Ficlet · Genre · Length · PG · Rating · Thriller

Cam Recorder


IMG_20141227_185052

Title: Cam Recorder

Author: ts_sora

Cast: BTS’s Kim Tae Hyung, BTS’s Ji Min, BTS’s Min Yoon Gi

Genre: Thriller

Length: Ficlet

Disclaimer: Inspired by Anonymous’s creepy pasta. But the plot is mine. The casts belong to their entertainment company. No plagiarism juseyo

A/N: Pertama kalinya buat Thriller, mungkin aneh, tapi apa salahnya :p well, kritik dan saran sangat diperlukan. Enjoy it!

———————————————————————————————————————————————

Kim Tae Hyung adalah seorang mahasiswa yang melakukan studinya pada salah satu Perguruan Tinggi yang cukup ternama di Seoul. Karena tak cukup biaya untuk membayar sewa asrama yang disediakan oleh Perguruan Tingginya, ia memutuskan untuk tinggal sendiri pada sebuah kamar apartemen kecil yang berada di pinggiran kota. Awalnya, kehidupannya normal-normal saja, namun untuk beberapa bulan terakhir banyak hal ganjil yang santar terjadi padanya. Ia tak tahu apa semua yang terjadi merupakan halusinasinya saja atau memang benar terjadi. Saat ia pulang ke apartemenya, keadaan yang awalnya rapi berubah menjadi begitu berantakan. Padahal ia tinggal di dalam apartment tersebut sendirian. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya, namun kejadian tersebut tak pernah berangsur membaik dan semakin membuatnya takut tiap harinya.

“Sudah kubilang, aku tidak berhalusinasi,” ujar Kim Tae Hyung dengan penuh penekanan. Dua orang temannya yang berada tak jauh darinya mendengarkannya dengan tak sepenuh hati. Dan lihatlah, Min Yoon Gi. Ia berulang kali mengusap matanya dan terlihat menguap, cerita Tae Hyung untuknya tak lebih dari sebuah nyanyian tidur.

“Hyung, kau tidak percaya padaku?”

Min Yoon Gi terlihat mengedikkan bahunya. Oh ayolah, ia tahu bagaimana Kim Tae Hyung. Mereka berasal dari kota yang sama dan berusaha mengejar cita-cita mereka bersama-sama. Ia sangat mengenal Tae Hyung. Ya, seorang idiot yang selalu mengucapkan lawakan yang terkadang membuatnya ingin menampar laki-laki itu keras-keras karena lawakan anehnya.

“Berhentilah, atau aku benar-benar menamparmu Tae Hyung-ah,”

Kim Tae Hyung masih bersikeras dengan apa yang ia ucapkan. Ia memandang Ji Min yang berada paling dekat dengannya. Dengan penuh harapan, Tae Hyung memandang sahabatnya tersebut. Ia percaya bahwa Ji Min akan mengerti, karena mereka memiliki umur yang sama. Namun Ji Min terlihat ragu.

Kim Tae Hyung tak merasa kalah. Ia lantas meraih tasnya dan memperlihatkan beberapa potong pakaian yang terlihat robek.

“Ini buktinya,”

Min Yoon Gi mendengus pelan.

“Lalu kau akan bilang bahwa orang yang masuk ke dalam kamarmu yang merobeknya?”

Kim Tae Hyung mengangguk mengiyakannya.

“Jangan membuatku benar-benar membunuhmu Tae Hyung-ah. Kau tahu ini sama sekali tidak lucu. Kau akan meyakinkan kami bahwa seseorang yang membuat kamarmu berantakan dan merobek seluruh pakaianmu?”

“Tapi Hyung, aku serius. Ji Min yakinlah, ini benar terjadi padaku,”

Berbeda dengan Min Yoon Gi, Ji Min terlihat terkejut dengan apa yang diperlihatkan Tae Hyung padanya.

“Kau lupa mengunci pintu kamarmu?”

“Demi Tuhan aku mengunci kamarku dan untuk apa aku merobek semua pakaianku. Dan demi Tuhan aku tidak setolol itu,” ucap Kim Tae Hyung dengan bersungguh-sungguh. Mereka bertiga terdiam sejenak. Dengan setengah tak percaya, ia menatap wajah Tae Hyung. Dan baiklah, ia terlihat meyakinkan saat ini. Sedangkan Ji Min sibuk dengan bulu kuduknya yang tak henti-hentinya meremang saat ini.

