Angst · Chaptered · Fantasy · Freelance · G · Length · Rating · Romance

[FF Freelance] Broken Wings Chapter 2


Processed with Rookie

Chp 1 | 2 | 3

Author: Dilly / @happyinkeul

Title: Broken Wings

Main Cast: iKON B.I & Lee Hi

Other Cast: iKON member, AKMU Lee Suhyun, EXO Kai, Sehun.

Genre: Fantasy, Romance, Angst

Chapter 02 : Rather Be

We’re thousand miles from comfort,
we have traveled land and sea
But as long as you are with me, there’s no place I’d rather be
I would wait forever, exalted in the scene
As long as I am with you, my heart continues to beat
— Clean Bandit

Hanbin menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangannya ketika sinar matahari pagi menyorot wajahnya, matanya menyipit karena matahari pagi yang bersinar sangat terang ketika ia mendongakkan wajahnya keatas.

Tidak ada yang Hanbin lebih sukai ketika pagi datang, karena hanya pada saat itulah ia bisa merasa seperti manusia, bukan mesin pembunuh dengan nama dark angels. Hanbin menjalankan kehidupan sebagai manusia selama 150 tahun, meskipun ia harus berpindah-pindah tempat berkali-kali, dikarenakan tubuhnya yang tidak bisa menua tetap terlihat seperti anak remaja yang berumur 18 tahun, ia tidak peduli. Karena hanya disini lah tempat pelariannya. Setidaknya menjalani kehidupan sebagai manusia bisa lebih membantunya agar hidup lebih manusiawi, dan bisa mengendalikan hasratnya untuk tidak membunuh maupun melukai siapapun. Sudah 150 tahun, Hanbin mencoba untuk mengendalikan nalurinya, yaitu membunuh. Meskipun terkadang nalurinya masih bisa muncul kapan saja ketika rasa amarah menguasai pikirannya, namun bersyukurlah Hanbin mempunyai sahabat seperti Yunhyeong yang memiliki pengendalian diri diatas rata-rata sebagai dark angels yang selalu menyelamatkannya ketika amarahnya mengambil alih seluruh kesadarannya.

Kelebihan Hanbin sebagai angels tentu membuatnya berbeda dengan manusia. Pandangannya lebih tajam daripada manusia, ia bahkan bisa melihat partikel-partikel udara yang berterbangan di sekitarnya, atau butiran-butiran debu yang terbang terbawa angin, pendengerannya seratus kali lebih tajam daripada pendengaran manusia normal, Hanbin bisa mendengar apapun yang orang bicarakan walaupun orang tersebut berada 5 km jauhnya, jelas saja Hanbin merasa pikirannya sangat penuh mendengar semua percakapan orang-orang yang berada didekat maupun jauh darinya.
Dengan satu tarikan nafas kesal, Hanbin memasangkan earphone ke telinganya dan membesarkan volume ipod-nya. Setidaknya hanya itu satu-satunya cara untuk memblokade suara-suara bising yang didengarnya. Hanbin menyandarkan punggungnya pada tiang jadwal kedatangan bus yang ada dibelakangnya, kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri ketika mendengarkan musik melalu ipod-nya. Pagi ini, Hanbin sedang menunggu bus di halte untuk menuju ke sekolahnya.

“Kau benar-benar terlihat seperti manusia.” Ujar Yunhyeong yang tiba-tiba muncul disebelah Hanbin dan terlihat seperti manusia normal dengan pakaian seragam sekolahnya.

Hanbin melirik sahabatnya dengan tatapan tidak peduli, “Lalu, apa kau terlihat tidak seperti mereka juga?” tanya Hanbin dengan sarkastik sambil menaikan salah satu alisnya. Yunhyeong hanya bisa tertawa kesal ketika mendengarnya.

Dengan malas Hanbin memasukkan ipod-nya kedalam saku celananya ketika ia mendengar dari kejauhan jika bus yang akan ditumpanginya akan segera datang, begitu juga dengan Yunhyeong dengan wajahnya yang begitu semangat, kontras sekali dengan Hanbin.

Jangan telat! Aku mohon!

Hanbin menghela nafas ketika ketika ia mendengar seseorang berteriak dalam pikirannya. Rasanya, ia ingin menghilangkan kemampuannya yang satu ini karena betapa menganggunya ketika ia harus mendengarkan semua percakapan orang dalam pikirannya. Hanbin bersiap untuk menaiki bus yang sudah datang dan berhenti tepat didepannya. Dengan langkah perlahan Hanbin memasuki bus itu, menaiki anak tangganya, dan menempelkan kartu trip sebagai ongkos untuk menaiki bus. Supir bus mulai memindahkan persenelingnya pertanda ia akan segera menjalankan busnya.

