fluff · Friendship · G · Length · Rating · Romance · Two Shoot

Tokyo Sunset


1434449896261

 

Title: Tokyo Sunset

Author: ts_sora

Length: two-shoot

Cast: BTS’s Jeon Jung Kook, OC’s Lee Na Hyun

Genre: fluff, friendship, romance

Length :  Two Shoot

Rating:  G 

A/N: Sebelumnya, fanfiction ini pernah dipublikasikan pada akun wattpad pribadi milik author dan mendapatkan persetujuan untuk sipublikasikan pada wp MNJfanfiction. Fanfiction ini terinspirasi dari mv BTS – For You, namun plot sepenuhnya milik author. Judul sengaja diubah sesuai dengan isi cerinta. Enjoy it!

 

 

“Apa di Tokyo juga memiliki matahari tenggelam seindah ini?”

 


 

Dengan tergesa-gesa, Jeon Jung Kook mengemas beberapa helai roti juga sebotol selai kacang yang paling cintai ke dalam keranjang rotan yang telah ia siapkan sebelumnya. Masih dengan gumaman yang terdengar tak jelas, namun anehnya begitu merdu, Jeon Jung Kook memandangi hasil karyanya. Ia terlihat bahagia menatap keranjang rotan tersebut telah terisi penuh makanan saat ini.

 

Jeon Jung Kook terlihat kebingungan saat denting jam kali ini membangunkannya dari dunianya. Oh ayolah, ia terlambat satu jam yang lalu dan bodohnya ia tak menyadari akan hal itu. Ia yakin gadis itu telah menunggunya. Ya, menunggunya dari tadi.

 

Jeon Jung Kook beranjak dari ruang makannya sembari membawa keranjang rotan tersebut dengan terburu, namun..

 

‘Bruak!’

 

Sekiranya kedua kakinya belum setuju dengan dirinya hingga ia terjatuh dari beberapa pijakan anak tangga menuju ruang tamu. Ia mengernyit kesakitan karenanya. Ia hanya tertawa pelan mengingat keranjang rotannya tak luput dari pelukannya.

 

“Astaga Jung Kook ah apa yang kau lakukan?”

 

Jung Kook semakin terkekeh mengingat kebodohannya kali ini sebelum akhirnya ia beranjak dari tempatnya.

 

“Aku baik-baik saja eomma. Baiklah, aku harus pergi sekarang,” ucap Jung Kook yang lantas kembali berlari menuju pintu luar tanpa persetujuan ibunya kali ini.

 

“Y-ya, kau ini mau pergi kemana? Kau selalu pergi sore hari seperti ini, Jung Kook ah.”

 

Ibu Jung Kook dengan cemas mengikuti langkah Jung Kook yang benar-benar mulai menjauh darinya, namun Jung Kook sekiranya tak menghiraukannya. Benar-benar tak menghiraukannya kali ini.

 

“Sebentar saja, eomma. Eomma, saranghae!” ucap Jung Kook yang kinu sudah berada di atas sepeda kayuhnya sebelum akhirnya mulai mengayuh sepedanya pergi.

 

 

Jeon Jung Kook tersenyum menatap punggung gadis yang kini tengah duduk memandang sungai Han. Gadis itu entah kenapa terlihat begitu anggun saat matahari yang mulai menenggelamkan dirinya tersebut secara tak langsung melukis siluetnya. Gadis yang entah sejak kapan begitu ia kagumi, meski umur keduanya jelas berbeda.

 

Jeon Jung Kook menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menahan tawanya saat sekiranya sebuah ide brilian baru saja terlintas di benaknya kali ini. Jeon Jung Kook mengendap-endap berjalan mendekati gadis yang tengah asyik dengan dunianya sendiri. Saat jarak mereka kini cukup dekat, Jung Kook telah bersiap dengan satu tangannya demi mengagetkan gadis tersebut, dan–

 

“Jung Kook ah, aku tahu kau ada di belakangku sekarang.”

 

Jung Kook membuang nafasnya kalah. Ia sempat tertawa kecil saat kini gadis itu tertawa akibat ulahnya.

“Nunna, apa aku membuatmu menunggu?”

 

“Tidak, aku baru saja datang. Dan, apa itu?” tanya gadis itu, saat sebuah keranjang rotan yang kali ini mencuri perhatiannya. Jeon Jung Kook tersenyum jahil.

 

“Piknik. Aku ingin sekali piknik denganmu.”

 

“Piknik?” Jeon Jung Kook mengangguk. Diletakkannya keranjang rotan tersebut pada meja taman yang terbuat dari kayu tersebut.

 

“Jang!” Wajah Jung Kook berseri seketika saat ia memperlihatkan isi keranjang rotan yang ia bawa kali ini. Dengan tak sabar, ia memandang gadis itu dan menunggu responnya, namun nyatanya gadis itu malah mengernyit cukup dalam sebelum ia akhirnya menatap Jung Kook bingung.

 

“Roti dan selai kacang?”

