Angst · AU · Drama · Family · Hurt · One Shoot · PG 17+ · Romance · sad · Song Fic

[Songfict] Beautiful Liar


beautiful liar

[Oneshot/Songfict] Beautiful Liar

Author: Pinkchaejin

Rate: PG 17+

Length: Oneshot

Genre: angst, sad, romance

Songfic from: VIXX LR – Beautiful Liar

Cast:

-Kim Seok Jin (Seokjin)

-Han Chae Young (Chaeyoung)

-Shin Eun Ha (Eunha)

 

“This is a beautiful lie

My last lie

Even if it hurts to death

I am hiding myself under a mask for you

It’s alright if you leave me

I want you to be happy” – Beautiful Liar

-Happy Reading-

 

Pertama, perpisahan.

 

Tidak satupun pasangan yang menginginkan adanya perpisahan. Perpisahan bukanlah suatu hal mudah yang dapat dihadapi oleh setiap pasangan. Dan perpisahan bukanlah suatu hal yang diharapkan oleh sepasang kekasih yang saling mencintai. Karena kekuatan cinta akan terus bertambah seiring kedua sejoli yang saling mencintai tersebut tetap mempertahankan hubungan keduanya hingga waktu sendiri yang akan memisahkan. Lalu, bagaimana perpisahan yang sedang dimaksud? Apakah perpisahan yang terjadi dikarenakan takdir Tuhan? Ataukah perpisahan yang terjadi karena keegoisan salah satu dari pasangan kekasih tersebut? Atau juga terjadi karena ada pihak lain yang tidak mendukung atau tidak merestui? Ada banyak macam perpisahan dan butuh banyak penjelasan untuk memahaminya. Kesimpulannya, setiap pasangan kekasih yang saling mencintai pasti tidak pernah menginginkan adanya perpisahan. Mereka ingin hidup bersama, selamanya. Mungkin mereka terlalu egois, namun itulah yang dinamakan cinta. Egois untuk memiliki satu sama lain dalam arti memiliki perasaan cinta terhadap sang kekasih, bukan egois terhadap nafsu dan gairah untuk memiliki segala sesuatu yang ada.

 

Kedua, kejujuran.

 

Kejujuran sangat penting untuk setiap pasangan. Dengan adanya kejujuran, setiap pasangan akan selalu jujur akan apa yang dilakukannya dan membuat keduanya tetap hidup bersama tanpa ada sebuah hal yang disembunyikan. Jujur dalam segala hal akan membuat sang kekasih merasa tenang tanpa khawatir jika pasangannya berbohong di belakangnya. Namun, apakah jujur dalam segala hal juga baik? Jujur dalam perbuatan yang benar tentu akan membuat semua baik-baik saja. Namun bagaimana jika jujur dalam perbuatan yang tidak disukai oleh pasangannya? Bahkan dapat membuat sang kekasih akan merasa sedih dan sakit hati. Tetapi, kejujuran dalam cinta sangatlah diutamakan. Maka, berkata jujurlah pada pasangan masing-masing. Satu hal yang harus diketahui, jangan sekalipun kalian membohongi sang kekasih. Suatu kebohongan yang disimpan secara terus-menerus akan terungkap juga. Kebohongan bukanlah suatu hal yang indah. Justru orang yang melakukan kebohongan merupakan seseorang yang sangat pengecut.

 

Ternyata ada banyak hal yang harus dipahami tentang cinta. Cinta itu bukan asal mencintai, menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, lalu memilih antara melanjutkan sampai ke jenjang pernikahan atau berakhir di tengah jalan. Cinta itu harus saling memahami, saling berkata jujur atas perkataan masing-masing, saling menjaga, dan saling mempertahankan. Terkadang cinta dapat membutakan seseorang. Tidak peduli apa yang terjadi pada dirinya, yang penting adalah ia tetap bersama sang kekasih selamanya.

 

***

 

June 2015

 

“Aku mencintaimu, Chae-ya.”

“Aku juga mencintaimu, Seokjin-ah.”

 

Bayangan-bayangan dimana dan kapan kejadian itu berlangsung kembali terbayang-bayang di kepala, kemudian membentuk sebuah rangkaian cerita seakan sedang menceritakan film romantis yang manis. Saat-saat kalimat pernyataan cinta itu mulai terucap dengan latar tempat yang sangat romantis, taman bunga sakura. Meraih seonggok perasaan yang sejak dahulu tersimpan kini akhirnya terungkap secara manis dan indah. Kemudian membuat kedua sejoli tersebut saling tersenyum canggung setelah lega mengucap perasaan yang sebenarnya melekat pada hati masing-masing. Bayangan-banyangan manis itu membuat sang pemilik bibir berwarna pink cherry yang bernama Han Chaeyoung itu tersenyum merekah. Ditambah dengan sebuah pesan LINE yang tiba-tiba masuk dan membuat ponselnya mengeluarkan sebuah bunyi yang lucu. Ternyata pesan LINE itu dari sang kekasih yang mengajaknya untuk bersenang-senang. Refleks gadis itu membiarkan otaknya memerintah tubuhnya untuk berguling-gulingan di atas ranjang empuk yang telah menjadi kerajaan ternyamannya selama ini. Hatinya bahagia. Bahagia karena memiliki kekasih yang sangat mencintainya. Bahkan dirinya bersumpah tidak akan berpaling dari pria lain selain kekasih hatinya itu. Hanya dia yang bisa memasuki hatinya. Selain itu tidak ada lagi pria yang bisa menarik perhatiannya selain dia. Dia merupakan pria yang perhatian, penyayang, dan pengertian. Bahkan ia mengkategorikan kekasihnya itu sebagai pria teromantis yang pernah ada.

 

“Pagi, Chae-ya. Mau ke kafe denganku hari ini?”

 

Itulah sederet kalimat manis yang membuat Chaeyoung berguling-gulingan di atas kasurnya. Ya, begitulah wanita. Mereka selalu senang dan serasa terbang melayang-layang jika sang pria sudah mengiriminya sebuah pesan. Oke, itu baru sebuah pesan. Belum lagi jika sang pria menelfonnya. Tunggu dulu, sepasang kekasih pasti akan selalu bertelfonan sebanyak puluhan kali dalam sehari. Jika tidak percaya, tanyakanlah pada teman-temanmu yang sudah memiliki kekasih. Tetapi dengan satu catatan, bertanyalah pada sepasang kekasih yang sudah ternilai bagaimana romantisnya. Jangan bertanya pada sepasang kekasih yang asal cinta lalu berpacaran, kalian pasti tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.

 

“Tentu saja. Dimana kau sekarang?”

 

Belum sampai satu menit pesan itu terkirim, langsung saja yang dikirimi pesan mengirimkan balasan untuknya.

 

“Buka tirai jendela kamarmu.”

 

Sesuai instruksi, Chaeyoung pun membuka tirai jendela kamarnya. Tampaklah sosok pria bertubuh tegap dengan menunjukkan bibir tebalnya yang kini mengukir sebuah senyuman pada Chaeyoung. Senyum manis sang kekasih menuntun dirinya untuk juga tersenyum manis padanya. Bersamaan pada saat itu, bunga-bunga sakura yang berada di halaman rumahnya berguguran karena terpaan angin. Membuat suasana sekitar tampak seperti sedang hujan bunga. Kemudian, sang pria pun memberikan isyarat untuknya untuk segera berdandan cantik dan keluar menemuinya.

 

