Chaptered · Drama · Family

HE AND MY SISTER – CHAPTER 2


hssss copy11

  • Author: minariFini
  • Title: He And My Sister
  • Main Cast: Park Eun So (OC) , Park Hye Ra (OC) , Oh Sehun 
  • Other Cast: Kim Jong In
  • Genre:  Romance, Drama
  • Rating: Mature
  • Lenght: Chaptered 

  • Disclaimer: Don’t take it serious this is just a fanfiction between Oh Sehun and OC. if you don’t like it please don’t bash each other. i made this story just for amusing the readers. And please don’t copy paste my story without my permision!!
  • AN: hiiiiii heheh mumpung kosong langsung update dua ff , bagi penggemarnya sehun nih buruan merapat XD , author selalu menunggu kritik dan saran kalian untuk ff ini. mungkin ff ini agak ringan sekali pembahasannya dan mungkin agak sedikit alay , ya mau gmana lagi ini ff lama author yang udah jamuaran di documen jd ya aku publish deh. okay itu saja , enjoy ~~

Chapter prolog / 1 / 2

“Eun .” Jangan ditanya siapa yang memanggilku.

“Eun So-ah..” rupanya dia tidak menyerah , dia masih terus memanggilku. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Apakah dia akan mengerjaiku lagi? menggodaku ? entahlah hanya itu yang bisa ia lakukan. Dia selaku membuatku kesal.

“Ya, Park Eun So!!” dia mulai nampak kesal , tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin bertemu dengannya.

“Berhenti mengikutiku!” Kataku gusar sambil mempercepat langkahku.

“Tugas kita sudah selesai, apa kau tidak ingin melihatnya?” Katanya sambil berusaha menyusul langkahku. Dan memang menyusul langkahku bukan hal yang susah baginya, dalam hitungan detik saja, ia sudah berada di hadapanku. “Mengapa kau menghindariku?” Tanyanya lagi.

“Minggir, aku tidak punya banyak waktu, aku harus memberikan dokumen ini kepada Mr. Kwon.”

“Eun?” Sehun menarik tanganku dan menatapku, aku tidak tahu apa yang ia inginkan. Aku merasa aku tidak memiliki urusan lagi dengannya. Aku hanya menatapnya dan memberikan waktu untuk menyampaikan sesuatu yang ia ingin katakan. ” Eun, kau semakin bersikap dingin denganku, ada apa?”

“Aku tidak bersikap dingin, aku sedang tidak ada waktu saja.” Jawabku singkat.”Lepaskan aku.” Perlahan sehun melepaskan genggamannya dan membiarkan aku berjalan menjahuinya.

“Eun? Kapan kau akan berangkat ke jepang?” Tanyanya, aku segera menghentikan langkahku dan memutar tubuhku untuk menatapnya.

“Bulan depan.”

“Apa kau ingin pergi denganku sebelum kau berangkat ke jepang.”

“Pergi berdua denganmu?” Sehun menganggukkan kepalanya sedangkan aku, aku menarik nafas berat sebelum melanjutkan kata-kataku. ” Apa kau tahu apa yang sedang kau bicarakan? Pergi berdua? Apa kau berniat bermain api di belakang kakakku? Apa kau lupa dengan janjimu dulu? Jangan gila.”

Aku melihat sehun terdiam di sana. Aku tidak akan mengikuti kemauannya, meski hati ini ingin sekali bersamanya tapi hal itu tidak boleh terjadi. Aku sudah berjanji pada kakakku, aku tidak akan mengingkari janjiku hanya demi keegoisan perasaanku ini. Setelah aku merasa sehun tidak berbicara lagi, aku memutuskan untuk pergi mengantar dokumen-dokumen ini.

Ya sebentar lagi, aku akan pergi, menghindari diri dari mereka. Pergi dari dia dan kakakku, aku tidak mau berada di antara mereka, jika aku masih berada di antara mereka aku tidak yakin bisa mengontrol perasaanku ini.

“Aku tahu eun, kau masih menyukaiku.” Itulah kata terakhir yang kudengar dari mulut sehun sebelum aku pergi meninggalkannya.

