Fanfiction Contest · G · Genre · Length · One Shoot · Rating · Romance · sad · School Life

[FF Contest] Memories


IMG-20150911-WA0003

Tittle : Memories

Author : Erfani

Cast : Jung Heo Seok / Jhope BTS

Genre : Sad , School Life , Romance

Length : One Shoot

Rating : G

Suara langkah kaki beberapa orang terdengar dari seluruh penjuru lorong walaupun jaraknya terkesan jauh. Orang-orang berpakaian putih berlalu-lalang kesana-kemari menuju ke tempat dimana seharusnya mereka bertugas. Tak terkecuali Hoseok yang juga menapaki jalanan sekitaran rumah sakit ini dengan langkah terburu-buru. Rumah sakit yang sudah 3 kali dalam sebulan ini ia kunjungi. Tempat dimana sebuah bilik kamar sering menyaksikan penderitaan gadisnya.

Ya, pilunya tangisan gadisnya. Kim Nana.

Informasi yang diberikan oleh Taehyung saat dia menunggu gadisnya di luar kelas membuat Hoseok langsung bergegas melajukan motornya ke jalanan menuju rumah sakit ini. Lagi-lagi dia harus berhadapan dengan bau obat-obatan yang menusuk tajam indera penciumannya.

“Nana tidak masuk sekolah, dia masuk rumah sakit lagi. Jantungnya kembali kambuh,”

Kata-kata itu yang bisa membuat Hoseok berada di tempat ini. Tempat yang sudah sering dikunjungi gadisnya. Langkahnya melambat saat Hoseok sadar dia hampir sampai di kamar itu.

Dengan perlahan Hoseok membuka pintu kamar itu dan menemukan seorang gadis dengan wajah yang sedikit tirus dari biasanya sedang terduduk di bangsal rumah sakit dan menatap ke luar jendela. Tatapannya kembali kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sulit dicerna otaknya.

Hoseok melangkah masuk, ingin menghampiri figur gadisnya yang sepertinya tak menyadari kehadirannya. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar isakan kecil yang membuat hatinya nyeri. Isakan yang sering kali ia dengar setelah mengetahui kenyataan bahwa gadisnya berbeda.

Ya, berbeda. Meskipun hal itu menyakitkan, tapi bagi Hoseok, gadisnya tetap yang teristimewa.

Dengan segera Hoseok mendekati gadis itu lalu merengkuh tubuh rapuhnya. Nana yang sedari tadi tidak menyadari kehadirannya, sedikit terperanjat karena ada orang lain yang ada di dalam kamarnya, lalu dengan segera menghapus air mata yang membasahi pipinya.

“Kumohon jangan menangis lagi,”

Nana berbalik menatap sosok Hoseok yang berada dihadapannya. Matanya berkaca-kaca dengan senyuman manis yang dipunyai Nana. Tapi mata itu seperti menandakan arti lain, seperti ada kesakitan mendalam yang membuat mata itu tak seperti dulu.

“Hoseok,”

“Ya?”

“Seharusnya kau tidak datang kesini lagi. Seharusnya kau mencari perempuan lain yang bisa membuatmu tersenyum. Seharusnya…”

“Hei, apa yang kau katakan? Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Kau tahu kan aku hanya mencintaimu?” lagi-lagi Hoseok merengkuh tubuh gadis itu yang lambat laun bergetar. Nana menangis lagi. Hoseok kembali merapatkan tubuhnya dengan erat.

“Rasanya sakit, Hoseok,”

Ucapan pilu itu membuat Hoseok terdiam. Ingin sekali Hoseok menggantikan kesakitan yang dirasakan gadisnya, supaya Nana tidak bersikap aneh seperti ini.

“Aku tahu, tapi kumohon jangan seperti ini. Katakan padaku, dimana yang sakit?”

Jika Hoseok bisa, dia ingin menggantikan posisi Nana, membantu meringankan kesakitan yang dirasakan gadis itu.

Hoseok pernah jatuh dari motor dan berujung dengan tangan kirinya yang patah. Rasanya sakit sekali. Tapi baginya, lebih menyakitkan saat mendengar tangisan Nana. Hoseok benci melihat gadis itu sedih seperti ini.

“Tentu saja di sini,”

Nana memukul keras dadanya, tepat dimana jantungnya yang berdetak tak beraturan berada. Hoseok menghentikan pergerakan gadis itu, dia bisa melukai dirinya sendiri.