 

“Nunna, setidaknya aku telah berusaha membuat piknik yang menyenangkan untuk kita berdua,” ucap Jung Kook pada akhirnya. Wajah berserinya kini mulai luntur, akibat respon gadis itu yang terlalu biasa untuknya. Lee Na Hyun, si gadis itu, malah tertawa melihat tingkah laki-laki yang lebih muda darinya tiga tahun tersebut.

 

“Arasseo, aku akan membuatkanmu sandwich selai kacang terenak Jung Kook ah,” ucap Na Hyun menepuk-nepuk kepala Jung Kook lembut dan berhasil membuat Jung Kook tersenyum menunjukkan deretan gigi kelincinya.

 

Ini konyol. Jung Kook selalu berusaha membuat gadis itu terkesan terhadapnya, berusaha meyakinkan bahwa ia sangat menyukai gadis itu agar ia membalas perasaannya. Namun semua terasa begitu konyol kali ini, semua usahanya tak lebih membuat dirinya lantas dipandang sebagai seorang adik kecil, bukan seorang laki-laki dewasa.

 

Entah berulang kali Jung Kook telah mengungkapkan rasa kagumnya pada gadis tersebut, dan respon yang ia dapat hanya sebuah tepukan pada pundaknya atau senyum tanpa arti dari gadis itu. Entah gadis itu mengetahui kesungguhan hatinya atau tidak. Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka akhirnya sering menghabiskan waktu mereka bersama tiap sorenya. Ya, tempat ini adalah tempat dimana mereka bertemu secara tak sengaja dan bagaikan agenda rutin, mereka memang selalu menghabiskan waktunya bersama.

 

“Bagaimana dengan sekolahmu Jung Kook ah?” tanya gadis kali ini sebelum memberikan seapit sandwich pada Jung Kook.

 

“Biasa saja. Tak ada yang berbeda. Membosankan.”

 

“Ya, bagaimana bisa kau menyebut sekolah membosankan?”

 

“Itu memang benar, mereka selalu mengulang dan mengulang hal-hal membosankan? Bisakah mereka memulai mengajariku cara bernyanyi atau menari? Aku yakin aku akan menjadi bintang kelas saat aku—”

 

Jung Kook menggantung kalimatnya saat ia sadar si lawan bicaranya entah sejak kapan seakan tak menghiraukannya. Marah? Mungkin. Namun selalu seperti inilah mereka. Lee Na Hyun entah kenapa sangat menyukai momentum dimana matahari kembali keperaduannya. Ia akan menunggu saat-saat itu dengan begitu khidmat. Gadis itu akan terdiam dan sejenak tenggelam dalam dunianya sendiri saat momentum itu terjadi. Bahkan Jung Kook pernah menyadari saat gadis itu terlihat tersenyum lembut hanya karena memandangi momentum ini.

 

“Sunset nya indah.”

 

Lee Na Hyun sedikit terperanjat saat Jung Kook seakan perlahan mengusir lamunannya. Sang gadis hanya tersenyum kikuk, merasa bersalah karena tak menghiraukannya.

 

“Maaf.”

 

Jung Kook terkekeh pelan. “Tidak apa-apa.” Menurutnya ini sudah biasa dan ia memang terbiasa seperti ini.

 

Sekian detik kemudian mereka kembali tersihir oleh hening. Tersihir oleh indahnya momentum ini. Momentum terindah saat sang Kuasa perlahan namun pasti mengganti siang menjadi malam. Mereka terlihat tersenyun lebar secara bersamaan dan tanpa berbicara. Sibuk dengan dunia masing-masing. Namun terkadang Jung Kook terlihat menyempatkan diri untuk menatap gadis yang ada di sampingnya. Sedikit terkesan mencuri-curi, meski tak lama, namun ia begitu yakin gadis itu semakin cantik tiap harinya. Dan semakin Jung Kook mengagumi gadis itu.

 

“Jung Kook ah?” panggil Na Hyun tiba-tiba namun tak mengalihkan pandangannya sedikit pun, seakan ia tak ingin ketinggalan momen ini barang sedetik pun.

 

“Apa di Tokyo juga memiliki matahari tenggelam seindah Seoul?”

 

Mengetahui Jung Kook tak menyahut, Na Hyun mulai menatap Jung Kook kali ini. Ia tersenyum begitu lembut saat ia mengetahui Jung Kook seakan kebingungan dengan pertanyaan miliknya kali ini.

 

“Maaf, apa aku terlihat mengigau?”

 

“E-eh, tidak juga, Nunna. M-maksudku, aku tidak pernah ke Jepang sebelumnya. Jadi, aku tak pernah melihatnya.”

 

“Oh, begitukah?”

 

Jung Kook mengangguk singkat mengingat ia tak bisa menjelaskan apa-apa. Dalam diam, gadis itu kembali menatap matahari yang mulai tak terlihat kali ini. Ia terdengar menghela nafasnya singkat. Sebuah senyum lain, sengaja gadis itu tampakkan kali ini.

