Angst · Genre · Length · Romance · Teen · Vignette

Once Was Yours


smgcDn6YI6Y4gRlkesDjwZdihSYV4ocQUCDDTOZmHxEZOaIo4KsRrXMacv7qTV6MMYRPr-T3FDa8q6jGsXIRycfXVL2BWI3HljgHLqy4wus1N_EKg1GTXFoDK8cftVz1REp5=w384-h384-nc

Title                : Apology (Once was Yours)

Author            : ts_sora (@ts_sora)

Cast                : iKon’s Go Jun Hoe, and The Girl as You

Genre              : Romance, Angst

Length            : vignette

Rating             : T

Disclaimer      : The story belongs to me and Go Jun Hoe belongs to YG entertainment and of course his parents. This fiction is inspired by iKon – Apology mv. No plagiarism.

Summary       :

“Jeongmal mianhae-“

————————————————————————————————————–

Kau tersenyum tipis menatap gadis bergaun putih yang kini tengah berlenggang pelan menuju sebuah cermin berukuran besar yang ada pada sudut ruangan. Ia membalikkan tubuhnya sebentar demi menatapmu sebelum akhirnya ia tersenyum bahagia.

“Kau suka?”

Gadis itu mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya ia kembali memandangi gaun bewarna putih tulang tersebut dengan begitu puas yang entah mengapa kini melenyapkan senyummu perlahan namun pasti.

“Ada apa?” Kau mendongakkan kepalamu demi menatap gadis itu sekali lagi sebelum kau menggelengkan kepalamu sebentar menegaskan kau baik-baik saja.

“Katakan saja padaku jika gaunnya terasa tidak nyaman.”

Gadis yang masih memandangi bias dirinya di cermin sekali lagi hanya menggelengkan kepalanya. “Tidak, sudah kukatakan padamu ini terasa begitu pas–“

“Ya, sangat pantas untukmu.” Kau menatap laki-laki yang baru saja memasuki ruangan dimana kau berada. Kau menahan nafasmu saat laki-laki yang nampak begitu gagah dengan kemeja bewarna putih itu menatap ke arahmu datar sembari melewatimu begitu saja. Kau mengalihkan pandanganmu saat ia meraih gadis tersebut dan mencium pelipisnya lembut yang lantas membuat semburat kemerahan pada kedua pipinya.

“Go Jun Hoe, hentikan itu. Dan bagaimana dengan jasmu? Kenapa kau tak memakainya? Kau harus memakainya.” Dengan bibir penuhnya, laki-laki itu tersenyum singkat sebelum kau sadar ia masih menatapmu dengan ekspresi yang tak terbaca. Dan sekali lagi kau hanya menundukkan kepalamu demi menghindari pandangan laki-laki itu yang terkesan begitu mengintimidasi. Mungkin terdengar konyol, namun benar hanya dengan sebuah pandangan laki-laki itu, kau merasa begitu terintimidasi saat ini dan merasa apapun yang akan kau lakukan terasa begitu salah.

“Kau perlu bantuannya untuk mengenakan jasmu?” Kau memandang gadis itu yang kini menunjuk ke arahmu dengan pandangan tak percaya. Namun bukannya menjawab laki-laki itu hanya masih memandangmu di tempatnya dalam diam.

“Baiklah. Apa kau bisa membantu laki-laki ini untuk mengenakan jasnya? Kukira ia sedikit kesulitan untuk mengenakannya.” Lanjutnya saat ini yang seketika membuatmu menahan nafasmu sekali lagi. Diam-diam kau mencuri pandang pada laki-laki yang masih senantiasa berdiri di sana. Dan kau tahu laki-laki itu masih memandangmu dengan tanpa ekspresi.

“Kau bisa bukan?” Kau tersenyum menatap gadis itu yang masih menunggu jawaban darimu sebelum akhirnya kau mengangguk singkat yang lantas membuatnya mengembangkan senyumnya puas. “Terima kasih, kau sangat membantu,” ujarnya kali ini sebelum akhirnya kau melangkah keluar dengan sebuah kotak peralatan yang selalu kau bawa kemana-mana.

