Angst · Freelance · Genre · Length · One Shoot · PG -13 · Rating · Romance

[FF Freelance] The Cafe


jonghyun_by_littleglamkitty-d5cclwx

Author: Jihyo Park

Title: The Café

Main Cast:

-Kim Jonghyun (SHINee)

– Jung Hyera (OC or “Aku”)

Other Cast:

– Shin Sekyung (Actress)

Genre: Romance, Angst

Length: One-shot (4,234 words)

Rating: PG-13?

Note: Seharusnya ini Twoshot, tapi kujadikan Oneshot ya, supaya datanya mudah dikirim

Aku selalu melihat dia disini, duduk di tempat yang samadan memesan minuman yang sama. Sudah lebih dari empat bulan semenjak pertama kali dia menghampiri café tempatku bekerja, dan dia selalu melakukan rutinitas yang sama. Dia akan datang dari sore sampai malam hari, memesan segelas minuman yang sama setiap harinya, dan selalu menjadi pelanggan terakhir di café ini.

Ada yang aneh dari pria itu. Sejujurnya, aku tidak pernah merasakan ataupun mempercayailove at first sight atau istilah apapun itu seumur hidupku. Tetapi, ada sesuatu dari pria itu yang membuatku tertarik padanya, entah senyumnya yang ramah saat dia menerima buku menu, ataupun kebiasaan uniknya, yaitu menyanyi kecil apabila café mulai sepi—dan fyi, aku menyukai suaranya—ataupun figurnya yang terlihat tegas dan wajahnya yang tampan. Entahlah, semua bagian dari dirinya sangat menarik bagiku.

Dia seringkali datang sendiri, namun terkadang dia datang bersama teman-temannya.Dan semenjak itu, aku mengetahui bahwa namanya Jonghyun.Bahkan aku bukan hanya menyukai dirinya, tetapi juga menyukai namanya.Walaupun teman-temannya memesan berbagai macam minuman, dia tetap memesan minuman yang sama—segelas Green Tea Latte—bahkan terkadang aku bingung, apa dia tidak pernah bosan?

Saat aku menghampiri mejanya sambil membawa Lattenya, dia selalu memberi respon yang sama. Dia akan menatapku sambil tersenyum, lalu mengatakan ‘Terima kasih’ dengan formal, dan aku hanya akan menunduk dan membungkuk kecil padanya, karena aku merasa malu.

Tak jarang aku mendapatinya sedang memperhatikanku dari pojok ruangan, dengan sedotan yang terletak di antara kedua bibirnya—terlihat jelas sekali dia tidak sedang menghisap atau meminum Lattenya—dan aku selalu berpikir bahwa dia hanya sedang melamun, bukan memperhatikanku seperti apa yang kupikirkan. Bodoh, pikirku sambil meneruskan pekerjaanku.Dia tidak mungkin menyukaiku, ‘kan?

Aku tidak akan pernah percaya apabila dia mengatakan bahwa dia menyukaiku. Lagipula, dia adalah pelanggan ‘kan? Sedangkan aku hanya seorang pelayan.Tidak mungkin.

 

Hari ini, seperti biasa, aku mengambil shift kerja sore sampai malam, tepatnya pada pukul 15:00 sore hingga 22:00 malam, karena aku harus kuliah dari pagi hari.Sebelum aku selesai membersihkan meja yang kotor pun, Jonghyun sudah berada didepan pintu, membawa tumpukan kertas-kertas, laptop, dan buku file di kedua tangannya, berusaha untuk menendang pintu café dari luar.Aku yang melihatnya pun langsung menghampirinya dan membukakan pintu untuknya.

“Terima kasih, mungkin pintu ini akan rusak kutendang apabila kau tidak menolongku.” Ujarnya, memamerkan senyum lebarnya sambil melangkah masuk. “Bukan apa-apa.” Jawabku singkat sambil menggaruk kepalaku dan tersenyum kecil, bingung apa yang harus kulakukan.

Dan seperti biasa, dia melangkah ke pojok café dan duduk di meja yang kosong disana.Tempat itu sudah seperti tempat keramat baginya. “Aku pesan segelas Green Tea Latte, terima kasih.” Ujarnya tanpa melihatku, melainkan sibuk menata kertas-kertasnya yang berantakan.

Sibuk sekali, batinku sambil membawakan Latte ke mejanya, beberapa menit kemudian. Baru kali ini aku melihatnya begitu sibuk, karena biasanya dia akan hanya duduk disana sambil memainkan ponselnya dan memasang kedua earphone-nya, entah lagu apa yang didengarkannya setiap hari.

Saat aku sampai di mejanya, dia langsung tersenyum—lagi lagi, seperti biasa—dan mengambil gelas berisi Green Tea Latte itu dari nampan yang kubawa.