Tidak! Tunggu aku!

Lagi-lagi Hanbin mendengar suara wanita itu didalam pikirannya. Hanbin mendengus kesal, “Jika kau tidak ingin tertinggal, maka bangunlah lebih pagi!” Gerutu Hanbin pada dirinya sendiri dan tingkahnya itu sontak saja membuat orang-orang yang ada disekitarnya melirik kearahnya dengan tatapan aneh. Namun, Hanbin tidak peduli lagi. Ini merupakan hal yang wajar ketika ia harus mengumpat kesal ketika mendengar hal-hal yang tidak ingin didengarnya.

“Pak Supir, tunggulah sebentar. Sepertinya ada yang sedang mengejar bus ini. 10 detik dari sekarang, mungkin ia akan tiba.” Hanbin berkata dan membuat Pak Supir terlihat bingung, terlihat dengan banyaknya lipatan yang terbentuk di dahinya.

“Kau bicara apa anak muda?” tanya Pak Supir dengan raut wajah yang bingung.

“Ah tidak! 3 detik lagi! satu.. dua..” Hanbin berkata sambil melirik kearah jam tangannya.

“Ah! Unnie! Kita tepat waktu!” Ucap seorang gadis berseragam sekolah dengan matanya yang kecil dan rambut panjang berwarna coklat yang panjang tergerai. Nafasnya terengah-engah seperti habis marathon. Pak Supir itu melirik kearah Hanbin dengan tatapan ngeri dan tidak percaya.

“Hanya kebetulan saja.” Ujar Hanbin santai sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Pak Supir memalingkan wajahnya dari Hanbin, tubuhnya masih bergidik ngeri.

“Ahjussi terima kasih sudah menunggu.” Ucap seorang gadis yang berdiri tepat dibelakang si rambut coklat. Nafasnya masih terengah-engah karena ia harus berlari selama 10 menit untuk mengejar jadwal bus untuk menuju sekolahnya.

Syukurlah aku bisa tepat waktu. Ujarnya dalam hati. Hanbin memalingkan wajahnya kepada wanita itu saat ia sekali lagi mendengar perkataannya. Hanbin mengernyitkan dahinya ketika ia melihat kearahnya dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak berbicara secara langsung melainkan melalui pikirannya. Lipatan didahi Hanbin semakin berlapis, apakah kekuatanku bertambah? Bisa mendengarkan pikiran manusia? Hanbin bertanya dalam hatinya. Ia menggaruk kepalanya yang sesungguhnya tidak terasa gatal.

Gadis itu memalingkan pandangannya dan sedetik kemudian pandangan mereka bertemu. Hawa dingin terasa menusuk seluruh tubuh Hanbin saat mereka bertukar pandangan, matanya yang berwarna coklat gelap, mengambarkan aura misterius yang membakar seluruh rasa keingin tahuan Hanbin akan dirinya. Tubuh mungilnya, bibir merah meronanya, aliran darah yang mengalir tercetak jelas di kedua pipinya membuat detak jantung Hanbin berdetak tidak beraturan, nafasnya memburu. Dengan langkah ragu, wanita itu berjalan perlahan melewati Hanbin yang masih terpaku ditempatnya. Pandangannya tidak pernah terlepas dari wanita mungil itu. Hati Hanbin berdegup dengan kencang ketika desir angin yang bertiup menyibakkan rambut panjangnya dan Hanbin dapat mencium dengan jelas aroma tubuhnya yang tidak asing untukknya, aroma tubuh yang dulu sangat disukainya dan yang sangat dirindukannya sekarang.

Lilac dan Rosemary.

Hati Hanbin seakan tercekat ketika wanita itu berdiri tepat disampingnya. Hanbin dapat mendengar dengan jelas setiap detak jantungnya dan aliran darah yang mengalir didalam tubuhnya. Irama itu terdengar seperti nyanyian yang membuat tumpukan es di dalam hatinya mencair, bagaikan oase ditengah padang pasir. Hanbin memalingkan wajahnya untuk menatapnya. Matanya melirik kearah pin nama yang tersemat di seragamnya. Lee Hayi. Hanbin bergumam di dalam hatinya. Aneh, namun secara otomatis gadis itu memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan seakan ia mendengar seseorang memanggil namanya. Hanbin mengernyitkan dahinya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Bisakah kau mendengarku, Lee Hayi? Sekali lagi Hanbin mencoba untuk berbicara dengannya melalui pikirannya.

