Action · Genre · Hurt · Length · PG 17+ · Rating · Romance · Two Shoot

[PROJECT MAN IN LOVE ] AN ANGEL CHAPTER 2


tsara-a-man-in-love-1

Chapter 1

 

Kim Sung Gyu membuka matanya pelan sebelum pada akhirnya ia mendudukkan dirinya. Setidaknya suara berisik yang berasal dari dapur telah mengganggu tidurnya saat ini.

“Ah maaf, apa aku mengganggu tidurmu? Aku baru saja membuatkan sarapan untukmu,” ucap gadis itu dengan senyum lain di wajahnya. Rupanya suasana hati gadis itu membaik kali ini.

“Apa kau pulang sangat larut kemarin? Oh ya, beberapa penduduk memberikan beberapa sayuran kepadaku secara cuma-cuma kemarin lusa saat kau tak ada.” Park Ji Yeon meletakkan beberapa piring makanan di atas meja makan setelahnya ia berjalan menuju Kim Sung Gyu dan menggiringnya sedikit memaksa menuju meja makan mereka dan membuatnya duduk. Kim Sung Gyu membiarkan adanya hal itu. Gadis yang terlihat sangat senang saat ini, sesekali memainkan ujung rambutnya. Ya, rambutnya yang tidak sama seperti saat terakhir bertemu. Rambut bewarna almond tersebut telah berubah menjadi rambut hitam pendek di atas bahu.

“Aku sengaja mengubah tatanan rambutku, jadi mereka tak akan mengenali siapa diriku,” lanjutnya yang kali ini meletakkan beberapa lauk juga sayuran diatas nasi milik Sung Gyu.

“Makanlah, kau pasti tidak memakan apapun sejak kau meninggalkan rumah bukan?”

Park Ji Yeon memberikan sumpit juga sendok pada laki-laki yang berada tak jauh darinya tersebut. Sekali lagi, kali ini Kim Sung Gyu tak menunjukkan penolakan atau kekasaran seperti dahulu. Ia hanya mengambil alat makan tersebut sebelum akhirnya melahap perlahan makanan miliknya. Park Ji Yeon tersenyum senang melihat adanya hal itu, namun sesaat senyumnya kembali pudar saat sesuatu sekali lagi terpikirkan olehnya, tentang apakah laki-laki itu benar-benar membunuh ayahnya kemarin? Jika benar, maka ia benar-benar sendiri saat ini. Kim Sung Gyu sempat mengetahui perubahan drastis gadis itu. Ia juga tahu kemungkinan hal yang tengah mengganjal pikirannya saat ini.

“Tentang apa yang kau minta saat itu, mungkin aku akan memikirkannya lagi,”

Park Ji Yeon yang tadinya berada pada dunianya sendiri lantas tersadar dan kembali memandang laki-laki itu saat laki-laki itu lantas membuka mulutnya kembali. Akan memikirkannya? Apakah laki-laki itu akan benar-benar berhenti dari pekerjaannya selama ini?

“Benarkah? Itu bagus…karena aku tak ingin melihatmu terluka lagi.

Dan saat ini pula aku sangat bersyukur karena kau kembali dengan tanpa luka seperti biasanya,” ucap Park Ji Yeon kali ini bersemangat, namun hal tersebut membuat Sung Gyu tersedak karenanya. Park Ji Yeon yang melihatnya lantas memberikan gelas yang telah ia siapkan sebelumnya cepat.

“Jadi….apakah kita bisa keluar hari ini? M-maksudku kukira kita bisa jalan-jalan jika kau tak keberatan,”

Park Ji Yeon menggigit bibir bawahnya sesaat ia menyelesaikan kalimatnya. Kim Sung Gyu yang baru saja meneguk minumannya, terlihat tak memperdulikannya seperti biasa.

“Baiklah,” ucapnya pada akhirnya. Park Ji Yeon terlihat sedikit terkejut karenanya, namun senyum bahagianya tak bisa ia tutupi lagi.

Ia mengangguk senang. Ia lantas kembali memceritakan beberapa hal tentang desa dimana ia tinggali saat ini. Ya, suasana hatinya begitu baik saat ini, hingga Sung Gyu tak ingin merusaknya. Untuk sekali saja, ia ingin memberikan ruang untuk gadis itu bernafas.

 

 

Kim Sung Gyu tertegun menatap tanaman teh yang menghampar luas. Cuaca Boseong yang begitu dingin, seakan membuat matahari tak ingin terlalu merusak harinya. Kim Sung Gyu tersenyum tipis sesaat matanya tertuju kembali pada gadis yang tengah berlari kecil pada perkebunan tersebut. Senyum gadis itu terlihat selalu mengembang saat ini. Mungkin ini pertama kalinya ia melihat gadis itu tersenyum seperti itu, karena memang selama inilah ia yang seakan merusak kesenangan gadis itu. Masih tertanam dengan sangat baik saat ia membuat gadis itu hampir terbunuh karenanya.

Meski gadis itu selamat, namun tangis yang terdengar dari bibir kecilnya seakan menghantuinya tiap malam.

Namun hari ini, mungkin inilah dirinya yang sebenarnya. Gadis yang terlihat selalu ceria, gadis yang bahkan tak pernah berhenti berbicara, meski ia terdengar sedikit mengganggu, tapi jujur ia menyukainya.

Kim Sung Gyu melambaikan tangannya saat itu sempat menatapnya dan lantas melambaikan tangan padanya sebelum akhirnya ia berjalan menuju dirinya saat ini. Ia menyembunyikan senyumnya, sedangkan kedua tangannya juga terlihat menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.

Ia tertawa kecil sembari meletakkan setangkai daun teh pada cuping Kim Sung Gyu dengan cepat. Ia lantas menahan tawanya saat ini.

“Kau terlihat cantik saat ini,” ucapnya jahil. Kim Sung Gyu tersenyum tipis, entah apa yang dipikirkan gadis itu yang kini terlihat tertawa. Ya, gadis itu terlihat begitu senang hingga ia tak ingin mengganggu harinya.

Kim Sung Gyu mengambil tangkai daun teh yang berada di cupingnya dan lantas meletakkannya pada sela rambut gadis yang kini menertawakannya. Gadis itu terdiam saat Kim Sung Gyu menggenggam salah satu lengannya demi meletakkan tangkai daun teh tersebut dengan baik.

“Kau terlihat lebih cantik dengannya,”

Kedua pipi Ji Yeon tiba-tiba saja terlihat bersemu sebelum akhirnya ia melepas tangkai daun teh tersebut dan berjalan menjauh. Kim Sung Gyu yang mengetahui hal tersebut lantas tersenyum sebelum ia kembali melangkahkan kakinya mengikuti langkah gadis itu. Hal yang selalu ia lakukan hanya mengikuti kemana saja, namun kali ini gadis itu kembali menghentikan langkahnya kali ini. Ia benar-benar terdiam saat ini, ya setidaknya sesuatu terkesan telah menyihirnya kali ini.

“Ada apa?”

Park Ji Yeon yang semulanya terdiam lantas memandang laki-laki yang kini menyampinginya. Ia memberikan seulas senyum miliknya sebelum akhirnya ia menatap kembali apa yang ada di hadapannya.