“Terima kasih lagi. Maaf aku agak merepotkan hari ini.” Ucapnya sambil menggaruk belakang lehernya.Aku tertawa kecil, melihat tingkahnya yang lucu. “Tidak apa-apa. Kau terlihat sibuk sekali, tidak seperti biasanya.” Balasku sambil memeluk nampan itu didepan dadaku.

Dia bergumam, lalu menjawab, “Ya, sebentar lagi aku harus mengerjakan tugas akhir semesterku. Sebenarnya aku sangat malas, tetapi aku tetap harus mengerjakannya, ‘kan?” Sambil ikutan tertawa.Aku hanya mengangguk, lalu kembali meletakkan nampan tersebut di meja kasir.Dia sangat menarik, indeed.

 

Setelah beberapa jam berlalu, Jonghyun tetap sibuk mencatat dan menulis di kertasnya, dan mengetik di laptopnya bergantian, bahkan Lattenya baru setengah gelas terminum. Meskipun aku sibuk melayani pelanggan yang lainnya, aku selalu menyempatkan diri untuk melihatnya—atau bisa disebut meliriknya—walaupun hanya sekilas.

Aku melirik jam dinding, sekarang tepat pukul 9 malam, dan sudah tidak ada lagi pelanggan yang mengunjungi café. Well, kecuali Jonghyun. Aku melirik lagi kearah pria yang sedang mengutak-atik laptopnya itu.

“Apa aku begitu tampan? Sampai-sampai kau memperhatikanku begitu.” Katanya dengan suara yang cukup besar, yang dapat terdengar dari meja kasirku.Aku pun baru sadar bahwa aku melamun sambil memperhatikannya, sampai-sampai aku tidak sadar dia juga memperhatikanku balik.

Mendengar suaranya, aku langsung menggaruk kepalaku lagi. “M-Maafkan aku,” Ujarku dengan suara pelan, entah terdengar olehnya atau tidak. “Aku melamun.” Lanjutku sambil kembali duduk menghadap pintu masuk.

 

“Sudah tidak akan ada pelanggan yang datang lagi, bukan?” Kudengar suaranya muncul lagi.Aku hanya mengangguk kecil, dan kurasa itu sudah cukup untuk memberinya jawaban. “Apa kau keberatan duduk bersamaku disini?”

Setelah mendengar pertanyaannya, aku langsung bangun dari tempat dudukku, dan duduk dihadapannya.Tanpa melihat wajahnya, aku bisa merasakan bahwa dia sedang tersenyum.

“Kau akan pulang malam lagi, hari ini?” Tanyaku, sekedar berbasa-basi.Sebenarnya aku masih bingung, untuk apa seorang pelayan mengobrol dengan pelanggannya. Apalagi kami berdua tidak mengenal satu sama lain. Namun, aku berusaha untuk berkomunikasi seramah mungkin, terutama dengan pelanggan.

Dia merespon pertanyaanku dengan mengangguk, lalu membalas, “Aku betah di café ini. Suasananya nyaman dan hangat, seperti rumah.”

Aku terkekeh. “Ayolah, kau terlalu puitis.” Candaku sambil memperhatikan coretan-coretan dan tulisan yang berantakan pada buku catatannya.

Kemudian, kami berdua mulai mengobrol, entah untuk berapa lama.Setelah mengobrol cukup lama, aku tahu bahwa dia juga mahasiswa sepertiku, hanya saja usianya satu tahun lebih tua dariku.Nama keluarganya adalah Kim, dan dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.Dia juga hobi menulis lirik lagu dan merupakan penyanyi di band sekolahnya dulu.

 

Kemudian, aku melirik jam dinding untuk yang kedua kalinya, dan kali ini jam menunjukkan pukul 21:50 malam. Aku menguap kecil tanpa mengingat bahwa Jonghyun masih didepanku, dan dia tertawa kecil.

“Ah, ya,” Ucapnya, saat aku akan mengunci pintu café dari luar. Aku langsung menoleh kearahnya sambil menaikkan sebelah alisku. “Aku belum tahu namamu.”

Aku langsung tersenyum malu.Ayolah, dia sudah menceritakan segalanya padaku, tetapi aku saja belum memberitahu namaku. “J-Jung Hyera.” Jawabku sambil menahan tawa, kemudian kembali mengunci pintu.

Walaupun suara kendaraan yang berisik memenuhi telingaku, aku masih bisa mendengar suaranya, menyebut namaku.‘Jung Hyera…’ Itu yang kudengar. Aku tersenyum lagi, setidaknya kami mulai mengenal satu sama lain mulai malam itu.

