Friendship · Genre · Length · One Shoot · Rating · Romance · Teen

Day To Remember


IMG-20151116-WA0011

Title: Day To Remember

Author: ts_sora

Cast: iKon’s Kim Han Bin (B.I), iKon’s Kim Ji Won (Bobby), OC’s Lee Na Hyun

Genre: Romance, Friendship

Length: oneshoot

Rating: T

Uname Twitter: @ts_sora

Disclaimer: The casta belong to their entertainment company and this fiction belong to me. This fiction is the sequel of Mr. airplane which is i made before it. No plagiarism

Summary:

 

“Apa kau tak memiliki kenangan akan ulang tahun terbaikmu?”

 


 

“Saengil chukkae hamnida, saengil chukkae hamnida, saranghaneun Lee Na Hyun, saengil chukkae hamnida!” Sorak sorai terdengar begitu bising kali ini. Lee Na Hyun menahan tawanya menatap ketiga temannya yang entah kenap berubah menjadi begitu berisik. Siapa lagi kalau bukan Choi Eun Kyung, Kim So Ra dan Choi Ji Hyun.

 

“Oh ya Tuhan, aku mencintai kalian.” Ucap Na Hyun kali ini memeluk satu per satu gadis yang tertawa girang pada hari ini.

 

“Demi Tuhan Na Hyun, kau selalu tak ingat hari ulang tahunmu sendiri. Apakah udara Los Angeles kini mengikis ingatanmu?” Lee Na Hyun tertawa kecil sebelum mengecup salah satu pipi So Ra kali ini. Ia lalu mengedikkan bahunya.

 

“Bukankah jika udara di sini mengikis ingatan, kau tahu pasti bahwa mungkin saja saat ini kau terkena amnesia So Ra ah,” ucap Na Hyun yang membuat ketiga temannya lantas tertawa lepas. Beberapa tahun berlalu sejak mereka memutuskan untuk tinggal di Los Angeles. Oh bukan mungkin lebih tepatnya Lee Na Hyun sendiri yang kemudian membuatnya mulai berteman dengan ketiga gadis konyol ini sejak mengetahui bahwa mereka juga berasal dari Seoul. Dan saat mereka hanya berempat, mereka dapat menggunakan hangul dengan leluasa sebagai penebus kerinduan atas tanah kelahiran mereka.

 

“Tapi serius, ini entah ke berapa kalinya kau melupakan hari ulang tahunmu. Oh tidak, kau memang tak pernah mengingatnya. Bahkan So Ra selalu mengingat hari ulang tahunnya,” ucap Ji Hyun sebelum meletakkan sebuah cheesecake di atas meja utama. Dengan jahil Na Hyun mengayunkan jarinya pada krim kuenya dan memakannya. Tak peduli seberapa keras Ji Hyun uring-uringan karenanya.

 

“Apakah kau tak memiliki kenangan terbaik akan ulang tahunmu beberapa tahun yang lalu?”

 

“Hm?” Lee Na Hyun menatap Eu  Kyung yang duduk tak jauh darinya. Masih dengan memakan sedikit demi sedikit sepotong cake yang ada pada di tangan kanannya.

 

“Benar, apa kau tak memiliki kenangan terbaik akan ulang tahunmu? Dan apa kau benar-benar tak menginginkan apapun sebagai hadiah ulang tahunmu?” Imbuh Eun Kyung kali ini masih dengan menatap Na Hyun yang seakan dengan semangat memakan cake miliknya.

 

“Ya, Na Hyun ah, apa kau mendengarkan kami? Kau bahkan tak pernah mengingat hari ulang tahunmu.” Ucap So Ra sedikit kesal karena gadis itu sekali lagi seakan bersikap tak peduli dengan pertanyaan keduanya. Dan memang tak pernah gadis itu jawab seakan memang sesuatu tengah ia tutupi.

 

“Ya! Lee Na Hyun.” Pekik Ji Hyun yang lantas menarik salah satu telinga gadis itu gemas. Si empunya lalu mengerang minta ampun dan membuat Ji Hyun memberikan pengampunan kali ini. Lee Na Hyun terkekeh sambil mengusap telinganya sebelum ia kembali menatap ketiga temannya yang kali ini yang terlihat kesal dengan tingkahnya.

 

“Apa kau benar-benar tak memilikinya? Maksudku saat kau masih di Seoul juga, apa kau tidak memiliki satu kenangan saja?”

 

Lee Na Hyun meletakkan piring cake yang ia genggam sebelum mengusap sisa krim cake yang ada di sekitaran bibirnya. Ia terlihat menarik nafasnya diam-diam sebelum ia terlihat menyunggingkan senyumnya kali ini.

 

“Aku tak ingat,” ucapnya singkat dan mampu membuat ketiga temannya bungkam detik itu juga.

 

 

Han Bin ah, akan kau bawa kemana aku?”

 

“Sstt, bersabarlah sebentar saja.”

 

“Ah! Ya- bisakah kau hati-hati sesuatu mengenai kakiku.” Laki-laki itu teetawa lepas menatap gadis itu yang mengenakan sebuah kain untuk menutupi kedua matanya. Gadis yang tak terima lantas menggerak-gerakkan kedua tangannya, seakan ingin menggapai laki-laki yang lebih tinggi darinya tersebut dan segera membalasnya namun sayang gadis itu tak bisa membalasnya kali ini.

 

“Jagalah kesopananmu.”

 

“Apanya yang kesopanan? Ayolah bisakah kita berhenti? Aku lelah.”

 

“Belum, belum. Sekarang langkahkan kakimu perlahan. Kita akan menaiki tangga.”

 

“Tangga?”

 

“Bisakah kau berhenti bertanya dan tetap berjalan saja?” Gadis itu memautkan bibirnya tak terima namun apa pilihannya kali ini? Ia melakukan apa yang dikatakan laki-laki itu padanya. Perlahan namun pasti gadis itu melangkahkan kakinya pada tiap anak tangga masih dibantu dengan laki-laki yang senantiasa menjaganya tersebut.

