Freelance · Friendship · Genre · Length · One Shoot · PG -15 · Rating · sad

[FF Freelance] Forever!!!


PhotoGrid_1422809774766 Tittle: Forever…!!! (OneShoot) Author: Lisa Kim @LisaKim0403 or @Parklisha Genre: Friendship, Life, Emm, Sad? Mungkin. Main Cast: – Kim Seokjin (BTS) – Min Yoongi (BTS) – Jung Hoseok (BTS) – Kim Namjoon (BTS) Rating: PG- 15 Length: OneShoot

Disclaimer

FF ini murni hasil Imajenasiku yang rada sedikit abal. OC’s dan Semua yang ada dalam FF ini MILIKKU!!! BTS milik Tuhan, Orangtuanya masing-masing, BIGHIT –Selama masa kontrak berlaku- dan yang pasti milik istri dan anak-anak mereka kelak -_-. Tapi perlu ditegaskan, Kim Seokjin tetap Suamiku dan Min Suga tetap Pacarku!!! /MintaDiTabokARMY/ Kkkk~~ Hati-hati banyak Typo bertebaran!

Happy Reading ^_^

  Silent Readers? GO AWAY!!!!!! Hush…Hush…Hush *NgusirBrngMemberBTS*   Summary: Mungkin, Jika Tidak Ada Kami, Seorang Kim Namjoon Sudah Menjadi Gelandangan! Mungkin, Jika Tidak Ada Kami, Seorang Min Yoongi Sudah Menjadi Pecandu Narkoba! Mungkin, Jika Tidak Ada Kami, Seorang Jung Hoseok Sudah Menjadi Pembunuh! Dan,

Aku Yakin, Jika Tidak Ada Mereka Aku Sudah Jatuh Terjerumus Dalam Jurang Yang Penuh Dengan Mimpi Orang Lain! Bukan Mimpiku!

###

. . .

Kenapa hujan bisa turun tiba-tiba seperti ini?

Padahal, saat aku keluar rumah tadi keadaanya masih nampak baik-baik saja dan sekarang hujan tiba-tiba saja turun cukup deras. Ya, cukup untuk membuat surai coklatku ini sedikit lepek karenanya. Ck, menyebalkan!

Tapi yasudahlah, toh aku sudah sampai di tempat tujuan. Saat ini aku sudah berdiri tepat di depan pintu sebuah café bertulisan ‘Forever Café’.

Dua hari yang lalu aku dan 3 orang sahabatku memang sudah membuat janji untuk berkumpul di café ini pada akhir pekan yang jatuh pada hari ini. O..ya, Sekedar informasi, café ini adalah milik salah seorang sahabatku itu atau lebih tepatnya usaha patungan dirinya dengan kakak perempuanya.

Café-nya memang tidak terlalu besar, tapi percayalah tempat ini sangat nyaman. Yeahh, tentu saja! Sangat nyaman dikarenakan aku tidak perlu membayar untuk semua jenis minuman dan makanan kecil yang aku makan disini. Sahabatku itu memang membiarkan kami, sahabat-sahabatnya makan secara gratis di café-nya. Sahabat yang baik, bukan?

Kringgg~

Lonceng pintu masuk berbunyi nyaring ketika aku membuka pintu kaca tersebut. Membuat seorang pria yang tengah berdiri dimeja kasir menoleh kearahku. Pria yang mengenakan celemek itu memberikanku senyuman dingin andalanya. ‘Senyuman dingin’ yang aku maksud disini bukan sebuah senyuman dingin yang ia berikan karena tidak suka melihat kehadiranku disini. Bukan! Karena, percayalah pria itu memang hanya bisa tersenyum seperti itu. Seolah, senyuman dinginnya itu memang sudah menjadi senyuman khas andalannya. Nampak dingin dan terkesan angkuh, namun sama sekali bukan senyuman jahat! Setidaknya itulah anggapanku tentang sosoknya, sosok seorang Min Yoongi.

Masih dengan senyum dinginnya, Yoongi mengarahkan jari telunjuknya kearah sudut café. Membuatku segera menolehkan kepala mengikuti arah yang ditunjuknya.

Aku mendengus pelan ketika sudah melihat apa yang baru saja menjadi objek tunjukan jarinya itu.

“Ternyata bocah tengik itu sudah disini!”

Tanpa memandang kearah Yoongi lagi, aku segera mengayunkan kakiku menuju sudut café. Menghampiri seorang pria yang kala itu tengah asik menyeruput vanilla lattenya itu. Ya, aku yakin ia tengah menyeruput coffee dengan rasa itu. Aku sudah sangat hapal dengan salah satu kebiasaanya itu.

Nampaknya pria yang mengenakan jaket kulit itu sama sekali tidak menyadari kehadiranku. Dia masih saja meresapi coffee-nya itu dengan sangat nikmat.

“YYA! BOCAH TENGIK!” Ujarku dengan intonasi suara yang cukup keras. Cukup keras untuk dapat membuat pria bersurai pirang itu tersedak Coffeenya.

“Uhuk…uhuk,”

Dia benar-benar tersedak. Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh!

Aku memberikan senyuman lebarku padanya, “Maaf,” ujarku dan ia mendengus.

Masih dengan senyuman lebarku, aku mendudukan diri disampingnya. “Kenapa kau tidak menjemputku, eoh?” Aku kembali memulai pembicaraan.

Pria itu kembali menyeruput vanilla lattenya. Membuatku harus sabar menunggu sampai akhirnya ia menjawab, “Maaf, aku lupa!” ia tersenyum bodoh.

Ya, baiklah! itu memang sudah menjadi suatu kebiasaan mutlak darinya. Ia akan selalu lupa dengan semua hal. Tapi setidaknya ia tidak lupa dengan janji kami disini. Itu terbukti dengan dirinya yang paling pertama tiba disini. Sungguh ajaib!

Tetapi, tetap saja kelupaannya prihal menjempuku itu membuatku sedikit kesal. Pasalnya, kalau saja tadi aku pergi bersamanya mungkin saja aku tidak akan kehujanan seperti ini. Lagipula, biasanya disaat kami akan pergi berkumpul seperti ini dia memang akan selalu menjemputku dengan motor bututnya itu.

Sekedar informasi, aku tidak bisa mengendari motor atau mobil sendiri. Sebenarnya bukan tidak bisa, tapi aku tidak berani. Ya, pengecut memang, tapi mau bagaimana lagi? Selama ini aku memang selalu di antar-jemput oleh seorang supir pribadi. Malangnya, hari ini Pak Lee, supirku itu sedang sakit dan tidak bisa berkerja. Jadi, kemarin aku sudah memberitahu sahabatku ini untuk menjemputku dan sekarang apa yang aku dapatkan darinya? Dengan alasan ‘lupa’-nya itu dia tidak menjemputku dan hal itu membuatku harus rela pergi dengan kendaraan umum dan kehujanan seperti ini. Bukankah itu menyebalkan?

“Berhentilah bersikap manja seperti itu, Kim Seokjin!”

Eh? Apa yang dia ucapkan?

Pria bersurai pirang itu menatapku, “Belajarlah untuk mandiri! Kehidupan ini kejam dan jika kau lemah seperti ini kau akan terbunuh olehnya. Berhentilah bergantung pada orang lain! Jika kau masih bisa melakukannya sendiri maka lakukanlah sendiri. Kau tahu, jika kau terus menerus seperti ini kau bisa jatuh kapan saja,”

Aku tertegun mendengar ucapanya. Dia kenapa? Aku hanya mengeluh prihal kelupaanya yang tidak menjemputku. Tapi mengapa dia jadi membahas tentang kejamnya hidup? Dahiku sedikit berkerut.

Namun, pada detik berikutnya mataku dibuat melebar karena ucapannya itu. Aku mulai teringat, jika sahabatku ini sudah mulai membahas tentang kejamnya hidup, biasanya dia sedang… “Yya, kau sedang patah hati? ditolak lagi, eoh?”

Dia menghembuskan nafasnya kasar, “Tidak! Aku hanya ingin memberitahumu tentang bagaimana kejamnya hidup ini. Kau tahu—”

“Yya! Kim Namjoon! Kau terlalu berlebihan dan kau menggelikan, sungguh!”

Min Yoongi, pria bercelemek itu tiba-tiba saja muncul dan berujar seperti itu dan jangan lupakan pukulan ringan tangannya dikepala Namjoon. Membuat Namjoon, sang korban mendengus sebal karena ulahnya itu. Sementara aku, ya… aku hanya bisa tertawa melihat tingkah dua sahabat baikku itu. Yang memang sudah sangat sering terjadi.

“Hot Green Tea dengan dua sendok gula kesukaanmu, Tuan Kim,” Ujar Yoongi lagi. ia menyodorkan secangkir Hot Green Tea padaku.

Aku tersenyum lebar kearahnya. Sahabatku ini memang sudah sangat hapal dengan kebiasaanku yang satu ini.

Ya, tentu saja! Bayangkan saja, aku dengannya sudah bersahabat kurang lebih 18 tahun lamanya. Bukankah itu waktu yang cukup lama untuk dapat saling mengenal satu sama lainnya?

Aku pertama kali bertemu dengan Yoongi saat kami sama-sama baru masuk sekolah dasar. Kalian tahu, Saat itu aku sama sekali tidak pernah berpikir kami bisa berteman. Itu dikarenakan sikap Yoongi yang kasar dan dingin, sangat! Bahkan dulu aku selalu menjadi korban bullyan-nya di sekolah dan itu membuatku selalu pulang dengan keadaan menangis. Memalukan bukan? Ya, aku tahu itu!

