fluff · Friendship · G · Genre · Length · Rating · Romance · Two Shoot

Tokyo Sunset Chapter 2


IMG_20150623_183430

Title: Tokyo Sunset

Author: ts_sora

Length: two-shoot

Cast: BTS’s Jeon Jung Kook, OC’s Lee Na Hyun

Genre: fluff, friendship, romance

Chapter 1

Kim Tae Hyung melangkahkan kakinya malas. Ia malah terkesan menyeret langkahnya dengan tidak bersemangat. Bagaimana tidak, bukankah dia yang menyebabkan pertengkaran antara Jung Kook juga Na Hyun nunna kemarin? Oh ayolah, pikiran itu ia dapat setelah keempat temannya seakan menyalahkannya saat ia menceritakan kejadian tersebut pada mereka kemarin.

“Kajja, kita akan bertemu dengan Jung Kook dan meminta maaf,” ucap Seok Jin mencoba menenangkan laki-laki-laki itu dengan mengusap pelan bahunya. Kim Tae Hyung lantas tersenyum singkat, merasa sedikit lega kiranya.

“Jepang…Jepang…Jepang. Aku rasa aku mengingat sesuatu yang berhubungan dengan Jepang. Tapi semakin aku mencoba mengingatnya, semakin aku tidak ingat.” Ji Min mengetuk-ngetuk kepalanya pelan. Ia terlihat tengah berpikir begitu keras, meski wajahnya terlihat lebih tolol dari sebelumnya kini.

“Ya, bisakah kau diam? Kau menyebut negara itu sejak kemarin. Ish!” ucap Min Yoon Gi yang entah begitu senewen. Ji Min terkikik geli menatap temannya tersebut. Namun ia begitu yakin ia ingat sesuatu yang berhubungan dengan Jepang.

“Ji Min ah, kurasa Jepang mengingatkanmu tentang blue film yang kau tonton minggu kemarin.”

“Y-ya, aniya!” Ucap Ji Min mencoba membela diri, namun keempat temannya lantas tertawa lepas melihat ekspresi Ji Min yang telah tertangkap basah akan ulah mesumnya minggu lalu.

“T-tunggu.”

Jung Ho Seok yang berjalan paling depan tiba-tiba saja meminta keempat temannya berhenti kali ini. Dengan diam ia mengarahkan jari telunjuknya pada sosok yang mirip Jung Kook yang tengah berlari menuju toilet umum taman.

“Bukankah itu Jung Kook?” tanya Tae Hyung menerka-nerka.

“Benarkah?” Kim Nam Joon masih tak percaya. Kim Tae Hyung lantas secara tegas mengganggukkan kepalanya pasti.

“Aku ingat dengan sepatu yang ia kenakan. Sepatu itu yang ia beli sebulan yang lalu denganku. Aku yang memilihkannya untuknya,” terangnya. Kemudian keempat temannya lantas saling berpandang cukup lama sebelum akhirnya mereka berjalan menuju tempat persembunyian masing-masing demi mengamati sosok yang begitu mirip dengan Jung Kook tadi.

Lima belas menit berlalu, mereka lantas dikejutkan dengan sosok laki-laki yang mengenakan kostum badut dengan kepala kostum yang masih berada di salah satu tangan laki-laki tersebut. Mereka terpaku saat mereka sadar bahwa laki-laki yang tengah mengenakan kostum tetsebut merupakan salah satu teman mereka, yang tak lain merupakan Jeon Jung Kook.

Mereka saling menatap tak percaya dari kejauhan, sebelum akhirnya Nam Joon menginstruksikan mereka untuk bubar dengan masih sembunyi-sembunyi.

“Kau lihat tadi?” ucap Tae Hyung tak percaya dengan apa yang ia lihat tadi bersama keempat temannya. Keempat temannya yang tengah menduduki sofa garasi milik Nam Joon nampak terdiam beberapa saat, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Oh, ya Tuhan, aku ingat sesuatu!” ucap Ji Min seketika dan lantas membuat keempat temannya terkejut setengah mati.

“Ya, kau jangan mengigau? Apa kau akan menceritakan tentang blue film yang kau tonton minggu lalu. Ji Min, ini bukan waktu yang tepat,” ucap Yoon Gi kesal.

