Action · Chaptered · Drama · Fantasy · Romance

[FF Freelance] Broken Wings Chapter 3


Processed with Rookie

Chapter 1/2/3 

Author: Dilly / @happyinkeul

Title: Broken Wings

Main Cast: iKON B.I & Lee Hi

Other Cast: iKON member, AKMU Lee Suhyun, EXO Kai, Sehun.

Genre: Fantasy, Romance, Angst

Chapter 03 : The Light

In the morning it comes, heaven sent a hurricane

Not a trace of the sun but I don’t even run from rain

Beating out of my chest, my heart is holding on to you

From the moment I knew

“Bunuhlah mereka dan enyahkan lah kegelapan dari muka bumi ini.” Perintah seorang lelaki tua dengan pakaian serba putih kepada Hayi. Ia menyerahkan sebilah pedang panjang yang dikelilingi oleh kilatan aliran listrik pada pedang tersebut. Dengan hati yang bimbang Hayi meraih pedang tersebut dari tangan lelaki tua itu.

“Dan tancapkanlah pedangmu itu tepat ke jantungnya.” Perintah lelaki tua itu sekali lagi dengan pandangan penuh kebencian yang ia lemparkan pada seseorang dihadapannya. Hayi menoleh mengikuti arah pandangan lelaki tua tersebut. Dihadapan Hayi terdapat seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan kedua tangan dan kaki yang terikat oleh sebuah rantai tembaga keemasan, perlahan-lahan lelaki itu membuka matanya, mata keemasan yang bersinar seperti permata meskipun malam membuat segalanya menjadi terlihat gelap gulita. Lelaki itu memandang Hayi dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Hayi, setetes air mata mengalir dari sudut matanya ketika pandangannya bertemu dengan Hayi, seperti memohonnya untuk tidak membunuhnya.

“Lee Hayi…” ucap lelaki yang terbelenggu itu dengan suara yang parau.

Tubuh Hayi bergetar hebat, perasaan dalam hatinya makin berkecamuk ketika lelaki itu memanggil namanya. Hayi menutup kedua matanya untuk menghindari tatapannya. Kedua tangannya mencengkram kencang-kencang pedang tersebut. Namun, saat ia menutup kedua matanya, suara lelaki itu makin terdengar jelas di dalam pikirannya dan mengatakan hal yang tidak terduga olehnya.

Aku mencintaimu, Lee Hayi. Tidak apa, bunuhlah aku.

Hayi terbangun dengan nafas terengah-engah, dadanya berdebar dengan kencang, keringat mengucur deras dari dahinya. Sudah sebulan terakhir ini ia selalu memimpikan hal yang sama, lelaki berbaju hitam dengan mata emasnya dan menyaksikannya terbunuh, namun yang membuatnya merasa janggal, hatinya terasa seperti tersayat setiap kali mengingatnya mati terbunuh, terlebih lagi ketika ia selalu mengatakan jika ia mencintai Hayi. Semuanya terasa begitu aneh, didalam lubuk hatinya ia tidak ingin melihatnya mati terbunuh, betapa ia ingin melindungi dan menyelamatkannya, bahkan ketika Hayi tidak bisa mengingat wajah lelaki berbaju hitam itu sesaat setelah ia tersadar dari tidurnya.

Hayi menghapus keringat yang mengucur deras dari dahinya dengan punggung tangannya, matanya menerawang ke jendela kamarnya yang berada disisi sebelah kanannya. Matanya terpejam mencoba untuk mengingat wajah pria berbaju hitam itu, berkali-kali ia mencoba untuk mengingatnya namun ia tidak bisa mengingatnya sama sekali, hanya mata emasnya satu-satunya hal yang ia ingat dari pria itu. Hayi terpekik sesaat ketika ia merasakan nyeri pada kepalanya. Hal ini selalu terjadi saat ia mencoba untuk mengingat wajah pria itu, mimpi-mimpinya bagaikan potongan puzzle yang tidak bisa ia mengerti sedikit pun. Mengapa mimpi-mimpi itu terus menghampirinya. Hal tersebut selalu membuatnya bertanya-tanya.

“Lee Hayi! Cepatlah bangun kau tidak mau terlambat, kan?”

Teriakan Ibu akhirnya menyadarkan dari usahanya mengingat segala tentang mimpi-mimpinya untuk sementara. Dengan kepala yang masih terasa berputar-putar, ia berusaha mengenyahkannya dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum ia mengambil beberapa langkah panjang untuk berlari ke kamar mandi sebelum Suhyun mendahuluinya.

Aroma pancake hangat dan sirup maple menyeruak hampir ke seluruh penjuru rumah membuat perut Hayi bergemuruh karena lapar. Dengan kecepatan kilat Hayi berlari menuruni anak tangga menuju ke ruang makan, dipeluknya seorang wanita cantik berambut ikal pendek yang masih terlihat cantik diusianya yang terbilang sudah tidak muda. “Selamat pagi, Umma.” Sapa Hayi kepada wanita itu yang tidak lain adalah ibunya dan mencium kedua pipinya. Wanita itu tersenyum manis kepada Hayi dan membelai lembut rambutnya.

Hayi melirik kearah anak tangga dengan seutas senyuman di bibir merahnya ketika ia mendapati Suhyun yang berlari terengah-engah saat menuruni anak tangga, tidak perlu semenit bagi Suhyun untuk sampai ke meja makan dan menikmati pancake favoritnya dan Hayi. Hayi terkekeh melihat tingkah adiknya.

“Ya! Lee Suhyun! Ucapkan lah salammu terlebih dahulu!” Teriak Ibu melihat tingkah Suhyun.

“Selamat pagi, Umma. Terima kasih atas sarapannya.” Ucap Suhyun dengan lantang dan kembali memakan pancakenya dengan lahap.

* Hayi’s POV : Mata Emas dan Sayap Hitam *

“Annyeong, Umma!” pamit Suhyun kepada Ibu sebelum kami berangkat menuju sekolah. Aku pun tak lupa ikut melambaikan tanganku pada Ibu. Dari kejauhan aku bisa melihat Ibuku yang melambaikan tangannya pada kami sebelum akhirnya ia masuk kembali ke dalam rumah. Pagi ini kujalani seperti hari-hari biasanya, dan kurasa hari ini pun akan berjalan seperti biasanya. Mungkin hidupku memang terasa sangat membosankan, jujur saja aku adalah tipe orang yang pemalu dan aku tidak begitu baik dalam memulai pertemanan. Sangat berbeda dengan adikku, Suhyun. Aku selalu merasa iri dengannya, kemampuannya untuk bersosialisasi dan mendapatkan teman baru sangat menganggumkan. Aku tak punya kekasih maupun orang yang menarik perhatianku untuk sementara ini. Aku ingin tahu apakah mempunyai orang yang kau sukai begitu menyenangkan? Karena Suhyun terlihat begitu bahagia ketika orang yang disukainya muncul disekitarnya. Ya, seperti sekarang ini.

