambar jelas dari wajahnya, ekspresi penuh emosinya sedikit demi sedikit memudar dari pandanganku, hanya beberapa kali aku melihat seolah dia menahan diri untuk tidak menangis. Aku memberanikan diri menyentuh pipinya yang membuatnya menutup mata dan seketika itu air mata Hyunwoo mendarat tepat pada telapak tanganku yang masih menyentuh pipinya.

“Aku tidak pernah berpikir kau akan melakukan hal itu padaku, tidak bisakah kau hanya mencintaiku?” Bisik Hyunwoo yang seketika memelukku, menenggelamkanku dalam dekapannya yang terasa begitu hangat dari biasanya.

Aku menggelengkan kepala, mencoba untuk tidak membohongi diriku sendiri. Sungguh Hyunwoo belum menyadari akan satu hal, Im Woongjae dan Kim Seokjin adalah kekasihku jauh sebelum dirinya.

“Kenapa kau tidak bisa hanya mencintaiku? Apa aku memiliki banyak kekurangan di matamu?” Keluhnya dengan sedikit berteriak.

Aku terdiam sejenak, mencoba menjelaskan beberapa hal yang memang sudah saatnya untuk Hyunwoo tau. Dan aku rasa secepat mungkin aku harus segera mengakhiri sebuah permainan cinta konyolku yang hanya menyakiti orang-orang yang aku cintai.

“Maafkan aku, dia adalah seseorang yang telah ada sebelum kau” Ucapku setengah berbisik.

“Apa?” Hyunwoo sedikit terkejut mendengarnya, ada raut kekecewaan berat dalam ekspresi wajahnya.

“Sungguh aku tidak bermaksud mempermainkanmu, aku mencintaimu sehingga aku tidak bisa mengabaikanmu begitu saja” Aku menunduk, aku sangat malu padanya kini dan mungkin dia benar-benar membenciku ketika dia mengetahui semua hal tentangku.

Hyunwoo memandangku,

“Apapun itu, aku tidak perduli dan aku harap kau segera meninggalkannya, sebelum kau meninggalkannya selama itupula aku tidak ingin melihatmu”

Seketika itu Hyunwoo berjalan pergi dengan membanting pintu rumahku cukup keras.

***

Aku membuka mataku dan melihat jam dindingku ketika seseorang terdengar menggedor-gedor pintu rumahku, masih pukul 09.09 KST tetapi seseorang di luar sana seolah memaksaku untuk bangkit dari tempat tidurku di saat seharusnya aku menikmati libur kuliahku.

‘Jihyun-ah.. buka pintunya’ teriak seseorang diluar sana yang sepertinya suara Kim Seokjin.

Aku segera berlari membuka pintunya, dan seketika Seokjin menyerobot masuk menatapku kesal dengan menunjukkan beberapa foto di hadapanku.

“Kau lihat?? Bisa kau mengelak sekarang?” Teriak Seokjin membuatku bungkam, bagaimana Seokjin bisa memiliki beberapa fotoku bersama Woongjae,

Seokjin melemparnya di hadapanku, binar matanya penuh dengan kekecewaan. Aku tau bagaimana karakter Seokjin dan Hyunwoo, ketika Hyunwoo dapat meluapkan emosi-emosinya tetapi Seokjin biasanya masih bisa sedikit meredam amarahnya, hanya saja tidak untuk hari ini.

“Jelaskan padaku jika kau tidak ada hubungan apapun dengannya, katakan jika ini hanyalah sebuah kesalahpahaman? Bahkan kau tidak dapat menjawab satupun dari pertanyaanku..” Teriak Seokjin dengan mendorongku sampai aku terjatuh pada sofa ruang tengah.

Seokjin menyeriangi di hadapanku, tatapannya kini terlihat penuh dengan kebencian.

“Apa kau juga berkencan dengan seorang mahasiswa dari fakultas kedokteran bukan begitu??” Teriak Seokjin lebih lantang dari sebelumnya.

Aku membulatkan mataku terkejut mendengar pernyataannya, tidak ada satu katapun yang bisa aku ucapkan, seketika semuanya terasa seolah menghancurkanku secara perlahan.

“Apa kau mengetahui hal ini dari Park In Hee?” Tanyaku dengan suara yang nyaris tidak terdengar, aku begitu yakin jika Seokjin tau mengenai semuanya dari Park In Hee hanya dia yang mengetahui hal ini, terlebih Park In Hee adalah teman kelas Hyunwoo di fakultas kedokteran.