 

Keesokan harinya, aku terlambat masuk kerja.Setelah pulang kuliah, aku pergi menghadap dosen, sehingga aku terlambat setengah jam sampai di café.Apalagi hari ini tidak ada staff yang mengambil shift pagi, maka aku satu-satunya pekerja yang bekerja hari ini.

Dan tentu saja, pasti pintu café masih terkunci.Bagaimana kalau sudah banyak pelanggan yang menunggu diluar? Matilah aku, Pikirku. Maka aku mengebut, menaiki motor yang dipinjamkan ibuku, dan sampai disana pada pukul 15:30 sore. Untung saja tidak ada polisi yang melihatku kebut-kebutan di jalan.

 

Yang membuatku kaget adalah bukan banyak orang yang menunggu di luar, tapi hanya ada seseorang disana.Itu Jonghyun, pikirku sambil segera memarkirkan motorku, lalu mengambil kunci café yang sempat kuduplikat dengan kunci yang asli, dan langsung berlari menuju café.

Aku bisa melihat Jonghyun sedang bersandar di dinding, namun kali ini dia tidak membawa apapun, hanya mengenakan jaketnya dan memegang ponselnya. “Maaf, apa kau sudah menunggu lama?” Tanyaku sambil mengatur napas, dan membuka pintu café tersebut dengan terburu-buru.

“Tidak apa-apa, aku juga baru sampai.”Jawabnya, kemudian aku langsung memberi jalan untuknya agar bisa masuk, dan aku masuk setelahnya.

“Kau manis sekali hari ini.” Komentarnya sambil memperhatikanku, dan itu membuatku malu, dan pipiku memerah karenanya.Tentu saja, pikirku sambil mendengus. Aku tidak sempat berganti pakaian menjadi seragam kerjaku—kemeja putih dan celana panjang hitam—karena terlambat, dan akhirnya aku mengenakan dress berwarna pink muda, yang aku kenakan saat kuliah tadi.

Aku menggigit bibir bawahku. “Aku t-tidak sempat berganti pakaian.” Balasku singkat, sambil berjalan menuju meja kasir, menghiraukan Jonghyun. Sementara pria itu hanya tertawa kecil, lalu duduk di meja yang sama—tentu saja—dan mengambil buku menu yang tergeletak disana.

Dia pun mulai membuka lembar demi lembar buku menu tersebut, dan aku pun kebingungan.Bukannya dia akan memesan Green Tea Latte lagi?

“Aku ingin pesan dua Caramel Frappe dan dua Caramel Pancake.” Katanya, sambil masih melihat buku menu.Aku pun tertawa kecil, dan membuat perhatiannya teralih kepadaku. “Apa yang lucu?” Tanyanya sambil menggigit bibir bawahnya, menahan senyum.Lalu, aku menggelengkan kepala. “Akhirnya kau mengganti menu setelah berbulan-bulan.” Ejekku sambil menuliskan pesanannya, dan menghilang kedalam pintu dapur.

Kemudian, aku membawakan pesanannya ke mejanya.Rambutku yang panjang pun ikut jatuh, karena aku lupa membawa ikat rambut.Walaupun begitu, Jonghyun tersenyum dan berkata ‘Terima kasih, oh ya, kau cantik.’ Yang dalam sekejap membuatku menunduk malu dan langsung kembali ke meja.

“Kau akan menghabiskan empat makanan itu?” Tanyaku dari meja kasir, setelah baru menyadari bahwa dia memesan makanan untuk dua orang (dua porsi).Dia menggelengkan kepalanya sambil meminum Frappe-nya.

“Tidak. Aku ingin kau makan bersamaku, karena itu aku memesan dua porsi.” Jawabnya singkat setelah itu. Aku langsung menaikkan sebelah alis mataku. “Apa aku tidak salah dengar?” Tanyaku sambil menggaruk kepala.Mana mungkin dia mengajakku makan bersama?

“Kau tidak salah dengar,” Lanjutnya lagi. “Tetapi aku bisa dipecat kalau ketahuan tidak menjaga café dengan baik.” Ujarku, mencari alasan untuk menyembunyikan rasa malu dalam diriku. Aku tidak mungkin membiarkannya tahu bahwa aku.. Menyukainya?
“Ayolah. Sekali ini saja, kumohon?” Dia mulai memasang ekspresi yang membuatku lemah—puppy eyes.Aku memutuskan untuk tidak menoleh kearahnya lagi, karena pipiku yang memerah, namun dia justru semakin menjadi-jadi, berusaha untuk mengajakku makan bersamanya.

Semoga café ini sepi, untuk hari ini saja, Batinku sambil berdiri, berjalan kearahnya. “Baiklah. Kau menang, Kim. Jong. Hyun.” Ujarku sambil duduk dihadapannya seperti kemarin, dan menggigit bibirku, agar dia tidak bisa melihat senyum yang terukir di bibirku saat itu.

