Family · Fanfiction Contest · G · Genre · Length · One Shoot · PG -13 · Rating · Romance

[FF Contest] TAMAT


IMG-20150911-WA0002

Judul: Tamat
Rated: PG-13 / T
Genre: family, romance
Author: ftrhapsody (Riza Nadya P)
Cast:
BTS Kim Taehyung
BTS Kim Namjoon
BTS Min Suga
(OC) Jang Sera
Nyonya Kim
Tuan Kim

Poster By minarifini

Tamat

“Sejujurnya aku bahagia dapat setiap hari bertemu denganmu selama beberapa bulan belakangan. “

Setiap hari akuberharap agar malam segera luruh hingga larik cahaya matahari dapat kembali merobek pagi, agar takdir dapat mempertemukanku denganmu sekali lagi

“Juga semua ceritamu,aku bahagia dapat mendengarkan semuanya,”

Setiap kisah antusias yang bergulir keluar begitu saja tanpa memusingkan titik dan koma

“Tapi kurasa, semua harus berakhir sampai disini,”

Kukatakan juga , meski rasa sakit yang menumbuk perasaanku ini tak dapat kupungkiri

“Aku tidak ingin menyakitimu, sungguh,”

Tapi aku tak memiliki pilihan lain,aku harus mengatakannya padamu

“Tidak mudah untuk menyembunyikan segalanya,”

Akan kukatakan padamu sebuah rahasia

“Terdengar begitu tak masuk akal dan kejam memang.Biasanya kau selalu membuatku tersenyum, namun kini…. justru sepertinya aku yang akan membuatmu menangis,”

Untuk pertama dan terakhir kalinya, aku janji,tak ingin menyakitimu lebih dari ini

“Taehyung-ah, aku sebenarnya…”

Terkadang kau hanya benar-benar harus memilih satu diantara dua pilihan

ftrhapsody proudly presents

Tamat

Karena tamat tak selalu berarti selesai. Karena tamat tak berarti cerita itu habis pada bagian dimana ia terhenti. Sebab hidup terus berjalan. Bahkan ketika kita berpikir semua telah usai, ia berjalan.

I

                “Pokoknya kau tidak boleh lupa untuk menyebut namaku saat menerima penghargaan nanti!Kau dengar itu hyung?!Kalau tidak, akan kubakar studiomu begitu aku pulang dari Jeju nanti.” Taehyung sudah gila. Kali ini benar-benar gila.Memangnya dia pikir hanya aku saja orang yang dinominasikan?Dan apa katanya?Menerima penghargaan?Bahkan aku sendiripun tak berani untuk membayangkan diriku berdiri disana, di atas panggung raksasa itu. Akan menjadi sebuah pencapaian besar jika hal itu benar-benar terjadi.

”Hyung! Kau mendengarku! Hyuuuuung! Kau sudah janji! Yah Hyung! Aku serius!Di sini sekarang memang sedang tidak ada televisi, tapi…tapi! Lihat saja, nanti aku akan menyelinap keluar dari camp dan mencari—”

Min Suga tak lagi mengindahkan rentetan omelan Taehyung diseberang telepon.Ia hanya tertawa lemah sambil menggelengkan kepalanya sebelum kemudianmeletakkan ponsel hitam itu keatas meja. Membiarkan seseorang di Jeju sana terus mengumpat sesuka hati selagi Sugamerapikan tuxedonya.

Beberapa menit kemudian , Suga masih terlihat sibuk memandangi pantulan dirinya pada kaca, ketika sebuah pesan masuk memotong panggilan telepon dari Taehyung. Ia melirik ke arah ponsel hitam itu melalui ekor matanya.Jang Sera. Hanya sepotong nama yang dapat terbaca sebelum pesannya berubah menjadi deretan teks dan berpindah ke bagian atas layar, notification.

“Kau sudah selesai bicara adik kecil?” Suga kembali meraih ponsel hitamnya. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan.

“HYUNG!”

“Taehyung, kau tahu. Kurasa orang-orang memiliki pengertian yang salah tentang apa itu neraka.”

“Hah?” Taehyung terdengar kebingungan.Kenapa tiba-tiba Suga hyung membahas tentang neraka?

“Dengarkan aku Kim Taehyung. Kurasa neraka bukan sebuah tempat kemana kau mungkin akan pergisetelah mati-“ Suga menggantung kalimatnya, Taehyung terdengar menarik nafas tak sabar diujung sana.

“Lalu?” Kena kau! Suga mati-matian menahan tawa begitu mendengar nada bicara Taehyung yang berubah kesal.

“-melainkan sesuatu yang dapat orang bawa kemana-mana,tak terkecuali aku dan benda itu dapat menghubungkanku dengan orang bernama Kim Taehyung kapanpun diaingin mengangguku!”Lanjutnya.

“Yah Hyuuuuung!” Taehyung kembali merengek. Suga terkekeh mendengarnya. Kapan kau bisa jadi sedikit lebih dewasa Taehyung.Sepertinya aku harus menunggu lebih lama untuk itu.

“Adik kecil,aku harus menutup telepon sekarang. Kau, jangan berani-berani kabur dari camp atau aku yang akan lebih dulu datang kesana untuk mematahkan kakimu sebelum kau bisa kembali ke Daejeon dan membakar studioku.”

“HYUNG!”Tuut. Sambungan telepon diputus.Masa bodoh dengan protes yang akan dilontarkan Taehyung setelah ia pulang dari Jeju nanti. Suga bertaruh pasti wajah Taehyung telah berubah menjadi seperti adonan kue sekarang. Bertumpuk menjadi 1000 lipatan kusut.

Dan malam itu,sesosok laki –laki dengan setelan tuxedo rapi berdiri diatas panggung sebuah acara penghargaan musik. Sepasang matanya ikut menyipit bersamaan dengan senyum yang merekah dibibirnya.Plakat penghargaan yang baru saja ia terima. digenggamnya erat-erat. Lalu dengan mantap, diangkatnya tinggi-tinggi ke udara.