Seokjin masih terlihat marah padaku, dia tidak mengatakan jika In Hee turut serta dalam permasalahan ini, tetapi dari raut wajah Seokjin memang menunjukkan jika In Hee yang telah mengatakan banyak hal padanya.

“Kau… aku bahkan tidak pernah menyangka jika kau dapat melakukan hal selicik itu, tapi bagaimana bisa? Kau mempermainkan perasaanku? Lalu kau akan meninggalkan aku setelah ini?” Teriak Seokjin penuh emosi, aku hanya memejamkan mataku rapat, air mataku sudah hampir membasahi sebagian dari wajahku.

Seokjin menatapku sejenak lalu berjalan ke arah ruang tengah untuk mencoba menstabilkan emosinya. Aku bangkit dari posisiku dan menghampirinya, terlihat jelas bagaimana ketika wajah Seokjin benar-benar kesal saat ini.

“Apa kau akan menikah dengan Woongjae?” Tanya Seokjin dengan tatapan penuh kebencian ke arahku, bahkan Seokjin benar-benar mengetahui tentang rencana pernikahan.

Pikiranku benar-benar penuh hari ini, baru kemarin emosi Hyunwoo meluap-luap lalu di tambah dengan Seokjin, hal tersebut membuatku tidak dapat melakukan pembelaan apapun terhadap kesalahanku sendiri.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa kau akan menikah dengan Woongjae?” Teriak Seokjin sekali lagi.

“Itu bukan urusanmu,” Aku menatapnya kesal, seketika aku mendekat kearahnya dan berusaha menarik tangannya untuk pergi.

Seokjin segera menepis tanganku, pandangannya terlihat begitu menyeramkan

“Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah membiarkan kau menikah dengan Im Woongjae ataupun pria itu, apa kau tau?”.

“Aku lelah, tolong biarkan aku sendiri beberapa saat ini,” Gumamku yang ternyata semakin membuat emosi Seokjin memuncak.

Segera saja namja itu menatapku tajam, tidak ada satu katapun yang dia ucapkan. Hanya deru nafas berat yang begitu nyaring dalam indera pendengaranku.

“Keluar..” Sahutku dengan nada cukup tinggi lalu berjalan untuk segera meninggalkannya, dalam tempo singkat Seokjin mengejarku dan menarik tanganku kasar.

“Kau mengusirku? Choi Ji Hyun, apa benar kau mengusirku?”

Dia menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan, untuk kesekian kalinya perasaan bersalah membuatku tidak dapat melakukan hal apapun. Tidak ingin munafik sesungguhnya aku juga takut untuk kehilangan Seokjin, tetapi emosiku yang cukup meningkat membuatku tanpa sadar berbalik bersikap kasar padanya.

“Aku pastikan setelah ini kau tidak akan pernah melihatku lagi..” Teriak Seokjin dengan nada tinggi di hadapnku sebelum berjalan pergi, aku segera mengejar langkah kakinya yang hampir keluar dari rumahku, tangisku pecah seketika saat aku baru saja menyadari sikapku yang begitu kasar terhadapnya beberapa saat lalu.

“Seokjin-ah..” Panggilku dengan sedikit berteriak

Seokjin membalikkan badannya ke arahku, tatapan tajamnya tertuju padaku dengan jari telunjukknya yang hanya berjarak 3cm dari wajahku.

“Kau, menjijikkan..” Gumamnya dengan penuh penekanan, membuatku mundur beberapa langkah dari hadapnnya.

***

Beberapa bulir salju tiba-tiba saja turun, padahal baru beberapa menit lalu aku rasa salju telah berhenti. Aku mengernyit menahan dinginnya cuaca dengan sesekali mengeratkan mantelku dan menggosok kedua telapak tanganku. Sekiranya aku hanya sendiri di sini, di sebuah taman tidak jauh dari tempat Seokjin bekerja tepatnya di kota Myeongdong.

Sudah beberapa hari ini Seokjin tidak menerima telponku, aku tau jika sikapku padanya beberapa saat lalu sungguh sangat keterlaluan.