Gadis itu masih mencari siapa yang memanggilnya, raut wajahnya menunjukkan banyak pertanyaan. Ia memalingkan wajahnya kesisi sebelah kanan untuk melirik wanita yang bersamanya tadi.

“Suhyunnie, kau berbicara denganku?” tanyanya pada gadis yang ada disampingnya. Suhyun hanya melepas earphone yang dipasang dan ditelinganya, wajahnya terlihat bertanya-tanya juga.

“Tidak, unnie.” Ujarnya sambil menggelengkan kepalanya dan kembali memasang earphone-nya.

Hayi menghela nafas dan menggigit bibirnya. Beberapa kali ia memutar bola matanya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Suaranya seperti lelaki.

Ya, karena aku lelaki! Umpat Hanbin ketika ia mendengar isi pikiran Hayi.

Hayi kembali mengambil beberapa nafas panjang, ia menyentuh dahinya dan memijatnya perlahan berharap bahwa itu semua hanya imajinasinya saja dapat mendengar suara seorang pria didalam pikirannya. “Aku pasti sudah gila!” Umpatnya sambil terus memijit dahinya dengan jari jemarinya.

Kau tidak gila, kau bisa mendengarku? Karena aku bisa mendengarmu juga. Hanbin membalas ucapannya melalui pikirannya.

Hayi mengernyitkan dahinya ketika ia mendengar suara Hanbin merespon perkataannya. Hatinya berdegup kencang ketika menyadari kejanggalan dalam dirinya ketika suara seorang pria dapat didengarnya melalui pikirannya dan berkata bahwa ia bisa mendengarnya. Hayi menatap sekelilingnya dengan pandangan tidak percaya dengan hal yang dialaminya itu. Hanbin masih menatapnya lekat-lekat meskipun Hayi tidak menyadarinya.

Berhentilah mencariku dan lihatlah aku. Ucap Hanbin

Hayi berdiri mematung ditempatnya, ia meletakkan kedua tangannya pada dadanya untuk mengurangi debaran jantungnya. Hatinya berdegup dengan cepat ketika ia mendengar Hanbin untuk melihatnya, yang menunjukkan bahwa sumber suara yang berada di dalam pikirannya tersebut ada didekatnya saat ini.

Kau, kau ada dimana? Tanya Hayi memberanikan diri untuk bertanya pada Hanbin melalui pikirannya yang saling terhubung.

Belum saja Hanbin menjawab pertanyaannya, Suhyun sudah menarik Hayi dan menyeretnya untuk turun karena mereka telah sampai pada tujuannya. Hanbin terlihat bingung ketika ia melihat Hayi yang pergi meninggalkannya tanpa sempat untuk melihatnya.

“Unnie, kita sudah sampai! Kau kenapa terlihat bingung begitu sih?” Ucap Suhyun sambil melingkarkan tangannya pada Hayi dan menariknya keluar dari bus. Hayi yang terlihat bingung hanya terdiam pasrah mengikuti adiknya tersebut.

Berbalik lah dan lihatlah aku! Teriak Hanbin nyaris putus asa ketika ia melihat Hayi yang turun dari bus. Hanbin mencoba untuk mengejarnya namun telat, pintu bus lebih cepat dari langkahnya kali ini. Hanbin bisa saja menggunakan kekuatannya namun itu semua sama saja seperti membongkar jati dirinya.

Pintu bus telah tertutup dan bus siap untuk melanjutkan perjalanannya ke tujuan selanjutnya, Hayi yang telah keluar dari bus memutar badannya ketika ia mendengar perkataan Hanbin melalui pikirannya. Hayi terpaku ketika melihat Hanbin memandangnya melalui jendela pintu bus yang memisahkan mereka. Desir angin bertiup menerpa tubuh mungilnya saat pandangan mereka bertemu meskipun hanya sepersekian detik, namun itu semua cukup untuk memunculkan getaran aneh yang ada dihati keduanya, pandangan tajam Hanbin membuatnya seperti terhipnotis dalam pesonanya yang misterius, sekujur tubuhnya terasa seperti sengatan listrik ketika Hanbin sekali lagi berbicara dengan Hayi melalui pikirannya.