Tapi, seiring berjalannya waktu dan entah sihir apa yang terjadi pada kami, kami justru bisa menjadi sahabat baik sampai sekarang. Sampai usia kami sudah sama-sama menginjak kepala dua -lebihnya tidak perlu disebutkan-.

Aku sudah mengenal sosok Min Yoongi dengan sangat baik. Dia adalah tipe pria cuek dan dingin, sangat dingin sampai-sampai sekalipun ia tidak pernah berbicara tentang rasa cintanya terhadap kami, sahabat-sahabatnya. Ia justru akan selalu memberikan sejuta omongan menusuknya pada kami, omongan menusuk berdasarkan kenyataan yang kadang membuat hati kami –Aku, Namjoon dan juga Hoseok- terluka. Tapi, sekalipun kami tidak pernah marah atau membencinya. Karena kami tahu itulah keperibadiannya dan kami sebagai sahabat yang baik tentu saja harus bisa memahaminya, bukan? Ya, tentu saja!

Walaupun begitu aku tahu Yoongi mencintai kami. Ya, aku yakin itu!

“Yya, apa benar kau ditolak lagi?” Yoongi kembali memulai pembicaraan. Saat ini ia sudah duduk disampingku membuatnya berhadapan dengan Namjoon.

Namjoon mendengus kesal lagi, “Aku sedang tidak membahas masalah percintaan, Tuan Min!”

Yoongi tersenyum dingin –senyum andalannya-, “Kalau bukan soal percintaanmu yang memang selalu menyedihkan itu, apa ini berhubungan dengan….”

Aku dan Namjoon sama-sama mencibir ketika mendengar ucapan Yoongi. Ayolah, bukan hanya Namjoon yang memiliki kisah cinta menyedihkan disini. Tapi, kita juga Min Yoongi! Apa kau tidak sadar, eoh?

“…Pekerjaanmu?” Kali ini Yoongi berujar dengan wajah yang sedikit serius.

Sama sepertinya, kali ini aku menatap Namjoon lebih serius, “Kau – di – pecat – La…gi?” Ujarku ragu.

Bahu Namjoon merosot lemah, “Iya,” Gumannya.

Aku dan Yoongi saling berpandangan, “Daebak!” Seru kami bersamaan.

Seingatku, Pemecatan ini adalah kasus pemecatan Namjoon yang ke tiga dalam satu tahun ini. Ingat, hanya dalam satu tahun ini! Tahun-tahun sebelumnya tidak perlu dibahas, Oke.

Kasus pertama, itu terjadi saat ia berkerja menjadi Guru les privat anak SMP tingkat akhir. Namjoon dipecat karena nyatanya ia lebih bodoh dari anak didiknya itu. Oke ini memalukan, tapi ini serius!

Aku ingat saat kami mengetahui alasan dibalik pemecatannya itu Yoongi dengan entengnya berujar ‘Sudah tahu otakmu itu bodoh, Kim Namjoon. Kenapa juga kau masih nekat berkerja seperti itu, hah? Pantas saja kau dipecat, dasar bodoh!’ dan jangan lupa tawa keras yang Yoongi berikan pada Namjoon saat itu. Ucapan dan tawa keras Yoongi mampu membuat Namjoon langsung pergi meninggalkan kami. Ya, aku tahu Namjoon sakit hati dengan ucapan Yoongi. Tapi mau bagaimana lagi, karena memang seperti itulah seorang Min Yoongi, pria dengan sejuta omongan menusuknya itu.

Kasus yang kedua, itu terjadi saat Namjoon berkerja di Bank Swasta –Tempat dimana Jung Hoseok juga berkerja-. Ia dipecat karena telah merusakkan seperangkat komputer dan itu mengakibatkan semua file-file penting hilang tanpa jejak olehnya.

Baiklah, selain pelupa sahabatku yang satu ini juga seorang perusak!

Dan lagi-lagi aku ingat apa yang Yoongi ucapkan saat itu, ‘Yya, Kim Namjoon. Selain bodoh ternyata kau juga ahli dalam hal merusak, eoh? Aigoo, aku benar-benar tidak percaya di dunia ini ada manusia sepertimu. Kau benar-benar bodoh!’ dan jangan lupakan tawa keras yang lagi-lagi Yoongi berikan pada Namjoon. Kali ini tidak sampai membuat Namjoon pergi meninggalkan kami. Ya, kami hanya bisa menghelan nafas dalam untuk ucapan Yoongi itu. Kami sudah biasa menerimanya. Jadi, tidak apa!

Dan sekarang tanggapan apa lagi yang akan Yoongi berikan ketika kami mengetahui alasan dibalik pemecatan Namjoon kali ini?

“Memangnya apa lagi kesalahanmu, eoh?” Tanyaku penasaran.

Yang aku tahu, Namjoon sudah hampir tiga bulan ini berkerja disebuah perusahan percetakan. Itu rekor waktu terlama Namjoon bisa bertahan tanpa dipecat. Lalu, kesalahan apa yang ia perbuat sampai-sampai ia harus berakhir pada sebuah pemecatan lagi?

Namjoon menghelan nafas sejenak, “Aku memaki atasanku,”

Butuh beberapa detik untukku dan Yoongi dapat mencerna jawaban Namjoon.

Sampai akhirnya,

“APA?” Lagi-lagi aku dan Yoongi memekik secara bersamaan.

“Dengar dulu! Kasus kali ini berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya,” Namjoon berujar sebelum aku dan Yoongi berhasil memberikan berbagai macam pertanyaan padanya.

Pada akhirnya baik aku maupun Yoongi memilih diam untuk mendengar penjelasan Namjoon.

“Aku tidak tahan berkerja disana. Kalian tahu, aku selalu dimarahi, padahal aku tidak melakukan kesalahan.apapun,” Namjoon menghelan nafas lemah, “Baiklah, mungkin aku memang pernah melakukan kesalahan satu, dua, tiga atau empat kali. Tapi percayalah itu bukan kesalahan fatal. Tapi entah mengapa aku selalu dimarahi habis-habisan. Atasanku itu selalu memakiku dengan sejuta omongan tajamnya,” Namjoon menghentikan ucapannya sejenak, sekedar untuk menghirup udara.

“Dan batas kesabaranku berakhir kemarin. Kemarin, atasanku memakiku atas kesalahan yang bahkan sama sekali tidak aku lakukan dan karena aku kesal, aku jadi balik memaki atasanku itu dan akhirnya aku—“

“Kau langsung dipecat?” Potong Yoongi yang langsung dihadiahi sebuah anggukan lemah dari Namjoon.

“Sudahku bilangkan hidup itu kejam! Setidaknya itu kejam untukku,” Namjoon berujar dengan suara yang lebih terdengar seperti sebuah bisikan lemah.

Aku dan Yoongi sama-sama menghelan nafas dalam. Beban hidup yang Namjoon tanggung cukup berat. Kasihan dia.

Sama seperti Yoongi, aku mengenal Namjoon kurang lebih sudah 18 tahun lamanya. Bedanya, aku bertemu Namjoon saat di kelas dua sekolah dasar. Ya, Namjoon adalah murid pindahan dari desa.

Dan kalian tahu, ternyata aku dan Namjoon masih memiliki hubungan saudara. Kakek Namjoon adalah adik dari Kakek buyutku.Apa kalian mengerti? Jika tidak, abaikan saja!

Namjoon adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Dia hidup dikeluarga yang sangat-sangat sederhana atau bahkan kekurangan. Kedua kakak laki-lakinya sudah menikah dan malangnya, kedua kakaknya itu adalah tipe anak yang tidak perduli dengan keluarganya. Bayangkan saja, setelah mereka menikah, mereka langsung pergi entah kemana. Tidak pernah datang untuk sekedar mengunjungi orangtua mereka dan mereka sama sekali tidak pernah mengirimkan uang untuk biaya hidup kedua orangtuanya itu. Kejam? Tapi memang begitulah kenyataanya.

Semua kenyataan itulah yang membuat takdir hidup memaksa Namjoon untuk menjadi tulang punggung keluarganya. Tulang punggung untuk kedua orangtuanya dan keempat adiknya, yang tentu saja harus bersekolah.

Mungkin kalian bertanya, ‘Apakah Ayah Namjoon tidak berkerja?’ Sebenarnya Paman Kim berkerja, atau lebih tepatnya membuka sebuah usaha kecil, sangat kecil. Paman Kim adalah pedagang Mie pangsit dan beliau menjual dagangannya itu di depan sebuah gedung sekolah dasar. Tapi ayolah, usaha seperti itu tentu saja tidak akan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup seluruh anggota keluarganya, bukan? Terlebih lagi Bibi Kim. Ibunya Namjoon mengidam penyakit keras dan beliau sering keluar masuk rumah sakit.

Alasan itulah yang membuat seorang Kim Namjoon harus berjuang mati-matian untuk bisa mendapatkan uang. Ia bahkan harus merelakan masa-masa SMA-nya untuk berkerja. Sekolah pada pagi hari dan berkerja pada malam hari, dan begitu seterusnya.

Seperti yang Namjoon katakan tadi ‘Hidup itu Kejam!’.

“Namjoon-ah, berkerjalah di cafeku ini!”

Baik aku maupun Namjoon sama-sama menatap Yoongi dengan mata yang sedikit melebar. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya seorang Min Yoongi tidak mengeluarkan omongan menusuknya didepan kami, khususnya di depan Namjoon. Jadi, wajar bukan jika aku dan Namjoon terkejut? Ya, kurasa itu wajar.

