fluff · Genre · Length · One Shoot · PG · Rating · Romance

[FF Freelance] On A Rainy Day


N-VIXX-On-and-On-vixx-33905670-1280-931

Author: Jihyo Park

Title: On a Rainy Day

Cast:

-Cha Hakyeon aka N (VIXX)

– Jung Raemi(OC or “Aku”)

Genre: Slice of Life Story, Romance, Fluff

Length: One-shot(1,067 words)

Rating: PG

Rasanya hari ini aku benar-benar sial.

Hari yang buruk ini dimulai dari tadi pagi. Pada malam sebelumnya aku sudah menyetel alarm di ponselku agar dapat membangunkanku pada pukul 6 pagi. Namun,  alarm bodoh itu justru tidak berbunyi dan membuatku telat masuk kuliah.

Kupikir ketidak-beruntunganku hanya akanberhenti disitu saja, namun ternyata tidak. Saat jam kuliah berakhir, aku menyusuri lorong dari kelas kekelas untuk pergi ketempat parkir dan membawa mobilku pulang.  Namun aku bisa merasakan bahwa setiap orang yang kulewati mentertawakanku—aku bisa mendengarnya, sekecil apapun suara tawa mereka.

Awalnya aku tidak mengerti apa yang mereka tertawakan, sampai akhirnya salah satu dari temanku memberitahuku bahwa sepatuku berbeda sebelah. Sebelahnya adalah flat shoes berwarna coklat muda, sedangkan yang satunya adalah flat shoes-ku yang lain, berwarna hitam. Aku pun malu dan menutupi wajahku yang memerah, dan langsung berlari ketempat parkir.

 

Dan sekarang, seharusnya aku sedang berada di café untuk mewawancarai salah satu narasumber untuk tugasku.Tetapi, mobilku mogok di tengah jalan, dan aku terpaksa mendorongnya kebengkel untuks ementara, dan aku memutuskan untuk berjalan kaki, mencari-cari ‘Board Café’, dengan alamat café yang ada di genggamanku.

Karena pada awalnya langit tampak begitu cerah, aku tidak menyangka aku akan diguyur oleh hujan lebat yang tiba-tiba turun saat aku sedang berjalan di trotoar. Daerah di sekitar trotoar itu pun mulai padat dengan orang yang berlalu-lalang sambil membawa payung,  ataupun orang-orang yang berlari agar tidak terkena hujan, dan aku terjebak di antara orang-orang itu. Kurang beruntung apalagi?

Aku tidak bisa melihatapapun. Kacamataku tertutup oleh butiran hujan, maka pemandangan di depanku menjadi buyar, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku mengambil saputangan yang ada di sakucelanaku, tetapi saputangan itubasah, dan tidak dapat kugunakan untuk mengelap kacamataku.

Maka, aku memutuskan untuk diam dan tetap berdiri disana, menunggu sampai keramaian di sekitar trotoar mulai berkurang, agar aku bisa duduk di perhentian bis dan berteduh.

Semakin lama aku berdiri disana, keramaian disana justrus emakin bertambah, begitu juga dengan hujannya.Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang berlari dengan kencang, lalu menabrakku dari belakang hingga aku terjatuh. Aku bisa mendengar langkah kakinya yang menjauhiku. Tch, gumamku. Diabahkan tidakmeminta maaf terlebih dahulu.

Aku langsung bangun dan mengelap tanganku yang kotor di bajuku. Persetan dengan wawancara, aku sudah tidak peduli.Yang aku inginkan sekarang hanya pulang ke apartemenku, mandi, lalu tidur. Hari ini sangat melelahkan.

 

‘Kejutan’  demi  ‘kejutan’ kembali menghampiriku. Telingaku tidak bisa mendengar apapun, karena di penuhi oleh suara hujan yang jatuh dan bertubrukan dengan aspal, dan suara kaki orang-orang yang menginjak kubangan air yang cukup keras—bahkan air dariku bangan itu sempat terciprat kecelana panjangku. Ugh.

Sampai akhirnya, aku merasa ada seseorang yang menarik lenganku cukup kuat.Aku hampir yakin bahwa orang yang menarikku adalah seorang laki-laki, setelah merasakan cengkramannya pada bagian lenganku. Mungkin lenganku sudah memerah.

Aku merasakan tubuhku yang tertarik mulai bertubrukan denganbahu orang-orang di jalan, tetapi aku tidak peduli. Yang aku pikirkan adalahpria yang sedangmenarikku didepanku—apa dia penculik? Apa yang dia mau?

Kemudian, aku merasakan gelang kesayangan kujatuh, karena pergelangan tanganku terasa kosong tanpa gelang itu, yang ku kenakan hampir setiap hari. “T – Tunggu, gelangku!” Aku berusaha berteriak untuk menyuruhnya berhenti, namun hasilnya nol. Dia tetap berlari, berusahau ntuk mengeluarkan kami berdua dari keramaian itu.