“Kau sedang apa disini? Kau ingin mati beku?” Seorang namja menghampiriku dengan memberikan satu cup machiatto. Aku menerimanya dan meminumnya sedikit sampai akhirnya namja itu mendudukkan dirinya tepat di sampingku.

Aku menahan tangisku, setidaknya hari ini aku benar-benar menyesal dengan apa yang telah aku lakukan terhadapnya.

“Untuk apa kau menangis” Gumamnya kala mendengar isakanku yang sesungguhnya sangat lirih.

Namja itu memelukku erat, menepuk bahuku sejenak. Bahkan dekapannya terasa begitu hangat saat ini.

“Aku kecewa denganmu, sejauh ini aku berusaha untuk hanya mencintaimu tetapi pada kenyataannya kau tidak melakukan hal yang sama sepertiku”

Isakanku terdengar begitu jelas kali ini, tiba-tiba perasaanku berubah padanya. Aku hanya ingin bersama dengannya, beberapa waktu sejak dia pergi dia adalah satu-satunya orang yang ingin segera aku temui.

Namja itu tersenyum, menghapus sisa air mata yang hampir seluruhnya mengenai wajahku.

“Aku tau kau mencintaiku, bahkan menentukan pilihan bagimu adalah hal yang begitu sulit. Aku tidak memaksamu untuk memilih karena pada kenyataanya aku yang akan pergi, dengan begitu kau tidak perlu lagi memilihku.”

 

“Seokjin….” Teriakku dengan membuka mataku yang tadinya sempat terlelap, aku mencoba mengatur nafasku, bisa-bisanya aku tertidur di tempat seperti ini. Bahkan aku melihat satu cup machiatto di dekatku, aku segera meraihnya. Masih hangat, aku rasa machiatto itu baru saja diletakkan di sini oleh pemiliknya, tetapi siapa?

To Be Continue

Preview

 Aku melihat beberapa kali ponsel Woongjae berdering saat aku baru saja menyelesaikan masakanku dan menatanya rapi di meja. Beberapa kali aku menoleh mencari pemilik ponsel yang entah dimana, biasanya dia sedang membersihkan ruang utama tetapi kali ini aku rasa dia sudah menyelesaikannya dengan baik.

“Oppa.. kau dimana? Ponselmu berbunyi..” Teriakku mencoba memanggilnya, tidak ada jawaban apapun darinya. Hanya gemercik air yang terdengar dari arah kamar mandi dan mungkin dia sedang mandi.

Sesungguhnya aku ingin membiarkannya tetapi ponsel itu berkali-kali berdering,

“Kim Gyu Ri?” Gumamku saat membaca seseorang yang sejak tadi menelponnya.

Aku belum sempat menerima panggilannya tetapi seseorang itu sudah menutupnya, ada sekitar 20 missed call dan 8 kakaotalk dari seseorang yang entah siapa.

 

From: Kim Gyu Ri

Woongjae-ah kau dimana?
Aku merindukanmu

 

Kau sedang menemui kekasihmu?
Segera putuskan dia,

 

Jika kau tidak mengangkat panggilanku sekali lagi,
aku akan menghubungi kekasihmu dan mengatakan hubungan kita.

 

Im Woong Jae, apa perlu aku katakan pada kekasihmu
jika kau dan aku akan segera mempunyai anak? Angkat panggilanku..

 

Aku memandang pesan itu nanar, tidak ada yang bisa aku lakukan saat membacanya selain hanya diam dalam posisiku sebelumnya.

“Jihyun-ah, kau sedang apa?” Panggil Woongjae ketika dirinya baru saja meneyelesaikan mandinya.

Aku menatap tajam padanya, menggenggam erat ponselnya yang masih berada di tanganku.

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=9a2e69b0-293b-48ad-ba05-b493e4211662

Advertisements

44 thoughts on “Broken Heart Chapter 1

  1. Awal baca aq rasa ff ini biasa saja, wktu pertengahan ada maksud lain dr authornya, idenya bagus oc sekingkuh 3 sekaligus….
    akhirnyaaa aq kepo sama lanjutannya, woongjae knp tiba* gitu?
    itu seokjin kan di mimpi jihyun?? aahhhh ini karmamu jihyunnn

    Like

    1. Halo lailly, iya benar aku nulisnya juga seperti bosan.. sebenernya aku punya ide tetapi aku punya kesulitan dalam menyampaikan cerita sejak hiatus menulis selama beberapa bulan.. semoga di chapter 2 nanti penyampaiannya bisa lebih mengena lagi. Terimakasih banyak sudah baca dan komen ya ^^