 

“Kim Han Bin? K-kim Han Bin?” Gadis itu meraih-raih ke segala penjuru saat laki-laki itu entah kini berhenti menggenggamnya. “H-han Bin ah?” Panggilnya semakin cemas saat kini ia sama sekali tak dapat menemukan laki-laki itu di sekitarnya dan sang laki-laki seakan tak menjawabnya. Gadis itu mulai bergerak gelisah. Ia mulai melangkahkan kakinya kemana saja kali ini guna mencari keberadaan laki-laki itu. Masih dengan kedua tangannya yang berusaha menggapai-gapai sekelilingnua namun tetap hasilnya nihil.

 

“Han Bin ah, aku bersumpah ini sama sekali tidak lucu.” Ucapnya yang kali ini dengan suara bergetar. Gadis yang kini berada di tepi tangga terlihat terdiam sejenak. Hendak melangkahkan kakinya lebih jauh lagi ke depan, sebuah tangan meraih pinggangnya cepat guna menjauh dari sana. Terkesan menghentak kasar hingga membuat si gadis terhuyung.

 

“Ah!” Pekiknya kali ini saat ia sadar kini ia terhempas dan jatuh. Mengetahui ia telah menimpa sesuatu, cepat-cepat ia membuka ikatan kain yang menutupi kedua matanya yang entah terasa terlambat untuk melakukannya sekarang. Gadis itu lantas menahan nafasnya saat sadar apa yang baru saja ia timpa kali ini.

 

“Bodoh. Kenapa kau tidak buka saja dari tadi?” Ucap laki-laki itu meringis menahan rasa sakit di punggungnya. Ia menyeringai menatap gadis itu yang berada di atasnya dan membuat wajah mereka berjarak cukup dekat. Mengetahui hal canggung tersebut, gadis itu berusaha beranjak dari tempatnya namun laki-laki itu menahan tubuhnya dengan sebelah lengannya.

 

“Lee Na Hyun, saengil chukkae.” Ucap laki-laki itu penuh penekanan tanpa mengalihkan matanya pada gadis yang ada di hadapannya sebelum akhirnya ia mengembangkan senyumnya dan membuat Na Hyun menahan nafasnya saat itu juga.

 

 

Lee Na Hyun membuka matanya. Ia terdengar mendengus pelan kali ini. Ia menyalakan lampu tidur yang ia letakkan pada nakas tak jauh darinya sebelum ia menilik sebentar pada jam waker yang juga berdiri di sana. Masih terlalu dini untuknya bangun rupanya, namun entah kini kantuknya terasa menguap begitu saja.

 

Ia beranjak menuju laptop yang ia letakkan pada ujung ruangan. Menggeser cursor sebentar hingga kini beberapa foto seorang laki-laki hasil search engine dari sebuah nama yang sengaja ia masukkan semalam di kotak pencarian kini mendominasi layar laptopnya. Lee Na Hyun menghelan nafasnya berat. Ia memeluk kakinya masih dengan menatap layar laptop miliknya.

 

Kim Han Bin. Kini laki-laki itu menjadi orang yang besar. Siapa yang tak kenal laki-laki itu? Ya, laki-laki yang hampir menguasai seluruh pemberitaan Korea

 

“Kenapa kau selalu tak ingat dengan hari ulang tahunmu?”

 

“Apa kau tak memiliki kenangan akan ulang tahun terbaikmu?”

 

Lee Na Hyun memejamkan matanya saat sekali lagi pertanyaan-pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya. Tidak mengingat hari ulang tahun katanya? Tidak memiliki kenangan akan ulang tahun terbaik katanya?

 

Entah berapa kali ia harus membohongi dirinya tiap kali pertanyaan tersebut dilontarkan. Membohongi diri seakan kenangan beberapa tahun yang lalu akan ulang tahunnya tak lagi ia ingat. Tapi tetap tak bisa.

 

Dan malam ini ia kembali bermimpi akan hal itu. Entah bak sebuah kutukan yang selalu membuatnya merasa bersalah. Kim Han Bin, bagaimana kabar laki-laki itu sekarang?

 

Lee Na Hyun meraih ponsel miliknya. Memilih antara puluhan kontak nama yang ada di sana. Jarinya terhenti pada sebuah nama yang kini tengah ia rindukan. Ia selalu merindukan laki-laki itu namun entah saat ini, kerinduannya semakin menjadi. Ia menekan tombol ‘memanggil’ yang tertera pada layar sentuh miliknya sebelum akhirnya ia menempelkannya ke telinganya saat ini. Ia mencoba mereda gugupnya saat operator kini akan menyambungkannya segera dengan panggilan internasional, namun sedetik kemudian Lee Na Hyun mengurungkan niatnya dengan memutuskan panggilan itu. Ia tak lebih dari seorang pengecut.

 

Setelah kepergiannya bertahun-tahun tanpa mengatakan apapun kala itu, apa mungkin masih membuat laki-laki itu mengharapkannya? Apakah mungkin saat itu, laki-laki juga menahan kepergiannya sama halnya yang dilakukan oleh Kim Ji Won? Apakah laki-laki itu akan memaafkannya jika saat ini ia dengan rasa tak tahu dirinya menghubunginya kembali untuk sekedar menanyakan kabarnya?

 

Lee Na Hyun mendengus pasrah. Bodoh, pikirnya. Tak mungkin laki-laki itu mengharapkannya. Tak mungkin laki-laki itu juga menahan kepergiannya saat itu dan ia tahu tak mungkin laki-laki itu memaafkannya. Tentang apa yang telah ia perbuat saat itu, dengan meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun.

 

Tapi ia merindukannya. Ia merindukan laki-laki itu. Namun apa yang bisa ia lakukan selain memperhatikannya dengan jarak sejauh ini.

 

Lee Na Hyun yang hendak menutup kembali laptop miliknya, mengurungkan niatnya saat ia mendengar suara pemberitahuan akan sebuah email baru saja mengisi kotak masuknya. Dengan segera Lee Na Hyun membuka kotak masuknya demi membuka email yang baru saja ia dapat saat ini. Ia mengernyit saat membaca alamat pengirim yang tertera pada ujung badan email terasa begitu asing kiranya. Namun beberapa menit kemudian ia terlihat menahan nafasnya saat sebuah gambar baru saja terunduh olehnya dari email tersebut. Sebuah foto dirinya dengan dua laki-laki yang begitu ia kenal.

