Chaptered · Freelance · Genre · Hurt · Kekerasan · Length · NC -17 · Rating · Romance

[FF Freelance] Blinded by Lust Begin


IMG_20141223_054029

 

Author : Maria Dongwoon’s Bride (@dongwoonsbride)

Title : Blinded by Lust: Begin

 Cast :

 Jung Heo Seok

 Kim Seok Jin

 Kim Nam Joon

 Girl is you

 Genre : Romance , kekerasan

 Length : Chapter

 Rating : NC 17

Disclaimer : Kisah nyata yang di dramatisir tentang aku, Hoseok, Jin, & Namjun (bukan nama sebenarnya). Jangan dijiplak atau kau akan sangat menyesal . Boleh diposting ulang dan dibagikan di manapun dengan credit lengkap.

 

“Pakai ini”, Sunny melemparkan jaket padaku, “Ayo, kita harus segera ke lapangan, mahasiswa baru sudah berkumpul”.

“Tapi..”, aku memakai jaket yang dia pinjamkan tanpa mengalihkan pandanganku pada laptopku.

Sunny menarik tanganku, membimbing langkahku meninggalkan lab itu dengan tergesa-gesa. Beberapa menit kemudian kami sudah tiba di lapangan sepak bola yang panas itu, kulihat Namjun, Seokjin, mahasiswa tingkat 3 dan 4, serta mahasiswa baru sudah di sana, sedangkan mahasiswa tingkat 2 berdiri di tepian lapangan. Hari ini, aku akan diperkenalkan, sebagai salah satu otak dari 6 bulan welcome party yang melelahkan ini. Paru-paruku terasa panas, aku berusaha mengatur nafasku, saat Namjun memanggil namaku, aku sudah siap berjalan tegap menuju tempatku di tengah formasi itu.

 

“Hai, halo, selamat datang”, itu saja yang aku ucapkan, kuakhiri pidato singkatku –well, lebih layak disebut sapaan, pidato tersingkat dari otak welcome party ini yang lainnya berlangsung 15 menit, sedangkan aku hanya mengucapkan 1 kalimat– dengan sedikit senyuman.

 

Aku melihat banyak ekspresi terkejut dari para newbie itu, beberapa di antaranya saling berbisik, beberapa –sangat sedikit– lainnya membalas senyumku dengan –sepertinya– terpaksa.

 

“Yup, dia juga salah satu perancang dari pembullyan yang kami lakukan selama ini pada kalian, hahaha. Oh ya, aku dengar beberapa dari kalian menyukainya, sayang sekali, dia sudah punya Seokjin”, Namjun menambahkan sedikit ulasan tentang siapa aku kepada mereka, kami mendengar keluhan ‘yah’ spontan dari mereka setelah mendengar penjelasannya.

 

“Oke, sampai jumpa nanti malam di pentas seni, buat kami bangga”, Namjun menutup sesi itu dengan merangkulku, memimpin mahasiswa tingkat 2, 3, & 4 beranjak dari sana. Sepertinya kami semua, mahasiswa senior, maupun para newbie itu senang season welcome party ini berakhir, hanya saja.. aku tidak dapat menyatu dengan letupan keceriaan mereka, otakku dipenuhi dengan penelitian yang sudah mulai aku kerjakan satu bulan ini.

Seokjin melepaskan rangkulan Namjun dari ku, menarik lenganku dan mengajakku menjauh dari gerombolan teman-teman kami, “Ayo pulang dulu”, bisiknya manja sambil tersenyum. Aku tau itu sebuah kode. ‘Ayo pulang’ apanya, itu adalah ajakan seks di apartemennya yang tidak jauh dari kampus. Aku diam saja, hanya membalas senyumnya, tentu saja itu pengiyaan, siapa yang bisa menolak Seokjin.

 

Seokjin mahasiswa tingkat akhir, aku mahasiswa tingkat 3, kami sudah pacaran selama 1 tahun. Seokjin punya penampilan fisik yang nyaris sempurna, paling sempurna di kampus ini. Tinggi, putih, dada yang bidang, pundak yang besar, sixpack, pintar, bandel, keren, sexyhot, berwibawa, dia tipe leader, seperti Namjun, tapi dengan penampilan fisik yang jauh lebih baik. Aku beruntung punya Seokjin, tidak, lebih tepatnya, Seokjin yang beruntung punya aku. Seokjin itu miskin, dia bisa kuliah di sini karena beasiswa. Sedangkan aku, walaupun tidak termasuk dalam list mahasiswa terkaya di sini, setidaknya aku jauh lebih kaya dari Seokjin. Aku yang membiayai hampir semua kebutuhan Seokjin, dia makan denganku, aku membelikannya baju-baju yang keren, uang beasiswanya hanya cukup untuk membayar apartemennya yang sempit dan pengap, lebih mirip rumah susun daripada apartemen.

