Chaptered · Drama · Family · Friendship · Genre · Length · Married Life · Romance

A Man of Yesterday Chapter 1


ts-sora-by-laykim

Tittle: A Man of Yesterday (Chapt. 1)

Author: ts_sora

Cast: Kim Seok Jin (BTS), Im Si Wan (ZE:A), Jeon Ji Hyun

Genre: Marriage Life, Drama, Romance,  Family,Friendship

Length: Chaptered

Disclaimer: This belongs to me and the casts belong to their entertainment company, no plagiarism juseyo.

Credit poster : LAYKIM@nicefanfiction.wp.com thanks for an adorable poster!

A/N: Kali ini author mencoba untuk membuat chaptered stories dengan genre marriage life. Sebelumnya agak ragu buat fanfiction ini, tapi karena dukungan author-author yang lain, Sandra unnie dan VizkyLee unnie, akhirnya berani buat ini. Sebelumnya, saya akan mencoba denhan memberikan satu chapter. Semoga tidak mengecewakan, saran dan kritik sangat diharapkan. Ini chapter percobaan, jadi jika feedback nya cukup bagus, author akan meneruskannya. Enjoy it!

 

———————————————————————————————————————

 

Jeon Ji Hyun menatap jalanan yang ada di hadapannya. Ia tersenyum lesu. Baiklah, ia akan kehujanan cepat atau lambat nanti. Ia meletakkan sebuah kantung plastic penuh yang ia genggam tadi. Ya, hari ini ia telah berbelanja setidaknya beberapa bahan untuk ia masak hari ini. Memang sedikit terlambat, namun ia tak ingin melewatkan bahkan sedetik pun untuk menghabiskan waktu dengan Im Si Wan, suaminya.

Benar, hari ini adalah hari Minggu. Sebagai seorang istri yang baik, ia harus memasakkan sesuatu bukan? Untuk beberapa bulan yang lalu, Im Si Wan sering menghabiskan waktunya di luar akibat banyaknya pekerjaan yang ia kerjakan di luar kota. Dan ya, inilah saatnya.

Jeon Ji Hyun menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum ia menempatkan sebuah payung yang terbuka dengan sempurna di atas kepalanya. Plastic yang tadinya berada di tangan kanannya, kini berganti posisi dengan sempurna pada tangannya yang lain. Ia lantas melangkahkan kakinya menuju jalanan yang kini sepenuhnya basah.

“Oh,” ucapnya saat ini. Sekiranya angin bertiup begitu kencang saat ini. Bahkan angin mampu membuat salah satu sisi rok yang ia kenakan terbang. Ia sedikit kelagapan untuk menutupi sisi tersebut. Ia membuang nafasnya sedikit kesal. Ia berharap seseorang tak melihatnya.

“Oh,” erang Jeon Ji Hyun sekali lagi saat angin benar-benar kencang saat ini dan tanpa sadar ia melepaskan genggaman tangannya pada payung miliknya dan berusaha menutup sepenuhnya rok yang hampir terbuka dengan sangat sempurna.

“Tidak!”

Kini payung itu tengah mempermainkannya. Ya, kini tubuhnya benar-benar basah oleh hujan yang ada. Jeon Ji Hyun sedikit kesusahan untuk menggerakkan tubuhnya untuk mengejar payungnya yang tengah menari indah terbawa angin. Ia benar-benar kesal saat ini.

Oh baiklah, Im Si Wan mungkin akan memarahinya karena tubuhnya yang basah. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin Ji Hyun terkena demam atau semacamnya saat ini.

Ji Hyun tetap memaksakan dirinya untuk mengejar payung tersebut meski harus membiarkan tubuhnya basah saat ini. Salah satu tangannya masih sibuk untuk menaikkan salah satu sisi roknya agar membuatnya berjalan tanpa gangguan. Ya, rok yang ia kenakan sekarang sekiranya (sedikit) terlalu panjang untuknya.

“Ah!” ucap Ji Hyun lega saat ini. Ya, setidaknya payungnya mendarat dengan sempurna meski jaraknya juga payung tersebut cukup jauh. Ia tersenyum tipis. Ya, ia sudah terlalu lelah untuk berlari saat ini.

Jeon Ji Hyun melangkahkan kakinya lebih dekat menuju payungnya tersebut. Dengan sebuah senyum kelegaan, ia meraih payungnya yang terbuka lebar dan mengangkatnya perlahan. Namun sebuah pandangan lain saat ia mengangkat payungnya tersebut membuat dirinya terdiam seketika.

Pandangannya kini tertuju pada seorang pria yang tengah berdiri di hadapannya, tengah menunggunya untuk menghindar dari jalannya.Namun, keduanya kini benar-benar terdiam saat mereka pada akhirnya saling menatap saat ini.

Jeon Ji Hyun menggigit bibirnya tanpa sadar. Sebuah senyum yang diberikan pria itu padanya sekiranya membuat dadanya terasa begitu nyeri. Jeon Ji Hyun mencoba mengatur nafasnya saat matanya terasa nanar saat ini. Ia lantas menghindari kontak mata tersebut dan berusaha menghilangkan perasaan yang bahkan sudah lama ia tak rasakan sejak beberapa tahun yang lalu.

