Drama · Family · Genre · One Shoot · PG -15 · Romance · sad

Last Memories 2


POSTER

 

Author: SandraChoii (Twitter, Instagram)

Tittle: Last Memories 2

Cast:  Kim Seok Jin as Seokjin (BTS)
Choi Ji Hyun as Jihyun

Other Cast:  Kim Sung Jin as Sungjin
Son Hyun Woo as Shownu (Monsta X)

Genre: Family, Romance, Sad, Drama

Rating: PG-15

Lenght: Oneshoot

Disclaimer: Jalan cerita ini murni karya Author, sebuah ide cerita yang tiba-tiba saja muncul di kepala Author ketika permintaan squel cukup banyak. Seluruh hal yang ada pada fanfic ini  hanyalah imajinasi Author kecuali Kim Seokjin dan Son Hyunwoo. Terimakasih author @MinariFini sudah bantu saya translate untuk poster!! Hahaha

Author Notes : Annyeong… Maaf sudah lama sekali Author tidak menulis fanfiction, kali ini author memenuhi beberapa request readers yang sempat author baca pada postingan fanfiction terakhir author beberapa bulan lalu “Last Memories” karena banyak yang meminta squel maka kali ini author akan menuliskan squelnya,“Last Memories 2” ini cukup berbeda dengan cerita awal dan bukan bergenre Angst. Author menuliskan fanfic ini hanya untuk sekedar memperjelas cerita di fanfic awal. Diharapkan bagi readers yang membaca untuk meninggalkan jejak berupa komen terutama bagi kalian yang me-request, Saranghae!! ^^

Story:

Wanita akan merasakan sakit saat melihat seseorang yang dia cintai telah bersama dengan wanita lain dan anak mereka, tetapi wanita akan lebih merasakan sakit saat melihat orang yang dia cintai dan anaknya menyebut wanita selain dirinya dengan sebutan IBU..

*** 5 Years Later ***

 *Kim Seokjin POV*

Sudah hampir 2 tahun ini aku pindah di rumah baruku di Seoul, dan putraku Kim Sungjin terlihat begitu bahagia ketika aku memenuhi permintaannya saat itu.

Tentu bukan hanya karena menuruti permintaan Sungjin yang begitu keras kepala, tapi aku memang ingin bertemu dengan Jihyun. Jujur saja selama ini aku sangat merindukannya.

Saat itu saat Jihyun berada di Busan, sesungguhnya ingin mengatakan jika perasaanku sejak dulu tidak pernah berubah padanya tapi aku tidak bisa begitu saja mengkhinatai istriku sendiri. Memiliki tanggungjawab sebagai suami, memaksaku untuk tidak egois demi kepentingan pribadiku, aku mencintai istriku karena dia adalah wanita yang baik, hanya saja sejak saat itu aku tidak benar-benar dapat melupakan Jihyun.

Kini, sejak 3 thn sudah meninggalnya istriku karena kecelakaan membuatku terpukul, aku begitu berubah menjadi seseorang yang sama sekali berbeda dari diriku sebelumnya, ada perasaan bersalah pada putraku karena aku bahkan sering pulang terlalu larut dan membiarkan Sungjin berangkat dan pergi sekolah dengan mobil jemputan. Sungguh aku sangat meminta maaf pada mendiang istriku karena aku melupakan tugas terbesarku sebagai ayah saat itu, bahkan sebelum Jihyun kembali ke Seoul dia selalu berpesan padaku agar aku lebih memperhatikan Sungjin, tetapi saat itu nyatanya aku tidak menjalankan permintaan mereka dengan baik.

Beberapa bulan lalu, saat aku pulang terlalu larut. Aku melihat Kim Sungjin putraku tertidur di sofa ruang tengah, aku menangis sejadinya kala itu aku melihat dia tertidur dengan memeluk sebuah foto wanita yang aku sangat kenal, itu adalah foto Jihyun. Bahkan aku tidak mengerti kenapa Sungjin selalu memandangi foto Jihyun bukan foto seseorang yang dia tau ibunya yang sudah meninggal? Perasaan bersalahku muncul dari saat itu hingga detik ini karena aku belum mengatakan pada Sungjin jika ibunya adalah Jihyun, seorang wanita yang dulunya pernah menjadi guru Kim Sungjin saat dia masih berada di kelas 1 sekolah dasar.

Sejak saat itu, aku bersumpah jika prioritas utamaku hanyalah Sungjin. Aku begitu menyayangingya, tetapi karena keterpurukanku sendiri kenapa aku bisa menjadi begitu mengabaikannya?

Aku melihat Sungjin turun dari kamarnya dan menatapku dalam diam, dia seolah masih sangat marah atas sikapku beberapa waktu lalu. Entahlah aku bahkan sudah berkali-kali meminta maaf padanya tapi tidak satupun Sungjin menjawabnya.

“Appa, aku ingin bertemu Choi seonsaengnim.. aku ingin appa menikah dengannya.”

Kelopak mataku membulat sempurna saat ucapan itu dengan tegas dia ucapkan, ekpresinya sangat memohon, sangat serius kali ini. Aku sadar jika putraku kini bukanlah anak kecil seperti saat itu, bahkan usianya kini sudah meninjak 10thn.

Aku menggelengkan kepala saat putra tunggalku mengatakan hal seperti itu, aku tidak bisa melakukan hal itu. Mengulang kenanganku bersama Jihyun adalah hal yang membuatku semakin merasa bersalah padanya. Aku sadar jika saat itu aku sudah sangat membuatnya sakit, lalu saat ini aku kembali menemuinya dan memintanya kembali bersamaku apakah hal yang manusiawi? Aku sadar, mungkin saat itu Jihyun sudah memandangku sebagai pria yang tidak punya perasaan karena terlalu menyakitinya.

“Kim Sungjin, kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”

“Appa, aku hanya mengatakan keinginanku. Sejak eomma meninggal aku hanya ingin Choi seonseangnim yang menjadi ibuku, hanya dia seseorang yang ketika aku berada di dekatnya, aku merasa bahwa aku masih memiliki ibu.”

Aku bungkam dalam beberapa menit, pandangan Sungjin masih sama saat ini. ketika dia hanya menatapku seolah menunggu jawabanku untuk berkata “Iya” atau bahkan “baiklah”

Tanpa berkata apapun, aku hanya berjalan ke arah dapur. Mungkin saat ini aku menghindar dari percakapannya, tetapi ini memang sudah saatnya kau menyiapkan sarapan jika aku tidak ingin terlambat pergi ke kantor dan Sungjin terlambat masuk sekolah.

Sungjin menghampiriku saat aku sedang membuatkan Yubuchobab kesukaannya, aku tau Yubuchobab buatanku tidak kalah dari buatan Jihyun bahkan lebih baik dari buatan Jihyun karena aku saat itu yang mengajari Jihyun membuat Yubuchobab, tapi entahlah Sungjin selalu mengolokku dan mengatakan dia lebih menyukai buatan Jihyun.

“Aku membuatkanmu Yubuchobab untuk bekal kesekolah, setelah ini aku akan bersiap untuk ke kantor..” Sahutku saat Sungjin memperhatikan apa yang aku lakukan.

“Appa, jangan mengalihkan pembicaraan. Bukankah Choi Seonsaengim adalah ibuku yang sesungguhnya? Apakah nanti aku tidak boleh menyebutnya Eomma?”

Aku menghentikan kegiatanku saat Sungjin kembali menanyakan hal itu, aku menatapnya cukup lama. Aku tidak habis pikir, dari mana Sungjin tau akan hal ini? aku bahkan tidak pernah sama sekali mengatakannya.

“Itu tidak benar, ibumu sudah meninggal dan Choi seonsaengnim itu adalah gurumu, Sungjin-ah jangan menyangkal atau eomma akan sedih saat mendengar kau berkata seperti itu.”

“Appa, hingga suatu saat nanti aku akan mati atau bahkan sampai saat itu juga Appa tidak akan mengatakan jika ibuku adalah Choi seonsaengnim?”

Aku melihat Sungjin menangis saat ini, tanpa suara dan hanya beberapa bulir air mata yang cepat-cepat dia hapus.

“Aku sangat merindukan Choi Seonsaengnim, dan bahkan appa tidak pernah mengatkan jika seseorang yang selama ini sangat aku rindukan adalah ibuku sendiri.” Gumamnya lirih, sungguh ucapan itu sangat membuat dadaku sakit ketika mendengarnya.

Sungjin menatapku singkat, lalu meletakkan sebuah buku dengan sampul putih dan motif senada, itu adalah diary milik Jihyun.

“Kim Sungjin!! Ya!! Kim Sungjin..” Panggilku saat Sungjin berjalan pergi, tapi putraku sama sekali tidak mau mendengarkannnya.

Aku membuka ponselku, sebuah nomer telpon disana membuatku berpikir sesuatu. Itu adalah nomer telpon Jihyun, suatu keinginan mendorongku untuk menelponnya dan mendengar suaranya walau hanya satu kata, tapi itu tidak mungkin aku lakukan.

Sebuah buku diary milik Jihyun yang dia berikan padaku beberapa tahun lalu memecah kesadaranku, aku hanya tertegun menatapnya. Entah untuk beberapa tahun lalu aku tidak berani membukanya. Dan Kim Sungjin bahkan mungkin sudah membaca habis isinya yang begitu membuatnya menjadi seperti saat ini.

/Flashback/

 

Aku melihat Sungjin tertidur di pangkuan Jihyun sangat lelap, hari ini adalah hari terakhir Jihyun berada disini sebelum akhirnya besok dia akan kembali ke seoul. Aku benar-benar memenuhi permintaannya saat dia memintaku agar pergi seharian ini bersama Sungjin putra kami sebelum dia kembali ke Seoul.

Memang Sungjin tidak pernah tau jika Jihyun adalah ibunya, dia hanya tau jika wanita yang menikah denganku saat ini adalah ibunya, sedangkan Jihyun yang secara tidak sengaja menjadi gurunya membuat aku dan Sungjin kembali bertemu dengannya.

“Seokjin-ah aku mohon, biarkan hari ini Sungjin menginap disini. Besok saat aku akan kembali ke seoul aku akan mengantarkan dia pulang, aku ingin sekali saja membuatnya tidur dalam pelukanku, apakah kau memperbolehkannya?”

Aku hanya mengangguk singkat saat itu, ketika dia mengatakannya.. sungguh ketika itu aku juga ingin mengatakan padanya ‘Aku juga ingin sekali lagi tertidur lelap di sampingmu dan memelukmu’

Aku terdiam cukup lama, berusaha mati-matian menahan emosiku untuk tidak menangis.

“Baiklah, aku akan pulang sekarang..” Ucapku singkat, aku mencium kening Sungjin sebelum pergi.

“Seokjin-ah..” Aku kembali menghentika langkahku saat Jihyun kembali memaggilku, aku mengepalkan tepak tanganku dengan sangat kencang, menahan diriku sendiri untuk kembali tidak menangis saat ini.

Aku menoleh padanya dengan berusaha tersenyum,

“Apa kau melihat buku di meja itu?” Gumamnya,

Aku hanya mengangguk saat dia mengatakannya,

“Awalnya aku ingin membuangnya, terserah kau mau membuangnya atua membakarnya, setidaknya aku tidak ingin melihat buku itu lagi.”

Aku hanya memandangnya tanpa bisa mengatakan apapun, entah kenapa aku berubah menjadi orang terbodoh saat ini, melihatnya menangis tanpa bisa menghapus air matanya adalah suatu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan padanya.

Aku tersenyum singkat lalu berjalan menghampiri buku itu dan membawanya pergi, aku tetap berjalan melewati ruang utama untuk pergi tanpa kembali menoleh padanya.

 

/Flashback end/

Aku meraih buku itu yang tadi telah Sungjin letakkan di meja dapurku. Aku mengusap buku itu, kembali menerka-nerka isi di dalamnya sebelum aku membukanya. Aku menghapus air mataku saat melihat halaman utama, Jihyun menyimpan fotoku juga foto miliknya disana, dia menuliskan

‘Kehilanganmu membuatku merasakan luka yang terlalu dalam, tetapi jika saja waktu akan diputar kembali, mungkin aku akan tetap memilihmu meskipun aku tau itu menyakitkan.’

Jantungku terasa berhenti berdetak ketika sebuah foto masa kecilku dia tempelkan disana, entah dari mana dia mendapatkan foto itu yang bahkan aku sendiri tidak pernah memilikinya.

Halaman demi halaman aku membuka buku itu, hingga pada akhirnya aku sampai pada sebuah halaman dimana aku mulai merasakan bagaimana sakitnya perasaan Jihyun saat itu, sebuah fotoku bersama istriku dia tempelkan disana.

