Ficlet · Freelance · G · Length · Rating · Romance · Slice of Life · Teen

[FF Freelance] No Money


  • Author: Riseuki
  • Title: No Money
  • Cast: EXO’s Suho & OC’s Syan
  • Genre: Slice of Life, Romance
  • Rating: Teen, G
  • Lenght: Ficlet
  • Disclaimer: the cast is belong to himself but the plot & story are belong to me. Posted once on my private blog (https://riseriseuki.wordpress.com).

Summary:

“kalau saja—“

Lampu depan mobil itu mati begitu saja setelah kontak dicabut dari tempatnya. Pintu hyundai putih keluaran terbaru itu pun membuka di kedua sisi, kanan dan kiri. Dua orang menjejakkan kaki di tempat ini, tidak begitu ramai tapi tidak bisa pula disebut sepi.

“Tumben sekali oppa mengajakku ke tempat seperti ini”

Adalah kalimat pertama yang benar-benar terucap setelah satu pria dan satu perempuan itu mendudukkan dirinya di pinggiran dam, memandangi sungai Han yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Tadinya, mereka hanya saling diam untuk beberapa saat dan memandangi sekitar, juga melihat awan-awan yang tak begitu nampak tertelan gelapnya malam. Dan mungkin karena suasana yang memang tak seperti biasanya mereka lalui, saat tatapan dari manik si perempuan bertemu dengan hazel pria itu, dia bicara.

Dan bukannya segera menjawab pertanyaan –yang sebenarnya lebih terdengar seperti pernyataan, pria itu justru melipat tangannya ke belakang kepala dan menggunakannya sebagai tumpuan saat ia merebahkan tubuh menantang langit.

Syan –perempuan yang bersama pria itu, hanya bisa mengedikkan bahunya dan kembali memandangi suasana sekitar, dia memang tidak menuntut jawaban atau penjelasan apa-apa kok. Biarpun, kalau pria itu mau mengatakan sesuatu pasti akan dia dengar.

“Belakangan ini, aku memikirkan sesuatu”

Menoleh ke sumber suara, Syan memfokuskan pendengarannya. Pria itu –namanya Suho, sudah tiga tahun ini menjadi kekasihnya. Dan hari ini sebenarnya bukan hari istimewa atau perayaan akan sesuatu, hanya hari-hari biasa yang kebetulan mereka lalui bersama. Hingga malam ini Suho mengajaknya duduk di pinggir sungai tanpa penjelasan lebih lanjut –atau setidaknya belum. Sungguh bukan kebiasaan pria itu, karena yang paling umum, Suho akan mengajak Syan makan malam di restoran ternama atau setidaknya bercengkerama di cafe-cafe distrik Gangnam.

Jadi kegiatan ini adalah hal baru yang mereka kerjakan.

“Apa?”

Hanya itu tanggapan Syan. Setelah sekian lama bersama, tentunya mereka sudah tau temperamen masing-masing. Dan mengartikan kalimat kekasihnya barusan, Syan tau dia harusnya mendengarkan karena ada sesuatu yang ingin Suho ceritakan.

Syan memandangi suho dengan tanya yang membuat pria itu menarik lengan Syan lalu memaksanya ikut merebahkan diri, sama-sama menantang langit di atas sana.

“Kau lihat bintang-bintang itu?”

Yeah“, Syan meletakkan kepalanya di lengan Suho yang menjadi tumpuan, saat dia mengangguk, gerakan yang dihasilkannya terasa di lengan itu.

“Kau tahu tidak, sebagian dari bintang itu lebih bersinar dari bintang yang lain”

Mengerutkan dahinya mendengar apa yang baru saja dia dengar, Syan mengangguk lagi memberi jawaban, “setidaknya mereka sama-sama bersinar”, tambahnya dengan nada polos.

Tch.

Ada kekeh yang hampir lepas dari bibir Suho, perempuannya ini bisa menjawab dengan begitu positive, dan hal itu seakan mengangkat beban di hati Suho. Karena dia akan mengawali pembicaraan yangagaknya serius.

“Kalau saja aku tidak punya uang, kalau aku miskin, apa kau masih akan bertahan denganku?”

Eh?