Lee Hayi, bisakah kau melihat dan mendengarku?

Hayi yang mendengar perkataan Hanbin dalam pikirannya tersebut hanya bisa mematung dan memandangnya menjauh bersama bus tersebut hingga Suhyun menyadarkannya ketika ia melingkarkan lengannya untuk menyeret kakaknya pergi dari tempat itu.

“Hari ini kau aneh sekali unnie, kau sakit?” Tanya Suhyun yang terlihat khawatir dengan kakaknya. Hayi hanya menggeleng lemah dan mengikuti Suhyun yang menuntunnya ke sekolah dengan pasrah. Namun jauh didalam lubuk Hayi yang paling dalam ia sangat berharap untuk bisa bertemu dengan pria asing itu kembali dan menanyakannya mengapa pikiran mereka bisa tersambung satu sama lain. Hayi menutupi wajahnya dengan telapak tangannya dan mengambil satu nafas panjang, dipejamkan matanya, ia mencoba untuk berkonsentrasi dan mencoba mendengar suara pria misterius itu didalam pikirannya, namun ia sama sekali tidak bisa mendengarnya. Hayi menggigit bibirnya, sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang ragu haruskah ia memanggilnya melalui pikirannya atau tidak. Meskipun ragu namun Hayi akhirnya memutuskan untuk berbicara padanya.

Kau bisa mendengarku? Hey! Siapa namamu? Kau mendengarku?! Tanya Hayi melalui pikirannya.

Dengan hati yang berdebar-debar Hayi terus menunggu suara pria misterius untuk muncul didalam pikirannya namun suara yang dinantikannya itu tidak kunjung didengarnya. Hayi menghela nafas panjang, pandangannya lurus kedepan memandangi beberapa orang yang berjalan tepat didepannya sampai akhirnya Hayi menarik tangan Suhyun untuk membuatnya berhenti berjalan. Suhyun yang bingung dengan sifat aneh kakaknya sedari tadi akhirnya memutar badannya dan memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Unnie, kau kenapa sih?” Tanyanya dengan kerutan yang tercetak jelas didahinya.

Hayi melihat adiknya dengan tatapan penuh keraguan, haruskah ia ceritakan tentang hal gila ini pada adiknya atau tidak meskipun adiknya akan menyebutnya tidak waras, tetapi Hayi tidak akan pernah bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Bagi Hayi, Suhyun bukan hanya sekedar adik baginya namun juga sahabat tempatnya berbagi keluh kesah. Bagi Suhyun, Hayi adalah kakak yang pengertian dan menyenangkan, sifatnya yang jauh lebih dewasa dari Suhyun sedikit banyak membantu Suhyun dalam berpikir dan bertindak lebih bijak selayaknya orang dewasa meskipun umurnya tergolong masih belia, Suhyun bisa belajar banyak dari kakaknya. Begitu pula dengan Hayi yang banyak belajar aegyo dari adiknya dan bagaimana untuk bersikap lebih ramah dengan orang lain, karena Hayi terkenal dengan sifat ice princess-nya.

Setelah pergelutan bathin yang panjang dari dalam hatinya dan pandangan Suhyun yang menilai kakaknya menyembunyikan sesuatu hal darinya. Akhirnya, Hayi memutuskan untuk mengatakan hal yang dianggapnya tidak masuk akal itu.

“Apakah kau pernah merasakan seperti mendengarkan suara orang didalam pikiranmu atau bertukar pikiran dengan orang, um.. seperti telepati?” Tanya Hayi ragu sambil menghindari tatapan tidak percaya dari Suhyun.

Suhyun memandang Hayi dengan tatapan tidak percaya, mulutnya terbuka lebar ketika mendengar pertanyaan tidak masuk akal dari kakaknya tersebut. Suhyun yang tidak pernah percaya akan hal-hal supernatural seperti itu tentu saja akan menganggapnya gila.

“Unnie, kau tidak sakit kan?” Ujarnya sambil meraih kening kakak tercintanya untuk memastikan kemungkinan jika Hayi terserang demam. Dengan kesal Hayi menyibakkan tangan adiknya tersebut dari keningnya.