Dia—ada di sini

 

 

Jeon Ji Hyun memegangi sebuah kalung yang ia kenakan kini. Mungkin lebih tepatnya beberapa tahun terakhir dan ia tak pernah melepaskan benda tersebut sampai kapanpun. Ya, bak sebuah janji tak terlisan yang membuatnya berbuat demikian.

Suara menderu yang dihasilkan akibat mendidihnya kuah samgyetang yang ia masak sama sekali tak menganggunya yang entah sedari tadi kehilangan kefokusannya. Pikirannya melayang.

Ia ingat saat pria itu tersenyum padanya tadi. Pria yang lama ia tak temui. Pria yang bahkan pergi tanpa mengatakan apapun saat itu. Laki-laki yang meninggalkannya begitu saja.

Bak sebuah mimpi, ia memang benar-benar di sini sekarang. Di Seoul.

“Ji Hyun ah! Ji Hyun Ah!”

“Astaga!” ucap seorang pria lain yang berlari menuju dapur dan mematikan api kompornya yang membuat bagian terbawah kuali benar-benar menghitam dan bau terbakar benar-benar mengganggu hidung mereka saat ini. Jeon Ji Hyun mengetahui hal itu. Mungkin lebih tepatnya ia baru saja bangun dari lamunannya. Ia menatap pria yang berdiri dan memandangnya dengan tatapan khawatir.

“Kau baik-baik saja?” tanya pria itu kali ini. Im Si Wan, ya pria itu adalah Im Si Wan. Ia lantas melangkahkan kakinya menuju Jeon Ji Hyun yang masih tertegun kini. Bukan tentang apa yang tengah ia pikirkan, namun ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi. Bisa saja kecerobohannya ini membawa dampak yang lebih buruk dari sebelumnya. Dan kini ia merasakan penyesalan itu.

“Apa kau benar baik-baik saja?”

Kini Im Si Wan berada tepat di hadapan Ji hyun. Pria itu terlihat khawatir pada wanita itu. Ia tak marah sedikit pun saat wanita itu baru saja menghanguskan makan siang mereka, ia terlihat begitu khawatir karena Ji Hyun tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.

Jeon Ji Hyun masih merasa menyesal. Ia menaikkan salah satu ujung bibirnya, sekedar memastikan ia benar baik-baik saja pada pria itu.

“M-maafkan aku,”

Im Si Wan merenggangkan sedikitnya otot ketegangan yang ada dalam dirinya. Ia kini dapat bernapas lega melihat wanita itu mulai membuka mulutnya lagi. Ya, setidaknya ia dapat melihat bahwa wanita itu benar baik-baik saja. Ia lantas mengembangkan senyumnya.

“Gwenchana,” ucapnya lembut seraya meraih tubuh wanita itu dalam pelukannya. Entahlah, ia merasa konyol atau apa, namun ia benar-benar khawatir saat wanita itu seakan tak menghiraukannya. Dan ia takut benar akan kehilangan wanita itu saat ia dapat melihat kepulan asap mulai menyapanya saat ia memasuki rumah tadi.

‘Ji Hyun ah, bagaimana kabarmu?’

Jeon Ji Hyun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya sepenuhnya. Ia kembali memegangi sebuah kalung yang ia kenakan. Ya, sebuah cincin tengah tergantung di sana dengan indah.

Jeon Ji Hyun memejamkan matanya sejenak, menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur saat ini. Ia masih belum bisa tidur meski kini malam sudah terlalu larut untuknya tidur. Ia menatap Im Si Wan yang kini berpeluk pada sebuah guling dan tengah berselimutkan kain bewarna senada dengan warna ruangan mereka.

Ji Hyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat ini.

Ada apa dengan dirinya? Kenapa pria itu datang sekarang? Kenapa pria itu tidak pergi saja dan tetap pada posisinya? Kenapa ia tidak pergi saja? Apa yang sebenarnya pria itu lakukan di Seoul?

Ia masih ingat kejadian pagi tadi saat laki-laki itu benar tersenyum padanya, seakan tak ada penyesalan saat ia pergi meninggalkannya. Saat ia mulai berbicara dan bertanya bagaimana keadaannya pada saat Ji Hyun memang tak bisa mencerna maksud kedatangannya saat ini. Saat ia masih tertegun menatap sebuah bayangan beberapa tahun yang lalu yang entah kenapa memaksa untuk menampakkan dirinya sekali lagi.

Maka saat itu, ia benar-benar seakan tak mau bertemu dengan sosok itu pagi tadi. Membiarkan kedua telinganya seakan tertutup, tak mengindahkan kalimat pria itu saat memanggilnya ataupun memandang pria itu bak sebuah angin yang seakan pergi dengan mudahnya. Tapi—pria itu memang ada di sini.

 

Tidak Ji Hyun, kau tak boleh lemah.

 

Ji Hyun memandang kembali pria yang masih terbaring di ranjangnya. Ia tersenyum tipis.

Jeon Ji Hyun lantas melepaskan kalung berliontinkan sebuah cincin dari lehernya. Ya, untuk sekali dari seumur hidup ia melepaskan kalung itu dan melepaskan bak janji yang tak pernah ia ikrarkan untuk melewatkan benda itu dari lehernya. Ia lalu meletakkannya pada laci yang tadi ia buka. Ia kemudian mengunci laci tersebut.