“Untuk Taehyung! Yang telah bersedia mengulurkan tangannya untukku.” Ujarnya singkat.

II.

Daejeon, 3 tahun yang lalu

“Jika aku mematikan lampunya seperti ini.”Taehyung menekan saklar lampu kearah garis merah.

“Lihatlah. Kegelapan tidak akan menghilangkan semua benda-benda ini.” Ia mengarahkan telunjuknya pada kursi , meja dan benda-benda lain yang ada di ruangan itu.Seakan sedang mengabsen mereka satu-persatu.

“Kegelapan hanya akan menyembunyikannya. Semua benda-benda itu masih ada ditempatnya tanpa kurang sedikitpun. Sama seperti lukamu, rasa kecewa dari masa lalumu itu hyung .Tidak akan hilang jika hanya kau sembunyikan, tidak akan hilang jika kau hanya terus-terusan memperbaiki dinding yang kau gunakan sebagai perlindungan. Yang perlu kau lakukan adalah menyembuhkannya. Lepaskan apa yang selama ini menjadi beban pikiran dan hatimu. Berusahalah untuk hidup dengan lebih bahagia.Tidak, maksudku benar-benar bahagia bukan pura-pura bahagia.” Taehyung tersenyum kepada sosok yang saat itu terbaring diatas ranjang rumah sakit.

Hari mereka berada dirumah sakit adalah tepat tiga bulan setelah pertemuan Suga dan Taehyung untuk pertama kali.Pertemuan mereka tepat terjadi ketika Taehyung sedang berusaha menolong kakaknya. Sudah menjadi hal biasa bagi Kim Namjoon yang merupakan seorang penderita autis, diperlakukan tidak adil oleh orang-orang disekitarnya. Dipandang rendah, diolok –olok, namun hari itu sepertinya beberapa anak berandalan telah bertindak melewati batas. Mereka memukuli Namjoon, meminta uang padanya. Beruntung Taehyung datang,namun ternyata tubuh remaja Taehyung juga tak sanggup melakukan pembelaan ketika ia terkena pukulan telak pada perutnya.

Namun,malam itu Tuhan sepertinya punya rencana lain. Suga yang baru saja pulang dari kerja part timedi toko musik, tak langsung pergi kerumahnya seperti biasa. Tiba-tiba saja ia merasa lapar dan akhirnya memutuskan untuk pergi menuju supermarket, jadi ia mengambil jalan dimana Taehyung dan Namjoon berada. Ia melihat kejadian itu.

Melawan anak-anak berandalan itu secara langsung adalah tindakan gila. Alasan pertama, jumlah dan ukuran mereka lebih dari cukup untuk membuat semua giginya tanggal . Alasan kedua , Suga tidak pandai berkelahi. Jadi pilihan satu-satunya adalah…Suga memeriksa keadaan disekitarnya. POLISI!Suga segera berlari ke arah beberapa orang polisi yang terlihat baru turun dari mobil patroli. Ia melaporkan kejadian itu dan merekapun segera bergerak menuju tempat kejadian sebelum Taehyung dan Namjoon berubah menjadi onggokan daging dan tulang. Dan sejak saat itulah Suga menjadi pahlawan bagi Taehyung. Kejadian itu membuat Taehyung merasa berhutang besar pada Suga. Dia terus saja mengikuti Suga, membantunya melakukan kerja part time ,membawakan makanan. Hingga suatu hari menemukan tubuh Suga hampir tak bernyawa di rumah sewanya.

Yah nyaris tidak bernyawa,akan ku ceritakan. Tahun itu adalah tahun dimana Suga harus kembali memperkecil skala keinginannya sekali lagi. Impian-impian besarnya runtuh begitu saja seperti bangunan yang habis terbakar. Hanya menyisakan puing dan abu dengan ukuran yang nyaris tak terlihat. Tak lagi pergi ke tempat audisi untuk menjadi penyanyi, ia hanya dapat bekerja part time di sebuah toko alat musik. Dia tak lagi memandang kehidupan dengan cara yang sama. Sekalipun senyum dan tawa selalu menghiasi wajah dan hari-harinya. Tak ada yang melihat bagaimana sulitnya kehidupan Suga.

Dan beruntunglah tiga tahun lalu Kim Taehyung— yang saat itu masih berusia 15 tahun datang ke dalam kehidupannya.Mengulurkan tangan untuknya. Membantu Suga berdiri , ketika orang lain bahkan tak dapat melihatnya terjatuh. Ucapan Taehyung saat itu telah menyadarkannya. Sejak saat itu juga segala hal dalam hidupnya sedikit demi sedikit kembali pada jalan yang seharusnya. Ia tak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Taehyung akan memberikan perubahan yang begitu besar.

III.

Jalanan beku menjadi pemandangan pertengahan musim dingin di kotaDaejeon tahun itu.Butiran salju merinai jatuh tanpa henti. Sebagian turun melapisi ranting-ranting pohon yang daunnya sudah tanggal beberapa hari sebelum musim dingin datang.Ada juga yang turun menutupiseluruh permukaan gedung dan benda-benda yang terpapar udara bebas. Sisanya memilih turun perlahan keatas helaian coklat rambut seorang gadis yang tengah berdiri didepan gedung apartemen barunya. Jang Sera—nama gadis itu, terlihat sedangmengetuk-ngetuk jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya dengan tak sabar.Fiuuh. Ia meniupkan nafas hangat pada udara beku musim dingin.Seseorang telah berjanji untuk menjemputnya, aku tak bisa memberitahumu siapa. Yang pasti dia adalahseseorang yang sangat spesial bagi Sera.Dia adalah seseorang yang sama spesialnya sepertikue ulang tahunyang hanya kau dapatkan sekali dalam setahun ,sama jugaseperti kembang api yang dinyalakan saat tahun baru.