“Katakan padaku, seberapa sakitnya yang kau rasakan saat ini?”

Nana terdiam sembari menundukkan kepala, memikirkan seberapa sakitnya yang ia rasakan saat ini. Lalu beberapa detik kemudian ia mendongak dan tersenyum tipis.

“Rasanya sakit sekali, seperti akan tiba waktunya aku takkan bisa melihatmu lagi,”

Kini Hoseok-lah yang terdiam. Perkataan gadis itu membuatnya bungkam. Detik kemudian, Hoseok meraih tangan gadis itu lalu dipukulkannya genggaman tangan itu ke arah dadanya.

“Jangan berkata yang tidak-tidak. Aku tidak suka kau berkata seperti itu, Nana. Kau akan tetap berada di sini bersamaku. Pukul aku dengan keras, agar aku bisa merasakan sakit yang sama seperti yang kau rasakan,”

Hoseok terus menghantamkan tangan mungil itu ke dadanya. Bibirnya terkatup dengan mimik wajah yang menahan nyeri.

Hoseok akan melakukan apa saja agar gadis itu tersenyum dan tidak akan meneteskan buliran air mata yang juga menyiksanya.

Hoseok akan melakukan apa saja agar gadis itu tidak menganggap dirinya berbeda.

Hoseok akan melakukan apa saja agar bisa meredakan sakit yang dirasakan Nana.

Dan Hoseok akan melakukan apa saja semampunya untuk mengusir air mata sialan itu.

Hantaman genggaman tangan itu perlahan melambat seiring dengan Hoseok yang menatap teduh ke arah gadis itu.

“Hoseok,”

“Hm?”

“Kau tahu apa yang akan membuatku bahagia? Aku ingin mempercepat waktu dimana saat-saat hanya ada tubuhku yang berbaring tak bernyawa di ranjang. Entah itu rumah sakit atau rumahku. Disitulah aku akan sangat bahagia, karena aku tidak akan pernah merasakan sakit lagi. Tidak akan merasakan obat yang pahitnya bahkan membuatku ingin muntah. Mungkin aku hanya akan bisa merasakan kedamaian,”

Sejenak keheningan melingkupi ruangan serba putih itu. Tak ada pembicaraan yang mengisi keheningan itu selain suara jam dinding yang berdetak mengisi indera pendengaran mereka.

Kilatan marah terlihat jelas di mata Hoseok. Apa sih yang gadis ini pikirkan? pikirnya. Tarikan tangannya membuat Nana menabrak tubuh tegap pria itu.

“Kau bicara apa sih? Aku sudah bilang jangan berbicara yang tidak-tidak. Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku sendirian disini. Aku akan terus mencintaimu untuk mengusir rasa sakitmu. Meskipun aku tahu, jika kau berada di dekatku membuat jantungmu berdetak tak sehat. Tapi berjanjilah, kau akan selalu ada disini bersamaku,”

Hoseok rasa dia ingin berada di sini untuk menjaga gadisnya, menghiburnya saat gadis itu butuh hiburan, berada di sampingnya saat Nana merasakan sakit yang teramat sangat. Dan jika gadis itu pergi mendahuluinya, Hoseok ingin mengikuti dunia yang telah gadis itu pilih. Seperti saat dia selalu menunggu Nana di luar kelas ketika bel pulang sekolah berbunyi. Bersama dimanapun mereka berada merupakan kebahagiaan terindah yang Hoseok inginkan.

—–

Rasanya aku membutuhkan sebuah kenangan, lagi dan lagi. Bayangan dia yang mencintaiku telah memudar seiring dengan waktu yang berjalan tanpa bisa dicegah. Membayangkan bagaimana sosoknya dulu dengan sekarang, mata lentik yang dulu selalu memperlihatkan goresan luka dari rasa sakit itu, hidung mancung yang selalu memerah kala ia menangisi alur hidupnya, bibir mungil yang tiada henti mengeluarkan suara yang mengiris hati, dan wajah yang selalu menampilkan senyuman hangat di luar tapi tidak di dalam.

Hatinya rapuh.

Dulu aku menangisinya tanpa henti saat tubuh pucatnya telah bersemayam bersama ribuan orang yang bernasib sama dengannya. Namun rasanya air mata itu telah mongering saat aku mengerti bahwa dia takkan pernah kembali.
Dia pergi. Tanpa bisa kucegah lagi.