__________

“Engg aku cuma sebentar, aku ingin mengambil sesuatu di kamar dan setelah itu aku pergi hehehe..” Kataku canggung setelah masuk ke apartemen dan melihat mereka berada di sofa dengan posisi yang euhmm tidak strategis.

Sedangkan mereka hanya menatapku diam dan tak sanggup berbicara. Aku segera berjalan menuju kamarku dan segera menutup pintu kamar. Aku segera berjalan mendekati meja belajarku kemudian aku mengambil buku catatan dan memasukkannya ke dalam tasku. Setelah aku selesai mengambil buku catatan yang aku butuhkan, aku memutuskan untuk segera keluar dari kamar dan pergi dari di sini agar tidak menganggu mereka namun, langkahku berhenti ketika mendengarkan mereka berbicara.

“Sehun, apakah kau sudah bosan denganku?” Itu suara kakakku, ia terdengar sangat sedih.

“Kenapa kau berkata seperti itu?” Sejenak tidak ada yang berbicara di antara mereka. Aku berusaha mengintip dari celah pintu kamarku, aku melihat kakakku menundukkan kepalanya dan sedang menahan tangisnya. Aku mengigit bibirku, ayo sehun lakukan sesuatu. Perlahan sehun menarik tubuh kakakku ke dalam pelukannya. “Nuna apa yang sedang kau pikirkan?” Kata sehun sambil memeluk kakakku.

“A-aku takut kau mulai bosan denganku dan.. Dan pergi meninggalkanku.” Kakakku mulai mengeluarkan air matanya.

“Jangan berfikir macam-macam, aku tidak pernah bosan dengan nuna karena aku mencintaimu hmm…” Suara sehun terdengar sangat lembut, aku harap ia benar-benar tulus mengatakannya.

“Benarkah?”

“Ehmm. Hanya nuna..” Kata sehun sambil melepaskan pelukannya dan menatap kakakku. “Apakah alasanmu berkata seperti itu karena aku melepaskan ciuman tadi denganmu?” Aku melihat wajah kakakku memerah dan menundukkan kepalanya. Sehun tertawa kecil melihat kakakku seperti itu. “Baiklah kita lanjutkan tapi tidak di sini…” Dan seketika sehun menggendong kakakku dengan bridal style.

“S-sehun..” Kakakku terlihat terkejut namun, sehun tidak memperdulikannya. Ia berjalan menuju kamar kakakku dan tersenyum kepada kakakku. Perlahan kakakku melingkarkan tangannya ke leher sehun dan membalas senyumnya. Kemudian mereka memasuki kamar kakakku.

Blak!! Pintu kamar kakakku tertutup rapat. Aku menghela nafasku dan tanpa pikir panjang lagi aku segera pergi .

____________

“Eun, katakan bagimana?” Kakakku menatapku serius. Ia terlihat sedang menunggu jawab dariku setelah aku mencicipi cheesy cakenya. “Bagaimana eun?” Aku memang sengaja untuk membuatnya menunggu. Kakakku mengigit bibirnya gugup sambil terus menatapku.

“Eummm this is … Delicious.”

“Benarkah?”

“Ne.”

“Kyaaaaaaa we did it..” Kakakku meraih tanganku dan kami melompat seperti orang gila. “Eun, ini percobaan pertama dan kita berhasil, terimakasih bantuannya.”

“Ne..” Kataku singkat dan kami melompat-lompat lagi. “Unni kau harus segera bersip-siap, bukankah sehun akan menjemputmu.” Kakakku menatapku sejenak dan melempar pandangannya ke arah jam dinding.

“Holy shit..” Kakakku terlihat sangat terburu-buru pasalnya dia hanya memiliki waktu kurang dari 30 menit untuk menyiapkan diri. Dan gahh salah satu sikap kakakku yang tidak aku suka adalah sikap leletnya.

“Unni, leave us to me and you just go to shower okay? Then prepare you self before your sehun come hmm..”

“Thank you eun, you are the best!!”Kakakku memelukku erat dan mencium pipiku sebelum pergi.

Aku tersenyum melihat kakakku masuk ke dalam kamarnya. Aku tahu kakakku sangat senang hari ini, ini adalah peringatan  hari jadi mereka, sudah setahun mereka bersama.

Aku membereskan beberapa peralatan untuk membuat kue dan membersihkan meja. Aku melihat jam diding kurang lima menit lagi.