“Bisa kita pergi ke gereja itu?”

Kim Sung Gyu terlihat terdiam kali ini. Ya, benar saja sebuah gereja dengan bangunan sedikit tua, entah mengapa terlihat megah dengan suara bell khas mereka yang seakan memanggilnya. Kim Sung Gyu menggenggamg kalung miliknya kali ini. Dia ini pembunuh, penuh dosa, bahkan ia tak yakin ia pantas kembali berada di sana saat ini. Bahkan mungkin ia sudah lupa bagaimana cara berdoa.

“Ayolah,” ucap Ji Yeon dengan tanpa ragu. Ia mungkin tahu apa yang tengah dipikirkan laki-laki itu saat ini. Ia lantas menggenggam salah satu tangan laki-laki itu sebelum akhirnya ia menarik laki-laki itu untuk kembali mengikuti langkahnya menuju dalam gereja tersebut dan duduk pada salah satu bangku di sana.

Kim Sung Gyu menatap Park Ji Yeon yang lantas melekatkan kedua telapak tangannya dan membuat genggaman atasnya. Ia terdiam untuk sementara waktu sembari menutup kedua matanya kini. Awal sebuah senyum sempat ia perlihatkan namun senyum tersebut benar-benar menghilang saat ini.

“Dulu, aku, ayah juga ibu selalu pergi ke gereja tiap akhir pekan. Aku ingat, saat itu aku berumur lima tahun. aku akan berada di tengah, ayah akan duduk di samping kiriku dan ibu di samping kananku,” ucap Park Ji Yeon terlihat membuka matanya.

“Namun…setelah ayah menjalani bisnis itu, kami bahkan tak pernah berbicara satu sama lain karena ia terlalu sibuk. Kami juga tak pernah pergi ke gereja bersama. Hanya akan ada aku, ibu juga beberapa orang suruhan ayah untuk melindungi kami.”

“Apa aku harus senang dengan fasilitas yang ayah berikan? Tidak, aku dan ibu adalah satu-satunya orang yang tak mendukung hal itu. Aku dan ibu selalu berusaha untuk menghentikan semuanya, sebelumnya kami pernah melaporkan apa yang dilakukan ayah ke polisi. kami tahu kami begitu gila, karena kami bisa saja juga tertangkap, tapi kami hanya ingin ayah yang dahulu. Ayah yang hidup begitu sederhana sebelum mengenal semua ini.”

“Namun apa yang kami lakukan lantas ia letahui. Awal ia terlihat tak masalah dengan apa yang baru saja apa yang kita lakukan, namun beberapa hari kemudian ia membawa ibu pergi, dengan alasan ada sesuatu yang harus mereka berdua lakukan,”

Park Ji Yeon menatap Kim Sung Gyu dengan kedua matanya yang berair saat ini.

“Hari itu juga yang menjadi hari terakhirku melihat ibuku,” ucap gadis itu kali ini sebelum beberapa bulir air mata terlihat kembali membasahi salah satu pipinya. Kim Sung Gyu terlihat menahan nafasnya saat ia melihat gadis itu kembali menangis di sampingnya.

Entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Bukankah ia dahulu sering melihat gadis itu menangis karenanya? Ataukah kali ini ia harus menenangkannya?

Park Ji Yeon menahan nafasnya dengan harapan tangisnya mereda. Ia mengusap kedua pipinya yang basah dan kembali menatap Kim Sung Gyu. Ia sempat menyunggingkan senyumnya sebelum ia meraih kedua telapak tangan laki-laki itu dan berusaha melekatkannya. Ia kembali mencoba mengatur nafasnya.

“Kau juga harus berdoa untukmu, atau untuk orang-orang yang mungkin tak bisa kau temui saat ini. Kurasa Woo Hyun menunggu doamu saat ini,” lanjut gadis itu berusaha keras menyembunyikan sedihnya kali ini.

“Atau…mungkin kau bisa mendoakan orang tuamu, sama sepertiku,” ucapnya kali ini terlihat sedikit tertunduk.

“Ji Yeon-ah,”

Park Ji Yeon terlihat mengangkat kepalanya kembali saat Sung Gyu baru saja memanggilnya. Laki-laki itu sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menyunggingkan senyum tipisnya.

“Ayahmu masih hidup,”

Park Ji Yeon sempat terdiam. Rupanya ia butuh beberapa waktu untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan laki-laki itu, namun gadis itu lantas terlihat tersenyum kembali sebelum akhirnya ia meraih tubuh laki-laki itu dan memeluknya erat.

“Terima kasih banyak, Kim Sung Gyu,”

 

 

Park Ji Yeon menatap Kim Sung Gyu dari kejauhan. Laki-laki yang tengah duduk sedikit menghadap ke arah bingkai jendela rumah yang setidaknya hampir sepenuhnya ditutupi oleh tirai. Laki-laki yang sengaja melerakkan salah satu senjata laras panjang andalannya dalam posisi siap kali ini, memang tak pernah tidur saat malam tiba. Ini adalah minggu kedua dimana mereka berada di Boseong. Meski laki-laki itu mengatakan akan berhenti dari pekerjaannya, laki-laki itu masih terlihat waspada tiap malamnya.

“Kau tidak tidur?”

“Tidak,” ucap laki-laki itu seperlunya. Laki-laki yang sekiranya mulai menjawab satu persatu pertanyaannya, memang benar telah berubah meski tak sepenuhnya.

“Kau sendiri? Apa kau akan menghabiskan hari ini dengan memandangiku?”

Park Ji Yeon tertangkap basah kali ini. Ia lantas terkekeh pelan.

“Tiap malam kau tak pernah tidur, bisakah kau tidur untuk saat ini saja? Ini Boseong, mereka tak akan mencari kita sampai sejauh ini,”

Kim Sung Gyu membuang nafasnya perlahan. Ia menatap gadis yang berada pada satu-satunya ranjang di rumah dimana mereka berada saat ini.

“Meski ini Boseong, apa kau tak takut jika seseorang datang dan menikammu saat kau tidur? atau bagaimana bila seseorang sengaja memanggangmu dengan membakar rumah ini saat kita tidur?”

“I-itu–” Park Ji Yeon sempat menggigit bibirnya saat laki-laki itu berjalan mendekatinya dan lantas menduduki tepi ranjang dimana ia berada. Kini, ia tak perlu merasa takut saat laki-laki itu mendekatinya.

Entahlah, saat ini ia merasa begitu dekat dengan laki-laki itu, bahkan ia merasa terlindungi hanya berada di samping laki-laki itu.

“Maka dari itu, kau tak bisa lengah dan kehilangan semuanya,”

“Sama seperti waktu itu–” Park Ji Yeon menutup mulutnya yang terdengar lancang saat ini. Kini dirinya yang berada tepat di samping laki-laki itu, terlihat kikuk. Ia menggigit bibirnya yang lancang, berharap semua perkataannya dapat ditarik kembali.

“Aku bertaruh Woo Hyun menceritakannya padamu,”

Park Ji Yeon mengangguk pelan.