Aku menyipitkan mataku untuk melihat seseorang yang sedang melambaikan tangannya kearahku dan Suhyun. Melihat tingkah Suhyun yang bertindak aneh, seperti merapikan poninya yang sesungguhnya sudah terlihat rapi. Aku tahu benar siapa orang yang ada didepan kami saat ini. Tak lain dan tak bukan adalah Bobby. Teman masa kecilku, aku hampir menghabiskan 15 tahun umurku bersamanya. Kami berteman sejak TK hingga sekarang kami menginjak bangku SMA. Aku tak tahu apa yang membuat Suhyun dan hampir seluruh siswi di sekolahku begitu tergila-gila pada Bobby. Aku tahu dia lumayan tampan, well, walaupun tidak setampan Woo Bin oppa tapi setidaknya dia bukan cowok yang bisa membuatmu malu untuk kau bawa ke prom-night. Namun, terkadang aku tidak bisa menghadapi sikapnya yang begitu overprotective kepadaku. Karena aku tahu Suhyun akan memberondongku dengan banyak pertanyaan. Jujur saja jika Suhyun mengizinkanku untuk memberitahu Bobby perasaannya, aku akan dengan senang hati memberitahukan itu padanya agar Bobby berhenti mengangguku dan menginterversi hidupku.

“Annyeong, Hayi-ah, my cutie Suhyun.” Sapa Bobby ketika ia menghampiri kami. Suhyun yang berdiri disampingku melambaikan tangannya dan tersenyum dengan cute.

“Annyeong oppa!” Sapa Suhyun dengan wajah yang merona. Begitu juga dengan Bobby, aku bisa melihat deretan giginya yang putih bersinar karena ia tersenyum begitu lebar. Aku menghela nafas panjang dan memutar bola mataku, entahlah melihat Bobby yang bersikap seperti itu membuatku merasa mual.

“Ya! Kau tak menyapaku?” Tanya Bobby kepadaku seraya melambaikan kedua tangannya didepan wajahku. Menyebalkan. Umpatku dalam hati, dengan malas ku tepis kedua tangannya dari hadapanku.

“Heol! Kau benar-benar seperti gangster.” Bobby menyeringai melihatku yang menepis tangannya dan menyebarkan pandangan tidak bersahabat padanya.

“Unnie, kau tak akan punya pacar kalau kau kasar begitu.” Ucap Suhyun, seperti biasa selalu membela Bobby daripada aku yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kandungnya. Menyebalkan sekali, rasanya ingin sekali aku mengenyahkan pria ini dari hadapanku. Lihat saja dia sekarang, tampangnya menunjukkan senyum penuh kemenangan padaku, dengan santai ia melingkarkan tangannya pada bahu Suhyun. Aku bisa lihat bagaimana perubahan rona wajah Suhyun saat Bobby melingkarkan lengannya pada bahu Suhyun dan menariknya mendekat ke sisinya dan meninggalkan aku sendirian.

“Pergilah dari hadapanku! Kau menyebalkan sekali, Lee Suhyun, Kim Jiwon!” Umpatku kesal pada mereka yang sudah berjalan didepanku tanpa mempedulikanku.

Kau benar-benar seperti gangster.

Tubuhku membeku dan mematung begitu saja ketika aku mendengar suara pria yang sudah tidak asing lagi di kepalaku. Suaranya menggema memenuhi seluruh dinding otakku. Tanpa pikir panjang, aku melemparkan pandanganku keseluruh penjuru, sisi kanan dan kiri, depan dan belakang, memperhatikan setiap jalan, setiap orang yang melewatiku atau memberikan pandangan aneh kepadaku, mungkin aku terlihat seperti orang yang tidak waras sekarang ini. Aku tidak peduli lagi, aku hanya ingin bertemu dengan pria bermata gelap itu lagi.

Kau? Apakau kau bisa melihatku sekarang? Tanyaku padanya, tentu saja melalui pikiran kami yang saling tersambung entah bagaimana caranya. Dengan hati yang berdebar aku terus menunggu jawaban darinya.

Aku bisa melihatmu, kok. Kau cantik, walaupun menjadi gangster.

Hatiku berdegup dengan kencang ketika aku mendengar jawabannya di kepalaku. Entah apa yang terjadi padaku tapi aku dapat merasakan kedua pipiku yang memanas ketika ia memanggilku cantik. Tidak! Aku tidak boleh membuatnya mendengar pikiranku tentang yang satu itu.

Dengan hati yang berdebar, sekali lagi aku mencoba untuk menemukannya. Jika aku bisa mendengar pikirannya saat ini, artinya ia berada tidak jauh dariku sekarang.

Kau dimana? Bisakah kau muncul dihadapanku? Pintaku, berharap agar dia memunculkan wajahnya kepadaku. Sekali lagi aku melemparkan pandanganku kesekitarku, dan ketika aku mengangkat wajahku keatas, entah  ini mimpi atau bukan tapi aku seperti melihat seekor burung besar yang terbang diatas langit terlihat dengan sayap hitam yang terbuka lebar, aku menyipitkan mataku ketika sebuah sinar keemasan menyilaukan mataku dan membuatku untuk menutup kedua mataku untuk mengurangi rasa perih pada mataku.

Kita pasti bertemu, kok. Ucapnya singkat, kata-katanya tersebut bergema dengan sangat hebat dikepalaku. Perlahan-lahan aku mulai membuka kedua mataku dan lagi-lagi semuanya terasa seperti mimpi ketika aku melihat beberapa helai bulu-bulu halus berwarna hitam yang berterbangan dari atas langit, tanpa ragu kuraih bulu-bulu hitam itu. Aneh, namun tanganku seperti tersengat aliran listrik ketika aku menyentuhnya. Aku meringis, namun tiba-tiba hatiku berdegup dengan kencang, bayangan-bayangan akan mimpiku dan pria berbaju hitam kembali muncul dalam ingatanku. Keringat dingin mulai bercucuran menuruni tengkukku. Apakah arti dari semua ini?

Hey, apakau sudah pergi? Teriakku dalam pikiranku, namun tidak ada jawaban darinya. Suara pria itu sudah lenyap. Aku mencoba berlari mengikuti arah bulu-bulu yang berterbangan itu. Hanya untuk mengetahui siapa pria itu. Aku berlari dan terus berlari mengikuti bulu-bulu hitam tersebut yang perlahan-lahan lenyap menjadi serpihan-serpihan kecil seperti debu.

“Hey! Muncullah dihadapanku!” Teriakku dengan nafas terengah-engah. Aku tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang yang melihat kearahku dengan pandangan anehnya. Bagus sekali, aku jelas terlihat seperti orang yang tidak waras sekarang. Aku merunduk untuk mencoba mengatur nafasku, tenggorokanku terasa panas seperti terbakar.

