Bromance · Comedy · Ficlet · G · Genre · Length · Rating

In The Midnight (Ketika Jungkook Lapar)


1433545483544

Title: In The Midnight
Author: ts_sora
Cast: BTS’s Jeon Jung Kook, BTS’s Park Ji Min, BTS’s Kim Seok Jin, BTS’s Kim Tae Hyung
Length: Ficlet
Disclaimer: This belongs to me and the the casts belong to their entertainment company. No plagiarism juseyoo
A/N: ide konyol yang berasal dari saya yang kelaparan di malam hari. Haha, just enjoy!

—————————————————————————————————————————
Jeon Jung Kook menarik selimutnya hingga menutupi keseluruhan wajahnya, tapi argh! Ia belum ingin tidur. Ia membuka matanya yang tadinya ia paksa untuk tertutup. Ia menatap sekelilingnya dan benar saja semua hyung-nya telah tertidur pulas di alam mimpi. Sedangkan dia?

Ia tak bisa tidur saat ini. Perutnya minta diisi.

Ia mengacak rambutnya frustasi. Ini bukan pertama kali untuknya merasa lapar saat akan tidur. Jika ia tidak tidur tepat waktu, keesokan harinya ia pasti akan bangun terlambat dan managernya akan menasehatinya sehari penuh.

Tidak, ia tak mau. Kali ini ia tak ingin menderita kelaparan sendirian dan dinasehati managernya seharian penuh. Ia harus mencari teman!

Jeon Jung Kook mengembangkan senyumnya. Kiranya ide luar biasa miliknya baru saja terpikirkan. Oh ayolah, ia tidak kejam. Ini manusiawi, seorang anak belasan tahun harus mendapat nutrisi yang cukup, maka dari itu ia sering merasa lapar bukan?

Jung Kook turun dari bunk bed miliknya yang berada di atas. Dan benar saja, hyung-nya Park Ji Min tertidur pulas. Laki-laki ini tak boleh tidur hingga ia tidur.

“Hyung…” bisik Jung Kook sembari meniup telinga Ji Min. Laki-laki bermarga Park itu malah tersenyum nakal.

“Aku cinta padamu,”

Jung Kook mengernyit. Oh ayolah, laki-laki ini terlalu muda dikatakan mesum.

“Ya hyung, bangunlah!” ucap Jung Kook sedikit frustasi sembari menjitak kepala laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya itu. Park Ji Min otomatis terbangun. Ia tak bisa menjerit atu melakukan protes saat Jung Kook dengan cepat membungkam mulutnya.

“Aish… Ada apa?” tanyanya malas masih setengah mengantuk.

“Aku lapar,”

“Mwo? Kau gila? Bukankah tadi kita makan pizza dua jam yang lalu?” ucap Park Ji Min yang kali ini dapat membuka matanya lebar-lebar. Jeon Jung Kook terkekeh pelan.

“Oh ayolah, itu tidak cukup. Aku ingin makan. Tidakkah kau lapar?”

Untuk beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja perut Ji Min berbunyi entah kenapa. Sepertinya perutnya setuju dengan ajakan Jung Kook kali ini. Ji Min mengelus perutnya pasrah. Baiklah, ia tak mungkin tidur dengan seperti ini.

“Tapi kau tahu aku payah dalam memasak,”

“Ah, aku lupa tentang itu,”

Jung Kook ingat bagaimana nasib makan siang mereka saat Ji Min memutuskan untuk memasak saat itu. Oh ayolah, saat itu, semua hyung-nya tak berada di tempat, hanya ada dirinya juga Ji Min. Ji Min merusak makan siang mereka kala itu dan berakhir kelaparannya mereka berdua hingga tengah malam.

“Ya, kenapa kalian begitu berisik?”

Ji Min dan Jung Kook menatap Kim Tae Hyung yang memang tidur tak jauh dari mereka. Laki-laki itu mengusap matanya dan berusaha membuka matanya selebar yang ia bisa meskipun kantuknya benar-benar memintanya untuk tertidur pulas.

“Ya, Kim Tae Hyung, apa kau tidak merasa lapar?”

“Iya hyung, kau tak merasa lapar?”