“The fact that we loved is beautiful.” – Beautiful Liar

 

~~~~~~

 

Aroma wangi yang berasal dari cangkir-cangkir kopi di setiap meja menjadi salah satu ciri khas kafe favorit Seokjin. Aroma tersebut selalu menyeruak ke setiap sudut ruangan yang akan membuat sang pelanggan ketagihan untuk membeli dan membeli sebuah menu yang sangat laris dan difavoritkan oleh banyak orang, yaitu Coffee Latte. Menu itulah yang menjadi menu favorit kafe tersebut. Benar saja, sebuah meja yang ditempati oleh Seokjin dan Chaeyoung terdapatlah dua cangkir Coffee Latte di atasnya, ditambah cemilan-cemilan kecil berupa roti yang cocok untuk makanan pengganjal perut di pagi hari.

 

Happy anniversary, Chae-ya.”

 

Chaeyoung mendongak ke arah Seokjin. Secangkir Coffee Latte yang berada di genggamannya pun tidak jadi sampai di depan bibirnya. Seokjin mengeluarkan sebuah bingkisan. Bingkisan imut berwarna pink dihiasi juga dengan pita berwara ungu diatasnya dengan motif bergambar hati. Oh, sungguh romantis hubungan kedua sejoli ini. Buktinya, lihatlah beberapa pelanggan yang ada di kafe itu. Beberapa diantaranya tampak sejenak melirik ke arah Seokjin dan Chaeyoung dengan tatapan iri. Seakan-akan sedang berargumen bahwa betapa romantisnya mereka.

 

“Ya Tuhan, aku sampai lupa hari ini adalah anniversary ke 1 tahun. Happy anniversary too, Seokjin-ah.”

 

Seokjin tertawa kecil. Untuk masalah tanggal anniversary mungkin tidak terlalu penting bagi Chaeyoung. Gadis itu lebih mementingkan rasa cintanya terhadap Seokjin ketimbang mengingat tanggal anniversary. Alasannya, lebih mudah mencintai Seokjin daripada menghafal tanggal anniversary. Beruntunglah salah satu dari mereka selalu ingat tanggal berapa mereka resmi menjadi pasangan kekasih. Setiap bulan Seokjin tidak pernah absen mengucapkan ‘happy anniversary’ satu kali, tepatnya di tanggal 27. Jika absen, mungkin hal tersebut patut dipertanyakan.

 

“Apa ini?” Ujar Chaeyoung sembari menatap bingkisan yang diberikan Seokjin untuknya.

“Sesuatu yang sangat kau sukai.”

“Yang sangat kusukai? Hmmm.. Oh, ada suatu hal yang sangat kusukai.”

“Apa?”

“Seorang pria.”

“Seorang pria? Hei, diam-diam apa kau mempunyai simpanan?”

“Menurutmu siapa pria itu? Apakah aneh jika aku mempunyai simpanan? Ya tentu saja aku menyukaimu, Kim Seokjin.”

 

Lagi-lagi Seokjin hanya bisa tertawa kecil mendengar jawaban polos Chaeyoung. Kemudian ia membiarkan sang kekasih membuka bingkisan tersebut. Yap! Terbuka. Chaeyoung tampak bahagia melihat apa yang didapatkannya. Sebuah barang yang selama ini ia taksir, namun ia belum bisa membelinya berkat isi celengan dan saldo kartu kreditnya yang tinggal sedikit. Sebuah silikon iPhone berwarna biru cerah yang ditengahnya terdapat ilustrasi pohon sakura yang menghiasinya. Gadis penyuka bunga sakura itu kemudian tersenyum manis. Berkali-kali saat ia dan Seokjin melewati toko yang menjual benda tersebut, Chaeyoung selalu berkata bahwa ia ingin membelinya. Kini ia tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk itu, karena benda incarannya kini sudah berada ditangannya. Seulas senyum kembali terukir di bibir cherrynya. Bahagia karena semakin hari Seokjin semakin perhatian padanya.

 

Ia selalu berharap agar hubungan mereka akan selamanya seperti ini. Manis, romantis, tanpa ada gangguan apapun.

 

“I’m tainting our memories that were beautiful

I haven’t imagined a life without you yet but please be happy

So that at least my lie can shine.” – Beautiful Liar

 

***

 

July 2015

 

Prang!

 

Suara piring dan gelas pecah kini menjadi sebuah musik favorit di kediaman keluarga Kim. Benda-benda pecah itu bermula dari sang Ayah dan Ibu yang akhir-akhir ini sering bertengkar dikarenakan membahas soal pekerjaan mereka. Keduanya sama-sama memiliki kesibukan tersendiri dengan pekerjaannya masing-masing dan akhirnya jarang memiliki waktu di rumah dan lama kelamaan hubungan mereka semakin merenggang, merenggang, dan akhirnya timbullah sebuah pertengkaran yang membahas soal pekerjaan siapa yang paling penting dan menghasilkan uang yang paling banyak. Mempertimbangkan siapa yang harus bekerja dan siapa yang harus menjaga rumah. Membahas soal uang, uang memang dapat membuat manusia tergila-gila akan kekayaan dan kemudian mempertuhankan uang sebagai tujuan dalam hidupnya. Uang tidak selalu membawa dampak baik untuk kehidupan. Contohnya hal yang kini sedang terjadi. Itulah hebatnya uang, uang bisa menyebabkan pertengkaran hebat seperti yang sedang berlangsung saat ini. Sepertinya kedua sejoli itu tetap berusaha mempertahankan keegoisan masing-masing tanpa memikirkan ada anak tunggal mereka yang bernama Kim Seokjin yang selalu mengamati mereka secara diam-diam dengan perasaan yang sangat sedih. Oh, apakah mereka tidak tahu bagaimana perasaan anak saat mereka bertengkar seperti itu?

 

“Seorang istri seharusnya dirumah mengurus anak dan mengurus pekerjaan rumah. Fungsi suami adalah untuk mencari nafkah. Dan apakah kau bisa seenak jidat mengatakan bahwa kau yang akan mencari nafkah? Lalu aku harus menjadi apa? Ayah rumah tangga? Tidak tahukah pernyataanmu itu sangat konyol?”

“Lagipula gajimu masih jauh dibawahku. Kusarankan kau berpikir minimal dua kali untuk menyuruhku berhenti bekerja.”

 

Seokjin hanya bisa menghela nafas mendengar perdebatan dingin diantara kedua sejoli yang ia sebut ‘Ayah dan Ibu’ itu. Sebagai anak, tentu ia tidak tahu harus berbuat apa ketika kedua orang tuanya sedang banyak masalah dan akhirnya terjadilah pertengkaran seperti yang sedang berlangsung saat ini.

 

Hanya Chaeyoung-lah yang bisa dijadikan tempat pelariannya untuk semua ini. Gadis itu yang bisa membuat hidupnya menjadi tenang. Dengannya, ia tertawa. Dan dengannya, ia bahagia. Segera ia meraih sepatu sport nya, memakainya kemudian merapikan penampilannya. Sudah dapat ditebak bahwa pria itu akan pergi menemui kekasihnya. Ia pun melangkah keluar dari ruang kamarnya. Berjalan santai. Tanpa sapaan pada dua orang yang sedang berselisih itu. Kemudian sang Ayah akhirnya menegur dirinya. Membuat Seokjin sedikit tertawa miris.

 

“Mau kemana kau? Apakah sopan pergi tanpa berpamitan kepada orang tua?” Tegurnya.

“Untuk jawaban atas pertanyaanmu, lebih baik tanyakan pada dirimu sendiri, Ayah.” Ucap Seokjin ketus. Rasa benci kepada kedua makhluk yang berada di hadapannya semakin menjadi-jadi ketika ia menatap mereka.

“Hei, sekarang lihatlah anakmu. Semakin besar semakin menentang pada Ayahnya sendiri. Itu semua salahmu karena tidak bisa mendidiknya dengan baik.” Ucap Tuan Kim sembari menatap istrinya dingin.

“Oh, apa itu pendapatmu?” Balas Nyonya Kim tak kalah dingin.

“Bukan hanya Ibu yang salah mendidikku, tetapi kau juga tidak pernah memperhatikan anakmu sendiri. Ayah seperti apa kau ini?!” Sela Seokjin dengan emosi yang meluap-luap. Kemudian kakinya menendang keras vas bunga berukuran besar yang berada di samping meja TV hingga jatuh dan hancur berkeping-keping. Apakah kalian tahu? Vas itu merupakan benda mahal dan menjadi benda kesayangan bagi Nyonya Kim. Dan sekarang inilah akhir hayat dari vas tersebut. Hancur bertebaran di seluruh penjuru lantai.

“Apa yang kalian bahas dari tadi? Uang? Pekerjaan? Kekayaan? Makan itu semua! Jika uang kalian banyak, mengapa hanya piring dan cangkir yang ikhlas kalian banting? Bukan membanting vas mahal yang barusan kutendang ini. Bukankah lebih puas jika menghancurkan barang-barang yang berukuran besar dan mahal? Oh, apakah aku juga harus membantu untuk menghancurkan guci-guci mahal kesayanganmu, Ibu? Atau menginjak-injak laptop bermerek apple mu itu, Ayah? Ah, TV LCD ini juga merupakan barang yang menarik untuk dihancurkan. Bahkan rumah ini juga merupakan bangunan yang cocok untuk digusur. Kekayaan ini semuanya sampah! Kalian pikir aku bahagia dengan semua ini?” Ujar Seokjin dengan suara meninggi. Membuat seisi rumah menjadi hening hingga pembantu-pembantu dan tukang kebun bisa menghentikan aktivitasnya dan diam-diam mereka pun memperhatikan Seokjin yang kini meluapkan segala amarahnya.

 

“Jangan salahkan siapapun jika aku berbuat hal-hal yang tidak selayaknya dilakukan. Karena kalian berdua tidak pernah mendidikku. Pegang ucapanku itu!”

 

Setelah puas mengucapkan apa saja yang ingin diucapkannya, Seokjin pun segera beranjak keluar dari rumah mewah tersebut dan pergi bersama mobilnya. Pergi ke sebuah tempat yang bukan menuju arah rumah Chaeyoung. Tetapi menuju ke sebuah tempat penghasil dosa dan maksiat, yaitu bar. Tempat dimana berkumpulnya orang-orang frustasi yang ingin menyehatkan pikirannya dengan bermabuk-mabukan serta rela membayar gadis-gadis murahan dengan harga yang sangat besar demi memuaskan nafsunya. Sebuah tempat yang memperkenalkan bagaimana sebuah kehidupan menyedihkan yang dijalani oleh para pelacur bar yang rela menjadi kelinci percobaan para lelaki untuk melakukan sebuah hubungan intim yang sebenarnya tidak boleh dilakukan pada orang yang belum menikah. Semua itu mereka lakukan demi uang. Bahkan mereka tidak peduli bahwa yang mereka lakukan adalah dosa besar.

 

“Even if it hurts to death

I am hiding myself under a mask for you

It’s alright if you leave me.” – Beautiful Liar

 

***

 

August 2015

 

“Mengapa?”

 

Isakan kecil itu masih terus keluar dari bibir mungilnya. Tampaklah dari wajah tersebut gadis itu sedang merasa kecewa. Kecewa pada seorang pria yang kini tertunduk menyesal di hadapannya.

 

“Selama ini kau tidak pernah melupakan tanggal 27 itu tanggal apa. Kemarin, pertama kalinya aku mengingat tanggal itu. Dan pertama kalinya kau melupakan tanggal itu. Kau sama sekali tidak mengucapkan apapun padaku, bahkan mengucapkan lewat pesan LINE saja nihil. Sebenarnya ada apa denganmu belakangan ini? Mengapa kau seakan menjauh dariku? Mengacuhkanku? Apa salahku, Seokjin-ah? Mengapa kau sekarang banyak berubah?” Ucapnya sembari menahan isak tangis.

 

Tidak ada sepatah jawaban pun yang terucap di bibir Seokjin. Pria itu tidak bergeming lagi ketika melihat sang kekasih kini menangis dihadapannya. Ia tidak tahu bagaimana cara ia meminta maaf pada gadisnya. Masalah yang sedang terjadi disini adalah, Seokjin melupakan tanggal 27 yang merupakan hari jadi mereka. Apakah yang sedang terjadi sehingga bisa-bisanya Seokjin melupakan sebuah tanggal yang selalu ia ingat? Tak tahukah itu membuat sang kekasih menaruh rasa curiga terharapnya? Baiklah, itu memang berlebihan. Tetapi masalah disini adalah bagaimana bisa seorang Kim Seokjin yang selalu mengingat tanggal 27 kini bisa melupakannya? Seokjin sendiri kini seperti orang linglung yang bingung dengan apa yang harus ia katakan pada Chaeyoung. Langsung saja ia memeluk tubuh rapuh gadisnya yang masih menangis tersedu-sedu. Direngkuhnya tubuh itu ke dalam pelukan hangatnya.

 

“Maaf,” Ucapnya tertahan, “Maafkan aku karena belum mampu menjadi pria yang baik untukmu. Aku tidak pernah menjadi kekasih yang sempurna. Aku orang yang sangat bodoh.”

 

“Aku sangat bodoh karena telah menyia-nyiakanmu.” Bisik Seokjin perlahan. Untunglah kalimat itu tidak didengar oleh Chaeyoung. Karena sederet kalimat itu memiliki sebuah arti lain yang akan menjebloskan dirinya ke sebuah lubang penyesalan.

 

“Aku sangat mencintaimu, Chae-ya. Maafkan aku jika aku pernah menyakitimu.” Lirih Seokjin. Kemudian Chaeyoung pun perlahan melepaskan pelukannya.

“Jika kau masih mencintaiku, kau harus berjanji bahwa hanya aku gadis yang kau cintai. Jika kau tidak bisa menepatinya, kukira semua hubungan ini cukup berakhir sampai disini.”

 

Kata-kata itu bagaikan ribuan pedang yang datang menusuk. Rasanya seperti disulap menjadi patung es ketika mendengar kalimat itu. Seokjin tidak pernah berharap jika kata-kata itu akan keluar dengan sendirinya dari mulut Chaeyoung. Ia sangat mencintai gadis itu. Namun disisi lain, ia tidak bisa menepati apa yang telah diterangkan oleh Chaeyoung dalam perkataannya. Mengapa? Apakah ada sesuatu yang dirahasiakan Seokjin?

 

“Jawab aku, Seokjin-ah.”

 

Tenggorokan Seokjin tercekat, rasanya ia tidak bisa berkata apa-apa. Ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan saat ini. Ia seperti sedikit memiliki penghambat hanya untuk mengatakan ‘hanya kau yang kucintai’ pada Chaeyoung. Selama ini Seokjin tidak pernah membohongi Chaeyoung. Dan ia tidak pernah bisa untuk berkata bohong pada Chaeyoung.

 

Sebutir air mata Chaeyoung mengintip dari ekor matanya yang indah lalu ketika ia memejamkan matanya, tampak air tersebut mengalir dan meninggalkan jejak yang panjang di wajahnya bak sebuah kristal indah yang mencair menjadi air seperti es. Sejuta rasa kecurigaan yang ditujukan kepada Seokjin terus saja menghantui dirinya. Ini kali pertama ia mulai memiliki rasa curiga pada Seokjin. Rasanya Seokjin yang dulu telah menghilang. Seokjin yang sekarang perlahan mulai berubah. Dan perubahan itu bukanlah suatu hal yang diinginkan oleh Chaeyoung.

 

“Maafkan aku jika aku membuatmu bosan. Aku tahu bahwa aku hanyalah gadis membosankan yang pernah muncul di dalam kehidupanmu. Jika memang kau ingin hubungan kita berakhir, berarti detik ini juga…”

 

Chup~

 

Ucapan Chaeyoung terhenti seketika ketika Seokjin langsung menarik bahunya kemudian mengarahkan bibir tebal miliknya untuk bertemu dengan bibir pink cherrymilik Chaeyoung dan melumatnya dengan lembut.

 

“Aku mencintaimu, Chae-ya.” Ucap Seokjin sembari menatap dalam mata Chaeyoung dengan tatapan lirih.

“Kau benar-benar mencintaiku, bukan?”

“Tentu.”

 

“You keep shedding tears in front of me

It was an unexpected line that led to the next chapter

You told me to take back the words I spit out

As you hold onto my face

Then you collapsed off your feet

This isn’t the future I thought of.” – Beautiful Liar

 

***

 

September 2015

 

Lagi dan lagi, Seokjin pergi dari rumah sebab pertengkaran kedua orang tuanya kembali mendidih. Entah mengapa, pria itu kini suka berkunjung ke bar untuk menghibur dirinya. Menemui gadis-gadis cantik nan seksi yang rela menjual harga diri demi uang. Tidak jarang juga Seokjin membayar mereka untuk melakukan sebuah hubungan intim yang sebenarnya tidak boleh dilakukan untuk orang yang belum menikah. Dengan hancurnya hubungan keluarga, mungkin itulah yang membuat Seokjin sangat frustasi hingga melampiaskan segalanya pada gadis-gadis bar.

 

“Hei, Shin Eunha-ya!” Ucap Seokjin memanggil salah satu gadis yang sedang duduk di sebuah sofa bersama gadis-gadis seksi lainnya.

“Oh, hai Seokjin-ah!” Balas gadis bernama Eunha itu sembari berjalan ke arah Seokjin.

 

Seokjin terpana dengan tubuh seksi Eunha. Diantara semua gadis, Eunha lah yang paling memuaskan nafsunya. Walaupun Seokjin pernah melakukan sebuah hubungan intim dengan gadis yang lain, ia lebih sering melakukannya dengan Eunha dengan bayaran yang cukup mahal. Itu tadi alasannya, karena Eunha yang paling memuaskan nafsunya, ditambah keseksian dan kemolekan tubuhnya.

 

“Ini gajimu. Sekarang ikut aku.” Ucap Seokjin sembari memberikan sebuah amplop coklat berisi uang yang sangat banyak. Kemudian ia pun mengajak gadis itu masuk ke dalam mobilnya.

 

“Sepertinya kau sangat menyukaiku, Kim Seokjin.” Ujar Eunha sembari menatap Seokjin yang sibuk mengemudikan mobilnya. Seokjin hanya tersenyum hambar menanggapi ucapan Eunha.

 

Mobil itu pun berhenti tepat di depan sebuah hotel megah nan mewah. Kemudian kedua manusia yang ada di dalamnya pun keluar secara bersamaan. Memasuki hotel tersebut sembari bergandengan mesra. Akhirnya langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah kamar yang telah dipesan oleh Seokjin. Tak butuh banyak perbincangan lagi, segera Seokjin membuka kunci kamar tersebut dan mengajak Eunha masuk ke dalamnya.

 

Nice place!” komentar Eunha sembari memandangi seisi kamar tersebut.

“Dan, aku menginginkan sesuatu.” Celetuk Seokjin sembari memegang bibirnya.

“Oke, aku mengerti.”

 

Chup~

 

Langsung saja Eunha melumat basah bibir Seokjin, ditambah juga Seokjin yang membalas lumatan Eunha dengan penuh gairah. Bahkan lidah pun ikut bermain. Mungkin yang dilakukan mereka semacam french kiss yang sungguh nikmat. Kemudian disusul tangan Seokjin yang nakal alih-alih merayap menuju buah dada Eunha dan meremasnya dengan pelan hingga membuat desahan-desahan kecil keluar dari mulut Eunha.

 

Dan malam itu mereka lewati dengan berbagai aksi adegan ranjang yang cukup memuaskan nafsu Seokjin. Pria itu seakan lupa jika ia memiliki kekasih bernama Han Chaeyoung yang sangat mencintainya.

 

“I am hiding myself under a mask for you

I see myself in the mirror and I ask myself

Will it really make you happy if I let you go?” – Beautiful Liar

 