Aku berubah menangis saat ini, saat sebuah tulisan itu dapat aku baca dengan jelas.

‘Tidak masalah jika pada akhirnya kau tidak lagi mencintaiku, tidak masalah jika kau mencintai wanita lain dalam hatimu, yang menjadi masalah saat ini adalah aku takut, aku takut jika suatu saat aku tidak bisa melihatmu lagi.’

‘Ketika aku tiba-tiba menjauh darimu, sesungguhnya aku tidak benar-benar menjauh, mungkin aku sudah sangat teramat lelah ketika kau begitu mengabaikanku saat ini, mencintaimu sangat menyakitkan, aku berusaha bertahan dan berjuang sendiri, tetapi sebelum perjuanganku berakhir kau menghentikanku dan menhancurkan semuanya, aku dapat menerimanya dan pergi darimu, tetapi hatiku selalu mengkhawatirkanmu, dan otakku tidak pernah berhenti memikirkanmu’

Ketika tulisan itu baru aku baca, aku baru menyadari jika selama ini seseorang yang sangat mencintaiku hanyalah Jihyun, seseorang yang terlihat saat gila hingga melakukan semua hal ini untukku, aku sangat ingat kala itu aku dan dia begitu susah untuk bersama, kedua orang tua kami tidak memiliki kecocokan dan tidak pernah merestui pernikahan kami, hingga pada akhirnya keegoisan mereka berdampak sangat besar pada aku juga Jihyun terlebih lagi Sungjin putraku.

Halaman buku ini belum berakhir, di halaman terakhir aku menemukan foto keluargaku. Aku, Sungjin, dan Istriku. Di bawah foto itu Jihyun kembali menuliskan,

‘Aku memang tidak tau, siapa yang saat ini sedang berada dalam hatimu, bahkan ketika aku tau kau menikah dengannya, bukan berarti aku benar-benar yakin jika hanya ada dirinya di dalam hatimu, aku juga tidak pernah memikirkan jika aku yang sedang ada dalam hatimu, bagiku tidak penting siapa seseorang yang saat ini sedang mengisi hatimu, tetapi di dalam hatiku hanya ada dirimu’

‘Awalnya aku merasakan sakit ketika melihat kalian sangat bahagia bersama,
Tetapi..
Entah kenapa Tuhan sepertinya memberiku cobaan lebih,
Kim Sungjin adalah putra kita, tapi kembali lagi wanita itu mengambilnya,
Aku telah benar-benar menyerah ketika semua yang menjadi milikku di ambil olehnya,                                                                                                            Mungkin kini saatnya aku kembali ke dalam duniaku sendiri,                         Menjauh darimu juga wanita itu, menemukan kebahagiaan dalam hidupku sendiri tanpamu…’

 

***

Hampir satu jam aku menunggu Sungjin untuk keluar dari kamar mandi, tidak biasanya dia menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam kamar mandi seperti saat ini, terlebih ketika mandi pagi di saat seharusnya dia sudah harus siap pergi kesekolah.

Aku mengetuk pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam itu dengan cukup keras,

“Kim Sungjin!! Apakah kau tidak tau jika aku sekarang akan segera meeting? Jika kau mandi sangat lama, jangan harap aku akan mengantarkanmu ke sekolah pagi ini..” Bentakku dengan nada tinggi, mungkin sesekali aku harus bersikap keras padanya, karena aku ingin putraku tidak menjadi seorang namja yang manja.

Aku kembali mengetok pintu kamar mandi dengan berulang-ulang, bagaimana mungkin ketika aku telah berpakaian rapi dan segera pergi bekerja masih harus menunggunya yang sama sekali belum selesai mandi.

“Kim Sungjin!!” Panggilku untuk kesekian kalinya tetapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam, sesekali aku hanya mendengar gemercik air yang sepertinya memenuhi bathup.

Aku mendobrak paksa pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam, saat pintu telah berhasil terbuka aku segera bergegas masuk kedalamnya, aku begitu terkejut saat melihat putraku kini sedang tidak sadarkan diri karena dia menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam bathup berisi penuh air.

“Sungjin!!” Aku menepuk-nepuk pipinya berusaha membangunkannya setelah berhasil mengangkatnya keluar dari dalam bathup, sebisanya aku memberikannya pertolongan darurat, tapi sepertinya tidak terlalu membantu.

Aku menunggunya di dapan pintu ruang IGD, dokter telah memeriksa keadaan putraku di dalam ruangan, tetapi aku bahkan tidak bisa duduk dengan tenang. Air mataku tiba-tiba saja jatuh saat aku mengingat semuanya, dia adalah putraku satu-satunya. Aku sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri, jika bukan karena kebodohanku di masa lalu, mungkin Sungjin tidak pernah merasakan hal yang menyakitkan seperti ini, mungkin saat ini Aku, Sungjin, dan Jihyun sedang berbahagia dalam keluarga kecil kami.

“Tuan Kim Seokjin,” Seperti sebuah harapan besar tiba ketika seorang dokter keluar dari ruangan putraku dan menghampiriku, wajahku kini seperti seseorang yang sedang menanti sebuah harapan agar putraku tidak mengalami sakit yang parah akibat semua ini.

Aku bergegas mendekat pada seorang dokter yang sekiranya seusia dengankuku,

“Bagaimana kondisi putra saya dokter?”

Dokter itu tersenyum dan menepuk pundakku beberapa kali,

“Putra anda mendapat penyelamatan tepat waktu tuan Kim Seokjin, masa kritisnya baru saja lewat, setidaknya saat ini dia sudah bisa di pindahkan di ruang rawat inap, paru-parunya terisi banyak air, kami sudah sempat mengeluarkannya dan putra anda anak yang sangat kuat. Dan lagi, dia beberapa kali memanggil ibunya”

Aku terdiam sejenak saat dokter mengatakan kalimat itu, entah aku tiba-tiba tidak dapat berkata apapun saat ini.

“Huft.. syukurlah..” Jawabku dengan sedikit lega, “Terimakasih dokter..” Lanjutku saat sebelum dokter itu bergegas pergi.

Aku beberapa kali berusaha membuat mataku terjaga untuk menunggu Sungjin sadar dari tidurnya, sejak saat itu aku belum melihatnya membuka mata dan tersenyum padaku. Aku begitu merasa bersalah kali ini, aku tau bagaimana perasaan Sungjin ketika dia tau bahwa ayah dan ibunya sudah tidak bisa lagi hidup bersama, mungkin dia berontak saat ini tapi aku yakin suatu saat nanti dia akan mengerti.

“Eomma… eomma..” Suara lirih itu membuatku kembali tersadar, telapak tangannya menggenggam tanganku erat, matanya terpejam tetapi dia menangis, aku harap dia sadar setelah ini.

“Kim Sungjin.. Kau ingin bertemu dengan ibumu?”

Aku membuka ponselku dan membuka kontak untuk menelpon Jihyun, aku beberapa kali ingin menelponnya untuk memberikan kabar mengenai Sungjin, tetapi beberapa kali itulah aku mengurungkan niatku, tapi aku yakin jika saat ini Sungjin benar-benar membutuhkan Jihyun disini.

*Choi Jihyun POV*

Aku menyalakan mesin mobilku, aku bersumpah tidak akan kembali kesini dan melukai perasaan Kim Sungjin lagi, biarlah dia menganggap aku hanya sebagai gurunya dan menanggap yeoja itu adalah ibunya, aku tidak ingin melihatnya semakin sedih ketika mengetahui hal yang sesungguhya, hal yang belum harus dimengerti oleh anak seusianya.

 

“Choi Seonsaengnim… jangan pergi..” Teriaknya saat aku akan menjalankan mobilku, aku terisak parah saat mendengarnya,

“Maafkan aku Kim Sungjin..” Gumamku lalu menginjak gas mobilku, aku tidak tega melihatnya berlari mengejar laju mobilku dari spion,

“Choi Seonsaengnim… seonsaengnim…” teriaknya semakin keras saat mobilku semakin menjauh darinya.

Aku melihat Seokjin mengejarnya lalu memeluk Sungjin agar berhenti mengejarku, aku dapat melihatnya menangis saat ini.

 

 Aku terbangun dari mimpiku saat sebuah jam waker berdering keras di samping ranjangku, aku mematikannya dan meletakkan kembali jam waker itu di meja samping ranjangku. Nafasku sedikit tidak berarturan saat aku kembali mengingat mimpi itu, mimpi tantang hal yang seharusnya aku lupakan karena aku sudah berjanji tidak akan mengulangnya kembali.

Aku tersenyum saat ini, melihat seorang yeoja kecil tertidur di sampingku dan seorang namja juga berada disini, dia adalah Son Hyun Ji putri kecilku dan Son Hyun Woo suamiku.

“Sayang, apa kau bermimpi buruk lagi?” Tanya namja itu saat dia telah terbangun dari tidurnya.

Aku tersenyum menanggapinya, dan kembali mengatur nafasku

“Tidak, sepertinya aku harus bangun untuk membuat sarapan. Kau juga cepat mandi sebelum terlambat pergi ke rumah sakit”

Namja itu tersenyum dan mengangguk singkat lalu bangkit dari posisi tidurnya.

“Iya, hari ini aku harus datang lebih awal karena ada beberapa jadwal operasi” Jawabnya lalu segera bangkit dari tempat tidur dengan meraih handuk putih dari dalam laci dan segera masuk dalam kamar mandi.

Dia adalah namja yang sangat manis, dia juga seusai denganku sama seperti aku dan Kim Seokjin saat itu, sungguh akhir-akhir ini aku begitu mencintainya, bukan hanya wajahnya yang begitu sangat manis, tetapi sikapnya yang juga selalu membuatku merasa menjadi seorang wanita yang paling beruntung di dunia.

Pertemuanku dengannya di mulai dengan ketidak sengajaan, pada waktu itu setelah aku memutuskan kembali dari Busan ke Seoul. Aku kembali mengajar di sebuah sekolah dasar, setelah berhari-hari menangisi putra pertamaku Kim Sung Jin dari pernikahanku sebelumnya. Hal tersebut membuatku beberapa kali keluar masuk rumah sakit karena aku cukup depresi. Ketika itu dia adalah seorang dokter muda yang menangani penyakitku dengan sangat baik. Bahkan dia berkali-kali mengunjungiku di luar jadwal jaga, entahlah hal itu selalu membuatku tersenyum saat mengingatnya.

/Flashback/

“Nona, apa keadaanmu sudah membaik?”

Seorang perawat mengetok pintu ruangan rawat inapku saat ini, bahkan hal ini sudah bukan hal baru semenjak aku masuk rumah sakit ini.

Aku tersenyum dan mengangguk menjawabnya,

“Suster, aku sudah baik-baik saja. Lalu kapan dokter Son memperbolehkan aku pulang? Aku tidak tahan mencium bau obat-obatan.”Aku beralasan, dan memang benar aku sangat membenci suasana rumah sakit juga bau obat, tetapi seorang dokter muda yang menanganiku sepertinya enggan memperbolehkanku untuk pulang sebelum kondisiku benar-benar baik.

“15 menit lagi dokter Son akan memeriksa kondisimu nona, dan sebaiknya kau habiskan makanan juga minum obatmu sebelum dia kembali mengomel,” Sahut suster yang sangat aku kenal itu dengan sedikit terkekeh, aku yakin dia curiga dengan perhatian lebih yang di berikan oleh dokter Son Hyun Woo padaku. Bukan apa-apa, seluruh staff rumah sakit bahkan tau jika Dokter Son bukanlah seseorang yang banyak bicara, tetapi akhir-akhir ini banyak perawat yang mengeluh padaku jika aku tidak menghabiskan makanan juga meminum obatku, maka dokter Son tidak segan-segan menegur mereka dan meminta lebih memperhatiakan pasien.

Beberapa saat kemudian, seseorang mengetok pintu ruanganku, seorang namja dengan postur tubuh tegap dan almamater putih tersenyum saat membuka pintu ruanganku, dia namja yang sangat tampan, ya dia itulah dokter yang menanganiku.

“Suster, kau boleh menangani pasien lain.. nona Choi, aku yang akan menanganinya”

Seorang suster yang sejak tadi berada di ruanganku menunduk singkat,

“Baik dokter, permisi..”

 

Aku tersenyum saat dokter Son menghampiriku, senyumnya cukup tenang dan sesekali dia menyentuhkan punggung tangannya pada dahiku,

“Sepertinya kondisimu sudah membaik” Jawabnya,

Dia memang sudah tidak menggunakan bahasa formal padaku, karena sejak beberapa kali aku masuk rumah sakit selalu dia yang menanganiku dan hal itu cukup membuat kami saling menganal satu sama lain, terlebih karena kami memang seusia.