Kau berjalan di depan sedangkan laki-laki berpostur tinggi itu berjalan di balik punggungmu. Meski hanya suara langkah sepatu kulit juga heels-mu yang kali ini beradu, namun kau begitu yakin bahwa laki-laki itu masih memperhatikanmu tanpa sepengetahuanmu dan kau hanya membiarkan hal itu tanpa berani berkomentar. Bahkan saat kau juga laki-laki itu telah sampai pada ruangan yang menjadi tujuan kalian, ia masih mendiamkanmu.

“Baiklah, haruskah kita mulai sekarang?” ucapmu berbasa-basi berusaha menghangatkan suasana. Kau meraih jas hitam pada mannequin yang telah kau siapkan beberapa jam yang lalu. Kau menghentikan langkahmu saat kali ini kau sudah berada di hadapan laki-laki itu dengan jas yang telah kau buat beberapa malam sebelumnya pada salah satu tanganmu. Masih sama ia sama sekali tak bersuara namun pandangannya masih terarah padamu. Masih dengan pandangan yang terasa begitu mengintimidasi, namun kau berusaha untuk tak peduli dengan berusaha menghilangkan perasaan ragumu sejak pertemuan kalian.

Tanpa perlu aba-aba. Ia merentangkan kedua lengannya dan mempersilahkanmu untuk mengenakan jas hitam tersebut di tubuhnya dan di saat itu pula kau berusaha melupakan gemetar tanganmu yang entah menjadi suatu kebiasaan saat kau berada cukup dekat dengannya. Ia juga tetap tak bersuara saat kau dengan lembut membenahi kedua sisi lengan jas yang ia kenakan saat ini.

“Sudah,” ujarmu sembari menatap hasil karyamu yang kau buat beberapa malam sebelumnya tanpa tidur. Kau mengulum senyummu tak tahu malu saat diam-diam kau memandangi laki-laki itu yang kini terlihat begitu tampan dan gagah dengan setelan jasnya. Sama seperti apa yang kau bayangkan sejak dulu. Kau akan menjadikan laki-laki itu sebagai laki-laki tertampan di hari yang suci ini.

Kau menarik nafasmu diam-diam sebelum kau membalikkan tubuhmu saat kini sekali lagi entah mengapa kedua matamu kembali terasa panas.

Jangan menangis.

Berulang kali kau meyakinkan diri bahwa kau bukanlah orang yang lemah, dan kau tahu kau tak boleh menangis di hari yang sacral ini, namun tetap saja kau tak bisa mengelak saat sekali lagi mendung mulai terbentuk di kedua matamu.

Jangan menangis..

Kau coba menata hati sebelum kau kembali berhadapan dengannya dengan kedua sudut bibirmu yang kau paksakan terangkat sekali lagi meski kau tahu itu tak ada gunanya. “Katakan padaku jika jas ini terasa tak nyaman untukmu,” ujarmu kali ini yang memberanikan diri untuk menatap manik mata yang memandangmu sedari tadi. Namun bukannya menjawab, bibir penuh laki-laki itu terlihat menyeringai. Dan kau tahu itu bukan hal baik. Laki-laki itu masih menaruh dendam padamu. Laki-laki itu masih marah besar padamu dan benar, apa saja yang kau lakukan saat ini masih terasa begitu salah di matanya.

“Bukankah kau sudah mengetahui setiap jengkal tubuhku dengan baik, Nona? Perlukah kau melontarkan pertanyaan itu padaku?” Kau menahan nafasmu saat kali ini laki-laki itu menjawab pertanyaanmu dengan begitu dingin dan sarat akan arogansi yang tinggi. Kau kembali berusaha menarik nafasmu berusaha menahan mendung yang kembali terbentuk di kedua matamu saat ini agar tidak jatuh. Tidak di hadapan laki-laki itu.

Jangan menangis.