Kim Tae Hyung menguap malas. Ia mengusap matanya sekali lagi.

“Tapi kalian tahu bukan, di antara kita, tidak ada yang bisa memasak,”

Mereka bertiga membuang nafasnya secara bersamaan. Namun sekian detik kemudian Jung Kook terlihat mengembangkan senyumnya tiba-tiba. Gigi kelincinya kini terlihat begitu jelas. Ia mengayunkan jari telunjuknya pada laki-laki lain yang tengah tertidur pulas dengan selimut tebal miliknya.

“Kau gila?!” ucap Kim Tae Hyung juga Park Ji Min hampir berteriak. Jung Kook tertawa kecil melihat reaksi sedikit berlebihan milik hyung nya tersebut.

“Mungkin kita tidak bisa memasak, tapi Seok Jin hyung bisa. Lagipula, kita tidak bisa tidur saat kita lapar,” ucapnya polos. Kedua hyung-nya membuang nafasnya kalah. Mereka tak bisa menentang ide brilian juga menentang milik sang maknae. Karena di antara mereka memang Jung Kook lah yang paling pintar.

“Kau tahu Seok Jin hyung baru saja bisa tidur. Ia merasa tidak enak badan sejak kemarin,”

“Oh ayolah hyung,”

Kim Tae Hyung dan Park Ji Min saling berpandang sebelum akhirnya mereka membuang nafasnya sekali lagi. Mereka benar-benar bangun saat ini dan kemungkinan untuk bisa tidur sangat kecil sekali. Satu-satunya solusi mereka adalah makan. Dengan begitu mereka dapat menyelesaikan masalah tidur mereka.

“Baiklah,” ucap Kim Tae Hyung kalah. Ia beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju ranjang Kim Seok Jin. Ia menarik nafasnya gugup. Ia tak takut bila hyungnya tersebut marah padanya. Ia hanya merasa bersalah membangunkan salah satu hyung tersabar yang ia miliki.

Kim Tae Hyung menatap ke belakang. Di sana Jung Kook memberinya semangat dengan kedua tangannya yang dikepal, sedangkan Ji Min tersenyum penuh harapan. Kim Tae Hyung menatap hyung-nya tersebut sebelum ia menggoyangkan tubuh laki-laki itu pelan.

“S-seok Jin hyung?”

Kim Seok Jin terlihat menggeliat tidak ingin dibangunkan. Kim Tae Hyung tak mau mengalah begitu saja. Ia memikirkan sejuta ide untuk membangunkan laki-laki itu kali ini. Kim Tae Hyung menutup hidung Kim Seok Jin dengan tangannya.

Semenit..

Dua menit..

Tiga menit…

“Kim Tae Hyung, aku akan membunuhmu,” ucap Seok Jin datar masih dengan kedua matanya yang tertutup. Kim Tae Hyung yang terkejut menarik tangannya dan terkekeh dengan konyolnya menutupi kesalahannya.

Kim Seok Jin mengusap matanya menatap Kim Tae Hyung yang berdiri dekatnya.

“H-hyung, kami lapar,” ucap Kim Tae Hyung sedikit takut. Kim Seok Jin mengernyit. Kami?

Ia mendudukkan dirinya dan menatap sekelilingnya. Ia mendapati dua manusia lain yang menatapnya dengan penuh harap. Ia memutar bola matanya. Benar, maknae line. Ia dapat menebak hal ini sebelumnya karena ini bukan pertama kalinya mereka mengganggu tidurnya di tengah malam. Namun ayolah tiga anak burung itu tak pernah merasa kenyang meski batu mengisi perut mereka.

“Baiklah,” ucapnya tanpa perlawanan yang disambut hangat dengan tepukan dalam diam milik tiga laki-laki itu.

Ini adalah kelemahannya. Ia sama sekali tak dapat mengatakan tidak meskipun ia ingin. Mungkin ini adalah peluang dimana tiga anak laki-laki itu menyiksanya tiap malam untuk membuatkan mereka makanan. Namun jika ia tidak memenuhi permintaan mereka, mereka tak mungkin berhenti mengganggunya untuk tidur. Karena yang ia tahu, ia adalah satu-satunya harapan yang mereka miliki.