“Hayi-ah! Katakan padaku apa yang terjadi?!”

Aku mendongakkan kepalaku, Bobby berdiri dihadapanku dengan wajahnya yang panik, seperti biasa dia selalu bertindak berlebihan. Secara perlahan Bobby memegang kedua lenganku menuntunku untuk berdiri. Walaupun aku tak begitu suka sifatnya yang selalu bersifat berlebihan kepadaku, Bobby tetaplah sahabat yang selalu aku andalkan. Terutama mengenai hal-hal aneh seperti mimpi-mimpiku, karena Suhyun tidak percaya akan hal-hal yang diluar logika.

“Bobby, kau tahu bulu apa ini?” Tanyaku dengan menunjukkan helaian bulu hitam yang ada ditanganku. Dari sudut mataku, aku bisa melihat perubahan drastis pada wajah Bobby. Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya yang terlihat seperti orang yang ketakutan.

“Unnie, ada apa sih?” Aku menoleh pada Suhyun yang akhirnya menghampiriku, wajahnya terlihat bingung. Pandangan matanya tertuju pada telapak tanganku dan berganti padaku dan Bobby secara bergantian.

“Suhyun, kau tahu bulu apa ini?”

Suhyun melemparkan pandangan tidak percayanya padaku seakan ia melihat sesuatu yang aneh terjadi pada diriku. Mulutnya terbuka lebar, dari sudut mataku aku juga bisa merasakan reaksi Bobby yang berubah seperti orang panik. Entahlah, apakah bulu hitam ini terlihat menakutkan atau memang terjadi sesuatu yang salah padaku.

“Unnie, kau tidak sakit kan? Bulu apa sih? Aku tidak melihat apa-apa ditanganmu.” Ucap Suhyun bagaikan petir disiang bolong ditelingaku. Bagaimana tidak? Jelas-jelas bulu hitam itu masih berada ditanganku.

“Suhyun-ah, jangan bercanda! Kau lihat bulu hitam ini masih ditanganku!” Aku berkata nyaris berteriak padanya, aku tidak tahu apa maksudnya mengatakan ia tidak melihat bulu hitam itu. Jika maksudnya adalah sebuah lelucon, lelucon ini sungguh terlihat tidak lucu, terlebih ketika Suhyun melihatku seperti orang tidak waras.

Aku mengalihkan pandanganku pada Bobby, wajahnya tertunduk dan matanya mengarah pada telapak tanganku yang mengenggam bulu hitam itu. Aku tahu pasti Bobby tidak akan membuat lelucon seperti Suhyun, karena aku sungguh tidak ingin mendengar lelucon konyol. Yang ku inginkan saat ini hanya darimana bulu-bulu hitam ini berasal.

“Kau, Bobby katakanlah sesuatu pada Suhyun kau melihatnya, kan?” Tanyaku pada Bobby dengan menatapnya tajam. Bobby mengangkat wajahnya dan pandangan kami bertemu, kali ini pandangan takutnya berubah menjadi pandangan yang sulit untuk digambarkan.

“Tidak, aku tidak melihat apapun, Hayi-ah.”

“Pembohong!” Teriakku dengan kesal padanya. Aku tahu betul dengan jelas Bobby dapat melihat bulu-bulu hitam itu dan dia berbohong padaku, wajahnya saja terlihat pucat ketika aku menunjukkannya sebelum Suhyun datang. Namun, mengapa ia mengatakan ia tidak melihatnya sekarang? Jika mereka benar-benar berkerja sama agar aku terlihat bodoh, usaha mereka kali ini benar-benar berhasil.

“Unnie, pulang dan istirahatlah.” Ucap Suhyun terdengar khawatir dengan keadaanku. Daebak, mungkin dia benar-benar melihatku seperti orang gila sekarang, aku tahu ia akan menyuruhku untuk berhenti berhalusinasi. Jika saja dia tahu bagaimana rasanya aku berusaha untuk memungkiri segala hal yang dikatakannya hanya sebuah halusinasi gilaku saja, tapi aku tak bisa, karena semua ini terasa begitu nyata. Tenggorokanku tercekat, amarahku sudah hampir tidak terbendung lagi.

“Lee Suhyun, berhentilah menganggapku seperti orang gila. Kali ini, aku tidak berhalusinasi.” Ucapku sambil berusaha menahan segala amarahku dengan meninggalkan Suhyun dan Bobby begitu saja. Namun, dari kejauhan aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka ketika Bobby menanyakan apa yang terjadi padaku, amarahku kembali muncul ke permukaan ketika ia berbicara tentang hal yang membuatku nyaris berteriak untuk mengumpat kesal pada Suhyun yang bercerita pada Bobby seakan-akan aku sakit jiwa karena aku bisa mendengar suara pria dalam pikiranku.

***

Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk sampai ke sekolah, dengan langkah yang berat dan hatiku yang sedang kacau, rasanya ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya untuk mengeluarkan amarahku. Beberapa teman dan juniorku berusaha menyapaku dengan senyum manis mereka, namun aku sungguh tidak bisa bersikap manis kali ini, bahkan untuk sekedar bertukar sapa.

Aku berjalan melewati lapangan sepak bola untuk menuju ke keruangan kelasku, seperti biasa lapangan sepak bola itu selalu terlihat ramai, sebelum pelajaran dimulai sebagian anak laki-laki akan menghabiskan waktu mereka untuk bermain sepak bola, setengah dari mereka hanya bermaksud untuk memamerkan karismanya pada cewek-cewek yang biasanya berkumpul dipinggir lapangan untuk bersorak-sorai mendukung cowok-cowok itu, yang menurutku terlalu sering tebar pesona.

Aku menoleh untuk melihat kearah cewek-cewek yang sedang berkumpul dipinggir lapangan, jumlahnya terlihat lebih banyak dari hari-hari lainnya dan mereka berteriak lebih kencang dari biasanya. Dari kejauhan aku mencoba untuk melihat siapa lelaki yang membuat para wanita ini menjadi berteriak histeris, well walau sebenarnya tidak histeris dalam maksud yang mengerikan, namun tetap saja mereka terlihat mengerikan karena terlalu berlebihan. Setelah mencoba beberapa menit untuk melihat kearah lapangan sepak bola, akhirnya aku mengurungkan niatku untuk melihat siapa sumber keributan pagi ini, aku kembali melanjutkan langkahku menuju ruang kelas.

Baru saja aku mengambil beberapa langkah, namun langkahku sudah terhenti. Bobby berdiri dihadapanku, kedua tangannya dilipat didepan dada. Aku menghela nafas panjang, berusaha untuk tidak mengingat kejadian tadi.