“Kenapa dokter tidak memeriksaku dengan menggunakan stetoskop? Jika hanya menggunakan punggung tanganmu, aku rasa tidak perlu aku berada di rumah sakit terlebih dahulu.” Sahutku yang tiba-tiba membuatnya tertawa.

Suasana seketika sunyi ketika dia mendapati makananku belum sama sekali aku makan, bahkan 5 butir obat yang sudah di siapkan perawat belum satupun aku minum,

“Nona Choi, apa kau tidak tau jika hari ini aku tidak memiliki jadwal jaga? Aku bahkan menyempatkan datang untuk memastikan pasienku baik-baik saja tetapi kau sama sekali tidak ingin sembuh?”

Aku hanya menunjukkan senyumku tanpa rasa bersalah, berusaha sebisa mungkin menunjukan wajah yang sangat polos agar dia tidak kembali memarahiku karena hal ini beberapa kali terjadi.

 

Dokter Son segera meraih makananku lalu duduk di sebuah kursi samping ranjangku,

“Ini aneh, aku tidak pernah sampai menyuapi pasienku sebelumnya, jika bukan karena pasien sepertimu yang sangat keras kepala”

“Dokter, aku tidak suka makananya..” Keluhku,

Namja itu menatapku sedikit bingung, lalu tersenyum.

“Hahaha, aku tau.. bahkan orang sehat tidak akan menyukai makanan seperti ini,”

Aku mengangguk pasti, setidaknya dengan seperti itu dia tidak akan memaksaku untuk menghabiskannya,

“Dan maaf nona, tapi kau harus makan..” Lanjutnya dengan sendok berisi makanan yang dia arahkan di hadapanku,

“Harus makan itu artinya bukan berarti harus makan makanan ini,” Lanjutku lalu mengambil piring dari tangannya dan meletakkannya kembali di meja samping ranjangku,

Dokter Son terlihat bingung dengan yang aku lakukan, wajahnya sangat lucu saat seperti ini, dan entah kenapa aku begitu menyukai wajahnya akhir-akhir ini.

“Dokter, bukankah kau bilang tidak ada jadwal jaga?”

“Iya, memang tidak ada. Aku datang kesini untuk memastikan jika kau menghabiskan makananmu, dan kau bisa lihat apa yang kau lakukan? Kau tidak menghargai usahaku.” Sahutnya sedikit kesal,

“Aku ingin makan bulgogi, dan aku tau tempat dimana yang menjual bulgogi paling enak di dekat sini,”

“Hahaha kau pintar sekali beralibi,” Sahutnya dengan tersenyum,

“Ayolah kau kan seorang dokter, kau bisa melepaskan infusku beberapa saat, setelah makan dan kembali kesini kau bisa kembali memasangnya, apa kau mau membiarkan pasienmu ini mati kelaparan disini?”

“Tapi tidak semudah itu melepas dan memasang kembali infus, kau pikir ini drama korea?”

“Aku rasa iya, karena dokter dengan wajah sangat tampan hanya ada di dalam drama korea,” Godaku padanya, kami memang sudah sangat akrab jadi aku sering sekali menggodanya, dan sungguh aku sangat menyukai wajahnya ketika sedang tersipu, itu sangat lucu.

“Jangan merayuku dengan cara mengerikan seperti itu,”

 

 /Flashback end/

Sejak saat itu aku semakin dekat dengan Hyunwoo, dia bahkan bisa menjadi pendengar yang baik saat aku mulai menceritakan mengenai masalahku padanya. Hingga akhirnya pada saat 4thn yang lalu dia mulai melamarku dan aku menerimanya walau dengan cukup banyak pertimbangan sebelumnya, jujur saja saat harus menghapus Kim Seok Jin dalam ingatanku bukanlah hal mudah, terlebih saat aku baru mengetahui jika putraku Kim Sung Jin masih hidup. Tetapi karena Hyunwoo selalu baik dan sangat mengerti kondisiku, dia sedikit demi sedikit membantuku keluar dari masalahku dan menuntunku untuk kembali bahagia, terlebih sejak kami memiliki seorang putri kecil Son Hyun Ji yang kini menginjak usia 3thn, nama itu Hyunwoo yang memberikannya, karena dia memiliki nama Hyun di nama tengahnya sedangkan aku memiliki nama Hyun di bagian akhir, sehingga dia mengatakan “Putri kecilku memiliki nama yang sama dengan Istriku, kau hanya perlu membalik nama Istriku maka itulah nama putriku” Sungguh aku tersenyum saat dia mengucapkannya, dia sangat manis, dan benar kali ini aku sangat jatuh cinta padanya.

*Author POV*

 

Jihyun menyiapkan satu piring besar bulgogi di meja makan, dua mangkuk nasi dan satu porsi sup ayam untuk Hyunji putri kecilnya.

Yeoja kecil itu terlihat senang saat Hyunwoo mengajaknya bermain, dari arah ruang utama yeoja kecil itu berlari menghampiri Jihyun ketika Hyunwoo masih saja mengejarnya, Jihyun terdiam melihatnya sejenak mengingat saat-saat seperti ini tidak pernah terjadi antara dirinya, Kim Seokjin dan Kim Sungjin putra pertamanya saat pernikahannya dengan Seokjin dulu.

“Eomma..eomma..” rengeknya meminta Jihyun untuk segera menggendongnya saat Hyunwoo berjalan perlahan mulai mendekat, Jihyun menatap Hyunwoo dengan beberapa kali menggelengkan kepalanya tidak percaya jika seorang ayah begitu kekanakan pada anaknya, tapi yeoja itu sadar betul jika Hyunwoo adalah ayah yang sangat menyayangi putri mereka.

Jihyun segera menggendong yeoja kecil itu, dalam hitungan detik Hyunwoo memeluk mereka berdua dan mencium Hyunji, sekali lagi yeoja kecil itu tertawa keras saat kegelian karena Hyunwoo menciumnya berkali-kali.

Hyunwoo menghentikan kegiatannya saat indra penciumannya mencium aroma daging yang baru saja matang, Bulgogi favorit mereka.

“Tiba-tiba perutku lapar sekali, ternyata kau memasak daging..” Sahutnya bersemangat, ini adalah reaksinya setiap kali ketika istrinya memasak menu makanan dengan bahan dasar daging,

Jihyun menertawakan ekspresinya itu sesekali, lalu mendudukkan Hyunji tepat di kursi meja makan dengan semangkuk sup ayam, dan menyeret kursi di depan meja makan untuk Hyunwoo duduk.

“Terimakasih..” Sahut Hyunwoo disertai ciuman singkat di salah satu pipi istrinya saat Jihyun duduk tepat di sampingnya dan hanya di jawab dengan senyuman olehnya.

“Hyunji-ah, makan dengan baik..” Tegur Jihyun saat Hyunji hanya mengaduk-aduk sup di hadapannya, Jihyun sebenarnya mulai membiasakan putri kecilnya itu untuk makan sendiri tetapi kali ini dia mengambil mangkuk sup milik Hyunji dan menyuapi yeoja kecil itu yang memang kursinya berjarak sangat dekat dengannya.

“Jihyun-ah, aku beberapa hari lalu mendapatkan pasien seorang namja kecil sepertinya dia masih berusia 10 thn-an, namja kecil itu mencoba melakukan tindakan bunuh diri dengan menggelamkan dirinya ke dalam bath up..”

“Jinjja??”

“He’em, aku begitu kasihan dengannya. Aku rasa dia begitu tertekan dan sangat ingin bertemu dengan ibunya” Sahutnya dengan sesekali menikmati makanan di hadapannya.

Hyunwoo kembali menatap Jihyun beberapa kali,

“Bukankah kau juga memiliki seorang anak dari pernikahanmu dulu?”

Jihyun terdiam mendengarnya, dia menghentikan aktivitas makannya dan menatap Hyunwoo beberapa detik, Hyunwoo tersenyum seketika dan sesekali mengelus pucuk kepalanya.

“Kau tidak merindukannya? Ayo kita ke Busan menemunya..” Ucapnya dengan senyuman dan kembali melahap bulgogi di hadapannya.

Jihyun tersenyum menanggapinya, lalu meraih tangan Hyunwoo yang masih mengelus pucuk kepalanya dan menggenggamnya erat,

“Kau benar aku merindukannya, tapi aku sudah berjanji untuk tidak menemui mereka lagi, dan aku akan memegang janjiku.”

“Ayolah, ikatan ibu dan anak tidak bisa di putuskan dengan sebuah janji begitu saja..”

Jihyun terdiam kembali mendengarnya, perkataan Hyunwoo benar-benar membuatnya terkesan.

“Dia hanya tau aku adalah gurunya, dan dia sudah memiliki seorang ibu yang juga menyayanginya, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu..” Jawabnya yang hanya di respon oleh Hyunwoo dengan anggukan kepala.

“Apakah hari ini kau akan pergi mengajar di kelas memasak?” Tanya Hyunwoo kembali, dan hanya di jawab dengan anggukan,

Jihyun memiliki jadwal mengajar di kelas memasak setiap sabtu pagi hingga sore, karena sejak Jihyun menikah dengan Hyunwoo dia mulai berhenti menjadi guru terlebih saat Hyunji lahir dan dia benar-benar ingin merawat putri kecilnya itu, bagi Jihyun, meskipun Hyunji adalah anak keduanya tetapi merawat bayinya adalah hal pertama yang dia lakukan, bahkan sejak Sungjin lahir sebelum sempat Jihyun melihatnya ibunya mengatakan putranya telah meninggal.

“Aku akan membawa Hyunji ke rumah sakit jika kau akan pergi,” Jawab Hyunwoo setelahnya.

Jihyun menghentikan kegiatannya saat sup di dalam mangkuk Hyunji telah habis, yeoja itu menggendongnya dan mendudukkan Hyunji di pangkuannya dengan sesekali membersikan mulut Hyunji dengan tissue saat Hyunji juga telah menghabiskan susu dari gelasnya.

“Bukankah hari ini ada jadwal operasi? Sebaiknya aku yang harus membawa Hyunji, dan tidak baik membawa anak kecil ke rumah sakit, disana akan banyak penyakit yang menular.”

“Tidak ada, dokter Park sudah menanganinya dan dia mengatakan jika operasinya tidak terlalu rumit, aku juga tidak lama berada di rumah sakit setelah itu aku akan mengajak Hyunji jalan-jalan, dan lagi aku tidak akan membawa putriku untuk mendekati pasien dengan penyakit menular, aku juga sedang tidak menangani hal itu.”

Jihyun kembali tersenyum dan mencium Hyunji beberapa kali,

“Baiklak,” Sahutnya,

Hyunwoo tersenyum singkat dan mencium keningnya, lalu namja itu menggendong putri kecilnya untuk pergi.

“Ayo sayang kita pergi, sebelumnya nanti kau mau beli ice cream?” Tanya Hyunwoo saat dia menggendong Hyunji menuju halaman rumah dimana dia memarkirkan mobilnya.

Yeoja kecil itu terlihat senang dan mengangguk saat Hyunwoo mengatakannya,

“Ya! Cuacanya sedang tidak baik, jangan membelikannya ice cream, nanti dia demam.” Sahut Jihyun dari arah belakang mereka.

Hyunwoo tersenyum dan menoleh pada yeoja itu,

“Hey, kau lupa siapa disini yang dokter? Hanya makan ice cream tidak akan membuatnya demam.”

Jihyun menatap kesal padanya, dan Hyunwoo menyadari hal itu. Beberapa saat kemudian Hyunwoo menghampirinya dan menciumnya singkat,

“Setelah kelas memasak segera hubungi aku, aku akan menjemputmu,”

Jihyun tersenyum saat mendengarnya.

***

“Appa..”

Seokjin mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar seseorang memanggilnya, wajah Seokjin terlihat sangat lelah kali ini, dia sejenak terlelap di kursi samping ranjang Sungjin dengan bersandar pada ranjangnya.

“Sungjin-ah, kau baik-baik saja?” Tanya Seokjin terlihat lega, ini pertama kalinya Sungjin bangun dari tidurnya sejak beberapa dua hari lalu.

Namja kecil itu mengangguk, dengan binar matanya terlihat bahwa dia sangat merasa bersalah pada ayahnya yang terlihat amat sangat kelelahan kali ini.

“Appa, maafkan aku..” Gumamnya dengan menangis,

Seokjin segera bangkit dari tempat duduknya lalu menghapus air mata putranya dengan sesekali tersenyum,

“Jangan mengatakan hal seperti itu, kau membuatku merasa bersalah” sahutnya dengan tersenyum, Seokjin memang selalu seperti itu pada Sungjin, dia bahkan menggunakan bahasa seperti kalimat kepada temannya sendiri.