“Jae Na gadis yang hebat, mencintai orang sepertiku dan seakan tak peduli dengan resiko yang akan ia terima nantinya,”

Park Ji Yeon menggigit bibirnya. Jujur, ia tak merasa senang saat laki-laki itu menyebut nama gadis itu saat ini, meski ia tahu gadis itu pernah menjadi orang yang begitu penting bagi laki-laki tersebut.

“Jika saja aku tak lengah, jika saja aku ada di sana, jika saja aku selalu bersamanya, semua tak akan terjadi. Jika saja,” lanjutnya yang kali ini terdengar lebih emosional dan sempat membuat Park Ji Yeon kembali ketakutan.

“Mungkin semua orang juga merasakan hal ini saat orang yang begitu penting untuk mereka kubunuh. Dan saat ini aku tengah merasakannya. Aku orang jahat, aku tak pantas mendapatkan dirinya yang terlalu baik,”

“Tapi kau tidak sepenuhnya jahat,”

Kim Sung Gyu menatap Park Ji Yeon yang menghentikan kalimatnya kini. Gadis itu menyunggingkan senyumnya saat mata Sung Gyu terlihat sendu kali ini. Park Ji Yeon menyentuh kalung berbentuk salib dengan sepasang sayap yang selalu laki-laki itu kenakan selama ini.

Entah berapa lama kalung tersebut menjadi saksi bisu hidup laki-laki itu. Kalung yang seharusnya menjadi simbol kesucian entah kenapa berada di leher laki-laki yang bahkan tak bisa dikatakan demikian.

“Angel. Mereka menyebutmu angel,” ucap Ji Yeon lembut. Ji Yeon menatap kilatan kedua mata Sung Gyu yang juga menatapnya.

Rumah yang kini hanya bertumpu pada sinar bulan kini membuat rumah tersebut terlihat sunyi.

“Malaikat kegelapan ataupun malaikat pencabut nyawa, aku tak peduli itu. Kau akan selalu menjadi buruk saat kau mengiyakan itu, namun malaikat tetap saja malaikat, kau tak tahu jenis apa mereka. Menjadi baik atau tidak, itu hanya sebuah pilihan,” ucap Park Ji Yeon kali ini.

“Kau tak bisa membiarkan dendam menguasaimu. Percayalah, kau bisa menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari ini,” lanjut gadis itu.

Matanya masih saja menatap kilatan mata gelap laki-laki itu. Mata yang terasa dingin itu, seakan membiusnya, membuatnya ingin selalu menatapnya. Park Ji Yeon tersihir. Mereka terdiam sejenak sebelum akhirnya Park Ji Yeon dengan lembut menyentuh bibir laki-laki itu dengan miliknya lembut sekian detik. Entah apa yang ada di dalam dirinya, namun ia seakan tak kuasa ingin menyentuhnya walau hanya sekali. Ia menyukainya? Entahlah. Yang ia tahu ia hanya tak ingin laki-laki itu terluka karenanya atau menyebut nama gadis lain dan ingin hanya laki-laki itu yang berada di sampingnya.

Kim Sung Gyu yang awalnya terdiam dan membiarkan apa yang gadis itu lakukan padanya lantas menahan tubuh gadis itu untuk kembali menyentuh bibirnya dan memperdalam tautan mereka saat akhirnya gadis itu berada tepat di dalam kuasanya. Bahkan tautan tersebut sangat dalam sebelum akhirmya mereka benar-benar dimabukkan dan ingin malam itu hanya milik mereka berdua.

 

 

Kim Sung Gyu menyembunyikan senyumnya saat ini. Park Ji Yeon terlihat kesusahan dengan apa yang ia lakukan dengan sesuatu di dapur mereka. Park Ji Yeon yang terlihat setengah menyerah itupun terkadang mengumpat pelan sebagai salah satu bentuk kekesalannya.

Kim Sung Gyu lantas beranjak dari dimana ia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju Park Ji Yeon pelan dan sedikit mengendap. Ia lalu menepuk bahu gadis itu sedikit keras dan benar saja Park Ji Yeon saat ini bertambah kesal akibat rasa terkejutnya.

“Kau ingin membunuhku?”

“Tidak, belum saatnya karena kau belum menyiapkan makan siangku.”

Park Ji Yeon menatap pasrah pada beberapa lembar rumput laut yang berada tangannya juga beberapa kimbab yang tak berbentuk pada meja makan mereka. Kim Sung Gyu menahan tawanya.

“Ada apa?” tanyanya sedikit menggerutu. Kim Sung Gyu hanya menggeleng pelan.

“Bagaimana seorang perempuan tak bisa membuat kimbab?”

“Aku pernah belajar membuatnya dengan kepala pelayan di rumah, tapi hingga sekarang aku tak bisa melakukannya,” ucap Park Ji Yeon yang kembali mengerucutkan bibirnya. Kim Sung Gyu tertawa pelan sebelum akhirnya ia melipat kedua lengan bajunya sebatas siku dan tampil bak seorang chef handal. Oh ayolah ia sebenarnya tak bisa memasak. Woo Hyun lah teman satu-satunya yang dapat memasak, namun membuat kimbab bukan urusan yang sulit untuknya.

Kim Sung Gyu lantas mengambil lembaran rumput laut tersebut sebelum mengisinya dengan beberapa sendok nasi dan lauk pauk yang telah disediakan, setelahnya laki-laki itu menggulungnya dengan begitu rapi.

“Wah daebak! Bagaimana kau bisa melakukannya?”

“Mudah, haruskah kau berguru padaku?”

Park Ji Yeon mengangguk antusias. Ia lantas mengambil lembaran rumput laut itu dan menunggu instruksi selanjutnya dari laki-laki itu.

Kim Sung Gyu mengembangkan senyumnya. Ia sempat mengingat bagaimana ia seakan melarang dirinya tersenyum namun kini senyumnya tak henti-hentinya mengembang di wajahnya.

“Letakkan nasinya seperti ini,” ucap laki-laki itu yang lantas meletakkan beberapa skop nasi. “Letakkan lauk pauknya dan gulung kuat-kuat seperti ini,” lanjutnya sebelum akhirnya ia menggulungnya dengan kuat-kuat.

Kini giliran Park Ji Yeon yang mencobanya. Ia meletakkan beberapa skup nasi sebelum ia meletakkan lauk pauknya. Kim Sung Gyu tersenyum saat gadis itu terlihat berusaha saat ini.

“Tidak Jae Na ah, kau harus menggulungnya dengan seperti ini,” ucap Kim Sung Gyu yang membantu gadis itu menggulungnya dengan kuat. Park Ji Yeon terdiam saat laki-laki itu kembali menyebut nama yang haram laki-laki itu sebutkan.

Park Ji Yeon menundukkan kepalanya saat laki-laki tak lantas menyadari apa yang baru saja laki-laki itu katakan. Laki-laki yang kini tengah memotong-motong kimbab tersebut menjadi bagian terkecil, terlihat begitu tenang. Ini bukan pertama kalinya laki-laki itu salah memanggilnya, atau sering menyebut nama itu di hadapannya, dan beginilah reaksinya, ia seakan tak merasa salah atau canggung saat ia melakukan kesalahan yang sama.

“Jae Na,” ucap Ji Yeon mengulang nama itu begitu pelan, namun Kim Sung Gyu berhasil mendengarnya dengan baik. Ia meletakkan pisau yang ia genggam dan terlihat menarik nafasmya dalam-dalam.