 

“Kau ingat saat aku bilang aku pernah tinggal di Jepang saat ayah dan ibuku masih bersama? Saat itu, aku masih berumur 7 tahun.”

 

Jung Kook mengangguk samar. Ia masih sibuk memandangi gadis itu, seakan menunggu kelanjutan ceritanya. Sedetik kemudian gadis itu tersenyum getir.

 

“Aku ingat, matahari di sana terlihat begitu besar. Bahkan saat sore hari, saat ia mulai menenggelamkan diri, ia butuh begitu banyak waktu. Bias sinarnya begitu luas, hingga—”

 

“Hingga?” Jung Kook mengernyit sekali lagi. Penjelasan menggebu-gebu Na Hyun tiba-tiba saja terhenti. Gadis itu terlihat meringis. Tatap matanya entah kenapa berubah menjadi lebih sendu kali ini.

 

“Sudah lama aku tak melihatnya, hingga aku benar-benar lupa sekarang,” tambahnya sendu kali ini. Jung Kook terdiam. Kali ini ia yang benar-benar terdiam. Sekiranya ia merasa mundur beberapa langkah ke belakang. Mundur pada saat ia pertama kali ia bertemu gadia itu, saat pertama kali ia memandangi sunset Seoul untuk pertama kali dengannya, saat pertama kali gadis itu bilang ia mengagumi sunset Seoul dan saat—oh, benar.

 

Lee Na Hyun pernah bercerita bahwa ia pernah tinggal di Jepang saat kecil. Saat orang tuanya masih bersama. Namun kini berbeda sejak kedua orang tuanya bercerai saat ia berumur 10 tahun. Lee Na Hyun tak pernah kembali sekedar menginjakkan kakinya pada tanah kelahiran ibunya sampai saat ini. Keluarga dari ayahnya yang seakan mengekangnya untuk pergi kesana meski hanya berlibur. Entah apa yang membuat mereka begitu eksentris untuk melarangnya menginjakkan kakinya di sana, namun hal itu tak pernah membuat padam keinginan Na Hyun untuk kembali kesana sejak sepeninggal ayahnya.

 

“Kau merindukan Jepang?”

 

Lee Na Hyun terlihat tersenyum ringan, sebelum ia akhirnya mengedikkan bahunya kali ini. “Mungkin,” ujarnya.

 

Jung Kook mengatupkan bibirnya kali ini. Setidaknya ia tak pernah melihat gadis itu senanar ini sebelumnya. Yang ia tahu gadis itu akan selalu tersenyum lembut padanya dan terkadang menggodanya, hingga ia pikir gadis itu memang tak pernah merasa sedih. Namun kali ini, entah bak bertemu dengan seseorang yang baru, bukan sosok Na Hyun yang ia kenal sebelumnya.

 

“Jung Kook ah?”

 

“Ya?”

 

“Ayo kita pulang, langit sudah gelap sekarang.”

 

 

“Apa di Tokyo juga memiliki matahari tenggelam seindah milik Seoul?”

 

Jung Kook menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia mengeluarkannya secara penuh kali ini. Namun sedetik kemudian ia terlihat mengacak rambutnya sedikit frustasi. Apa yang dimaksud Na Hyun saat itu? Tokyo? Sunset? Apa ia merindukan Tokyo?

 

Setidaknya percakapan kemarin membuatnya sedikit bingung. Untuk pertama kalinya gadis itu terlihat sedih. Tidak, ini bukan pertama kalinya menceritakan bagaimana Tokyo. Sebelumnya ia juga sering menceritakan atau sekedar bertanya tentang Tokyo, namun untuk pertama kalinya gadis itu terlihat sedih saat ia menjelaskan tentang keadaan Tokyo.

 

Jung Kook menatap layar ponselnya. Ia tersenyum tipis menatap sebuah kontak di sana yang tak lain merupakan nama gadis itu. Jarinya lantas terampil mengetikkan kata-perkata pada ponsel touch-screen miliknya kali ini.

 

To: Na Hyun Nunna

 

Nunna, kau merindukan Tokyo?

 

Dan sent.

 

Mungkin ia terlihat begitu bodoh menanyakan hal ini pada gadis itu berulang kalinya. Dan mungkin, kali ini gadis itu muak dengannya.

 

Dan benar saja, gadis itu sama sekali tak menjawab pesan singkat miliknya. Bodoh, mungkin ia muak kali ini, pikirnya.

 

“Ya, Jung Kook ah, apa yang kau lakukan?”

 

“Eh?” Jung Kook tersenyum kikuk menatap keenam temannya yang kini sadar bahwa ia sama sekali tak ikut ke dalam percakapan mereka.

 

“Apa kau sakit?” tanya Kim Seok Jin cemas sembari berjalan menuju sofa dimana Jung Kook berada kali ini.

 

“T-tidak, hyung. Aku baik-baik saja,” akunya yang berusaha agar mereka tak mencemaskannya.

 

“Dia mungkin tengah memikirkan noona-noona waktu itu,” celetuk Kim Nam Joon disusul oleh ledakan tawa dari teman-temannya yang lain. Jung Kook hanya mencibik. Bagaimana mereka tahu bahwa kali ini ia memang memikirkan gadis itu?