      Like

  2. Punya pacar atu aja ribet apalagi ini punya pacar 3 sekaligus >< apa bener gitu? Jd kanditatnya cuma jin sama shownu , itupun kalau mereka masih mau hhahahah
    Tp sejujurnya aku plng suka jihyun sama siwan loh un.
    Ya itu saja, ditunggu lanjutannya , keep writing uniiii

    Like

    1. Maaf baru sempat bales ya author minarifini hahaha iya sebenernya gak ada niat untuk comeback ff dekat dekat ini tapi iseng pengen nulis aja, hasilnya sedikit berantakan sebenernya karena aku sendiri dari awal belum nemu feelnya sama sekali.. terimakasih banyak sudah menyempatkan baca dan komen.. hahaha

      Liked by 1 person

      1. Hahahahaha berantakannya g ketara un , cuma memang feelnya kurang di jihyunnya hahahah , dia kelihatan binggung g tenang dan gitu lah. Tp g masalah un , ff masih ttp enak di baca kayak karya2mu yg lainnya hehehhe keep writing ya. Fighting

        Like

      2. Hahaha iya, bener bener gak ada feel waktu nulis, waktu itu cuma ada keinginan harus nulis idenya keburu ilang jadinya gitu, sebenernya permasalahannya terputus di chapter 2 karena awalnya mau bikin oneshoot kepanjangan, gak jadi.. hahaha

        Like

      3. Wkwkwkkw sama un xD akhir2 ini aku kalau nulis ff ya gitu hahaha ntr deh pas habis ff yg di jukobox di publish ff baruku bakalan tak publish di sini dan permasalahannya sama kayak kamu un hahah feelnya kurang dan berantakan 😢

        Like

  3. Aku makin tertarik pas baca previewnya thor…
    krn ada siwan disini, aku cari ff siwan oppa sedikit susah & nemu disini *bahagia
    HAHAHAA awalnya aku PUASSS wkt siwan jg selingkuh gara” kesel sama jihyun
    cuma lama” kasian mau jihyun sama siwan donk…… *jebal
    next ku tunggu thor……

    Like

    1. Annyeong.. syukurlah masih tertarik membaca, aku sebenrenya belum nemu feelnya sama sekali ketika nulis, bahkan penghayatannya aku rasa datar datar saja hahaha iya ada beberapa cast siwan disini bisa di cari di library.. kita tunggu nanti ya.. terimakasih banyak sudah baca dan komen ^^

      Like

  4. Next thor….
    aku harap jin baik2 aja disini ‾︿‾
    apa author pikir aku geregetan sm jihyun? ngga kek nya dia cm punya cinta yg ngga tau buat siapa
    aku tau jihyun g enak2 pny 3 pacar, ribet..

    Like

    1. Annyeong.. iya semoga jin baik baik saja hahaha mungkin sebagian orang akan males lihat cwe yg punya cwo 3 tapi kalo kamu bisa ngerti bagaimana perasaan jihyun berarti kamu benar-benar memahami apa yg aku sampaikan disini walau belum sempurna.. hahaha terimakasih sudah baca dan komen ^^

      Like

  5. Beruntung banget ye jdi cwe itu, dicintai 3 namja yg super keren. Pantes aja klo dy gak bisa nentuin pilihan. Dtunggu kelanjutannya… Ide ceritanya beda banget. Good job thor! 🙂

    Like

    1. Annyeong, sebenarnya dia bukan beruntung tetapi sedang dalam nasalah besar hahaha iya tapi di ff ini aku masih begitu banyak kekurangan dalam menyampaikan makna dan maksud dari cerita karena hiatus nulis lama, semoga chapter 2 nanti tidak terlalu berantakan… terimakasih sudah baca juga komen ^^

      Like

  6. Jadi wongjae selingkuh jg??
    aku mau endingnya jgn sad ya thor, kl bisa nanti sama shownu oppa aja
    suka ceritanya, next nya aku tnggu!!