“Maaf,”

Mereka terdiam.

“Apa selalu nama itu yang kau ingat?”

Kim Sung Gyu menatap Park Ji Yeon yang enggan menatapnya saat ini. Ia mencoba menyunggingkan senyumnya agar suasananya melunak.

“Sudah kubilang, aku minta maaf.” Park Ji Yeon menepis tangan Sung Gyu yang terlihat mencoba meraih lengannya. Ia sadar, ia melakukan kesalahan ini berulang dan ia tahu bahwa Ji Yeon tak menyukainya.

“Kau selalu mengingatnya. Apakah memang hanya nama itu yang kau ingat?”

Kim Sung Gyu memalingkan wajahnya. Park Ji Yeon lantas menggigit bibir bawahnya.

“Apa tidak ada yang kau pikirkan selain dirinya?” Suara Park Ji Yeon terdengar menuntut kali ini. Kim Sung Gyu masih terdiam. Park Ji Yeon terlihat mencoba menyembunyikan rasa kecewanya saat ini.

“Tapi…dia adalah bagian dari masa lalumu,”

“Sudahlah.”

Memang selalu seperti ini. Laki-laki itu masih mengingatnya.

Mengingat gadis itu dan seakan tak pernah melihatnya. Dan seakan tak memiliki harapan untuk masa yang akan datang. Apakah ia tak tahu bagaimana perasaannya saat ini?

“Apa saat itu…saat kau melakukannya, kau juga mengingatnya?” Suara Park Ji Yeon terdengar bergetar saat ini. Ia berusaha menahan tangisnya kali ini. Kim Sung Gyu terlihat mencoba untuk tidak peduli.

“Jawab aku.” ucap gadis itu dengan intonasi yang meninggi dan terdengar menuntut saat ini. Kim Sung Gyu dapat melihat gadis itu berkaca-kaca dan pada akhirnya air matanya perlahan terjatuh. Kim Sung Gyu mencoba untuk tidak peduli untuk kesekian kalinya.

“Ya,” jawabnya pelan. Park Ji Yeon mencoba mengatur nafasnya saat tangisnya akan pecah saat ini. Sebuah kenyataan yang begitu pahit untuknya. Sebuah kenyataan bahwa laki-laki itu memang tak pernah melihatnya, sebuah keyakinan bahwa semua ini adalah salah satu bentuk cinta sepihaknya.

“Tapi kenapa? Kenapa kau seakan tak melihatku? Kenapa…kenapa semua terasa menyakitkan?” Park Ji Yeon terdengar parau. Tangisnya benar pecah saat ini. Kim Sung Gyu mencoba menahan nafasnya dan mencoba kembali memalingkan wajahnya.

“Kalau semua terasa menyakitkan, kenapa kau lebih memilih untuk selalu bersamaku? Bukankah kau selalu menderita karenaku? Aku selalu menyakitimu bukan?”

Park Ji Yeon terdiam meski tidak untuk air matanya. Ia kemudian terlihat tersenyum. Senyum yang lebih terlihat begitu menyedihkan saat ini. Ia mengangguk di dalam tangisnya. Ia berusaha mengusap air matanya yang susah ia kontrol.

Apakah laki-laki itu benar tak peduli terhadapnya? Apakah laki-laki itu tak tahu bagaimana tentang perasaannya? Ataukah sebenarnya ia tahu tapi ia berpura-pura seakan tak mengetahuinya? Tapi kenapa…semua terasa begitu menyakitkan.

Sebuah kenyataan baru, oh tidak….bukan sebuah kenyataan baru. Ia adalah orang yang bodoh, orang yang terlalu naive, orang yang begitu percaya akan adanya cinta di antara mereka. Ia tahu ia yang bodoh.

Laki-laki itu memang tak pernah mencintainya. Laki-laki itu bukan bermaksud melindunginya, ia hanya tak ingin dirinya terbunuh dengan cara selalu membawanya serta. Laki-laki itu hanya menganggapnya hanya seorang tawanan. Tak lebih.

Park Ji Yeon masih mencoba menahan tangisnya. Tangis kebodohan, tangis kebingungan, tangis akibat rasa malunya. Park Ji Yeon menarik nafasnya sebelum akhirnya ia melepaskan celemek yang ia kenakan dan membuangnya asal. Ia menghapus air matanya, sekedar memperjelas pandangan laki-laki yang entah bisa ia sebut apa saat ini. Menatapnya tanpa rasa takut, menatapnya dengan segenap rasa bencinya yang tiba-tiba datang padanya. Park Ji Yeon menarik nafasnya sebelum akhirnya ia berjalan pergi dan sempat membanting daun pintu dengan begitu keras. Ia pergi meski bagian terkecil darinya ingin laki-laki itu mencegah danemintanya untuk kembali. Tapi ia tahu, hal itu tak mungkin terjadi.

 

 

“Sampai kapan kau akan melindunginya?”

“….”

“Sampai kapan?”

“Aku tidak melindunginya,”

“Apa kau baru saja berbohong? Orang bodoh pun tahu kalau kau melindunginya,”

“….”

“Apa kau semata-mata teringat pada Jae Na? Bukan karena sesuatu kau rasakan tentangnya?”

“Apa maksudmu?”

“Bagaimana jika sebuah teori dimana kau hanya teringatkan pada Jae Na namun pada nyatanya, memang ada sesuatu kau rasakan tentang gadis itu,”

“Kesimpulan bodoh,”

“Kau hanya belum menyadarinya. Tapi jika kau tahu perasaanmu yang sebenarnya akankah kau tetap melindunginya?”

“Perasaan apa?”

“Perasaan dimana kau hanya ingin melindunginya, berubah menjadi perasaan kau berani mati hanya untuknya,”

.

.

.

.

.

 

Kim Sung Gyu berdecak. Ia memukul benda bundar di hadapannya mencoba untuk menenangkan dirinya. Kini ia sedang mengemudi. Ia mencoba untuk tetap fokus saat ini.

Perasaan dimana ia berani mati untuk gadis itu?

Ia masih belum paham apa yang dikatakan Woo Hyun kala itu.

Apakah ia membicarakan tentang kemungkinan dimana ia menyukai gadis itu? Apakah ia benar menyukai gadis itu saat ini?

Gadis yang tak lebih dari sebuah pemgacau. Gadis yang begitu berisik. Gadis yang bahkan selalu menangis itu? Ya, bukankah ia selalu melihat gadis itu menangis karenanya? Mungkin lebih baik gadis itu memang pergi darinya. Hingga ia bisa bernafas lega, hingga ia bisa tersenyum seperti saat mereka keluar bersama saat itu, tiap harinya.

Gadis itu tak layak untuknya. Tak layak jika bersamanya. Tak layak dengan seorang pembunuh bayaran keji sama sepertinya. Ia butuh ruang. Ya, untuk pergi dari kekacauan ini. Kekacauan yang sebenarnya ia buat sendiri.

Seperti saat tadi, dimana beberapa penduduk desa mendatanginya dengan penuh panik dengan sebuah penjelasan dimana Park Ji Yeon diculik oleh beberapa pria bertuxedo, tepat setelah gadis itu keluar meninggalkannya.