 

“Omo, kau benar-benar menyukai seorang noona sekarang?” ucap Ji Min yang entah kapan kini berada di sampingnya dengan mengacak kasar rambutnya. Jung Kook lantas mengerang keras akibat apa yang dilakukan laki-laki itu dan berusaha membalasnya.

 

“Aigoo, maknae kita sedang jatuh cinta,” timpal Kim Tae Hyung kali ini lebih bersemangat menggoda Jung Kook. Dan kembali suara tawa terdengar dari kelima temannya, namun tidak untuk Min Yoon Gi. Ia terlihat tak bernapsu entah kenapa.

 

“Ya, kalian berisik!” celetuk laki-laki tertua kedua tersebut dan lantas membuat mereka serentak terdiam. Sedangkan Jung Kook tersenyum dengan penuh kemenangan.

 

“Jung Kook ah, apa noona mu itu bekerja di toko bunga dekat stasiun kereta?” tanya Jung Ho Seok yang tiba-tiba saja serius.

 

“Toko bunga dekat stasiun?”

 

Jung Ho Seok mengangguk mengiyakannya.

 

“Dua hari yang lalu aku membeli bunga untuk nenekku, dan aku secara kebetulan melihatnya,”

 

“Mungkin ia juga membeli bunga, hyung,” celetuk Tae Hyung kali ini yang lantas membuat Ho Seok terdiam sejenak untuk sekedar berpikir.

 

“Ani, aku yakin ia tidak membeli bunga di sana. Ia mengenakan seragam yang sama dengan cashier toko tersebut. Tapi, apa mungkin aku salah lihat?” Ho Seok lantas menggaruk kepalanya tak gatal. Entah kenapa ia tiba-tiba saja tak yakin dengan apa yang ia lihat saat itu.

 

Toko bunga? Apa gadis itu bekerja di sana?

 

Jung Kook mengernyit cukup dalam. Mungkinkah gadis itu bekerja di sana? Bukankah ia kuliah? Sejak kapan gadis itu bekerja dan tidak memberitahunya tentang ini?

 

Tunggu.

 

Apa jangan-jangan gadis itu bekerja di sana demi pergi ke Tokyo? Iya. Bukankah ia bilang ia ingin melihat matahari tenggelam di Tokyo sekali lagi?

 

Jung Kook beranjak dari sofanya saat itu juga dan meraih jacket nya sebelum akhirnya ia berjalan pergi. Keenam temannya memandangnya bingung saat Jung Kook terlihat begitu terburu-buru kali ini.

 

Jika dugaannya benar, tak salah lagi…

 

“Ya, Jung Kook ah, kau kemana?”

 

“Aku ada urusan sebentar. Sampai jumpa!”

 

 

Jeon Jung Kook terdengar mendengus berulang kali sembari menatap beberapa lembar selebaran di tangannya. Angka-angka yang membuatnya mendelik itu entah kenapa membuatnya sering memikirkannya. Bagaimana bisa, seluruh jasa travel menawarkan harga yang begitu mahal untuk pergi ke Jepang?

 

Jung Kook menggaruk kepalanya kasar. Apa yang harus ia lakukan? Ia begitu ingin membantu gadis itu untuk mengabulkan permintaannya, yaitu menatap matahari tenggelam di Tokyo, namun uang sakunya meski ia simpan untuk satu bulan pun, tak bisa ia gunakan untuk membawa gadis tersebut menuju Tokyo.

 

“Eoh?”

 

Jung Kook menatap sekelilingnya saat ia sadar ia kini sudah berada sangat jauh dari rumahnya. Ya, pikirannya melayang begitu saja hingga ia lupa jalan pulang, tapi tunggu–

 

“Bukankah ini jalan menuju stasiun kereta?”

 

Jung Kook menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal. Ia tak tahu mungkin kakinya akan membawa dirinya lebih jauh lagi jika ia tak cepat-cepat sadar tadi. Jung Kook tersenyum bodoh mengakui ketololannya kali ini.

 

“Jung Kook ah?”

 

“N-nunna?” Jung Kook tersenyum saat ia sadar siapa yang telah memanggilnya kini. Dengan cepat, ia melajukan kakinya lebih dekat dengan gadis yang telah lama ia kagumi itu.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?”

 

“Ah, aku tak ingat. Aku tidak sengaja melewati tempat ini, dan kau?”

 

“A-aku…” Lee Na Hyun nampak menutupi badge yang berada tepat di pakaiannya kali ini. Dengan senyum kikuk, ia kembali membuka mulutnya, “hanya menemui beberapa teman.” Dan ia lantas kembali mengembangkan senyumnya yang terlihat jauh berbeda kali ini.

 

“Ah, benarkah?”

 

Lee Na Hyun mengangguk melakukan pembenaran.

 

“Kalau begitu, aku pergi dulu,” ucap Lee Na Hyun mengakhiri dan lantas beranjak pergi tanpa persetujuan Jung Kook.