‘DING’

Suara bel berbunyi.

“Eun!! Tolong bukakan pintu, itu pasti sehun!” Teriak kakakku dari balik pintu. Aku hanya memutar bola mataku malas. Sehun- siapkan dirimu eun.

Kemudian aku berjalan mendekati pintu. Perlahan aku membuka pintu itu dan ah benar sehun berdiri di depan pintu sambil membawa satu bucket bunga mawar merah. Ia memakai baju kemuja putih rapi dan celana jeans biru tua. Tampan…

“Hoi!! Kau sedang apa melihatku seperti itu. Aku tahu aku memang tampan.” Aku memutar bola mataku dan menyuruhnya masuk untuk menunggu kakakku. “Eun!”

“Apa lagi.” Kataku ketus sambil memutar badanku ke arahnya.

“Lihatlah ini.” Nafasku terhenti ketika jari sehun menyentuh pipi sebelah kiriku. “Kau habis membuat kue?” Tanyanya “ada sisa adonan di pipimu, bodoh.”

“H-hentikan!!” Kataku tegas sambil menyingkirkan jari sehun yang ada di pipiku. Sehun hanya menatapku datar dan membiarkan aku mengerutkan bibirku kemudian aku mengusap sisa adonan yang ada di pipiku. ” Aku bisa membersihkannya sendiri.”

Kemudian sehun tertawa padaku. Aku tahu aku pasti tampak konyol di depannya. Rasanya aku ingin mengubur diriku hidup-hidup daripada malu di depannya seperti ini. Tidak lama kemudian kakakku keluar dari kamarnya, seprti biasa kakakku selalu tampil cantik. Hari ini dia memakai gaun putih selutut ditambah dengan kalung mutiara yang senada- rambutnya sedikit di kerting pada bagian ujung dan ia sengaja membiarkan rambutnya terurai. Leguk tubuhnya pun terlihat sangat sempurna pantas sehun terpukau dengan penampilan kakakku malam ini.

“Maaf membuatmu menunggu.” Kata kakakku lembut sambil berjalan menuju sehun.

“Aku baru saja datang.” Jawab sehun sambil tersenyum. “Kau cantik sekali dan eumm ini untukkmu.” Tambahnya ketika kakakku berdiri di depannya kemudian sehun mencium pipi kakakku. Sehun menyerahkan bunga mawar itu. Tidak usah ditanya, kakakku sangat senang menerima bunga mawar itu.

“Terimaksih.” Kata kakakku tersenyum.  sekali lagi aku hanya sebagai penonton di sini dan aku tidak bisa berbuat banyak ketika mereka saling memuji satu dengan yang lain. Aku juga menyalakan diriku sendiri karena aku hanya bisa mematung di sana tidak segera pergi. Aku menyesal melihat mereka bermesraan di depanku. Entalah aku merasa sangat tidak nyaman dengan perasaanku ini- apakah aku iri dengan kakakku? Apa karena aku menyukai sehun? Ahhh tidak tidak tidak perasaan konyol itu tidak seharusnya ada di benakku.

“Kalau begitu kita segera berangkat ke sana, aku sudah memesankan tempat untuk kita.” Sekali lagi aku mengutuk diriku yang kali ini aku sangat menyesal dan sulit untukku akui – aku iri-

“Okay, oh eun, kami pergi dulu ya.” Kata kakakku, aku hanya mengangguk lemah dan memamerkan senyum palsuku. Kemudian kakakku mengandeng lengan sehun dan mereka mulai pergi. “T-tunggu, aku melupakan sesuatu. Kuenya, eun kenapa kau tidak mengingatkanku.” Kata kakakku manja, aku hanya menarik nafas berat dan tetap memilih untuk diam. ” Sehun, tunggu sebentar okay.”

Aku hanya membiarkan kakakku berjalan cepat menuju dapur. Ia sedang mengambil roti kejunya tadi. Aku melihat wajah sehun yang dipenuhi tanda tanya besar, ia bingung.

“Kue apa?” Tanyanya polos.

“Kakakku membuatkan kue kesukaanmu untuk hari jadimu.”