 

Seokjin populer, aku juga populer. Seokjin keren, aku juga keren. Seokjin tampan, aku cantik. Kami seperti pasangan serasi dari luar, padahal, Seokjin itu tidak lebih dari benalu bagiku. Tapi aku menampik jika dibilang tidak mencintainya, aku mencintainya, cinta yang secukupnya mungkin. Dia baik, bisa memimpinku dan mengendalikan aku, dia lucu dan sering membuatku tertawa. Dari semua sisi baik Seokjin, ada satu yang paling kusuka, dia bisa memberiku seks yang hebat. Aku akan memohon dia untuk meniduriku lagi dan lagi dan dia selalu bisa memenuhinya, aku bisa mendapatkan 3-4 kali seks yang hebat dalam sehari.

 

 

Aku duduk di samping Sunny. “Kau terlambat, pertunjukannya sudah dimulai sejak 5 menit yang lalu”, dia berkata dengan judes.

 

“Kau juga, kalau  tidak, mana mungkin kau duduk di barisan belakang seperti ini, hahaha”, aku meledeknya. Dia menyediakan tempat duduk di deretan paling belakang bagi mahasiswa senior, artinya, deret tepat di belakang kami adalah para newbie.

 

Sunny mencondongkan badannya padaku, “Sebaiknya kau lihat siapa yang duduk di belakang kita, aku memberimu spot yang tepat”, dia berbisik. Aku menoleh, lalu membalas senyum pada orang yang tepat duduk di belakangku. Hoseok. Sial. Sunny mengerjaiku.

 

Hoseok, dia cukup populer dari kalangan newbie. Populer, karena di minggu ke-2 masa welcome party, dia dengan berani mendatangi Namjun dan senior gang untuk menyatakan bahwa dia menyukaiku. Dia meminta untuk diberikan ijin memacari senior sebelum masa welcome partynya berakhir, tentu saja mereka menolaknya. Hoseok tidak pernah mengatakan apapun padaku secara langsung, akupun memandang dia tidak lebih sebagai sosok yang manis. Hoseok cukup seksi, berkulit sedikit lebih gelap dari Seokjin, bibirnya tipis, dia punya hidung yang bagus.

 

Aku tidak bisa fokus pada apa yang ditampilkan para newbie ini. Aku merasa Hoseok selalu mengamatiku dari belakang. Aku berdiri, menuju booth lemonade di seberang stage, berusaha melepaskan diri dari kondisi yang akward. Aku hendak membayar lemonade ku saat seseorang lebih dulu menyodorkan uang sepuluh ribuan pada newbie yang menjagabooth itu.

 

“Noona, aku yang bayar”, Hoseok sudah berada di sampingku menghujaniku dengan senyuman dan eyesmile. Aku menahan lemonadeku agar tidak tersembur dari mulutku, setelah berusaha menelannya, aku mengucapkan terima kasih padanya kemudian berlalu dari sana.

 

Hoseok membuntutiku kembali ke kursiku, kulihat Sunny sudah tidak ada di tempatnya tadi, jadi dengan leluasa Hoseok mengambil tempat duduk di sampingku. “Hoseok, kau tidak boleh duduk di sini, ini deretan senior”, aku berbisik agar tidak menarik perhatian yang lainnya.

 

Seseorang tiba-tiba menyentuh pundak kiriku membuatku menoleh dan terkesiap, “Apa Hoseok membelikanmu lemonade?”.

 

“Jin?! Ya.. Ya!”, aku berdiri merangkul pinggang Seokjin, berakting menyambut kehadiran pacarku di antara kami.

 

“Hyung, aku baru mau cerita padanya tentang rencana kita besok malam”, Hoseok berdiri merangkul pundak Seokjin.

 

“Rencana apa?!”, aku tidak bisa menahan pekik kagetku.

 

Babe, kita akan makan malam besok, aku akan menjemputmu jam 7, dia ikut, akan kuceritakan di sana”, Jin menyingkirkan rangkulan Hoseok dari pundaknya.

 

“Sekarang ayo kita pulang dulu, pertunjukannya akan berakhir 10 menit lagi kok”, dia menggandengku untuk pergi dari sana.

 

“Hoseok, terima kasih sudah membelikan pacarku lemonade, kau tidak menjampinya kan.. Hahaha.. Sampai jumpa besok malam”, Jin melambaikan tangannya pada Hoseok, Hoseok hanya tersenyum melihat kami berlalu.