“Bodoh!”

Apa ia harus peduli dengan hal itu saat ini? Apa ia benar berani mati hanya karenanya? Ia mungkin gila saat ini. Sangat gila. Tapi ia sudah mencoba melindungi gadis itu sejak saat itu, dan apakah kini ia akan membiarkan gadis itu terbunuh?

Kim Sung Gyu menghentikan mobilnya cepat. Saat sebuah bangunan begitu ia hafal. Sebuah tempat yang ia hindari sejak dulu. Namun kini bodohnya ia seakan menyerahkan dirinya. Benar, kantor polisi.

Beberapa orang menatapnya takjub namun mereka juga terlihat ketakutan dalam satu waktu. Kim Sung Gyu tak peduli akan hal itu. Ia hanya perlu menemukan satu orang yang selama ini seperti ingin memburunya. Dan ya, kini laki-laki itu tepat berada di hadapannya.

“A…angel?” Laki-laki yang berdiri di hadapan Sung Gyu menyerinai penuh panic, namun ia berusaha untuk menutupinya. Kim Sung Gyu tak merespon. Mungkin laki-laki itu dan semua orang tahu siapa dirinya akibat kalung yang ia kenakan sebagai sebuah ciri khas darinya.

“Aku ingin membuat sebuah perjanjian,” ucap Kim Sung Gyu lantang.

“Perjanjian?”

“Gadis itu diculik. Aku butuh bantuanmu,”

 

 

Pria berumur 50 tahunan lantas tersenyum tipis saat seorang gadis yang berada tak jauh di hadapannya terlihat tenang dengan sebuah kantung kain bewarna hitam yang menutupi keseluruhan wajahnya.

Gadis yang entah terlihat tenang padahal dengan kondisi kedua tangannya juga kakinya terikat pada sisi kursi yang tengah ia duduki.

Pria berumur 50 tahunan itu lantas menyentikkan jarinya, seakan meminta beberapa bawahannya untuk membukakan kantung kain itu dari gadis tersebut. Ia mengembangkan senyumnya saat mata mereka saling memandang.

“Dimana laki-laki itu?”

“Aku tidak tahu.”

Pria berumur 50 tahunan itu menyeringai.

“Baiklah, jika kau tak memberitahuku dimana ia sekarang berada. Ia mungkin tengah mencarimu saat ini.”

Gadis itu terdiam sejenak. Ia ingat betul bagaimana laki-laki itu terhadapnya beberapa jam yang lalu dan mustahil jika ia mencarinya.

“Ayah ingin membunuhku bukan? Kau sudah mendapatkanku, kenapa kau tidak membunuhku saja?”

Pria berumur 50 tahunan itu terlihat tertawa pelan.

“Ada harga tersendiri dimana ia harus membayarnya. Aku tak bisa membiarkannya hidup setelah ia menghancurkan salah satu tambang uangku, juga melindungimu yang mana memberimu kesempatan untuk terus menghentikan bisnis ini. Kudengar ia adalah target selanjutnya, jadi aku tak perlu meminta orang untuk membunuhnya, karena para rivalnya kini berusaha untuk membunuhnya secara bersamaan,”

Park Ji Yeon terkesiap saat beberapa laki-laki berbadan tegap dengan senjata masing-masing terlihat berjalan bersamaan menuju balik punggung ayahnya. Terdapat puluhan kiranya yang kini menunggu Sung Gyu untuk mati di tangan mereka, dan mungkin mereka juga menunggu dirinya untuk mati.

Salah seorang laki-laki bertuxedo berlari ke arah pria tua itu. Dengan wajah yang begitu panik, laki-laki itu lantas membisikkan sesuatu pada pria tua itu. Senyum kemenangan yang awalnya ditunjukkan pria tua itu menghilang perlahan dan kini senyum itu benar-benar hilang saat ini, namun ia masih tak ingin merendahkan arogansinya sedikit pun saat Park Ji Yeon masih menatapnya.

“Sudah kubilang, ia benar mencarimu bukan?”

 

 

Kim Sung Gyu mengisi kembali peluru untuk senjatanya cepat. Ia tak punya waktu lagi. Beberapa orang bertuxedo kini seakan menunggu ajalnya. Ini hanya permulaan, ia tak tahu bila ia akan bertemu dengan mereka secara bersamaan dan membunuhnya. Gila, tapi ia tak ingin mati begitu saja.

Kim Sung Gyu bersiap dengan dua pistol tangan pada kedua tangannya sebelum akhirnya ia beranjak dari mana ia bersembunyi, menembak mati satu persatu orang yang akan menghalanginya masuk ke dalam mansion dimana ia berada saat ini. Suara bising dari alat pendengar yang ia kenakan pada salah satu telinganya, sedikit membuatnya terganggu. Tanpa babibu lagi, ia lantas melepasnya paksa.

Kim Sung Gyu bersembunyi, menembak, menghindar, dan kembali mengisi amunisinya saat ini. Ia mulai kehabisan energinya. Ya ia tahu akan seperti ini nantinya. Ia sudah kelelahan untuk bersembunyi dan berlari.

Kim Sung Gyu menghempaskan salah satu pisau saku yang ia bawa saat salah seorang laki-laki bertuxedo hampir menikamnya dari belakang. Ia ini pembunuh bayaran. Ia tak mudah untuk dibunuh begitu saja. Kim Sung Gyu kembali berlari dan berlari. Ia berusaha meghabisi satu persatu musuhnya demi menyelamatkan gadis itu saat ini. Matanya menatap liar pada tiap sudut mansion yang kini ia tempati. Park Ji Yeon pasti berada pada suatu tempat saat ini.

Kim Sung Gyu membuang senjatanya saat sekiranya amunisi yang ia memiliki tak cukup lagi. Ia dengan cepat merampas beberapa senjata yang milik musuh yang tergeletak begitu saja. Namun…

“Kau tak bisa pergi kemana-mana lagi.”

Kim Sung Gyu sempat terkesiap dengan laki-laki yang kini ia temui. Ia hafal wajah laki-laki itu. Benar, laki-laki itu adalah salah satu rivalnya yang belum sempat ia habisi. Sial, mungkin saja beberapa rivalnya yang masih tersisa juga menunggunya untuk dibunuh dan kondisi Ji Yeon berada paada situasi yang lebih berbahaya. Kim Sung Gyu meringis saat beberapa oramg lantas mengepungnya yang berada di sana sendirian. Salah satu laki-laki bertuxedo merebut senjata yang

Kim Sung Gyu genggam dan kini laki-laki itu benar-benar tak membawa apapun. Ia kalah saat ini?

Tidak. Suara tembakan yang terdengar pada balik punggungnya sempat membuatnya terkesiap. Laki-laki dengan pakaian lengkap juga senjata yang lengkap mulai menyeringai saat mereka bertatap dan saling membagi tugas dengan Sung Gyu menghabisi orang-orang yang mengerumuni mereka. Lee Ho Won, laki-laki yang baru saja datang tersebut melemparkan senjata kaliber terbaru pada Sung Gyu sebelum akhirmya ia menembakkan hampir setengah dari amunisi yang ada pada rivalnya dan membuatnya benar-benar tumbang.