“Appa, kau terlihat sangat lelah. Aku tidak akan lagi mengatai yubuchobab mu appa, dan jika saja appa mengetahuinya, masakan appa adalah masakan namja sejati.”

Seokjin seketika tersenyum haru dengan kalimat itu, beberapa kali dia mengelus kepala Sungjin,

“Kau berkata apa tentang namja sejati? Jadi selama ini kau berpikir jika appa bukan namja sejati?” Godanya sekali lagi,

Wajah Sungjin masih sangat pucat, tetapi Seokjin seolah ingin selalu mengganggunya berharap putranya segera sembuh, bahkan dia sangat yakin jika Sungjin anak yang sangat kuat.

“Appa adalah namja sejati, appa juga sangat tampan, tidak heran jika eomma menyukaimu bahkan sejak sekolah dasar.”

Seokjin menahan tawanya kali ini, sepertinya putranya benar kini telah sembuh, ketika Sungjin mulai membalas menggodanya dan banyak bicara, itu artinya Sungjin sudah baik-baik saja.

Mereka terdiam sejenak saat seseorang mengetok pintu ruangan mereka,

“Permisi..” sapa seorang dokter yang merawat Sungjin dengan tersenyum saat membuka pintu ruangannya,

Seokjin segera tersenyum menyapa dokter yang masuk untuk memeriksa Sungjin.

Sungjin menatap dokter itu cukup lama dan kembali tersenyum saat dia melihat seorang yeoja kecil sedang bersama dokter yang akan memeriksanya,

“Sayang, kau duduk disini sebentar ya, Appa akan memeriksa oppa itu” Ucapnya dengan mendudukkan putri kecilnya di sebuah sofa tidak jauh dari tempat Sungjin.

Yeoja kecil itu hanya tersenyum dan duduk dengan tenang, dia memainkan sebuah boneka kecil yang di bawanya sambil menunggu Ayahnya yang sedang bertugas memeriksa seorang pasien.

“Maaf tuan Kim Seok Jin, aku harus membawa putriku karena istriku sedang ada kegiatan,”

Seokjin tersenyum, mereka kini lebih sering bertemu karena dokter itu yang memang menangani putranya sejak awal, hal itu sedikit lebih membuat mereka terlihat cukup akrab tanpa bahasa yang terlalu formal.

“Itu tidak masalah Dokter Son,” Seokjin terseyum,

Dokter Son Hyun Woo kini yang menangani Kim Sungjin, namja kecil itu terlihat lebih baik saat ini.

“Sungjin-ah, kondisimu sudah membaik tetapi kau masih harus banyak istirahat karena masih ada beberapa pemeriksaan lagi, habiskan makananmu dan minum obatmu agar kau bisa segera pulih, kasiahan ayahmu beberapa hari ini dia sangat lelah,”

Sungjin mengangguk dan tersenyum saat dokternya memberi saran,

“Aku tau dokter, aku begitu merindukan ibuku sehingga tanpa sadar aku membuat ayahku sangat khawatir,” Sahut Sungjin seketika,

Hyunwoo menatap Sungjin dalam diam, sungguh dirinya masih sangat penasaran dengan apa yang di alami namja kecil itu, bahkan suatu hal yang sangat tidak logis jika dia harus menanyakan “Dimana ibumu? Kenapa kau begitu sangat merindukannya?” karena itu adalah privasi pasien yang tidak perlu dia tanyakan.

“Appa.. ayo beli ice cream,”

Hyunwoo segera menoleh pada suara yeoja kecil yang masih duduk dengan manis di tempatnya, sungguh dia hampir saja melupakan putri kecilnya yang sangat manis itu karena masih sibuk memikirkan rasa penasarannya pada Sungjin,

Hyunwoo segera menghampiri Hyunji dan membawa yeoja kecil itu dalam gendongannya, Seokjin beberapa kali tersenyum saat melihat tingkah lucu pasangan ayah dan anak itu, bagi Seokjin dengan melihat mereka membuatnya mengingat saat putranya masih seusia dengan yeoja kecil itu.

“Maafkan appa sayang, sebentar lagi ya..” Hyunwoo seraya menyanggupi janjinya pada putri kecilnya yang begitu penurut kali ini,

“Sungjin, jika kondisimu benar sudah membaik, kau bisa pulang 2 hari kemudian.”

“Baik dokter,” Sungjin terseyum,

“Tuan Kim Seokjin, kau harus tetap istirahat untuk menjaga kesehatanmu sendiri, Sungjin masih sangat membutuhkan perhatian ayahnya jadi kau tidak boleh sakit, aku sudah meminta perawat untuk memberikan kau vitamin. Kau terlihat sangat lelah.”

Seokjin menunduk, dan tersenyum.

“Terimakasih dokter,” Sahutnya sebelum dokter pergi meninggalkan ruangan mereka.

Seokjin menghampiri Sungjin dan mengelus kepalanya,

“Apa kau ingat saat kau seusia putri dokter Son kau juga selalu menagih ice cream pada appa?”

Sungjin tersenyum, sepertinya dia masih sangat ingat hal itu. Bahkan ayahnya selalu menuruti semua yang dia minta, Sungjin kembali tersadar bahwa Seokjin adalah sosok ayah terbaik yang seharusnya dia menuruti semua perkataan ayahnya.

“Appa, putri dokter Son sangat manis, aku ingin sekali memiliki adik seperti dia,”

Seokjin terdiam seketika saat mendengar permintaan Sungjin kali ini, tetapi Sungjin seakan kembali menyadari ucapan yang tanpa sengaja dia ucapkan.

“Hahaha, appa jangan melamun. Aku hanya bercanda”

***

Jihyun masih saja memandangi hoodie milik seorang namja kecil yang tertinggal di dalam mobilnya beberapa tahun lalu, kejadian itu cukup lama tapi hoodie itu masih dia simpan rapi dalam lemari pakaiannya, yeoja itu sesekali mengusap matanya dan berusaha tersenyum. Sungguh akhir-akhir ini Jihyun sangat merindukan putra pertamanya bersama Seokjin, Kim Sungjin.

Pernikahannya dengan Seokjin sama sekali tidak pernah di restui oleh kedua orang tua Jihyun juga Seokjin, seseorang yang paling menentang pernikahan mereka adalah ibu dari Seokjin juga ibu dari Jihyun, bahkan hingga saat ini dirinya tidak tau kenapa ibu dari Seokjin seolah sangat membencinya..

Tak berlangsung lama, panggilan dalam ponselnya menghentikan langkahnya. Seseorang menelponnya untuk mengatakan kelas memasak hari ini sedang di liburkan karena lokasi sedang ada renovasi, yeoja itu menghela nafas panjang. Dia merutuki seseorang yang menelponnya karena tidak memberikan informasi di hari sebelumnya.

Jihyun kembali menatap ponselnya malas, nomer ponsel Hyunwoo suaminya tiba-tiba membuatnya tersenyum.

“Baiklah, aku akan menelponnya dan menemuinya di rumah sakit”

‘Ya sayang? Kenapa menelpon? Bukannya kau sedang mengajar?” Suara seseorang yang kini menerima panggilannya.

“Ehm, itu lokasi sedang renovasi jadi kelas memasak sedang libur, aku kesal karena mereka tidak memberitahuku sebelumnya,”

Namja yang kini berbicara dengannya terdengar sedikit tertawa karena suara istrinya yang sedang kesal saat ini,

‘hahaha itu bagus, pekerjaanku masih 2 jam lagi setelah itu kita bisa pergi bersama..’

“Hyunwoo, aku akan menemuimu disana.. aku takut jika Hyunji sedikit merepotkan pekerjaanmu”

“Tidak perlu, Hyunji tidak..”

“Dan ayo sebelum pergi makan siang bersama, kau tunggu saja aku akan datang..” Sahutnya memotong kalimat Hyunwoo suaminya,

Hyunwoo tersenyum kalah kali ini, dia memang tidak pernah menang jika berdebat dengan istrinya. Mereka memiliki karakter yang bertolak belakang, Jihyun suka sekali mendebat dan Hyunwoo lebih suka menertawakan istrinya ketika mendebat. Namun hal itulah yang membuat mereka jarang sekali bertengkar, bahkan senyum teduhnya terkadang membuat Jihyun menyerah dengan sendirinya.

“Hem, baiklah..” Sahut Hyunwoo saat sebelum Jihyun menutup sambungan telponnya.

Choi Jihyun POV

Aku baru saja sampai di rumah sakit tempat Hyunwoo suamiku bekerja, paling tidak aku ingin menemui Hyunji agar Hyunwoo tidak terlalu kerepotan karena membawanya. Di salah satu sudut ruangan yang terlihat seperti salah satu ruang inap pasien, seseorang keluar dari dalamnya dan berjalan keluar entah kemana.

Aku tidak bisa menghentikan pandanganku yang terus menikutinya, sepertinya instingku lebih tajam dari sebelumnya hingga aku tanpa sadar sedikit mengikuti langkahnya walau tidak terlalu jauh. Deru nafasku semakin berpacu dengan langkah kakiku yang semakin cepat mengikutinya, bahkan tanpa aku sadari tiba-tiba aku menangis.

Sebuah tangis yang sangat menyakitkan ketika tangisan itu di buat tanpa suara, jantungku bekerja lebih keras dari sebelumnya yang membuat dadaku terasa sesak. Aku menahan diriku untuk berhenti mengikutinya, mengikuti sosok seseorang yang aku kira mirip dengan Kim Seokjin, aku berusaha meyakinkan diriku jika dia bukanlah Kim Seokjin. Namun, hati dan pikiranku terasa tidak sejalan kali ini, secara logikaku mengatakan dia bukan Seokjin, tetapi perasaanku mengatakan dia benar Seokjin.

Aku menghentikan sejenak langkahku, mendudukkan diriku di sebuah kursi yang tidak jauh dari tempatku. Aku mengingat pagi tadi Hyunwoo menceritakan mengenai pasiennya padaku, seorang namja kecil mencoba melakukan tindakan bunuh diri karena dia tidak bisa bertemu dengan ibunya.

“Kim Sungjin?” Aku bergumam begitu lirih saat ini, sepertinya ini tidak mungkin.

Aku kembali pergi ke tempatku sebelumnya, dimana aku pertama kali bertemu dengan Seokjin. Ruangan rawat inap yang mungkin Sungjin ada di sana.

Tanganku bergetar ketika aku akan membuka pintunya, otakku selalu menakutiku. Bagaimana jika itu benar Sungjin? Sekali lagi aku mengurungkan niatku untuk membukanya, sungguh aku takut jika harus membuatnya sedih seperti beberapa tahun lalu.

“Setiap hari dia ingin mencarimu, dia merindukanmu” Suara itu, aku tiba-tiba menoleh padanya dan benar, itu adalah Seokjin.

Aku hanya diam dengan perkataan yang baru saja dia ucapkan, seolah aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan, karena memang aku tidak mengerti. Atau ini benar? Seorang namja kecil yang menjadi pasien Hyunwoo adalah Sungjin?

“Seokjin?” Ucapku dengan sangat lirih ketika aku berhasil melihat seseorang itu, bahkan hingga saat ini aku masih merindukannya.

Aku begitu merasa bersalah saat melihat wajah Seokjin yang terlihat sangat lelah, tetapi dia tidak pernah menghubungiku jika Sungjin berada di rumah sakit ini, dia juga tidak pernah mengatakan padaku sejak kapan dia berada di Seoul?

“Kim Sungjin, dia ingin betemu denganmu dan aku tidak tau kenapa bisa kau sampai berada disini saat ini,”

“Maafkan aku,” Hanya itu satu satunya kalimat yang mampu aku ucapkan di hadapannya. Kami terdiam cukup lama, hingga akhirnya Seokjin tersenyum padaku.

“Harusnya aku yang mengatakan hal itu. Ayo masukklah, setidaknya temui Sungjin untuk..”

“Untuk membuatnya kembali menangis seperti beberapa tahun lalu? Untuk kembali menyakitinya seperti saat itu?” Sahutku memotong kalimatnya,

“Tidak, kau pikir seberapa besar keinginanku untuk menemuinya selama ini tetapi aku mengurungkannya? Tidakkah kau berpikir jika hal itu akan semakin menyakitinya?” Lanjutku saat setelah kami kembali terdiam cukup lama.

Seokjin hanya mengangguk, dan tersenyun cukup pahit saat aku dengan tegas menepis tangannya yang seolah akan menggenggam tanganku.