“Tidak. Bukan itu. Dengar, Jung Kook pernah bercerita padaku tentang Na Hyun nunna.”

Keempat temannya tersebut kini menatapnya bingung, setengah mengernyit dan menunggu lanjutan cerita dari temannya yang entah nampak begitu serius kali ini. Padahal yang ia tahu, laki-laki itu lebih sering menunjukkan wajah bodohnya.

“Tentang apa?” tanya Seok Jin yang tak sabaran.

“Jung Kook mengatakan bahwa Na Hyun nunna merupakan keturunan Jepang. Dan sebelumnya gadis itu pernah tinggal di sana.”

“Ya, lalu apa hubungannya dengan Jung Kook yang menjadi badut? Ish, kau jangan mengigau,” potong Yoon Gi yang masih saja senewen.

“Tidak hyung, bukankah kemarin selembaran tentang travel menuju Jepang merupakan milik Jung Kook?” ucap Ho Seok yang kali ini sependapat dengan Ji Min. Ji Min yang merasa dibela lantas menganggukkan kepalanya berulang.

“Teruskan Ji Min ah,” ucap Nam Joon yang kali ini tak sabaran.

“Dan Jung Kook bilang, karena suatu hal, Na Hyun nunna pindah ke Seoul dan tak pernah pergi ke Jepang setelahnya,”

Jung Ho Seok seketika menyentikkan jarinya cukup keras hingga keempat temannya menatapnya dengan penuh tanya. Wajahnya terlihat sumringah kali ini.

“Apa kalian tak berpikir bahwa Jung Kook tengah membantu untuk membawa gadis itu kembali ke Jepang? Tapi aku tak tahu kenapa gadis itu juga Jung Kook sempat bertengkar kemarin,” terangnya yang akhirnya disepakati keempat temannya.

“Jika Jung Kook bekerja demi itu, bukankah ia akan membutuhkan waktu yang lama? Kau tahu ke Jepang bukanlah hal yang mudah,”

“Kau benar, Seok Jin hyung,” ucap Nam Joon pada akhirnya. Mereka berlima akhirnya kembali terdiam kini.

“Kita harus membantunya.”

“Tapi dengan apa?” potong Tae Hyung yang kali ini frustasi dengan ide Ji Min. Wajah mereka kini berubah begitu serius. Pikirannya melayang seakan mencari-cari ide yang baik demi menolong salah satu temannya tersebut.

“Aku punya ide!” ucap Seok Jin yang cukup keras. Laki-laki tertua itu lantas mengembangkan senyumnya kali ini meski wajahnya terlihat serius. Keempat temannya menunggu lanjutan ide Jin barusan.

“Kuharap ini ide yang bagus, hyung.”

“Kuharap demikian, Yoon Gi ah. Jadi…”

“Khamsahamnida, tuan. Kembalilah di lain waktu.”

“Tidak, anak muda. Kau melakukan tugas yang baik hari ini. Baiklah, aku pergi dulu,”

“Ne. Sekali lagi terima kasih.”

Kim Seok Jin membungkukkan tubuhnya sesaat pria tua itu memasuki mobilnya dan lantas berjalan pergi.

“Akhirnya…” Kim Seok Jin membuang nafasnya begitu lega. Setidaknya satu dari pelanggannya sudah ia puaskan kali ini. Oh bukan, ia sejatinya tidak bekerja pada salah pom bensin di kotanya. Ini adalah salah satu bentuk ide yang ia usulkan demi membantu Jung Kook.

Ya, mereka berenam sepakat untuk melakukan part time job yang mana pendapatan mereka akan dikumpulkan untuk membantu Jung Kook. Sedikit gila, namun apa salahnya. Setidaknya mereka melakukan tugas ini tidak sendiri, namun bertujuh. Mereka tak mungkin tega melihat sang maknae menderita untuk mencari uang.

“Ya, Nam Joon ah! Ya!” Kim Seok Jin menggelengkan kepalanya menatap Nam Joon yang tengah terpulas di sudut pom bensin.

“Ish!” Kim Seok Jin melemparkan kain kotor ke arah Nam Joon, nampun sayang gagal. Jarak mereka kini cukup jauh.