“Kau tidak bisa menunggu lebih lama?”

“Dan menunggumu beraksi seperti pahlawan kesiangan? Yak, paling tidak, kau memakai alat pendengarmu,”

“Tch” Kim Sung Gyu merasa kalah sat ini. Ia tak tahu bagaimana jalan pikiran laki-laki iti saat ini. Detektif muda yang hampir kehilangan kepercayaan atasannya.

Mereka berdua kembali bergelut dengan musuh masing-masing.

Suara tembakan demi tembakan memang tak pernah bisa terelakkan. Satu persatu rival Sung Gyu mulai menampakkan diri. Ya mereka adalah salah dari beberapa rival yang susah untuk ditumbangkan. Berulang kali mereka harus menghindar, berlari, menembak dan mengisi penuh amunisi mereka dengan cepat. Lee Ho Won sengaja membuang peledak asap sebelumnya, agar pekerjaan mereka lebih mudah, dan memang musuh tumbang lebih cepat dari sebelumnya.

Sebuah pintu kayu besar nampak pada ujung lorong dimana mereka berada. Kim Sung Gyu menatap ragu Lee Ho Won yang sedari tadi bersamanya. Kim Sung Gyu kembali bersiap dengan kuda-kuda dan juga senjatanya. Sama seperti Sung Gyu, Ho Won terlihat mempersiapkannya namun ia berusaha agar terlihat lebih tenang.

Dalam hitungan ketiga akhirnya mereka berhasil mendobrak pintu yang lumayan besar tersebut. Namun salah dugaan mereka, Tak ada serangan saat ini.

Suara tepukan tangan kini terdengar begitu keras saat mereka berdua dengan secara bersamaan memasuki ruangan tersebut. Puluhan laki-laki yang setidaknya Sung Gyu begitu kenal kini tengah bersiap dengan senjata dan bidik mereka demi membunuh Sung Gyu saat ini.

Kim Sung Gyu menahan nafasnya saat mereka kini seakan mengarahkan bidik mereka menuju seorang gadis yang terlihat terikat pada satu-satunya bangku di ruangan tersebut. Mata, mulut, tangan juga kaki gadis itu terikat.

“Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?” tanya pria berumur 50 tahun itu terlihat arogan. Kedudukan Sung Gyu dan Ho Won tengah tersudut, ia hendak mengarahkan bidiknya pada pria tua itu tapi semua musuhnya bisa saja membunuh gadis tersebut secara bersamaan juga.

“Kau menyerahkan hidupmu dan gadis ini hidup.”

Lee Ho Won yang telah siap dengan senjata berukuran cukup besarnya menggelengkan kepalanya, seakan memberikan perintah agar Sung Gyu tak melakukannya.

“Bagaimana?”

Mereka terdiam. Kim Sung Gyu masih terpaku melihat gadis yang terikat yang berada cukup jauh dari jangkauannya tersebut.

“Perlukah kuhitung anak muda?” ucap pria tua itu menakut-nakuti. Kim Sung Gyu masih terdiam. Sesuatu tengah berada di dalam pikirannya saat ini.

“Satu!”

Mereka masih terdiam.

“Dua!”

Laki-laki yang mengarahkan bidiknya pada gadis itu menarik kekang masing-masing dan benar-benar siap untuk menembak gadis itu secara bersamaan. Pria tua itu tersenyum menang.

Lee Ho Won menyeringai tipis. Ia menurunkan senjatanya perlahan, semua mata tertuju padanya dan bersiap unruk menembaknya mungkin. Namun dengan cepat, ia meraih salah satu sakunya dan melemparkan sebuah tabung peledak dari sana dan dalam sekejap sebuah ledakan tak begitu besar membuat musuh mereka kehilangan fokus mereka sesaat. Lee Ho Won menarik tangan Sung Gyu untuk berlari pada salah satu bilik untuk bersembunyi, beberapa detik kemudian belasan laki-laki berseragam lantas membantu mereka.

Benar, bantuan pihak mereka baru saja datang.

Adu tembak kembali terdengar begitu riuh. Lee Ho Won dan Sung Gyu tentu saja tak ingin kalah. Mereka dengan sigap menembakan tiap peluru mereka demi melumpuhkan lawan. Beberapa musuh memang tumbang, beberapa orang dari pihak mereka juga. Hasil seri, namun mereka tak bisa kalah begitu saja. Kim Sung Gyu memandang ruangan tersebut liar. Matanya maaih liar mencari keberadaan pria tua itu dan tentu saja Park Ji Yeon

Kim Sung Gyu bergegas mengikuti pria tua itu dengan beberapa bawahannya yang terlihat berlari menuju rooftop dengan membawa serta Ji Yeon yang setidaknya masih terikat pada kedua rangannya.

Lee Ho Won yang melihat tersebut lantas dengan cepat mengikuti laki-laki itu, demi melindunginya dari beberapa rival yang mengincar nyawanya.

“Tunggu!”

Kim Sung Gyu dan Ho Won dengan cepat menghindar saat beberapa bawahan pria itu kembali berusaha memburunya dengan peluru mereka. Beberapa tembakan juga telah mereka balas dengan cepat guna melindungi diri. Dan kini mereka benar-benar berhadapan langsung pada rooftop tanpa batas tersebut. Mereka terdiam sejenak. Saling memandang penuh benci satu sama lain. Kim Sung Gyu tak dapat menaikkan senjatanya saat Ji Yeon yang masih terikat tengah menerima bidik pistol tangan milik ayahnya sendiri. Kim Sung Gyu menahan nafasnya saat Ji Yeon terlihat menangis ketakutan saat ini. Salah satu lengan ayahnya yang besar tengah menahan lehernya kuat.

“Ayo bukankah kau ingin membunuhku? Bunuh saja.”

Lee Ho Won yang tak sabar, mengangkat kembali senjatanya namun dengan cepat pria tua itu lebih siap menarik pelatuk pistol tangannya.

Lee Ho Won berdecak kalah. Beberapa bawahan pria tua itu juga lantas mengarahkan bidik mereka padanya juga Sung Gyu. Ia melihat Sung Gyu yang sedari tadi gemetar.

“Kenapa Kim Sung Gyu? Bukankah kau ingin membunuhku dan apakah kau takut jika gadis ini terbunuh nantinya?” ucap pria iti penuh arogan. Kim Sung Gyu menggigit bibirnya. Park Ji Yeon yang memang tak bisa berkata-kata akibat ikatan kain di mulutnya. Pria tua tertawa menang. Ia semakin melekatkan lubang pitolnya pada pelipis gadis itu bak sebuah gertakan yang memang akan ia lakukan saat ini.

“Kita lihat seberapa kau memang mau melindungi gadis ini,” lanjutnya terdiam sejenak.

“Lemparkan senjatamu!” pekiknya kali ini. Kim Sung Gyu terlihat tak meresponnya namum beberapa menit kemudian ia terlihat mengulurkan tangannya yang tengah membawa senjatanya. Ia lantas membuangnya cukup jauh. Lee Ho Won terlihat tak menggubrisnya.