 

Semenit kemudian sebuah email baru kembali masuk ke dalam kotak masuknya. Ia menggigit bibir bawahnya setelah membaca beberapa kata yang tersusun dengan tulisan khas Korea pada badan email tersebut.

 

‘Saengil chukkae, Lee Na Hyun. Apakah kau ingat denganku?’

 

 

Lee Na Hyun masih menahan nafasnya, berusaha mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang masih bersedia menjadi tumpuannya kali ini. Namun berbeda dengan gadis itu, laki-laki itu senantiasa memandangnya dengan seringaian khas miliknya. Entah sudah berapa menit mereka berada posisi tersebut. Gadis yang terlihat canggung dengan posisinya, berulang kali berusaha mengalihkan pandangannya kemana saja, asal tidak pada laki-laki yang ada di bawahnya saat ini. Ia tahu hal ini tak baik untuk kesehatan jantungnya. Demi Tuhan, ia tak mengerti macam reaksi apa yang tengah ia rasakan saat ini.

 

“Kenapa kalian–ya!”

 

Lee Na Hyun dengan sigap beranjak dari tempatnya begitu pula dengan Han Bin kini saat sosok laki-laki lain baru saja membuka pintu menuju rooftop.

 

“Apa yang kau lakukan?” Kim Han Bin dan Lee Na Hyun saling bertatap sebelum mereka memandang laki-laki yang menatap mereka bingung.

 

“Ya Kimbab ah, jangan salah paham. Ia hampir saja jatuh dan aku membantunya.” Ujar Han Bin meraih pundak laki-laki yang lebuh tua darinya setahun tersebut.

 

“T-tapi kalian–“

 

“Aniya, sudah kukatakan bukan. Ayo kita masuk.” Ujar Han Bin memotong sebelum membawa laki-laki itu berjalan menuju rooftop. Ia sempat memandang Lee Na Hyun yang masih berada di belakang sebentar sebelum akhirnya ia kembali menyeringai yang lantas membuat Lee Na Hyun kembali menahan nafasnya.

 

“Ya, Lee Na Hyun kau tak masuk? Ini hari ulang tahunmu.” Ujar Kim Han Bin yang entah sejak kapan kini telah berada di hadapan gadis itu lagi sebelum akhirnya menggiring gadis itu untuk ikut bersamanya. Lee Na Hyun hanya menurut saja mengikuti langkah Han Bin kali ini.

 

“Jang! Tteobokki super pedas hanya untukmu.” Pekik Kim Ji Won membuka lembaran koran yang menutup beberapa porsi tteobokki entah bewarna begitu merah. Kedua laki-laki itu lantas tertawa melihat ekspresi gadis itu yang terlihat konyol.

 

“Ini apa? Ya, apa kalian mau membunuhku?” Ucap Na Hyun yang terdengar tak terima, namun bukannya merasa bersalah, kedua laki-laki itu semakin tertawa terbahak-bahak.

 

“Duduklah dengan manis dan nikmati sajian dari kami. Ayolah, ini hari yang spesial untukmu.” Ujar Kim Ji Won menimpali dan berusaha membuat satu-satunya gadis di antara mereka mendudukkan diri pada satu-satunya sofa yang mereka letakkan di sana.

 

Pertemuan tak sengaja Lee Na Hyun dengan kedua laki-laki itu pada tahun pertama Sekolah Menengah Atas membawa ketiganya pada hubungan persahabatan sejak saat itu. Ketiganya selalu menghabiskan waktu bersama dimanapun dan kapanpun, bahkan untuk menjalani satu per satu hukuman yang diberikan guru mereka hampir tiap harinya, mereka jalani bersama. Ya, bak pinang di belah tiga, mereka seakan tak bisa melakukan apa-apa saat satu di antaranya tak ada.

 

“Ya, Kim Ji Won. Kenapa kau tega melakukan ini padaku.” Ujar Na Hyun memukuli lengan laki-laki yang masih tertawa terbahak-bahak di sampingnya. Gadis yang terlihat gelisah karena rasa pedas yang ada di mulutnya berusaha menyuapi laki-laki yang ada di sampingnya dengan hal yang sama, yang membawa mereka pada pertengkaran selanjutnya.

 

Kim Han Bin yang berada di depan mereka menatap keduanya dengan tersenyum. Inilah Lee Na Hyun dan Kim Ji Won, batinnya. Mereka berdua akan sering terlihat bertengkar satu sama lain untuk beberapa hal konyol yang tak pernah bisa ia mengerti. Seakan mereka memiliki dunia mereka sendiri.

 

Kim Han Bin tersenyum tipis melihat gadis itu terlihat berteriak uring-uringan. Ia tak tahu mengapa, namun menurutnya jika saja gadis itu tak ada, ia tak akan pernah tahu bagaimana jadinya dirinya juga Kim Ji Won. Sifat, juga cara berpikir mereka yang terkadang berbeda setidaknya tak akan membuat mereka sedekat ini sebelumnya. Dan gadis itu datang seakan menyatukan keduanya.

 

Mengerti ia sedang diperhatikan, Lee Na Hyun menghentikan aksinya begitu saja. Dilihatnya Kim Han Bin yang masih saja tersenyum memperhatikannya. Terkadang laki-laki itu juga menyeringai, sama seperti yang sering ia lakukan akhir-akhir ini padanya. Melihat hal tersebut Lee Na Hyun sempat mengalihkan pandangannya, ia memegangi dadanya dimana jantungnya kini tak bersahabat dengannya. Demi Tuhan ia selalu merasakan hal ini akhir-akhir ini.