“Eomma..”

Kefokusanku dangan Seokjin teralihkan kini saat aku mendengar suara seorang yeoja kecil memanggilku, dari arah yang tidak terlalu jauh aku melihat Hyunwoo tersenyum dan menuntunnya berjalan ke arahku.

Aku menghapus air mataku cepat sebelum Hyunwoo dan Hyunji melihatnya, sama halnya dengan Seokjin. Reaksinya kini begitu terkejut terlebih saat yeoja kecil itu berlari kearahku dan memelukku.

“Sedang apa kau disini? Oh tuan Kim Seokjin? Kau mengenal istriku?” Tanya Hyunwoo kini, dan terlihat jelas ketika Seokjin sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaannya.

“Dia temanku dulu saat aku sekolah dasar di Busan,” Jawabku,

“Benarkah? Ini kebetulan sekali, beberapa hari ini aku yang menangani putranya saat di rawat disini.”

Aku berusaha tersenyum saat ini dan mengangguk perlahan, ekpresi Seokjin masih sama seperti sebelumnya.

“Seokjin-ah, bisa kau berikan ini pada Sungjin? Kebetulan aku membawa yubuchobab dan aku ingat dia menyukainya,”

Aku memberikan sebuah lunch box padanya,

“Baiklah” Hanya itu yang Seokjin katakan sebelum kami pergi,

***

Seharian ini setelah pulang dari Rumah Sakit, Hyunwoo benar-benar mengajakku dan Hyunji ke taman bermain, di sela kesibukannya dia tetap menyempatkan untuk mengajak kami pergi jalan-jalan, kemanapun itu setidaknya Hyunji menikmatinya.

Aku melihat putri kecilku sangat lelah, bahkan dia tertidur dengan lelap dalam gendonganku sebelum akhirnya aku memindahkannya ke dalam kamar.

Hyunwoo menghampiriku, seolah dia mengerti jika sedari tadi aku tidak begitu menikmati saat dia mengajak kami jalan-jalan.

“Kau sedang memikirkan apa?” Tanya Hyunwoo dengan hati-hati

“Hyunwoo..” Aku segera menghampirnya dan memeluknya cukup erat, tidak banyak bicara kali ini, aku hanya menangis dalam pelukannya.

Aku merasakan dia membalas pelukanku dan mengelus pundakku beberapa kali, hanya dengan seperti itu seorang Son Hyunwoo dapat membuatku tenang.

“Kau menangis?” Sahutnya sedikit khawatir.

Aku melepaskan pelukanku padanya, Hyunwoo masih menatapku dengan kawatir dan menghapus air mataku.

“Maafkan aku.”

Aku menggenggam telapak tangannya, sungguh aku merasa bersalah padanya kini.

“Untuk hal apa?”

Aku mencoba mengatur nafasku menjadi lebih tenang, mencoba mengatur rangkaian kalimat yang nantinya akan aku katakan padanya.

“Kau ingat bukan jika aku memiliki seorang anak dari pernikahanku sebelumnya?”

Kini Hyunwoo menatapku cukup serius,

“Kim Sungjin adalah putraku, dan Kim Seokjin adalah mantan suamiku,”

“Kau bercanda?” Tanya Hyunwoo mencoba memastikan,

***

Aku melihat wajah Hyunji putriku ketika dia masih terlelap dalam tidurnya, Aku mencium keningnya singkat sebelum pergi dari kamarnya.

Aku mendengar seseorang dari arah dapur, tunggu apakah itu adalah Hyunwoo? Benar, sungguh dia tidak biasanya berada disini. Aku memperhatikannya dari jarak yang tidak terlalu jauh, dia sangat serius dengan bahan masakannya.

Beberapa langkah aku mendekat dan tersenyum, memeluknya dari belakang yang membuatnya sedikit terkejut dan tersenyum saat mengetahui aku yang melakukannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku dengan masih memelukknya, namja itu menghentikan kegiatannya sejenak dan tersenyum,

“Aku sedang memasak, kau pikir hanya Seokjin yang bisa melakukannya?”

Aku tersenyum mendengarnya, Hyunwoo jarang sekali memasak. Aku tau dia bisa melakukannya dengan baik walau tidak lebih baik dari masakan Seokjin tetapi setidaknya dia bisa memasak bulgogi juga makanan untuk Hyunji. Aku memang pernah menceritakan padanya jika mantan suamiku bisa memasak dengan sangat baik, dan saat itu memang dia yang menanyakannya padaku.

“Aku membuat sup iga sapi, daging panggang, japjae daging, juga sup daging dan sayuran untuk Hyunji, aku memasak semuanya dengan daging.” Lanjutnya sekali lagi dengan tetap fokus pada masakannya,

Aku menatapnya kagum saat dia dapat melakukannya dengan baik, ini pertama kalinya aku melihat Hyunwoo memasak dengan sangat baik saat aku mencicipi beberapa masakan yang dibuatnya,”

“Bagaimana rasanya?” Tanya Hyunwoo begitu antusias,

“Dari mana kau belajar semua ini? Ini sangat mengagumkan, kau membuat makanan sangat enak dari masakanmu sebelumnya”

“Benarkah? Bahkan aku belum mencicipinya,” Sahutnya lalu mengambil sendok dari tanganku dan mulai mencicipi masakannya sendiri.

Hyunwoo tersenyum puas saat setelah dia mencicipi makana yang dia buat, bahkan aku baru melihat dia sangat bahagia kali ini.

“Benar, ini pertama kalinya aku membuat makanan yang ada rasanya ketika dimakan” Ucapnya senang, aku tertawa saat dia mengatakannya,

“Dari mana kau belajar semua ini?” Tanyaku kembali,

Hyunwoo tersenyum dengan menunjukkan ponselnya padaku,

“Aku mengunjungi situs cooking class milikmu, akan sangat memalukan jika menjadi suami seorang guru memasak tetapi tidak bisa memasak,”

Sungguh, aku tidak percaya ketika Hyunwoo melakukan semua ini. Saat dimana dia sangat serius akan suatu hal di luar kegiatannya sebagai Dokter.

“Apa ini karena Seokjin?” Tanyaku seketika,

Namja itu berbalik kini menghadapku dan tersenyum,

“Bukan, aku melihatmu semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak jadi pagi tadi aku tidak tega membangunkanmu untuk meminta makan, dan sesekali aku ingin membuatkan kau juga Hyunji sarapan,”

Aku menahan tawaku saat dia mulai mengerlingkan sebelah matanya,

“Jangan menggodaku,”

Hyunwoo menatapku dengan pandangan yang sedikit berbeda kali ini, aku hanya terdiam saat melihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba saja berubah..

“Sejak saat itu aku takut, aku takut kehilanganmu, aku takut Hyunji kehilangan kita, aku takut kau kembali padanya. Aku selalu berpikir jika kau masih sangat mencintainya, bahkan aku merasakan hal itu sejak dulu.. sejak awal kita bertemu hingga akhirnya aku berani memutuskan untuk menikahimu..”

Aku membuka mataku kembali saat kalimat pengakuan itu tiba-tiba saja terdengar jelas di telingaku.

Aku hanya mengunci mulutku untuk tidak memberikan komentar apapun dari ucapannya, sekecil apapun perkataanku nanti mungkin akan berdampak besar padanya, aku hampir saja mengatakan jika ketakutannya itu sama dengan apa saat ini aku rasakan, tapi kalimat itu hanya menggantung di dalam tenggorokanku tanpa berani aku katakan.

“Kenapa kau hanya diam? Apakah benar jika Seokjin masih menjadi satu-satunya seseorang yang kau cintai?”

Mungkin tidak untuk saat ini, karena aku sudah mengatakan jika memang aku mulai jatuh cinta pada Hyunwoo sejak 4 tahun lalu, aku tidak akan pernah main-main dengan perasaanku. Tetapi, setiap kali aku mengingat Seokjin aku selalu menangis, dan hanya Hyunwoo yang membuatku tenang, dia sedikit demi sedikit membantuku melupakan Seokjin dan kembali menuntunku untuk bahagia. Lalu apakah pantas jika aku membuat seseorang yang selalu membuatku tersenyum, kecewa hanya karena Kim Seokjin? Seseorang yang selama ini tidak tau penderitaanku?

***

Author POV

 

Seokjin merapikan tas miliknya juga milik Sungjin saat pagi ini Sungjin sudah di perbolehkan untuk pulang. Suasana antara dirinya dengan seorang Dokter Son Hyunwoo terlihat sedikit lebih canggung dari biasanya.

“Kim Sungjin, setelah kau pulang nanti kau harus banyak istirahat, menurutlah semua apa yang ayahmu ucapkan, dan lagi jangan pernah mengulangi tindakan bunuh diri seperti itu. Hal seperti itu sangat tidak baik,” Saran Hyunwoo saat setelah memeriksa Sungjin untuk terakhir kalinya sebelum namja kecil itu pulang.

“Baik dokter, terimakasih,” Gumamnya dengan wajah cukup ceria.

Jika boleh berkata jujur, sejak awal Hyunwoo sudah menyimpan simpati pada Kim Sungjin. Perasaan kasian ketika namja kecil itu selalu menyebut ibunya di saat dalam kondisi kritis membuat hatinya merasa sangat terluka, terlebih ketika saat ini dia mengetahui hal yang sesungguhnya. Siapa seorang Kim Sungjin juga Kim Seokjin.

“Tuan Kim Seokjin, aku harus memeriksa pasienku yang lain. Permisi..”

Seokjin tersenyum dan menunduk singkat sebelum Hyunwoo pergi, dan beberapa saat setelahnya namja itu menghampiri Sungjin.

“Appa, maafkan aku.. aku tidak akan lagi membuatmu khawatir,” Ucapnya yang sukses membuat Seokjin memeluknya dengan menangis,

“Sungjin-ah appa minta maaf, mulai saat ini kau tidak boleh seperti itu lagi, kau tega meninggalkan ayahmu yang tampan ini?” Gumamnya masih dengan memeluk Sungjin,

“Appa, itu terlalu narsis..” Keluhnya, Seokjin melepas pelukannya dan tersenyum sekilas.

“Oh iya, appa yubuchobab mu waktu itu sangat enak, itu sama persis dengan yang di buat oleh eomma,”

Seokjin terdiam beberapa saat, dia melupakan sesuatu. Dia tidak memberi tau Sungjin jika Yubuchobab itu adalah buatan Jihyun, tapi Seokjin memilih untuk diam sekali lagi.

“Appa, aku ingin bertemu dengan eomma..”

Suara namja kecil itu tiba-tiba membuat seseorang yang berada di balik pintu luar ruangannya menangis tertahan, Choi Jihyun berada di sana saat ini, ketika Hyunwoo menelponnya dan mengatakan agar dia menemui Sungjin karena hari ini hari terakhir Sungjin berada di rumah sakit ini.

Awalnya Jihyun menolak dengan apa yang Hyunwoo sarankan padanya, tetapi rasa rindunya pada Sungjin lebih menang kali ini. Sejak beberapa menit lalu sesungguhnya dia ingin masuk ke dalam dan memeluk Sungjin lalu mengatakan sangat merindukannya, tetapi entah kenapa tiba-tiba kakinya terasa berat untuk melangkah masuk dan menemui namja kecil it sekali lagi.

“Kim Sungjin, kita ini seorang namja. Kau dan aku adalah seorang namja, bukankah appa sudah mengingatkan padamu jika seorang namja sangat pantang untuk menangis? Bukan hanya kau yang merindukan eomma, appa juga. Tetapi masalahnya bukan seperti itu saat ini Sungjin.”

Namja kecil itu menatap Seokjin bingung, lalu tersenyum

“Appa, kau bilang tidak boleh menangis? Tapi kau baru saja mengeluarkan air matamu.”

“Benarkah? Hahaha anggap saja kau tidak melihatnya,” Lanjut Seokjin dengan tersenyum dan menyeka air matanya.

Kini Jihyun sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya, dia membuka ruangan Sungjin dan menghampiri namja kecil itu, beberapa saat Sungjin tertegun, dia seolah tidak mempercaya hal ini di hadapannya.

Jihyun menyeka air matanya lalu tersenyum,

“Kim Sungjin, kau sudah baik-baik saja?” Tanya Jihyun pada Sungjin untuk pertama kalinya setelah mereka kembali bertemu.

“Eomma?” Hanya kata itu yang kini Sungjin ucapkan, kata-kata itu sama persis seperti keinginannya beberapa tahun lalu, dia ingin sekali mendengarkan Sungjin menyebutnya dengan kata ibu.