‘Tin! Tin! Tin!’ Oh gawat sekiranya sebuah mobil sedan tengah menunggu service Nam Joon kali ini. Namun, laki-laki itu masih terpulas di dalam tidurnya.

“Ya! Anak muda! Bangunlah!”

“Oh, m-maaf tuan.” Nam Joon yang terjingkat lantas cekatan dengan alat pengisi bensin. Ia berulang kali membungkukkan tubuhnya, saat pria tua itu masih saja memakinya.

“T-terima kasih. Aigoo…” Kim Nam Joon lantas cekatan menengadahkan kedua tangannya pada sampah-sampah yang dibuang bebas pria tua itu dan lantas memacu mobil sedannya begitu saja.

“Ish, y-ya!” Kim Nam Joon mendengus keras seakan tak terima dengan pelanggan yang tidak membayarnya dan lantas meninghalkan setumpuk sampah kali ini.

“Sabarlah Nam Joon ah,” ucap Seok Jin yang entah sejak kapan berada di dekatnya dan membantunya memunguti sampah yang berserakan.

“Aigoo, kukira aku harus lebih bersabar kali ini. Demi Jung Kook. Ya, demi Jung Kook!” Kim Nam Joon menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia mengembangkan senyumnya dan memunguti satu-persatu sampah yang berserakan.

“Maaf hyung, aku merepotkanmu.”

“Tidak, kita melakukan ini demi Jung Kook bukan?” Kim Nam Joon mengangguk pelan. Setidaknya amarahnya berkurang saat ini.

“Kau tahu hyung, aku ingin tahu bagaimana kabar Yoon Gi hyung kali ini.” Kim Nam Joon lantas terkekeh pelan kali ini. “Aku tak bisa membayangkannya,” ucapnya yang lantas membuat mereka berdua tertawa bersama.

Sedangkan di tempat lain…

“Khamsahamnida eommonim. Ada yang bisa kubantu?”

“Aigoo, anak ini begitu sopan. Tidak, kukira cukup.”

“Sekali lagi terima kasih dan datang kembali,” ucap Kim Tae Hyung penuh semangat sembari melambaikan tangannya pada seorang ibu-ibu yng berjalan keluar dari minimarket dimana ia bekerja saat ini. Ia membuang nafasnya, lelah kiranya. Sudah sejak dua jam yang lalu, ia sama sekali tak duduk dan terus melayani pelanggan yang datang hampir bersamaan tadi.

Kim Tae Hyung beranjak dari tempat duduknya saat suara lonceng kecil sebagai pertanda seseorang masuk ke dalam minimarket mulai berbunyi kembali.

“Oh, anyeong haseyo–Oh, Yoon Gi hyung!” Wajah Tae Hyung seketika sumringah menatap laki-laki berbalutkan seragam pengantar pizza berjalan ke arahnya dengan tak bersemangat.

“Waeyo?”

Min Yoon Gi membuang topi yang ia gunakan. Wajahnya terlihat begitu kesal kali ini. Oh mungkin lebih tepatnya laki-laki itu selalu terlihat kesal.

“Ya, kau tahu aku ini pengantar pizza tapi seorang pelanggan menyuruhku membuang sampahnya tadi,” ucap Min Yoon Gi yang terdengar kesal, namun Tae Hyung lantas tertawa mendengar laki-laki itu.

“Ya, jangan tertawa eo! Kau mau kupukul?” Min Yoon Gi masih saja senewen. Kim Tae Hyung lantas mencoba menghentikan tawanya kali ini.

“Mianhae hyung, bersabarlah. Kita melakukan ini demi satu tujuan. Bahkan Jung Kook tak pernah mengeluh bekerja di luar sana dengan pakaian badutnya.”

Min Yoon Gi terlihat menarik nafasnya dalam-dalam. Ia kembali teringatkan dengan sosok Jung Kook yang bekerja dengan kostum badut di luar sana. Ia tak bisa membayangkan seberapa penat juga sesaknya di sana. Dan yang ia tahu, Jung Kook bahkan tak pernah sekalipun mengeluh.

“Geurrae, aku harus lebih bersabar kali ini.”

“Benar. Hyung, ini untukmu,” ucap Tae Hyung kali ini membukakan sekaleng soda sebelum ia memberikannya pada Yoon Gi. Yoon Gi lantas mengembangkan senyumnya sebelum akhirnya ia meneguk sodanya kali ini.