~~~~~~

 

Kicauan burung di pagi hari menandakan mulainya aktivitas baru manusia pada hari yang baru berganti. Pagi adalah waktu yang menentukan bagaimana manusia memulai aktivitasnya. Kembali pada Seokjin dan Eunha, kini Seokjin tengah memandangi pemandangan dari balik jendela. Perasaan bersalah pada Tuhan, pada kedua orang tua, juga pada Chaeyoung kini melanda hatinya yang kacau. Entahlah, nafsu apa yang sudah mempengaruhinya untuk berbuat hal yang telah sedemikian jauhnya.

 

“Seokjin-ah.”

 

Tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dengan mesra. Memeluk pinggangnya dari belakang dan gadis itu juga menyandarkan kepalanya di punggung Seokjin. Menggeliat manja seperti layaknya seorang suami-istri.

 

“Aku mencintaimu, Kim Seokjin.” Celetuk Eunha yang sukses membuat Seokjin terkejut bukan main.

“Maaf?”

“Aku mencintaimu, Seokjin-ah.”

“Tetapi, sudah ada seseorang yang kucintai. Dan itu bukan kau.”

 

Seketika itu pelukan Eunha pada Seokjin pun terlepas. Membuat Seokjin berbalik badan menghadap Eunha.

 

“Apa?!” Eunha menatap Seokjin dengan marah, “Lalu apa gunanya selama ini kau mengajakku berbuat semikian, hah? Kupikir kau benar-benar menyukaiku! Maka dari itu aku mau melakukannya denganmu.”

 

Seokjin tertawa miris mendengar kalimat super pede dari Eunha. Ternyata kehidupan sebagai seorang wanita penunggu bar itu sangatlah menyedihkan.

 

“Aku melakukan ini untuk menghibur diriku. Pernahkah kau nyaman jika di rumahmu kau memiliki orang tua yang suka bertengkar? Aku merasa suntuk, tidak nyaman, apalagi mendengar banting-bantingan piring dan gelas. Itu yang kurasakan. Dan dengan cara inilah aku menghibur diri.”