“Hayi-ah…”

“Lebih baik kau tidak usah berbicara padaku jika kau hanya menganggapku gila.” Ucapku memotong perkataan Bobby sebelum ia sempat berbicara kepadaku. Aku berusaha untuk pergi menjauh darinya, namun Bobby berhasil menarik lenganku.

“Lepaskan.” Ucapku masih berusaha untuk tenang.

“Aku lepaskan jika kau mendengarkan aku.” Ucap Bobby dengan pandangan serius.

Aku memandangnya dengan tatapan tajam, Bobby tahu betul aku bisa melemparkan semua amarahku padanya kapanpun itu.

“Baik, katakanlah.”

Bobby sekali lagi menatapku dengan serius dan mengambil beberapa nafas panjang sebelum mulai berbicara. Aku masih memandangnya dengan tajam.

“Istirahatlah dan lupakan lah suara pria yang kau dengar dalam pikiranmu, dan bulu hitam tadi, semua itu tidak ada hubungannya dengan mimpi-mimpi anehmu, jadi lupakan saja.” Bobby berkata padaku dengan tenang, namun mendengarnya berbicara seperti itu sungguh tidak bisa membuatku tenang.

“Kau melihat bulu hitam itu, kan?” tanyaku sinis.

Kali ini Bobby menghindari tatapan mataku, aku tahu dia berbohong padaku. Namun, jawaban yang keluar dari mulutnya sungguh membuatku tercengang tidak percaya.

“Tidak, aku tidak melihatnya.” Jawab Bobby singkat dan aku tahu dia berbohong, dengan kasar aku menepis lengannya dariku dan pergi mengabaikannya, tapi bukan Bobby namanya jika tidak menyebalkan dan terus-terusan mengangguku. Kini Bobby kembali memblokade jalanku.

“Itu hanya halusinasimu, Lee Hayi. Memangnya kau tahu pria itu? Memangnya kau pernah bertemu dengannya?” ucap Bobby hampir berteriak, anak-anak disekeliling kami mulai mengalihkan pandangannya padaku dan Bobby.

“Iya benar semua hanya halusinasiku! Kau puas?!” ucapku tak kalah kencangnya dengan Bobby dengan rasa kesal yang benar-benar memuncak aku mendorongnya sekuat tenaga hingga ia hampir terjatuh dan berlari secepat yang kubisa untuk menghindarinya.

Aku berlari dan terus berlari hingga rasanya paru-paruku akan meledak, kepalaku mulai berputar hebat ketika perkataan Bobby terngiang-ngiang didalam pikiranku. Mungkin apa yang dikatakannya benar, aku hanya berhalusinasi dan mungkin Suhyun juga benar kalau aku memang sudah gila. Tapi, jika semua ini hanya halusinasiku saja mengapa semuanya terasa begitu nyata? Andai saja aku bisa bertemu dengan pria pemilik suara yang ada di dalam pikiranku ini, aku hanya ingin memohonnya untuk berhenti membuatku terlihat seperti orang sakit jiwa, karena kau benar-benar mengangguku.

Dengan nafas terengah-engah, aku mencoba untuk mengatur nafasku menjadi normal kembali. Ku sandarkan punggungku pada loker lemari. Belum selesai aku menstabilkan nafasku, ketenanganku pagi ini benar-benar seperti sedang diuji. Aku kembali mendengar teriakan beberapa wanita yang berkempul tepat diujung loker yang terletak di belakangku. Wanita-wanita itu terlihat seperti macan betina yang lapar sedang mengelilingi mangsanya yang malang. Benar-benar pria yang malang. Aku melirik pria yang terlihat asing bagiku dari tempatku berdiri, dia berdiri membelakangiku, well, sepertinya dia memang tampan, punggungnya terlihat tegak dan aku bisa melihat otot-otot tangannya yang terbentuk secara sempurna.

“Siapa sih dia?” aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri sambil menggaruk kepalaku yang terasa gatal. Mungkin hanya murid pindahan, entahlah aku tidak peduli. Dengan malas aku membuka lokerku, mengambil beberapa barang sebelum bel sekolah berdering kencang.

* * *

Aku memasuki ruang kelasku dengan langkah berat, rasanya aku benar-benar ingin menghilang dan menghindari semua orang disekelilingku. Aku berjalan kearah mejaku, mengacuhkan beberapa temanku yang menyapaku ketika aku melewati mereka. Aku bahkan bisa mendengar mereka berbicara tentang sikapku yang benar-benar dingin pagi ini. Ya, katakan apapun maumu, aku tidak akan peduli. Untunglah mejaku terletak di baris belakang, dipojok ruangan, meskipun awalnya aku kurang menyukainya karena sulit bagiku untuk bisa melihat dan mendengar penjelasan guruku, tapi itu tidak berlaku padaku sekarang, setidaknya aku bisa mendapat sedikit ketenangan dan menenangkan diriku dari pagiku yang kacau ini. Aku menghela nafas panjang, pandanganku menerawang jauh keluar jendela kelasku. Perasaanku masih saja berkecamuk, jika benar aku hanya berhalusinasi bagaimana caraku untuk mengenyahkannya.

Suasana kelasku berubah menjadi sunyi senyap dan seluruh murid kembali ke tempat duduknya masing-masing ketika Mr. Park, guru bahasa inggrisku memasuki ruangan. Aku menghela nafas panjang sekali lagi dan menelungkupkan wajahku ke meja, rasanya aku hanya tidak ingin mendengar apapun. Namun tetap saja aku masih bisa mendengar suara Mr. Park yang suaranya terdengar seperti lonceng.

“Okay, class. Hari ini kelihatannya kita kedatangan murid baru. Mungkin sebagaian dari kalian sudah melihatnya. Silahkan masuk.” Ucap Mr. Park dengan suaranya yang benar-benar menusuk ditelingaku. Hanya sekejap saja setelah Mr. Park mengumumkan bahwa ada murid baru, suasana kelasku berubah menjadi ramai kembali. Aku yang masih menelungkupkan kepalaku bahkan bisa mendengar hampir semua pembicaraan mereka tentang anak baru itu, betapa sempurnanya dia. Dari pendengeranku, aku bisa mendengar pintu kelasku yang bergeser dan derap langkah seseorang dan suasana kelasku kembali senyap.

“Perkenalkan lah dirimu.”

“Baiklah. Hmm, Hai semuanya, namaku Kim Hanbin dan aku berharap kalian semua bisa menerimaku dengan baik disini. Aku mohon bantuan kalian semua, terima kasih.”

“Baik Hanbin-ssi, kau bisa duduk di meja sebelah Lee Hayi. Lee Hayi-ssi apa kau hadir?”

Secara otomatis tubuhku langsung berdiri tegak ketika aku mendengar Mr. Park menyebut namaku, dengan cepat aku berusaha merapikan rambutku yang terlihat berantakan, “Aku hadir!” ucapku dengan lantang sambil mengangkat tangan kananku.