Sepuluh menit telah berlalu dari waktu yang dijanjikan.Gadis itu terlihat bosan dan akhirnya mengeluarkan sepasang earset dari dalam tasnya. Ia memilih lagu klasik pada handphone—Sarabande karyaHandel, lalu mengenakan earsetnya.Memasang volumenya pada angka 4.

Hyung, ibu memberiku uang saku lebih hari ini. Setelah bertemu dengan dokter ,ayo kita pergi beli es krim. Kau mau?” Dua orang remaja melintas dihadapannya. Mereka kemudian menghentikan langkah tepat didepanhalte bus yang jaraknya hanya 3 meter dari tempat Sera berdiri.Serayang merasa hampir mati kebosanan tak memiliki pilihan lain selain mengamati dua remaja tersebut. Awalnya ia hanya berusaha mencuri dengar apa yang mereka bicarakan,namun padadetik berikutnyagadis itu terlihat mengernyitkan dahi. Sepasang mata bundar miliknya menatap kedua remaja itu dengansemakin intens. Seakan ia ingin memastikan sesuatu.

“Ta…pi i…ni dingi…n. Beli… ya…ng laaa…in sshhha…jhaa” Ujar seorang yang lain, ia berbicara dengan terbata. Suaranya terdengar begitu berat dan sulit dikeluarkan. Jika tebakan Serabenar, anak itu mengidap autis. Sera masih mengamati hingga ia dapat melihat wajah anak laki-laki itu dengan lebih jelas.Hasil akhirnya, hipotesis Sera terbukti.

“Kau benar. Kita pergi beli cokelat hangat saja nanti.” Ujar remaja pertama membuat seseorang yang ia panggil dengan Hyungsebelumnya,mengangguk senang.

“ Oh ya Hyung, besokkabarnya ada seorang guru baru yang akan mengajar dikelasku. Teman-temanku bilang sih, perempuan dan masih muda .Ku harap dia cantik karena kalau tidak, kujamin aku akan semakin sering absen pelajaran Bahasa Inggris. Hahaha…”

“A…aku aaa…kan bilaang…i…bu.Taehyung bo…bolos”

“Aku hanya bercanda hyung. Kenapa kau mengancamku seperti itu yaaaah!Hahahaha,ah pakai jaketmu dengan benar—”Derai tawa dari anak laki-laki bernama Taehyung itulah yang terakhir Sera dengar, sebelum bunyi klakson mobil mengalihkan perhatiannya.

“Menungguku nona?”

“Yah! Min Yong-ah!Kenapa lama sekali.”

“Kita impas sekarang, sepertinya seseorang telah berhutang rahasia padaku. Masuklah seonsangnim,selamat atas diterimanya kau disekolah baru.”

“Selamat juga kepada rapper pendatang baru terbaik kita. Hmmm.”

Mungkin ada banyak alasan logis dibalik semuaperistiwa yang terjadi di dunia ini.Tapi tidakkah kita manusia, lebih menyukai sesuatu yang mudah? Terlepas dari semua kemungkinan yang masih menjadi misteri. Jawaban mudah dari setiap disatukannya potongan puzzle kehidupan adalah, takdir.

IV.

Kehidupan memang selalu memberikan berbagai kejutan yang tak terduga. Dua tahun lalu boleh jadi Taehyung sengaja dikirimkan Tuhan dari langit untuk membantu Suga menghapus kabut dalam kehidupannya. Tapi siapa sangka ,jika hari ini tiba-tiba saja malaikat yang dikirimkan Tuhan itu menanggalkan seluruh atribut ke-malaikatannya .

“Ya Tuhan, aku akan lebih memilih untuk terkurung sendirian di studio bersama speaker – speaker baruku. Menulis rap untuk 4GAJI show atau melakukan apapun selain menguntit seperti orang kurang kerjaan disini. Dosa apa yang telah kulakukan dikehidupanku yang lalu Tuhan.” Rutuk Suga, masih sambil meringkuk dibelakang tubuh Taehyung yang nyaris menutupi hampir seluruh tubuhnya. Mereka berdua sedang berada dibalik bangku di sebuah taman hiburan siang itu.Mengagumi ciptaan Tuhan, nama yang dipilih Taehyung untuk misi sucinya kaliini.

“Waaah lihat siapa yang berbicara. Kau yang tadi duluan meneleponku dan bilang kalausedang bosan dirumah.” Taehyung terlhat tidak terima dengan protes yang dilontarkan Suga.

“Hey! Tadi kau bilang kalau kau sedang mengantarkan Namjoon ke acara sekolahnya di taman hiburan bukan menguntit gurumu seperti ini!“

“Bukan salahku jika seonsangnim juga sedang ingin pergi ke taman hiburan dan membuatku ingin mengikutinya kan. Shyut diamlah hyung!” Taehyung menutup mulut Suga dengan tangannya.

“Haishhh… lebih baik aku membeli minuman hangat dan pergi ke tempat Namjoon saja. Kau membekulah disini bersama obsesimu yang sudah mulai tak sehat itu. Lagi pula dari tadi aku juga tidak dapat melihat apapun karena punggungmu yang lebar.” Ujar Suga akhirnya, ia lalu berjalan pergi tanpa menunggu persetujuan dari Taehyung. Yang ditinggalkan tak terlihat akan sedikitpun beranjak dari tempat persembunyian. Jadi mari kita biarkan Taehyung menikmati acara menguntitnya sore itu.

“Haish, sialan. Kapan pria itu akan berhenti bicara dengan seonsangnim, haishhh…dingin sekali.”

***

                10 menit kemudian, setelah kaki Taehyung rasanya nyaris rata dengan tanah karena lelah berjongkok, pria yang sedari tadi berbincangdengan gurunya terlihat berpamitan. Taehyung bernafas lega. Satu menit saja, satu menit lagi berada ditempat itu. Taehyung tidak yakin ia akan dapat kembali kerumah dalam keadaan baik-baik saja. Dia masih berumur delapan belas tahun dan memiliki banyak hal yang ingin dilakukan lebih dari sekedar berakhir menjadi patung es ditaman hiburan.