Singkat cerita, kami berdua berhenti di sebuah jalan yang mulai sepi.Aku bisa merasakannya, karena tidak ada lagi suara orang yang berteriak, tidak ada lagis uara kaki orang yang menginjak kubangan air, yang ada hanyalah suara hujan yang enggan berhenti sedari tadi. Pft.

 

Setelah beberapa saat, aku tidak merasakan ada hujan yang jatuh kekepalaku, padahal suara hujan yang keras itumasih terdengar. Aku pun mendongak keatas dan melihat ada payung berwarna pelangi yang melindungi kepalaku.

“Pegang payung ini,” Aku mendengar suara manis yang terdengar dari sisi kananku. Ini suara pria tadi? Batinku sambilmengambil payung yang sedang terbuka itudari genggaman pria itu.Kemudian, tanpa basa-basi dia mengambil kacamataku. Dan aku membuka mata, walaupun yang kulihat hanyalah bayangan yang samar.

Walaupun aku tidak bisa melihat dengan jelas, aku bisa melihat pria di depanku itusedang mengambils esuatuyang misterius dari sakunya—yang kemudian kutahu adalahsapu tangan—dan mengelap kacamataku yang basah denganitu.

“Sudah,” gumamnya kecil sambil memasang kembali kacamataku dengan rapi. Aku pun membuka mataku perlahan, dan penglihatanku kembali normal.

Aku melihat kearah pria di depanku, dan langsung menganalisis figurnya. Yang pertama kali menarik perhatianku adalah warna kulitnya yang agak gelap—menurutku itu sedikit eksotis—dan rambutnya yang berwarna abu-abu. Jarang dan hampir tidak ada laki-laki Korea yang ingin mewarnai rambutnya seperti itu, namun kurasa pria ituadalah pengecualian. Tampan. Dias angat tampan.

Dan tingginya. Dia sangat tinggi dankurus, kesannya seperti tiga puluh sentimeter lebih tinggi dari padaku.Tanpaku sadari, aku sudah memperhatikannya sambil melongo, sementara dia hanya tertawa kecil akibat reaksiku saat melihatnya untuk pertama kali.

“A-Apa yang kau t-tertawakan?” Tanyaku sambil menyembunyikan wajahku yang memerah dengan menunduk.Lalu dia menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, “Kaumanis,” dan itu membuat pipiku memerah lebih parah lagi.

“Cha Hakyeon,” Lanjutnyas ambil menjulurkan tangannya, saat aku tidak menjawab pujiannya. Aku berpikirs ejenak. Ayolah, kenapa akus angat lamban?Namanya Cha Hakyeon, bodoh!

“J-Jung Raemi,” Aku menjawab—menahan malu—dan menjabat tangannya. Saat kedua telapak tangan kami bersentuhan, aku dapat merasakan tangannya yang dingin dan beku, namun ekspresinya tidak menunjukkan apabila dia kedinginan.

“Terima kasih sudah membantuku lepas dari keramaian bodoh itu,”gerutuku sedikitberteriak—karena hujan deras—sambil memberanikan diri menatap wajahnya. Bodoh sekali, walaupun aku malu karena ditolong olehnya, aku masih saja berusaha untuk menatapnya. Tetapi nampaknya dia tidak begitu mempedulikan pipiku yang memerah, agar aku dapat berkomunikasi lebih nyaman.

Dia menepuk pundakku, dantiba-tiba itu membuatku merinding karena tangannya yang dingin, namun aku tidak menunjukkan ekspresi apapun padanya. “Itub ukanapa-apa,” Jawabnya singkat—begitulah menurutku, karenaa ku susahmendengar apapun di saat hujan deras itu.

“Pakaianmu sangat kotor. Ingin kuantar pulang?” Tawarnya sambil membersihkan sedikit tanah yang menempel di pakaianku, meninggalkan bekas berwarna coklat tua di bajuku yang berwarna putih.

Awalnya aku ingin menolak, namun sebelum aku dapat menjawab, aku terdiam saat dia mulai mengambil payungnya dari tanganku, lalu mendekatkan diriku padanya. “Dimana rumahmu? Biar aku yang menemanimu,” Tanyanya sambil menyentuh telapak tanganku yang lecet akibat tergesek aspal saat jatuh tadi.

Bukannya menjawab, aku justru terdiam danmenunduk, mengikuti langkah kakinya yang besar sambil memegangi pipiku yang bisa jadi akan meledak saking panas dan merahnya setelah menahan malu.

Well, hari ini tidak seburuk yang kubayangkan.

 

 

End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s