“Ya! Aku tidak gila! Aku tahu kau mungkin akan menyebutku gila, tapi aku sungguh-sungguh, Lee Suhyun! Aku mendengar suara laki-laki didalam pikiranku dan kami bisa berkomunikasi melalui pikiran. Aku sendiri berpikir ini hal yang gila.” Ucap Hayi nyaris berteriak, sontak saja membuat orang-orang yang sedang berjalan disekitarnya menoleh kearahnya dengan pandangan seperti meledek. Suhyun yang menyadari itu langsung menutup mulut kakaknya, mencegahnya untuk berbicara lebih keras tentang hal yang tidak masuk akal itu sebelum orang lain mengiranya benar-benar sakit jiwa.

“Sssh! Pelankan suaramu, Unnie!” Ujar Suhyun sambil membekap mulut Hayi. Hayi meronta-ronta agar Suhyun melepaskannya yang akhirnya Suhyun lepaskan untuk membiarkan kakaknya berbicara.

“Aku tau kau pasti akan menyebutku gila!” Ucap Hayi dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya.

Suhyun memandang kakaknya seperti sedang memikirkan sesuatu yang bisa terdengar lebih masuk akal dipikirannya, kedua tangannya dilipat didepan dada, “apakah sekarang kau masih bisa mendengarnya?” Tanya Suhyun penasaran.

Hayi menggeleng lemah.

Suhyun memutar kedua bola matanya dan berkata, “mungkin itu hanya halusinasimu, Unnie! Halusinasi!”

“Halusinasi?” Tanya Hayi dengan kerutan di dahinya.

“Benar halusinasi! Mungkin kau terlalu stress karena ujian sekolah, jadinya kau berhalusinasi seperti mendengar sesuatu didalam pikiranmu. Kupikir itu hal yang normal jika kau sedang stress.” Ucap Suhyun yang merasa mantap dengan hipotesanya.

Hayi menggaruk kulit kepalanya yang sesungguhnya tidak terasa gatal. Hayi merasa apa yang dikatakan Suhyun tidak ada salahnya dan terdengar lebih masuk akal, mungkin apa yang dikatakan adiknya itu benar adanya bahwa ia hanya terserang stress pasca ujian.

“Mungkin kau benar.” Jawab Hayi menyetujui pernyataan adiknya.

“Maka dari itu, carilah pacar dan pergilah liburan, unnie.” Ucap Suhyun terdengar seperti meledek kakaknya.

Hayi melemparkan pandangan mematikannya kepada adiknya, kakinya sudah mengambil ancang-ancang untuk mengejarnya namun Suhyun selangkah lebih cepat dari Hayi karena ia sudah berlari kencang lebih dulu.

“Ya! Lee Suhyun!!!”

* * *

Hanbin yang terpaku melihat Hayi menjauh darinya seiring dengan laju bus yang dinaikinya terlihat sangat frustasi karena ia tidak bisa berbuat apapun, beberapa kali Hanbin meminta supir bus tersebut untuk memberhentikan busnya namun semua sudah terlambat

Hanbin baru bisa turun dipemberhentian selanjutnya. Hanbin yang makin putus asa mencoba untuk menggunakan kekuatannya, namun Yunhyeong yang menyadari gerak-gerik mencurigakan Hanbin segera menariknya kebelakang.

“Jika orang-orang melihat kau menghilang begitu saja akan terjadi keributan besar, kau tahu itu, kan?!” bisik Yunhyeong sembari menarik Hanbin ke sisinya.

“Aku harus memastikan sesuatu!” Teriak Hanbin nyaris putus asa. Yunhyeong mengernyitkan dahinya, tidak mengerti akan sikap aneh yang ditunjukkan Hanbin. Hanbin melirik kearah papan pemberhentian yang ada didepannya, dengan segera ia melangkah keluar sebelum Yunhyeong melanjutkan pertanyaannya. Dengan cepat Yunhyeong mengikutinya untuk turun.