“Apa kau tertidur, hah?” Tanya Mr. Park terdengar seperti ingin menelanku hidup-hidup. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.

“Ti-tidak, aku tidak tidur, Pak.” Ucapku tergagap, bagaimana pun menyebalkannya Mr. Park dia adalah salah satu guru paling killer di sekolahku. Selagi kau masih bisa menghindarinya, maka hindarilah untuk terlibat masalah dengannya, karena hukuman yang ia berikan benar-benar akan membuatmu seperti hidup dineraka.

“Kim Hanbin-ssi, kau bisa duduk dimeja kosong disampingnya.” Perintah Mr. Park pada murid baru itu. Dari kejauhan aku bisa melihat wajah pria ini seperti tidak asing bagiku, seperti aku pernah melihatnya disuatu tempat namun entahlah, aku benar-benar tidak bisa mengingatnya.

Aku melirik kesekitarku dan aku bisa mendenger beberapa cewek-cewek yang menganggumi wajahnya, mengatakan bahwa dia benar-benar terlihat sempurna. Aku akui dia memang tampan, tapi untuk dibilang sempurna sepertinya itu terlalu berlebihan.  Well, memang sih badannya terlihat proporsional dan tegap, dari kejauhan aku bisa melihat otot-otot kuat dari tangannya, sekilas terlintas dibenakku untuk membuka bajunya dengan paksa hanya untuk melihat abs di perutnya. Secara tak sadar, aku membiarkan mulutku terbuka lebar, aku menutupi kedua pipiku yang tiba-tiba saja terasa panas, entah kenapa aku bisa berpikiran kotor seperti itu, dengan cepat aku menggelengkan kepalaku untuk segera mengenyahkan pikiran kotorku.

Dengan hati yang masih berdebar aku memberanikan diri untuk meliriknya, ia masih berdiri didepan kelas sebelum akhirnya membungkuk untuk memberikan hormat pada Mr. Park kemudian ia mengubah langkahnya padaku, tidak, maksudnya mengarah pada meja kosong di sebelahku. Aku masih memandangnya, entah apa yang membuatku ingin memandangnya terus-menerus.

Hatiku berdegup kencang tidak beraturan untuk pertama kalinya saat pandangan kami bertemu, aneh rasanya, namun aku merasakan hal yang tidak biasa ketika aku menatap matanya. Detak jantungku terdengar lebih kencang dari biasanya, aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku ke lain sisi, aku seperti dibuat buta olehnya karena aku hanya bisa melihatnya saja berjalan kearahku dengan senyuman yang benar-benar, entahlah aku tidak bisa melukiskan bagaimana dia terlihat begitu berkarisma, bahkan ketika ia sedikit demi sedikit berjalan mendekat kepadaku aku hanya bisa terdiam membisu memandang matanya yang juga hanya memandangku seorang. Mata gelapnya terlihat begitu bening dan indah, aku bahkan bisa melihat bayangan diriku yang terpantul di kedua bola matanya, dan hanya ada diriku tidak ada yang lain.

Damn, benar-benar sempurna. Ucapku dalam hati.

Pria yang bernama Hanbin itu kini berdiri dihadapanku, tanpa kusadari aku hanya bisa terdiam terpaku melihatnya sedekat ini, aku bahkan bisa melihat kulitnya yang bersinar benar-benar sempurna. Apakah dia benar-benar manusia, ternyata aku harus menarik semua ucapanku tadi, karena dia benar-benar sempurna. Aku hanya bisa memandanginya tanpa tau harus berbuat apa-apa.

“Aku tahu aku memang tampan dan terlihat sempurna, jadi bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?” ucap Hanbin benar-benar membuatku tidak percaya akan apa yang dikatakannya padaku. Dia tersenyum menyeringai padaku sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya dikursinya. Aku bisa merasakan semua orang memandang kearahku dengan tatapan seperti mencemooh. Aku menghela nafas kesal dan kembali duduk di kursiku. Aku benar-benar tidak menyangka ia akan berkata seperti itu, dia benar-benar penuh akan dirinya sendiri.

“Okay, kita akan memulai pelajaran hari ini, buka halaman 78.” Ucap Mr. Park mengubah suasana kelas menjadi sunyi senyap kembali.

Dengan malas aku membalik halaman buku bahasa inggrisku, baru saja aku berusaha untuk memfokuskan perhatianku kedepan, namun lagi-lagi perhatianku kembali terusik ketika Hanbin menggeser mejanya untuk mendekatkan mejanya dengan mejaku dan menggeser kursinya hingga berjarak 10 cm denganku. Hanbin tersenyum lebar padaku, lagi-lagi senyuman yang seperti dibuat-buat agar dia terlihat cool. Aku menyesal telah berpikiran kalau dia sempurna, sifatnya ternyata sungguh menyebalkan.

“Kau yakin akan menarik perkataanmu sebelumnya?” Tanyanya sambil menatapku, tangannya menopang pipinya.

Aku menatapnya dengan tatapan bingung, tidak mengerti apa maksud perkataannya, bagaimana dia bisa tahu apa yang kupikirkan. Aku mengernyitkan dahiku dan bertanya padanya, “Apa maksudmu?”

Aku terkesiap ketika secara tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya padaku hingga aku dapat mendengar tarikan nafasnya dan bibir merahnya yang hanya berjarak beberapa inchi dari bibirku. Aku menelan ludahku ketika melihat bibirnya yang perlahan-lahan terbuka untuk berbicara, pria ini benar-benar terlalu sulit untuk kuhindari, terlebih lagi ketika mata gelapnya menatapku lekat-lekat. Aneh, hatiku berdebar tidak beraturan lagi.

“Aku akan memberitahumu jika kau mau berbagi buku ini denganku.” Hanbin berkata dan menyeringai padaku, bahkan tanpa persetujuanku terlebih dahulu ia sudah mengambil bukuku. Ya Tuhan, sifatnya benar-benar buruk.

“Ya! Kenapa kau mengambil bukuku?!” Teriakku tanpa pikir panjang setelah aku mendorongnya untuk menjauhiku, walaupun hanya menyentuhnya sekilas saja aku dapat merasakan betapa solid tubuhnya.

Semua orang mulai melempar pandangannya padaku, aku tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. “Lee Hayi! Keluar sekarang!”

Aku hanya bisa menghela nafas seraya menahan rasa kesalku ketika Mr. Park mengusirku keluar ruangan. Aku mendelik kesal pada Hanbin sebelum melangkahkan kakiku untuk keluar, namun yang dilakukannya benar-benar membuat emosiku terbakar, ingin rasanya aku memakannya hidup-hidup ketika ia melambaikan tangannya padaku.