 

Eunha menatap benci pada Seokjin. Langsung saja tangan itu melayang menampar pipi Seokjin dengan keras.

 

“Atas dasar apa kau menamparku?!” Ucap Seokjin dengan suara meninggi.

“Dasar cabul!”

“Apa tidak cukup besar gaji yang kuberikan? Jika kau ingin meminta tambahan, katakan saja! Lagipula itu memang resiko pekerjaanmu sebagai pelacur, bukan? Mungkin aku tidak perlu bertanya berapa kali kau melakukan aborsi, kurasa sudah berkali-kali.”

“Oh, baiklah terserah apa katamu. Yang jelas, kupastikan hidupmu akan hancur.” Ancam Eunha.

“Begitukah? Dan kurasa sudah berkali-kali ucapanmu barusan keluar dari mulutmu, karena ucapan itu mungkin bukan hanya pernah kau tunjukkan padaku, tetapi pada pria-pria lain yang juga mencabulimu. Tsk, dasar murahan.”

“Ini kehidupanku, bukan kehidupanmu. Kau itu…”

“Kalau begitu menurutmu, berarti aku punya hak untuk menolak cintamu, bukan? Karena ini kehidupanku, bukan kehidupanmu.”

“Banyak sekali omongan tidak bergunamu itu, kupastikan aku akan melaporkanmu pada polisi atas perlakuanmu semalam!”

“Laporkan saja jika kau mau. Aku akan berterima kasih padamu karena dengan begitu, orang tuaku tidak akan sibuk bertengkar, tetapi sibuk mengurusiku di kepolisian.”

“Kau ini benar-benar manusia kepala batu! Tsk, apakah kau tahu betapa muaknya aku melihat wajahmu? Sebelum kau keluar dari tempat ini, aku yang akan keluar terlebih dahulu.”

“Dengan senang hati, nona Shin. Aku mempersilahkanmu keluar dari tempat ini.” Seokjin tertawa kecil setelah mengucapkan kalimat barusan.

“Diam kau keparat! Kau kira aku sedang bercanda?”

 

Langsung saja Eunha menyambar tasnya, kemudian keluar dari kamar tersebut dengan wajah yang menahan amarah. Sementara Seokjin, ia hanya menatap datar kepergian Eunha. Kemudian ia menghela nafas panjang, tak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukannya. Mungkin setan-setan jahat itu juga telah memperdayai nafsunya sehingga Seokjin dengan mudahnya terkena tipu daya setan yang menyesatkan dirinya.

 

“I have to kill myself inside

Swallow my tears.” – Beautiful Liar

 

***

 

Ancaman melaporkan Seokjin pada polisi tersebut tidak dilaksanakan oleh Eunha. Gadis bertubuh seksi itu ternyata memiliki akal yang cukup cerdas. Bukan pada polisi ia melaporkan tindakan Seokjin, tetapi melaporkannya pada kekasih Seokjin, Han Chaeyoung. Tetapi, dari mana ia bisa mencari tahu siapa kekasih Seokjin? Sebenarnya berawal dari display picture LINE Seokjin yang berubah menjadi foto selca nya dengan Chaeyoung. Lalu dengan rajinnya ia menelusuri dimana rumah Chaeyoung hanya berbekalkan ingatan bagaimana rupa wajah Chaeyoung. Tidak tidak, pasti sungguhlah mustahil untuk menemukan Chaeyoung tanpa mengetahui alamat rumah. Maka dari itu, mungkin memang takdir ketika pada suatu hari mereka berpapasan di sebuah supermarket. Tentu saja Eunha langsung mengenali Chaeyoung tanpa ragu. Dan dengan lancangnya langsung saja ia mengajak Chaeyoung untuk berbicara empat mata tanpa bertanya apakah hari itu Chaeyoung sedang sibuk atau tidak. Awalnya Chaeyoung sedikit bingung mengapa Eunha bisa mengenalinya. Barulah setelah Eunha mengucapkan nama Seokjin, Chaeyoung mau diajak bicara oleh gadis berperawakan seksi itu.

 

“Kau ini bicara apa? Mana mungkin Seokjin melakukan hal seperti itu.” Kilah Chaeyoung membela Seokjin atas ucapan Eunha yang dianggapnya tidak benar itu.

“Tidak percaya? Jika kau tidak percaya, lebih baik kau tanyakan saja pada dia sendiri. Kurasa Seokjin akan langsung gemetaran mendengar pertanyaanmu.”

 

Chaeyoung hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Eunha yang dianggapnya mengada-ada itu. Namun ia merasakan keanehan saat menyadari raut wajah Eunha itu tampak serius dengan ucapannya. Tidak ada sedikitpun gerak-geriknya yang menunjukkan bahwa gadis itu berbohong.

 

“Oh baiklah, lebih baik kita bicarakan hal ini di kafe seberang sana. Aku akan menelfon Seokjin untuk datang.” Ucap Chaeyoung pada akhirnya. Sebenarnya ia juga merasakan sedikit keanehan pada Seokjin yang akhir-akhir ini jarang mengajaknya kencan atau sekedar mampir ke rumahnya. Juga ia memang sudah lama menaruh curiga pada Seokjin yang menurutnya sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat rahasia darinya.

 

Eunha tersenyum puas mendengar keputusan Chaeyoung. Dan tentu saja Chaeyoung membatalkan niatnya untuk membeli daging cincang di supermarket itu.

 

“Jika aku tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari Seokjin, aku akan menyuruhmu untuk membeli daging cincang untukku di supermarket ini untuk mengganti ongkos tenagaku yang terbuang sia-sia.” Ujar Chaeyoung dingin sembari beranjak keluar dari supermarket tersebut dengan diikuti Eunha di belakangnya.

“Akan kupastikan si keparat itu akan mengakui perbuatannya. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya disembunyikan ia dibalik wajah tampannya, bukan? Tsk, dia itu benar-benar cabul!”

 

Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir Chaeyoung. Mungkin ini saatnya untuk mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Seokjin. Segera ia merogoh dompet ungunya dan mengeluarkan ponsel iPhone bersilikon sakura miliknya. Ah, melihat silikon ponsel Chaeyoung saja sudah mengingatkannya pada seseorang yang memberikan hadiah tersebut, yaitu Kim Seokjin. Langsung saja Chaeyoung menyentuh tombol telefon pada kontak Seokjin.

 

“Halo?”

“Kau sedang dimana, Seokjin-ah? Bisakah kita bertemu hari ini di kafe yang biasa kita kunjungi?”

“Aku sedang sibuk hari ini.”

“Aku tidak ingin ada alasan yang keluar dari mulutmu. Jika kau tidak datang, aku akan meminta putus darimu.”

 

Tidak ada jawaban yang didengar oleh Chaeyoung dari seberang sana. Mungkin kekasihnya itu tidak tahu bagaimana cara menjawab ucapan Chaeyoung barusan. Dilihat dari cara bicara Chaeyoung, gadis itu tampak ketus ketika berbicara dengan Seokjin. Entah mungkin karena pengaruh ucapan Eunha tadi.

 

“Halo? Kau masih disana?”

“Ba-baiklah, aku akan segera kesana.”

“Pastikan kau cepat tiba disini.”

 

Tanpa menunggu jawaban yang pasti dari Seokjin, gadis itu langsung saja memutuskan sambungan telefonnya. Entah mengapa ia seperti tidak mood berbicara dengan Seokjin setelah mendengar apa yang telah diceritakan oleh Eunha. Mungkin rasa curiganya kini semakin menjadi-jadi. Rasa canggung mulai menyeruak diantara mereka ketika keduanya sudah sampai di kafe dan duduk berhadap-hadapan di satu meja.

 

“Sudah berapa lama kau menjadi kekasih Seokjin?” Ujar Eunha membuka pembicaraan di tengah suasana canggung tersebut.

“Apakah itu hal yang penting bagimu?” Balas Chaeyoung dingin. Kemudian disusul oleh tawa kecil dari Eunha.

“Mengapa nada bicaramu seperti itu? Ah, sepertinya kau sangat khawatir sekali tentang Seokjin yang pernah melakukan hubungan intim denganku. Bahkan kami sudah melakukannya lebih dari satu kali.”

“Tutup mulutmu! Kau kira dengan mudahnya aku bisa percaya pada ucapan sampahmu? Katakan saja jika kau suka pada Seokjin, tidak usah berbelit-belit dengan mengatakan hal yang tentu saja bohong, yaitu tentang pengakuan jika kau dan Seokjin pernah melakukan hubungan intim. Itu sungguh tidak masuk akal.”

“Kau tidak tahu ya jika Seokjin itu hobi berkunjung ke bar? Tsk, bukan hanya aku yang pernah menjadi wanita yang dicabulinya, tetapi ada juga beberapa temanku yang pernah ia cabuli.”

“Oh, maksudmu kau adalah wanita murahan di bar yang rela menjual harga diri pada setiap pria demi bayaran yang cukup tinggi? Wow, aku cukup terpana ketika mengetahuinya. Tetapi kau tidak bisa menyangkutpautkan Seokjin dengan wanita-wanita murahan seperti itu. Karena tipe-tipe wanita ideal Seokjin bukanlah pada wanita gatal layaknya pelacur bar yang hobi memamerkan tubuh seksi dan membangga-banggakan buah dadanya yang besar. Tsk, bukankah wanita semacam itu sangat menjijikkan?”

 

Amarah Eunha kini mulai meluap-luap ketika mendengar ucapan Chaeyoung yang seperti seakan-akan merendahkan dirinya. Langsung saja ia berdiri dan menggebrak meja dan menatap tajam ke arah Chaeyoung.

 

“Apa katamu? Menjijikkan? Hei, kekasihmu itu yang lebih menjijikkan!”

 

Chaeyoung tertawa remeh mendengar ucapan Eunha. Tentu saja ia tidak mau kalah, ia pun ikut berdiri dan menatap Eunha dengan angkuh.