Jihyun mendekat pada Sungjin dan memeluk namja kecil itu erat, tangis mereka pecah saat ini. Seokjin hanya diam dalam posisinya,

“Eomma, kenapa kau meninggalkan aku? Apakah kau membenciku?”

Jihyun menatap Sungjin dalam diam, dia tidak mungkin mengatakan pada Sungjin tentang kebodohan Seokjin begitu saja,

“Eomma, kembalilah pada Appa,” Lanjut Sungjin yang seketika membuat suasana antara Jihyun dan Seokjin menjadi sedikit canggung.

Permintaan Sungjin kini seperti sebuah permintaan yang harus dia katakan tidak, tetapi itu adalah permintaan Sungjin untuk pertama kalinya. Perasaan merasa sangat bersalah ketika hanya satu permintaan Sungjin tetapi dia tidak bisa memenuhinya.

Disisi lain, dia tidak mungkin akan meninggalkan suami juga putrinya, bagi Jihyun Son Hyunwoo dan Son Hyunji adalah masa depannya, tetapi Sungjin tetaplah putranya yang sesungguhnya sangat ingin dia penuhi segala permintaannya, terutama sejak Sungjin lahir dia belum pernah memberikan kasih sayangnya sebagai seorang ibu untuk namja kecil itu.

Seokjin mendekat pada Sungjin ketika dia melihat reaksi Jihyun kali ini, sebuah reaksi yang memang sepertinya Jihyun benar-benar tidak bisa memenuhi permintaan Sungjin untuk sekali ini.

“Kim Sungjin, sebenarnya tidak harus seperti itu. Tanpa ibumu kembali denganku, dia akan tetap menjadi ibumu,”

“Appa..” Sungjin mencoba menyela kali ini, tetapi Seokjin kembali menjelaskan

“Sungjin, aku tau kau lebih dewasa kali ini. kau sudah banyak mengerti bahkan hal yang memang seharusnya belum harus kau menegrti,”

Sungjin terdiam sekilas saat Seokjin kembali menjelaskannya,

***

Hari ini Hyunwoo pulang cukup larut malam, ada beberapa operasi darurat yang juga melibatkan dirinya harus ikut. Sedikit lelah kiranya saat dia harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang cukup larut malam.

Dia meletakkan tas kerjanya di meja dekat kamarnya juga mengambil handuk untuk segera mandi, Hyunwoo tersenyum sekilas saat melihat istri juga putri kecilnya sudah tertidur lelap, dia menghampiri yeoja kecil itu dan menciumnya singkat seolah tidak ingin mengusik tidurnya.

“Kau sudah pulang?” Sapa istrinya saat sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi

Hyunwoo tersenyum sekali lagi,

“Iya, maaf ada operasi darurat.”

Yeoja itu bangkit dari tempat tidurnya dan membantu Hyunwoo melepaskan dasi miliknya,

“Kau belum makan? Mandilah dulu setelah itu aku akan siapkan baju ganti dan membuat makanan untukmu,”

Hyunwoo tersenyum senang saat mendengarnya, tetapi seperti perasaan yang sebelumnya. Dia merasa sangat bersalah kali ini, bersalah pada Jihyun, Seokjin, terutama Sungjin.

“Kau hanya perlu menyiapkan baju gantiku, aku sudah makan” Sahutnya dengan mencium istrinya singkat dan segara masuk dalam kamar mandi.

***

Hari ini Jihyun kembali mengajar di kelas memasak, entah kenapa tiba-tiba Seokjin berada disini untuk menemuinya sesaat setelah kelas memasaknya berakhir.

Seokjin segera menghampiri Jihyun yang saat itu baru saja kelaar dari ruangannya untuk pulang,

“Choi Jihyun,” Panggilnya yang sempat membuta yeoja itu menghentika langkahnya.

“Oh, kau ada disini?” Sapanya,

Seokjin tersenyum dan mengangguk singkat,

“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, bisakah kau ikut denganku sebentar saja?”

Jihyun terdiam beberapa saat sebelum menjawab permintaan Seokjin kali ini,

“Aku harus segera pulang, dan memang sebenarnya tidak ada yang harus kita bicarakan,”

Seokjin nematapnya kalah saat ini, sepertinya ini bukanlah kesalahan Jihyun jika pada akhirnya yeoja itu memperlakukannya seperti ini.

“Ini mengenai Sungjin,”

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Jihyun saat Seokjin meminta Jihyun kerumahnya untuk menemui Sungjin.

“Sungjin ingin bertemu denganmu, dia sedang demam”

“Kenapa bisa? Apa dia kehujanan? Tapi akhir-akhir ini cuaca sedang baik dan tidak turun hujan,”

“Dia mungkin merindukan ibunya, aku harap setelah dia bertemu denganmu dia akan segera sembuh”

Tidak ada jawaban apapun dari Jihyun kini, terlebih akhir-akhir ini dia begitu merasa bersalah pada Hyunwoo ketika suaminya kini bersikap sedikit lebih aneh dari biasanya, Hyunwoo terlihat lebih pendiam dari biasanya, bahkan kali ini terlalu sering menghabiskan banyak waktunya di rumah sakit.

Mereka kembali diam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Seokjin mencoba tersenyum untuk kesekian kalinya,

“Sungguh aku minta maaf atas apa yang aku lakukan saat itu, tapi ini untuk Sungjin.”

“Aku tau,”

Choi Jihyun POV

 

Seokjin memarkirkan mobilnya di halaman rumah dan membuka pintu mobilnya untukku, ada rasa sedikit canggung terlebih ketika aku baru mengetahui jika istri Seokjin sudah meninggal 4 tahun lalu karena kecelakaan.

Sungguh aku merutuki nasibku saat ini, sebuah kejadian yang tidak pernah tepat untukku juga Seokjin kembali bersatu, saat ini aku sudah begitu mencintau Hyunwoo dan putri kecil kami, tetapi disisi lain, aku juga sangat ingin selalu berada di dekat Sungjin putraku,

“Sejak istrimu meninggal, kau merawat Sungjin sendirian? Bagaimana bisa Sungjin tau jika aku adalah ibunya? Apakah kau menceritakan hal itu pada Sungjin?”

Seokjin tersenyum cukup singkat mendengar pertanyaanku,

“Dia membaca buku diary milikmu yang kau berikan padaku beberapa tahun lalu,”

Aku diam, aku bahkan melupakan hal itu, buku diaryku tentang Seokjin sudah aku berikan padanya,

Beberapa langkah aku mendekat di pintu kamar Sungjin, sebelum aku masuk ke dalamnya, tiba-tiba langkahku terhenti saat aku mendengar seseorang menyanyikan sebuah lagu sangat lirih.

Seokjin juga menghentikan langkahnya sama seperti yang aku lakukan, sebelum akhirnya Seokjin kembali tersenyum dan mengatakan padaku jika Sungjin yang menyanyikannya, itu adalah lagu favorite Seokjin, aku inget betul lagu itu, lagu tentang seorang ibu.

Mom (Eomma)

The first time I met you, I cried as soon as I saw you
was it because I was happy, was it because I was sad,
I don’t even remember..

Since I had nothing to give, I just accepted
Even so, at that time I didn’t know how to be thankful
I’ve been living without knowing anything

Mom
By just calling your name, why does my heart ache like this?
You’ve given me everithing, you can’t give more
To you who are sorry because of that what should I give

Mom
My mother
why are tears falling like this?
The most beautiful than anyone else you are my,
My mother

Now I know that it was hard for you
You had cried a lot because of me
Why I was like back then how many times I had done it
I don’t even remember,

Though I can’t remember the first image of yours
Just your image, I will remember till I die
With all my heart, I love you..

Aku tidak dapat menahan tangisku ketika Sungjin menyanyiakannya dengan suara sedikit serak karena dia juga menyanyi dengan menangis, Seokjin beberapa kali menghapus air matanya,

“Aku yang mengajarkan Sungjin menyanyikan lagu itu, ketika dia merindukanmu bahkan dia sering meminta aku menyanyikannya dan kini dia sudah bisa menyanyikan lagu itu sendiri.”

***

Author POV

Seperti biasa ketika hari sabtu dan minggu Hyunwoo tidak ada jadwal di rumah sakit, hari ini ketika Jihyun mengajar di kelas memasak adalah gilirannya untuk menjaga Hyunji putri kecil mereka,

Hyunwoo beberapa kali melihat jam dinding di kamarnya saat akan menidurkan Hyunji, tidak biasanya Jihyun pulang di atas jam 9 malam, dia biasanya selalu pulang tepat waktu sebelum jam tidur Hyunji.

“Appa, aku mau minum susu” Pinta Hyunji kini, Hyunwoo tersenyum kali ini. dia ingat sesuatu jika Hyunji tidak akan bisa tidur sebelum minum satu botol susu.

“Sebentar ya sayang,” Hyunwoo beranjak dari tempat tidurnya untuk membuatkan Hyunji satu botol susu, walau dia jarang melakukannya tetapi hyunwoo tau betul takaran untuk membuatkan Hyunji susu karena beberapa waktu lalu dia sempat memperhatika Jihyun saat melakukannya.

Tak lama setelahnya Hyunwoo kembali menemui Hyunji dengan satu botol susu di tangannya dan memberikannya pada Hyunji dan membaringkan badannya di samping yeoja kecil itu dengan beberapa kali mengelus kening putrinya itu untuk membuatnya tidur,

“Appa, bacakan ini..” Hyunji memberikan Hyunwoo sebuah buku cerita yang terletak di dekat tempat tidurnya,

“Oh, membaca cerita? Apa Eomma selalu membacanya setiap kali akan tidur?”

“Iya,”

Hyunwoo tersenyum lalu mencium kening putrinya singkat sebelum memulai membacakan cerita.

“Baiklah, ini cerita tentang sleeping beauty seorang putri cantik bernama Aurora yang di kutuk oleh penyihir jahat agar dia tidur selama 100 tahun, kemudian….”

Suara sebuah mobil di halaman depan rumahnya membuat kefokusan Hyunwoo kembali, dia melihat saat itu Hyunji sudah tertidur. Dengan perlahan dia turun dari tempat tidurnya dan melihat seseorang di luar rumahnya.

Hyunwoo tersenyum getir ketika dia mengetahui jika kini Seokjin berada di luar rumahnya saat mengantar Jihyun pulang, pikirannya kembali menerka-nerka apa karena hal ini Jihyun pulang terlambat? Bahkan sangat terlambat.

Jihyun membuka pintu rumahnya saat Hyunwoo baru saja duduk di ruang tengah dengan menyalakan TV,

“Maaf aku pulang sedikit terlambat,” Ucapanya

“Iya tidak apa-apa, Hyunji sudah tidur, aku membuatkannya susu dan membacakan cerita seperti yang kau lakukan biasanya,”

Hyunwoo hanya menatapnya sekilas lalu kembali lagi mengalihkan perhatiannya pada acara TV yang sedang dia tonton.

“Maafkan aku, apakah hari ini kau begitu kerepotan?”

Hyunwoo mematikan TV nya lalu menghampiri Jihyun kini, dia terseyum singkat.

“Tidak, aku tidak akan pernah kerepotan hanya untuk mengurus putriku sendiri, mandilah dulu dan jika kau belum makan, aku sudah memasak sesuatu untukmu.”

Begitulah Son Hyunwoo, hal itulah yang membuat Jihyun selalu merasa bersalah padanya. Dia memang marah, tetapi dia tidak pandai untuk mengekspresikan kemarahannya bahkan di hadapan istrinya sekalipun.

“Maafkan aku,”

“Kau sudah mengatakannya lebih dari 3 kali,”

“Aku hari ini pulang bersama Seokjin,” Sahut Jihyun

“Iya aku tau, aku melihatnya tadi,”

“Apa kau marah?”

“Tentu saja, jika aku mengatakan tidak marah itu artinya aku bohong,” Ucap Hyunwoo singkat, tanpa nada tinggi tetapi cukup menggertak.

“Seokjin tadi menemuiku, dia mengatakan jika Sungjin demam, jadi aku menemui Sungjin karena aku sangat tau ketika seorang anak sedang sakit, orang yang paling dia butuhkan adalah ibunya”

Hyunwoo terlihat sedikit khawatir ketika Jihyun mengatakan Sungjin demam,

“Apa sekarang baik-baik saja? Dan lagi, dia tidak melakukan tindakan nekat seperti saat itu lagi bukan?”

“Dia baik-baik saja demamnya tidak terlalu parah, setelah dia tidur aku baru bisa pulang.”

“Apa kau masih mencintai Seokjin?” Hyunwoo sekali lagi bertanya hal yang mungkin susah untuk Jihyun jawab

“Seokjin adalah cinta pertamaku,”

“Aku tidak menanyakan hal itu, aku menanyakan apa kau masih memiliki perasaan terhadapnya?”