“Kau tahu, hyung. Aku merindukan Ji Min entah kenapa. Aku ingin tahu apa yang ia lakukan sekarang.”

Di sisi lain…

“Ji Min ah, jangan lupa piring kotor ini!”

“Nee.”

“Ji Min ah, pastikan tidak ada noda yang tersisa!”

“Nee.”

“Ji Min ah, gosok punggung panci dengan baik!”

“Neee.”

“Bekerjalah dengan cepat!”

“Neee.”

Park Ji Min mengusap buih sabun yang mengenai sudut pipinya. Dengan setengah terengah ia menggosok tiap noda pada piring-piring porselen yang ada dalam wastafel. Mencoba menggosoknya dengan begitu keras, hingga ia yakin bahwa noda-noda dapat hilang dengan sempurna.

‘Praaang!’

“Ji Min ah, kau memecahkan piring lagi? Aigoo, kau tahu kalau…”

Ji Min menutup matanya, mencoba menahan nafasnya. Ia mengucapkan beribu maaf dan sejuta bungkukan atas kesalahannya kali ini. Pria berbalut pakaian chef tetsebut tak henti-hentinya memakinya. Dan sekali lagi, Ji Min harus membungkuk dan mengucap beribu maaf agar pria itu terpuaskan.

“Sudahlah, kau membuatku lelah.”

“Maafkan aku sekali lagi tuan,” ucap Ji Min masih tertunduk. Ji Min lantas menghela nafasnya cukup panjang saat ia rasa pria tadi baru saja meninggalkannya sendiri kali ini.

Di luar ruangan, tepatnya di service area, ia mendengar chef itu kembali bernyanyi cukup keras. Kali ini ia tahu siapa yang menyebabkan pria menyebalkan itu kembali memaki. Sosok lesu Jung Ho Seok yang memasuki pintu dapurlah yang dapat menjawab semua pertanyaannya kali ini.

“Kesalahan apa lagi yang kau buat?” tanya Ji Min tanpa basa-basi. Jung Ho Seok yang terlihat menghela nafasnya, seketika terkekeh geli.

“Aku menumpahkan kuah bistik ke pakaian pelanggan,” ucap laki-laki itu penuh bangga yang lantas disusul oleh tawa keduanya. Bagi mereka, kesalahan demi kesalahan terlalu sering mereka dapat, hingga menurutnya itu hal yang sudah biasa.

“Lalu kau Ji Min ah? Aigoo kau akan membuat restoran ini bangkrut karena kau memecahkan kembali piring porselen mereka.”

“Begitulah,” ucapnya begitu ringan hingga mereka kembali tertawa dan tertawa lagi.

“Kalian berdua, berhentilah mengobrol!”

Ji Min dan Ho Seok seketika terdiam saat pria menyebalkan itu kembali bernyanyi. Mereka lantas saling berpandang sebelum akhirnya tersenyum jahil.

“Aku akan membantumu Ji Min ah,” ucap Ho Seok pelan-pelan.

“Ne, hyung. Memang sebaiknya seperti itu.” Dan akhirnya mereka mulai memunguti kepingan piring porselen yang berserakan dengan saling menahan tawa masing-masing.

Lee Na Hyun menghela nafasnya cukup panjang. Ia tersenyum tipis menatap matahari yang akan tenggelam perlahan menuju ke peraduannya kali ini. Lee Na Hyun dengan tenang meniup-niup kopinya sebelum akhirnya ia menyisipnya sedikit.

Sedikit kurang rasanya, mengingat ia selalu sendirian untuk memandang matahari tenggelam akhir-akhir ini. Laki-laki itu entah kemana kali ini kemana. Namun ayolah, seharusnya ia tahu tak ada yang mau berteman dengannya karena kebiasaannya yang terbilang abnormal ini.

Ia menyukai saat-saat matahari tenggelam. Baginya, tak ada yang mengalahkan keindahan yang sengaja diciptakan Tuhan, agar semua orang menikmatinya, namun tidak semua orang dapat mengindahkannya. Bisakah semua orang meninggalkan sejenak kesibukannya demi menikmati indahnya dunia seperti dirinya kali ini?