 

“Kau itu tidak bisa menuduh Seokjin tanpa bukti. Memangnya kau ini bisa membohongiku semudah itu? Dasar pelacur!”

 

Kini Eunha yang mulai geram pun menjambak surai kecoklatan Chaeyoung. Membuat sang pemilik rambut itu pun menatap marah pada Eunha.

 

“Kau pikir tangan murahmu itu bisa memegang rambutku yang mahal ini, hah? Lepaskan!” Bentak Chaeyoung sembari berusaha menepis tangan Eunha yang masih menjambak rambutnya.

 

Sontak keduanya kini menjadi bahan tontonan bagi pelanggan kafe tersebut. Walau begitu, keduanya masih saja melanjutkan adu mulut yang tidak akan ada habisnya. Ah, apakah urat malu mereka telah putus sehingga tidak peduli bahwa mereka telah menjadi sorotan orang-orang yang ada di tempat itu.

 

“Shin Eunha, lepaskan Chaeyoung!”

 

Serentak kedua gadis itu menoleh ke arah pemilik suara berat tersebut. Kim Seokjin, pria itu datang disaat kejadian memalukan itu berlangsung.

 

“Seokjin-ah? Kau mengenalnya?” Ujar Chaeyoung sembari menautkan keningnya. Sementara itu Seokjin hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ditambah lagi dengan keberadaan Eunha yang membuat ia semakin bingung.

“Mengapa kau gemetar begitu, Seokjin-ah? Apa kau tidak tahu cara mengatakannya pada kekasihmu?” Celetuk Eunha.

 

Sialan! Ternyata ia tidak main-main dengan ucapannya. Batin Seokjin.

 

Kini Seokjin sibuk meremas kedua tangannya yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Duduk berhadap-hadapan dengan Chaeyoung dan Eunha di sebuah meja. Dihadapkan oleh dua orang wanita bernama Chaeyoung dan Eunha itu serasa seperti berada di pengadilan dan dirinya lah yang menjadi tersangka.

 

“Akui saja pada kekasihmu jika kau membayarku untuk melakukan suatu hubungan suami istri.” Ujar Eunha sembari menatap Seokjin dengan senyum menyerigai.

“Benarkah itu, Seokjin-ah?” Ucap Chaeyoung memastikan.

“Aku tidak ingin berurusan dengan wanita gila ini, lebih baik kita pergi dari tempat ini.” Seokjin berusaha mengalihkan perhatian Chaeyoung.

“Tidak semudah itu, Kim Seokjin.” Sela Eunha.

“Ya, sebenarnya aku juga malas berurusan dengan pelacur ini. Tetapi karena aku juga memiliki rasa curiga padamu, aku memanggilmu kesini untuk menghakimimu. Kau pikir aku tidak melihat kissmark yang masih berbekas di lehermu itu, Seokjin-ah? Apa kau bisa menjelaskan bekas kissmark itu padaku?” Chaeyoung menatap Seokjin dengan ketus. Sementara itu Eunha tersenyum penuh kemenangan.

“Oh, omong-omong aku juga memilikinya, Chaeyoung-ssi,” Eunha menyingkirkan bagian rambutnya yang menutupi leher. Yap! Memang benar disana juga ada bekas kissmark. “Dan aku ingin bertanya, si brengsek ini juga hobi menciummu di bagian leher, bukan? Karena leherku lah yang paling sering diciuminya.” Sambung Eunha.

 

Seokjin tidak dapat berkata apa-apa lagi ketika Eunha telah mengadukan segalanya pada Chaeyoung. Semua kebenaran dari ucapan Eunha sangat menyudutkan Seokjin. Ia tidak bisa mengelak lagi, kekasihnya itu kini telah mengeluarkan air mata pertanda kecewa terhadapnya. Satu-satunya yang harus ia lakukan adalah mengaku, mengakui segala kebohongannya yang selama ini ia pendam.

 

“Apakah aku salah mengenalmu selama ini, Seokjin-ah?” Ucap Chaeyoung pelan sembari mengusap air matanya.

“Chae-ya, aku..”

“Tidak ada yang perlu kau katakan lagi Seokjin-ah, semuanya sudah jelas.”

 

Seokjin menghela nafas sejenak.

 

“Aku memang salah, Chae-ya. Lebih dari sekali aku melakukan hal yang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang yang belum menikah. Dan ini semua bukan kemauanku, semuanya datang dari kekacauan di rumahku yang membuat aku tidak nyaman dan beralih menuju bar menemui mereka-mereka untuh menenangkan pikiranku.”

“Kau lebih memilih mereka sebagai tempatmu menghibur diri dibanding aku? Lalu apa gunanya aku sebagai kekasihmu, Kim Seokjin?”

“Chae-ya, aku mencintaimu.”

Bullshit! Kau pembohong, Kim Seokjin! Kau tidak lebih seperti penjilat-penjilat di luar sana! Kau tahu, aku sangat kecewa padamu.”

 

Setelah mengucapkan kalimat itu, Chaeyoung segera bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan kafe. Dan segera juga Seokjin ikut berdiri dan menahan tangan Chaeyoung.

 

“Maafkan aku.”

 

Langsung saja Chaeyoung menepis tangan Seokjin dengan tatapan yang menggambarkan amarah yang berkobar-kobar. Entah mengapa rasanya ia tidak ingin melihat wajah pria itu lagi.

 

“Maaf? Perkataan macam apa itu? Setelah apa yang kau lakukan padaku? Kata itu tak pantas diucapkan untuk seorang pecundang sepertimu! Kurasa hubungan kita cukup sampai disini, Kim Seokjin. Aku sudah cukup sakit dikhianati olehmu. Orang bermuka dua sepertimu itu sangat cocok jika dilempar ke dalam neraka.”

 

Segera Chaeyoung berlari kecil meninggalkan kafe tersebut dengan linangan air mata yang dengan derasnya membasahi pipinya. Sementara itu Eunha tersenyum puas menyaksikan sebuah drama yang baru saja selesai dengan akhir yang tidak bahagia. Kini Seokjin menatap geram padanya. Namun tak satupun kalimat keluar dari bibir tebalnya. Tanpa berkata apa-apa, Seokjin pun segera meninggalkan tempat itu.

 

This is me, don’t hesitate anymore

Leave me

It’s time for me to give you

The last bits of my heart” – Beautiful Liar

 

***

 

October 2015

 

Surat Perceraian..

 

Sang penemu amplop pun kini tak berkutik ketika melihat apa isi dari amplop tersebut. Isinya adalah sebuah surat yang selama ini tidak pernah ia inginkan keberadaannya. Dan isinya memang hanya satu lembar kertas yang tidak berguna, namun satu demi satu huruf yang membentuk sebuah kata, kata demi kata yang membentuk sebuah kalimat, dan kalimat demi kalimat yang membentuk sebuah teks yang berisi surat perceraian yang mengatas namakan kedua orang tuanya. Disana telah tertera tanda tangan pihak wanita yang merupakan tanda tangan Ibunya. Namun pihak lelaki belum menggoreskan tanda tangannya di atas lembaran kertas tersebut. Dari sini sudah tampaklah siapa pengaju perceraian tersebut. Siapa lagi kalau bukan orang pertama yang menandatangani surat itu, yaitu sang Ibu.

 

“Ini tidak boleh terjadi.” Gumamnya sembari meremas kertas tersebut. Ia pun segera berkeliling ke segala penjuru rumahnya untuk mencari sang Ibu dengan tujuan untuk meminta penjelasan mengapa Ibunya sangat menginginkan perceraian itu terjadi.

 

Langkahnya berhenti seketika tatkala melihat wanita paruh baya yang dicarinya kini sedang berada di ruang kerja. Tampaklah wanita itu tengah sibuk berada di depan laptopnya. Suara-suara keyboard laptop pun terdengar seperti satu campuran suara yang merupakan ciri khas seseorang yang lihainya mengetikkan jari-jarinya di papankeyboard tersebut. Tanpa mengucap permisi atau sebagainya, Seokjin pun langsung masuk ke dalam dan tanpa basa-basi lagi ia pun segera mengucap sebaris pertanyaan yang dari tadi berputar-putar di otaknya.

 

“Bagaimana caramu menjelaskan ini, Ibu?” Ujar Seokjin sembari mengangsurkan selembar kertas yang ditemuinya tadi pada Nyonya Kim.

“Atas dasar apa kau mengambil surat itu? Dengan lancangnya kau mengambil surat itu dan tidak menggunakan otakmu kalau itu adalah persoalan orang dewasa. Kau itu sama saja seperti..”

“Aku datang bukan untuk mendengar ceramahmu. Aku datang untuk bertanya tentang ini. Apakah salah jika aku sebagai anak tidak setuju atas perceraian kalian?”

 

Nyonya Kim menatap Seokjin sembari tertawa miris.

 

“Kau tidak setuju, Ayahmu juga tidak setuju. Tetapi suasana yang sekarang sudah sangat jauh berbeda. Apakah kau tahan mendengar suara piring dan gelas yang pecah setiap hari? Lihatlah stok piring di dapur, sekarang hanya tersisa lima buah. Kau ingin melihat kelimanya habis?”

“Dan cara yang benar bukan melalui perceraian, Ibu.”

“Pergilah, kau itu tidak tahu apa-apa.”

 

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tebal Seokjin untuk menjawab ucapan Ibunya. Namun tangan kekarnya segera menyambar surat perceraian yang baru diletakkan di atas meja kerja oleh Ibunya.

 

“Aku memang tidak tahu apa-apa. Tetapi aku tahu apa yang harus kulakukan dengan selembar kertas yang tidak berharga ini.” Ujar Seokjin dengan menunjukkan senyum serigaiannya.