“Aku datang kesana bukan untuk menemui Seokjin tetapi untuk Sungjin,”

Hyunwoo mengangguk singkat, dan kembali tersenyum.

“Aku sudah bisa memasak saat ini, aku sudah bisa merawat Hyunji dengan baik termasuk membuatkan dia susu dan membacakan cerita, tapi buku cerita yang selalu kau baca sama saja, selalu cerita mengenai sleeping beauty, aku ingin membelikankan lebih banyak lagi buku cerita.”

Jihyun memandangi Hyunwoo tidak mengerti, kenapa tiba-tiba kefokusan Hyunwoo terganggu, saat hal lain belum selesai dia bicarakan tetapi mengganti topik begitu saja.

“Hyunwoo, dengarkan aku..”

Hyunwoo mengusap rambut Jihyun dengan sesekali tersenyum,

“Sungguh aku tidak apa-apa jika kau memang ingin kembali, aku berusaha untuk bisa memasak agar suatu saat ketika kau kembali pada Seokjin, aku bisa membuat makanan untukku juga Hyunji, aku juga sudah bisa merawat Hyunji dengan baik, dan lagi jika aku kesulitan kembali untuk memasak sesuatu aku bisa membuka situs cooking class milikmu. Dan aku minta biarkan Hyunji bersamaku, karena suatu saat ketika kau benar akan pergi aku bahkan tidak tau bagaimana perasaanku jadinya, terlebih jika kau membawa Hyunji aku akan merasa kehilangan dua orang sekaligus,”

Jihyun menangis sejadinya saat Hyunwoo baru saja selesai mengatakannya, entah kenapa dia kini merasa sangat sakit hati ketika ucapan itu Hyunwoo katakan padanya, mungkin memang benar jika Hyunwoo marah, tetapi dia hanya tidak pernah memikirkan jika Hyunwoo akan mengatakan hal demikian

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Aku hanya tidak tega melihat Sungjin, tetapi aku juga memikirkan bagaimana Hyunji jika tanpa dirimu, semakin kesini aku merasa jika aku adalah suatu penghalang untukmu dengan Seokjin,”

Jihyun tidak pernah melihat Hyunwoo menangis sebelumnya, tetapi kali ini dia benar-benar melihatnya. Hal itu seketika membuatnya memeluk Hyunwoo sangat erat,

“Aku sudah mengambil jalanku, kau dan Hyunji adalah masa depanku tapi kenapa kau malah berpikir seperti itu tentang aku? Aku tidak ingin Hyunji merasakan nasib yang sama seperti Sungjin, walaupun aku tidak bersama Seokjin, aku akan tetap memperhatikan Sungjin, bukankah hubungan ibu dan anak itu tidak bisa di putuskan? Kau sendiri yang mengatakan hal itu padaku,”

***

Choi Jihyun POV

 

Aku sedikit terkejut ketika melihat mobil Seokjin tiba-tiba di pakirkan di depan halaman rumahku, beberapa saat setelahnya aku melihat Seokjin juga Sungjin keluar dari dalamnya, Sungjin memelukku ketika aku baru saja membukakan pintunya untuk mereka.

“Eomma!!” Panggilnya, aku menahan tangisku kali ini. bagaimanapun aku tidak ingin menangis di hadapan Sungjin.

“Siapa yang datang sayang?” Tanya Hyunwoo yang tiba-tiba keluar dari arah ruang tengah,

“Dokter Son..” Sapa Sungjin dengan sedikit menunduk saat melihat Hyunji yang sedang dalam gendongan Hyunwoo

Hyunwoo menghampiri Sungjin dan mengelus rambutnya beberapa kali,

“Kim Sungjin? Aku dengar kau sedang demam? Apa kau sudah baikan?”

Sungjin mengangguk dan terlihat memaksakan diri untuk tersenyum, dia begitu berusaha untuk tidak menangis, hal itu sangat membuatku tidak tega pada putra pertamaku,

“Aku sudah baik-baik saja dokter Son..”

Sungjin diam beberapa saat, sebelum akhirnya kembali bertanya pada Hyunwoo saat dia cukup lama memandangi Hyunji,

“Apakah itu benar ketika appa mengatakan jika eomma sudah menikah dengan dokter Son?”

Aku tidak dapat mengatakan apapun saat ini, saat Sungjin terlihat hampir saja menangis. Dan inilah satu-satunya alasanku takut untuk menemui Sungjin, takut sekali lagi melukai perasaan putraku yang masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan orang dewasa.

Sungjin menunduduk, dia bahkan terlihat tidak sanggup untuk menatapku sebagai ibunya sendiri.

“Maafkan aku eomma, sejak saat itu aku tidak pernah tau jika kau adalah ibuku, aku tau itu membuatmu sedih”

“Kenapa meminta maaf seperti itu? Kim Sungjin, itu bukan salahmu”

Sungjin tersenyum saat mendengarnya, dia tiba-tiba berjalan mendekat pada Hyunwoo, tangan kecilnya begitu erat menggenggam tangan Hyunwoo, Hyunwoo sedikit berlutut untuk mensejajarkan posisinya dengan Sungjin.

“Dokter, ketika ayahku mengatakan jika ibuku sudah menikah dengan dokter aku kira ayahku sedang berbohong, aku selalu memintanya untuk mengantarku menemuimu, aku ingin memastikan jika ayahku tidak sedang berbohong padaku,”

Aku melihat Hyunwoo beberapa kali menghapus air matanya tanpa bisa berkata apapun,

“Aku tau jika kau adalah orang yang sangat baik. Aku bukannya tidak senang jika saat ini kau hidup bersama ibuku, sesungguhnya aku sangat ingin jika ibuku dan ayahku tidak berpisah, tapi aku tidak ingin melihat ibuku bersedih seperti saat itu, mungkin ayahku secara tidak sengaja membuatnya sedih, meskipun tidak sengaja tetap saja itu sangat menyakitkan untuk ibuku, oleh karena itu aku tidak ingin ibuku merasakan hal itu lagi,”

Aku menangis kali ini, sungguh aku tidak percaya jika Sungjin begitu memikkirkan perasaanku. Bahkan Hyunwoo tidak bisa lagi menahan tangisnya saat mendengar anak seusia Sungjin mengatakan hal demikian padanya, Sungjin masih terlalu kecil untuk menderita seperti ini.

Hyunwoo menepuk pundak Sungjin beberapa kali,

“Kim Sungjin maafkan aku, aku tidak akan mengambil ibumu, dia tetaplah ibumu, kau bisa menemuinya kapanpun kau mau.”

Sungjin mengangguk singkat,

“Dokter Son, aku menitipkan ibuku padamu. Aku sangat mencintai ibuku, tetapi setelah ini aku akan melanjutkan sekolahku kembali ke Busan, aku tidak ingin melihat ibu juga ayahku menderita ketika aku memaksa mereka untuk kembali bersama, aku melihat jika ibuku bahagia ketika bersama denganmu, terimakasih.” Sungjin tersenyum lalu memeluk Hyunwoo beberapa saat

Seokjin menghapus air matanya, lalu mendekat pada Sungjin membuat namja kecil itu melepaskan pelukannya dari Hyunwoo, kini dia memeluk Seokjin sangat erat,

“Appa, aku mencintaimu”

^_^THE END^_^

 

Sekali lagi terimakasih banyak untuk readers yang masih mau membaca fanfic saya, dan sekali lagi maaf atas segala banyak kekurangan dalam penulisan, ending yang bahkan saya sangat tidak puas, tetapi jujur saya sangat kesulitan dalam menuliskan part ending!! Saran dan komentarnya Author tunggu ya!! Talanghae!! ^_^

 

Advertisements

60 thoughts on “Last Memories 2

  1. Akhirx update!!!
    hiks hiks aku benci baca terakhirx napa jihyun g balik sama jin? kasian sungjin
    tiba” ada member monstax?
    tapi hyunwoox baik banget, suami impian, jg kasian hyunji,
    aaarrrggghhhh thorrr aq bingung napa bisa author bikin jalan cerita serumit ini? aku suka cuma g pernah kepikiran kalo squelx kek gini :((
    fighting thor, aku slalu tungguin ff mu.. ditunggu next ff nya, DAEBAK!!

    Like

  2. Aku suka sekali ff ini jg ff sebelumnya yg last memories, akhirnya author update lagu =”)
    aku suka sluruh karakter dr castnya lalu di part ini tbtb ada shownu aku jg suka monstax thor kkkk
    nangis bca endingnya, cuma suka lihat gimana seokjin jd ayah lihat shownu jd ayah,
    di balik, pdahal jin yg dokter ini malah shownu, konfiknya cukup rumit aku suka >_<

    Like

  3. Aku udah tunggu ff ini lama tapi knp endingnya begini??? knp g balik sama seokjin? endingnya bikin nangis lagi, aku kira happyend Y_Y
    author nambah cast jg, jd gk ketebak kl ternyata jihyun udah nikah sama hyunwoo di saat istrinya seokjin udah meninggal,
    ini kamvret moment :”)
    tapi aku suka thor jln cerita yg ga biasa kayak gini, kereeeennnn…….

    Like

  4. Kak tanggung jawab, ffmu bisa bikin aku nangis 😂😂 ..
    Bagus bagus,keren,kata katanya sempurna, 👍👍👍👍 aku kasih banyak jempol ..
    Apa ini nanti ada sekuelnya lagi? aku rasa cerita ini belum kelar ? 😄😉

    Like

  5. Aq bnr2 terharu baca part ini
    seokjin harus jd single parent krn jihyun sudah terlanjur menikah sama hyunwoo
    kasian anaknya
    ini endingnya masih gantung kak, apa memang disengaja gini?
    bagus serius, konfliknya ribet jd tiap cast merasa bersalah satu sama lain
    yok tar lebaran biar castnya maap maapan ;_;
    daebak!! aq suka

    Like

    1. Annyeong.. terimakasih sudah baca, hahaha iya gantung ya? Gk di sengaja kok sebenernya author lagi cari timing yg pas buat part penjelas, dan ini masih bingung cara menjelaskannya😆

      Like

  6. Yeay….. akhirnya FF ini Happy Ending , mengharukan sekali mendengar anak umur 10tahun berbicara sebijak itu apalagi masalah orang dewasa , Sung Jin jjang!
    Hyunwoo suami yang baik hati dia selalu tersenyum menghadapi masalah tapi dia selalu ngambil keputusan sendiri . aku ngelihat hyunwoo agak cemburu dan sengaja belajar memasak hahahaha
    Aku ngerasa disini cerita tentang ayah dan anak yang mengharukan , Jin dengan Sugjin yang seperti teman ketimbang ayah dan anak dan Hyunwoo dengan Hyunji yang sangat imut hehehe
    good job thor 😀😀👍👍
    (Padahal udah dari tadi komen tapi gak masuk2 gara-gara jaringan eror)

    Like

    1. Annyeong author-nim hahaha iya bosen kalo terus terusan sedih, kan ya Jihyun butuh bahagia XD
      Iya anaknya seokjin kan ceritanya jadi anak yg pinter jadi pikirannya sudah dewasa gk kayak papanya yg masih kekanakan(?) XD
      Iya hyunwoo suami idaman sekali, sampe rela belajar masak😂 iya aku memang lebih ngutamain part ayah dan anak di sini XD hahaha terimakasih ya author-nim komennya XD

      Like

  7. Lama sekali ini baru post? ini bgs thor aku sampe ikut nangis bacanya
    ini sungjin uda gede mamax nikah lg sama org lain, dia makin dewasa di usia yg masih segitu, pelajaran hidupx dapat bgt, kasian jg kl hyunji yg masih kecil hrus ditinggal jihyun balik ke seokjin, ihh geregetan, seokjin kelamaan sih dulu, skrg jihyun uda punya suami jg anak mlh baru di cari >…<

    Like

  8. Sumpah thor, pasangan ayah & anak disini lucu sekali, aku ngakak jg waktu jihyunnya godain hyunwoo, wkt sungjin ngatain seokjin masakan namja sejati,
    aku ngga mau komen yg sedih2nya
    intinya di part ending aku nangis nangis
    JOAH.. ff yg penuh warna, kyk bener2 real life

    Like

    1. Annyeong, terimakasih sudah baca. . Hahaha yup benar sekali, di part ini author sengaja buat menunjukkan bagaimana pasangan ayah dan anak biar gk pening sama Angst yg sedih dari awal hingga akhir.. Alhamdulillah, ini hanya imajinasi yg memang di awali dengan reallife di part sebelumnya Last Memories