 

Kim Ji Won terdiam saat kini Lee Na Hyun berhenti menyuapinya dengan tteobokki yang masih ada di tangannya. Ia memandang Kim Han Bin yang masih tak berbicara di tempatnya. Laki-laki itu terlihat menyeringai di tempatnya menatap satu-satunya gadis di antara mereka yang mana membuat gadis itu tertunduk di tempatnya. Kim Ji Won dapat melihat jelas semu kemerahan pada kedua pipi gadis yang daritadi memukulinya tersebut.

 

Tunggu, apakah Kim Han Bin yang membuat semburat merah muda pada pipi Lee Na Hyun saat ini?

 

Kim Ji Won terdengar berdehem sebentar sebelum akhirnya kedua temannya kembali menatapnya sedikit canggung kali ini.

 

“Untuk hari yang spesial ini, bisakah kita mengabadikannya dengan beberapa foto?” Ujar Kim Ji Won terdengar seperti biasanya. Laki-laki itu lantas mengambil kamera yang ada di tasnya sebelum menarik Kim Han Bin bersamanya. Mereka lalu mendudukkan diri dan membuat Lee Na Hyun berada di tengah-tengah mereka. Lee Na Hyun yang mengetahui Kim Han Bin berada cukup dekat dengannya dan ‘ekali lagi’ membuatnya canggung.

 

“Ya, Lee Na Hyun lihatlah ke kamera.” Ujar Kim Ji Won mengarahkan lensa kamera pada dirinya juga kedua temannya. Kim Ji Won membenahi posisinya sebelum akhirnya ia kembali membuka mulutnya, “Satu, dua, tiga. Cheese!”

 

 

“Pemberhentian selanjutnya….”

 

Lee Na Hyun mengerjapkan matanya menatap arah depan. Setidaknya bus yang kini ia tumpangi sebentar lagi akan sampai di tempat yang ia tuju. Gadis itu sebentar merapikan isi tasnya sebelum akhirnya ia beranjak dari bangkunya dan segera turun saat bus berhenti pada pemberhentian yang itu tuju.

 

Lee Na Hyun terlihat memandangi sekitarnya dengan hati-hati, mencari sosok orang yang ia tunggu saat ini. Mengerti orang yang ia cari tak ada, Lee Na Hyun mangambil ponselnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi nomor yang diberikan orang tersebut pada malam sebelumnya.

 

“Oh!” Lee Na Hyun terkejut saat sekiranya seseorang dengan sengaja menutup kedua matanya dari belakang. Gadis itu tersenyun sebentar sebelum akhirnya melepaskan kedua tangan itu dari pandangannya.

 

“Kim Ji Won, bagaimana kabarmu?” Ujarnya yang kali ini berhasil membalikkan tubuhnya demi memandang laki-laki yang berada di belakangnya. Laki-laki bermata sipit itu mengembangkan senyumnya hingga kedua matanya benar-benar tak terlihat kali ini.

 

“Aku kira kau akan melupakanku, Na Hyun ah,” ucapnya yang lantas membuat Lee Na Hyun otomatis mengembangkan senyum karenanya.

 

“Lalu bagaimana kabarmu? Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini? Apa kau melihat–” Kim Ji Won menghentikan kalimatnya saat kini Lee Na Hyun terlihat menghelan nafasnya samar setelah mengedarkan matanya ke sekelilingnya beberapa kali. Ia tahu apa yang dilakukan gadis itu sedari tadi dan ia berani bertaruh gadis itu sama sekali tak mendengarkannya.

 

“Dia tidak ada,” ucap gadis itu begitu pelan namun sempat laki-laki itu dengar samar-samar. Masih sama. Gadis itu masih memikirkan orang yang sama.

 

“Ya, aku lapar bisa kita makan sekarang?” Lee Na Hyun tersentak saat laki-laki itu mengacak rambutnya terkesan sedikit kasar namun mampu membuat Na Hyun tersadar dari lamunannya. “Haruskah kita mencari sesuatu untuk makan siang hari ini?”

 

 

“Saranghaneun Lee Na Hyun, saengil chukkae hamnida.” Lee Na Hyun menutup wajahnya malu akibat perlakuan laki-laki yang ada di  hadapannya saat ini. Bagaimana tidak, laki-laki itu seakan mempermalukan dirinya sendiri dengan menyanyikan lagu berbahasa Korea dengan begitu keras. Bahkan laki-laki itu tak segan menggerakkan kedua tangannya kesana kemari sebagai penghias diri.

 

“Ya Tuhan.” Lee Na Hyun menyembunyikan senyumnya sambil masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bahagia tentu, namun ia juga sangat malu saat ini.

 

“Ada apa? Kau seharusnya senang aku berada di sini dan menyanyikan lagu itu khusus untukmu,” ujar laki-laki itu membela diri dan berusaha membujuk Na Hyun untuk membuka kedua tangannya dari wajahnya.

 

“Kau tahu Ji Won ah, ulang tahunku bahkan sudah lewat. Lalu bagaimana jika mereka mengenalimu dan dalam sekejap namamu akan terpampang di media pemberitaan Korea juga LA?” Laki-laki itu terlihat tak peduli yang membuat Na Hyun lantas membuang nafasnya pasrah. Ia lupa dengan sahabatnya yang satu ini. Laki-laki konyol yang tak segan melakukan hal-hal gila sekalipun. Meski ia adalah seorang artis saat ini, kepribadian maupun tingkahnya sama sekali tak berubah. Seakan itu memang dunianya.

 

“Karena di sini kita tak menemukan makanan Korea, maka aku membeli ini untukmu,” ujar laki-laki itu sembari meletakkan beberapa snack keripik rumput laut di meja. “Sup rumput laut. Kau bisa memakannya dengan sup asparagus milikmu itu.”

 

Lee Na Hyun menatap beberapa bungkus snack tersebut tak percaya sebelum akhirnya ia kembali menatap sahabatnya kali ini. “Demi Tuhan, Ji Won ah, apa yang kau pikirkan?”

 

“Tak ada. Dan menurutku ini ide yang cukup bagus,” ujarnya santai sebelum membuka salah satu bungkus snack tersebut dan memasukkannya ke dalam sup asparagus gadis itu tanpa seizin si empunya. Gadis itu sempat mengerang namun laki-laki itu masih terlihat tak peduli.