 

Tanpa hitungan detik, kertas itu kini telah robek di tangan Seokjin. Selembar kertas itu bukan benda yang disebut tunggal lagi, namun selembar kertas itu telah berubah menjadi lembaran-lembaran kecil yang sangat tidak berguna dan bisa disebut sebagai sampah, kemudian segala jenis benda yang disebut dengan sampah akan berakhir pada suatu tempat yang bernama ‘tempat sampah’. Tidak pernah ada sejarah bahwa sampah itu disimpan sebaik mungkin.

 

“Kim Seokjin, berani-beraninya kau merobek surat itu! Kau pikir ibumu ini mendapatkan kertas itu dengan cara yang sangai-sangat mudah mendapatkan surat itu dari pengadilan?!” Suara Nyonya Kim mulai meninggi. Namun masih saja anaknya menatap ia dengan santai.

 

“Tidak akan pernah aku membiarkan kalian bercerai. Karena banyak jalan untuk memperbaiki kondisi selain perceraian. Ibu pikir dengan terjadinya perceraian akan membuat segalanya semakin mudah? Tidak, justru itu yang akan membuatku semakin tidak menghormati kalian.”

 

Pada akhirnya, keheningan kembali menyeruak diantara mereka dan kemudian berakhir dengan berlalunya Seokjin dari ruangan tersebut. Tanpa perintah, setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Tidak ada yang tahu bahwa Seokjin begitu rapuh. Ada kalanya Tuhan memberikan sebuah takdir yang indah dan ada kalanya pula Tuhan memberikan sebuah ujian yang berat. Semua itu tergantung pada kuat atau tidaknya manusia yang dituntut untuk menjalani ujian tersebut.

 

Seokjin merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Lelaki itu kini tampak pasrah dengan kenyataan yang melanglang buana di tengah kehidupannya. Tidak ada lagi yang dapat dilakukannya selain berusaha mencegah rencana perceraian yang dimulai dari Ibunya. Rasanya ingin sekali ia mengubur dirinya dalam-dalam untuk menghindari segala permasalahan yang sangat menyiksa.

 

“I think it’s best for you if I end it right here.” – Beautiful Liar

 

***

 

13.30 PM

 

“Tuan muda, waktunya makan siang.”

 

Wanita paruh baya yang disebut pembantu rumah tangga di kediaman keluarga Kim tersebut terlihat mengetuk pintu kamar Seokjin sembari memberitahu bahwa ini sudah waktunya untuk makan siang. Anehnya, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam sana. Padahal biasanya Seokjin itu jika sekali di beritahu bahwa jam makan sudah tiba, ia langsung beranjak menuju ruang makan tanpa harus membuat pembantunya itu repot memanggilnya berkali-kali. Baiklah, karena tidak ada jawaban dari dalam sana, ia kembali mengetuk pintu tersebut. Namun tetap saja tidak ada sepatah jawaban pun. Bahkan sudah lima kali sang pembantu mengulangi hal yang sama tetapi tidak ada hasil apapun. Seokjin juga masih belum keluar dari kamarnya. Ia pun mencoba untuk memutar knop pintu kamar tersebut, ternyata pintu itu tidak dikunci oleh Seokjin. Langsung saja wanita itu memasuki kamar tersebut dan terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Lelaki tampan bernama Kim Seokjin itu kini tergeletak lemas di lantai dengan keadaan yang masih setengah sadar. Anak itu terlihat meremas kain bajunya sembari mengap-mengap layaknya ikan yang berada di daratan. Wajah tampannya kini terlihat pucat. Tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, wanita paruh baya itu pun segera menghampiri Seokjin untuk memastikan apakah keadaannya baik-baik saja.

 

“Tuan muda!”

 

Teriakan pembantu tersebut pun mengundang Tuan Kim yang tengah membaca koran di ruang tengah pun menghentikan aktivitasnya dan segera beranjak menuju kamar Seokjin. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati anaknya yang tampak sedang menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan. Dan perlahan-lahan kesadaran Seokjin pun hilang. Sontak pria paruh baya itu dengan cekatan membopong Seokjin ke dalam mobil. Keributan itu membuat Nyonya Kim terpancing untuk keluar dari ruangannya dan pada akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi pada anak semata wayangnya itu. Ia pun berteriak menyuruh sang suami untuk mengajaknya ikut serta.

 

“Even if it hurts to death

I am hiding myself under a mask for you

I see myself in the mirror and I ask myself.” – Beautiful Liar

 

~~~~~~

 

Gangnam Medical Hospital..

 

Sepasang suami istri itu tampak menyibukkan diri mereka sendiri untuk menyembunyikan rasa canggung yang sedari tadi menyeruak diantara mereka. Sesekali keduanya saling membuang muka jika mereka tak sengaja saling bertatap-tatapan. Entah kapan kedua sejoli itu dapat bersatu seperti sediakala. Bahkan sang dokter yang menangani anak mereka pun keheranan dengan sikap sepasang suami istri yang sedang berhadapan dengannya. Membuat sang dokter juga sedikit bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan bagaimana keadaan Seokjin kepada kedua sejoli tersebut.

 

“Bagaimana hasil laboraturium anak saya, dokter?” Akhirnya sang Ayah memulai percakapan di dalam ruangan tersebut.

“Menurut hasil analisis laboraturium, di tubuh pasien terdapat virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan virus itu kini mulai menyerang jantung dan hati. Jika virus-virus itu semakin berkembang, itu akan memicu terganggunya organ-organ yang lain. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien dinyatakan positif mengidap AIDS.”

 

Serentak sepasang suami itu terkejut secara berjamaah. Antara terkejut mendengar betapa parahnya virus yang menyerang tubuh anaknya dan terkejut tentang bagaimana bisa virus itu bisa berada di dalam tubuh Seokjin. Apakah Seokjin tertular virus HIV? Ataukah Seokjin pernah melakukan hal yang tidak-tidak sehingga memicu penyakit seks yang bernama AIDS tersebut? Pertanyaan itu kini bertebaran luas pada otak mereka masing-masing.

 

“AIDS? Bagaimana bisa ia bisa memperoleh virus semacam itu?” Ujar Nyonya Kim yang masih tak percaya.

“Sebenarnya ada dua kemungkinan. Pasien pernah melakukan seks bebas atau pasien pernah diberi donor darah oleh pendonor yang memiliki virus HIV di dalam tubuhnya.”

“Tetapi anak saya tidak pernah diberi donor darah oleh siapapun.”

“Kalau begitu, berarti mungkin saja pasien pernah melakukan seks bebas lebih dari tiga kali.”

“Ti..tidak mungkin.”

 

Pada akhirnya sepasang suami istri tersebut terkejut bukan main. Mereka benar-benar tidak percaya jika Seokjin pernah melakukan hal semacam itu.

 

‘Jangan salahkan siapapun jika aku berbuat hal-hal yang tidak selayaknya dilakukan. Karena kalian berdua tidak pernah mendidikku. Pegang ucapanku itu!’

 

Kata-kata itu kini kembali terngiang jelas. Seokjin pernah mengancam mereka tentang suatu hal. Lalu siapa sangka jika Seokjin benar-benar melakukan hal yang tidak selayaknya dilakukan? Kemudian siapa pihak yang harus disalahkan jika masalah sudah banyak berambisi sampai pada puncaknya kali ini? Apakah salah Seokjin yang memiliki nafsu liar? Atau salah mereka sebagai orang tua yang hanya bisa beradu argumen di rumah hingga membuat sang anak frustasi? Yang jelas, peran orang tua disini adalah mendidik anaknya. Bukan egois dalam mementingkan kepentingan sendiri tanpa berpikir apa yang terjadi pada sang anak.

 

“It was an unexpected line that led to the next chapter.” – Beautiful Liar

 

~~~~~~

 

Layaknya sebuah persidangan, kali ini sepasang suami istri yang merupakan kedua orang tua dari Seokjin tampak seperti sedang menginterogasi anaknya. Belasan pertanyaan mereka lontarkan pada Seokjin dan tak henti-hentinya juga Seokjin menatap keduanya dengan santai. Wajah itu seperti tidak memiliki dosa sama sekali. Padahal pertanyaan yang dilontarkan kali ini adalah tentang apakah is benar-benar pernah melakukan seks bebas?

 

“Jawab pertanyaan Ayahmu, Seokjin! Apa kau sudah tidak punya telinga?” Ujar Tuan Kim sembari berusaha menahan emosi. Sementara itu, lelaki yang tengah disidang tersebut hanya tersenyum kecut.

“Menurutmu, jika aku mengidap AIDS berarti apa yang pernah kulakukan?” Akhirnya Seokjin pun mengeluarkan suara.

 

Oke, kalimat itu memang tidak mengandung sebiji pun jawaban. Tetapi makna terdalam kalimat sangat memancing bahwa ia benar-benar pernah melakukannya.

 

“Kim Seokjin, aku tidak pernah mengajarimu untuk berbuat hal yang sedemikian rupa. Lalu dengan mudahnya kau merusak citra nama baik keluarga ini? Kau itu..”

“Apa? Keluarga? Oh, aku tidak menyangka bahwa Ibu masih peduli pada keluarga. Kukira Ibu hanya mementingkan uang, uang, dan uang. Lagipula untuk apa aku mempertahankan citra nama baik keluarga ini? Toh, fakta dibalik keluarga yang terkenal dengan kehormatannya ini juga sebentar lagi akan runtuh. Apa lagi yang perlu dipertahankan?”

 

Sang Ibu yang tadinya bersuara pun kini skak mat setelah mendengar ucapan Seokjin yang memang ada benarnya. Lelaki tampan yang senantiasa duduk di atas ranjang dengan selang infus yang menempel di tangan kirinya tersebut kini menatap kedua pasang makhluk yang berada dihadapannya sembari tersenyum menyerigai. Layaknya tersangka dan korban yang sedang beradu argumen dan salah satu pihak ada yang kehabisan alasan.