Namjoon masih menatap Yoongi. Namun tatapannya kali ini bukan tatapan terkejut seperti tadi. Tatapannya kali ini terlihat begitu lemah, “Terima kasih untuk tawaranmu, Yoongi-ya. Tapi, aku sudah terlalu sering merepotkanmu dan juga Jin. Aku tidak ingin membebani kalian, sungguh!” Namjoon menatapku dan Yoongi bergantian.

Lagi-lagi, aku dan Yoongi menghelan nafas dalam.

“Aku bahkan belum bisa membayar hutang-hutangku pada kalian, Maaf!”

Aku sedikit mendesis, “Lupakan itu, Namjoon-ah! Aku dan Yoongi membantumu tulus, sangat tulus! Jadi, Masalah hutang-hutangmu itu kau tak perlu membayarnya, sungguh!” Ujarku tulus.

Ya, selama ini Namjoon memang sudah sering meminjam uang padaku dan juga Yoongi. Uang itu dia gunakan untuk membiayai sekolah adik-adiknya, biaya rumah sakit Ibunya dan bahkan kadang untuk makan sehari-hari saja ia harus sampai meminjam uang pada kami. Namun, baik aku maupun Yoongi sama sekali tidak pernah merasa keberatan. Tentu saja! Karena Bagiku, Mereka –Namjoon, Yoongi dan juga Hoseok- sudah bukan sekedar sahabat untukku. Mereka sudah menjadi keluargaku! Bagian penting dalam hidupku!

Namjoon sekilas memberikan senyuman kecilnya pada kami, “Kalian benar-benar sahabat yang baik, terima kasih. Tapi, tetap saja aku harus membayar hutang-hutangku itu!”

Lagi-lagi ucapan Namjoon membuatku mendesis. Sungguh, aku sama sekali tidak keberatan jika Namjoon benar-benar tidak membayar semua hutangnya itu padaku. Aku tulus membantunya dan aku yakin Yoongi juga mempunyai pikiran yang sama sepertiku. Ya, aku yakin itu!

“Yya, bodoh! Tentu saja kau harus membayar hutang-hutangmu yang sudah setinggi gunung itu. Memangnya aku dan Jin bank berjalanmu, eoh? Kalau terus-terusan seperti itu bisa-bisa kami yang jatuh miskin karenamu,”

Oh, sepertinya aku salah.

Min Yoongi tetaplah seorang Min Yoongi dengan sejuta omongan menusuknya itu.

Namjoon menundukan kepalanya dalam, “Maaf. Tapi aku janji akan segera—”

“Dan oleh sebab itulah kau harus berkerja di café ku ini! Tenang, aku tidak akan menjadikanmu seorang pelayan. Aku akan memberikan posisi yang lebih layak untukmu. Setiap bulan gajimu akan aku potong sebagai cicilan untuk membayar semua hutang-hutangmu padaku dan Jin,”

Aku dan Namjoon sama-sama tercengang mendengar penuturan Yoongi.

Ayolah, sekejam-kejamnya seorang Min Yoongi dia tetap sahabat kami. Sahabat yang tidak pernah bisa menunjukan betapa cintanya dia pada kami dengan sebuah ucapan manis. Tapi, ya…, seperti yang kalian lihat saat ini, dia menunjukannya dengan sebuah tindakan, bukan?

“T-tapi—”

“Hey kau lupa, seorang Min Yoongi tidak suka menerima sebuah penolakan, bukan?” Potong Yoongi, “Aku sadar memperkerjakan orang bodoh sepertimu memang bukan pilihan yang baik. Tapi, mau bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya jalan agar kau bisa cepat-cepat melunasi semua hutangmu itu. Jadi, mulai besok kau resmi berkerja disini! Jangan pernah datang terlambat barang satu detikpun dan jangan pernah melakukan kesalahan apapun selama kau berkerja disini. Jika itu terjadi aku tidak akan segan-segan menendang bokong busukmu itu keluar dari café ini! Kau mengerti, Kim Namjoon?”

Tanpa sadar aku terkekeh kecil. Seorang Min Yoongi benar-benar tidak bisa mengeluarkan kata-kata manisnya pada kami. Dan Entah sihir apa yang ia punya sampai kami bisa tahan dengan semua omongan menusuknya itu selama kurang lebih 18 tahun lamanya.

Seolah, semua omongan menusuknya itu adalah bentuk lain dari ungkapan rasa cintanya pada kami.

“Tapi, aku—”

“Sudahlah terima saja! Aku takut jika kau menolaknya kau akan dimakan hidup-hidup olehnya,” Potongku. Yoongi mendesis kearahku. “Lagipula, selama kau berkerja disini kau juga masih bisa memasukan surat lamaranmu pada tempat-tempat lain yang lebih baik dan jika kau diterima, kau bisa berhenti dari sini. Bukankah begitu, Yoongi-ya?”

“Ya, itu sih terserah kau saja,”

Namjoon masih nampak berpikir.

“Dan ingat, jika kau kembali dipecat dan hutang-hutangmu itu belum lunas, pastikan kau harus kembali berkerja disini!”

“Huahahahahahahahahahah….”

Oke, aku benar-benar tertawa keras kali ini. Yoongi benar-benar ajaib!

“Kurasa tidak ada yang lucu, Tuan Kim!” Yoongi menatapku dengan tatapan membunuhnya. Tatapan yang langsung bisa membunuh tawaku.

Oke, sepertinya memang tidak ada yang lucu!

Detik berikutnya kami memilih untuk diam. Namjoon masih belum memberikan jawaban atas tawaran Yoongi tadi.

Sampai akhirnya,

“Baiklah, aku mau!” Jawab Namjoon. Ia tersenyum lebar kearahku dan Yoongi.

“Okeeeeee~!” Entah sadar atau tidak tiba-tiba saja Yoongi tersenyum lebar kearahku dan tangannya seolah-olah mengajakku ber-High five. Tidak biasanya Yoongi seperti ini! Aku sih pasrah, jadi aku balas saja senyuman lebar dan ajakan high five-nya itu.

Dan sepertinya benar, tadi Yoongi sedang berada pada kondisi tidak sadar. Karena sekarang dia mulai salah tingkah atas tingkah kelewat senangnya tadi. Pria bermata sipit itu berdeham, lalu menyeruput Coffee miliknya dan ya.. dia kembali memasang wajah dinginnya.

Aku dan Namjoon hanya bisa terkekeh kecil melihat tingkah sahabat ajaib kami ini.

“Yya, kenapa si konyol Jung Hoseok belum datang juga?” Yoongi kembali memulai pembicaraan dengan topik yang baru.

Namjoon sekilas melirik jam tangannya, “Bocah itu sudah telat 40 menit dari waktu yang ditentukan!”

Aku menyeruput Hot green tea-ku perlahan.

Ayolah, sudah bukan kejadian aneh lagi jika seorang Jung Hoseok terlambat. Bocah itu bahkan tidak pernah sekalipun datang tepat waktu, bukan? Iya, dia akan selalu datang terlambat dan memberikan kami beribu-ribu alasan untuk keterlambatannya itu dan ajaibnya kami bertiga akan selalu percaya dan memakluminya. Hoseok punya sihir? Ya, kurasa begitu.

“Bocah itu pasti pergi kencan dengan Jihyun,”

Aku memberikan kesimpulan yang menurutku paling masuk akal untuk keterlambatan Hoseok kali ini. Pasalnya, ini malam minggu dan tentu saja Hoseok yang memang sudah memiliki pacar itu akan lebih memilih berkencan dengan pacarnya dibandingkan harus berkencan dengan tiga pria mengenaskan seperti kami.

Tiga Pria Mengenaskan?

Iya, mengenaskan karena diantara kami berempat hanya Hoseok lah yang perjalanan cintanya berjalan dengan sangat mulus. Sementara kami, Aku, Namjoon dan juga Yoongi hanyalah pria-pria kesepian yang jarang sekali mendapat belaian lembut seorang wanita.

Aku dan Yoongi terakhir pacaran itu saat kami di SMA. Sementara Namjoon, dia baru putus tiga bulan lalu dengan seorang gadis SMA yang baru ia kencani tiga hari lamanya. Konyol bukan?

Sebenarnya wajah kami tidak buruk, sungguh! Tapi entah mengapa perjalanan cinta kami memang tidak pernah semulus perjalanan cinta Hoseok. Bayangkan saja, bocah konyol itu berhasil mempertahankan hubungannya bersama Jihyun 5 tahun lamanya tanpa kendala yang berarti. Mereka benar-benar nampak serasi. Aku benar-benar iri melihatnya.

“Ya, aku tahu bocah itu akan lebih memilih bersama Jihyun dibandingkan bersama kita sahabat-sahabatnya sendiri. Bukankah benar begitu, teman-teman?” Namjoon berujar lirih.

Tidak seperti itu juga, Kim Namjoon! Dia benar-benar terlalu dramatis… Aigoo.

“Yya! Siapa bilang aku lebih memilih Jihyun dibanding kalian? Tentu saja aku akan lebih memilih kalian, bodoh!”

Panjang umur. Akhirnya Hoseok datang juga.

Ya, aku percaya pada ucapan Hoseok. Tentu saja ia akan lebih memilih kami, sahabatnya selama 18 tahun ini dibandingkan memilih Jihyun, gadis yang baru dikencaninya 5 tahun ini. Bukankah begitu?