“Seonsangnim!” Dengan setengah gemetaran ia berusaha berjalan senormal mungkin menghampiri gurunya. Keluar dari tempat yang tidak akan membuat gurunya curiga.

“Ah, Taehyung. Sedang apa kau disini? Aku pikir anak populer akan lebih senang menghabiskan waktunya di mall. Ternyata aku salah?” Perempuan itu terlihat mengedikkan bahu, kemudian menepuk tempat duduk disebelahnya. Taehyung segera mengerti artinya dan duduk disebelah perempuan yang dipanggilnya dengan seonsangnimitu.

“Aku sedang mengantarkan saudaraku sebenarnya. Seonsangnim sendiri? Kenapa pergi ke taman hiburan? Sendirian lagi?” Taehyung balas bertanya, setengah terkekeh dalam hati.Menertawakan dirinya yang sebenarnya dari tadi tengah berada disana—mengagumi ciptaan Tuhan.

“Ah, tadi sebenarnya aku ada janji dengan oppa di cafe dekat taman hiburan. Dia saudaraku yang sudah terlebih dulu tinggal di Daejeonsejak 5 tahun yang lalu. Tapi karena tiba-tiba saja anaknya minta pergi ke taman hiburan jadilah aku ikut menemani mereka.” Saudara.Hanya saudara ternyata.

“Ah…” Taehyung mengangguk-angguk, mengerti. Drrt… ponsel di saku baju hangat Taehyung bergetar. Tidak biasanya dia mengatur handphonenya pada mode getar. Namun karena sedari tadi Suga tak henti-hentinya menelepon dan itu hanya akan menganggu acara menguntitnya jadi Taehyung mengubah mode handphonenya. 10 pesan masuk dan 5 panggilan tak terjawab. Semuanya dari Suga.

Aku pulang dulu bersama Namjoon. Aku sudah mencari pemilik ponsel ini kemana-mana namun tidakdapat menemukannya. Jadi aku sampai pada kesimpulan bahwa dia mungkin saja telah mati membeku di taman. Bagi siapa saja yang menemukan dan membaca pesan ini tolong bawa pemilik ponsel pulang ke alamat yang mungkin anda temukan pada kartu identitasnya. Jika tidak merepotkan mungkin anda bisa kremasi saja dia tanpa harus membawanya pulang. Kami akan sangat berterimakasih pada anda jika mau melakukannya.

Taehyung tertawa setelah membaca pesan terakhir yang dikirim Suga. Perempuan disampingnya memandang Taehyung dengan tatapan heran.Ada yang lucu?

“Seonsangnim, lebih baik kita pergi ke cafe atau tempat yang lebih hangat. Rasanya aku hampir terkena hipotermia karena terlalu lamaberada diluar. Lagi pula sweater sialan ini sama sekali tidak membantu.” Ujar Taehyung , kembali memasukkan ponsel ke dalam saku sweaternya.

“Bukankah katamu tadi kau datang bersama saudaramu Taehyung?”

“Hyungku baru saja mengirim pesan kalau dia sudah pulang terlebih dulu bersamanya.”

“Hyung? Dia? Kau punya dua kakak?”

“Ah tidak, aku hanya punya satu hyung yang satunya lagi teman dekat tapi dia sering sekali pergi kerumah untuk menghabiskan makanan.”

“Pasti teman yang sangat dekat sekali.” Perempuan itu tersenyum.

“Jadi seonsangnim ,kita pergi?”

“Kenapa tidak?”

V.

                Seminggu kemudian , tak seperti akhir pekan biasanya yang dihabiskan dengan bermalas-malasan ditempat tidur. Pagi itu Taehyung terlihat sibuk menyiapkan peralatan tulis dan membawa beberapa macam kudapan ringan ke ruang tamu. Namjoon yang semula akan pergi mengambil cat airnya di kamar, mengurungkan niat. Berbelok ke arah ruang tamu untuk mengambil beberapa potong kue yang telah disiapkan Taehyung.

“Yah hyung! Kau bisa ambil yang ada di lemari es.” Teriak Taehyung dari arah dapur, namun Namjoon mana peduli. Dia justru terkekeh senang dan segera berlari pergi membawa 2 potong kue ditangan .Taehyung hanya tertawa melihat tingkah hyungnya untuk kemudian menambahkan beberapa potong kue yang baru.

“Taehyung, ibu dan ayah pergi dulu. Kau baik-baik dirumah, dan juga tolong sampaikan pada gurumu kalau kami minta maaf tidak dapat menemuinya.” Ujar ibu Taehyung , berdiri diambang pintu seraya mengenakan sepatunya. Selang beberapa detik kemudian ayah Taehyung terlihat keluar dari arah kamar, berjalan sambil merapikan simpul dasi pada lehernya. Kemudian meraih sepatu pantofel di atas rak dan mengenakannya.

“Ya! Hati-hati.Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh kalau pulang.” Ujar Taehyung, sontak mengundang tawa dari ayah dan ibunya. Mereka melambaikan tangan sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar pergi keluar rumah.

Selesai meletakkan sebuah pitcher berisikanjus jeruk, akhirnya Taehyung berlari menuju kamarnya untuk berganti baju. Menyisir rambutnya berkali-kali sebelum kembali turun ke ruang tamu. Seminggu lalu pembicaraan dengan guru bahasa Inggris barunya itu berakhir dengan keputusan untuk memberikan les tambahan bagi Taehyung.

“Guru-guru telah memberi tahuku tentangmu Taehyung. Entah kau memang benar-benar kesulitan mengerti bahasa Inggris atau hanya membencinya saja, karena mereka bilang kau tidak punya masalah pada mata pelajaran lain.” Perempuan itu mengangkat gelas cappucinonya.

“Aku benar-benar tidak mengerti seonsangnim.” Jawab Taehyung pendek, seraya memasukkan sebongkah gula kedalam minumannya.

“Apa kau selama ini sudah mencoba untuk mengikuti les tambahan?”