Dan hari itu, benar saja, café itu sepi dan hanya sedikit pelanggan yang datang.Walaupun tetap ada pelanggan yang datang, Jonghyun selalu memanggilku untuk kembali duduk dan mengobrol bersamanya ketika aku selesai melayani pelanggan.

Tentu saja, kami berdua menjadi semakin akrab hari itu.Dan untuk pertama kalinya, dia memegang tanganku, meskipun sebenarnya itu tidak disengaja.Aku berusaha untuk menyembunyikan wajahku yang memerah, namun gagal.

Ketika Jonghyun melihat wajahku yang memerah, dia langsung mengejekku dan menusuk-nusuk pipiku dengan jahil dan terus menggangguku selama bekerja.Sampai ada seorang pelanggan—seorang wanita paruh baya—yang mengatakan bahwa kami berdua adalah pasangan yang cocok dan lucu.

Sebelum aku sempat mengatakan padanya bahwa kami bukan pasangan, Jonghyun sudah terlebih dahulu memeluk pinggangku dan mengatakan ‘Terima kasih’ padanya, dan itu membuat wajahku semakin memerah.

Dan pada saat itulah, aku menyadari bahwa aku benar-benar jatuh cinta padanya.

 

“Ayolah, apa kau akan terus mengambek begitu padaku?” Jonghyun berkata sambil terus menggangguku saat aku sedang mengunci pintu café dari luar, seperti pada malam sebelumnya.Aku hanya memberinya tatapan tajam—dia tahu itu hanya bercanda—sambil memasukkan kunci café itu kedalam saku celanaku dan berjalan menuju motorku.

“Jung Hyeraaaa~” Dia terus menerus mengoceh, memanggil-manggil namaku sambil terus menggangguku, entah dengan cara mengacak dan menarik rambutku, mencubit pinggangku, atau memelukku dari belakang.

Aku selalu memberi respon seakan-akan aku merasa terganggu dan benci skinship darinya, namun sebenarnya aku sangat menyukainya.Setidaknya itu membuatku yakin bahwa dia juga menyukaiku.Apa aku benar? Uh..

 

“Hyera, aku ingin membawamu ke suatu tempat malam ini. Jadi maafkan aku untuk sekarang, tolonglah.” Suaranya terdengar sangat tertekan, maka aku berbalik badan dan menatap wajahnya sesaat. “Hanya sekali ini.” Ujarku sambil mendengus.Sementara dia tersenyum, dan langsung menarikku ke arah mobilnya.

“Tunggu, motorku..” Aku melihat kearah motorku yang masih terparkir disana, walaupun sebenarnya aku sangat ingin pergi bersamanya sekarang. “Tenang saja, akan kugembok. Tidak apa-apa ‘kan?” Tanyanya sambil tersenyum kearahku.Aku yang tidak bisa berpikir lagi hanya mengangguk dan membiarkannya menggembok motorku, agar tidak ada yang mencurinya.

Sementara dia masih diluar, aku sudah duduk di dalam mobilnya sambil memperhatikannya.Dan untuk kedua kalinya, aku memperhatikannya dengan begitu seksama.Mataku menelusuri rambutnya yang berwarna coklat, dan juga kedua matanya yang berwarna senada dengan rambutnya, walaupun tidak begitu terlihat ketika malam hari, juga otot lengannya yang terlihat dari balik pakaiannya.

Ya Tuhan, dia sangat sempurna.

 

Hello, Jung Hyera?” Tiba-tiba, aku mendengar suara Jonghyun disebelahku, begitu dekat dengan telingaku, dan itu membuatku melompat saking kagetnya.

“K-Kau mengagetkanku.” Ucapku sambil kembali mencari posisi nyaman untuk duduk, dan menutupi wajahku dari samping dengan rambutku yang panjang.Sedetik kemudian, aku mendengar suaranya tertawa. “Kau melamun lagi.” Katanya pelan di telingaku, yang membuatku seketika merinding.

Selama perjalanan, Jonghyun sama sekali tidak bicara padaku, dan aku juga tidak berinisiatif untuk berbicara padanya. Ketika aku mencoba untuk mencuri pandang kearahnya, pasti aku melihatnya sedang menatapku balik.Dan ketika itu terjadi, aku dan dia langsung berbalik dan bertingkah seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku memutuskan untuk memperhatikan jalan raya dari kaca, dan memandangi lampu taman yang bersinar, entah warna kuning atau putih cerah, yang ada di pinggir jalan. Sampai akhirnya, aku tersadar bahwa mobil Jonghyun sudah berhenti.