“Apa kau melaporkan ini semua ke polisi?” tanya Ji Min memastikan. Min Yoon Gi yang masih setengah percaya memutar bola matanya. Apakah Ji Min akan percaya kali ini?

“Ya, dia ini mungkin hanya bercanda,”

“Tapi Hyung, tak mungkin ia berbohong dengan tampang ketakutan seperti itu,”

Mereka bertiga terdiam. Ji Min berusaha untuk menerka-nerka apa yang telah terjadi pada sahabatnya tersebut.

“Tapi kita tidak bisa melaporkannya ke polisi, karena Tae Hyung pun belum pasti siapa yang melakukan semua ini padanya,”

Min Yoon Gi menarik nafasnya kalah. Mugkin benar, kali ini Tae Hyung benar-benar tidak bercanda dan mungkin hal itu benar-benar terjadi pada dongsaengnya tersebut. Meski terdengar ganjil, namun wajah ketakutan Tae Hyung tak bisa dianggap enteng. Ia menatap Tae Hyung lekat sebelum ia kembali membuka mulutnya.

“Kau tahu aku tak tahu aku harus percaya padamu atau tidak, tapi kau bisa membeli CCTV dan memasangnya di kamarmu untuk melihat seseorang memang benar datang ke sana. Dan jika kau tidak melihat hal ganjil, kumohon kau perlu memeriksakan dirimu psikiater secepatnya,”

“Kau sudah memasangnya di apartemenmu?”

Kim Tae Hyung meletakkan tas ranselnya pada sudut ruangan. Ia membuang tubuhnya pada ranjang yang tak jauh darinya. Ia berdehem pelan.

“Baguslah. Untung, aku memiliki cam recorder, jadi kau tak perlu membeli CCTV,”

“Oh ayolah Yoon Gi hyung memang seperti itu. Ia menyuruhku untuk membeli CCTV? Ia pikir CCTV begitu murah apa?”

“Apalagi kau belum tahu pasti itu akan membuahkan hasil atau tidak,”

Kim Tae Hyung membuka matanya paksa. Ia melemparkan bantal pada Ji Min yang cukup dekat dengannya dan benar Ji Min sedikit terjungkal karenanya.

“Ya! Aku benar bukan?”

“Jadi kau tidak percaya? Lalu kenapa kau meminjamkan cam recorder padaku?” Kim Tae Hyung mendengus kesal.

“Oh ayolah, kita tak tahu bagaimana hasilnya. Kau bisa tidur di sini hari ini, karena kutahu kau ketakutan tadi,”

Keesokan harinya Kim Tae Hyung dapat perlahan melupakan apa yang terjadi padanya. Ia berangkat kuliah dengan Ji Min seperti biasanya, makan bersama dengan Ji Min dan mengerjakan tugas dengan temannya tersebut tanpa beban apapun. Sore harinya, ia pulang seperti biasanya menuju kamar apartemen miliknya. Dan kali ini, berbeda dari biasanya kamar miliknya sama sekali tak terlihat berantakan. Kim Tae Hyung berlari menuju tempat dimana ia menyembunyikan cam recorder milik Ji Min sesaat ia baru teringatkan sesuatu. Ia dapat melihat cam recorder masih berfungsi dengan baik.

Dengan sedikit tak sabar ia mengambil cam recorder tersebut. Baiklah apa ia harus melihatnya saat ini?

Kim Tae Hyung beralih pada ponselnya yang baru saja berdering. Ia menyeringai tipis. Benar, saru-satunya teman yang percaya dengannya adalah Ji Min. Meski laki-laki itu belum percaya sepenuhnya.

“Kau sudah ada di apartemen-mu?”

“Ya, aku baru saja sampai dan akan melihat hasil rekaman dari cam recorder milikmu,”

“Benarkah? Baiklah, sekarang waktunya. Coba kau katakan apa yang kau lihat,”

Kim Tae Hyung menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu. Ia menatap cam recorder itu dengan hati yang berdebar-debar. Ia menelan ludahnya berat sebelum akhirnya ia membalikkan layar kecil pada cam recorder itu padanya. Ia menekan-nekan cam recorder tersebut dan memilah video yang baru saja ia rekam.

“Bagaimana?”

“….tak ada yang terjadi,”

“Coba kau percepat,”

Kim Tae Hyung menekan cam recorder yang ia genggam saat ini untuk mempercepat video rekamannya.

“Ya Tuhan!”

“Apa? Ada apa?”

“Seorang wanita terlihat masuk ke apartemenku!”

“Benarkah?”

“Astaga, ia membawa sebilah pisau di tangannya!”