“Setidaknya aku lebih memilih kalian untuk hari ini dan tentu saja untuk seterusnya aku akan lebih memilih Jihyun,hehehheh….”

Oh, baiklah. Ternyata aku salah lagi.

“YYA!!!”

Aku, Yoongi dan Namjoon sama-sama sudah siap melayangkan jitakan kami dikepala bocah konyol bernama Jung Hoseok itu kalau saja ia tidak dengan lihainya menghindar. Dan hal itu membuat kami bertiga mendesis kesal karena ulahnya.

“Hey tenang, kawan. Aku hanya bercanda,heheh…” Cengir Hoseok. Bocah itu mulai kembali melangkahkan kakinya mendekat pada kami, “Tentu saja aku akan lebih memilih kalian. Setidaknya, sampai kalian bertiga melepas predikat jomblo nista kalian itu,”

“YYA!!!”

Pletak~

Pletak~

Pletak~

Oke, kami berhasil. Tiga jitakan maut kami mendarat dengan suksesnya dikepala Hoseok. Membuat si empunya kepala meringis kesakitan. Dan kami bertiga tentu saja tersenyum bahagia. Bocah konyol ini memang tidak pernah bosan-bosannya memojokan kami dengan status jomblo kami ini. Menyebalkan!

“Yya, Appoooooooo~!” Hoseok masih meringis kesakitan seraya mengelus-ngelus kepalanya.

Aku, Namjoon dan Yoongi kembali mendudukan diri. Sama sekali tidak merasa bersalah atas rasa sakit yang Hoseok alami karena jitakan kami dikepala lonjongnya itu. Masa bodo!

“Kali ini alasan apalagi yang mau kau berikan atas keterlambatanmu itu, Jung Hoseok?” Tanya Yoongi dengan suara dinginya.

Masih dengan ringisan pelan Hoseok mulai kembali mendekat pada kami, “Aku terlambat karena ini,” Ujarnya. Ia meletakan satu kantong plastik berukuran sedang keatas meja. Membuat aku, Namjoon dan Yoongi langsung menatap bungkusan tersebut.

Namjoon langsung membuka bungkusan tersebut, “Toppoki?”

Hoseok mendengus pelan seraya mendudukan diri disamping Yoongi dan Namjoon yang membuatnya berhadapan denganku.

“Iya, aku terlambat karena harus mengantri untuk bisa mendapatkan toppoki ini. Aku tahu kalian hanya akan memakan toppoki yang di buat Bibi Nam dan kalian jelas tahu pelanggan Bibi Nam itu banyak. Jadi, apa kalian tahu aku harus rela mengantri panjang hanya untuk membelikan kalian ini,” Hoseok mendengus kesal, “Seharusnya kalian berterima kasih padaku. Bukannya justru memberikan tiga jitakan maut kalian itu padaku! Kalian tahu, bahkan aku sampai harus mengantri ditengah-tengah hujan dan apa kalian juga tah—, Yya! Setidaknya sebelum kalian memakannya kalian harus mendengarkan ocehanku dulu! Yya! kalian mendengarku, tidak? Eishhhh, kalian ini benar-benar menye—, Hmmpphhh,”

“Makanlah!”

Dengan cepat aku membungkam mulut Hoseok dengan suapan besar Toppoki. Aku tahu, dia tidak akan berhenti mengoceh jika salah satu diantara kami bertiga tidak melakukan hal itu padanya. Hoseok terlahir dengan keperibadian cerewatnya itu dan cara ampuh untuk dapat membungkam mulutnya itu, ya… dengan suapan makanan seperti yang aku lakukan barusan.

Hal itu terbukti ampuh dengan Hoseok yang sekarang mulai makan dengan lahapnya. Seolah-olah dia takut aku, Namjoon dan Yoongi menghabiskan semuanya tanpa menyisakan untuk dirinya.

Tanpa sadar kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman. Sudah lama aku tidak melihat moment-moment seperti ini. Dan sungguh, aku sangat merindukan saat-saat seperti ini.

Dulu, saat kami masih duduk di bangku SMP dan SMA setiap pulang sekolah kami berempat pasti akan selalu mampir ke kedai Bibi Nam, sekedar untuk menyantap satu porsi jumbo toppoki yang menurut kami mempunyai rasa paling enak ini.

Disaat kami sudah selesai makan, kami berempat pasti akan memainkan permainan gunting, kertas, batu. Kalian tahu permainan itu,kan? permainan itu kami lakukan untuk menentukan siapa diantara kami berempat yang akan membayar tagihannya nanti dan ya… aku selalu kalah dalam hal itu.

“Tinggal satu potong. Diantara kita berempat siapa yang akan memakannya?”

Tiba-tiba saja Namjoon berujar. Membuat lamunanku buyar karenanya.

Aku segera melihat kearah bungkus toppoki diatas meja dan benar saja disana hanya terlihat satu potong toppoki. Yang benar saja, mereka bertiga menghabiskan satu porsi jumbo toppoki dalam waktu sesingkat ini? Hanya mereka bertiga, tanpa aku! karena aku terlalu sibuk dengan lamunanku tadi.

Ehh, perasaan aku baru mencicipi satu suap toppoki tadi. Ahh, sial! Seharusnya aku tidak melamun terus. Sudah tahu ketiga sahabatku ajaibku ini jiwa kerakusannya sungguh luar biasa. Ugh!

“Yya, gunting, kertas, batu saja. Seperti dulu,” Ujar Hoseok dengan mulutnya yang masih penuh dengan kunyahan toppokinya itu.

Ahya, kami memainkan permainan gunting, kertas, batu bukan hanya untuk menentukan siapa yang akan membayar tagihannya. Tetapi juga untuk menentukan siapa diantara kami berempat yang beruntung yang bisa menghabiskan suapan terakhir toppoki itu. Dan, ya… seseorang yang akan selalu beruntung untuk hal itu adalah….

“Ayo mulai!” Yoongi mulai memberi aba-aba. Tangannya sendiri sudah terangkat tinggi, siap untuk mengeluarkan bentuk dari tiga benda itu –Gunting, kertas atau batu-.

“Gunting…kertas…batu!” Seru kami bersamaan.

Dan,

“Yeayyyy… aku menang!”

Iya, Seseorang yang selalu beruntung untuk hal itu adalah Namjoon. Yeah… setidaknya hidup Namjoon tidak kejam dalam permainan gunting, kertas, batu, bukan?

“Eish, seharusnya aku tidak mengusulkan permainan itu,” Keluh Hoseok. Pria bersurai hitam itu mengelap noda saus toppoki dibibirnya dengan punggung tanganya. Seperti anak kecil saja, huh.

Untuk sekitar 2 menit lamanya kami terdiam. Memberikan waktu untuk Namjoon dapat menyelesaikan kunyahannya itu. Memberi waktu untuk Yoongi membersikan sisa-sisa makan kami dan membuangnya pada tong sampah dipojok café dan memberikan waktu untuk Hoseok dapat menghabiskan minuman—, Yya! Sejak kapan cangkir Hot Green Tea miliku ada padanya? Aish… aku terlalu banyak melamun hari ini. Sampai-sampai aku tidak menyadari cangkir hot green tea-ku itu sudah berpindah tangan.

Tapi sudahlah, tidak apa!

Sekali lagi, aku mengamati wajah Hoseok yang nampak polos tanpa beban seperti itu. Ya, siapa yang menyangka dibalik wajah polos yang penuh senyuman itu ternyata menyimpan sebuah luka yang cukup dalam. Luka yang mampu membuat seorang Jung Hoseok hampir mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Tapi itu dulu!

“Jadi, bisa kau ceritakan alasan dibalik pipimu yang memar itu, Jung Hoseok?” Yoongi tiba-tiba berujar. Ia sudah kembali duduk pada kursinya.

Aku dan Namjoon sudah tidak terkejut lagi dengan pertanyaan dari Yoongi barusan. Ya, salah satu dari kami bertiga pasti memang akan mengajukan pertanyaan seperti itu pada Hoseok. Dan akhirnya, Yoongi-lah yang memulainya.

Sejak kedatangan Hoseok tadi kami bertiga memang sudah menyadari pipi kiri Hoseok yang memar dan kami tahu sesuatu yang menyakitkan baru saja terjadi padanya. ‘Sesuatu’ yang menjadi alasan sebenarnya atas keterlambatan Hoseok tadi.

Ya, Hoseok hanya menjadikan ‘membeli toppoki’ alasan palsunya. Mungkin saja memang benar ia harus mengantri untuk mendapatkan toppoki itu. Tapi, aku, Namjoon dan Yoongi tidak sebodoh itu. Jika memang benar alasan ‘membeli toppoki’ adalah alasan sebenarnya, seharusnya toppoki itu akan tersaji dengan keadaan yang masih panas. Toh, kedai Bibi Nam tidak terlalu jauh dari tempat ini dan Hoseok mengendari motor. Jadi, bukankah seharusnya toppoki itu masih ada dalam keadaan panas dengan uap panas yang mengepul di udara?

Tapi pada kenyataanya tidak. Karena toppoki itu sudah dingin, sangat dingin!

Jadi, bisa disimpulkan setelah Hoseok berhasil membeli toppoki itu, ia mengalami satu kejadian lagi yang mengakibatkan ia terlambat 40 menit dari waktu yang telah ditentukan diawal.

Aku, Namjoon dan Yoongi tentu saja sudah menyadarinya sejak awal. Tapi kami memilih waktu yang tepat untuk bisa membahasnya.

Dan sekaranglah waktunya.