 

Cukup, kau tak bisa lagi Ji Hyun ah

 

Jeon Ji Hyun menyandarkan tubuhnya pada ranjangnya kini. Meraih tubuh pria yang kini terlelap di sampingnya. Ia lantas dengan perlahan mulai memejamkan matanya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam.

Kau tak bisa, Ji Hyun

 

 

Im Si Wan meraih selembar roti sebelum ia akhirnya melapisinya dengan selai kacang yang berada di meja. Sebuah sarapan yang teramat sederhana bukan? Ya begitulah. Hari ini Jeon Ji Hyun masih terlelap di ranjangnya. Istrinya yang ia nikahi selama dua tahun terakhir itu seringkali mengalami kesusahan untuk tidur, maka ia mencoba untuk memaklumi itu semua.

“Hai,”

“Oh hai,” sapa Im Si Wan saat wanita itu berjalan ke arahnya, masih dengan baju tidurnya. Ya, seorang istri yang begitu cantik untuknya.

“Maaf, kau harus menikmati sarapan sendiri,”

“Bukankah aku memang terbiasa seperti ini?” tanya Im Si Wan kali ini. Jeon Ji Hyun terkekeh pelan. Baiklah ia akui, ia bukanlah seorang istri yang sama sekali tidak bisa memasak, ia bahkan dikatakan ahli di bidang tersebut. Namun, minimnya waktu yang mereka berdua miliki, akibat pekerjaan Im Si Wan ataupun ‘kesibukan’ Jeon Ji Hyun, membuat mereka jarang sekali menyantap masakan buatan Jeon Ji Hyun.

Jeon Ji Hyun meraih pundaknya, sesekali ia pun memijitnya pelan. Ya, ia sama sekali tidak terlihat menikmati tidurnya. Im Si Wan tahu kelemahan wanita yang ada di hadapannya sekarang, maka ia tak pernah sekalipun memaksa agar istrinya tersebut untuk memenuhi semua keinginannya.

“Ini, makanlah,” ucap Im Si Wan meletakkan dua tangkap roti dengan selai kacang pada piring di hadapan wanita itu.

“Untukku? Oh ayolah, kau yang harus makan. Bukan aku,”
Im Si Wan tertawa pelan.

“Aku baru saja memakan sarapan milikku, dan aku hanya ingin memastikan bahwa kau juga,”

Jeon Ji Hyun tersenyum tipis.

“Terima kasih,” ucap Jeon Ji Hyun kali ini. Im Si Wan tertawa pelan mendengar hal itu. Bahasa terlalu formal yang digunakan Jeon Ji Hyun terkadang membuatnya geli.

“Kau tahu, sejak dulu hingga setelah kita menikah, bisakah kau berhenti dengan bahasa formal itu?” ucap Im Si Wan meraih tas miliknya. Ia lantas beranjak dari bangkunya. Jeon Ji Hyun yang mengetahui hal itu lantas ikut beranjak, berjalan mendekati suaminya tersebut dan membenahi dasi milik suaminya tersebut

“Ji Hyun ah, bagaimana tidurmu?”

“B-baik,” jawab Jeon Ji Hyun kali ini berkilah. Percaya atau tidak, Si Wan dapat membaca pikiran wanita itu meski wanita itu berusaha mati-matian untuk membohonginya. Namun, ia tahu, wanita itu berusaha untuk tiidak membuatnya merasa khawatir.

“Apa kau ingin mengunjungi orang tuamu?”

Jeon Ji Hyun menghentikan aksinya dan sekejap ia menatap kedua mata yang ada di hadapannya. Sang pemilik mata kemudian mengembangkan senyumnya.

“Kau tidak seperti orang yang baru saja menikmati tidur terbaiknya. Kau tahu, kukira kau harus pulang, karena mungkin mereka merindukanmu saat ini. Dan. .”

“Dan?”

Im Si Wan mengembangkan senyum lain di wajahnya.

“Aku harus kembali ke Hongkong untuk beberapa minggu mungkin, kau bisa menginap di sana,”

“T-tapi–”

Im Si Wan mencium salah satu pipi istrinya tersebut sekilas sebelum kembali ia terkekeh pelan.

“Aku tak ingin kau sendirian, dan aku ingin kau bisa tidur nyenyak meski hanya dalam beberapa minggu. Baiklah, aku berangkat,”

 

 

Dan inilah Jeon Ji Hyun, berada pada sebuah rumah dengan cat yang bewarna mulai pudar dengan sebuah taman kecil di depannya. Jeon Ji Hyun mengembangkan senyumnya sebelum ia akhirnya mengetuk pintu yang ada di hadapannya pelan, menunggu seseorang yang berada di dalam rumah untuk membukakan pintu untuknya.

“Ji Hyun nunna!” pekik seorang laki-laki lebih muda yang kini tengah menyapanya saat pintu terbuka. Jeon Ji Hyun mengembangkan senyumnya saat laki-laki tersebut pada akhirnya memeluk tubuhnya.

“Jung Kook-ah, bagaimana kabarmu?”