      Like

  9. Kak sandra, ini ff fav ku….
    aku suka dr awal tp kkak updatex lama sekaliii
    akhirnya jihyun memilih hyunwoo jg hyunji, aku kasian banget liat sungjinx tp hyunwoo terlalu baik untj di tinggalkan,
    seandainya aku jd jihyun mungkin pilih hyunwoo cz seokjin kurang berjuang buat cintax sm jihyun, lagian hyunji masih kecil kl di tinggal ibunya,
    sungjin sudah gede, cowok lagi
    tp cinta pertama memang susah huhuu idex buaguuusss badaiiii

    Like

    1. Annyeong Giska, wah terimalasih sudah suka ff ini dan maaf lagi buruk mood nulisnya 😂 hahaha iya itu kan kasihan kalo hyunji yg masih kecil di tinggal? Cewe pasti butuh banget sama ibunya XD

      Like

  10. Huuuaaaaa kakaaaa sandra comeback!!! huuu kangen sekali sama ff mu kk 😦
    aku suka comeback tiba2 udah ada last memories 2 udah di tunggu dari dulu,
    kaakk km ganti biassss??? km selingkuh dari jin oppa ya? jin oppa buat aku, yuk nak sungjin sama mama/?
    hiks..hiks TT_TT sumpah ga tega liat sungjin disini, tp suaminya jihyun baik banget,
    kk sandra sukses bikin aku yg awalnya mau benci hyunwoo ga jd benci,
    dia terlalu baik utk di benci,
    ini semua salah jin oppa, huuuuhhh paboo kan jihyun di ambil orang,
    lucu lihat hyunji sama hyunwoo, perjuangan hyunwoo bisa masak demi hyunji jg antisipasi kl jihyun balik sama jin, entah aku iriiii sekali sm jihyun yg di kilingin suami jg mantan suami tampan, anak yg lucu lucu
    sesak, mimisan, baca ini nangis mewek jg ngakak..
    jalan ceritamu selalu ga ketebak kak, ini keren.. ga bosenin bahkan klo ini ada squel lagi aku yakin ga bosenin =”))

    Like

    1. Annyeong dek, hahaha maaf ya lama… iya kangen kamu muncul di komen mnjfanfiction lagi😂 hahaha aduhhh enggak, Jin tetep biasku dek, aku nambah shownu aja😂 jangan ambil seokjin juga sungjin ku😂
      Eh… jangan benci hyunwoo, dia baik banget hahaha iya untung kamu gk benci hyunwoo,
      Hahaha alhamdulillah, nanti kalo sempet, tak bikin part penjelasnya dan kalo panjang2 banget takutbya jadi sinetron(?) XD

      Like

  11. Squelnya bagus bnget!!
    AIGOOOOO AKU MEWEEEKKK
    author, feel ayah-anaknya dapat banget,
    ayah ayah kece ini namanya,
    next ff aku tunggu thor!! \(^_^)/

    Like

  12. Kya!!! Akhirnya squelnya ada…. nungguin lamaaaaa thor,
    kok jd gini? jihyun udah nikah lagi sungjin kasian sampe bunuh diri, tp suaminya jihyun baik banget kasian jg anaknya yg cwe itu kl di tinggal,
    ceritanya bikin nngis, cerita ayah & anaknya lucu.. SUKA SEKALIII, keepwriting authornim..

    Like

  13. nangis kaaaakkkk
    GUILAAAA INI LANJUTANNYA KENAPA GINIII??? tak kira balik ke seokjin tibatiba ada hyunwoo
    ohmy author tanggung jawab aku nangisss
    sungjin nak… fighting!!
    author kereeeennn deh, cerita yg luarbiasa
    ayah anak disini bikin terharu,
    MAU SQUEL LAGIII INI KURANG….
    Keepwringing kakaak sandra :33

    Like

    1. Annyeong, maaf idenya memang gini hahaha kalo balik ke seokjin mainstream dong(?) Maaf jangan nangis hahaha, Alhamdulillah ya terimakasih.. di tunggu saja kalo sempet aku bikinkan part penjelas..

      Like

  14. Waahh keren keren endingnya aku dibikin nangis lagi sm fanficmu T-T
    eonni aku last memories di bajak y? hati” yg ini di bajak lg kkkkk
    keep writing!! lanjutkan, ff sandra eonni memang daebak jd di plagiat
    lucu lihat hyunwoo jg hyunji, seokjin sungjin tapi endingnya nyessss >>__<<

    Like

    1. Annyeong, hahaha terimakasih sudah baca, wah.. iya di bajak dek.. bantu info ya temen2 yang lain biar hati hati, takutnya nanti makin bnyak pembajak pembajak karya orang laib di luar sana, kasihan nanti author-authornya.. alhamdulillah kalo suka ya tapi tidak seharusnya di bajak kan? Insyaallah ini gk dibajak, kalo di bajak lagi ya insyaallah akan ketahuan lagi sama readers lain yg sudah antisipasi XD

      Like

  15. Author comeback!!!!
    HUH.. ff ini uda lama sekali aku tungguin, aku berharap jihyun balik sama seokjin tp author punya rencana lain/?

    Tolonggg thor aku nangis baper, kenapa author seenaknaya sendiri nambah cast dan ffnya susah ditebak???? #Digampar wkaakakkakak sumpah ini keren, kayak g pernah kehabisan ide bikin yg baca nangis ya?? Goodjob

    Like

    1. Annyeong, hahaha maaf ya baru sempet nulis lagi, mood nulis lagi buruk.. iya kalo sama seokjin lagi mainstream dong? XD
      Alhamdulillah hahaha aslinya kehabisan ide loh, ini ngumpulin idenya aja sedikit lebih sedikit XD

      Like

  16. Annyeong Author-nim perkenalkan aq readers baru, ceritanya bgus thor q suka
    bikin nngis, gregetan, jg terharu
    boleh squel lagi? ini blm puas u-u
    jjang author-nim!!

    Like

  17. Hii author sandra uni ^^
    Seneng bisa baca ffmu lagi heheh
    Ini ceritanya bagus un, meski g sedalam yg pertama tp ini juga dpt konfliknya kkkk ada pendatang baru ^^ sapa namanya q lupa shonwo? Itulah pokoknya
    Karakter itu yg bikin ff ini hidup dan ceritanya segar kkkk seperti biasa q sempet kaget klo si jihyun udh punya pasangan ^^ yay syukurlah
    Dan akhirnya semua jelas ^^
    Okay itu aja heheheh
    Keep writing ya uni

    Like

    1. Annyeong Author-nim hahaha iya.. maaf ya lama gk nulis jadinya update-an di WP sering kosong.. syukurlah Shownu disini dewa keberuntungan XD iya dia sangat berpengaruh juga dalam penentuan cerita, iya author-nim lanjutjan juga karyamu!!! 😘

      Liked by 1 person

  18. Baguus, pengen ada squel lagi
    disitu knp gak dijelaskan alasan ortu jin jg jihyun gk restuin mereka thor??
    lanjutkan plisss :”(

    Like

  19. Squel 2 akhirnyaaaaaaa
    lama sekali g update ff kak? last memories awal itu keren bahkan sangay kuereenn tapi aku bacanya campur nangis jg sakit hati gitu baper kak,
    dan last memories 2 ini tidak seberapa sedih, aku bacanya seneng, kebahagiaan jihyun di mulai karena son hyun woo,
    jujur aku lbh suka part 2 krn aku suka lihat jihyun bahagia karena aku ikut rasain jd jihyun disini,
    kelakuan hyunwoo jg hyunji sumpah bikin terharu, penyesalan seokjin itu paling suka wkt dia baru sadar kehilangan jihyun
    tapi sungjin huuuhuuhuhuhuu gak tegaaaa Y-Y
    daebak kak, ff ini lumayan mengobati sakit hatiku di ff last memories,
    keep writing kak sandra!! <3<3<3

    Like

    1. Annyeong, maaf ya lama.. iya bener nangis doang ya yg pertama? Iya setuju, aku juga suka yg ke 2 soalnya jihyun sudah bahagia, hahaha akhirnya… ada yh sakit hatinya di Last Memories terbayar sudah sama Last Memories 2
      Thanks ya!!!🙆

      Like

  20. Baca ini kayak makan permen nano nano, MANIS ASEM ASIN…
    ASEEEMM banget nentuin pilihan,
    MANISSS banget suaminya
    ASINNN air mata gue masuk mulut thor
    super daebak

    Like

  21. unnieeee, q baca ff nie pas dirumah km n nangisx jga dirumah km,
    nyesek unn, gk nyangka sungjin bsa ngomong bijak kyk gt, salut bgt q ma sungjin, dy masih kecil tp dy tegar menghadapi khidupan dlm kluargax,
    ktax gk bsa milih antara seokjin n shownu tp dsni km trxta lbih mlih shownu, hhhh peace bercnda, q tw nie cma di ff doank, lq di nyata, km gk bsa milih diantra mereka berdua,
    ahhhh unnie, q lagi asyik baca ff km, km mlah tidur ngebiarin q yg manis nie sendirian *narsis*,,, hhhhhhh (abaikan),.. ff yg bagus unn, n teruslah berkarya buat ff yg bagus n lbih bagus lagi, fighting unn

    Like

    1. Hahaha aku habis nangik karena nilai perpajakan kan ini?? Maap lah jadi kan ketiduran di peluk seokjin shownu hahaha iya anaknya siapa dulu?? Anakku sama anaknya seokjin gitu kan daebak!! XD

      Like

  22. Woah….. /usap usap mata/ Hhhuufftt aq baru saja nangis lihat sungjin gitu
    author ini bagus lanjutannya.. maaf aq baru komen disini soalnya di last memories aq baru baca minggu lalu, merasa gagal telat komen/?
    aq berharap ada kejelasan di ff ini, tolong thor masih penasaran /mewek/ :”(

    Like

    1. Annyeong!! Terimakasih sudah baca!! Hahaha masa masih kurang jelas sih?? Yup gomawo ya sudah baca… last memories awal sudah lama memang bisa di maklumi jika komennya langsung disini hehehe

      Like

  23. DAEBAK…. SUNGJIN!! JOAH-YO SAMPE NANGIS LOH THOR!!!
    JJANG.. sungjinnya aduh bikin nangis jg merinding. Hyunwoo baiiiiiikkkk banget, seokjin jg baik loh krn dia dulu jaga perasaan istrinya,
    semua serba salah krn ortu jin jg jihyun..
    pembawaannya keren thor, ngga melulu sedih, masih bisa senyum lihat hyunji jg hyunwoo

    Like

  24. Wohaa sungjin keren =”)
    thor aq mau tau gimana nanti sungjin & hyunji pas sudah gede ^_^
    kalo berkenan, next nya di tunggu thor
    Author sandra JJANG….!!!!!!

    Like

  25. Cerita yg ga biasa
    aku kasihan sungjin, ank sekecil itu jd korban perpisahan orang tua
    bagus thor, idex keren..
    cuma yg last memories lbh nangis jg sakit hati, kl ini lebih ceria lbh slow,
    ttp nangis di part seokjin-sungjin =”)

    Like

  26. Chingu, Mianhae aku br sempet baca ini skrng: (

    Dan berasa nyesel, knp br baca ini skrng. Karena, Sumpah ini keren bgt… feelnya berasa bgt. Aku beneran nangis pas di bagian Hyunwoo yg secara gx langsung nyuruh Jihyun kembali ke Jin. Sumpah itu berasa nyesek bgt klw jd Hyunwoo 😭
    Hyunwoo suami idaman bgt.
    Tp nyesek jg sie liat Jin akhirnya harus jd orgtua tunggal gt.huhuhuhu…
    Endingnya antara nyesek sama seneng. Jd nano nana deh.kekekekek…

    Okeee… mungkin itu aja cuap2ku. Soalnya masih sesugukan nie…nyesek 😭

    Like

    1. Maaf baru sempet bales ya chingu.. aku lama hiatus soalnya baru balik ini.. hahaha gak ala makasih sudah sempet baca..
      Hahaha iya hyunwoo keren disini mau punya suami gitu juga, iya gak tega sama jin hahaha terimakasih

      Like

  27. Annyeong author….
    readers baru, aq pernah baca last memoris dari tmn q dan kepo squelnya
    yg awal lebih sedih yg ini lebih enjoy juga lucu part ayah-anaknya tetep bikin terharu
    bagus thor, suka ide ceritanya ngga ketebak suka banget thor.

    Like

  28. Bagaimana bisa author nulis perasaan sedalam itu? Daebak! Salut bacanya. Perasaannya sangat tersampaikan. Tangisanku pecah -Ah maaf ini sedikit lebay- tapi ini sangat mengagumkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s