Jonghyun turun terlebih dahulu, kemudian dia berlari untuk membukakan pintu mobilnya untukku, lalu menjulurkan tangannya. “T-Terima kasih.” Tuturku padanya, menggenggam tangannya sambil menahan malu akibat apa yang terjadi di mobil tadi.

Aku pun melihat ke sekitar, dan ternyata dia membawaku ke taman yang sangat luas dan besar, dengan sedikit penerangan. “Kenapa kau membawaku kesini?” Tanyaku, tanpa sadar bahwa tangannya masih menggenggam tanganku.Tanpa menjawab apapun, Jonghyun menarik tanganku dengan pelan, dan berjalan semakin dalam kearah taman itu, dan aku mengikutinya dari belakang.

Setelah sampai di bagian paling belakang dari taman tersebut, aku mulai bisa melihat sumber cahaya diantara gelapnya taman itu, dan Jonghyun tetap berjalan dan membawaku kearah sumber cahaya itu.

 

Tidak sampai lima menit pun, aku dan dia sudah berdiri didepan sebuah tempat yang indah. Sebuah rumah pohon di belakang taman, yang hanya dihiasi dengan dua buah lampu.

Aku pun melongo dan menatap pria disebelahku itu, seolah-olah bertanya, Kenapa kau membawaku kesini?Namun kata-kata itu tidak dapat meninggalkan bibirku.Melihat ekspresiku, dia langsung tertawa dan mengajakku berjalan untuk mendekati rumah pohon itu.

“Ini adalah rumah pohon yang dibangun oleh Ayahku untukku saat aku masih berusia enam tahun,” ujarnya, setelah kami berdua memanjat tangga dan duduk di dalam rumah pohon itu, yang ternyata sangat nyaman dan cukup luas.

“Kau adalah perempuan pertama yang kuajak kesini. Ini adalah tempat yang spesial untukku,” Lanjutnya sambil menggenggam tanganku, namun dia menghindari eye-contact dan justru melihat kearah langit. Maka, aku melakukan hal yang sama.

Aku pun kehabisan kata-kata, tetapi aku mencoba untuk bertanya. “L-Lalu kenapa k-kau mengajakku kesini?” Tanyaku, membiarkan pria itu melihat pipiku yang mulai memerah, walaupun aku berharap dia tidak akan melihatnya.

Dia terdiam setelah aku bertanya.Satu menit, dua menit berlalu tanpa terdengar adanya suara, selain suara napas aku dan dia disana, dan juga suara jangkrik yang memenuhi telinga kami.

Kemudian, dia menggenggam tanganku secara tiba-tiba, lalu menyentuh daguku, memutar kepalaku sedikit untuk menghadapnya.Dan akhirnya, aku menatap langsung matanya untuk pertama kali malam itu.

“Aku menyukaimu.” Ujarnya dengan suara yang kecil.

Dan sekujur tubuhku langsung membeku, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku harus merespon, dan bagaimana aku harus menjawabnya tanpa memperlihatkan kegugupanku padanya—walaupun sepertinya dia sudah melihatnya.

“A-Aku juga menyukaimu.” Jawabku, sambil berusaha untuk menghindari tatapan matanya, dengan melihat ke objek yang lain. Aku berusaha terlihat tenang, meskipun sebenarnya jantungku berdegup dengan kencang, hampir keluar dari tempatnya.

Karena aku terus-menerus menghindari tatapan matanya, dia mendekatkan wajahnya denganku, dan spontan membuatku kaget.Dia terus mendekat, sampai aku bisa merasakan nafasnya di bibirku.

“J-Jonghyun-” kata-kataku pun terpotong, saat aku merasakan bibirku terkunci oleh bibirnya.Sekujur tubuhku langsung mati rasa, dan aku hanya bisa memelototkan kedua mataku, dan diam. Hanya diam. Rasanya hanya bibirku yang terasa hangat, sedangkan sisanya membeku dan dingin.

Kemudian, Jonghyun mundur, dan langsung menatap mataku lagi.Aku hanya berusaha untuk menunduk dan menggigit bibirku dengan napas yang tersengal.Ini ciuman pertamaku, batinku sambil menahan malu. Dan lagi-lagi, aku mendengarnya tertawa.

“Kau menggemaskan.” Bisiknya sambil mengelus kedua pipiku dengan telapak tangannya yang hangat.

 

Dan semenjak itu, akhirnya aku berpacaran dengannya. Hampir setiap hari dia akan datang menjemputku di kampus, dan langsung mengantarku ke café. Sesampainya di café, dia akan membantuku melayani pelanggan, atau kadang-kadang menggangguku di jam kerja, dan akhirnya ada beberapa orang yang mengejek kami lagi. Namun, kali ini aku dapat dengan bebas mengatakan bahwa ‘Ya, dia kekasihku.’