“Aku benar-benar baik hari ini. Dimana Si Wan hyung?” ucap laki-laki itu yang perlahan melonggarkan kedua lengannya yang awalnya memeluk tubuh wanita itu.

“Dia memiliki sesuatu yang harus dikerjakan di Hongkong, mungkin aku akan berada di sini cukup lama. Dimana eomma?”

“Dia di dalam, masuklah nunna. Senang kau akhirnya datang,” ucap laki-laki itu yang meraih sebuah koper yang tadi Ji Hyun bawa dari Seoul. Kini ia berada di sebuah kota yang tak jauh dari Seoul, yaitu Hongdae. Sejujurnya, ia dapat dikatakan sering untuk pulang ke rumah. Namun untuk akhir-akhir ini, Ji Hyun jarang untuk mengunjungi keluarganya, mengingat Im Si Wan memiliki banyak hal yang harus dilakukan dan Ji Hyun memilih untuk sendirian.

“Ji Hyun-ah,” ucap wanita lain setengah baya yang tengah berjalan dari dapur. Jeon Ji Hyun melebarkan lengannya sekali lagi dan lantas memeluk wanita setengah baya tersebut.

“Ji Hyun-ah, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” ucap wanita setengah baya tersebut yang kemudian melepaskan pelukannya. Ji Hyun mengernyit bingung.

“Seseorang?” tanya Ji Hyun yang masih tak paham saat ini. Wanita setengah baya itu pun lantas menyunggingkan senyumnya. Ia kemudian mengangguk perlahan sebelum akhirnya ia berjalan menuju dapur.

“Siapa?” tanya Ji Hyun penasaran. Ia mengikuti langkah ibunya tersebut menuju dapur dan lantas mendudukkan dirinya pada salah satu bangku meja makan rumah tersebut.

“Kau akan tahu nanti,”

Sebuah kekehan kecil terdengar dari bibir wanita setengah baya tersebut sebelum akhirnya ia meletakkan segelas air di hadapan Ji Hyun. Ya, hal tersebut membuat Ji Hyun semakin ingin tahu.

“Ji Hyun, kau kah itu?”

Ji Hyun memutar tubuhnya saat ia baru saja mendengar seseorang, tepatnya seorang pria tengah memanggil namanya. Matanya membulat sempurna saat ia melihat seorang pria yang tengah menuruni anak tangga dengan sebuah senyum di wajahnya. Untuk beberapa detik, Ji Hyun tak dapat bernafas dengan normal. Ya, pria itu bagian dari masa lalunya. Bagian dari masa lalunya yang ingin ia hapus. Dia,

“K-kim Seok Jin?”

 

 

Jeon Ji Hyun menundukkan kepalanya enggan menatap pria yang duduk di hadapannya saat ini. Ya, pria yang sangat ingin ia lupakan bertahun-tahun lamanya, meski hasilnya nihil.

Jeon Ji Hyun memainkan makanan miliknya dengan sumpit yang ia genggam. Hari ini, tak seperti biasanya ia sama sekali tak bersemangat untuk melahap masakan ibunya, padahal ia sangat merindukannya akhir-akhir ini

Sedangkan Kim Seok Jin dengan giat melahap masakan rumah yang sudah lama tak ia rasakan selama ini. Sesekali ia memandang wanita yang sedang kehilangan napsunya untuk makan saat ini. Ia ingin membuka mulutnya, sekedar untuk mengajaknya berbicara namun entah kenapa, tiba-tiba saja ia lupa cara berbicara.

Jeon Jung Kook dapat melihat kecanggungan di antara keduanya. Ia meraih gelas air yang berada cukup dekat dengannya dan meneguknya.

“Hyung, bagaimana kabar Los Angeles saat ini?”

Kim Seok Jin lantas memalingkan wajahnya untuk menatap Jeon Jung Kook yang berada tepat di sampingnya.

“Baik, bahkan sangat baik. Kau ingin kesana?”

“Ya, sangat! Bisa kau mengajakku ke sana?”

“Tentu, dan–”

Jeon Ji Hyun memejamkan matanya sejenak, entah kenapa ia begitu malas hari ini. Padahal ia sangat menunggu-nunggu untuk mengunjungi ibunya, namun kini ia merasa sangat tak ingin.

Jeon Ji Hyun berusaha keras untuk menutup kedua telinganya. Ya, meski sama sekali tak menggunakan kedua tangannya. Perbincangan antara adiknya juga pria itu sama sekali tak ingin ia dengar.

“Kenapa kau ada di Hongdae?” tanya Jeon Ji Hyun memotong. Dan dalam seketika semua orang terdiam. Kim Seok Jin menatap sekali lagi wanita yang masih enggan menatapnya. Wanita itu kini melahap perlahan makanan miliknya.

“Liburan, mungkin dalam beberapa minggu ke depan. Kau–”

“Kau tinggal di Seoul sekarang? Kenapa kau ada di rumahku?” Nada suara Jeon Ji Hyun sangat jauh berbeda saat ini. Cara berbicaranya yang terdengat sangat ketus sempat membuat semua orang yang ada di sana terdiam untuk beberapa saat.