Kim Seok Jin menatap tiga laki-laki yang telah duduk manis menunggu makan tengah malam mereka di meja makan. Mereka memandang Seok Jin dengan tak sabar. Oh ayolah, bahkan mereka siap dengan sumpit dan sendok masing-masing.

Kim Seok Jin membuang nafasnya. Meski terkadang melelahkan, ia senang karena masih ada yang menunggu masakannya.

Kim Seok Jin meletakkan piring yang telah penuh dengan nasi juga telur yang ia kreasikan demikian rupa dengan saus yang ia simpan di lemari es. Kim Tae Hyung, Park Ji Min dan Jeon Jung Kook menatap piring mereka tak sabar. Dan tanpa berkomentar mereka langsung menyantap makanan mereka seperti biasanya, namun gerakan mereka berhenti tiba-tiba. Ekspresinya yang menggebu-genu tiba-tiba saja hilang. Mereka saling memandang sebelum akhirnya menatap Kim Seok Jin yang duduk tak jauh dari mereka dengan wajah penuh tanya.

“Hyung, ini terlalu asin,” ucap Jeon Jung Kook memprotes.

“Hyung, ini adslah masakan yang kurasa tidak enak milikmu,” tambah Park Ji Min kali ini.

“Nafsu makanku hilang tiba-tiba,” tambah Kim Tae Hyung.

“Kenapa rasanya seperti ini?”

“Entahlah, apa karena sausnya?”

“Kurasa begitu. Sausnya kadaluarsa?”

“Mungkin,”

Kim Seok Jin menutup matanya mendengar komentar pedas tiga anak burung itu. Ia menarik nafasnya dalam. Tidak enak katanya? Asin? Sausnya?

Ini sudah tengah malam dan mereka membangunkan ia dalam tidurnya. Padahal ia terkena flu berat sejak kemarin. Apa mereka tak tahu tentang hal itu? Apa mereka tidak tahu bahwa membuat makanan di tengah malam sangat berat dimana ia harus mengorbankan rasa kantuknya?

“Ya!”

Tiga anak burung itu membungkam mulutnya saat Kim Seok Jin membuka mulutnya. Laki-laki tertua itu membuka matanya dan menatap mereka bertiga seakan ingin menerkam mereka. Jujur, ini adalah pertama kalinya laki-laki itu terlihat seperti demikian bahkan sepanjang hidup mereka, laki-laki itu seakan tak pernah berteriak sebelumnya.

“Kalian sudah tahu jika aku terkena flu berat sejak kemarin? Aku berusaha untuk meminum obat dan tidur tadi sebelum kalian membangunkanku tadi dan memintaku untuk memasak. Bisakah kalian menghabiskan piring kalian dan kembali tidur? Dan cukup dengan komentar itu,”

Kim Tae Hyung, Park Ji Min juga Jung Kook seketika tertunduk. Mereka merasa bersalah kali ini tentunya. Dan mereka juga takut. Mereka berhenti berkomentar dan kembali mengambil sumpit mereka dan dengan cepat juga terpaksa menghabiskan piring mereka tanpa memandang laki-laki tertua mereka.

Melihat hal tersebut Kim Seok Jin tersenyum puas kali ini.

“Tapi ini tidak enak,” bisik Kim Tae Hyung pada Jeon Jung Kook yang berada tepat di sampingnya. Kim Seok Jin yang meliha ttersebut sempat berdehem keras sebelum akhirnya mereka dengan sangat cepat memakan makanan mereka yang terasa begitu asin di malam hari dan penuh dengan derita.

-The End-

Advertisements

One thought on “In The Midnight (Ketika Jungkook Lapar)

  1. Annyeong *Lambai2UnyuBrngJin* ^^
    Sepertinya aku dh lama gx main kesini. Salahkan urusan kuliahku yg gx selesai2.huhuhuh…

    Okeeee…. Maknae line emng minta di jitak.ckckckc kesian suamiku yg lg flu harus masak mlm2 buat 3 curut itu.huhuhu… *PukpukinJin*

    Okeeee.. aku mau ngepoin ff yg lain dlu ahhh.heheh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s