“Saya hanya berusaha menjalankan tugas dengan baik, Tuan,” ujarmu yang berusaha untuk tenang di hadapannya. Namun berbeda denganmu, nyatanya laki-laki itu tak bisa menerimanya dengan baik. Dengan jelas, ia sengaja mendengus dengan cukup keras hingga kau tersentak di tempatmu karena ketakutan.

“Kau memang gadis yang tak tahu malu dengan datang kembali padaku dan dengan begitu berani kau menampakkan dirimu di hadapanku?” ucapnya yang memekik cukup keras. Tatapannya menegang dan kau bisa melihat gemeratak giginya saat ini. Kau tahu laki-laki itu marah besar, namun apa yang bisa kau lakukan?

Kau menarik nafasmu dalam-dalam sebelum berusaha menghadapi lak-laki di hadapanmu dengan setenang mungkin meski sedari tadi mendungmu kembali terbentuk entah sejak kapan dengan tak tahu malunya. Kau memaksakan kedua sudut bibirmu terangkat saat kali ini kedua mata kalian saling bertatap yang mana membuat tatapannya perlahan melunak. Sadar akan mendung pada kedua matamu.

“Pilihan apa yang bisa aku lakukan? Menolaknya? Aku tahu kau tak akan berhenti. Kau tak akan berhenti untuk membalaskan dendammu padaku. Dan harusnya kau senang saat aku mempersilahkanmu untuk membalaskan dendammu. Aku pantas mendapatkannya, bukan begitu?” ujarmu diselingi beberapa air mata yang tak bisa kau tahan lagi. Berulang kali kau mengusapnya cepat, masih berusaha menyembunyikan tangis bodohmu, namun berulang kali itupun kau gagal dan saat itu juga kau dapat melihat tatapan laki-laki itu yang berubah nanar. Ketegangannya seketika memudar saat kini air matamu tak dapat kau kendalikan lagi dan memilh untuk membiarkannya begitu saja.

Kau membiarkan lengan laki-laki itu yang dengan lembut meraihmu dan memelukmu erat seakan tak ingin menatapmu menangis lebih lama lagi di hadapannya. Dan saat itu juga kau bisa merasakan punggungnya juga terguncang. Ia menangis.

Mianhae,” ujarnya begitu lirih yang sempat membuat dadamu terasa begitu sesak dalam seketika. Kau menggigit ujung bibirmu agar tangismu tak pecah, karena kau tahu hal itu juga akan membuatnya semakin tersiksa.

Kau masih ingat bagaimana kalian bertemu untuk pertama kalinya yang membawa kalian saling mencintai satu sama lain. Kau ingat bagaimana laki-laki itu begitu mencintaimu dan bagaimana kau mencintainya. Kau ingat semua terasa begitu sempurna untukmu juga dirinya. Namun hal itu tak sejalan dengan keluarganya.

Kau ingat bagaimana keluarganya menolakmu dengan alasan laki-laki itu telah dijodohkan dengan gadis lain dan kau ingat seberapa besar usaha laki-laki itu mempertahankanmu saat itu. Ia tak peduli dengan apapun bahkan siapapun, dan kau ingat saat ia melepaskan segala kemewahannya hanya untuk mempertahankanmu. Kau bangga tentunya, namun kau tak bisa melihatnya menderita dengan meninggalkan segalanya hanya untukmu bahkan membangkang dari kedua orang tuanya. Kau tak bisa.

Dan tiba saatnya kau akhirnya memutuskan untuk tampil sebagai orang jahat. Memutuskan hubungan secara sepihak dan mengatakan bahwa kau tak mencintainya lagi dan telah mencintai laki-laki lain. Menghindarinya, mengacuhkannya dan berusaha lari darinya. Kau tahu semua terasa salah namun pilihan apa lagi yang dapat kau lakukan? Kau hanya tak ingin menyakitinya lebih. Kau tak ingin melihat laki-laki itu menderita hanya karena mempertahankanmu. Dan cara itulah yang kau pilih agar laki-laki itu pergi darimu meski kau harus menelan pil pahit atas kenyataan bahwa laki-laki begitu membencimu.