Aku ingat saat-saat dimana aku hanya bisa mengenangmu. Melewatkan jam makan yang seharusnya mengisi perutku yang kosong, menjalankan rutinitas tanpa adanya semangat hidup. Seolah-olah jiwanya entah pergi kemana saat raganya masih menetap disana.

Aku merindukannya.

Ya, aku membutuhkan kenangan-kenangan yang dulu terukir. Ingin kembali ke masa lalu itu. Waktu saat aku tertawa dan menangis bersamamu. Saat wajahmu menatapku dengan semburat merah yang selalu menghiasi pipimu.
Aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Rasanya sulit melupakan rasa cinta yang telah menetap di relung hati ini. Tak mudah membiarkan kenangan itu pergi dari hidupku.

Tapi menahanmu saat kau akan pergi merupakan hal bodoh yang membuatmu tersakiti. Lalu aku tersadar dari realita hidup yang mempermainkan kami dan menerima takdir yang sudah ditorehkan untukku dan untuknya.
Aku akan mencintaimu, tidak dengan hatiku, namun dengan pikiranku.

—–

Hoseok Point Of View

Awal musim semi memang terlihat menenangkan, musim yang memiliki daya tarik tersendiri dengan beberapa jenis bunga yang bermekaran dengan indahnya. Banyak hal yang bisa dilakukan pada musim ini dengan menikmati udara sejuk yang tak boleh terlewatkan begitu saja.

Aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang sekolah yang dulu pernah aku tempati untuk mencari ilmu. Sudah sangat lama aku tidak menginjakkan kakiku lagi di sini setelah dinyatakan lulus.

Bangunan itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Tetap besar dan bersih. Mungkin hanya warna cat dinding yang berubah.

Aku melangkahkan kakiku menuju koridor sekolah. Aku hanya ingin mengenang masa laluku.

Dimana masih ada dia dan teman-temanku.

Aku berhenti tepat di depan papan pengumuman. Dulu, di sinilah aku menunggu gadis itu keluar dari kelasnya.

Aku masih ingat jelas bagaimana aku harus rela menunggu gadis itu selama beberapa menit untuk menyelesaikan urusan di kelasnya.

Saat itu, kita selalu bersama. Dimana pun gadis itu berada, aku akan selalu ada di sana. Bagaikan magnet yang tidak bisa dipisahkan.

Aku menarik sudut bibirku hingga membentuk senyuman manis kala mengingat masa-masa remajaku. Bahkan, sudah dua tahun ini aku serasa lupa bagaimana caranya tersenyum dengan tulus setelah gadis itu meninggalkanku.

Entahlah, gadis itu seakan-akan mengambil kebahagiaanku dan mengacaukan hari-hariku. Sudah dua tahun gadis itu meninggalkanku. Dan aku benar-benar sangat merindukannya.

Dulu, setiap harinya di sini akan selalu terasa indah. Aku bahkan hampir tidak pernah berhenti tersenyum saat melihat atau berada di dekat gadis itu.

Aku mengerti. Bahkan sangat mengerti bagaimana resikonya berkencan dengannya.

Tapi, aku tetap tidak peduli. Jika aku merasa bisa menjaga gadis itu, kenapa tidak?

Aku tidak tahu pasti rasa suka itu tumbuh sejak kapan. Aku hanya merasakan kenyamanan saat berada di dekat gadis itu, gadis itu seperti membawa kebahagiaan untukku.

Aku memejamkan mata. Mencoba memutar kembali hal-hal yang pernah aku lakukan saat masa-masa remajaku. Namun tiba-itba gadis itu malah memasuki pikiranku hingga membuatku kembali membuka mata.

“Nana, bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia di sana?”

Aku tertawa kecil mendengar ucapanku sendiri. Benar-benar lucu.

Tentu saja Nana bahagia. Gadis itu pasti sangat bahagia. Seperti ucapan yang pernah ia katakan padaku dulu.

“Kau tahu apa yang akan membuatku bahagia? Aku ingin mempercepat waktu dimana saat-saat hanya ada tubuhku yang berbaring tak bernyawa di ranjang. Entah itu rumah sakit atau rumahku. Disitulah aku akan sangat bahagia, karena aku tidak akan pernah merasakan kesakitan lagi. Tidak akan merasakan obat yang pahitnya bahkan membuatku ingin muntah. Mungkin aku hanya akan bisa merasakan kedamaian.”