 

“Ah, nunna, aku akan menunggumu nanti sore. Anyeong!”

 

Jung Kook tersenyum tipis. Ia tahu betul siapa gadis itu. Melihat bagaimana gerak-geriknya, ia tahu bahwa Lee Na Hyun baru saja berbohong padanya. Bahkan dengan sembunyi-sembunyi, ia tahu bahwa gadis itu baru saja memasuki sebuah gedung yang tak lain merupakan sebuah toko bunga.

 

Jadi benar apa yang dikatakan Ho Seok saat itu. Gadis itu tengah bekerja paruh waktu demi mengumpulkan uang untuk pergi ke Jepang.

 

Sebesar itukah kau ingin pergi ke Tokyo, nunna?

 

 

“Kau yakin menginginkan pekerjaan ini anak muda?”

 

Jeon Jung Kook mengangguk tegas menatap seorang pria yang duduk tepat di hadapannya. Wajahnya yang terlihat gugup sejak beberapa menit yang lalu, ia coba untuk tutupi.

 

“Tapi kau tahu bahwa ini bukan pekerjaan mudah bukan?”

 

Jung Kook menganggukkan kepalanya sekali lagi.

 

“Apa benar aku akan dibayar sesuai yang tertulis di brosur ini?” Jung Kook lantas menunjukkan selembaran brosur yang tadi ia letakkan di meja. Pria tersebut melihatnya sebentar sebelum ia akhirnya menganggukkan kepalanya.

 

“Itu benar. Aku akan membayarmu tiap minggunya. Dan satu lagi, apa kau tidak keberatan, jika—”

 

“Jika?”

 

Pria tua itu lantas menunjuk ke arah salah satu sisi ruangan dengan salah satu jarinya pada sebuah tempat dimana sebuah kostum beruang yang terlihat telah lama tak digunakan, tengah diletakkan. Wajah Jung Kook yang awalnya ragu lantas mencoba meyakinkan dirinya kali ini. Ia lantas menganggukkan kepalanya untuk kesekian kalinya.

 

“Tak masalah,” ucapnya begitu singkat dan penuh keyakinan sebelum akhirnya ia mengembangkan senyumnya kali ini. Benar, semua ini ia lakukan demi Lee Na Hyun. Dan ia mantap untuk itu.

 

 

“Anyeong haseyo, datanglah ke rumah makan kami. Kami akan memberikan makanan penutup secara gratis hanya sampai pada akhir bulan.”

 

“Anyeong haseyo, eommonim, datanglah—-”

 

“Anyeong haseyo, datanglah—”

 

“Eomma!” teriak anak kecil yang berlari menjauhi badut beruang yang tengah membawa beberapa selembaran menuju dimana ibunya berada. Anak kecil itu nampak ketakutan entah kenapa, padahal sang badut tak melakukan apapun. Mengetahui hal tersebut, sang ibu lantas menatap sang badut dengan sedikit membungkuk ia lantas meminta maaf.

 

“Anyeong haseyo eommonim, datanglah ke tempat kami. Kami memberikan makanan penutup secara gratis. Dan, adik kecil kau harus datang,” ucap sang badut memberikan selembar kertas dari tangannya pada sang ibu. Ia lantas mengangguk bahkan melakukan tarian kecil yang akhirnya membuat anak kecil yang awalnya terlihat ketakutan tersebut, kembali tertawa.

 

“Eomma, badutnya lucu. Dadah om badut!” Sang badut lantas membalas lambaian tangan anak kecil itu yang berjalan menjauh darinya saat itu juga.

 

“Ya, badut ayo kita berfoto!”

 

“Oh? Ne!” Sang badut kembali memutar tubuhnya kali seorang pria cukup tua menarik tangannya kasar dan meletakkan ponselnya di hadapan mereka untuk mengambil gambar mereka kali ini.

 

“Hahaha, lihatlah kau nampak bodoh di sini,” ucapnya yang lantas menepuk-nepuk kepala sang badut kasar, namun sang badut hanya mengangguk-angguk seraya memberikan salah satu selebaran kertas dari tangannya.

 

“Ahjussi, mampirlah ke tempat kami. Kami akan memberikan makanan penutup secara gratis,” ucap sang badut diikuti dengan langkah pria tersebut yang benar-benar meninggalkannya kali ini.

 

Sang badut lantas berjalan menuju salah satu bangku taman dan memutuskan untuk duduk di sana. Ia lalu melepaskan kepala kostum badutnya dan meletakkannya tepat di sampingnya. Jeon Jung Kook, laki-laki di balik kostum itu, membuang nafasnya kelelahan. Ia tak tahu bahwa betapa sulitnya sebuah pekerjaan untuk dilakukan. Ia mengusap peluhnya yang benar-benar membasahi wajahnya kali ini. Hari yang begitu melelahkan baginya.

 

Jung Kook meraih ponselnya saat sebuah dering pesan mulai mengusik dirinya. Senyumnya terkembang saat nama gadis itu yang tertera di layarnya kali ini.