Mungkin gila. Ya, ia memang gila. Namun, dengan matahari tenggelam, setidaknya ia tidak lagi merasa kesepian. Dengan matahari tenggelam, ia merasakan kebersamaan ayah dan ibunya, saat matahari tenggelam ia dapat merasa begitu tenang. Matahari tenggelam bahkan seperti keluarganya kali ini. Keluarga tak seayah bukan seibu, namun terasa begitu dan sangat dekat. Ia tak bisa hidup tanpa memandangnya sehari saja.

Matahari tenggelam yang juga mempertemukannya dengan laki-laki itu. Ya, Jeon Jung Kook. Semenjak pertemuan mereka yang tak disengaja itupun yang membuat mereka berteman dan menghabiskan waktunya bersama tiap sorenya. Laki-laki periang, kekanakan dan entahlah ia senang saat bersama laki-laki yang lebih muda darinya tersebut. Laki-laki yang bahkan tak henti-hentinya menyatakan rasa sukanya padanya.

Menyukai gadis yang jauh lebih tua? Terasa tak nyata dimana seorang laki-laki begitu muda dapat menyukai gadis yang memiliki selisih umur cukup jauh. Lee Na Hyun, lebih sadar diri kali ini.

Gila jika ia tak menyukai laki-laki muda tampan itu, namun ayolah sekali lagi ia terlalu muda. Bagaimana respon teman-teman dari Jung Kook saat mereka tahu ia mengencani seorang nunna?

Tunggu. Apakah Na Hyun kali ini bergumam sendiri tentang Jung Kook?

Lee Na Hyun menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba mengumpulkan kefokusannya. Apa ia mulai merindukan Jung Kook kali ini?

Ia lantas menarik nafasnya cukup panjang sebelum ia akhirnya beranjak dari bangkunya kali ini. Matahari benar-benar menghilang dan mungkin saja telah bertukar tugas dengan sang bulan. Lee Na Hyun lalu membenahi pakaiannya sebelum ia akhirnya meraih gelas kopinya dan hendak pergi namun beberapa langkah baru saja ia ambil, ia lantas menghentikan langkahnya seketika.

Dengan setengah tertunduk, ia mencuri pandang laki-laki yang tengah berdiri yang tepat di hadapannya, menatapnya seakan menunggu Na Hyun untuk berkata-kata. Lee Na Hyun menggigit ujung bibirnya. Bukan. Bukan ia tak mau berkata-kata, namun ia tak tahu harus memulai dari mana.

Laki-laki itu bosan padanya dan ia tak bisa memaksa laki-laki itu untuk selalu menemaninya. Ia sadar akan hal itu, meski ia masih ingin ditemani olehnya.

“Nunna.”

Lee Na Hyun menarik nafasnya dalam-dalam dan lantas berusaha pergi, namun sayang laki-laki itu menggenggam erat tangannya. Helaan nafasmya terasa begitu berat kali ini.

“Kumohon dengarkan aku.”

Kim Tae Hyung berjalan mondar-mandir dengan tak sabar. Ia menatap pintu garasi berulang kali, terkadang ia keluar untuk melihat jalanan, namun tetap saja apa yang ia tunggu tak kunjung datang.

“Yoon Gi hyung, apa kau sudah menyuruhnya kesini?”

“Aku sudah menelponnya bukan? Kau bahkan tadi melihatku menelponnya. Tunggulah,” ucap Yoon Gi malas-malas. Ia yang sedari tasi terbaring di satu-satunya sofa milik garasi tersebut terlihat begitu kelelahan. Sesekali ia memijit-mijit pundaknya, punggungnya, kakinya dan entahlah ia benar-benar kelelahan kali ini.

Namun tak hanya dirinya, keempat temannya yang lain juga sama. Ho Seok juga Ji Min terlihat di ujung ruangan tengah saling memijit. Sedangkan Nam Joon entah sejak kapan menambah sebuah ranjang di sana. Meski tak begitu empuk dan terlihat cukup tua, namun mampu membuat Seok Jin dan Nam Joon hampir terlelap secara sempurna.

“Tapi kenapa ia tak juga datang?” ucap Tae Hyung yang kali ini khawatir.

“Tunggulah sebentar lagi, Tae Hyung ah.”