“Ceritakanlah!” Kali ini aku yang berujar. Menatap Hoseok dengan tatapan seriusku, hal yang serupa juga dilakukan Namjoon dan Yoongi.

Hoseok menghentikan acara minumnya. Dengan perlahan ia meletakan cangkir berwarna putih bening itu kembali keatas meja.Menghelan nafas sejenak lalu memandangku, Yoongi dan Namjoon bergantian. Ya, senyum cerianya sudah lenyap.

“Aku bertemu dengannya,” Lirih Hoseok, “Aku bertemu dengan si brengsek itu dan selingkuhan busuknya itu!” Kali ini Hoseok berujar dengan tatapan penuh kebencian.

Baik aku, Yoongi maupun Namjoon sama-sama menghelan nafas dalam. Kami sudah tahu, memang jawaban seperti itulah yang akan Hoseok berikan pada kami. Karena, satu-satunya masalah terberat dalam hidup seorang Jung Hoseok memang hanya masalah yang berhubungan dengan ‘Si Brengsek’ yang Hoseok sebut tadi.

Dan kami sudah sangat tahu siapa ‘Si Brengsek’ itu. Siapa lagi kalau bukan Ayahnya, Ayah kandungnya sendiri! Ya, Seorang Jung Hoseok memang sangat membenci Ayah kandungnya itu. Kebencianya itu sudah berada pada tahap dimana dia ingin membunuh Ayah kandungnya sendiri. Terdengar sangat kejam memang.

Tapi Hoseok punya alasan untuk semua itu!

Sebelum aku mengenal Yoongi dan juga Namjoon aku sudah terlebih dulu mengenal Hoseok. Aku pertama kali bertemu dengannya saat kami sama-sama berada di Taman kanak-kanak. Hoseok memiliki kepribadian yang selalu terlihat ceria dengan senyum lebar andalannya itu.

Awalnya, Aku mengira seorang Jung Hoseok yang selalu terlihat ceria itu tidak memiliki beban hidup sama sekali. Ya, karena bocah itu selalu terlihat bahagia tanpa beban. Namun, kenyataanya berbeda. Karena justru Hoseok-lah yang memiliki beban hidup paling memilukan diantara kami berempat.

Aku masih sangat mengingat hari dimana aku, Yoongi dan juga Namjoon menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada hidup seorang Jung Hoseok. Yaitu hari dimana kami melihat wajah Hoseok penuh dengan luka memar dan jangan lupakan juga luka memar yang berada pada seluruh bagian tubuhnya. Saat itu kami masih duduk di bangku kelas satu SMP dan bukankah luka-luka seperti itu terlalu menyakitkan untuk anak sesusia kami?

Saat itu kami bertanya, ‘Siapa yang melalukan semua itu padamu, Hoseok-ah?’ Hoseok hanya tersenyum, senyum lebar andalannya. dan ia hanya menjawab, ‘Aku baik-baik saja!’. Cihh, bukankah itu suatu jawaban yang jelas-jelas penuh dengan kebohongan? Bagimana bisa ia berkata ‘baik-baik saja’ dengan kondisi fisik seperti saat itu? Aku tahu itu menyakitkan, Hoseok-ah!

Walaupun begitu kami bertiga tentu saja tidak bisa memaksa Hoseok untuk memberitahu kami, bukan? Ayolah, kami masih sama-sama kecil saat itu.

Sampai pada akhirnya, aku, Yoongi dan Namjoon memutuskan untuk berkunjung kerumah Hoseok dan disanalah kami menemukan jawaban dari pertanyaan kami untuk Hoseok tadi. ‘Siapa yang melalukan semua itu padamu, Hoseok-ah?’ dan jawabannya adalah Ayah-nya, Ayah kandungnya sendiri!

Memilukan dan Menyakitkan!

Seperti itulah pemandangan yang kami saksikan saat itu. Dimana Paman Jung, Ayah Hoseok dengan sangat kasar menjambak rambut istrinya, Ibu Hoseok. Tidak berhenti di situ saja, karena setelah itu seperti orang yang sedang kerasukan setan Paman Jung dengan sangat brutal dan kasar menendang-nendang tubuh istrinya. Bukan hanya sekali dua kali, tapi sudah terlalu banyak, sehingga baik aku, Yoongi maupun Namjoon sudah tidak bisa menghitung berapa banyak tendangan menyakitkan yang sudah diterima Bibi Jung.

Disana, tidak jauh dari tempat dimana Paman Jung menyiksa tubuh istrinya itu berdiri 4 orang anak kecil dan salah satunya adalah Hoseok. Mereka menangis, tentu saja! Anak mana yang tidak akan menangis jika melihat Ibu mereka dipukuli oleh Ayah kandungnya sendiri? Berani bertaruh, Pasti tidak ada! Kecuali anak itu sudah gila!

Awalnya, Hoseok hanya menangis seraya terus memeluk ketiga adik kecilnya itu dengan erat. Hoseok memang anak tertua di keluarganya dan ke tiga adiknya masih sangat kecil dan semuanya perempuan.

Mendengar teriakan Ibunya yang sudah semakin memekikkan telinga, tiba-tiba saja Hoseok berlari kearah Ibu dan Ayahnya itu. Ia mengambil vas bunga kaca dan tanpa aba-aba langsung memukul belakang kepala Ayahnya dengan vas bunga kaca tersebut.

Pranggg~

Vas bunga itu pecah beriringan dengan berhentinya tendangan kaki Paman Jung pada tubuh istrinya. Paman Jung berbalik, menatap Hoseok dengan pandangan penuh amarah. Aku dapat melihat Hoseok balik menatap Ayahnya itu dengan tatapan penuh kebencian. Namun, aku juga tahu Hoseok menggigil ketakutan saat itu.

‘Hoseok-ah, Pergi Nak! Bawa adik-adikmu pergi. Jangan perdulikan Ibu!’ Itulah yang Bibi Jung Ucapkan pada Hoseok dengan suaranya yang lemah dan terdengar sangat memilukan.

Belum sempat Hoseok membalas ucapan Ibunya, Ayahnya sudah terlebih dulu menghantam dadanya dengan sebuah tendangan kasar. Membuat tubuh kecil Hoseok ambruk ke lantai. Hoseok meringis kesakitan dan Ayahnya sama sekali tidak perduli dengan ringisan sakit dari anak laki-lakinya itu. Karena yang terjadi setelah itu Paman Jung justru memberikan Hoseok tendangan kasarnya berkali-kali.

Bibi Jung menjerit dengan tangannya yang terus menggapai-gapai berusaha meraih tubuh kecil Hoseok yang masih menjadi korban amukkan suaminya itu. Ke tiga adik perempuan Hoseok semakin menangis meraung-raung.

Keadaan saat itu menyesakan, Sangat!

Lalu,

Apa yang aku, Yoongi dan Namjoon lakukan saat itu? Apa kami benar-benar hanya menonton layaknya sedang menyaksikan sebuah adegan dalam salah satu drama di televisi?

Tentu saja tidak!

Saat itu, ingin rasanya kami bertiga langsung berlari menghampiri tempat kejadian. Memukul Paman Jung dengan benda apapun yang ada disana, yang penting itu bisa menghentikan tendangan kaki Paman Jung pada tubuh lemah Hoseok, sahabat kami.

Namun, kami tidak melakukan itu. Bukan karena kami tidak ingin membantu Hoseok, bukan! Hanya saja saat itu kami sadar kami masih terlalu kecil untuk melakukan hal seperti itu. Kami takut, justru dengan tindakan itu kemarahan Paman Jung akan semakin memuncak dan akan berakibat pada amukannya yang semakin kasar pada tubuh Hoseok. Atau bahkan Paman Jung bisa saja memukul kami bertiga juga.

Jadi, yang bisa kami lakukan saat itu hanyalah berlari kerumah-rumah warga sekitar dan menyuruh mereka untuk datang kerumah Paman Jung. Beruntung mereka semua mau dan langsung mendatangi rumah Paman Jung. Kami membiarkan orang-orang dewasa itu yang menghentikan amukan Paman Jung.

Dan hal itu terbukti berhasil.

Setelah memastikan keadaan sudah membaik. Kami bertiga dengan langkah setengah berlari langsung menghampiri tubuh Hoseok yang masih terkulai lemas. Tubuh kecilnya babak belur dengan wajah yang hampir semuanya memar. Dari bibir dan hidungnya mengeluarkan darah segar.

Kami tahu, itu pasti sangat menyakitkan!

Namun, apa yang bocah itu berikan pada kami?

Hoseok memberikan kami senyum konyol lebarnya dan dengan suaranya yang lirih ia berujar ‘Jangan khawatir, Aku baik-baik saja!’

Bodoh! Bagaimana bisa dia berkata ‘Baik-Baik saja!’ disaat kami jelas-jelas tahu dia ‘Tidak baik-baik saja!’

Kau bodoh, Jung Hoseok!

Saat itu, tanpa sadar dua bulir cairan bening lolos dari pelupuk mataku. Bahkan Namjoon sudah menangis tersedu-sedu dan Yoongi? Aku tahu, dia juga menangis dalam diam.

Dan lagi-lagi apa yang Hoseok lakukan saat itu? Bocah itu masih saja tersenyum dan kembali berujar ‘Jangan menangis! Kalian seperti perempuan saja, memalukan. Aku baik-baik saja, sungguh!’

Sungguh, Saat itu aku bertanya-tanya manusia macam apa Jung Hoseok itu? Kenapa ia masih bisa tersenyum lebar seperti itu ditengah-tengah beban hidup yang ditanggungnya.