 

“Mengapa? Mengapa kalian diam saja? Apakah tidak terbesit di dalam hati kalian untuk memperbaiki hubungan jika kalian masih memiliki rasa peduli pada keluarga? Harus dengan cara apa lagi aku berusaha untuk mempersatukan kalian? Apa aku harus mati terlebih dahulu barulah hubungan kalian bisa membaik?”

 

Seokjin menghela nafas sejenak. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk meluapkan segala yang tersimpan selama ini.

 

“Tak tahukah kalian bahwa aku tersiksa? Mendengar alunan-alunan suara piring dan gelas yang pecah setiap hari itu kalian pikir aku tidak merasa tersiksa? Aku hampir saja berada di rumah sakit jiwa karena kalian. Aku sangat frustasi dan hampir gila, karena frustasi aku meluapkan segalanya pada gadis-gadis bayaran disana, kemudian kekasihku akhirnya mengetahui hal itu dan kemudian memutuskanku, dan sekarang virus-virus bernama HIV itu menggerogoti tubuhku sebab pengaruh seks bebas yang pernah kulakukan. Siapa pihak yang harus disalahkan disini? Seharusnya aku yang mengadili kalian Ayah, Ibu. Bukan kalian yang menginterogasiku layaknya seorang tersangka seperti ini. Tetapi aku, aku yang berhak menginterogasi kalian.”

 

Tidak ada yang berani membuka mulut setelah mendengar seluruh isi hati Seokjin yang akhirnya terucap di bibir tebal miliknya. Anak itu seperti tidak tahu aturan berbicara yang benar. Seluruh ungkapan yang tersimpan selama ini ia luapkan begitu saja tanpa mau tahu dimana sekarang ia berada, yaitu rumah sakit. Tempat bernama rumah sakit itu pada dasarnya memiliki aturan untuk menjaga ketenangan demi kenyamanan pasien. Namun ini tidak, malahan ia sebagai pasien yang tidak tertib dalam peraturan. Tuan dan Nyonya Kim kini sepertinya tampak sedang merenungi kesalahan masing-masing. Pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Seokjin itu kurang memiliki perhatian dan kurang diberi pendidikan dalam rumah. Dan itu semua sebenarnya adalah salah mereka.

 

Sejenak Seokjin menunduk dalam. Alih-alih tangannya meremas pelan kain bajunya. Ada sedikit masalah dengan hidungnya yang tidak dapat meraih sebuah benda yang disebut udara tersebut. Virus-virus itu terasa sedang mengganggu dirinya. Paru-parunya terasa sedang tidak berfungsi apa-apa dan membuat Seokjin kini mengap-mengap layaknya ikan yang berada di daratan. Ditambah sebuah rasa nyeri yang selalu datang mengganggunya. Walau begitu, wajah lelaki itu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya tetap tenang di tempatnya sembari membiarkan paru-parunya bekerja sendiri untuk mendapatkan oksigen. Lelaki itu sepertinya tidak peduli dengan apa yang ia rasakan walau itu sangat menyiksanya. Padahal jika orang lain yang mengalaminya, pasti orang itu akan sibuk meminta bantuan pada orang yang berada di sekitarnya. Namun tidak untuk Seokjin. Sepertinya anak itu pasrah saja dengan apa yang dilakukan virus itu terhadap dirinya.

 

Kedua manusia yang masih merenung di tempatnya pun sedikit bingung mengapa anak itu tidak mengeluarkan suara lagi. Barulah saat sang Ibu menoleh, ingin mengucapkan sesuatu pada Seokjin. Anak itu tengah berbaring lemas di atas bantalnya, menahan sakit untuk kesekian kalinya. Namun saat Nyonya Kim ingin bergegas untuk memanggil dokter, Seokjin mencegahnya. Anak itu seperti sudah terbiasa akan rasa sakit tersebut. Mungkin sebelumnya sebelum diketahui ada virus HIV yang berada di tubuhnya, ia sering merasakan hal yang sama.

 

Benar saja, selang beberapa menit virus itu tidak lagi mengganggunya. Kemudian anak itu pun menarik selimutnya, memejamkan matanya. Mungkin tidur bisa membuatnya sedikit lebih tenang dari segala masalah ini.

 

“I feel so relieved now

Please don’t worry about me.” – Beautiful Liar

 

***

 

“Kim Seokjin..”

 

Nama itu selalu disebut-sebut oleh Chaeyoung di dalam tidurnya. Sepertinya gadis itu belum bisa untuk lepas dari Seokjin. Ia terlalu mencintainya, tidak pernah bisa ia melupakan sosok pria romantis bernama Kim Seokjin itu. Bahkan setiap mimpi-mimpi yang ia lalui dalam tidurnya, tanpa ia undang pun wajah Seokjin muncul dengan sendirinya tanpa pernah absen sekalipun. Namun terkadang ia menjadi benci ketika mengingat bahwa pria itu pernah mencabuli wanita lain.

 

“Panasnya belum turun juga sampai hari ini.” Ucap seorang wanita paruh baya sembari menatap ke arah suaminya. Kedua pasang manusia tersebut merupakan kedua orang tua Chaeyoung.

“Kurasa dia sakit karena memikirkan suatu hal.” Imbuh Tuan Han.

“Dan kau juga perlu memikirkan bos mu, lihatlah sudah jam berapa ini?” Celetuk sang istri sembari menunjuk ke arah jam dinding yang terpajang manis di dinding ruangan tersebut.

“Oh tidak, sebentar lagi aku akan terlambat. Kalau begitu, aku berangkat. Jaga Chaeyoung dengan benar.”

“Tanpa kau beritahu aku akan melakukannya.”

 

Belakangan ini Chaeyoung terlalu sering mengurung diri di dalam kamar. Semua itu berawal sejak putusnya hubungan dirinya dengan Seokjin. Hingga pada akhirnya ia harus di opname yang bermula karena ia jarang menyentuh makanannya dan menyebabkannya mengalami demam tinggi. Masa opnamenya kini telah berjalan selama tiga hari, namun gadis itu juga tak kunjung pulih.

 

“Seokjin!”

 

Gadis itu terbangun dari alam mimpinya. Dan selang beberapa detik kemudian gadis itu menangis terisak sembari meremas selimutnya. Ia sepertinya tidak peduli bagaimana reaksi dari kedua orang tuanya saat melihatnya yang menangis secara tiba-tiba tanpa sebab.

 

“Youngie, ada apa denganmu?” Ujar Nyonya Han lembut sembari membelai surai kecoklatan Chaeyoung.

“Hiks.. Aku sangat mencintainya..” Chaeyoung masih terisak. Gadis itu sangat rapuh. Ia sangat membutuhkan Seokjin. Ia tidak bisa berpisah dari Seokjin.

“Aku ini Ibumu, kau bisa menceritakan apa saja yang ada di hatimu pada Ibu. Selama ini Ibu hanya tahu jika hubunganmu dengan Seokjin telah kandas, setelah itu Ibu tidak tahu apa-apa lagi. Bahkan penyebab kandasnya hubungan kalian kau juga tidak pernah menceritakannya pada Ibu.”

“Aku tidak ingin menceritakan hal itu, Ibu. Aku hanya butuh sosoknya di sampingku. Aku sangat merindukannya. Aku tahu, dia masih mencintaiku. Akulah yang egois, semua ini salahku.”

“Ibu tahu, Seokjin pasti tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Dimata Ibu, dia pria yang baik. Dia sangat mencintaimu.”

“Aku menginginkannya kembali. Aku ingin lagi berkata padanya bahwa aku sangat-sangat mencintainya.”

 

Tangis Chaeyoung semakin menjadi-jadi. Sang Ibu yang sebenarnya tahu jika pasien di ruangan sebelah adalah Seokjin juga tak sampai hati untuk memberitahukannya pada Chaeyoung. Anak itu pasti akan sangat terpukul jika mengetahui hal tersebut. Tentang asal usul bagaimana Nyonya Han tahu bahwa Seokjin di rawat di rumah sakit yang sama itu tidak terlalu rumit. Wanita paruh baya itu tak sengaja berpapasan dengan Seokjin di dekat toilet tadi pagi, dan pada akhirnya Seokjin menceritakan segala hal yang terjadi pada hubungannya dengan Chaeyoung yang telah kandas. Termasuk juga menceritakan bagaimana hubungan kedua orang tuanya yang semakin lama semakin membara. Tampaknya Ibu Chaeyoung sudah menjadi Ibu kedua bagi Seokjin.

 

“Chae-ya.”

 

Sontak Chaeyoung segera menoleh tatkala mendengar sebuah panggilan yang sangat familiar di telinganya. Sosok yang muncul dari balik pintu tersebut membuatnya berhenti menangis. Matanya, hidungnya, bibirnya, segala rupa yang ada pada manusia yang memanggilnya itu sangat ia rindukan sosoknya. Sosok pria yang selalu muncul di dalam mimpinya, sosok pria yang selalu ia sebut-sebut ketika ia sedang mengigau, sosok pria yang hobi memanggilnya dengan sebutan ‘Chae-ya‘, sosok pria yang dapat membuatnya untuk membuka perasaan yang dinamakan cinta, dan sosok pria yang tidak pernah lepas dari pikirannya, dialah Kim Seokjin.

 

“Seokjin?” Mata Chaeyoung mulai berkaca-kaca. Sambil mendorong tiang infusnya, perlahan pria itu berjalan mendekatinya dan ia pun membiarkan gadis itu memeluknya sembari menangis haru. Nyonya Han yang tahu apa yang harus dilakukannya pun segera meninggalkan mereka berdua. Kedua sejoli tersebut sangat butuh waktu untuk berbicara empat mata.

 

“Maafkan aku, Chaeyoungie.” ucap Seokjin di kala gadis itu masih senantiasa memeluknya.