Menyebalkan. Aku benci kau, Kim Hanbin!

* * *

Bel istirahat berbunyi kencang, aku bisa melihat seluruh murid-murid berhamburan keluar kelas beberapa dari mereka berlari menuju kantin dan sisanya ada yang memilih untuk tetap di kelas atau bermain di luar kelas.

Aku kembali ke kelasku setelah menghabiskan waktuku selama 3 jam membersihkan halaman sekolah yang luasnya dua kali lapangan sepak bola untuk mengambil kunci lokerku. Entahlah mengapa aku tidak bisa melewati hari ini tanpa ketenangan seperti biasanya. Langkahku terhenti ketika aku mendapati mejaku yang dipenuhi oleh kumpulan cewek-cewek yang mengelilingi mejaku. Aku memutar bola mataku, seakan tidak percaya dengan apa yang kulihat, para wanita itu terlihat seperti kawanan fans fanatik yang mengejar oppa mereka kemanapun. Kalau saja mereka tahu bagaimana buruknya sikap anak baru itu kalian pasti akan menyesal.

Dari kejauhan Hanbin seperti biasa sudah melemparkan senyuman liciknya kepadaku ketika aku berjalan kearahnya, amarahku kembali muncul mengingat kejadian pagi ini karena dialah yang membuatku menerima hukuman yang melelahkan itu.

“Minggir.” Aku berkata pada sekumpulan wanita yang mengelilingi mejaku. Namun, bukannya memberikan aku jalan mereka malah memberikan pandangan yang tidak menyenangkan padaku, sebagian mengabaikan seperti aku tidak terlihat.

“Minggir.” Ucapku, menaikkan sedikit suaraku dengan tujuan agar mereka mendengarku.

“Memangnya kau siapa?!” Ucap wanita yang bernama Lalice dengan sinis kepadaku. Wajahnya menunjukkan seolah ia terganggu atas keberadaaanku. Aku berusaha untuk mengacuhkannya dan mencoba untuk menorobos kerumunan wanita-wanita ini.

“Ya! Berhentilah untuk cari perhatian dengannya!” Bentak Lalice kepadaku, ia menarik lenganku ketika aku mencoba menerobos kerumunan itu.

“Apa katamu?”

Baru saja aku ingin memberinya pelajaran, namun seseorang telah melingkarkan lengannya pada bahuku dan menarikku untuk mendekat padanya. Aneh, namun aroma tubuhnya benar-benar membuatku tenang.

“Temanku sudah datang, jadi maaf semuanya karena aku akan makan siang dengannya.” Suaranya menggema ditelingaku dan sesaat membuatku tidak bisa berkata-kata. Aku menoleh untuk melihatnya, aku baru menyadari betapa tingginya dia. Hanbin, kali ini ia tersenyum lembut kepadaku. Hatiku lagi-lagi berdegup tidak beraturan ketika ia mengenggam tanganku dan menuntunku keluar kelas. Aku bisa merasakan teriakan kecemburuan dari para wanita itu. Tubuhku memanas seketika. Aku tak pernah tahu jika seseorang bisa membuat jantungmu berdebar begitu hebat hanya dengan mengenggam tanganmu erat-erat.

“Lepaskan!” Ucapku seraya melepaskan genggaman tangannya. Hanbin membalik badannya dan tersenyum kepadaku. Aku benar-benar membenci sikapnya ini, senyumnya terkadang membuatku merasa terintimidasi karena dia terlalu sulit untuk dihindari.

“Harusnya kau berterima kasih karena aku sudah menyelematkanmu dari para wanita itu.”  Ucapnya padaku lagi-lagi dengan senyuman yang menyebalkan.

“Anggap saja kau telah membayar lunas hutangmu karena kau telah membuatku menghabiskan 3 jam berhargaku untuk membersihkan halaman sekolah yang luasnya dua kali lapangan sepak bola. Kau tahu bagaimana rasanya jadi aku? Kau benar-benar menyebalkan, pergilah dari hadapanku!” Teriakku kesal dan pergi meninggalkannya yang masih memandangku dengan tatapan kaget. Rasakan! Kau pikir aku tidak punya nyali menghadapimu?!

Baru saja aku melirik kearahnya namun tiba-tiba Hanbin sudah berdiri dihadapanku lagi dengan senyuman liciknya. Bagaimana dia bisa bergerak bergitu cepat? Aku bisa merasakan kerutan didahiku saat aku memikirkan hal tersebut. Sepertinya kali ini aku akan menghadapi orang yang lebih menyebalkan dari Bobby.

Hanbin menatap tepat kearah mataku, aku bisa melihat bagaimana sinar matanya berubah perlahan-lahan ketika ia memandangku. Lagi-lagi ia membuat hatiku berdegup kencang, lagi-lagi ia hanya memfokuskan pandangannya padaku, hanya aku seorang yang ada dalam pandangannya, seolah-olah dia tidak bisa melepaskan pandangannya dariku.

“Maafkan aku, lain kali aku akan pergi bersamamu apapun itu bahkan jika kau menerima hukuman. Kali ini aku akan selalu bersamamu.” Ucapnya terdengar begitu tulus. Aku bisa merasakan pipiku yang mulai memanas.

“Tidak mau!” Ucapku seraya menghindari pandangan matanya, tapi jelas sekali kalau aku terlihat salah tingkah dan berlari meninggalkannya.

“Bagaimana kalau makan siang bersama?” Tanyanya lagi sambil mengikutiku dari belakang.

“Tidak mau!”

“Kau satu-satunya temanku disini, kau tega, ya?” Pintanya dengan mulutnya yang dibuat seakan ia bersedih. Ingin sekali rasanya aku berlari sejauh mungkin darinya, karena dia terlihat sangat cute. Aku bisa gila.

Hanbin menyeringai, lagi-lagi ia melingkarkan tangannya dibahuku dan menyeretku untuk pergi bersamanya sebelum aku menyetujuinya.

“Ya! Pergilah dan carilah oranglain untuk kau jadikan teman! Lepaskan aku!” Teriakku seraya meronta-ronta agar Hanbin melepaskanku, namun ia jauh lebih kuat dariku. Aku bagaikan hamster yang terlilit ular dan siap untuk ditelan hidup-hidup.

“Tidak mau!” teriak Hanbin tepat ditelingaku.

* * *

Dengan wajah tertunduk aku berusaha untuk makan siang dengan tenang, aku benar-benar tidak suka menjadi pusat perhatian, terlebih lagi ketika banyak orang memandangku seolah-olah aku adalah alien yang berteman dengan manusia. Sebagian melihatku dengan tatapan aneh, sebagian dengan tatapan tidak suka, tentu saja cewek-cewek itu akan melihatku dengan tatapan tidak suka ketika aku, seorang yang terbilang sangat biasa bisa makan berdua dengan Kim Hanbin, yang sekarang sedang menjadi hot topik diseluruh penjuru sekolah. Aku hanya ingin cepat pergi dari tempat ini yang terlintas dikepalaku sekarang hanyalah menyelesaikan makan siangku secepatnya, namun tiba-tiba tenggorokanku terasa gatal dan aku pun tersedak.