Jeon Jung Kook menatap gadis yang masih mendiamkan dirinya sejak beberapa menit yang lalu. Bahkan memandangnya dirinya saja, gadis itu terlihat begitu enggan. Sebegitu marahkah gadis itu terhadapnya?

Kini mereka berdua menduduki sebuah bangku taman yang dulunya sering mereka duduki demi memandang matahari tenggelam. Namun berbeda kali ini, mereka sama sekali tak berbicara atau tengah memandangi matahari tenggelam. Cahaya bulan juga beberapa remang cahaya lampu taman seakan mendukung hening mereka kali ini. Bahkan Jung Kook yakin mereka dapat berada di sini seharian tanpa berbicara sepatah kata pun.

“Bagaimana kabarmu, nunna?” tanya Jung Kook terdengar takut-takut. Ia memberanikan diri menatap gadis itu yang masih mendiamkan diri. Sedetik kemudian Jung Kook lantas membuang nafasnya kalah.

“Aku minta maaf jika aku membuatmu marah.”

“Kubilang kau tak salah, Jung Kook,” potong gadis itu terdengar tertahankan.

“Aku bersalah karena aku telah membohongimu,”

Gadis itu terlihat menahan nafasnya. Sekuat tenaga ia mencoba mengalihkan pandangannya. Kini entah kenapa terasa negitu memuakkan mendengar kenyataan baru kali ini. Benar dugaannya, Jung Kook berbohong padanya.

“Tapi aku punya alasan tersendiri kenapa aku berbohong padamu, itu karena—“

“Kau bosan padaku,” ucap gadis itu penuh penekanam dan menatap Jung Kook tamat-tamat. Jung Kook tak tahu bahwa gadis itu kini sebegitu marah terhadapnya, bahkan tatapan matanya kinu benar-benar berubah, tak sama dengan tatapan matanya yang biasanya.

“Kau tinggal bilang kalau kau bosan bersamaku. Bosan seakan menikmati hal-hal bodoh yang selalu kulakukan. Kau tak perlu berbohong selama ini. Kau hanya tinggal bilang kalau aku aneh, dan kau tak perlu berbohong.”

“Nunna,”

“Kau tak tahu entah aku merasa bodoh menaruh harapan bahwa akhirnya aku memiliki teman kali ini. Dan—” gadis itu lantas menghentikan diri. Emosinya yang meluap-luap kini benar-benar terhenti saat Jung Kook mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Wajahnya terlihat getir, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum ketika kedua matanya secara langsung berpandang dengan kedua mata Na Hyun yang seakan membuat mendung di sana.

“Kau bisa memandangi matahari tenggelam di Tokyo sekarang,” ucap Jung Kook memperjelas. Suaranya hampir saja bergetar. Bergetar karena ia juga tengah menahan emosinya kali ini.

Lee Na Hyun terdiam. Memandangi dua helai tiket dengan atas nama dirinya di sana. Tiket keberangkatan menuju Tokyo dan satu lagi tiket yang mana akan membawanya pulang menuju Seoul.

“I-ini…” Gadis itu lantas memandang Jung Kook kebingungan, namun sekali lagi Jung Kook hanya tersenyum.

“Jung Kook yang membelikannya untukmu, nunna.” Lee Na Hyun dan Jung Kook memutar tubuhnya menuju asal suara. Mereka lantas terkejut menatap sosok enam orang laki-laki lain yang berjalan menuju mereka berdua.

“H-hyung? Apa yang—“

Mereka berenam lantas mengembangkan senyumnya bersamaan saat Na Hyun juga Jung Kook beranjak dari bangku dan memandanginya dengan setengah menganga.

“Kami terlalu lama menunggumu. Jadi kami bermaksud menjemputmu,” ucap Yoon Gi kali ini. Kelimamya lantas mengangguk secara bersamaan. Dengan malu-malu, Kim Tae Hyung berjalan mendekati Jung Kook dan merangkul pundak Jung Kook kali ini.

“Maafkan aku, mungkin akulah yang menyebabkan semua kesalah- pahaman. Namun yakinlah aku hanya berusaha untuk membantu.”

Lee Na Hyun masih terdiam di tempatnya, memandang tak percaya keenam laki-laki itu. Sama seperti Jung Kook yang sama sekali tak memberikan respon yang berarti, hingga membuat keenam temannya terkikik geli.