 

 

Aku sedang menyantap dinner ku dengan Seokjin saat Hoseok dan Namjun datang. Hoseok duduk tepat di hadapanku. Mereka lalu terlibat dalam pembicaraan yang aku tidak mengerti. Aku memilih untuk tetap fokus pada makananku, mungkin yang mereka bicarakan adalah pembicaraan antar lelaki saja. Hoseok memainkan sendok di dalam gelas squash jeruknya hingga menimbulkan suara denting berirama yang tentu saja menarik perhatianku. Aku meliriknya, dia juga melirikku, lalu tersenyum. Apa dia sedang menggodaku? Jujur saja aku tergoda, dia sangat manis malam ini, aku bisa mencium aroma coklat tipis dari parfum yang dia pakai.

 

Babe, bagaimana?”, Seokjin menggoyangkan tanganku, membuatku terhenyak dari lamunanku atas Hoseok.

 

“Apanya yang bagaimana?”, aku mengatur nada suaraku agar tidak terdengar kikuk. “Aku baru saja bilang apa kau setuju jika Hoseok bergabung dengan tim penelitian kita”, Seokjin menatapku.

 

“Ha?! Apa?! Uhukhukhuk”, aku memekik lalu terbatuk tersedak ludahku sendiri. Namjun menyodorkan jus stroberiku yang sudah tinggal seperempat gelas, aku segera menghabiskannya perlahan.

 

Lalu dengan mempertahankan wibawaku, aku mulai mengajukan penolakan halus, “Bukankah dia masih baru.. Mahasiswa baru belum diijinkan masuk tim”. Namjun menyahutku, “Aku sudah mendapat ijin dari Profesor Il Rak, dia akan menjadi asisten Seokjin di bagian pemrogramannya, kau fokus saja pada olah datanya”.

 

“Oh, ok”, Namjun sudah mendapat ijin dari dosen pembimbing kami, jadi aku memilih untuk tidak mendebatnya.

 

“Jadi, noona, mulai sekarang aku akan banyak menghabiskan waktu dengan Seokjin hyung”, Hoseok menambahkan dengan nada suara yang sangat bersemangat.

 

 

Malam ini aku memilih untuk menginap di lab lagi. Aku sedang men save file data yang terakhir kuolah saat notifikasi Facebook di laptopku berbunyi. Hoseok, mengirim ajakan pertemanan, aku menerimanya. Beberapa detik kemudian, ada notifikasi di kolom pesan, Hoseok lagi.

 

‘Noona, aku menyukaimu’

 ‘Jangan bercanda’

 ‘Noona sangat imut’

 ‘Terima kasih’

 ‘Aku sudah mendapatkan nomer telponmu dari Jin hyung’

‘Jangan menempatkan kita dalam masalah. Kau tau siapa Seokjin’

‘Ucapkan selamat malam, kumohon’

‘Selamat malam’

 

“Kau masih chatting?”, Jin tiba tiba sudah berada di sampingku, sigap kuklik tombol X dibrowserku. “Ya, tapi sudah selesai”, aku memberinya eyesmile.

“Hoseok meminta nomer teleponmu padaku tadi. Jangan terlambat memberikan data kepadanya”, dia mem back hug ku menyandarkan dagunya di pundakku.

“Hoseok.. Dia menyukaimu..”, suaranya tertahan. “Kita semua sudah tahu dari dulu kan..”, aku berbalik, melingkarkan lenganku di lehernya. Jin mencium bibirku. Aku membalasnya. Bibirnya yang tebal sangat menggemaskan. Lidahnya beradu dengan lidahku, sesekali dia gigit bibir bawahku. Tangannya kirinya mulai meraba naik menyingkap kausku.

 

Aku melepaskan ciumannya dan menahan tangannya. “Tidak di sini Jin, ini lab..”, aku mengerling tersenyum nakal padanya. “Lalu di mana..?? Kau mau seks di atap?!”, ‘what?!’ sebelum aku sempat menjawab, dia sudah menarik tanganku dan membimbingku keluar dari sana.

 

Kami melintasi koridor yang sudah gelap, menaiki tangga melewati 5 lantai, sebelum akhirnya sampai di atap. Atap gedung ini hanya space kosong mendatar berbentuk persegi seperti lapangan. Aku bisa melihat beberapa bintang dari sini, kota ini terlalu tercemar, langit malamnya berwarna merah, cuaca sangat dingin di sini, aku bergidik. Jin memelukku dari belakang, membuat dinginnya berkurang digantikan libido yang meningkat di antara kami. Dia menciumi leherku, membuat beberapa kissmark di sana, aku membiarkannya. Jin hebat, seks di atap pasti akan sangat menggairahkan.