Yunhyeong yang melihat Hanbin melesat dengan cepat sesaat setelah ia turun dari bus segera menyusul Hanbin dari belakang. Mereka berlari dengan sangat cepat hingga orang-orang hanya tidak bisa melihat mereka karena mereka berlari sangat cepat seperti tiupan angin yang kencang. Hanbin akhirnya sampai di tempat dimana Hayi turun, namun ia sudah tidak bisa menemukan keberadaannya. Berkali-kali Hanbin mencoba untuk bertelepati melalui pikirannya, namun suaranya tidak terdengar sama sekali di dalam pikirannya. Dengan nafas yang masih terengah-engah dan rasa putus asa yang semakin tinggi serta rasa frustasi yang ada pada dirinya Hanbin berteriak geram, dengan kesal ia menendang sebuah tiang lampu jalanan yang ada didekatnya. Yunhyeong yang melihat keadaan itu dan menyadari kemungkinan yang ada jika Hanbin akan membuat tiang tersebut hancur berkeping-keping segera memusatkan pandangannya pada tiang tersebut dan menahannya dengan kekuatannya. Satu dari kelebihan Yunhyeong adalah membentuk suatu perisai pertahanan melalui tatapan matanya dengan kondisi objek yang dilindungi berjarak tidak begitu jauh dengannya. Yunhyeong merupakan salah satu dark angels dengan bakat istimewa, tidak jarang kemampuannya ini digunakan jika mereka sedang bertarung melawan musuh-musuhnya untuk melindungi kawanannya. Sedangkan Hanbin, ia adalah satu dari dark angels terkuat yang masih ada, Hanbin tercipta sebagai mesin pembunuh, kekuatannya sungguh mematikan. Hanbin bisa melumpuhkan lawannya melalui satu tatapan matanya membuat lawannya kesulitan untuk bernafas hingga kehilangan kesadarannya dan mati pada akhirnya. Kelebihan lain yang ia miliki, Hanbin dapat menyerang hingga menhancurkan lawannya hanya dengan satu gerakan dari tangannya.

Yunhyeong menghela nafas lega ketika mengetahui bahwa ia berhasil menahan kekuatan besar Hanbin yang ia keluarkan pada tiang lampu jalanan tersebut. Menyadari betapa besarnya kekuatan Hanbin membuatnya bergidik ngeri, meskipun telah ditahan oleh perisai pelindung Yunhyeong, kekuatan Hanbin masih bisa sedikit menembusnya terbukti dari terbentuknya retakan disekitar beton tiang lampu tersebut.

Dengan hati ragu Yunhyeong berjalan menghampiri Hanbin, pertama ia memandang Hanbin untuk memastikan suasana hatinya dan memberikannya waktu agar ia bisa menenangkan diri sejenak. Hanbin menutup kedua matanya rapat-rapat, mencoba untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Setelah melihat kondisi Hanbin yang mulai tenang, akhirnya Yunhyeong memberanikan diri untuk bertanya, “Apa yang terjadi? Kau melihat sesuatu?”

Hanbin melemparkan pandangannya pada Yunhyeong yang menyiratkan banyak pertanyaan yang ada di dalam pikirannya. Yunhyeong mencoba untuk menerka apa yang terjadi namun ia tidak mengerti apa yang membuat Hanbin bersikap begitu emosional.

“Apa kah angels dan manusia bisa bertukar pikiran? Seperti telepati?” Tanya Hanbin yang akhirnya membuka mulutnya.

Yunhyeong menatap Hanbin dengan tercengang, Hanbin tahu betul bahwa itu merupakan hal yang mustahil. “Tidak Mungkin. Bahkan untuk sesama angels saja itu hampir mustahil. Kecuali orang itu punya kemampuan istimewa.” Jawab Yunhyeong singkat.

Setelah mendengar jawaban dari Yunhyeong, raut wajah Hanbin yang tadinya terlihat sangat frustasi perlahan berubah menjadi seutas senyuman yang terlukis pada wajahnya yang nyaris sempurna. Yunhyeong yang masih bingung dengan sahabatnya itu jelas saja menjadi semakin bertanya-tanya akan apa yang sudah terjadi pada Hanbin. Hanbin menatap Yunhyeong dengan senyuman penuh arti, senyuman yang sudah lama hilang dari wajahnya. Tanpa pikir panjang, Hanbin menarik sahabatnya itu dan memeluknya erat-erat, sukses membuat Yunhyeong terkesiap dan mendorongnya menjauh.

“Ya! Kau membuatku merinding!” Teriak Yunhyeong saat ia mendorong Hanbin menjauh.

“Aku telah menemukannya, Yunhyeong!” Jawab Hanbin dengan riang, sifat yang sudah lama Yunhyeong liat dari sahabatnya itu. Yunhyeong terdiam ditempatnya terlihat sedang berpikir mencerna kata-kata Hanbin.

“Maksudmu? Reinkarnasi kekasihmu?” Tanya Yunhyeong penasaran.

“Iya, dan aku yakin sekali kalau dia adalah reinkarnasinya.” Ucap Hanbin tanpa keraguan.

“Darimana kau tahu?” Tanya Yunhyeong sekali lagi untuk memastikan pernyataan Hanbin.