“Percuma saja, aku tetap tidak mengerti. Cara mengajar mereka membosankan.” Taehyung terlihat mengedikkan bahunya, tidak tertarik dengan ide yang disampaikan perempuan dihadapannya.

“Tapi kalau seonsangnim punya waktu , mungkin aku…akan mencoba.” Dia berkata dengan ragu-ragu. Perempuan dihadapannya terlihat tersenyum penuh kemenangan.Semudah ini ternyata.

“Oke, bagaimana kalau kita mulai minggu depan. Hari Sabtu? Kau mau?”

“Hummm , call!Dirumahku saja?”

“Ya , dirumahmu saja.”

Tok … tok… pintu diketuk. Taehyung bangkit dari duduknya dan segera berlari menuju pintu depan.Berharap penuh bahwa seseorang dibalik pintu itu adalah orang yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya. Namjoon yang mendengar suara berdebum dari arah ruang tamu ikut mengintip dari dalam kamar. Pintu dibuka.

“Se…ra Noo…na” Ujar Namjoon terbata.

“Jang seonsangnim hyung.”Taehyung membenarkan.

VI.

3 bulan sudah, terhitung dari pertemuan terakhir mereka untuk merayakan kemenangan Suga dan diterimanya Sera di tempat kerja baru.Komunikasi hanya dilakukan melalui telepon, tidak lebih.Popularitas Suga memang sedang melejit pesat dan pekerjaan itu menuntut atensi penuh dari dirinya.Terkadang Sera ingin protes, tapi mau bagaimana lagi.Mereka tidak bisa pergi kencan dengan leluasa sekarang. Selain karena tidak ada waktu, juga untuk menghindar dari pemburu berita yang begitu haus akan rumor. Sera kadang merindukan jarak 167 kilometer antara Seoul dengan Daegu. Yang berarti ia juga merindukan pertemuan sebulan sekalinya dengan Suga selama tiga tahun sebelumnya.

Malam itu Suga berbaring di sofa yang ada di ruang tamu apartemennya. Ia sedang berbicara di telepon dengan Sera. Di meja , sebuah speaker kecil memainkan Vivaldi-Summer sebagai latar belakang. Terdengar kontras memang, Suga sengaja memasang lagu itu. Dengan harapan karya Vivaldi itu dapat memecah kebekuan udara musim dingin kota Daejeon. Sekalipun dia tengah berada didalam ruangan.

Alasan lain, karena ia senang menggoda Sera. Benar saja, begitu mendengar lantunan nada itu di telepon, Sera segera protes.

“Kenapa kau mendengarkan Summer di musim dingin Min Yoong ah?”

“Karena The Four Season – Winter terdengar terlalu menusuk ditelingaku Sera-ya~.”

“Omong kosong, lalu bagaimana dengan lagu-lagumu huh.” Suga tertawa ,menertawakan percakapan mereka yang mulai menegang. Cukup Suga.

“Hahaha… baiklah baiklah kau menang lagi.” Suga bergerak menekan tombol off pada speaker kecilnyanya. Tiba-tiba dari seberang telepon terdengar sebuah lagu yang sangat familiar di telinga Suga.

Nada – nada itu seakan mengangkat ingatan lama yang berada dibagian paling dasar memori otaknya. Kepingan-kepingan ingatan itu bermunculan dipermukaan untuk kemudian menyatu menjadi sebuah bagian utuh suatu kejadian.

Seoul, 3 tahun yang lalu.

 

Seorang anak laki-laki terlihat berjalan gontai menyusuri jalanan Gangnam siang itu.Menyeret sebuah koper hitam lusuh dibelakangnya.Tanpa ekspresi, tanpa semangat.Seakan jiwanya baru meninggalkan tubuh itu beberapa saat yang lalu.Air mukanya datar, dua manik cokelatnya menerawang. Namun ia terus berjalan. Terlalu sibuk tenggelam dalam pikirannya hingga tak sadar ada seorang gadis yang duduk meringkuk ditengah jalan. Langkah kaki remaja itu tepat terhenti ketika ia benar-benar nyaris menabrak tubuh gadis itu.

“Ah maaf. “Ujarnya singkat.Mengambil langkah lagi, berlalu.

Namun baru beberapa meter ia berjalan, anak laki-laki itu kembali menoleh ke belakang. Dan menemukan gadis itu tetap berada pada tempat yang sama. Dia kini menyadari sebuah gitar yang tergeletak disamping gadis itu.

“Ah, Tuhan kenapa aku tak pernah bisa berhenti terlibat dengan hal seperti ini.Andai aku bisa memintamu untuk menghilangkan saja kepedulianku ini. Pasti hidupku akan jadi lebih mudah. ”

Ternyata dia salah, Tuhan memiliki rencana lain.

***

Akhirnya ia menemukan sebuah tempat yang nyaman, satu tangannya menarik koper dan tanpa sadar tangan yang lain menarik lengan gadis disebelahnya. Gadis itu tak menolak-lebih karena terkejut, hanya memeluk gitarnya lebih erat. Mereka duduk pada bangku di sebuah taman. Suga segera sibuk dengan gitar milik si gadis -yang entah siapa.Beberapa kali memutar tuner untuk kemudian memetiknya senar-senarnya, memastikan.

“Necknya tidak bisa kuperbaiki, kalau kau punya kunci L kau bisa pakai itu nanti.Ini gitarmu.”

Diam.

“Tidak berterimakasih? ”

Diam.

“Baiklah, kurasa kau tidak dilahirkan untuk mengenal kata terimakasih. Tapi-”

“Terimakasih. Aku Sera, Jang Sera. Kau Suga kan? Yang beberapa hari lalu dipecat dari toko alat musik itu.Ditempat aku duduk tadi. Sebelumnya kau adalah trainee  salah satu agensi besar di Cheondamdong.”