Semenjak itu juga aku selalu memesan makanan dan minuman yang berbeda untuknya setiap hari di café, agar dia tidak mati bosan meminum Green Tea Latte kecintaannya itu.

Dia pun mulai berani memperkenalkan kakak-kakaknya padaku.Di satu siang, tiba-tiba dia datang bersama kakak perempuan dan kakak laki-lakinya ke café, dan mengatakan pada mereka bahwa aku adalah kekasihnya.

Well, dia selalu berkata bahwa dia belum berani memperkenalkan orang tuanya padaku, begitu juga aku.

Tentu saja, dia adalah kekasih yang sangat romantis dan sangat memperhatikan rutinitasku.Terkadang, disaat aku sedang sibuk melayani pelanggan di café, dia selalu mengingatkanku untuk minum air putih agar tidak dehidrasi, dan aku sering tersenyum sendiri karena perhatiannya, sekecil apapun itu.

Dia juga mengantarku pulang dengan mobilnya setelah menungguku menutup café pada pukul 10 malam, dan hal itu terjadi setiap hari.Terkadang dia tidak langsung mengantarku pulang, namun mengajakku untuk menghabiskan waktu di rumah pohonnya, yang sekarang sudah menjadi tempat yang spesial hanya untuk kita berdua.

Walaupun belum banyak teman di kampusku yang tahu bahwa aku memiliki kekasih, aku tetap senang, karena aku bukan tipe orang yang selalu memamerkan kekasihnya didepan orang banyak.

 

Sampai satu hari, hari dimana aku merasa ada yang aneh dengan Jonghyun.

“Jonghyun?” Panggilku, meninggikan suaraku sedikit.Aku menatap pria yang sedang duduk di hadapanku itu.Malam ini sudah tidak ada lagi pelanggan yang datang ke café, maka aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku dengan kekasihku itu di pojok ruangan, seperti biasa.

Tetapi, hari ini ada yang aneh darinya. Biasanya dia akan mengobrol denganku atau bercanda denganku, ataupun menggangguku hingga aku kesal dan mengambek, dan dia akan memberiku ciuman dan bernyanyi untukku sampai akhirnya aku tersenyum lagi.

Namun, hari ini terlihat sangat jelas apabila dia sedang sibuk dengan ponselnya, bahkan aku yakin dia tidak memperhatikan ataupun mendengar apa yang kukatakan barusan. Aku dapat melihat senyum kecil yang terlukis di bibirnya, sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

Semakin penasaran, aku pun mengambil ponsel itu dari tangannya. “H-Hyera!” Dia langsung kaget, lalu mengambil ponselnya kembali dari tanganku. Aku menaikkan sebelah alisku, lalu bertanya, “Apa yang sebenarnya kau lakukan? Aku yakin kau tidak mendengar apa yang kuceritakan tadi.” Dengan ketus.

Biasanya dia selalu membiarkan aku mengecek ponselnya atau memainkan ponselnya saat dia sedang sibuk mengerjakan tugas di laptopnya.Namun hari ini dia terlihat aneh, terlihat begitu protektif.

Pada saat aku menutup café pun, dia berkata bahwa malam ini dia memiliki urusan yang penting, sehingga tidak dapat mengantarku pulang.Bahkan sebelum aku sempat memeluknya, dia sudah masuk kedalam mobil terlebih dahulu, dan hanya meninggalkan sepatah kata, ‘Selamat malam’.

Aku tidakakan marah padanya karena ini, dan berusaha berpikir positif. Mungkin saja tadi dia sedang mengobrol dengan temannya, pikirku sambil berjalan kaki menuju rumahku. Karena terbiasa diantar oleh Jonghyun, aku tidak lagi membawa motor kemana-mana, maka sekarang aku harus berjalan kaki pulang ke rumah, meskipun itu memakan waktu cukup lama.

 

Keesokan harinya, aku kembali bingung. Ketika selesai kuliah, biasanya aku akan keluar dari gedung dan melihat Jonghyun sedang menungguku diluar. Namun hari ini, dia tidak terlihat.Awalnya aku berpikir bahwa dia telat karena urusan yang penting, namun ternyata aku salah.

Setelah satu jam, Jonghyun benar-benar tidak muncul. Aku memutuskan untuk berjalan kaki (lagi) menuju café, dan akhirnya aku terlambat sampai disana.

Aku terus menunggu dan menunggu pria itu sampai dia datang, namun hari itu berlalu tanpanya.Aku sudah menelponnya dan mengirimkan pesan untuknya berulang kali, tetapi dia tidak menjawab satupun.Akhirnya aku mulai khawatir.