“Kenapa kau makan terburu-buru begitu? Lihat, jadi tersedak kan.” Ucap Hanbin dan memberiku segelas air, dengan ragu kuraih gelas yang ada ditangannya. Hanbin terlihat cemas ketika aku tak berhenti terbatuk. Hanbin duduk disampingku, aku dapat merasakan sentuhan tangannya yang terasa begitu hangat dipunggungku, mengusap punggungku dengan lembut. Secara perlahan, rasa gatal pada tenggorokanku pun menghilang. Hanbin kembali menyodorkanku segelas air putih dan memintaku untuk meminumnya lagi, kali ini aku tidak menolaknya dan menuruti perintahnya.

“Terima kasih.” Ucapku datar, berusaha untuk menutupi perasaan tidak karuan dalam hatiku ketika ia memperlakukanku dengan sangat lembut. Kurasa sikapnya tidak begitu buruk. Hanbin hanya tersenyum kepadaku dan kembali melanjutkan makan siangnya.

Suasana kantin kembali riuh, dari kejauhan aku bisa mendengar suara bising gerombolan anak lelaki yang tertawa terbahak-bahak. Tidak perlu repot-repot menebaknya aku tahu siapa pemilik tawa khas itu, Bobby. Bobby melambaikan kedua tangannya padaku ketika ia melihatku dari kejauhan saat memasuki kantin sekolah. Aku hanya tersenyum kecut melihatnya yang terlalu berlebihan bahkan hanya untuk menyapaku.

Namun tatapan matanya seketika berubah ketika ia mengalihkan pandangannya pada seseorang disebelahku. Kali ini Bobby terlihat seakan dia menemui sesuatu yang berbahaya membuat dirinya terlihat defensif. Ku lirik Hanbin melalui sudut mataku, hal yang sama ditunjukkan oleh Hanbin saat ia melihat Bobby yang berjalan mendekati kami. Aku bahkan bisa melihat urat-urat yang mengencang di area sekitar tangannya.

“Hayi-ah, sepertinya kau kedatangan teman baru.” Ucap Bobby ketika ia berdiri didepanku dan mengambil kursi tepat disampingku, tepat berhadapan langsung dengan Hanbin. Matanya seakan ia bersiaga akan sesuatu. Aku mengernyitkan dahiku ketika aku melihat Bobby bertingkah aneh.

Hanbin tersenyum pada Bobby, senyumannya sungguh sulit untuk diartikan.

“Kau betul, aku baru pindah hari ini. Namaku Kim Hanbin, senang berkenalan denganmu. Siapa namamu?” Tanya Hanbin pada Bobby seraya menjulurkan tangannya. Bobby melirik sekilas kearah tangan Hanbin, namun bukannya membalas uluran tangannya, Bobby justru melipat kedua tangannya didepan dada.

“Kim Jiwon.” Ucap Bobby singkat menyebutkan nama aslinya. Melihat sikap Bobby yang seperti ini sungguh membuatku bertanya-tanya. Mungkinkah Bobby mengenal Hanbin sebelumnya.

“Apakah kau mengenalnya?” Tanyaku pada Bobby.

“Tentu saja, bagaimana aku bisa melewatkan Kim Hanbin si hot topik sekolah kita hari ini.” Ucap Bobby yang terdengar sinis ditelingaku. Lagi-lagi pandangannya menunjukkan pandangan tidak suka pada Hanbin, namun Hanbin hanya tersenyum manis pada Bobby.

Ingin sekali aku menarik Bobby dari sini untuk bertanya apa yang terjadi diantara Bobby dan Hanbin, mengapa Bobby menunjukkan pandangan penuh kebencian pada Hanbin. Hal itu benar-benar membakar api penasaranku, namun kurasa niatku ini harus kutahan untuk sementara karena bel masuk telah berbunyi dan semua murid harus kembali ke kelas masing-masing.

* * *

Waktu telah menunjukkan tepat pukul 17:00, hampir seluruh ruangan disekolah kosong tak berpenghuni. Jelas saja karena sebagian dari murid-murid sekolah pasti sudah berada dirumah masing-masing. Namun, berbeda denganku jika bukan karena hukuman dari Mr. Park untuk membuat ringkasan novel Jane Austen, Pride and Prejudice aku tidak akan menghabiskan waktuku berlama-lama di perpustakaan seperti sekarang ini.

Aku menghela nafas dan mengangkat kedua tanganku untuk merenggangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku, sudah 2.5 jam aku habiskan untuk menyelesaikan tugas ini. Tinggal sedikit lagi dan aku akan terbebas dari penderitaanku. Hari ini benar-benar yang terburuk. Ucapku dalam hati.

Begitu buruk kah harimu?

Tanganku mendadak kaku ketika lagi-lagi aku mendengar suara lelaki itu muncul dalam pikiranku. Aku menoleh untuk melihat ke sekelilingku, tak ada siapapun kecuali ahjussi penjaga perpustakaan yang terlihat sedang tertidur. Jantungku mulai berdegup kencang, aku berusaha untuk bersikap normal, berharap bahwa ini benar-benar hanya halusinasiku saja.

Kau hanya halusinasiku saja pergilah, pergi dari pikiranku!

Tidak bisakah kau menebak siapa aku? Pertanyaannya kali ini benar-benar membuat jantungku berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Apa maksud dari pertanyaannya, siapa dia? Apakah dia ada didekatku? Seketika keingin tahuan akan siapa dirinya dan kenapa pikiran kami bisa tersambung kembali muncul dari dalam diriku. Tetapi, perkataan Suhyun dan Bobby kembali terngiang-ngiang dikepalaku, tidak! Kau hanya halusinasiku saja, halusinasi.  Ucapku mencoba untuk mengenyahkan suara-suara itu dalam pikiranku.

Kau tak berhalusinasi, jika kau ingin tahu siapa diriku datanglah padaku. Aku akan menunggumu.

“TIDAK!” aku berteriak sekencang-kencangnya untuk menghentikan suara penganggu itu dalam pikiranku. Tidak bisakah aku mengenyahkannya dari pikiranku?

Ahjussi penjaga perpustakaan yang kaget karena mendengar teriakanku mengampiriku dengan wajah yang binggung, “agashi apa yang terjadi?” Tanyanya dengan penuh tanda tanya yang terlihat jelas dari raut wajahnya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku, membereskan seluruh barang-barangku dengan cepat dan berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, sejauh mungkin. Hanya berharap agar aku tidak mendengar suara lelaki itu dalam pikiranku. Aku berlari dan terus berlari tanpa arah tujuan menjauhi sekolahku, hanya untuk menghindari munculnya suara lelaki itu dalam pikiranku.