 

“Cobalah sedikit saja. Dan menurutku tak ada yang buruk dengan yang satu itu.”

 

Gadis itu merengut. Namun tak lama akhirnya ia meraih sendok supnya dan coba memasukkan snack rumput laut yang kini basah karena kuah supnya ke dalam mulutnya. Ia terlihat ragu pada awalnya namun tak lama ia kini mengembangkan senyumnya. “Aku tak menyangka, rasanya tak seburuk yang kupikirkan,” ujarnya puas kali ini sebelum ia kembali menyuapi dirinya dengan sup rumput laut asparagus ala Kim Ji Won tersebut.

 

Sedangkan Kim Ji Won tak bisa berhenti tersenyum saat kini gadis itu terlihat begitu menikmati hasil eksperimennya. Namun kemudian ia kembali teringatkan saat gadis itu kembali mengacuhkannya saat berbicara. Bahkan ia mendapati wajah kecewa gadis itu tadi. Mungkinkah, mungkinkah gadis itu masih menunggu laki-laki tersebut?

 

“Apa kau merindukannya?” ucap Ji Won yang kali terdengar lebih serius. Lee Na Hyun terlihat menghentikan aksinya sebelum ia kembali menatap laki-laki itu sekali lagi. Tak ada senyum yang biasanya laki-laki itu tunjukkan. Kali ini laki-laki itu terlihat begitu berbeda.

 

“Tentu aku merindukan kalian.” Giliran Lee Na Hyun kini yang berucap dan sempat membuat Ji Won menyeringai cukup singkat mendengarnya.

 

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Lee Na Hyun,” imbuh laki-laki itu yang entah terkesan dingin dari biasanya. Lee Na Hyun mengusap ujung bibirnya dengan serbet di sampingnya, berusaha bersikap setenang mungkin meski sebenarnya ia tengah menata kata per kata pada ucapannya.

 

“Aku tidak mengerti maksudmu Ji Won ah. Bahkan tak ada satupun dari ucapanku yang berusaha mengalihkan pembicaraan kita,” ujar Lee Na Hyun kali ini sambil menatap tamat-tamat laki-laki yang ada di hadapannya. Merasa tertantang, Kim Ji Won terdengar terkekeh pelan sebelum ia melipat kedua tangannya di atas meja sambil masih menatap gadis yang ada di hadapannya tersebut.

 

“Jelaskan padaku kenapa kau datang kemari.” Lee Na Hyun terlihat mengernyitkan dahinya sejenak sebelum akhirnya ia kembali berusaha untuk tetap tenang.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Apa kau lupa bagaimana kau terkesan menghindari kami kala itu dengan mengacuhkan semua usaha kami untuk menghubungimu?” imbuh Ji Won kali ini terdengar mengintimidasi. Lee Na Hyun terlihat menahan nafasnya saat ini. Di balik meja kedua tangannya terlihat mengepal kuat, seakan ia memang tengah menahan sesuatu.

 

“Aku memiliki alasan untuk itu,” jawabnya kali berusaha untuk tetap tenang menghadapi laki-laki tersebut.

 

“Memiliki alasan tersendiri? Meninggalkan kami dengan tiba-tiba tanpa mengatakan apapun apakah itu menjadi suatu alasan?” Lee Na Hyun menarik nafasnya dalam-dalam.

 

“Apa kau ingin aku pergi dari sini sekarang, Ji Won ah? Jika kau tak ingin aku berada di sini, aku bisa pergi sekarang—”

 

“Jawab pertanyaanku,” ujar Ji Won yang kali ini benar-benar memotong dan saat itu juga Lee Na Hyun menahan nafasnya. Keduanya masih saling bertatap hingga Na Hyun memutuskan untuk menundukkan kepalanya dan menciptakan hening di antara mereka.

 

“Apa kau ingin melindungi dirinya?” Lee Na Hyun mengangkat kepalanya segera seakan menegaskan ia tak percaya dengan dugaan yang baru saja laki-laki itu lontarkan padanya.

 

“Apa ada yang salah dengan ucapanku? Kau tak memberitahu kami akan kepergianmu saat itu. Kau tak memberitahunya tentang hubungan kita, apa karena semata-mata kau ingin melindungi perasaannya?”

 

“Cukup.”

 

“Kenapa tidak kau katakan saja tentang hubungan spesial yang kita jalani saat itu padanya? Dan oh, apa kau juga menyimpan perasaan padanya sehingga kau melakukan semua ini?”

 

“Kumohon cukup.”

 

“Lalu saat aku mencegah kepergianmu saat itu dan saat kau sama sekali tak menghiraukan ucapanku saat itu hingga sampai dimana kau akhirnya mengakhiri hubungan kita. Apa semua karena kau mulai menyukai Kim Han Bin?”

 

“Hentikan, Kim Ji Won!” Pekik gadis itu kali ini dan tak segan memukul meja dengan cukup keras. Nafasnya terengah akibat menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun sedari tadi. Kali ini ia tak peduli bagaimana tamu lain tengah memandangnya. Ia bahkan tak peduli jika ia dihina habis-habisan oleh netizen karena barubsaja membentak seorang artis di muka umum.

 

Lee Na Hyun menarik nafasnya dalam-dalam saat kini dadanya terasa begitu sesak. Ia perlahan memukul dadanya, berusaha melepaskan rasa sesak yang membelenggunya sedari tadi. Sedangkan Kim Ji Won terlihat tertunduk tak tahan dengan air mata gadis itu yang entah sejak kapan membasahi kedua pipinya. Gadis itu menangis, karenanya.

 

“Maafkan aku Kim Ji Won.” Ucap gadis  itu yang terdengar melembut meski ia masih mendengar getaran pada ucapannya barusan.

 

“Aku tak tahu harus berapa kali aku mengatakannya, namun aku benar-benar menyesal tentang apa yang telah kulakukan padamu juga padanya. Aku tahu aku salah.”