Dan saat ini kau tahu bahwa semuanya akan terjadi. Laki-laki itu berusaha membalaskan dendamnya dengan segala cara agar kau merasakan apa yang ia rasakan saat itu. Kau sama sekali tak keberatan dengan semua perlakuan itu. Kau tahu kau salah dan pantas mendapatkan hukuman. Dan saat ini, laki-laki itu menggunakan kelemahanmu dengan memaksamu untuk menjual desain pakaian pernikahan yang pernah kau impikan bersama laki-laki itu. Berharap kau merasa jera atas apa yang telah kau lakukan padanya meski nyatanya kau memberikan desain itu secara cuma-cuma padanya sebagai ucapan selamat darimu.

“Tidak adakah yang tersisa untukku? Apa kau tidak mencintaiku?” ujarnya begitu lirih namun lantas membuat dadamu terasa begitu sesak dibuatnya.

Aku mencintaimu.

Kau menarik nafsmu dalam-dalam berharap tangismu tak semakin menjadi. Kau ini orang jahat di matanya. Dan kau tak bisa menyerahkan diri begitu saja atas semua usaha yang kau lakukan agar laki-laki itu menjauhimu. Kau melepaskan kedua lengannya yang memelukmu perlahan. Dan saat itu pula kau bisa melihat wajahnya yang terlihat begitu kacau saat ini. Sama sepertimu.

“Aku ini orang jahat Go Jun Hoe. Aku tidak pantas untukmu,” ujarmu penuh dengan penekanan.

“Katakan padaku apa kau tidak mencintaiku lagi? Kita bisa lari dari sini dan bahagia dengan hanya berdua,” ujarnya penuh harap dengan tatapan memohonnya.

Aku mencintaimu, Go Jun Hoe.

“Maaf, semuanya sudah berakhir, Go Jun Hoe. Kau sudah memiliki seseorang yang lain sebagai penggantiku begitu juga denganku,” ujarmu berkilah masih dengan menahan tangis. Tidak, kau tidak boleh menangis. Kau harus tampil sebagai orang jahat. Tampil sebagai gadis yang tak tahu diri yang mencampakkan laki-laki yang begitu mencintaimu.

Kau menarik nafasmu begitu dalam kali ini sebelum melihat manik laki-laki itu yang kali ini jauh berbeda dari pertama kali kalian bertemu hari ini. Tatapan matanya lembut, berbeda dengan tatapan laki-laki itu yang nampak ingin membunuhmu saat itu juga. Tatapan yang menghangatkan. Tatapan seorang Go Jun Hoe yang pernah kau cintai. Bukan, tapi sangat kau cintai hingga saat ini.

Kau meraih wajahnya yang basah dan berusaha mengusapnya lembut. Ia meraih punggung tanganmu sebelum menciumnya dengan penuh kerinduan yang lantas menciptakan senyum kecil di bibirmu. Kau melangkahkan kakimu selangkah sebelum kau akhirnya mengecup permukaan bibirnya cukup lama. Cukup untuk mengenang semua kenangan kalian berdua. Cukup untuk menebus kerinduan akan sosok itu yang tak akan kau temui lagi nantinya. Cukup sebagai penegasan kau dulu pernah menjadi miliknya.

Dan ini akan menjadi terakhir kalinya. Kau berjanji atas itu. Kau melepaskan kecupanmu sebelum menatap hangat laki-laki yang ada di hadapnmu sekali lagi. Ia masih akan menjadi laki-laki tertampan dan tergagah yang pernah menjadi milikmu. “Selamat atas pernikahanmu, Go Jun Hoe. Jeongmal mianhaeyo”

-Fin-

Advertisements

2 thoughts on “Once Was Yours

  1. Anyeong unnir :3 iya hahah, ini aku pakai sudut pandang orang kedua. Entah kenapa jadi suka pakai sudut pandang org kedua nih. Okay, awalnya aku memang buat sdkit mmbingungkan ttg siapa psangan June :p hahah iya un, nnti kucoba ne 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s