“Aku sangat mencintaimu, Seokjin,” bisiknya, “Tetapi mengapa kau lakukan itu?” Imbuh Chaeyoung. Seokjin pun melepas pelukannya.

“Tadi pagi aku berpapasan dengan Ibumu dan mengatakan hal yang sebenarnya pada Ibumu, sebenarnya bibirku terlalu pegal untuk menceritakan lagi padamu. Jadi, kau tanyakan saja pada Ibumu.” Ujar Seokjin sembari terkekeh.

 

Sebuah jitakan pun mendarat mulus di kening Seokjin. Membuat pria itu meringis sembari mengelus keningnya yang tidak bersalah.

 

“Yak, dasar pemalas! Apa harus bibirmu itu kupijiti terlebih dahulu agar pegalnya hilang?” Ucap sang penjitak kening tersebut.

“Memijiti bibirku? Maksudmu seperti ini?” Seokjin langsung menarik lengan Chaeyoung kemudian bibir pucatnya mengecup bibir Chaeyoung sekilas.

“Ah, kau ini ternyata masih sama. Tukang mencari kesempatan dalam kesempitan.”

 

Saking senangnya Chaeyoung baru sadar bahwa kekasihnya itu mengenakan baju yang seragam dengannya sembari membawa-bawa tiang infus ke dalam kamarnya. Pertanyaan yang kini berputar-putar di otak Chaeyoung adalah ‘mengapa ia juga menjadi pasien di rumah sakit ini?’.

 

“Seokjin-ah, kau sakit?” Akhirnya pertanyaan itu pun keluar dari bibir Chaeyoung. Gadis itu memperhatikan keadaan tubuh Seokjin. Pria itu terlihat kurus, namun wajah pucatnya tidak membuat ketampanan Seokjin berkurang. Perlahan, Seokjin mengangguk kecil, sebagai jawabannya atas pertanyaan Chaeyoung. Samar-samar terdengar sebuah helaan nafas dari Seokjin.

“Virus HIV telah menyebabkan aku mengidap AIDS.”

 

Gadis itu terlihat syok saat mendengar kata ‘AIDS’ yang keluar dari mulut Seokjin. Seakan percaya tak percaya atas kenyataan yang ada. Rasanya ia seperti dijatuhkan ke dalam sebuah lembah yang cukup dalam saat mendengarnya.

 

“Kau itu bercanda, bukan?” Chaeyoung masih setengah tak percaya atas apa yang telah diucapkan oleh Seokjin. Namun melihat wajah Seokjin yang pucat membuat ia sedikit goyah pada pendiriannya bahwa Seokjin hanya bercanda.

“Sepertinya kau harus melihatku mati terlebih dahulu baru kau bisa percaya.”

 

Menangis. Hanya menangis yang bisa dilakukan oleh Chaeyoung saat ini. Dan pada akhirnya ia kembali menarik selimutnya dan berbaring membelakangi Seokjin.

 

“Pergilah.”

“Chae-ya.”

“Kumohon pergi! Aku butuh waktu untuk sendiri.”

 

Seokjin sangat hafal dengan sikap Chaeyoung yang seperti ini. Gadis itu harus dibujuk secara halus, bukan menuruti permintaannya yang kekanak-kanakan. Seokjin melirik sisa tempat di ranjang Chaeyoung, pria itu pun ikut berbaring di ranjang Chaeyoung kemudian tangan kekarnya memeluk tubuh gadis itu. Seperti itulah cara membujuk Chaeyoung.

 

“Maaf.” Bisik Seokjin pelan.

“Mengapa kita harus seperti ini, Seokjin-ah?” Lirih Chaeyoung.

“Maka dari itu, tetaplah berada disisiku.”

 

Kemudian Chaeyoung pun berbalik menghadap Seokjin. Kedua mata itu saling bertatap-tatapan, keduanya merasakan deru nafas hangat dari makhluk yang berada di hadapannya.

 

“Aku sangat mencintaimu, Chae-ya.”

 

“You turn around, run to me

Told me not to say stupid lies

As you smiled in front of me.” – Beautiful Liar

 

***

 

November 2015

 

“Hubungan kedua orang tuamu sudah membaik, Seokjin-ah. Kau pasti senang. Tetapi mengapa kau belum juga membuka matamu?”

 

Chaeyoung menatap sosok pria tampan yang dengan nyamannya tertidur nyenyak di atas ranjang. Koma, begitulah tim medis menyebutnya. Dua minggu lamanya Seokjin koma dan tak kunjung sadar. Virus-virus bernama HIV itu telah menggerogoti hampir seluruh organ tubuhnya hingga membuat Seokjin tak mampu lagi untuk tetap bertahan. Mungkin hanya sebuah keajaiban yang dapat membuat Seokjin terbangun dari tidur panjangnya. Selebihnya ia tidak memiliki harapan apapun. Bahkan berulang kali tim medis menyarankan untuk melepas semua alat bantu yang selama ini membantunya untuk bertahan hidup hingga hari ini. Namun semua itu ditolak mati-matian oleh Chaeyoung yang tak pernah menginginkan jika Seokjin pergi meninggalkannya.

 

Gadis itu memegangi tangan Seokjin. Bersamaan dengan itu, ia mulai meneteskan bulir per bulir air matanya. Bayangan-bayangan tentang masa lalu yang indah bersama Seokjin masih terlintas di otaknya layaknya potongan film-film romantis yang sangat manis. Masih teringat dimana saat-saat pertama di musim semi, pertama kali kedua sejoli tersebut menjalani sebuah hubungan yang melebihi dari hanya sebatas sahabat, yaitu hubungan sepasang kekasih. Apakah adil jika semua itu akan berakhir dengan akhir yang tidak bahagia?

 

Ia sangat tidak mampu melihat keadaan Seokjin yang seperti ini. Tak pernah bisa ia menahan air matanya ketika menjenguk sang kekasih. Sama seperti sekarang. Gadis itu hanya ingin Seokjin membuka matanya.

 

“Tidak selamanya setiap hubungan sepasang kekasih itu berakhir dengan bahagia, Chae-ya.”

 

Kata per kata yang membentuk menjadi sebuah kalimat kini terngiang jelas di telinga Chaeyoung. Kalimat itu adalah kalimat terakhir dari bibir Seokjin sebelum akhirnya ia terkulai lemas di pangkuan Chaeyoung dan pada akhirnya para tim medis mengklarifikasikan bahwa Seokjin mengalami koma.

 

“Kau harus bisa mengikhlaskan Seokjin, tidak selamanya Seokjin itu milikmu. Mungkin Tuhan sedang rindu padanya kali ini dan sewaktu-waktu Tuhan bisa memanggilnya.”

 

Semakin lama semakin deras air mata yang menguncur dari matanya. Mengingat sebuah kalimat nasihat yang pernah diucapkan oleh Ibunya membuat dirinya sedikit paham apa itu takdir. Namun itu juga belum bisa membuatnya tetap bersikeras menginginkan Seokjin kembali dari alam mimpi menuju alam dunia. Ia terlalu cinta pada Seokjin.

 

“Nak Chaeyoung..”

 

Chaeyoung menoleh ketika sebuah suara memanggilnya, yaitu Nyonya Kim. Wanita paruh baya itu berjalan mendekati ranjang Seokjin. Kemudian menatap putranya yang masih setia bermain-main di alam mimpinya, dan suatu hari mungkin putranya itu akan berpindah alam menuju alam baka.

 

“Mungkin aku belum mampu untuk mengikhlaskannya. Namun kasihan dia, aku tidak bisa menambah penderitaannya terus-menerus seperti ini.” Lirih Chaeyoung sembari mengusap air matanya.

“Jadi, kamu sudah bisa merelakannya? Rela membiarkannya pergi dalam ketenangan?” Ujar Nyonya Kim dengan wajah sembabnya. Menatap lekat-lekat ke arah wajah pucat putranya. Kemudian ucapan itu dibalas oleh sebuah anggukan kecil dari Chaeyoung. Mungkin ini saatnya ia harus membiarkan Seokjin pergi menuju tempat keabadiannya.

 

Sebelum itu, Chaeyoung meninggalkan sebuah kecupan di kening Seokjin. Sebuah kecupan yang menjadi sebuah kecupan terakhir untuk Seokjin darinya.

 

Pada akhirnya, pernyataan klarifikasi dari Chaeyoung pun segera disampaikan Nyonya Kim pada suaminya. Ini waktunya untuk meminta tim medis untuk membiarkan mereka melepas seluruh alat-alat yang membantu Seokjin hidup selama dua minggu ini walau tidak ada perkembangan sama sekali. Rasanya begitu berat, namun inilah adanya. Ia harus merelakan Seokjin pergi.

 

“Aku mencintaimu selamanya, Kim Seokjin.” Lirih Chaeyoung pelan. Bibirnya kemudian menyisakan sebuah senyuman manis untuk Seokjin seolah-olah melihat pria itu juga sedang tersenyum padanya.

 

“Kau adalah orang yang indah, kau menciptakan sebuah kebohongan yang indah. Aku akan selalu mengenangmu.” Bisiknya.

 

“It’s alright if you leave me

I want you to be happy

Oh I’m

I’m a beautiful

I’m a beautiful liar.” – Beautiful Liar

 

FIN~~

Advertisements

4 thoughts on “[Songfict] Beautiful Liar

  1. Okay, Kim seok Jin dsini berbeda dg seok Jin aslinya-_- hahaha but it’s okay, kamu membuat seok Jin punya karakter kuat disini. First of all, kurasa ini kepanjangan hehe mungkin lebih baik dibuat twoshoot ato threeshoot. Tapi dulu ak juga sering sih -,- hehe. Baiklah kmu berhasil mmbuat crita yang berat seusiamu. Mnrtku ini sudah sgt bagus, tp aku yakin slanjutnya pasti lebih bagus 😀 keep writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s