 

Lee Na Hyun mengusap air matanya berusaha menyembunyikan tangisnya, namun gagal. “Aku selalu berusaha memberanikan diri untuk menghubungi kalian dan menjelaskan semuanya. Namun semua berakhir dengan aku mengacuhkan setiap pesan dan panggilan dari kalian.”

 

“Aku hanya tak ingin menyakiti satu di antara kalian, namun nyatanya aku semakin menyakiti kalian. Itulah mengapa aku melakukan semua ini,” ucap gadis itu yang terdengar lemah kali ini sebelum membuatnya terisak kembali. Kim Ji Won menarik nafasnya dalam-dalam. Ia mengusap rambutnya frustasi. Ia tahu ia salah. Tak seharusnya ia mengatakan semua ini dan memulai pertikaian atas beberapa tahun yang lalu. Namun apa yang bisa ia lakukan? Ia juga manusia. Ia bisa meluapkan kemarahannya kapan saja saat ia kecewa. Ia bisa melakukan apapun yang mungkin akan terlihat begitu bengis saat ia merasa disakiti.

 

Namun setelah ia melihat kejadian hari ini, mungkin lebih baik ia harus menjaga baik-baik dan menyimpan semua rasa kecewa juga amarahnya sendiri. Ya, jika ia tak melakukan hal tersebut, ia tak mungkin mendapati gadis yang begitu ia sayangi menangis di depannya, karenanya. Yang mana hal itu tentunya semakin menyakiti dirinya.

 

Mungkin sebaiknya ia memang tak berada di sini saat ini. Mungkin seharusnya ia pergi sekarang atau jika tidak ia akan semakin memperburuk keadaan gadis itu. Kim Ji Wom terdengar menghelan nafasnya sebentar sebelum ia mulai beranjak dari bangkunya. Menatap sebentar ke arah gadis yang masih terisak disana, sebelum berkata, “Bolehkah aku bertanya padamu tentang satu hal, Na Hyun ah?”

 

Kim Ji Won menghentikan kalimatnya saat suara isak gadis itu mulai mereda perlahan dan akhirnya gadis itu mulai berusaha menatapnya di balik genangan di pelupuk matanya. “Jika…jika saat itu dialah yang mencegah kepergianmu. Jika saat itu ia yang menghentikanmu, apakah kau akan benar-benar tinggal?”

 

Lee Na Hyun terlihat tertunduk di tempatnya dan Kim Ji Won mengerti betul atas reaksi apa yang gadis itu tunjukkan padanya. Ia meringis. Ia kemudian melanjutkan langkahnya melewati gadis yang masih tak memiliki apapun untuk dikatakan saat ini. Ia tersenyum kelu menatap gadis itu lebih dekat kali ini.

 

“Kau tahu, Kim Han Bin juga datang untukmu tepat setelah kau pergi pada saat itu. Dan..” Kim Ji Won terdengar menarik nafasnya dalam-dalam kali ini sebelum kembali berucap, “Kau tahu, saat kau berusaha melindungi perasaan seseorang, kau telah lebih dulu mengorbankan perasaan orang lain.” ucapnya terdengar begitu berat. Ia lalu meletakkan sapu tangan miliknya tepat di samping gadis itu sebelum mengusap rambutnya lembut.

 

“Kumohon jangan menangis lagi,” ucapnya lembut kali ini sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya pergi dan meninggalkan gadis itu sendiri.

 

Lee Na Hyun!” Mendengar seseorang memanggilnya gadis yang termangu di bangkunya kali ini menahan nafasnya. Dilihatnya laki-laki yang terlihat terengah-engah kehabisan nafas akibat rute lari yang cukup jauh yang tadi ia ambil. Namun bukannya menyambut, Lee Na Hyun masih tak memberikan reaksi apapun, selain menundukkan kepalanya enggan menatap laki-laki yang memandangnya dengan penuh harap.

 

Gadis itu terlihat menatap jam tangannya sebentar sebelum akhirnya ia beranjak dari bangkunya dan siap dengan koper miliknya seakan tak memperdulikan laki-laki yang berada di belakangnya kali ini.

 

“Apakah kau akan mendiamkanku begitu saja dan pergi tanpa mengatakan apapun?” Lee Na Hyun menghentikan langkahnya seketika saat laki-laki itu mulai angkat bicara saat ini. Ia terdengar mendengus cukup keras. Gadis itu tahu, laki-laki itu marah padanya.

 

“Setidaknya katakan sesuatu saat kau pergi. Setidaknya katakan bila kau akan meninggalkanku.” Lee Na Hyun menggigit bibirnya. Masih membelakangi laki-laki itu, Lee Na Hyun mengeratkan genggamannya pada pegangan koper miliknya.

 

“Paling tidak katakan sesuatu jika kau menghargai hubungan—“

 

“Lupakan aku.” Ucap gadis itu kali ini tegas. Lee Na Hyun memutar tubuhnya demi menatap laki-laki yang terlihat menyedihkan saat ini.

 

“A-apa? Apa maksudmu?”

 

“Kubilang lupakan aku. Semuanya telah usai. Hubungan kita telah usai,” ucap Lee Na Hyun mempertegas ucapannya. Kim Ji Won menahan nafasnya. Ia mengepalkan tangannya erat-erat menahan amarah hingga buku-buku jarinya memutih.

 

Lee Na Hyun berusaha menguatkan diri menatap laki-laki itu yang kini kehilangan kata-katanya. Bukan, bukan karena ia kejam sehingga melakukan semuanya. Kepergiannya bukanlah sebuah kesengajaan. Ia memang harus pergi bukan karena alasan khusus. Namun saat sebuah kepergiannya dirasa memberatkan beberapa orang. Maka ia memilih untuk tak mengatakan apapun dengan alasan tak ingin menyakiti siapapun lebih jauh lagi.

 

Dan kini ia tampil begitu kejam dan membiarkannya dibenci banyak orang demi hal ini. Lee Na Hyun sudah menyiapkan diri akan semua kemungkinan nantinya. Dengan seperti ini, tak akan ada yang mencegah kepergiannya meski tanpa sadar ia ingin seseorang memang mencegahnya.