Dan yah, hal itu benar-benar terwujud. Dia sudah merasa damai di sana. Mungkin aku memang sempat marah setelah mendengar dia berkata seperti itu. Namun kenyataan memang kejam. Dia benar-benar pergi.

Terima kasih karena kau masih menjadi alasanku bertahan, Nana. Bertahan untuk tidak membuka hatiku untuk gadis manapun.

Kenangan kita sangat berharga untuk dilupakan.

Hanya untukmu, aku bersyukur karena aku bisa berada di sampingmu. Menjagamu dan melindungimu adalah hal yang selalu aku ingatkan pada diriku sendiri saat dulu aku masih berada di sampingmu. Karena aku tahu, mencintaimu berarti harus siap merelakanmu pergi.

Aku tahu akulah satu-satunya kekasihmu. Namun, aku tidak bisa berjanji jika hanya kaulah satu-satunya kekasihku.

Terima kasih karena kau sudah mengajariku untuk mencintai dunia yang kejam ini.

Kau adalah surga. Dan satu-satunya gadis. Ya, gadis yang akan selalu kulindungi.

Setiap kesedihan dan kesakitan, aku sudah pernah merasakannya bersamamu.

Aku meraih ponselku saat merasakan benda itu bergetar. Dan nama seorang pria yang pernah aku cemburukan karena selalu bersama Nana muncul dilayar ponselku. Kim Taehyung.

Aku menghela napas, hampir melupakan kenyataan kalau aku harus berada di coffeeshop sekarang. Teman-temanku pasti sudah berkumpul di sana.

“Halo?”

“Ya, ya. Aku tahu aku terlambat. Aku sedang ada urusan. Mungkin setengah jam lagi aku akan ke sana. Tunggu saja.”

Aku mematikan sambungan telepon itu dengan cepat sebelum Taehyung mengeluarkan omelan panjang lebarnya. Pria itu akan berubah menjadi ibu-ibu pemarah jika ia merasa bosan menunggu.

Setelah memasukkan ponselku ke dalam saku, aku kembali berjalan menelusuri tempat-tempat yang pernah aku kunjungi bersama Nana. Mengingat setiap inci hal-hal yang pernah kita lakukan bersama di sekolah.

Aku tahu Nana sudah berhenti mengenang kenangan kami. Dimana dia yang selalu berada di sampingku, bercanda denganku atau berjalan-jalan seperti yang selalu kita lakukan saat pulang sekolah. Hanya delapan bulan aku bisa merasakannya sebelum penyakit jantung Nana kambuh.

Aku masih sangat mengingatnya. Bahkan saat dimana aku menangis melihat tubuh Nana yang terbaring dengan selang-selang di rumah sakit itu masih membekas di dalam hatiku. Saat itu aku hanya bisa pasrah. Kemungkinan Nana akan membuka matanya sangatlah kecil.
Langkah kakiku menelusuri jalan setapak saat aku keluar dari sekolah lamaku. Menyusuri trotoar yang dipenuhi banyak orang yang hilir-mudik kesana-kemari.
Lalu aku mendengar suara seseorang yang memanggil nama itu.

“Nana!”

Hanya karena penasaran dengan siapa orang yang memanggil nama itu, aku berbalik dan melihat seorang wanita baya menghampiri anak perempuan yang sedang menikmati lollipop di mulutnya sembari menonton tayangan televise gratis di balik sebuah kaca tanpa menghiraukan sang ibu yang sedari tadi memanggil namanya.

Seketika itu hatiku mencelos.

Tentu saja itu bukan Kim Nana, pikirku sambil menertawakan diri sendiri.
Ingatan itu selalu menghantui pikiranku.

Kenyataan kalau aku gagal menjaganya benar-benar membuatku serba salah.

Namun, kenangan indah dan menyakitkan itu akan selalu kusimpan di dalam hatiku. Dibagian terdalam hingga tidak ada seorang gadis pun bisa menghilangkannya.

Karena kau tahu, Nana.

Alasanku bertahan hanyalah kau. Karena kau, adalah surgaku.

Memang kenangan itu terus terjadi tanpa bisa dihentikan.

Karena… seperti yang pernah kukatakan sebelumnya.

Aku akan mencintaimu, tidak dengan hatiku, namun dengan pikiranku.

Advertisements

2 thoughts on “[FF Contest] Memories

  1. Aku suka banget sama author yang membuat sifat Jhope jadi serius gini , namja banget . Ceritanya menyedihkan 😭😭
    Keep writing ya author 🙌

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s