“Bagaimana kau-”

“Maafkan ayahku, keluarga kami sedang ada sedikit masalah.Ya, sedikit.Kurasa begitu.Toko itu bukan miliknya nsendiri.Modalnya pun di dapat dari rentenir. Jadi mau tidak mau dia harus-”

“Aku mengerti tapi-”

“Biar kunyanyikan sebuah lagu untuk berterimakasih.Suaraku memang tidak bagus tapi, aku tidak punya sesuatu untuk diberikan jadi kuharap kau mau mendengar.” Gadis ini, Jang Sera.  Memang benar-benar suka menyela perkataan orang lain. Suga harus pergi sekarang tapi lihatlah jemari Sera sudah bergerak memetik senar dengan lincah.
” I am a honey bee,
Aku adalah seekor lebah madu
Shunned off from the colony
Yang terpisah dari kelompokku
and they won’t let me in
Dan mereka takkan membiarkanku kembali
So I left the hive,
Jadi aku meninggalkan sarangku
They took away all my stripes
Mereka mengambil seluruh corakku
and broke off both my wings
Dan mematahkan kedua sayapku
So I’ll find another tree
Jadi aku akan mencari pohon yang lain
and make the wind my friend
Dan menjadikan angin sebagai temanku
I’ll just sing with the birds
Aku hanya akan bernyanyi dengan burung-burung
They’ll tell me secrets of the world
Mereka akan mengatakan padaku rahasia dari dunia
But my other honey bee
Tapi bagian diriku yang lain
Stuck where he doesn’t wanna be
Terperangkap ditempat yang tak ia inginkan
But my darling, honey bee
Tapi sayangku, honey bee
I’ll come save you
Aku akan menyelamatkanmu
Even if it means I’d have to face the queen
Meskipun itu berarti aku harus berhadapan dengan ratu
Da param pam param pam
Para ra ra pa pa ra ram”

“Sera, aku tidak terlalu mengerti bahasa inggris tapi kurasa kau sedang menyanyikan lagu tentang keadaanku sekarang ini. ” ujar Suga, Sera hanya tertawa.

***

“Da param pam param pam

Para ra ra pa pa ra ram” Suara Sera yang menggumamkan bagian reff lagu membuyarkan lamunan Suga.

“Kau ingat, seminggu setelah hari itu. Saat kau memutuskan untuk kembali ke Daejeon. Aku takut tak akan bertemu denganmu lagi. ”

“Tapi-”

“Tapi kau justru meneleponku mengatakan kalau kau mendapatkan pekerjaan di toko musik dan-”

“Aku merindukanmu Sera. Sangat merindukanmu. Aku ingin segera menyelesaikan semua pekerjaanku dan bertemu denganmu. ”

3 hari kemudian, doa itu dikabulkan.

 

VII.

Sabtu pagi yang spesial bagi Taehyung. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Yang berarti akan ada banyak makanan dan kado. Ya, usianya akan segera menjadi 19 dan… ia masih mengharapkan kado? Agaknya hal itu terdengar sedikit kekanakan. Bagaimanapun juga Taehyung tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. Sekalipun mustahil ia bisa mendapatkan libur les bahasa Inggris sebagai hadiah ulang tahun. Tapi bukankah itu artinya kabar baik kalau tahun ini ulang tahunnya jatuh pada hari Sabtu. Itu berarti tidak ada alasan bagi Sera untuk absen dari pesta ulang tahun Taehyung. Segera setelah selesai belajar, mereka bisa melakukan perayaan kecil bersama. Ayah, ibu, Namjoon, Sera dan tentu saja “hyung yang suka menghabiskan makanan dirumahku”, Suga. Ya, mereka saja sudah lebih dari cukup. Hihi… Bayangan merayakan hari ulang tahun bersama orang orang yang ia sayangi, membuat Taehyung menjadi antusias untuk belajar bahasa Inggris hari ini.

Sementara itu, Suga baru saja melempar bantal keduanya ke arah jendela kamar. Berharap sinar matahari musim semi behenti menganggu tidurnya. Namun percuma, alarm ponselnya ikut latah berbunyi.

“Sialan.” Akhirnya Suga bangkit dengan malas untuk kemudian meraih ponselnya. Sejauh yang Suga ingat, Ia tak pernah memasang alarm pada hari Sabtu.  Jadi, apa yang spesial hari ini.

“Astaga! Taehyung! Tidak, aku belum beli kado. Tidak, aku memang sebelumnya tak pernah membelikannya kado, dia yang selalu memilih sendiri. Astaga, Suga. Bangun. ”

Ditempat lain, guru Jang sedang memasang selotip terakhir pada kotak hadiah ulang tahun yang akan ia berikan pada muridnya. Semalaman ia merajut sweater untuk diberikan sebagai hadiah, tanpa tidur dan makan. Mana dia ingat, bahkan 3 panggilan masuk dari orang spesialnya pun ia hiraukan. Terlalu larut dalam kegiatan merajutnya.

“… sweater sialan ini sama sekali tidak membantu. “Ia masih ingat betul perkataan itu. Sweater lama yang dimiliki muridnya sudah tak lagi bisa menghangatkan tubuh jika digunakan di musim dingin. Jadi meskipun sekarang sedang musim semi, guru Jang berharap sweater itu akan digunakan pada musim dingin tahun depan. Selesai. Guru Jang tersenyum puas, lalu seger beranjak menuju rumah muridnya. Kim Taehyung.

***

Ruang tamu kediaman keluarga Kim hari itu dipenuhi tawa. Sambil menunggu kedatangan seseorang lagi, mereka memutuskan untuk bermain Janggi. Lebih tepatnya hanya Taehyung dan ayahnya yang bermain, sisanya menonton. Permainan itu berjalan dengan penuh kecurangan dan protes yang tak henti-henti dilontarkan Taehyung. Namjoon nyaris sakit perut karena terlalu banyak tertawa. Ibu mereka yang akhirnya sudah malas menonton suami dan anaknya bertengkar, mengajak Sera pergi ke dapur.

“Kita pergi siapkan makanannya saja guru Jang. ” Jang Sera hanya menangguk dan mengikuti wanita paruh baya itu menuju dapur.