Ia tetap siap dengan senjata milknya, namun tatapan Sung Gyu yang cukup tajam membuatnya dengan terpaksa ikut membuang senjatanya saat ini.

Pria tua itu terlihat takjub namun kembali tawa kemenangan ia perlihatkan.

“Apakah aku harus senang karena kau terlihat melindungi anakku? Kita lihat, apakah keputusanmu adalah keputusan yang benar.

Bisakah kita memainkan permainan yang aku buat. Jika kau bergerak atau menghindar sejengkal pun, aku tak segan untuk membunuhnya.”

“Cih,” Lee Ho Won mematap Kim Sung Gyu yang memang tak bergeming dari tempatnya. Apakah laki-laki itu bercanda kali ini?

Membiarkan mereka berdua mati konyol terbunuh dengan tanpa perlawanan? Dan nyatanya Kim Sung Gyu memang tak melakukan apa-apa saat ini.

Pria tua itu menyeringai tipis sebelum akhirnya ia meminta salah seorang bawahannya untuk meluncurkan pelurunya tepat pada lengan Sung Gyu. Si pemilik lengan hanya mengerang saat ia dapat merasakan peluru tersebut menembus kulit dan mungkin menyobek beberapa bagian ototnya.

Dan benar dia tak melakukan apa-apa.

“Bodoh! Menghindarlah!” Lee Ho Won rupanya tak bisa menahan kekonyolan yang dilakukan laki-laki itu saat ini. Kim Sung Gyu yang masih mengerang dan memegangi salah satu lengannya tersebut mencoba mengatur nafasnya. Pria tua itu tertawa menang.

“Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku…tapi biarkan Ji Yeon pergi,” ucap Kim Sung Gyu yang mati-matian menahan rasa sakit pada salah satu lengannya. Lee Ho Won hendak menolongnya, namun pria tua itu seakan memberikannya satu pilihan, diam atau gadis itu akan mati karenanya.

Pria tua itu tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Park Ji Yeon berusaha keras untuk melepaskan genggaman ayahnya saat ini agar ia dapat menolong Kim Sung Gyu yang terlihat tak berdaya saat ini. Ia menatap ayahnya dengan tatapan memohon, namun nyatanya pria tua itu tak menggubrisnya.

“Ya, aku akan melepaskan gadis ini pergi, tapi kau harus mati di tanganku dahulu, polisi itu juga dan…entahlah mungkin aku harus bersenang-senang dahulu denganmu sebelum aku benar-benar membunuh kalian,”

Pria tua itu kembali mengulurkan tangannya. Mengarahkan bidiknya pada laki-laki yang terlihat kesakitan akibat salah satu lengannya.

Laki-laki yang terlihat merintih akibat darah yang seakan tak mau berhenti mengalir dari lukanya.

Pria tua menyeringai ringan menatap salah satu kaki laki-laki itu, sebagai targetnya selanjutnya. Ia bersiap menarik kekangnya namun suara begitu bising terdengar begitu riuh di langit. Suara bising tersebut memecah keheningan semua orang yang berada di rooftop saat ini. Ya, sebuah helicopter terlihat terbang mendekati rooftop saat ini. Tanpa babibu, beberapa peluru terlihat melesat dan menembak mati beberapa orang bertuxedo di rooftop saat ini.

Lee Ho Won tersenyum menang. Ia tahu bala bantuan telah datang. Ia mengambil senjatanya dan menembakkan pelurunya saat beberapa pria bertuxedo hendak menembakkan pelurunya pada mereka berdua. Sedangkan Kim Sung Gyu berlari menuju pria tua itu dan memukul keras pria tersebut hingga terjatuh begitu keras demi melindungi Park Ji Yeon saat ini.

Kim Sung Gyu menyunggingkan bibirnya sesaat ia melihat Park Ji Yeon dengan sangat dekat saat ini. Ia melepaskan tiap ikatan gadis itu, tak lupa ikatan kain di mulut gadis itu. Park Ji Yeon terlihat tak dapat menahan tangis ketakutannya saat ini.

“Bodoh,” ucap gadis itu pelan seraya memukul salah satu bahu laki-laki di hadapannya. Kim Sung Gyu hanya terkekeh pelan. Ia berusaha menunjukkan bahwa ia benar baik-baik saja saat ini. Ia menghapus jejak air mata gadis iti sebisanya, mencoba meyakinkan bahwa mereka baik-baik saja saat ini hanya dengan senyumnya.

“Mansion sudah dipasang beberapa peledak seperti yang kau minta saat itu. Kita tak memiliki waktu banyak,” ucap Ho Won memecah keheningan. Tampaknya beberapa pria bertuxedo berhasil ia lumpuhkan. Kim Sung Gyu mengangguk. Ia menatap pria tua yang masih terlihat kesakitan. Ia tahu, ia mungkin tak bisa membunuh pria itu di hadapan Ji Yeon saat ini. Ia telah berjanji pada gadis itu sebelumnya.

“Aku akan membawanya serta,”

Lee Ho Won mengangguk mengerti. Ia memberikan borgol pada SungGyu sebelum akhirnya laki-laki itu membantu pria tua tersebut untuk berdiri dan memborgol kedua tangan pria tua tersebut.

“Kita hanya punya waktu 7 menit saja. Sebaiknya kita pergi dengan cepat!” ucap Lee Ho Won dengan terburu. Ia membantu Park Ji Yeon yang terlihat lemah saat ini untuk berjalan menuju tangga tali yang baru dilemparkan helicopter tersebut yang masih mengudara. Kim Sung Gyu sedikit mempercepat langkahnya sembari ia menggiring pria tua itu bersamanya. Namun, pria tua itu memberontak tiba-tiba.

Kim Sung Gyu berusaha menghentikannya dengan sebelah tangannya, namun gagal pria tua itu kembali melukai lengan Sung Gyu yang masih terluka dengan kedua tangannya.

“Lepaskan dia!” ucap Ho Won yang kembali siap dengan kuda-kudanya. Ia tengah kembali mengarahkan bidiknya pada pria yang kini mencekiknya dengan rantai borgol miliknya. Pria tua itu kembali mengetatkan rantai borgolnya kini.

“Ayah kumohon lepaskan dia, kita bisa pergi bersama,” ucap Ji Yeon yanh saat ini meminta. Laki-laki dengan yang tengah berada di helicopter dengan senjatanya juga mencoba membidik pria tua itu saat ini. Namun waktu tinggal 5 menit lagi, mereka tak munhkin menembakkan peluru mereka yang mana akan melukai Sung Gyu nantinya.

“Pergi bersama? Tidak. Aku tak ingin pergi dan kehilangan semua yang telh aku dapatkan. Aku lebih baik mati….”

“Dan laki-laki ini juga harus mati demi membayar semuanya,” ucapnya lantang. Ia semakin mengetatkan rantai borgolnya dan Kim Sung Gyu terlihat semakin tercekik saat ini.

“P-pergilah. Cepat,”

“T-tinggalkan aku,” ucap Sung Gyu berusaha mati-matian bernafa. Lee Ho Won berdecak kalah. Ya, mereka tak memiliki waktu banyak lagi atau mereka semua akan mati bersama. Lee Ho Won menarik lengan Ji Yeon pergi namun gadis itu menolak.