Kau Hebat, Jung Hoseok!

Sebenarnya, Hoseok terlahir di keluarga yang terbilang cukup kaya. Keluarganya hidup dengan bahagia. Namun, kebahagian itu harus berakhir ketika Ayahnya terjerumus dalam lingkaran setan. Lingkaran setan yang disebut dengan ‘Perjudian’ dan ‘Bermain perempuan’.

Sejak saat itu hidup Paman Jung hanya dihabiskan untuk berjudi dan bermain perempuan. Sampai pada akhirnya, keluarga Hoseok harus jatuh miskin karena ulah Ayahnya itu. Hal itu menyebabkan watak Ayahnya berubah. Ayahnya menjadi sangat kasar dan ya… beliau tidak akan segan-segan untuk memukul istri dan anak-anaknya sendiri. Seperti yang sudah aku gambarkan diatas. Mulai saat itu, hari-hari seperti itulah yang di jalani seorang Jung Hoseok.

Warga sekitar sudah sering melaporkan kelakuan Paman Jung pada polisi. Ya, paman Jung memang dipenjara. Tapi setelah beliau keluar kelakuannya sama sekali tidak berubah, yang ada justru Paman Jung semakin kasar.

Kekasaran Paman Jung yang semakin menggila mengakibatkan Bibi Jung, -Ibu Hoseok- bertindak bodoh. Bibi Jung berniat bunuh diri dengan meneguk racun serangga, bukan hanya dirinya, beliau juga mengikut sertakan ketiga putrinya untuk mati bersama-sama.

Kalau tidak salah, kejadian itu terjadi disaat masa-masa ujian kelulusan. Ya, kami sudah kelas tiga SMP saat itu. Aku masih sangat ingat bagaimana reaksi Hoseok saat salah satu tetangga rumahnya memberitahunya tentang aksi bunuh diri Ibunya itu.

Beruntung, saat itu beberapa orang tetangganya memergoki aksi Ibunya itu sehingga mereka bisa segera membawa Bibi Jung dan ketiga putrinya ke rumah sakit.

Dan mereka semua selamat!

Saat itu, Untuk pertama kalinya aku melihat senyum konyol Hoseok lenyap dan ia berujar dengan suara penuh amarahnya, ‘Aku akan membunuhnya! Aku akan membunuh Ayahku dengan tanganku sendiri!’.

Aku, Yoongi dan Namjoon tercengang tak menyangka kata-kata seperti itu yang akan Hoseok ucapkan.

Kami tahu, luka yang telah ditorehkan Ayahnya sudah sangat dalam. Hoseok sudah sangat terluka.

Tapi, tentu saja kami tidak mungkin membiarkan anak berusia 15 tahun menjadi seorang pembunuh, bukan?

Oleh sebab itu,

Saat itu, aku, Yoongi dan Namjoon mati-matian menenangkan Hoseok dengan beribu-ribu kata bijak yang mungkin saja Hoseok sudah muak mendengarnya. Tapi, toh itu tetap berhasil.

Hoseok kembali tenang.

Tapi,

Malangnya kisah mengenaskan seorang Jung Hoseok tidak berhenti disitu. Karena pada kenyataanya, setelah kejadian bunuh diri dari Ibunya itu, bukannya bertobat Ayah Hoseok justru semakin menggila. Bukan hanya pukulan menyakitkan yang Ibunya dan dirinya terima dari Ayahnya itu. Kali ini, Paman Jung sudah terang-terangan membawa selingkuhannya itu masuk kedalam rumahnya. ‘Bermain’ disana. Tentu saja itu membuat Hoseok geram.

Sampai pada satu titik kelemahan seorang Jung Hoseok, ia melakukan hal yang sama dengan apa yang pernah dilakukan Ibunya dulu.

Ya, Hoseok mencoba bunuh diri dengan menerjunkan dirinya.

Itu terjadi saat kami berada pada tingkat 2 SMA. Dan Hoseok melakukan aksinya itu di atap sekolah. Saat itu kami, Aku, Yoongi dan Namjoon sangat panik. Kami terus menggedor-gedor pintu atap yang tentu saja sudah dikunci Hoseok. Tidak ada jawaban dan itu membuat kami bertiga semakin panik. Pada akhirnya kami memutuskan untuk mendobrak paksa pintu besi itu.

Dan berhasil!

Disana, Hoseok sudah berdiri pada posisi pinggir beton. Sudah siap untuk menerjunkan dirinya dari lantai 5 gedung sekolah kami. Melihat itu, Aku, Yoongi dan Namjoon tanpa basa basi lagi langsung berlari kearahnya. Menarik tubuhnya sampai kami berempat tersungkur dilantai berdebu atap itu.

‘YYA! BODOH! KAU BODOH, JUNG HOSEOKKKKKK!!!’

Itulah yang diteriakan Yoongi. Berkali-kali ia memukul kepala Hoseok. Aku tahu, Yoongi tidak bermaksud menyakiti Hoseok, hanya saja ia sudah terlalu muak dengan tindakan bodoh seorang Jung Hoseok itu.

Saat itu, tidak ada senyuman konyol dari Hoseok. Tidak ada ucapan ‘Jangan Khawatir! Aku baik-baik saja!’ dari bibirnya. Ya, tidak ada! Karena saat itu Hoseok hanya menangis dan berujar ‘Aku lelah, Teman-teman! Sangat lelah!’ lirihnya disela-sela isak tangisnya yang terdengar sangat menyesakan.

Baik aku, Yoongi maupun Namjoon tidak ada yang berucap. Kami hanya bisa memeluk Hoseok dengan erat, seolah-olah dengan begitu bisa membuat Hoseok menyadari bahwa masih ada kami untuknya. Ada aku, Yoongi dan juga Namjoon untuk semua keluh kesahnya. Ya, kami yang tidak akan pernah meninggalkannya! Selamanya!

Detik berikutnya kami mulai ikut terisak. Kami menangis tak terkecuali Yoongi. Disanalah untuk pertama kalinya kami mendengar seorang Jung Hoseok mengeluh atas semua beban hidupnya selama ini.

Dan,

Disana jugalah untuk pertama kalinya kami melihat seorang Min Yoongi mengeluarkan air matanya. Air mata yang selama ini mati-matian ia tahan. Dia tidak ingin menunjukan sisi lemahnya dihadapan siapapun, termasuk dihadapan kami. Tapi saat itu dia gagal! Saat itu tembok pertahanan seorang Min Yoongi runtuh.

Sebenarnya, diantara aku dan Namjoon, Yoongi-lah yang paling mengerti dengan semua kepedihan yang Hoseok alami selama ini. Nasib Yoongi tidak jauh berbeda dengan Hoseok. Hanya saja Yoongi masih jauh lebih beruntung dari Hoseok. Ayah Yoongi juga gila judi dan bermain perempuan, lebih tepatnya hobby mengoleksi istri. Tapi itu tidak menjadikan watak Paman Min berubah menjadi kasar. Ayah Yoongi tidak pernah memukul istrinya dan anak-anaknya, tidak pernah!

Yang Paman Min lakukan hanyalah berpergian keluar kota atau bahkan luar negeri untuk berbulan-bulan lamanya. Kalian tahu apa yang Paman Min lakukan disana? Dia berjudi dan tentu saja mengunjungi istri-istrinya yang lain. Bajingan bukan?

Jelas Yoongi mengetahui semua kalakuan terkutuk Ayahnya itu. Tapi, dia selalu mencoba bersikap tegar dengan wajah dinginnya itu dan aku ingat dulu Yoongi pernah berujar ‘Tidak Apa. Selama Ayahku masih memberikan kami uang yang berlimpah, kami akan baik-baik saja!’ Ujarnya dengan senyum dinginnya.

Memang benar, Yoongi tidak perlu susah-susah mencari uang seperti Namjoon dan juga Hoseok. Karena walaupun Ayahnya masih saja melakukan hal terkutuk itu, setidaknya Paman Min masih memberikan harta warisan yang melimpah untuk Yoongi dan Kakak perempuanya. Cukup untuk menghidupi keluarganya sampai dengan tujuh turunan atau bahkan lebih.

Namun, lagi-lagi aku tahu bukan itu yang di inginkan Yoongi. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam tentu saja ia ingin keluarga yang sempurna. Tapi apa daya ia tidak bisa mendapatkannya.

Terlebih lagi belum lama ini Paman Min membawa pulang anak dari istrinya yang lain, entah istrinya yang keberapa. Menyuruhnya tinggal bersama-sama dengan dengan Bibi Min. Yoongi ingin menolak, tapi ia tidak bisa! Dia hanya pasrah dan terus berujar ‘Yang terpenting Ayah masih memberi kami uang yang banyak! Jadi, kami tidak apa-apa!’.

Omongan penuh dusta! Cihhh…

“Bahkan si brengsek itu belum benar-benar menceraikan Ibuku. Tapi, sudah berani-beraninya dia mengajak selingkuhan busuknya itu ketempat umum!” Hoseok kembali berujar. Membuat lamunanku pecah.

Aku manatap Hoseok dan Yoongi bergantian. Hoseok berujar masih dengan tatapan penuh emosinya. Sementara Yoongi, ia tertunduk lemah. Aku yakin ia juga sedang meratapi nasibnya.

Aku dan Namjoon sama-sama menghelan nafas dalam, yang entah sudah berapa kali kami keluarkan.

“Hey, sudahlah. Bukankah sidang perceraian Ayahmu dan Ibumu akan segera selesai? Dan setelah itu kau akan terbebas dari Ayah brengsekmu itu, Hoseok-ah,” Namjoon berujar seraya menepuk-nepuk bahu Hoseok.