Lee Hayi.

Suara itu kembali menggema dalam pikiranku, aku menutup kedua telingaku dan berlari secepatnya. Aku pun tidak mengerti kenapa aku harus melarikan diri darinya bahkan saat tak ada seorang pun yang mengejarku.

Enyahlah dari pikiranku, tahukah betapa menganggunya kau bagi hidupku? Teriakku padanya melalui pikiranku.

Itukah yang kau mau?

Dengan nafas yang masih terengah-engah, aku menghentikan langkahku ketika ia menanyakan pertanyaan itu padaku. Entah apa yang membuatku berpikir begitu keras ketika jawaban yang harus ku katakan adalah ‘ya’. Tetapi, hatiku selalu mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang kupikirkan, aku tak ingin ia enyah dari pikiranku. Semua terasa begitu aneh dan sulit untuk dimengerti mengapa aku bisa merasakan sesuatu seperti ikatan yang kuat dengannya. Bahkan setiap kali aku berusaha untuk mengenyahkannya semuanya terasa seperti hal yang mustahil bagiku.

Seketika seluruh tubuhku menjadi lemas, aku bahkan tidak bisa merasakan kedua kakiku menopang tubuhku. Sekelilingku berubah menjadi gelap gulita, aku bahkan tak tahu dimana aku berada saat ini, tiba-tiba saja hawa dingin terasa menusuk tengkukku. Dari jauh aku bisa melihat kabut hitam pekat datang mengarah padaku, tubuhku seakan mati rasa, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku bahkan untuk berbicara pun tak bisa. Tubuhku terjatuh dan perlahan-lahan kabut hitam pekat itu semakin mendekat kepadaku, tenggorokanku tercekat. Dari kejauhan aku bisa melihat kilauan cahaya emas dibalik kabut hitam pekat itu. Pikiranku langsung tertuju pada sosok pria hitam pada mimpiku.

Dadaku terasa sesak ketika kabut hitam itu mengeliling seluruh tubuhku, kabut itu melilit dan mengikat tubuhku seperti tali, aku bisa merasakan sakit yang luar biasa saat tiba-tiba ikatan kabut hitam pekat itu mengikat tubuhku dengan sangat kencang. Leherku tercekik, aku berusaha untuk bernafas dan melepaskan diriku dari ikatan ini, namun tubuhku benar-benar mati rasa. Perlahan-lahan pandanganku terlihat semakin kabur, aku tak mau mati seperti ini. Saat itu, yang terlintas dibenakku hanyalah memanggilnya melalui pikiranku, karena hanya dia yang bisa mendengar pikiranku dan berharap agar dia bisa menyelamatkanku.

Tolong aku! K-kau mendengarku?! Selamatkan a-aku!

“Matilah kau..” aku masih bisa mendengar suara mengerikan yang kudengar tak jauh dariku. Suara itu bersumber dari tempat dimana aku melihat sebuah kilatan berwarna emas, samar-samar aku bisa melihat bayangan seseorang dengan benda yang terlihat seperti sebuah sayap dibalik punggungnya. Nafasku semakin memburu.

Aku mulai merasakan rasa sesak yang makin parah di dadaku, seperti aku tidak bernafas dalam udara. Lilitan kabut hitam ini semakin mencengkramku, aku dapat merasakan sakit luar biasa disekujur tubuhku seakan-akan meremukkan seluruh tubuhku.

Tolong aku…

Perlahan-lahan aku bisa merasakan kembali udara yang memasuki paru-paruku, tubuhku masih terasa sakit namun secara perlahan rasa sakit ini tidak begitu terasa sakit lagi, aku juga sudah tidak merasakan lilitan kabut hitam itu pada tubuhku lagi. Yang kini kurasakan adalah sebuah tangan halus dan hangat yang menyentuh pipiku, semuanya terasa aneh bagiku, mengapa sebuah kabut hitam bisa hampir membunuhku, siapa yang sedang mengincarku dan terlebih lagi aku hanya ingin tahu siapa orang yang menyelamatkanku? Apakah dia yang selama ini selalu berbicara padaku melalui pikiran kami yang saling berhubungan?

Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk membuka kedua mataku, sesosok pria dengan mata emas dan sayap hitam dipunggungnya memandangku dengan pandangan yang sulit kuungkapkan karena pandanganku yang masih kabur. Tetapi, aku bisa merasakan kesedihan yang dia rasakan melalui suaranya, suara yang selalu muncul dalam pikiranku.

“Maafkan aku, aku sedikit terlambat…”

Dengan sisa-sisa kekuatan yang kupunya, aku berusaha untuk menggapai wajahnya, yang kutahu saat itu aku hanya ingin menghapus air mata yang ada dimatanya dan memberitahunya bahwa aku baik-baik saja. Dan ketika aku berhasil meraih wajahnya dan membelai pipinya, perlahan-lahan aku bisa mengenali wajahnya meskipun penglihatanku belum kembali seutuhnya. Wajah yang tidak asing bagiku, namun terlihat berbeda karena matanya yang berwarna emas dan sebuah tato bergambar matahari dan lambang hexagon ditengahnya yang terukir jelas tepat di dadanya. Wajahnya terlihat bersinar dibawah pancaran sinar bulan dan bulu-bulu hitam yang berterbangan mengelilinginya.

“Hanbin-ah…”

 Previous / Next

Advertisements

6 thoughts on “[FF Freelance] Broken Wings Chapter 3

  1. Huwaaaa!!! Hahaha heol, daebak. Halo, authornim. Aku penggemar barumu. Baiklah maaf karena baru bisa komen pada chapter terakhir yg dipublish disini. Pada knyataannya ak baru2 ini suka dg ff fantasy. Dan ini adalah ff fantasy yang paling aku suka. Aku suka jalan cerita dan tentumya pembawaan crtanya. Mungkin kdg alurnya bkin sedikit bngung. Tapi overall it’s awesome hehe. Aku tmbh seneng masa ada bobby dstu/? Hahah. Keren jd apakah bobby klan light angel juga? Well, aku tggu next chapternya 😀 keep writing!

    Like

  2. Yahooooo kyaaaa ini harus di lanjutkan xD
    Suka suka bangt akhirnya hanbin ktemu sama hayiiii ^^
    Tp gitu yah si bobby kyk benci bngt sama hanbin, bobby dari light angel ya kkkkk
    /plak/
    Well seperti biasa ini bgs, setiap chapternya g pernah mengecewakan, jalan ceritanya bags dan harus aku akui kmu punya hayalan fantasi tinggi daebakkkk ~~~
    Update soon and keep writing ~~~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s