 

“Jangan pergi.” Lee Na Hyun menatap kembali laki-laki itu yang sedari menatapnya tamat-tamat. Namun gadis itu memilih untuk mengalihkan pandangannya, tak kuat menatap kesedihan laki-laki itu lebih lama lagi.

 

“Jangan pergi. Meski aku bukan alasan untukmu tinggal, paling tidak kau harus tinggal demi sebuah alasan yang lain,” imbuh laki-laki itu terdengar memohon. Lee Na Hyun menarik nafasnya dalam-dalam berusaha untuk menahan tangisnya saat ini. Ia tak bisa berdiri lebih lama lagi jika tak mau laki-laki itu melihat tangisnya.

 

“Hentikan usahamu untuk menghentikan kepergianku, Ji Won ah.” Lee Na Hyun menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia memberanikan diri kembali menatap laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. “Karena itu tak akan berarti apa-apa, Ji Won ah,” imbuhnya yang masih menjaga intonasi suaranya.

 

“Terima kasih untuk semuanya. Jaga dirimu baik-baik.” Lee Na Hyun memaksakan bibirnya untuk tersenyum sebelum akhirnya ia kembali memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan laki-laki itu. Sadar kini jarak keduanya cukup jauh, saat itu pula tangisnya pecah.

 

 

“Jadi kau tak ingin memberitahuku tentang apa yang telah terjadi tadi?” Lee Na Hyun menatap temannya yang berada di bangku kemudi sebentar sebelum akhirnya ia berusaha menyunggingkan senyumnya. Seakan meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.

 

Kim So Ra mendengus pelan melihat respon yang diberikan temannya saat ini. Ia khawatir, tentu saja. Bagaimana tidak temannya tersebut menelponnya siang ini dengan suara yang terdengar kacau. Ia yakin saat itu Lee Na Hyun tengah menangis dan ia tak tahu apa alasannya. Namun saat ia datang untuk menjemputnya, gadis itu sama sekali tak menjelaskan apa-apa. Hanya kedua matanya yang terlihat sembab itulah yang seakan menjawab semua pertanyaannya.

 

Kim So Ra masih memandang gadis yang berada sampingnya tersebut diam-diam. Benar saja, Lee Na Hyun sama sekali tak memandangnya. Gadis itu lebih banyak memandang ke arah luar jendela daripada ke arah depan.

 

“Katakan padaku apa ini karena teman Seoul yang kau ceritakan pada kami saat itu? Kau bertemu dengannya hari ini bukan?” Tanya Kim So Ra masih penasaran. Seakan tak terima rahasia Na Hyun tersimpan olehnya sendiri. Ia cemas dengan apa yang terjadi pada Na Hyun saat ini.

 

“So Ra ah, bisakah kita pulang saja sekarang? Dan untuk hal itu..” Lee Na Hyun terdengar menghelan nafasnya sebentar, sebelum berucap, “Maaf, aku tak bermaksud merepotkanmu tapi aku butuh waktuku.” Lee Na Hyun kembali menatap temannya tersebut menyesal. Mungkin terdengar salah ia bertindak seperti demikian, namun ia hanya butuh waktunya sendiri.

 

“Baiklah. Aku mengerti,” ujar So Ra sekali lagi sebelum akhirnya ia memutuskan untuk diam dan hanya terfokus dengan benda bundar yang ia genggam. Lee Na Hyun benar-benar dengan apa yang dikatakannya. Pada sepanjang perjalanan pun, ia sama sekali tak membuka mulutnya. Entah apa yang tengah ia pikirkan. Begitu juga gadis yang berada di sampingnya, seakan tak ingin mengusiknya, ia benar-benar tak berbicara saat ini. Menghormati permintaan Na Hyun beberapa menit yang lalu.

 

Kim So Ra mematikan mesinnya setibanya mereka di depan kediaman Lee Na Hyun saat ini. Ia menoleh sebentar pada Na Hyun yang membuka pintu mobil yang ada di sampingnya namun gadis itu tak segera beranjak. “Aku tak keberatan jika kau ingin berkunjung,” ucap gadis itu yang lantas tersenyum singkat pada temannya yang masih berada di bangku kemudi tersebut. Dengan sekali anggukan Kim So Ra akhirnya menurut.

 

“Apakah kedua orang tuamu pergi?” Tanya Kim So Ra yang kali ini mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Lee Na Hyun mengedikkan bahunya. Ia tak tahu pasti. Beberapa ruangan terlihat masih gelap padahal matahari sudah kembali ke peraduannya sejak satu jam yang lalu.

 

“Aku tak yakin. Mereka tidak memberitahuku jika mereka pergi. So Ra ah, sebentar aku harus mencarinya di lantai dua. Bila kau haus, kau bisa mengambilnya di dapur,” ujar gadis itu kali ini bergegas menuju lantai dua. Masih sama, lampu pada semua ruangan belum dinyalakan. Padahal rumah keadaan tidak terkunci. Ini aneh menurutnya.

 

“Ah!” Mendengar temannya tersebut menjerit, Lee Na Hyun dengan segera berlari menuju arah dapur. Namun dalam sekejap ia menghentikan langkahnya saat sadar apa yang kini berada di hadapannya. Sebuah kotak berukuran sangat besar tengah berada di dapurnya saat ini.

 

“Ini apa?” Kim So Ra menggelengkan kepalanya. Wajahnya sama terkejutnya dengannya saat ini.

 

“Aku tak tahu. Aku menemukannya di sini saat aku menyalakan lampu dapurmu,” ujar Kim So Ra menjelaskan. Merasa tak puas dengan jawaban temannya tersebut, Lee Na Hyun memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya mendekati kotak yang lebih besar darinya tersebut. Kim So Ra sempat menahannya, namun Lee Na Hyun tak mau berhenti.

 

Lee Na Hyun coba meraih pita berukuran besar yang membelit kotak tersebut. Perlahan ia menariknya agar pita tersebut terlepas dari kotak tersebut. Tangannya tanpa sadar bergetar saat kini ia akan mulai membuka kotak tersebut.