“Terkadang aku seperti merasa membesarkan 3 orang anak berusia lima tahun kalau mereka bersikap seperti itu. Astaga… ” Ibu Taehyung memijat dahinya. Berpura pura pusing. Kemudian mereka berdua tertawa.

“Guru Jang, kemarilah. Coba ini. Aku ingin kau mencicipinya. ” Wanita paruh baya itu menyendok sup rumput laut yang telah ia siapkan dan menyuapkannya pada Sera.

“Sudah enak? ” Sera mengangguk.

“Sudah lama sekali aku tidak makan sup rumput laut seenak ini eommonim. ” ujar guru Jjang sopan.

“Kalau guru Jang mau, anda bisa datang setiap hari dan aku akan dengan senang hati membuatkannya untukmu. ” Mereka tertawa sekali lagi. Ibu Taehyung kembali sibuk menyiapkan makanan yang lain.

Tiba -tiba saja Ibu Taehyung dapat merasakan dua lengan kurus melingkar pada pinggangnya. Seseorang memeluknya, dan sekarang ia dapat merasakan kepala orang itu bersandar di punggungnya. Terdengar suara tangis yang begitu lirih. Wanita itu tersenyum untuk kemudian berbalik dan memeluk tubuh Sera erat.

“Kau pasti sangat merindukan ibumu di Seoul. Sudah jangan menangis. Guru Jang sudah kuanggap sebagai anak sendiri. Kau selalu bisa kemari kapanpun kau mau. Shusssh. ” Ting… Tong…

“Ah itu pasti Min Yoong. ” seketika kedua mata Sera membulat. Jadi, sedari tadi mereka tidak memulai pestanya untuk menunggu Min Yoong. Min Suga. Kenapa ia bisa melupakan fakta bahwa Suga adalah teman dekat Taehyung.

“Kita perlu bicara setelah ini Sera. “

“Tidak hari ini Min Yoong. Aku akan kembali menghubungimu ketika aku sudah siap menjelaskan semuanya. “

VIII.

“Hyung! Ini guru Jang yang sering kuceritakan! ” masih terngiang kata-kata Taehyung seminggu yang lalu di telinga Suga. Ia sedang berada disebuah cafe, duduk berseberangan dengan seseorang yang begitu ingin ia mintai penjelasan saat ini. Min Suga menghela nafas dalam sebelum akhirnya mulai berbicara.

“Bagian tergilanya, aku sering menceritakan Taehyung padamu. Kau tahu dia dengan sangat baik dari cerita-ceritaku. Jika Taehyung tidak tahu menahu soal hubungan kita dan dia bisa sampai punya perasaan padamu aku tidak akan menyalahkannya.Bahkan tak ada seorangpun yang tahu tentang hubungan kita selain kau dan aku. Itu keputusanmu, keputusan kita. Kau benci wartawan, kau takut akan sasaeng fans. Aku mengerti.”Hening sejenak.

“Tapi…kau pikir aku tidak merasakan hal itu Sera. Kau selalu mengalihkan topik pembicaraan ketika aku mulai membahas tentang sekolah baru tempatmu bekerja.”

“ Salahkan semua kesibukanku yang membuat aku tidak bisa menemani Taehyung disetiap acara menguntitnya. Salahkan aku karena tidak pernah mendengarkan cerita Taehyung dengan serius tentang guru bahasa Inggris barunya. Tapi aku menuntut penjelasanmu untuk semua ini “

“Baiklah.Dengarkan aku dan kuharap kau bisa menerima keputusan akhirku. ”

“Jadi,     mereka adalah keluargaku Suga.Taehyung adalah adik kandungku.Ayahku yang dulu memecatmu, dia menukarku dengan Namjoon ketika kami masih bayi di rumah sakit Seoul.Dia bukan ayah kandungku.Ibu meninggal ketika dia melahirkan Namjoon, dan setelah dokter mendiagnosis kalau Namjoon menderita autis dia menukarnya denganku.Dia ingin memberikan Namjoon kehidupan yang lebih baik.Karena ya kau tahu sendiri keadaan keluargaku.Hari dimana kau membetulkan gitarku.Saat itulah aku tahu tentang semuanya, aku marah dan datang ke tempat ayah.Tapi kau tahu sendiri aku justru ditendang keluar dari rumah.Setelah kita bertemu saat itu, aku menelepon kakakku yang tinggal di Daejeon. Ternyata dia juga sudah tahu tentang apa yang selama ini dirahasiakan ayah. Semula aku juga marah padanya, tapi aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kakakku pun juga begitu membenci ayah sampai dia pindah ke Daejeon lima tahun yang lalu. ”

Jeda

“Kakakku yang membiayai seluruh keperluan sekolahku selepas aku diusir dari rumah.Juga biaya makan dan tempat tinggal.Hingga akhirnya aku mendapat beasiswa dan dapat membayar biaya kuliahku sendiri.Aku tidak ingin merepotkan kakakku lebih dari itu.Tapi rasa ingin tahuku.Rasa rinduku untuk memiliki sebuah keluarga membuatku harus kembali meminta tolong pada oppa.Aku memintanya untuk menyelidiki semua.Dari data-data yang berhasil kutemukan di lemari kamar ayahku, hal itu memberi titik terang. ”

“Selebihnya untuk perasaan Taehyung, itu juga diluar kendaliku.Aku hanya ingin bersamanya saat itu.Bersama keluargaku juga.  Dengan menjadi guru di sekolahnya hal itu memberiku peluang yang lebih besar.Bukannya aku tidak ingin menjelaskan padamu, hanya saja aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.”

“Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? “Suga bertanya.

“Aku akan pergi keluar negeri.Beasiswaku sudah diurus.Semua berjalan lancar.Aku sekarang ingin membuang kenangan tentang keluarga ini.Semula aku memang berniat kembali. Tapi Namjoon, dia telah membawa kebahagiaan yang begitu besar pada keluargaku. Akan sulit juga untuk menjelaskan semuanya pada ayah dan ibu.”