“Ji Hyun-ah, tak baik kalau kau berbicara seperti itu,” ujar wanita setengah baya yang berada tepat di samping Ji Hyun saat ini. Jeon Ji Hyun tahu bahwa nada suaranya terdengar sangat salah, namun itu tiba-tiba saja keluar dari bibirnya. Jeon Ji Hyun menarik nafasnya dalam, berusaha menenangkan dirinya yang sekiranya yang mudah marah saat ini.

“Ayah Seok Jin baru saja meninggal. Ia akan mengurus segala keperluan pemakaman ayahnya di sini,” lanjut wanita setengah baya itu yang kini terdengar seperti membela Kim Seok Jin. Mendengar hal itu, Kim Seok Jin mengangguk perlahan, meski terlihat sia-sia karena Ji Hyun tak akan melihatnya.

Jeon Ji Hyun merasa menyesal saat mendengarnya, namun entah setan apa yang membuatnya seperti wanita keras kepala saat ini, sehingga ia merasa tak perlu peduli dengan apa yang terjadi pada pria itu saat ini.

“Aku meminta hyung untuk menginap di rumah kita, nunna. Kau tahu kan ada dua kamar kosong di rumah kita, kukira Seok Jin hyung bisa menggunakan satu di antaranya,” tambah Jung Kook kali ini. Baiklah, memang keduanya terlampau beberapa tahun, tapi yakinlah mereka sangat dekat. Melebihi dekatnya Kim Seok Jin juga Jeon Ji Hyun, hanya untuk saat ini.

Jeon Ji Hyun meraih sebuah kain yang berada dekat dengannya sebelum ia mengusap kedua ujung bibirnya saat ini. Ia lantas beranjak dari bangkunya dan berjalan menuju kamarnya.

Semua orang menatapnya bingung akibat perlakuan Ji Hyun yang sangat jauh berbeda saat ini. Namun tidak untuk Kim Seok Jin. Matanya masih saja mengekor pada jejak langkah Ji Hyun, hingga wanita itu benar-benar hilang dari pandangannya. Ya, ada sebuah rasa bersalah yang ada di hatinya. Entahlah, tapi yang jelas, ia sangat merindukan wanita itu.

 

 

Jeon Ji Hyun menatap koper miliknya, ia lalu mengelusnya perlahan. Ia akui, tadi ia begitu emosi hingga ia tak sadar bahwa mungkin ia sudah keterlaluan tadi. Ia berusaha untuk menahan semua emosinya, namun semua terasa sia-sia. Ia memang tak bisa menahan semuanya.

Ji Hyun membuka kopernya. Ia tersenyum tipis saat kalung berliontinkan sebuah cincin berada pada tumpukan teratas barang miliknya. Meski ia berusaha mati-matian untuk melupakan semuanya, pada akhirnya ia akan kembali mengingatnya. Mungkin kalung itu tak berada di lehernya, namun tanpa sadar ia telah memasukkannya pada tempat barang bawaannya. Untuknya, kalung itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

“Jeon Ji Hyun?”

Jeon Ji Hyun membalik tubuhnya saat ibunya tengah memasuki kamarnya. Ia tertunduk. Ia tahu, mungkin ibunya akan memarahinya atas apa yang tadi ia lakukan di ruang makan. Namun dugaannya salah besar.

“Kau tahu kalau ayah Seok Jin baru saja meninggal?”

Jeon Ji Jyun menggigit bibir bawahnya. Benar, ia masih mengingat kalimat itu tadi. Namun, ia seakan tak mengindahkan kalimat tersebut tadi.

“Maaf,” ucap Jeon Ji Hyun menyesal kali ini. Nyonya Jeon membuang nafasnya pasrah. Ia lantas mendudukkan dirinya pada tepi ranjang berada tak jauh dengan dimana Ji Hyun berada saat ini. Ia lalu menepuk salah satu pundak wanita tersebut.

“Eomma mengerti apa yang kau rasakan, tapi. .bisakah kau coba melupakan dan memaafkannya?”

Jeon Ji Hyun menatap ibunya saat ia baru saja mendengar permintaan ibunya tersebut. “Melupakannya? Aku sudah melupakannya, dan memaafkan? Aku sudah mencobanya,”

Nyonya Jeon terlihat menyeringai tipis.

“Kau tidak terlihat telah memaafkannya,”

Nyonya Jeon lantas beranjak dari tempat dimana ia duduk tadi mengembangkan sebuah senyum lain di wajahnya. Meski beberapa kerutan telah terlihat itu tak menghilangkan ayu di wajahnya.

“Mungkin kau belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, namun. . berjanjilah, cobalah untuk memaafkannya sedikit saja,”

Jeon Ji Hyun terlihat tertunduk. Apa yang terjadi sebenarnya? Meski ia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, ia tak pernah merasa penasaran dan merasa tak perlu mengetahui alasan sebenarnya. Saat ia telah membenci seseorang, ia merasa tak perlu memaafkannya. Meski pada akhirnya ia akan tahu alasan sebenarnya, pantaskah pria itu dimaafkan?

“Besok eomma dan Jung Kook akan pergi untuk beberapa waktu,”

“Apa?”

“Ya, kau tahu Jung Kook akan menjalani ujian untuk masuk ke universitas kota secepatnya. Kami akan berada di Seoul untuk mempersiapkan segala keperluannya,”

“Tapi, aku baru saja berada di Hongdae saat ini,”
Nyonya Jeon terlihat tersenyum tipis.