 

‘From: Na Hyun Nunna

 

Jung Kook ah, apa kau sibuk? Kita akan pergi sore ini?’

 

Jung Kook menarik nafasnya pelan sebelum ia mengetikkan beberapa kata pada layar ponselnya kali ini.

 

‘To: Lee Na Hyun Nunna

 

Mianhae. Ada banyak tugas yang belum kukerjakan’

 

Jung Kook menghela nafasnya pelan. Terbesit ada rasa bersalah karena ia selalu membohongi gadis itu untuk beberapa saat ini. Kenapa tidak, ia selalu mengatakan bahwa ia sibuk tiap sorenya dan membiarkan gadis itu sendirian untuk memandangi matahari tenggelam.

 

Tapi ia berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh, setidaknya gadis itu harus sedikit bersabar kali ini karena sebentar lagi, apa yang begitu ia inginkan akan tercapai. Meski Jung Kook harus merasakan penatnya juga panasnya untuk berada di dalam kostum badut berjam-jam, menerima perlakuan yang sedikit kasar dari beberapa pejalan kaki, tidak dihiraukan atau bahkan dikerjai oleh beberapa pejalan kaki, baginya itu tak masalah. Ya, setelah ini pasti bisa mengabulkan apa yang diinginkan gadis itu secepatnya.

 

“Ah, ne, yeoboseyo?” ucap Jung Kook yang kali ini meletakkan ponselnya pada telinga kirinya. Sebuah panggilan baru saja masuk kiranya.

 

“Ya, kau dimana sekarang?”

 

“ah, Yoon Gi hyung? Aku sibuk saat ini, m-maksudku sedikit–”

 

“Jangan berbohong.”

 

Jung Kook membuang nafasnya pasrah. Sedikit sia-sia jika ia harus berbohong dengan hyung nya yang satu ini. Karena mengingat laki-laki itu yang tak mudah untuk mempercayai apa yang dikatakan seseorang, bahkan ibunya sendiri.

 

“Dimana kau?”

 

“D-di taman, aku sedang menemani salah satu teman di sini. A-ada apa?” Setidaknya ia harus berbohong pada hyung-hyung nya tentang dirinya yang bekerja untuk mengabulkan mimpi gadis yang telah lama ia kagumi. Ia bertaruh mereka mungkin akan mengata-ngatainya tentang hal ini.

 

“Datanglah ke tempat kita biasa berkumpul.”

 

“T-tapi–” Dan panggilan benar-benar terputus kali ini. Jung Kook membuang nafasnya kalah, ia tahu ia tak bisa menang mengalahkan hyung nya satu itu. Yoon Gi hyung memang sengaja ditugaskan untuk memanggil kelima temannya saat mereka akan melakukan pertemuan. Well, ia tak tahu kenapa, pertemuan mereka memang terlihat tak penting, namun jika kau tak datang, akuilah itu bukan keputusan yang tepat.

 

 

“Ya, kau bodoh!” teriak Tae Hyung tak terima yang lantas disusul oleh tawa yang cukup menggelegar oleh keempat temannya kali ini.

 

“Kau tahu kita tak bisa menang melawan Yoon Gi hyung, mana bisa kau menyalahkanku sekarang?” bela Ji Min yang tak terima disalahkan.

 

“Dimana Jung Kook, aish kita harusnya sadar bahwa kehadiran si golden maknae itu sungguh diperlukan untuk saat-saat genting.”

 

“Ah, itu benar. Hyung, apa kau memberitahu Jung Kook sebelumnya?” tanya Ho Seok tiba-tiba, keempatnya lantas menatap Yoon Gi yang tengah meneguk botol mineralnya. Ia lalu mengedikkan bahunya kali ini.

 

“Mungkin ia sibuk. Untuk akhir-akhir ini, ia juga sering tak datang jika kita mengajaknya,” ucap Nam Joon selaku ketua, namun langkah keduanya terhenti saat mereka sadar bahwa pintu garasi sebagai satu-satunya tempat mereka berkumpul sedikit terbuka. Mereka saling berpandang dan lantas tersenyum jahil.

 

“Jung Kook di dalam. Ayo kita kagetkan dia,” ucap Ji Min yang kali ini memulai mengendap-endap dan berjalan masuk menuju dalam garasi yang tak lain milik Nam Joon. Entah sedikit tak normal, mereka mau saja mengikuti ajakan Ji Min kali ini.

 

“Sssttt..” Mereka berusaha untuk mengingatkan satu sama lain untuk tidak berisik saat mereka sadar Jung Kook tengah terbaring pada satu-satunya sofa di tempat itu. Saat langkah mereka cukup dekat dengan Jung Kook, tiba-tiba saja mereka menghentikan aksinya dalam mengendap-endap. Mereka saling berpandang saat mereka tersadar bahwa Jung Kook tengah tertidur pulas dan laki-laki itu terlihat begitu kelelahan di dalam tidur pulasnya.