“Aku tahu itu dan aku sangat yakin ketika kau mengatakan tidak mungkin bagi manusia dan angels untuk bertelepati. Tetapi anehnya, kami bisa berkomunikasi melalui pikiran, seperti telepati. Yunhyeong aku menemukannya! Aku yakin sekali!” Ucap Hanbin penuh semangat sambil mengguncangkan kedua bahu Yunhyeong.

Yunhyeong masih memandang Hanbin tidak percaya, dengan kaku ia menjauhkan tangan Hanbin dari kedua bahunya. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Berbeda dengan Hanbin yang terlihat sangat bersemangat.

“Namanya Lee Hayi, dia terlihat sangat cantik meskipun wajahnya agak sedikit berbeda namun aroma tubuhnya masih tidak berubah dan sepertinya ia bersekolah dekat sini. Yunhyeong, bagaimana jika kita pindah sekolah?” Ucap Hanbin melanjutkan perkataanya yang masih terlihat bersemangat. Namun, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Yunhyeong. Hanbin menoleh kearahnya dan mengamati Yunhyeong seperti tenggelam dalam pikirannya.

“Song Yunhyeong! Ya!” Panggil Hanbin membuyarkan konsentrasi Yunhyeong. Yunhyeong melirik kearah temannya itu dengan pandangan yang tidak bisa Hanbin mengerti.

“Bagaimana dengan ideku?” Tanya Hanbin sekali lagi.

“Hanbin-ah…” Yunhyeong memanggil Hanbin dengan nada yang terdengar serius, mendengar Yunhyeong yang memanggilnya seperti itu membuat Hanbin menerka suatu kemungkinan terburuk.

“Kau berkata kalian bisa bertukar pikiran? Apakah kekasihmu dulu bisa mendengar pikiran orang lain?” Yunhyeong bertanya.

Hanbin memutar bola matanya terlihat sedang berpikir, tak lama kemudian ia terbawa akan kenangannya akan kekasihnya, saat pertemuan pertama mereka. Sebuah takdir yang membawa mereka untuk jatuh cinta satu sama lain. Ketika wanita yang dicintainya itu mengatakan hal yang diluar dugaannya mengenai dirinya, hal yang mengubah pandangannya akan dirinya.

”Aku tahu kau tak akan membunuhku.” Ucap wanita itu pada Hanbin.

“Berhentilah berkata omong kosong! Kau tak tahu apapun tentang diriku!” Teriak Hanbin penuh amarah, ia sudah mengangkat tinggi-tinggi tangannya dan mengepalkannya, membuat ancang-ancang untuk meremukkan tubuh wanita itu. Namun tatapan mata wanita itu benar-benar hal yang sulit dihindari bagi Hanbin. Mata coklat muda miliknya terus terbayang dalam pikirannya, seluruh tubuhnya bergetar ketika ia merengkuh tubuh wanita itu.

“Karena aku tahu betapa menderitanya hidupmu tanpa seseorang yang peduli disampingmu, ketika semua orang hanya memandangmu sebagai monster penghancur, ketika semua orang menolak kebaikan hatimu yang tulus. Namun aku tahu dan bisa merasakan seberapa tulus kebaikan hatimu. Hatimu, tidak seburuk yang kau pikirkan seperti sekarang, berhentilah untuk berpikir seperti itu, bagiku kau bukanlah seorang monster.” Ucap wanita itu dengan penuh isakan, perlahan tangannya meraih kedua pipi Hanbin. Hanbin merasakan getaran aneh ketika ia menyentuhnya, seperti sengatan listrik tetapi tidak terasa menyakitkan namun terasa menghangatkan relung hatinya yang terasa hampa.

Hanbin menurunkan tangannya dan perlahan ia menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata indah wanita itu, matanya masih menatap lekat-lekat mata wanita itu, melihat wanita itu menangis untukknya membuat hatinya terenyuh. Baru kali ini, ia menemukan ada orang yang menangisinya bahkan menyebutnya bukan seorang monster.

“Bagaimana kau bisa tahu apa yang kurasakan?” Tanya Hanbin lirih, tanpa disadarinya setetes air mata jatuh membasahi wajahnya. Gadis itu masih memandang Hanbin lekat-lekat.

“Karena aku bisa mendengar isi pikiranmu, maka aku bisa merasakan isi hatimu yang tulus dan seputih salju, kau tahu? Betapa aku sangat membenci kemampuanku untuk mendengar pikiran orang lain, tapi ketika aku bertemu denganmu, aku bersyukur aku mempunyai kemampuan ini. Karena aku bisa mengatakan padamu untuk berhentilah membenci dirimu sendiri.” Ucap wanita itu lirih tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun dari Hanbin.