“Kau tak perlu khawatir, ini tidak akan menghabiskan banyak waktu dan kau akan ditemani Kim Seok Jin bukan?”

“Itu–” ucap Jeon Ji Hyun penuh keraguan. Bukan. Bukan karena ia takut kesepian, namun keberadaan Seok Jin lah yang membuat semuanya terasa berat. Benar ia telah mencoba mati-matian untuk melupakan pria itu, melupakan semua yang telah terjadi dan apa yang telah pria itu lakukan padanya. Namun, ia bertaruh usahanya benar-benar ditaruhkan sekarang.

 

 

“Kau bisa menjaga diri saat kami di Seoul bukan?”

Jeon Ji Hyun merengek manja pada wanita setengah baya yang ada di hadapannya. Ia menggelayut pada salah satu lengan wanita itu.

“Saat aku di Seoul, kau jarang mengunjungiku. Saat aku di Hongdae, kalian akan meninggalkanku?”

“Ayolah nunna, kami sebenarnya ingin mengatakan tentang urusan ini, tapi karena kami pikir ini hanya sebentar, jadi kami pikir tak perlu memberitahumu,”

Ji Hyun merengut menatap laki-laki bergigi kelinci yang ada di hadapannya tersebut. Ia lalu mengacak rambut laki-laki tersebut brutal hingga si empunya mengerang.

“Ya!” protes Jung Kook yang kali ini kehilangan model rambut yang sejak dua jam yang lalu ia persiapkan. Ia nampak kesal, sedangkan Ji Hyun hanya terkekeh menatapnya.

“Kau harus masuk dalam universitas ternama di Seoul. Tunjukkan kalau kau bisa!” ucap Ji Hyun sembari menunjukkan salah satu tangan yang ia kepalkan. Sebuah simbol pemberi semangat. Namun Jung Kook masih saja nampak kesal.

“Ish, tapi kau tak perlu merusak tatanan rambutku!” protes Jung Kook sekali lagi. Ji Hyun lantas menjulurkan lidahnya, berharap Jung Kook akan bertambah marah saat ini. Nyonya Jeon yang mengetahui hal itu terlihat menarik nafasnya dalam. Ia tak pernah tahu bahwa kedua anaknya yang dapat dikatakan sangat dewasa saat ini, lebih terlihat seperti anak berumur lima tahun. Nyonya Jeon berharap di usia tuanya, ia tak akan mendengar dan melihat pertengkaran kedua anaknya ini, namun nyatanya ini masih saja terjadi.

“Sudahlah-sudahlah, kalian tak perlu bertengkar. Baiklah, kami akan berangkat. Ji Hyun-ah, jaga rumah dengan baik, dan–”

Nyonya Jeon memandang pria yang berada cukup jauh di belakang Ji Hyun. Ia lantas mengembangkan senyumnya saat kedua matanya menangkap manik hitam milik Kim Seok Jin saat ini. Pria itu juga lantas mengembangkan senyumnya.

“Jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu saat kami pergi,” lanjutnya. Jin hanya mengangguk pelan.

“Baiklah kami pergi dulu,”

“Berjanjilah untuk menghubungiku sesampainya kalian disana,” ucap Jeon Ji Hyun lantas membukakan pintu belakang untuk ibunya tersebut. Nyonya Jeon dan Jung Kook terlihat menaiki taxinya sebelum beberapa menit kemudian akhirnya taxi yang mereka tumpangi mulai berangkat dan lantas menghilang dari pandangannya.

Ji Hyun membalikkan tubuhnya yang memutuskan akan masuk ke dalam rumahnya namun, ia sempat terdiam sesaat, saat ia secara kebetulan berpandangan dengan Jin. Namun selisih sekian detik, Ji Hyun mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumahnya.

Sedangkan Jin, ia masih berada di tempatnya, ia sempat memandang punggung Ji Hyun menjauhinya dan akhirnya menghilang pada daun pintu tersebut yang sengaja wanita itu tutup. Ia membuang nafasnya.

Untuk beberapa menit yang lalu, ia dapat melihat Ji Hyun terlihat senang saat menggoda adiknya, sama seperti beberapa tahun yang lalu, namun kini wanita itu kembali pada wanita yang terlihat begitu dingin hanya padanya saja. Untuk beberapa hari yang lalu, ia menyadari bahwa keputusannya untuk berada di sini terasa sangat salah, namun hanya inilah yang ingin ia lakukan, meski reaksi wanita itu sangat tidak ia harapkan, ia akan berusaha untuk bertahan, ya meski untuk beberapa waktu.

 

 

Ji Hyun baru saja selesai menata beberapa hidangan di atas meja makan untuk dirinya sarapan juga seseorang yang juga berada di rumah orang tuanya saat ini. Benar, Kim Seok Jin. Ini adalah hari pertama dimana ia juga Kim Seok Jin akan hanya berdua saja. Sejujurnya, ia tak ingin memasakkan sesuatu demi pria itu, namun ia ingat betul dengan apa yang diucapkan ibunya sebelum ia pergi. Benar, sebagai seorang pemilik rumah, setidaknya ia harus bersikap baik dan melayani tamunya. Dan pria itu adalah tamunya.