Bagaimana kalau ada hal buruk yang terjadi padanya?Bagaimana kalau dia sedang sakit?Atau mungkin ponselnya dicuri? Bagaimana aku akan menghubunginya? Dia tidak pernah memberitahu alamat rumahnya padaku.

Beribu-ribu pertanyaan langsung melewati pikiranku.Dan sejujurnya, saat itulah saat dimana aku sangat khawatir. Aku tidak pernah begitu khawatir tentang nilaiku, ataupun khawatir apabila aku akan dipecat saking seringnya terlambat masuk kerja. Dan kali ini, kali pertama aku sangat takut kehilangan sesuatu, kehilangan kekasihku.

Pada malam itu juga, aku memutuskan untuk pulang ke rumah sendiri, dengan perasaan hampa.Semoga besok dia akan datang dan menjelaskan semuanya padaku, pikirku sambil menendang batu kerikil yang ada di pinggir jalan.

 

Dan Jonghyun tetap tidak muncul keesokan harinya dan selanjutnya.Hari demi hari mulai berlalu, dan akhirnya hari itu mencapai hari kelima semenjak terakhir kali aku bertemu dengannya.

Setiap harinya pun aku mulai kehilangan semangatku, karena tidak ada Jonghyun yang selalu menghiburku disaat aku kelelahan, dengan candaannya atau dengan nyanyiannya yang merdu.Aku sangat merindukannya.

Setiap malamnya pun aku selalu memikirkannya.‘Apa yang sedang dia lakukan sekarang?Apa dia sudah tidur?Apa dia sudah makan malam? Apa dia merindukanku sama seperti aku merindukannya?’ Dan aku tidak pernah berhenti untuk memikirkannya, sekalipun.

Karena aku kurang berkonsentrasi, aku sempat salah mengantarkan pesanan pelanggan, dan kejadian itu menjadi masalah kecil hari itu.Ayolah, dimana dia?Aku sangat merindukannya.

 

Dan malam ini, aku memutuskan untuk pergi mengunjungi rumah pohon itu sendirian, menaiki motor yang kembali kunaiki kemanapun, semenjak Jonghyun tidak menghubungiku lagi.

Aku hafal persis jalan menuju rumah pohon itu, maka aku sedikit mengebut agar cepat sampai di taman luas, tempat dimana rumah pohon itu dibangun, dengan harapan aku bisa menemui Jonghyun, kekasihku disana. Mungkin.

Setelah sampai disana, aku langsung memarkirkan motorku sembarangan, dan langsung berjalan cepat menuju sumber cahaya yang menandakan bahwa aku semakin dekat dengan rumah pohon itu.Namun ternyata, datang ke rumah pohon bukanlah ide yang bagus.Sesampainya aku disana, aku disambut dengan pemandangan yang sangat menyakitkan.

Aku melihat Jonghyun disana.Ya, aku melihatnya.Namun ini bukan saatnya untuk bahagia. Setelah melihatnya, aku melihat dia sedang mencumbui gadis lain didepan rumah pohon itu.

Awalnya, aku hanya bisa melongo dengan bingung saat melihat pemandangan tak asri itu didepanku.Bahkan walaupun Jonghyun sempat melirikku untuk sesaat, dia tetap mencumbui gadis yang tidak kukenal itu, seakan-akan aku tidak ada disana.

 

“Jonghyun!” Aku berteriak, memanggil namanya.Ketika aku berteriak, gadis di pangkuan Jonghyun pun kaget dan langsung memutus ciuman mereka, lalu menengok kearahku, yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Babe, siapa dia? Temanmu? Kupikir kau hanya membawa orang yang menurutmu spesial sepertiku kesini.” Tanyanya sambil sedikit memicingkan matanya, lalu memandangku dari ujung kepala sampai kaki.Aku pun kembali tercengang.Spesial.. Seperti dirinya? Jadi maksudnya..

Lalu, aku melihat Jonghyun bangun dari tempat duduknya, menggenggam tangan gadis itu dengan erat. “Aku tidak tahu. Sepertinya dia salah orang, sayang.” Ujarnya dengan nada meremehkan sambil menatapku, seakan-akan dia tidak mengenaliku.

Aku pun tidak bisa menahan air mataku lagi, dan air mataku langsung jatuh.Aku melangkah maju dan mencengkram kerah pria itu. “Ku pikir aku adalah satu-satunya orang yang spesial bagimu.” Ucapku sambil mendorongnya hingga dia hampir terjatuh, namun ditahan oleh gadis dibelakangnya.