 

Namun hal itu tak berlaku bagi Tae Hyung, tanpa mengindahkan apa yang dikatakan Seok Jin dalam diam tadi, laki-laki tak normal itu lantas menjatuhkan dirinya pada Jung Kook yang tengah tertidur dan sontak membuat Jung Kook terjingkat begitu saja.

 

“Aishh!” Erang Jung Kook dengan mata yang ia buka paksa, disusul ledakan tawa dari keenam temannya kali ini. Ia terkekeh pelan mengetahui kebodohannya, meski ia juga banyak menguap untuk beberapa saat.

 

“Ya, apa kau sedari tadi tidur di sini?”

 

“Ya, Jung Kook ah, kami menunggumu di lapangan basket tadi.”

 

Jung Kook tersenyum kikuk, sembunyi-sembunyi ia mencoba memukul-mukul pelan pundaknya yang terasa pegal. Tentunya ia tidur sedari tadi, bagaimana tidak, ia terlalu kelelahan untuk akhir-akhir ini. Ia akan memilih untuk tidur di rumah jika saja mereka tak memintanya untuk bertemu.

 

“Waeyo? Kau terlihat begitu kelelahan. Apa kau melakukan sesuatu akhir-akhir ini?”ucap Seok Jin yang setidaknya menyadari wajah lelah Jung Kook sedari tadi. Atau mungkin mereka pasti melihatnya tertidur pulas dengan mulut setengah mengaga tadi.

 

“Ah, a-ani, mungkin karena terlalu banyak tugas untuk saat ini. J-jadi, aku terlihat kelelahan untuk beberapa saat ini.”

 

Kelima temannya lantas saling berpandang, sebelum akhirnya mereka manggut-manggut secara bersamaan kali ini.

 

“Baiklah, kau harus meluangkan waktumu paling tidak sedikit untuk beristirahat Jung Kook ah,” ucap Nam Joon yang akhirnya mendapat persetujuan dari keempat temannya yang lain. Di balik senyumnya, Jung Kook dapat bernafas lega sepenuhnya.

 

“Oh!”

 

Jung Kook menatap jam digital yang ia kenakan. Oh gawat, ia terlambat 15 menit lamanya untuk pekerjaannya yang lain.

 

Benar, pekerjaan yang lain. Saat ia tahu bahwa pendapatannya untuk menyebarkan selebaran masih belum cukup, Jung Kook memutuskan untuk bekerja part time lainnya, guna mendapatkan uang lebih dan lebih cepat.

 

“Ada apa Jung Kook?” Jung Kook tersenyum kikuk saat kelima temannya menatapnya bingung. Jung Kook meraih tas ranselnya kali ini.

 

“M-mianhae hyung, eomma menyuruhku pulang,” dalihnya. Oh Tuhan, ia tak tahu harus berapa kali ia berbohong pada hampir semua orang. Temannya, ibunya dan gadis itu. Namun ia rasa ia harus melakukannya, jika tidak mereka akan menghentikan apa yang ia usahakan selama ini saat mereka mengetahuinya.

 

“Geurrae, berhati-hatilah,” ucap Nam Joon menepuk salah satu bahu Jung Kook dan sedetik kemudian laki-laki termuda itu berlari keluar.

 

“Heol! Ia benar-benar pulang?” Tae Hyung terlihat tak terima. Ji Min manggut-manggut sekedar menyetujui apa yang dikatakan Tae Hyung kali ini.

 

“Biarlah. Ia bilang ia sibuk bukan?” ucap Yoon Gi kali ini yang lantas membuang dirinya pada sofa dan bersiap untuk tidur.

 

“Tunggu, Yoon Gi ah,”

 

“Mwo?” Yoon Gi sedikit tak terima saat Seok Jin menghentikan aksinya. Laki-laki tertua itu lantas mengambil selebaran yang ada di atas sofa yang hampir saja ditiduri Yoon Gi. Seok Jin menatap bingung selebaran yang kini ada di tangannya.

 

“Apa ini? Oh, biaya menuju Jepang?” Tanya Ho Seok yang terlihat bingung kali ini. Ia mengedikkan bahunya pada teman-temannya setelah melihat selebaran yang dibawa Seok Jin kali ini.

 

“Apa ini punya Jung Kook?”

 

“Entahlah. Oh, Tae Hyung ah, bisa kau kejar Jung Kook? Aku kira ini begitu penting untuknya,” pinta Nam Joon seraya merebut selebaran yang ada pada Seok Jin dan memberikannya pada Tae Hyung secepatnya. Mengetahui hal itu, Tae Hyung lantas melajukan kakinya berlari demi mengejar Jung Kook kali ini.

 

 

“Ya! Jung Kook ah!”

 

Jung Kook menghentikan kakinya saat itu juga. Ia terkejut saat Tae Hyung terlihat berlari ke arahnya kali ini.

 

“Ya, kenapa kau berlari eoh? Kau tak tahu aku kelelahan tadi dan ditambah lagi aku harus mengejarmu?” Kim Tae Hyung terlihat berusaha keras mengumpulkan nafasnya kali ini.