“Kami tahu kerja keras Jung Kook demi dua helai tiket yang beratas-namakan dirimu itu,” ucap laki-laki tertua kali ini.

“K-kerja keras?” ucap Na Hyun yang masih belum saja paham.

“Iya. Bukankah akhir-akhir ini Jung Kook jarang sekali menemanimu? Bukankah Jung Kook jarang sekali menghubungimu? Kau tahu, ia bahkan juga jarang sekali bertemu dengan kami. Jikapun kami paksa, ia akan terlelap dengan tidurnya sendiri karena kelelahan,” terang Jung Ho Seok terdengar begitu bangga.

“Nunna, ia bekerja begitu keras demi dua helai tiket itu. Ia bahkan rela menjadi badut demi dua helai tiket itu,” tambah Ji Min seraya menatap sang maknae. Namun sang maknae masih terlihat kebingungan. Bagaimana mereka tahu bahwa selama ini ia bekerja sebagai badut?

“Jung Kook ah, kau—“

Jung Kook menatap Lee Na Hyun yang memandangnya penuh dengan tanda tanya. Sekali lagi, Jung Kook kali ini hanya terkekeh pelan sembari mengusap tengkuknya.

“Dan kami tak bisa membiarkan sang maknae bekerja keras sendirian. Maka, kami memutuskan untuk membantunya,” terang Kim Nam Joon selaku sang ketua. Jeon Jung Kook menatap keenam temannya bergantian dengan pandangan tak percaya. Mereka lantas tersenyum jahil kali ini.

“Tae Hyung ah,”

“Ah, ne, hyung. Jung Kook ah, ini hadiah dari kami.” Kim Tae Hyung lantas memberikan sesuatu dari saku celananya kali ini. Sebuah amplop bewarna cokelat muda kini berada di tangan Jung Kook. Dengan begitu penasaran, ia lantas membukanya dengan cepat. Dan saat itu juga, kedua matanya terlihat melebar sempurna saat salah satu tangannya kini membawa dua helai tiket lain beratas-namakan dirinya, Jeon Jung Kook.

“H-hyung i-ini—“

“Ya, Jung Kook ah, kau kini dapat berlibur ke Tokyo bersama Na Hyun nunna,” terang Tae Hyung kali ini yang nampak begitu sumringah. Jung Kook yang masih terlihat tak percaya, mencoba mengumpulkan fokusnya. Sadar bahwa di tangannya kini adalah tiket keberangkatan menuju Tokyo serta kepulangan dari Tokyo, Jung Kook lantas mengembangkan senyumnya secara sempurna sebelum ia lalu memeluk laki-laki yang lebih tua darinya tersebut erat-erat yang sontak membuat semua terkejut karenanya.

“Khamsahamnida, hyung. Khamsahamnida. Untuk semuanya,” ucap Jung Kook yang kali ini terdengar bergetar menahan haru. Bagaimana tidak, ia tak pernah menyangka bahwa teman-temannya berani berkorban demi dirinya. Setidaknya ada sedikit rasa bersalah karena ia telah membohongi keenam temannya tersebut, takut mereka akan marah akan keputusan konyolnya. Namun kini ia sadar, apapun keputusan konuol yang ia buat, mereka akan berada di garis terdepan demi mendukungnya.

—-

“Nunna, sudah waktunya!”

“Oh benarkah, tunggu aku,” Jung Kook terkekeh pelan menatap Na Hyun yang berlari dengan langkah-langkah kecilnya menuju dirinya. Kedua tangannya terlihat penuh dengan beberapa minuman juga snack asli Jepang.

Tepat di belakang gadis itu, seorang wanita setengah baya tengah mengikutinya. Menyadari akan hal itu, Na Hyun lantas menghentikan langkahnya dan membantu wanita tersebut untuk berjalan bersamanya. Wanita yang tak lain merupakan ibu Na Hyun. Mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan wanita itu, namun kini setidaknya Na Hyun telah menemukan happy ending hidupnya.

“Nunna, kemarilah.” Jung Kook beranjak dari tempatnya demi membantu gadis itu juga ibunya, dan membawanya menuju bangku taman. Mereka seketika tersenyum saat benar matahari tenggelam terlihat begitu indah, tak kalah dengan milik Seoul.