 

 

Sudah dua bulan sejak Hoseok bergabung dengan tim penelitian kami. Aku dan Jin mulai jarang menghabiskan waktu pribadi bersama, kami hanya bertemu dalam konteks penelitian. Besok kami harus menyerahkan semua hasilnya ke Prof. Il Rak, akhirnya, penelitian ini selesai.

 

‘Drrt’, smartphone ku bergetar, panggilan masuk dari Sunny.

 

“Cepat ke belakang perpustakaan! Namjun memukuli Hoseok!”, tanpa bilang halo ataupun salam penutup, Sunny menelponku. Aku segera berlari menuju perpustakaan yang berjarak 3 gedung dari lab ku.

 

“Stop! Jin! Stop!”, aku berteriak di sela sengal nafasku. Kulihat Namjun memukuli Hoseok, dan Jin memeganginya. Tapi aku malah berteriak acak saking kagetnya. Namjun berhenti sejenak, lalu meninju ulu hati adiknya sekali lagi. Darah segar keluar dari mulut Hoseok. Jin melepaskan tubuh Hoseok, membuat Hoseok jatuh tersujud. Keji. Dia memukuli adiknya sendiri, tapi kenapa?

 

Wajah Hoseok yang manis penuh lebam dan darah, aku mendekat dan mendengar dia merintih menahan sakitnya. Namjun menghampiriku, mencengkeram kerah bajuku membuat tubuhku terangkat dan aku berjinjit. “Jangan dekati adikku lagi”, dia berkata sinis. Mataku memanas, sepertinya aku akan menangis, tapi aku terlalu bingung, ada apa ini sebenarnya.

 

“Namjun, jangan sentuh dia”, Jin menyusul Namjun menghampiriku lalu berusaha melepaskan cengkeraman Namjun dari kerahku. Namjun melepaskanku lalu berjalan pergi dari sana seraya mencerca tanpa menoleh, “Cih, kalian sama saja, dibutakan oleh nafsu. Jangan dekati adikku lagi, atau kau akan kehilangan posisimu di tim bola, di tim penelitian, di tingkat kita, di mana pun, dasar wanita serigala”.

 

Sungguh, itu ancaman yang mengerikan, aku tidak mau kehilangan teman-temanku, terlebih kehilangan prestige ku. Namjun punya pengaruh yang kuat di sini, dan dia mungkin saja dapat mendepakku dengan mudah kapanpun dia mau.

 

“Ayo pulang”, Jin memaksaku pergi dari sana.

“Jin!”, aku berusaha melepaskan genggaman tangan Jin di pergelangan tanganku. Jin mendelik nanar,

“Brengsek! Kau sudah dengar apa kata Namjun kan?! Kau tidak mau persahabatan kita hancur kan?!”, Jin menyentakku. Aku tidak jadi menangis, masih gengsi, tapi aku merasa getir di tenggorokanku. Jin berbalik, bergegas meninggalkan kami.

“Jin, kita putus”, perkataanku menghentikan langkahnya. “Namjun benar, sebaiknya aku tidak dibutakan oleh nafsu lagi”, tanpa menoleh dia pergi meninggalkan kami, tapi itu bagus, aku tidak ingin dia melihat aku menangis.

 

 

Aku masih punya posisi dan pengaruh di tim bola, tim penelitian, maupun di kelas tingkatku. Namjun dan Jin masih berteman baik denganku. Semuanya terasa baik-baik saja, kecuali memang berita tentang putusnya aku dari Jin karena Hoseok sudah menyebar. Sepertinya lebih banyak yang senang karena hal ini, Jin terlihat makin sering dikerumuni para newbie perempuan. Namjun menyukaiku sebagai sahabat, tapi dia tidak suka aku menjalin hubungan dengan Hoseok, dia takut aku bisa melukai Hoseok.

 

Namjun pikir, aku selalu menjalin hubungan dengan pria hanya dari segi fisiknya. Sejak penelitian kami selesai, Hoseok tidak pernah menemuiku lagi, di depan teman-teman. Dia sering menemuiku di tempat yang hanya kami yang tahu, kami punya dunia sendiri sekarang. Dia beberapa kali memohonku untuk memacarinya, tapi aku selalu menolaknya. Aku menyukainya, tapi kurasa ini belum menjadi cinta. Aku masih belum punya hasrat untuk memperjuangkannya.

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Blinded by Lust Begin

  1. Hai Lisa, terima kasih sudah membaca & berkomentar 🙂 Iya, ini benar, dasarnya ini adalah kisah nyata, aku tulis dengan dramatisasi agar menarik untuk dibaca.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s