 

“Huah, aku lelah,” tambahnya yang memang kali ini terlihat begitu kelelahan. Jung Kook tahu mungkin hyung nya yang satu ini akan membuatnya benar-benar terlambat untuk bekerja kali ini, namun bisa apa dia? Ia tak mungkin mengatakannya pada laki-laki itu tentang kondisinya yang telah bekerja saat ini.

 

“Hehe mian, ada apa hyung?”

 

“Jung Kook?”

 

Jung Kook memutar tubuhnya kali ini, seseorang yang lain tengah memanggil namanya. Jung Kook menahan nafasnya seketika saat ia tahu sekarang siapa yang baru saja memanggilnya. Rasa bersalah karena telah berbohong, membuatnya tak bisa mengatakan apa-apa.

 

“Wah, anyeong Na Hyun nunna!” ucap Tae Hyung yang entah kali ini mendapatkan kembali energinya saat ia sadar bahwa Lee Na Hyun berada di hadapan mereka saat ini. Tae Hyung menatap Jung Kook dengan pandangan menggoda, namun bedanya Jung Kook malah tak berkutik di tempatnya kali ini.

 

“Oh, hai nunna.”

 

“Bukankah kau bilang mengerjakan tugas?” tanya Na Hyun tanpa berbasa-basi kali ini. Jung Kook terlihat tak menjawab kali ini. Dengan bangganya Tae Hyung berusaha membantu temannya itu.

 

“Ani, tadi dia berkumpul denganku dan yang lainnya. Namun, ia lebih banyak tidur tadi.”

 

Jung Kook membulatkan matanya saat kalimat tersebut baru saja terlontar dari Tae Hyung kali ini, namun Tae Hyung lantas memandangnya kebingungan, seakan bertanya ‘ada yang salah?’. Oh jelas, laki-laki itu baru saja menegaskan bahwa Jung Kook telah berbohong pada gadis itu.

 

“B-bukan nunna, tadi aku mampir ke tempat Nam Joon hyung, untuk—”

 

“Tidak apa-apa, Jung Kook,” ucap gadis itu memotong. Ia terlihat menghela nafasnya cukup dalam kali ini. Bagaimana tidak, sudah sangat terlihat kali ini bahwa Jung Kook membohonginya selama ini dengan mengatakan ia sibuk dengan tugasnya dan menolak ajakannya untuk melakukan agenda mereka dan memilih bermain dengan teman-temannya.

 

Mungkin laki-laki itu bosan dengan kegiatannya. Mungkin laki-laki itu bosan dengan hal monoton yang selalu mereka kerjakan bersama tersebut. Seharusnya ia sadar tentang hal itu, dan tak memaksanya, namun tetap saja, dibohongi  bukan hal yang mudah diterima untuknya.

 

“N-nuna.”

 

“Tidak apa-apa, Jung Kook. Kau bisa bilang padaku jika kau sibuk atau lebih tepatnya kau sudah bosan denganku.”

 

“B-bosan? Tidak nunna, aku tidak—”

 

“Maaf Jung Kook, aku harus pulang sekarang,” ucap gadis itu pada akhirnya. Ia tersenyum begitu singkat sebelum ia menundukkan kepalanya dan berjalan pergi.

 

Kim Tae Hyung terlihat bingung melihat atmosfer aneh antara keduanya kali ini. Jung Kook terlihat tak banyak bicara, dan lebih banyak menundukkan kepalanya. Sedangkan wajah gadis itu terlihat begitu sedih. Seperti saat ini, saat gadis itu beranjak pergi, sedangkan Jung Kook masih sibuk di tempatnya.

 

“Y-ya, Jung Kook ah, kau tak—”

 

“Nunna! Tunggu aku, nunna!” Tae Hyung menatap bingung saat Jung Kook kini berlari menjauhinya dan malah mengejar gadis tersebut. Kim Tae Hyung lalu meraih sesuatu dari sakunya. Benar, sebuah lipatan selebaran yang seharusnya ia berikan pada Jung Kook tadi, namun apa daya ia baru saja dicampakkan oleh Jung Kook kali ini.

 

“Ya, Jung Kook ah, selebaranmu tertinggal tadi,” ucapnya yang terkesan tak berarti. Ia lalu membuang nafasnya pasrah sebelum akhirnya ia beranjak pergi.

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Tokyo Sunset

  1. gara-gara Taehyung nahyun jadi salah pahamkan , aduh kasihan jungkook donk kalo gini . Dia bohongkan demi kebaikan , aduh apa yang terjadi selanjutnya . Jujur aku lebih suka FF ini dari pada MV aslinya , feel emosinya lebih dapet karena ada alasan dibalik jungkook melakukan part time job . Good Job authornim aku suka ^^

    Like

  2. Ahhh… TaeTae nie asal ceplos aja. Na Hyun jd salah pahamkan sama Kookie.huhuhu…
    Tp itu Kookie sweet pke bgt…dohhhhh..

    Okeee.. aku mau next dlu.hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s