“Apa yang kau lakukan, bodoh! Dia kekasihku, jangan sentuh dia!” Gadis itu berteriak sambil menggenggam erat lengan Jonghyun. Aku menghapus air mataku, kemudian langsung menampar gadis itu dengan sekuat tenaga. “Wanita bodoh.” Kutukku sambil menyeka sisa air mata yang ada di pipiku.

“A-Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?! Jangan kau berani menyentuh Sekyung seperti itu!” Kemudian Jonghyun langsung mengangkat tangannya dan menamparku dengan keras, tepat di pipiku, sebagai balasan.Aku langsung tercengang.Dia.. Menamparku? Dan air mataku langsung jatuh lagi.

Sebelum dia sempat meneriakiku lagi, aku langsung berbalik badan dan berlari, meninggalkan rumah pohon itu.Brengsek. Pria brengsek.

Di sepanjang jalan pulang, aku terus membiarkan air mataku turun membasahi pipiku. Aku sempat hampir menabrak sebuah mobil didepanku, karena mataku terlalu buram—akibat air mata—dan sulit melihat keadaan jalan raya.Walaupun begitu, aku tetap memaksakan diri untuk pulang ke rumah.

Pada malam itu, aku menangis di pangkuan ibuku, yang juga ikut menangis akibat melihat keadaanku yang sangat buruk setelah pulang dari café.

Walaupun aku bilang pada ibuku bahwa aku ingin tidur, sebenarnya aku mengirim pesan pada pria brengsek itu, mengatakan betapa teganya dirinya, dan betapa menyesalnya aku jatuh cinta padanya.Dan sesuai dengan perkiraanku, dia tidak membalas pesanku lagi.

 

Melupakan seseorang bukanlah hal yang mudah, terutama orang yang sudah terbiasa berada disampingmu setiap hari.Dan akhirnya, itu terjadi padaku.

Semenjak insiden itu, aku menghapus nomor telepon Jonghyun dari Contacts, dan aku juga menghapus semua foto yang pernah kita ambil bersama di ponselku.Kita sudah putus, gumamku sambil menahan air mataku yang dapat turun kapanpun.

 

Dan tentu saja, aku tidak bisa melupakannya.Aku terlalu mencintainya.Sampai suatu hari, dimana aku sudah terbiasa hidup tanpa pria bernama Jonghyun itu, aku sedang duduk di meja kasir, menunggu pelanggan datang.Sesekali aku melihat kearah meja di pojok, tempat dimana Jonghyun selalu duduk dulu.

Sekarang, semuanya terasa sangat sepi, hampa, dan hambar.Aku tidak lagi memiliki semangat hidup.

 

Ting~ Bel pintu berbunyi.Aku pun langsung berdiri untuk menyambut pelanggan yang datang ke café, dan berusaha untuk menjadi ramah, seperti biasa.

Namun, ketika aku berdiri, yang kulihat adalah justru dua orang yang sangat tidak ingin aku temui sekarang.Jonghyun dan ‘kekasih’nya, Sekyung.Aku menatap mata pria yang kucintai itu sekilas, dan aku langsung mengalihkan pandanganku, berusaha untuk menjadi seramah mungkin.Mereka adalah pelanggan.Ingat itu, Jung Hyera.

“Selamat datang.” Aku memamerkan senyumku yang termanis, dan membiarkan mereka duduk.Dan akhirnya mereka duduk di meja yang terletak di pojok, meja yang selalu ditempati Jonghyun sejak berbulan-bulan yang lalu.

“Apa yang ingin kau pesan, Sekyung-ah? Aku akan membelikan semuanya untukmu.” Tanya Jonghyun sambil tersenyum hangat dan merangkul gadis itu, yang sepertinya tidak ingat bahwa aku adalah gadis yang waktu itu menghampiri mereka di rumah pohon malam itu.

Kemudian aku memperhatikan Jonghyun lagi.Kau terlihat lebih tampan, Jonghyun-ah, batinku, tanpa berani mengatakan itu padanya langsung.

 

Tentu saja, melihat adegan romantis oleh sepasang kekasih didepanku ini sangat menyakitkan.Namun aku tetap memasang senyumku yang paling hangat, agar aku dapat menunjukkan pada pria brengsek itu, bahwa aku bahagia tanpanya.Ya, aku bahagia.

Dan setidaknya, aku mendapatkan pelajaran dari pengalaman buruk ini.

 

End

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] The Cafe

  1. Jihyo park! hehehe. well, it’s a nice fanfiction. Awal bener2 kebawa sama perlakuan manis jonghyun yang emang trlihat innocent (pada awalnya) yang trnyata memiliki bad boy feel-_- anyway aku smpat terbawa emosi krn dia hehe. Dari segi pembawaan cerita, aku suka 🙂 bahasa yang km pakai santai jadi kita lbh mudah memahami. Next fanfiction juseyoo 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s