“Tidak jika tanpa dia, kumohon!”

“Ayo nona, kita tidak punya waktu lagi!”

Lee Ho Won mencoba membawa Ji Yeon pergi dengan paksa meski gadis itu berulang kali memberontak. Lee Ho Won tak habis akala ia lantas menggendong gadis itu di bahunya paksa dan berlari dengan secepat yang ia bisa menuju tangga tali yang telah disediakan helicopter yang akan membawanya.

“Tidak, tidak! Kalian tidak bisa pergi saat ini. Sung Gyu masih di sana! Kumohon hentikan helikopter ini! Kumohon!” pinta Ji Yeon berulang kali saat helicopter kembali terbang menjauhi bangunan tersebut.

Namun mereka yang berada di helicopter seakan berusaha tak mendengarkan apa yang dimintanya. Park Ji Yeon menatap kaca yang membuatnya dapat melihat ayahnya juga Sung Gyu di rooftop, meski pengeliatannya semakin mengecil.

“Tidak, tidak!”

Park Ji Yeon berteriak cukup lantang saat ia melihat bangunan tersebut meledak beberapa kali dan mengaburkan pandangannya tentang laki-laki itu juga ayahnya. Ya, hanya asap hitam yang dapat ia lihat saat inisaat basuara ledakan kembali terdengar fukup keras dan menghancurkan bagian demi bagian bangunan tetsebut. Laki-laki itu terbunuh, begitu juga dengan ayahnya.

Park Ji Yeon terdiam. Ia mencoba mengatur nafasnya saat isaknya semakin menjadi kini. Kim Sung Gyu tak terselamatkan. Ya, laki-laki itu memang benar tak terselamarkan karenanya. Karenanya

.

.

.

.

.

.

.

Park Ji Yeon menatap laki-laki yang berada tepat di hadapannya. Yang sekiranya ia berulang kali menarik nafasnya dan berulang kali ia mengeluarkannya. Park Ji Yeon menatapnya sendu. Ia tengah menahan bulir air matanya untuk tidak turun.

“Sudah satu tahun berlalu, dan kau masih menanyakan hal ini padaku?”

Park Ji Yeon mengangguk pasti. Lee Ho Won menarik nafasnya sekali lagi sebelum akhirnys ia meletakkan kedua tangannya di atas meja di hadapannya.

“Kau bertanya kenapa waktu itu kami meninggalkannya dan membiarkannya terbunuh?”

Park Ji Yeon kembali mengangguk pasti.

“Dia meminta kami untuk membantu atas penolonganmu. Kami awalnya tak percaya dan menolak untuk mrmbantunya. Kau tahu siapa dia, dia adalah buronan yang paling kami cari,”

Lee Ho Won menyisip pelan teh miliknya. Ia menarik nafasnya kembali.

“Ia memberikan penawaran tertinggi jika kami membantunya saat itu…yaitu nyawanya,”

Lee Ho Won menghentikan kalimatmya sesaat. Ia mencoba tersenyum ringan.

“Ia bilang, jika kami membantunya, ia tidak akan lari lagi dan ia bilang ia menyerahkan dirinya pada kami. Dan kau tahu bukan yang akan diberikan untuk laki-laki itu bukan? Dan hukuman yang pantas untuk pembunuh bayaran itu adalah membunuh mati dirinya. Ia mengiyakan hal itu,”

Park JI Yeon mencoba mengatur nafasnya, berharap tangisnya tidak pecah untuk kesekian kalinya. Lee Ho Won merasa bersalah saat ini.

“Dan saat itu, kau membiarkannya untuk terbunuh di sana sebagai salah satu sanksi yang telah ia nyatakan sebelumnya,”

Lee Ho Won mengangguk pelan.

“Maaf,” ucap laki-laki itu pelan. Park Ji Yeon mengusap air matanya cepat, berusaha menyembunyikan tangisnya di hadapan laki-laki itu. Ini satu tahun berlalu sejak kejadian itu, namun hal ini baru saja ia ketahui. Laki-laki itu memang menginginkan kematiannya.

“Lee Ho Won-ssi bisa kau pesankan aku sebuah cheese cake?”

Lee Ho Won membuang nafasnya sesaat. Ia tahu Park Ji Yeon mungkin akan terisak kesekian kalinya untuk saat ini, dan gadis itu tak ingin dirinya melihatnya. Lee Ho Won mengangguk sebelum ia beranjak dari bangkunya dan pergi.

Park Ji Yeon memandang punggung itu menjauh darinya. Ia mencoba mengatur nafasnya saat berulang kali bulir air matanya jatuh. Ia mengusap jejak-jejak air matanya begitu cepat hingga ia berharap tak ada yang mengetahuinya.

“Maaf nona,”

Park Ji Yeon memandang seorang pelayan yang menghampirinya. Pelayan tersebut sempat mengembangkan senyumnya.

“Seorang malaikat tak bisa mati meski seluruh dunia menghujamnya. Saat kau kehilangan malaikatmu, kau hanya perlu melihat ke depan,” ucap pelayan tersebut meletakkan sebuah kotak kecil di meja Ji Yeon dan beranjak pergi.

Park Ji Yeon menatap kotak tersebut bingung, namun tanpa ragu ia membuka kotak kecil tersebut. Ia terperanjat kaget saat sebuah kalung berliontinkan sebuah salib dengan sepasang sayang di sana.

Park Ji Yeon mencari keberadaan pelayan yang tadi menghampirinya, namun sebuah pantulan gambar seorang laki-laki di kaca yang berada di hadapannya. Ya, sebuah pantulan gambar laki-laki yang berada tepat di belakangnya, tengah membelakanginya. Sekitar beberapa detik setelahnya, laki-laki itu lantas meletakkan cangkir miliknya sebelum ia memutar tubuhnya dan menatap kaca tersebut dan tersenyum tipis saat mata merka bertatap tidak langung. Park Ji Yeon menarik nafasnya panjang sebelum ia ikut mengembangkan nafasnya.

“Ini cheese cake pesananmu, Park Ji Yeon ssi?”

“Ah iya, terima kasih,” ucap Ji Yeon yang dengan cepat mengumpulkan kefokusannya sebelum ia memasukkan kalung yang ia genggam pada salah satu saku mantelnya dengan cepat.

“Maaf tentang apa yang aku katakan hari ini,”

Park Ji Yeon mengembangkan senyumnya cukup lebar. Ia menghapus belas air matanya dengan cepat. Nafasnya terdengar lebih ringan saat ini. Ia terkekeh cukup pelan. Ia mengangguk pasti.

Ya, ia tak perlu khawatir. Ia tak perlu menyalahkan dirinya lagi ataupun siapapun yang saat itu seakan tanpa sebuah pengampunan meninggalkan laki-laki itu. Karena yang ia tahu dan cukup dirinya yang tahu bahwa laki-laki itu tak benar-benar meninggalkannya.

 

-The End-

Advertisements

3 thoughts on “[PROJECT MAN IN LOVE ] AN ANGEL CHAPTER 2

  1. Yay sungyu hidupppppp
    Jadi inget city hunter kwkwkwk
    Ini keren beneran , aksi tembak2an nyataaaaaa
    Daebak
    Keep writing author nim ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s