Sebuah tepukan dibahu Hanbin membuatnya tersadar dari kenangannya dan membawanya tersadar. Kali ini Hanbin menatap wajah Yunhyeong lekat-lekat, Yunhyeong masih menatap Hanbin dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Dia, dia mempunyai kekuatan untuk mendengarkan isi pikiran orang.” Ucap Hanbin lirih.

Yunhyeong mematung ditempatnya, melalui sorot matanya Hanbin yakin ia masih memikirkan suatu kemungkinan, “Apakah hanya kau yang dia dengar sekarang?” Tanya Yunhyeong masih mencoba menggali sesuatu untuk mendukung analisa sementaranya.

“Entahlah, sepertinya begitu.” Jawab Hanbin masih menatap Yunhyeong dan mengamati ekspresi wajahnya yang belum juga berubah sedari tadi. Yunhyeong hanya melirik sekilas kearah Hanbin dan mengabaikannya, masih terlihat berpikir akan sesuatu. Hanbin terlihat mulai tidak sabar menghadapi tingkah Yunhyeong akhirnya berteriak padanya.

“Berhentilah membuatku penasaran dan katakan sesuatu padaku!”

Yunhyeong tidak bergeming mendengar Hanbin yang berteriak dengan penuh emosi dihadapannya. Mereka sempat terdiam beberapa saat sampai akhirnya Yunhyeong menatap Hanbin seakan ingin mulai berbicara. Dengan hati yang kacau balau Hanbin mencoba untuk mendengarkan segala kemungkinan yang akan Yunhyeong katakan.

“Kurasa perubahan pada dirinya sudah dimulai.” Jawab Yunhyeong mantap.

Hanbin mengernyitkan dahinya, “Apa maksudmu?”

“Kekuatannya mulai muncul secara perlahan, itu sudah menjadi bukti bahwa perubahan pada dirinya telah dimulai, aku tak tahu apakah ia sudah mencapai titik terlemah pada dirinya. Tapi, kurasa kau harus bergerak lebih cepat sebelum semuanya terlambat, Hanbin.” Ucap Yunhyeong dengan raut wajah serius.

Kerongkongan Hanbin mendadak terasa sangat kering, perasaan gusar langsung menghantuinya akan segala kemungkinan terburuk yang akan dialami Hayi, degup jantungnya bertambah cepat ketika ia membayangkan beberapa kawanan dark angels yang akan memburu Hayi. Karena sebagian dari mereka percaya bahwa Hayi adalah reinkarnasi pemimpin light angels yang akan membinasakan seluruh dark angels dan menyelamatkan dunia dari kegelapan. Maka sebelum itu semua terjadi, membunuh Hayi adalah suatu keharusan bagi para dark angels.

“Tidak mungkin. Kau bilang waktuku masih ada 6 bulan lagi sebelum ia memasuki masa transisi! berhentilah bercanda, Song Yunhyeong!” Ucap Hanbin belum bisa menerima kenyataan terburuk dari perkiraan sementara Yunhyeong.

“Entahlah Hanbin, perasaanku hanya mengatakan kau harus bergerak cepat.” Jawab Yunhyeong sambil menatap lekat-lekat sahabatnya itu yang masih terlihat tidak percaya akan perkataannya.

“Katakan padaku bagaimana caranya menghentikan perubahan pada dirinya!” Teriak Hanbin putus asa.

“Maafkan aku, tapi hanya dirinya sendiri yang bisa menghentikkan itu semua. Ketika ia memilih untuk menjadi manusia. Semua itu akan berhenti dengan sendirinya.” Jawab Yunhyeong.

“Katakan padaku bagaimana caranya! Song Yunhyeong!” Teriak Hanbin sekali lagi, namun Yunhyeong hanya menatapnya dengan tatapan bersalah karena ia sendiri tidak tahu cara lain untuk membantu Hanbin.

Previous / Next

Advertisements

5 thoughts on “[FF Freelance] Broken Wings Chapter 2

  1. Anyyeong authornim, ini bgs bangt. Jalan ceritanya bgs, bahasa bgs dan cara pembawaan ceritanya aku suka bngt ^^
    Ide ceritanya juga daebak ^^
    Tolong segera update hahahah
    Pngn tahu lanjutannya yay

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s