Pertanyaan absurd. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan obrolan bintang-bintang barusan. Jadi Syan diam, menunggu, kalau saja dia melewatkan sesuatu.

“Maksudku begini—“ Suho mulai menjelaskan analoginya, “—setiap apa yang diciptakan pasti punya teman, entah yang baik atau yang buruk. Yang sama-sama bersinar atau berlawanan, gelap dan terang, tinggi dan pendek, muda dan tua, juga kaya dan miskin”

Syan mendengarkan.

“Jadi, aku ada dengan keadaanku. Aku kaya, terimakasih pada Ayahku. Tapi jika saja aku sebaliknya, tidak punya harta, tidak bisa mengajakmu kemana-mana dengan mobil yang bagus, makan di tempat yang enak, bercengkerama di tempat yang nyaman. Apa kau masih akan bersama denganku, Syan-a?”

Pertanyaan di kalimat itu mengandung kegelisahan dan Syan menangkapnya. Agak lama mereka terdiam dan membiarkan otak Syan meresapi apa sebenarnya yang dimaksud oleh pria yang kini sudah duduk dan memeluk lututnya itu.

Syan memandangi punggung Suho dan mencoba menerka, tapi takada bayangan yang muncul di pemikirannya.

Oppa tiba-tiba bertanya seperti ini, karena apa?”

Justru dia bertanya.

Syan memang tidak tahu, beberapa hari yang lalu saat Suho sedang menunggunya untuk bertemu di sebuah cafe untuk kegiatan minum kopi dan berbagi cerita mereka, dia melihat adegan antara sepasang kekasih yang inti konversasinya seperti memercik ke hati Suho bagai air dingin.

 

“Aku memutuskanmu, apa kau tidak dengar barusan?”, si perempuan yang entah siapa itu berucap dengan nada tinggi.

“Tapi kenapa?”, suara si pria terdengar lemah.

“Aku lelah denganmu! Kau tidak bisa membelikanku ini dan itu, selalu mengeluhkan tentang pekerjaanmu, uangmu selalu kurang untuk membayar tempat tinggal kita. Dan aku sudah lelah naik bus! Aku lelah hidup menderita”

 

Si pria tidak menjawab, mungkin menyadari bahwa apa yang baru ia dengar adalah kenyataan. Dan perempuan itu pergi begitu saja, meninggalkan luka di hati pria itu, juga memercik hati Suho yang tak sengaja mendengar percakapan mereka.

Pria itu ditinggalkan karena uang.

Maka dari itu banyak yang mengatakan bahwa perempuan itu materialistis? Gila harta? Apa perempuannya juga?

Pemikiran yang mengusik.

Tapi sekarang, setelah menanyakannya pada perempuannya, hatinya justru makin terusik. Rasanya tidak benar karena dia menyama-nyamakan setiap perempuan dengan sesuatu yang hanya muncul sekejap di depan mata kehidupannya, padahal dia sudah bersama Syan semenjak masih duduk di bangku kuliah, sudah tiga tahun sejak dia yakin dia memang cocok dengan perempuan itu, sudah tiga tahun sejak dia merasa lebih bahagia.

Oppa?”

Melihat kekasihnya yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya, Syan menggamitkan lengannya ke lengan Suho dan membuat dirinya bersandar pada bahu pria itu.

“Aku tidak tahu kenapa oppa tiba-tiba membicarakan tentang hal ini, tapi kalau harus menjawab…” Syan menarik nafasnya “…aku yakin masih akan ada di samping oppa, dan bersama oppa

Suho yang mendapati jawaban itu memandang wajah kekasihnya, perempuan itu terlihat serius dengan perkataannya.

“Apa? Tidak percaya?”, Syan memanyunkan bibirnya dan memberi tatapan tajam tepat ke mata kekasihnya yang memang terlihat tak percaya mendengar apa yang ia katakana barusan.

Suho salah tingkah. “Bukan, hanya saja kem—“

“Karena aku jatuh cinta pada oppa, bukan pada uang atau harta oppa. Bukan dengan mobil oppa yang bisa mengantarku kemana saja, atau restoran yang bisa oppa bayar untuk menyediakan makanan yang aku suka. Tidak. Aku jatuh cinta pada oppa, pada perhatian, kasih sayang dan pengertian yang selama ini diberikan padaku”

Syan menjelaskan panjang lebar sebelum Suho bahkan sempat memberi alasan. Sebuah senyum tersungging di bibirnya secara ikhlas, ia mengerlingkan kepalanya dan membuat manik mereka terpaku.