Ya, memang benar apa yang Namjoon ucapkan.

Setelah bertahun-tahun tersiksa akhirnya Bibi Jung berani untuk menggugat cerai Paman Jung. Dan sekarang, proses perceraian itu sedang berjalan. Kami semua berharap kasus ini segera terselesaikan. Sehingga Hoseok, Ibunya dan ketiga adik perempuanya itu bisa segera terbebas dari Ayah brengseknya itu.

Dan,

Tentu saja tidak akan ada lagi wajah Hoseok yang memar karena ulah Ayahnya itu. Kami berharap pipi Hoseok yang memar saat ini adalah pipi memar terakhir yang ia miliki diwajahnya. Setelah ini, kami akan pastikan hanya senyum konyol lebarnya itu yang akan ia tunjukan pada kami!

“Dan, Hey… kau Min Yoongi! Bukankah kau bilang selama Ayahmu masih melimpahkan uang padamu, kau akan baik-baik saja? Kenapa sekarang kau terlihat bersedih, eoh? Kau berubah pikiran?” Kali ini masih Namjoon yang berujar. Ia mencoba mencairkan suasana.

Yoongi berdecih. Ia menyunggingkan senyum dingin andalanya dan berujar, “Siapa yang bersedih? Memangnya wajahku ini menunjukan wajah sedih, eoh? Jangan bercanda, Kim Namjoon!” Yoongi tertawa. Tawa yang nampak dipaksakan, aku tahu iitu.

Baiklah, seorang Min Yoongi tetaplah seorang Min Yoongi yang tidak pernah mau memperlihatkan sisi lemahnya dihadapan siapapun, termasuk dihadapan kami.

Aku, Namjoon dan juga Hoseok sudah sangat mengerti dengan keperibadian seorang Min Yoongi yang seperti itu. Kami tidak pernah memaksanya untuk berubah. Bagi kami, dengan hanya melihat Yoongi hidup dengan baik sampai dengan saat ini, itu sudah cukup.

Hey, kalian tahukan diluar sana banyak pemuda yang mengalami hal yang serupa dengan Yoongi?

Mereka kaya raya tapi keluarganya berantakan. Dan apa yang terjadi pada mereka?

Mereka melampiaskan luka hatinya itu pada hal-hal buruk. Seperti, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan melanglang di dunia shabu-shabu, putaw, inex, dan sejenisnya.

Ya, mungkin memang tidak semuanya seperti itu. Tapi, kebanyakan seperti itu, bukan?

Dan kami beruntung Yoongi tidak terjerumus dalam lingkaran setan seperti itu. Karena sampai pada detik ini dia menjalani hidupnya dengan sangat baik. Bahkan untuk menghisap sebatang rokok saja dia enggan. Keseharianya hanya di habiskannya di café ini dan kadang berkumpul bersama kami, seperti saat ini.

Namun,

Entah mengapa Aku merasa kisah hidup Yoongi-lah yang tidak akan pernah ada akhirnya. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa seperti itu.

Tapi setidaknya Yoongi masih memiliki kami.

Kami yang akan selalu ada untuknya, Selamanya!

“Ahhh, sudahlah, lupakan!” Hoseok berujar dengan senyum konyolnya. Nampaknya dia menyadari apa yang terjadi pada Yoongi,

“Hey, kawan. Kita berkumpul bukan untuk bersedih-sedih ria, kan?” Bocah itu terkekeh geli.

Ya, baiklah. Seorang Jung Hoseok tetaplah Jung Hoseok yang akan selalu bertingkah konyol seperti itu.

“Emm, lebih baik sekarang kita membahas tentang….” Hoseok menggantungkan kalimatnya. Pandangan matanya menuju Yoongi, setelah itu Namjoon dan berakhir pada manik mataku.

Apa?

“Yya! Kim Seokjin kapan kau lulus, eoh?” Tanyanya.

Saat ini Yoongi dan Namjoon ikut menatapku. Eish… mereka ini.

Diantara mereka berempat memang hanya akulah yang melanjutkan pendidikan sampai jenjang bangku perkuliahan. Alasan mengapa mereka bertiga tidak kuliah adalah, Namjoon dan Hoseok terlalu sibuk mencari uang agar keluarganya bisa bertahan hidup dan Yoongi saat di tanya dia hanya menjawab ‘Aku bosan belajar terus!’. Padahal diantara kami berempat Yoongi-lah yang otaknya paling pintar. Tapi itulah pilihannya.

“Hey, atau jangan-jangan kau sama sekali belum menyusun skripsimu itu, eoh?” Kali ini yang berujar adalah Namjoon.

Aku menghelan nafas dalam. Didalam hatiku tentu saja aku membenarkan perkataan Namjoon.

Seharusnya aku memang sudah lulus tahun lalu. Ya, semua teman-teman seangkatanku memang sudah di wisuda dan hanya aku yang tersisa. Yang membuatku belum lulus sampai saat ini, bukan karena otakku yang bodoh. Tentu saja aku tidak sebodoh itu! Hanya saja aku terlalu malas untuk menyusun skripsi dengan pembahasan yang sama sekali tidak aku sukai. Atau bahkan aku membencinya, sangat!

Aku membenci semua hal yang berbau keuangan dan bisnis dan bodohnya aku justru kuliah pada bidang itu. Konyol, bukan?

Tapi, tentu saja itu bukan keinginanku. Itu keinginan Ayahku! Iya, Ayahku yang memiliki obsesi besar untuk menjadikanku orang seperti dirinya.

Pada awalnya, aku mengira obsesi Ayahku itu wajar. Aku anak tunggal dan tentu saja Ayah ingin akulah yang menjadi penerus perusahaannya. Sejak kecil Ayah sudah mendidikku dengan semua yang berhubungan dengan dunia bisnis. Aku selalu mengikutinya tanpa sedikitpun mengeluh.

Hal seperti itu terus berlanjut sampai pada detik ini, detik dimana aku mulai menyadari aku terjebak pada mimpi orang lain. Bukan mimpiku!

Aku tahu ini salah. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa! Disatu sisi aku ingin mewujudkan mimpiku sendiri. Tapi, disisi lain aku tidak ingin membuat Ayahku kecewa.

Mungkin benar apa yang Namjoon ucapkan diawal tadi. Aku terlalu lemah. Ya, aku memang lemah, sangat! Aku terlalu takut keluar dari zona amanku ini. Aku sadar dengan aku yang terus-terusan seperti ini, itu tidak menutup kemungkinan aku sendiri yang akan terbunuh karenanya.

Jatuh terjerumus dalam jurang yang penuh dengan mimpi orang lain dan itu membuatku harus mengubur mimpiku sendiri.

Aku tidak ingin! Tapi aku harus berbuat apa?

“Setidaknya kau harus lulus dengan baik dulu, Jin!” Ujar Yoongi. Tidak ada tatapan dinginnya kali ini. Ya, Yoongi menatapku dengan tatapan teduhnya. “Kami tahu kau sudah muak dengan semuanya. Tapi, setidaknya kau harus menunjukan pada Ayahmu kau bisa lulus dengan baik,” Lanjutnya masih dengan tatapan teduhnya.

Aku menghelan nafas berat.

“Dan setelah itu tentu saja kau harus—”

“Kau harus menyerahkan tulisanmu itu padaku dan aku akan memberikannya pada perusahaan penerbit kenalanku,” Hoseok memotong ucapan Namjoon.

Aku tersenyum kecil. Ya, itulah mimpiku. Mimpi menjadi seorang penulis! Apa mimpiku itu terlalu berlebihan?

Sejak kecil entah mengapa aku sangat menyukai segala hal yang berhubungan dengan dunia bahasa dan dunia penulisan. Dan mimpiku adalah menjadi seorang penulis besar. Tetapi, tentu saja aku masih harus banyak belajar untuk sampai kesana. Ya, tentu saja!

Pernah satu kali aku memberitahu Ayahku tentang mimpiku itu dan Ayahku hanya tertawa dan berujar ‘Hey, Nak! Menulis itu bukan pekerjaan! Itu hanya sekedar hobby yang tidak bisa menghasilkan uang banyak!’. Ayahku mengatakan itu sekitar 2 tahun yang lalu.

Mungkin Ayahku benar. Menulis itu hanya sekedar hobby dan mungkin memang tidak bisa disebut sebuah pekerjaan atau bisa aku jadian pekerjaan sampingan nantinya.

Tapi,

Entah mengapa jiwaku ini memang hanya tertarik pada satu bidang itu saja, Menulis dan menulis! Membayangkan aku melakukan pekerjaan lain selain menulis saja itu sudah membuatku mual.

Entahlah. aku sendiripun bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi padaku.

“Hey, tulisan yang pernah kau tunjukan pada kami waktu itu, apa sudah selesai?” Namjoon berujar.

“Belum. Aku kesulitan menyelesaikannya dibagian ending,” Jawabku. Namjoon menganguk kecil.

Percaya atau tidak, disaat para Mahasiswa/i tingkat akhir sepertiku tengah sibuk menyusun skripsi agar mereka bisa cepat-cepat lulus dengan menyandang gelar sarjana kebanggannya itu, aku justru menyibukan diri dengan duniaku sendiri.

Ya, saat ini aku memang tengah merampungkan buku pertamaku, yang bisa disebut sebuah Novel? Emm, entahlah. Aku juga tidak begitu tahu itu bisa disebut apa. Yang jelas didalam bukuku itu berisi semua tentang kami. Iya, kami. Aku, Yoongi, Hoseok dan juga Namjoon! Tentang persahabatan dan perjalanan hidup kami selama kurang lebih 18 tahun ini.