“Aku hanya perlu pergi.Meninggalkan semuanya, memulai kehidupan baru.Jadi untuk itu aku juga memintamu untuk melupakanku Suga. Aku tak akan repot-repot memberi tahu Taehyung tentang hubungan kita. Semua itu hanya akan-”

“Sera, biarkan aku bicara. “Suga memotong kalimat Sera.

“Tentang keluargamu aku bisa mengerti.Tapi tentang Taehyung, persabahatan kami. Dan kau bilang kau akan pergi? Lantas menyuruhku untuk melupakanmu? ”

“Sera, tiga tahun dan semua ini tidak ada artinya? ”

“Kau ingin aku melupakan satu diantara dua orang yang kumiliki didunia ini? Pikirkan sekali lagi apa itu memang benar-benar yang kau inginkan. ” suga beranjak dari tempat duduknya. Terluka.Meninggalkan Sera tertegun ditempat duduknya.

IX.

Sera sedang berada di airport ketika ia melakukan panggilan ke nomor Taehyung. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.

“Seonsangnim. Kenapa kau tidak mengajar hari ini. Oh ya! Apa seonsangnim sudah melihat berita! ”

“Taehyung, tolong dengarkan aku sebentar.  Dan soal berita, aku tidak menonton tv jadi mari kita lupakan. ” nada suaranya terdengar serius.

“Tapi-”

“Kim Taehyung. ” Sera menuntut atensi

“Baiklah. Jadi? ” Taehyung akhirnya menurut.

“Dengarkan noona, Kim Taehyung-” Sera tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Noona. Tapi tak ada yang salah. Jadi ia melanjutkan kalimatnya.

“Sejujurnya aku begitu bahagia dapat melihatmu seperti sekarang ini. Mendengar semua ceritamu,aku bahagia dapat mendengarkan semuanya.Tapi kurasa, semua harus berakhir sampai disini.Aku sebenarnya  tidak ingin menyakitimu, sungguh.Tidak mudah untuk menyembunyikan segalanya selama ini.Terdengar begitu tak masuk akal dan kejam memang. Biasanya kau selalu membuatku tersenyum, namun kini…. justru sepertinya aku yang akan membuatmu menangis,” Sera diam sejenak. Memberikan jeda pada penjelasannya.

“Taehyung-ah, aku sebenarnya.. aku adalah kakak kandungmu. Itu yang perlu kau ketahui untuk saat ini. Jadi berhentilah menyukaiku lebih dari itu. Kau mungkin bingung sekarang. Selebihnya akan kujelaskan ketika aku tiba di Canada. Jangan memberi tahu siapapun tentang ini. Aku… aku pergi sekarang” Sera tertunduk dalam begitu ia berhasil menyelesaikan kalimatnya.

“Tidak perlu repot – repot pergi noona. Aku sudah tahu semua dari awal. Di taman hiburan. Saat itu aku hampir mati kedinginan menunggu hyung itu berhenti bicara. ” Taehyung angkat bicara.

“Sekalipun aku kedinginan saat itu, aku masih bisa mendengar segalanya dengan jelas. Tanpa melewatkan sepatah katapun. Untuk masalah kau dan Suga hyung.  Aku tidak peduli, beruntung aku pergi ke taman saat itu. Aku menyayangimu sebagai kakakku. Kakak kandungku. Mengenai keputusanmu sekalipun berat, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang itu bukan? Aku masih berharap kau akan memberi tahu ayah dan ibu. ”

“Taehyung… aku minta maaf. ” Sera tertunduk ditempatnya.

“Ah. Tapi noona aku benar-benar harus memberitahukan tentang berita yang tadi pagi kulihat. ”

“Hmm?”

“Dispatch merilis foto mu dan Suga hyung ketika berada disebuah restoran. ”

“Apa? ”

“Pagi tadi tepatnya. Aku terkejut untuk yang satu ini. Hyung sedang berdiskusi dengan pihak perusahaannya sekarang. Karena tidak ada kau aku yang menemaninya. Katanya kau telah memutuskannya kemarin. Tapi kurasa media tidak akan percaya begitu saja. Pasti berat. Ngomong ngomong kami sedang berada di apartemen Suga hyung. Hah… entah apa yang akan terjadi setelah ini-”

“Aku akan segera kesana.  Aku akan menjelaskan semuanya pada mereka.” Ujar Sera menyela penjelasan Taehyung.

“Baiklah hati-hati noona. ”

Klik

“Berhasil!  Setidaknya dia akan ketinggalan pesawat dan tidak akan bisa berangkat hari ini. Mari siapkan pesta kejutannya semua! ” teriak Taehyung terdengar senang. Keempat orang yang berkumpul disekitarnya tak dapat menyembunyikan senyum bahagia mereka.

“Yah Kim Taehyung sejak kapan kau bekerja untuk Dispatch! ” Suga menepuk bahu Taehyung sambil tertawa.

“ Aku tak pernah mengajarinya berbohong. ” Ayah Taehyung mengangkat kedua tangannya. Semua tertawa.

Jadi kemarin malam dengan pertimbangan yang matang Suga memutuskan untuk menceritakan semuanya. Keluarga Taehyung memang sempst shock. Namun ketika Taehyung mengaku bahwa ia telah mengetahui semua itu sebelumnya, Suga menjadi sedikit lega. Taehyung yang akhirnya mengambil alih penjelasannya tadi malam. Dan hari ini mereka merencanakan sebuah skenario untuk membuat Sera kembali.

Tamat.

Meskipun begitu, cerita ini tidak pernah benar-benar berakhir.

Advertisements

One thought on “[FF Contest] TAMAT

  1. Huaaaaaaaa… ini keren bgt.
    Awalnya dh takut hub Tae sama Suga bakal ancur gara2 suka sama satu cwe. Eh gx taunya Tae adik kandung Sera…jd lega.kekekek

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s