“Jika memang oppa kaya, itu adalah bonus”, tambahnya.

Suho kini ganti mendengarkan.

“Jika seandainya oppa miskin pun, setidaknya kita masih sama-sama mencinta, seperti bintang-bintang itu yang sama-sama bersinar. Karena aku bertemu oppa, bukan uang oppa. Karena aku mengenal oppa bukan mobil oppa. Bukankah dulu, awalnya begitu?”

Syan lalu mengacak rambut hitam Suho, pria itu masih meresapi kalimat kekasihnya.

“Sudah jangan berpikir macam-macam”, lanjut Syan.

Gelisah dan air dingin yang memercik hati suho menyublim hilang dengan segera.

“Dan kata ‘seandainya’ dan ‘bila’ itu adalah racun, jadi jangan sering-sering menggunakannya. Yang perlu oppa lakukan adalah bersyukur dengan kehidupan yang ada sekarang, bukan malah berandai-andai”

Kerucut di bibir Syan muncul lagi, membuatnya terlihat manis. Kekeh pun akhirnya lepas dari bibir Suho.

“Aku memang bodoh. Dan jika kukatakan alasan aku menanyakan ini padamu kau pasti akan menertawakan aku”

Suho menghela nafas dengan berat sebelum mengambil tangan Syan dan mengecupnya. “Terimakasih sudah menjawab, Syan-a”

Syan mengangguk. Sebenarnya masih kurang mengerti dengan kejadian ini, tapi dia diam. Semakin lama bersama dengan Suho, nanti juga lama-lama dia paham.

“Dan aku suka tempat ini”

“Kau yakin?”

Syan mengiakan dengan anggukan. “Mungkin lain kali oppa bisa mengajakku kencan kesini lagi”, gamitan di lengan Suho mengerat.

“Bintang itu terang sekali, kau lihat?” Suho menunjuk dengan jarinya sebagai pengalih perhatian, yang diikuti manik Syan secara syahdu, mereka memandangi bintang di dekat sungai Han, yang sinarnya seakan menertawakan pemikiran bodoh Suho, tapi juga tersenyum atas jawaban Syan.

Karena yang namanya cinta memang dari hati ke hati, bukan hati ke harta.

Untuk perempuan yang materialistis, mungkin tujuan cinta mereka belum nyata.

.

.

Ya, mungkin saja.

.

.

fin

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=9a2e69b0-293b-48ad-ba05-b493e4211662

Advertisements

4 thoughts on “[FF Freelance] No Money

  1. Judulnya simpel tapi makna dari ceritanya bagus 👍👍

    Aku agak gak suka sama kata ‘kok’ diatas? Karena kamu sudah pakai bahasa baku tiba-tiba ada ‘kok’

    Aku dulu kebiasaan juga pakai ‘kok’ ‘doank’ bahasa2 gaul dan sekarang membiasakan menghilangkan kata-kata itu.

    Alurnya sudah bagus aku suka dengan penggambarannya , good job keep writing 😊

    Like

    1. oh gitu ya, sebenernya aku coba-coba aja pakai ‘kok’ itu makanya aku italic, iya ga sih? /nah lupa/
      makasih masukannya, lain kali diinget-inget kalau udah baku ga pake yang aneh-aneh XD
      makasih reviewnya 🙂

      Like

  2. Hiiii riseuki ^^
    Hahahahah ini ceritanya sederhana tapi pembawaannya unikkkk 😀
    Suka sama ceritanya sederhana dan sangat realita sekali kkkk kadang2 cwok di real sukanya ngomong kayak gitu😂 ini kamu malah buat ff ttg itu , kerenlah pokoknya.
    Keep writing ya ☺

    Like

    1. Aigu, gomawo review-nya fini 🙂
      iya nih, aku kebanyakan dapet ide malah dari apa yang emang ‘real’ gitu krn kadang kalo mau nge-fantasy jatohnya aneh, masih harus trs belajar nih.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s