 

“J-jangan. Bagaimana jika itu sebuah bom atau entahlah. Jangan buka!” ucap Kim So Ra mencoba mencegah Lee Na Hyun. Namun gadis itu terlihat tersenyum sebentar sekedar meyakinkan sahabatnya sebelum akhirnya ia mulai meraih ujung kotak kardus itu dan membukanya.

 

Dan saat itu pula ia terlihat menahan nafasnya saat apa yang ada di dalam kotak tersebut mulai terlihat olehnya. Ia terhuyung di tempatnya sebelum akhirnya Kim So Ra meraih gadis itu dari belakang saat menatap sosok laki-laki yang ada di dalam kotak tersebut. Laki-laki itu mengembangkan senyumnya saat Lee Na Hyun tak berhenti menatapnya dengan ekspresi terkejutnya.

 

“Ya Tuhan, Kim Han Bin,” ujar gadis itu yang masih menatap sosok laki-laki itu tak percaya. Laki-laki itu berjalan keluar dari kotak tersebut sebelum berjalan menuju gadis yang masih memandangnya takjub.

 

“Hai, ini aku. Apa kau merindukanku?” ujar laki-laki itu begitu tenang saat kini ia berada di hadapan gadis itu. Ia mengembangkan senyum terbaiknya sebelum meraih salah satu pipi gadis itu dan mengusapnya pelan. Pada saat itu pula Lee Na Hyun tersadar dan dengan segera menghambur memeluk laki-laki itu erat-erat. Laki-laki yang masih tersentak karenanya perlahan meraih punggung gadis itu dan mengusapnya lembut. Ia lalu mengeratkan pelukannya saat kini Lee Na Hyun terdengar terisak kembali.

 

“Maafkan aku, Kim Han Bin. Maafkan karena meninggalkan kalian. Maafkan aku karena tak mengatakan apapun saat aku pergi.” Kim Han Bin menghelan nafasnya pelan sebelum ia terlihat menyeringai tipis kali ini.

 

“Aku sudah memaafkanmu. Begitu pula Kim Ji Won,” ujar laki-laki itu kali ini menatap laki-laki lain yang berjalan menuju dirinya juga gadis itu diikuti beberapa orang lainnya. Kim Ji Won mengembangkan senyumnya saat Lee Na Hyun melepaskan pelukannya demi menatap laki-laki itu. Berbeda dengan yang tadi, laki-laki itu kini kembali menjadi sosok Kim Ji Won yang ia kenal dahulu. Senyumnya hangatnya kembali terkembang dari wajahnya. Namun hal tersebut tak lantas menghentikan tangis Na Hyun yang semakin menjadi. Ia tak bisa mengartikan tangisnya sama sekali. Entah itu adalah tangis kebahagiaan atau tangis kesedihan. Ia juga tak yakin akan hal itu.

 

 

“Maafkan perlakuan Ji Won yang sedikit berlebihan tadi. Ia bilang ia sedikit lepas kendali, namun yakinlah ia bersikap seperti demikian karena kami tak ingin kehilangan dirimu,” ujar laki-laki itu yabg kini mengusap rambut Na Hyun lembut berharap tangis gadis itu terhenti, namun salah dugaannya tangisnya semakin menjadi kali ini. Ia menyeringai. Entahlah apa yang dirasakan gadis itu saat ini. Tentunya apa yang dilakukan Ji Won tadi seakan menamparnya keras-keras dengan mengingatkannya atas kesalahan yang pernah ia lakukan dahulu. Gadis yang berhasil membuat dirinya juga temannya tersebut bertengkar hebat sempat tak termaafkan, namun kini mereka sadar seberapa pentingnya gadis itu bagi mereka. Dan membuat keduanya memutuskan untuk datang untuk gadis itu setelah beberapa tahun mereka tak berhubungan satu sama lain.

 

“Bisakah kau berhenti menangis gadis cengeng?” ucap Kim Han Bin kini menangkup kedua pipi gadis yang ada di hadapannya tersebut. Ia mengusap perlahan air mata gadis itu dengan jari telunjuknya sebelum akhirnya ia mengembangkan senyumnya.

 

“Katakan padaku jika kau menungguku.” Lee Na Hyun mencoba menghentikan tangisnya sebelum ia menatap laki-laki itu yang terdengar serius kali ini. “Apakah kau akan benar-benar tinggal jika aku yang mencegahmu saat itu?” imbuhnya yang kali ini penuh penegasan. Lee Na Hyun menghapus air matanya di kedua matanya dan berusaha menatap dengan jelas sosok laki-laki itu, berharap ini bukanlah sebuah mimpi.

 

Lee Na Hyun menganggukkan kepalanya berulang. Mengatakan “iya” berpuluh-puluh kali sebagai jawaban atas pertanyaan laki-laki itu. Terkesan konyol, namun ia tak ingin jika laki-laki itu salah mengartikan jawabannya dan memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Masih dengan sisa tangisnya ia kembali meraih laki-laki yang ada di hadapannya seakan enggan terpisah untuk kesekian kalinya.

 

Kim Han Bin terdengar tertawa pelan saat kini ia mengeratkan  pelukannya pada gadis itu. Dengan mengusap rambutnya lembut, ia mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu dan berbisik lirih, ” Selamat ulang tahun. Aku mencintaimu, Lee Na Hyun.”

 

 

 

 

Fin

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Day To Remember

  1. Aku baru baca ini 😁 dedek hanbin bisa romantis gitu hahahah xD
    Bobby sendiri aja? Sama nuna siniiii xD
    Jangan buat bobby jomlo dong thor hahah
    Hahahah ceritanya uniik xD lucu kkkk imut cute juga kkkk kyaaa makin pinter aja nulis fluffyyyy kayak gini cieeeeeeeee😙

    Like

    1. Hahaha kan ya biar ga spesialis angst mulu nunna :”’) hahaha makasih bgt ud mau baca nunna, iya nih dedek hanbin belajar dr mana jd bisa romantis gitu hehe. Bobby is mine, remember? 😉 hahaha. Nunna sama sehun ajaa #canda

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s