“Benarkah?” Jawabnya senang seperti anak kecil. Aku hanya memutar bola mataku malas. Aku tidak suka semua ini. Entahlah.

Kemudian kakakku kembali membawa sebuah kotak kecil yang berisi kue keju tadi. Senyumnya tidak akan pernah hilang dari bibirnya. Dan setalah kakakku berada di depan sehun, sehun tidak segan-segan untuk mencium bibir kakakku cepat. Seketika wajah kakakku memerah, ia terlihat malu dan senang. Sedangkan aku? Aku hanya terdiam, membiarkan adegan itu. Kemudian sehun meraih tangan kakakku dan mengajaknya untuk pergi.

“Bye eun.” Itu suara kakakku, ia terdengar sangat bahagia. Aku? Aku hanya bisa menunjukkan senyum palsuku dan melihat mereka pergi.

Namun, entah apa yang membuat sehun menoleh ke belakang dan melihatku. Ia tersenyum kepadaku dan ia mengatakan sesuatu- meski aku tidak yakin dengan apa yang ia katakan tapi aku cukup jelas membaca gerakan bibirnya- ia berkata padaku.

“Good Bye!”

_______

Hari keberangkatanku ke jepang hanya tinggal menghitung hari saja. Lebih tepatnya hanya tersisa dua minggu dari hari ini. Sangat singkat. Aku ingin segera pergi namun di lain sisi aku masih ingin tinggal di sini. Aku masih ingin terus tinggal dengan kakakku, teman-temanku dan aku masih ingin — euhmm aku masih ingin melihatnya– aku masih ingin terus melihatnya meski ia sudah bersama dengan orang lain, lebih tepatnya dengan kakakku- ya dia Oh Sehun. Mungkin ini konyol, tapi aku menyukainya dan aku tahu aku  tidak akan mungkin bisa memilikinya. Selain itu aku tidak mau menghianati kakakku tapii…

“YAH!!” Aku tersadar dari lamunan ketika aku mendengar seorang pria berteriak kepadaku. Ia berdiri tegap menutupi tubuhku dari serangan bola nampaknya.  Kemudian aku mendongakkan kepalaku dan nafasku terhenti sejenak- dia- sehun- sedang apa dia di depanku seperti- dia – dia melindungiku?. ” Kau ceroboh sekali, kau berutang nyawa padaku.” Katanya setengah marah dan ia memegangi kepalanya.

“K-kau s..”

“Woii sorry bro.” Teriak seorang pria dari lapangan basket memotong kalimatku.

“Oh It’s okay.” Sahut sehun sambil melemparkan bola basket ke lapangan.

Aku? Aku masih ternganga melihat sehun menahan sakit. Kurasa aku harus meminta maaf karena kecorobohanku.

“Lain kali aku tidak akan melalukan tindakan bodoh untukmu.” Cibir sehun sebal kepadaku.

“Maaf. Kau tidak apa-apa kan?” Tanyaku.

“Aissh lupakan, lain kali hati-hati dan jangan melamun sambil berjalan. Dasar gadis bodoh.” Aisshh jika dia tidak habis menolongku aku yakin aku akan menyumpal mulut menyebalkannya itu atau aku akan melemparkan ejekan kepadanya juga. Berani sekali dia mengataiku bodoh. Tapi entahlah aku tidak memiliki niatan untuk berdebat dengannya.

“T-terimakasih.” Sehun menghela nafas dan kemudian ia pergi meninggalkanku sambil memegangi kepalanya. Entahlah ini konyol sekali aku seakan tidak rela ia pergi meninggalkanku. “S-sehun!!”

Nafasku kembali berhenti ketika ia menghentikan langkahnya dan melihat ke arahku.

“Ada apa?” Tanyanya datar.

“A-aku akan membayar hutang budiku.” Oh God aku yakin aku tampak konyol di depannya. Dan aku yakin aku akan menyesal setelah mengatakan ini. “Apakah ajakanmu waktu itu masih b-berlaku?” Jika aku bisa memutar waktu aku tidak akan pernah mengatakan itu, karena aku tahu apa yang akan terjadi. Maaf. Maafkan aku. Maaf atas keegoisanku kakak.

Previous/ Next

Advertisements

2 thoughts on “HE AND MY SISTER – CHAPTER 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s