Ji Hyun terdiam sesaat saat sekiranya secara tidak sengaja kedua matanya bertatap dengan pria yang baru saja turun dari tangga. Ji Hyun menghindari kontak mata tersebut saat ia secara sadar tentang apa yang baru saja terjadi. Ia lantas mengalihkan pandangannya entah kemana, demi menghindari manik pria itu.

Kim Seok Jin mengetahui apa yang dilakukan wanita itu padanya. Ia tak menyangka, hanya untuk hari pertama ini, sama terasa beratnya. Ia tak akan bisa membayangkan hari-hari selanjutnya nanti.

“Selamat pagi,”

“Pagi,” ucap Ji Hyun yang masih saja memunggunginya. Kim Seok Jin menyeringai melihat hal itu. Ia menatap meja makan yang kini terdapat dua porsi roast bread juga dua gelas orange juice di sana. Mungkin saja satu di antaranya diperuntukkan olehnya, namun wanita itu terlihat tak menyilahkannya.

Kim Seok Jin tak pernah keberatan tentang adanya hal itu. Ia lantas merapikan kedua sisi lengannya yang sedikit berantakan. Ia lalu berjalan menuju pintu depan. Hari ini, ia akan mengurus pemakaman ayahnya. Seperti yang diminta ayahnya sepeninggalnya, ia ingin pada akhir hidupnya, ia tetap bersanding dengan istrinya yang lebih dulu meninggalkan mereka.

“Tunggu, apa kau akan pergi ke suatu tempat pagi ini?”

“Ah iya, hari ini aku akan pergi ke makam kedua orangtuaku,” jawab Seok Jin yang merasa senang saat Ji Hyun mulai berbicara dengannya. Ji Hyun terlihat menundukkan sejenak kepalanya. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu saat ini, namun ia terlihat kesusahan untuk mengatakannya.

“Apa itu untukku?” tanya Seok Jin berusaha memecah hening. Ji Hyun menganggukkan kepalanya ragu, namun hal tersebut lantas membuat pria tersebut merasa senang. Pria tersebut lalu berjalan menuju meja makan dan menduduki salah satu meja di sana.

Namun tidak untuk Ji Hyun, ia masih terpaku di sana, terperangkap dalam rasa canggungnya. Ia tahu tak hanya wanita itu yang merasa canggung, dirinya juga.

“Kau bisa makan denganku, kalau kau tidak keberatan,”

“O-oh iya,”

Wanita itu terlihat kebingungan saat pria tersebut kembali membuka mulutnya. Dengan segenap rasa canggung di dalam dirinya, wanita itu lantas menuruti apa yang pria tersebut minta. Kini keduanya tengah menikmati sarapan mereka dalam diam. Mereka tengah sibuk dengan kegiatan juga pikiran masing-masing, sampai akhirnya Ji Hyun berdehem pelan saat ia menyadari kecanggungan mereka yang terasa berlebihan saat ini.

“Aku turut berduka atas meninggalnya ayahmu,”

Kim Seok Jin yang mendengar hal tersebut lantas tersenyum tipis. Setidaknya es di antara mereka sudah menghilang perlahan.

“Terima kasih,” ucap Seok Jin begitu singkat. Pria itu membersihkan bibirmya dengan kain yang telah disediakan di atas meja saat ia baru saja menyelesaikan makan paginya saat ini.

“Dan terima kasih atas hidangan untuk pagi ini,” lanjut pria itu yang lantas beranjak dari bangkunya hendak pergi. Ia tersenyum sebelum pada akhirnya ia membungkuk pelan.

“T-tunggu,”

Kim Seok Jin yang hendak melanjutkan langkahnya, lantas menghentikan aksinya tersebut. Ia memandang wanita yang daritadi terkesan mencegahnya untuk pergi. Wanita itu terlihat begitu canggung, sebelum akhirnya, ia kembali membuka mulutnya,

“Izinkan aku ikut denganmu, jika kau tidak keberatan,”

 

 

“Pada akhirnya, aku benar-benar sendiri sekarang. Hal yang paling aku takuti akhirnya benar terjadi”
Ji Hyun menghela nafasnya saat sekiranya kalimat tersebut selalu terngiang pada kedua telinganya. Kalimat yang sempat pria itu ucapkan saat mengunjungi makam kedua orang tuanya tadi. Kalimat yang mengantar pria itu kembali menangis untuk kesekian kalinya.

Benar, pria itu benar-benar sendiri untuk saat ini. Ia ingat saat pria itu kehilangan ibunya saat umurnya masih terbilang sangat muda. Ia ingat saat pria itu terpuruk atas kepergian ibunya saat itu dan ia ingat hal yang paling pria itu takuti adalah hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya.

Ada sedikit rasa bersalah yang ia rasakan, sejujurnya. Benar, apa yang ia lakukan saat pria itu menangis? Tak ada. Mungkin ia dapat dikatakan orang yang paling jahat saat ini, namun ayolah itu memang dirinya. Ia merasa tak perlu untuk menenangkan pria itu saat sedih, ia merasa tak perlu untuk iba akan apa yang telah terjadi pada pria itu, namun ia tak memungkiri bahwa ada sedikitnya rasa penyesalan saat ini.