Jung Kook menatap Na Hyun yangbkali iniengembangkan senyumnya jauh lebih indah dari biasanya. Matanya tak senanar dulu. Ia nampak begitu bahagia, bahkan sangat bahagia. Jung Kook dapat melihatnya secara jelas.

Jung Kook menatap tangan Na Hyun yang berada di atas bangku, diam-diam Jung Kook meraihnya dan sejenak menggenggamnya. Mengetahui hal itu, Na Hyin tak berkomemtar, ia malah tersenyum saat Jung Kook menggenggam tangannya san ia tak segan mengeratkan genggamannya.

“Jung Kook ah, jeongmal gomawoyo,” ucapnya penuh bangga. Jung Kook lantas tersenyum tipis menanggapinya. Kemudian ia lantas memandang Na Hyun tak percaya saat gadis itu mencium salah satu sisi pipinya. Terkesan cepat, namun mampu membuat pipi keduanya merona.

“Saranghaeyo, J-jung Kook ah,” ucap gadis itu malu-malu namun membuat Jung Kook tersenyum bahagia. Pada akhirnya, gadis itu menjadi miliknya.

“Nado, nunna.”

EPILOG

“Ji Min ah, tolong pijitkan aku.”

“Nee, Yoon Gi hyung.”

“Tae Hyung ah, kau bisa kemari sebentar? Tolong pijat kakiku.”

“Nee, Nam Joon hyung.”

Perhatian mereka tiba-tiba saja tertuju pada Jung Ho Seok yang berlari memasuki garasi dengan begitu sumringah. Telepon genggam yang masih saja berada di telinganya saat ini seakan menjadi satu-satunya alasan mengapa ia terlihat begitu senang kali ini.

“Ya, Jung Kook ah, apa kau benar-benar senang kali ini? Aku yakin kau tengah berduaan dengan nunna mu itu eo?” ucapnya begitu nyaring dan lantas disusul dengan suara tawanya kali ini. Kelima temannya hanya bisa melihat tingkah konyol Ho Seok kali ini. Bagaimana tidak, bahkan laki-laki itu tidak membiarkannya mendengar percakapan mereka secara langsung.

“Jangan lupa untuk membawa oleh-oleh untuk kami. Sayounara,” ucap Ho Seok kali ini mengakhiri panggilan dari Jung Kook. Wajahnya masih saja berseri-seri kali ini dan seakan memamerkan bahagianya pada kelima temannya.

“Kalian tahu, Jung Kook terdengar begitu bahagia!” terangnya namun tak disambut hangat oleh kelima temannya. Bagaimana tidak, Jung Kook hanya terus menelpon Ho Seok bahkan untuk kelima temannya yang lain tidak. Dan kini, seakan pembicaraan mereka merupakan rahasia keduanya.

Tidakkah Jung Kook tahu bahwa mereka juga bekerja keras demi tiket itu? Dan kini, mereka benar-benar kelelahan. Namun lihatlah, mereka yakin Ho Seok terlihat lebih bahagia daripada Jung Kook sendiri, itu terlihat dari bagaimana Ho Seok tak henti-hentinya tertawa sendiri.

“Ya, Ho Seok ah,”

“Ne, Seok Jin hyung?”

“Apa kau begitu bahagia saat ini?”

“Tentu! Karena baru saja—” Ho Seok menghentikan kalimatnya saat ia memandangan tak mengenakkan dari kelima temannya saat ini. Jauh berbeda dengannya, wajah lesu dan kelelahan mendominasi wajah mereka kali ini.

“M-mianhae…”

“Ho Seok ah, tolong pijat punggungku jika kau sudah selesai.”

“N-ne, hyung..” ucapnya setengah tertunduk dan lantas beranjak dari tempatnya demi memijit hyung tertuanya.

“Bisakah kau lebih keras?”

“A-ah, ne hyung.”

-The End-

Advertisements

2 thoughts on “Tokyo Sunset Chapter 2

  1. Happy Ending…Yeyyyyyy… Cinta dedek Kookie akhirnya terbalaskan…cieeee…cieeeeee…
    Dan salut bgt sama persahabatan 7 kurcaci kece itu.kkkk~

    Keren bgt lah pokoknya thor 😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s