    Keep writing authornim :3

    Like

  7. Kayak drama tapi ga tau drama apa, jjang!! biasanya sekedar dua pacar ini tiga pacar n mungkin itu yg bikin ff ini beda,
    ide ceritanya bgs thor, next nya kalau ada pengembangan cerita lebih luas aku rasa lebih keren..
    keep writing thor, aku tunggu next story nya 🙂

    Like

    1. Annyeong, iya mungkin aku terlalu sering nulis genre drama jadi kebawa suasana.. hahaha iya idenya tiba tiba muncul karena ketiganya adalah idolku, syukurlah masih banyak yg harus aku perbaiki disini, terimakasih sudah baca komen dan nunggu next storynya ^^

      Like

  8. Untuk chapter 2 nanti aq harap jihyun bisa nentuin pilihan,
    awal baca aq suka siwan lebih dewasa sosweet gitu*-*
    tapi……….. preview koq dy berubah?? gak sabar lanjutannya,
    kalo situasi ffnya lebih diperluas, sisanya menurut q bagus, seru😊😉

    Like

    1. Annyeong.. iya semoga saja hahaha okey di tunggu lanjutannya aja ya dear.. iya bener sekali situasi ffnya sedikit aku persempet nanti chapter 2 akan aku coba lebih luas lagi, terimakasih sudah baca komen juga sarannya ^^

      Like

  9. Nextnya di tunggu y thor..
    knp siwan jg selingkuh?
    ckckckk
    lbh baik jihyun sm hyunwoo aja dech 😥 ada jg karma dibalik ff 😝 keep writing!!

    Like

  10. Bagus kak…
    tinggal tunggu endingnya saja gmana,
    semoga endingnya lebih seru lagi

    aq pernah baca “last memories” jg “last memories 2” itu seru banget, ada seokjin jg hyunwoo
    so aq tunggu jd sama siapa jihyun nanti
    KEEP WRITING kak sandra ^^9

    Like

  11. CEO! Finally! Hahaha aku merindukanmu ffmu yang meramaikan wp ini :3 first of all, seperti biasa km mmbawa cerita yg tdk biasa. Pacaran dg 3 org skligus dalam satu waktu?! WTH bgt :”’) hahaha sbnrnya jujur aku kira aku bakal gasuka sama crita ini, tapi eh trnyata bkin penasaran gitu. Dan mas show nu gitu banget ya T.T but I know itu karena dia sayang bgt sm Ji Hyun. Mnrtku sih hehe. Anyway chapter selanjutnya!! Saya sudah ga sabar. Tapi dr chapter ini kita bisa ambil hikmahnya, gitu. Dan apakah Woung Jae selingkuh? :”’) andwaeee! Next juseyo!

    Like

    1. Annyeong author ts_sora.. hahaha iya maaf lama gak nulis, sebenernya gak kok banyak ff yg meramaikan wp ini, dan menurutku ff ini masih berantakan karena lama gak nulis ff.. idenya memang aku jarang baca yg gini dan mungkin ada di ff lain, kendalanya aku kurang dapat feel tepat buat menyampaikan maksud cerita ini pada pembaca, agak kikuk dan aneh.. iya aku coba buat karakter ketiganya berbeda dan semoga chapter selanjutnya aku sudah dapat feel yg lebih baik dari ini. Terimakasih author sudah menyempatkan baca dan komen!! Di tunggu ya ^^ hahaha

      Like

  12. Author-nim, aku sempat baca beberapa ff mu yg lain dan ini cerita yang belum aku bayangkan sebelumnyaT_T

    awal ini aku pikir ff yg biasa tapi ternyata ini g biasa, benar2 penasaran dgn chpter 2 nya. Aku g nuntut author bisa slesaikan ff ini segera krna aku tau nulis itu g gampang #mianhe tapi aku cuma bilang aku sudah nunggu2 chpter 2 segera
    semangat thor n keep writing!!

    Like

    1. Annyeong, syukurlah kalo kamu mengerti sama apa yg aku maksud disini hahaha iya idenya mungkin tidak biasa tapi penyampaian dalam fanficnya masih agak belepotan mianhae ^^ ah.. jinjja terimakasih banyak kamu sudah mengetahui itu semua, memang susah kalo gak ada feel, okey dear di tunggu saja ya ^^

      Like

  13. Menarik… ga sabar baca lanjutannya
    sukaaaa sekali thor>____<
    bikin penasaran walau di awal agak bosenin tp overall bikin kepooo
    boleh g kesel sama ceweknya? kkkkk
    keep writing thor… di tngg lanjutannya ya ;9

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s