“Siapa dia? Tae Hyung-ah, kau mengenalnya?”

“T-tidak, aku tidak mengenalnya. Ia terlihat begitu lusuh dan kotor. D-dan sekarang ia masuk ke dalam kamarku,”

“B-benarkah? Apa yang dia lakukan?”

“Aku tidak tahu! Dan sekarang ia berjalan menuju kamar mandiku!”

“Ya Tuhan, benarkah? Sekarang apa yang dia lakukan?”

“Dia sama sekali tidak keluar. T-tunggu, seseorang terlihat memasuki apartemenku saat ini!”

“S-siapa dia?”

“Oh, maaf itu diriku sendiri yang baru saja pulang,” ucap Kim Tae Hyung terkekeh pelan. Ia kembali mengutak-atik cam recorder yang ada di tangannya. Ia terlihat mempercepat dan memperlambat video yang ia putar.

“Tae Hyung-ah…”

“Hmm?”

“Apa kau sudah membuka kamar mandimu tadi?”

Kim Tae Hyung terdiam. Ia terpaku menatap pintu kamar mandi yang berada di belakangnya yang masih tertutup rapat dan sama sekali belum ia buka. Ia menelan ludahnya semakin berat.

“Tae Hyung-ah, katakan, apa kau sudah membuka kamar mandimu? Tae Hyung-ah, kau sebaiknya keluar dari sana secepatnya! Cepat kau harus keluar sekarang!”

“Ji Min-ah, aku …………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………”

“Kim Tae Hyung! Ya, kau di sana?”

Dan panggilan benar-benar terputus.

Ji Min berlari dengan sekuat tenaganya. Pada salah satu tangannya ia masih menggenggam ponsel miliknya. Berulang kali ia menekan nomor Tae Hyung, namun laki-laki itu sama sekali tak menjawab panggilan darinya. Panggilan terakhir terputus begitu saja. Ia berulang kali meneriakkan namanya namun panggilan benar-benar terputus.

Ji Min dapat melihat saat ini gedung apartemen dimana Tae Hyung tinggali penuh dengan orang. Ia akui saat ini beberapa mobil polisi terparkir di sana. Ia tahu sesuatu pasti telah terjadi.

“Maaf nak, kau tidak boleh masuk,”

Ji Min mencoba melepaskan genggaman beberapa polisi yang mencoba menghentikannya. Ji Min seketika lemas saat beberapa petugas ambulan terlihat mengangkat papan dimana seseorang terlihat tergeletak di sana dengan sebuah kain putih bernoda darah di atasnya. Ji Min tak peduli dengan beberapa polisi yang meneriakinya. Ia menyibak kain putih itu paksa. Dan ya, mayat dengan belasan atau puluhan luka menganga akibat tusukan di tubuhnya juga di wajahnya mulai terlihat begitu jelas. Mayat yang terlihat begitu mengenaskan dengan darah segar yang masih saja mengalir cukup banyak.

Ji Min menutup matanya rapat saat ia menemukan fakta baru saat ini. Salah seorang temannya baru saja terbunuh.

“Aku terlambat,”

Ji Min membuka matanya yang mulai berair saat ini dan memandamg laki-laki berkulit pucat berdiri tak jauh darinya. Wajahnya terlihat lesu. Ia tersenyum lemas saat Ji Min menangkap basah dirinya. Ia menunjukkan sebuah kertas koran yang terlihat cukup lusuh.

Ji Min menahan nafasnya saat ia dapat membaca kata per kata sebagai headline koran tersebut. Sebuah pembunuhan yang sama terjadi di apartemen Tae Hyung beberapa tahun yang lalu dan kini peristiwa itu baru saja terjadi kembali.

Jika saja mereka percaya dengan apa yang dikatakan Tae Hyung sebelumnya. Jika saja mereka percaya dengan rasa takut yang Tae Hyung rasakan selama ini, laki-laki itu tak mungkin terbunuh.

.

.

.

-The End-

Advertisements

2 thoughts on “Cam Recorder

  1. thriller pertama yang kamu buat berhasil , sayangnya kurang panjang. Kalo dimasukin unsur detektif gitu bagus mungkin, jadi berusaha mencari pelaku yg robek2 baju taehyung. lanjut ya buat thrillernya , gak sabar pengen baca .

    Like

  2. Asli, baca ini bikin aku nahan nafas. Bikin tegang….huaaaaaa….
    Klw menurutku sie ini thriller dh berhasil bgt. Aku sukaaaaa…huaaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s