Aku memang sudah hampir menyelesaikanya. Namun, aku mengalami kesulitan pada tahap penyelesaian di ending cerita. Itu karena aku memang belum tahu ending seperti apa yang akan kami hadapi nanti. Khususnya ending pada kisah hidupku ini. Masih banyak keraguan pada hatiku ini. Entahlah!

“Yya! Kurasa akan jauh lebih baik jika kau menyelesaikan skripsimu dulu!” Yoongi kembali berujar. Tatapan dinginnya muncul lagi, “Kau harus lulus, Jin! Setelah itu kami akan membantumu menemukan ending yang terbaik untuk kisahmu itu,” Lanjutnya.

Aku terdiam memikirkan ucapan Yoongi. Diantara kami berempat memang Yoongi-lah yang memiliki pemikiran yang paling dewasa.

Mungkin benar apa yang Yoongi ucapkan. Setidaknya aku harus lulus dulu. Setidaknya aku harus bisa menunjukan gelar sarjanaku pada Ayah!

Ya, sepertinya memang itu yang harus aku lakukan sekarang dan aku akan mencobanya, Harus!

Tapi,

Setelah itu ending seperti apa yang akan aku dapat? Apa Ayah akan merestuiku jika aku lebih memilih menjadi seorang penulis dibandingkan memilih menjadi seorang seperti dirinya?

Aku ragu!

“Ayahmu pasti mengerti, Jin! Kami akan membantumu untuk menyakinkan beliau. Tenang saja, selama ada kami semuanya akan baik-baik saja!” Namjoon berujar seraya menepuk-nepuk bahuku.

Aku melihat Hoseok dan Yoongi memberikanku sebuah anggukan yang seolah-olah membenarkan ucapan Namjoon. Hal itu membuatku tersenyum.

Benar!

Selama aku masih memiliki mereka, Yoongi, Hoseok dan juga Namjoon semuanya akan baik-baik saja. Ya, aku yakin itu!

“Ya, baiklah. Aku akan berjuang untuk bisa lulus dan setelah itu aku akan menerbitkan buku pertamaku! Aku pasti bisa melakukannya, kan?”

“Tentu saja kau bisa, Jin!” Ujar Namjoon penuh semangat.

“Kau pasti bisa melakukannya, Jin! Semangat!” Kali ini Hoseok yang berujar seraya mengepalkan kedua tangannya tinggi-tinggi. Ia bermaksud memberiku sebuah semangat dari kepalan tanganya di udara itu.

“Kau bisa, Jin! Pasti!” Dan kali ini Yoongi berujar seraya menepuk-nepuk bahuku dan ia tersenyum. Masih senyuman dingin, namun bagiku senyuman itu sangat manis dan menenangkan, sangat!

Aku memandang mereka bergantian. Saat ini, kami berempat sama-sama saling menukar senyum.

Aku beruntung memiliki sahabat seperti mereka, sungguh! Yoongi, Hoseok dan juga Namjoon adalah sahabat terbaik dalam hidupku! Sahabat yang telah membuat hidup membosankanku menjadi penuh warna dan lebih berarti. Sahabat yang telah mengajarkanku arti dari kehidupan yang sesungguhnya. Juga, Melalui mereka aku mengerti arti dari persahabatan yang sebenarnya!

Mereka,

Min Yoongi, Jung Hoseok dan Kim Namjoon adalah Sahabat Terbaikku, Selamanya!

“Terima kasih, Teman-teman! Aku sangat beruntung memiliki kalian di dalam hidupku. Mungkin, jika tidak ada kalian aku akan benar-benar jatuh terjerumus dalam jurang yang penuh dengan mimpi orang lain,”

“Nado. Mungkin, jika tidak ada kalian aku dan keluargaku sudah menjadi gelandangan,”

“Dan mungkin, jika tidak ada kalian aku sudah menjadi seorang pembunuh dari Ayah kandungku sendiri. Hey, Kalian harus tahu,

Aku sangat mencintai kalian, sungguh!”

“Aku juga. Aku mencintai kalian, sangat!”

“Aku bahkan lebih mencintai kalian. Percayalah!”

Kami –Aku, Namjoon dan Hoseok- langsung memusatkan fokus mata kami kepada Yoongi. Menyadari hanya dia-lah yang masih terdiam.

“Apa?”

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu, Tuan Min?” Tanya Hoseok.

“Tidak!”

“Kau yakin?” kali ini Namjoon yang bertanya. Ia memberikan tatapan jahilnya pada Yoongi.

“Memangnya aku harus mengatakan apa, eoh?”

“Kau yakin tidak ingin mengatakannya pada kami?” Kali ini aku yang bertanya dengan tatapan yang serupa dengan tatapan Namjoon.

Yoongi memandang kami bergantian dan dia masih terdiam.

“Hemmmm, kalau memang tidak ada yang mau kau katakan yasu—”

“Ahh, baiklah!” Yoongi tiba-tiba berujar, “A-aku juga,”

“Aku juga apa?” Tanyaku, Hoseok dan Namjoon bersamaan. Kami masih menatap Yoongi dengan tatapan jahil kami.

Yoongi mendesis. Namun ia kembali berujar, “Aku juga mencintai kalian! Puas?”

Kalian dengarkan, Kami Berhasil!!! Yeayyyyyyyyy…..

Saat ini, baik aku, Hoseok dan Namjoon benar-benar tidak bisa menahan tawa melihat kelakuan seorang Min Yoongi yang super ajaib itu.

“Ck! Kalian menjijikan, sangat!”

Omongan menusuk seorang Min Yoongi keluar lagi dan hal itu justru membuat tawaku, Hoseok dan Namjoon menjadi semakin keras.Detik awal Yoongi hanya memandang kami dengan tatapan jijiknya. Namun, pada detik berikutnya pria super dingin itu mulai ikut tertawa bersama kami.

Benar-benar membahagiakan, Sungguh!

. . . .

Mungkin, Jika Tidak Ada Kami, Seorang Kim Namjoon Sudah Menjadi Gelandangan!

Mungkin, Jika Tidak Ada Kami, Seorang Min Yoongi Sudah Menjadi Pecandu Narkoba!

Mungkin, Jika Tidak Ada Kami, Seorang Jung Hoseok Sudah Menjadi Seorang Pembunuh!

Dan, Aku Yakin, Jika Tidak Ada Mereka Aku Sudah Jatuh Terjerumus Dalam Jurang Yang Penuh Dengan Mimpi Orang Lain! Bukan Mimpiku!

Namun,

Semua Itu Tidak Akan Pernah Terjadi, Karena Kami Saling Memiliki!

Karena Kami Yakin,

Selama Kami Masih Saling Memiliki, Semuanya Akan Baik-Baik Saja. SELAMANYA!!!

~FIN~

Hai-hai, akhirnya ditengah-tengah kesibukanku menyelesaikan I Need a Boyfriend dan Nyusun skripsi –Kya Jin disini- aku berhasil buat FF Oneshoot abal ini. kkkk~ Emm, ini Oneshoot ke-4 ku setelah ‘Stop Call Me Noona!’ ‘The First and Last Love!’ dan ‘Why Do You Hate Me?’ dan aku yakin ini Oneshoot terpanjang dalam sejarah hidupku, semoga kalian gak mual-mual yaa bacanya.heheheh… Selama ini aku pengen bgt buat FF dgn Genre Friendship tanpa unsur-unsur romance sedikitpun. Akhirnya sekarang kesampean, yeayyyyy…. Tapi, menurut kalian berhasil gak? Ya, aku tahu engga.hheee… Okelah, itu saja. Jangan lupa komen yaa ^_^

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Forever!!!

  1. Huaaaaaaaaaaa….. ,😢
    Chingu cerita mu daebak… Prokk.. Prokk…
    Alur mu dan penyusunan mu daebak, sungguh…. Apa nya yg jelek… TIDAK ADA!

    Kisah kluarga Yoongi dan Hoseok sangat menyedihkan dan sangat keras.. Namjoon ya kisah nya juga menyediakan… Huaaaaaa…

    Tpi, aku selalu ketawa ketika mendengar Yoongi bicara… Aduh, itu bocah gk bisa halus sikit apa ngomong nya… Pedas amat…

    Gk tau lagi ngomong apa… Yg pasti ini DAEBAK… BAGUS…

    Fighting Chingu.. Untuk semua…
    Di tunggu krya mu yg luar biasa lainnya…

    Like

  2. lisakim asli ini seru keren banget ffnya.. seriusan ga bohong kerennnnnn
    eon suka banget sm alur ceritanya… ini tuh lengkap ada sadnya luculucunya ada meaningnya jg…mereka perfect friendship saling melengkapi aaaaaahhh jadi pengen temenan sm mereka.. #eh wkwkwkwk
    ini FF oneshoot ke4 Mu lisa kim?
    hmmm
    btw lisa kim authornim jjang.. lanjutkan

    Like

  3. halo lisa kim 😀 maaf aku sudah baca drdlu tapi blm sempet komen, ups. Hahaha. Okay, oneshoot ya? Bromance nya dapat banget. Dapatnya pas diceritakannya kisah mereka satu persatu dengan sangat apik disini. Entah kenapa karakter Yoon Gi bener2 digambarin disini haha. Bikin ngakak sendiri sih. Well, next stories juseyo~ aku tunggu! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s