Entah hari ini adalah hari keberapa dimana ia juga pria itu hanya berdua saja di kediaman orang tua Ji Hyun di Hongdae, selama itu pula Ji Hyun akan tetap bersikap dingin dan seakan tak peduli dengan orang yang ia benci itu. Namun, seberapa pun ia akan bersikap dingin pada pria itu, pria itu lantas tak membalasnya.

Jeon Ji Hyun menata rambutnya sejenak sebelum ia akhirnya keluar dari kamarnya. Hari ini, ia berencana untuk berjalan-jalan, sekedar menemui salah satu temannya yang telah lama ia tak temui. Selain itu, ia ingin sedikit menjauh dengan Seok Jin. Sikap Seok Jin yang berbanding terbalik dengan sikap Ji Hyun pada Seok Jin saat ini, terkadang membuatnya bersalah. Namun menurutnya, ia memang tak memiliki pilihan lain selain bersikap seperti itu.

“Selamat pagi,”

“Pagi,” balas Ji Hyun saat ini. Ia mengernyit bingung, saat kini ia dapat melihat beberapa hidangan sudah tertata rapi pada meja makan. Kim Seok Jin melebarkan senyumnya dibalik meja makan.

“Apa kau akan pergi pagi ini?”

Ji Hyun hanya mengangguk singkat.

“Benarkah? Bisa kita keluar bersama, sudah lama aku–”

“Tidak! M-maksudku maaf,” potong Ji Hyun yang seketika merubah mimik wajah Seok Jin saat ini. Mengetahui hal itu, Ji Hyun lantas menggigit bibir bawahnya. Ia tahu, bahwa ia terlihat sangat salah saat ini, namun percayalah, apa yang ia lakukan saat ini memiliki maksud dan tujuannya.

“A-aku harus menemui seseorang hari ini,”

Mendengar hal itu, Kim Seok Jin mencoba untuk memakluminya, itu terlihat dari bagaimana Seok Jin tersenyum saat ini.

“Apa kau yang membuatnya?” ucap Ji Hyun yang mencoba kembali menenangkan suasana.

Seok Jin mengangguk dengan penuh antusias. Percaya atau tidak, Seok Jin tengah mengenakan celemek yang biasa Nyonya Jeon kenakan.

“Mungkin tak seenak seperti masakanmu atau ibumu, paling tidak semua ini bisa kita makan,”

Kim Seok Jin menata beberapa alat makan saat ini. Alat makan diperuntukkan untuk dirinya dan juga Ji Hyun. Jeon Ji Hyun masih tak bergeming, ia masih berdiri di sana, setengah memandang apa yang tengah dilakukan pria itu. Namun, Ji Hyun masih tak bergeming bahkan saat Seok Jin telah selesai melakukan kegiatannya. Seok Jin dapat melihat keraguan di wajah wanita tersebut. Hal tersebut sempat membuat senyum Seok Jin mengering kiranya.

Banyak hal yang tengah Ji Hyun pikirkan saat ini, tentang bagaimana Seok Jin bersikap padanya meski ia bersikap tak baik pada pria tersebut, juga tentang ketakutannya bila ia benar tak bisa menghilangkan ingatannya untuk beberapa tahun yang lalu. Bukankah ia telah berjanji untuk hal itu?

Ji Hyun menatap Seok Jin yang juga terdiam di sana dengan celemek yang ia kenakan. Ia tahu bahwa pria itu mungkin kecewa saat ini. Beberapa menit Ji Hyun terlihat tengah memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia lantas melangkahkan kakinya menuju meja makan dan menduduki salah satu bangku di sana.

“Meskipun tak enak, kita tetap harus memakannya bukan? Lagipula, aku juga lapar,” ucap Ji Hyun dengan setengah tersenyum. Wanita itu lantas mengambil sumpit yang tak jauh darinya dan mulai menyantap makanannya. Setidaknya, ia tak bisa menolak kebaikam seseorang bukan? Lagipula, sekali saja, ia ingin bersikap baik pada pria itu. Kim Seok Jin yang melihat akan adanya tersebut hanya tersenyum tipis.

 

 

Ji Hyun berjalan pada jalan setapak yang kini ia lewati. Benar, kini ia berada pada sebuah taman yang cukup luas di Hongdae. Sesekali ia menatap ponsel yang ia genggam, berjaga-jaga bila ia tak menemukan orang yang akan ia temui saat ini. Namun, kiranya dugaannya salah. Ia segera melambaikan tangannya saat kedua matanya menangkap sosok wanita lain yang tengah duduk di sudut taman dengan seorang gadis kecil di sampingnya.

Ji Hyun memghela nafasnya. Entah kenapa ia terlihat sangat gugup saat akan bertemu dengan wanita yang bahkan lama tak pernah ia temui sejak beberapa tahun yang lalu setelah ia memutuskan untuk mencari kehidupan baru di Seoul.

“Kau masih saja terlihat sama Ji Hyun,”

“Benarkah?” ucap Ji Hyun yang kali ini merenggangkan pelukan wanita itu yang tadi menyerangnya dengan sebuah pelukan yang sangat tiba-tiba. Ia lantas mengembangkan senyumnya kali ini saat keduanya bertatap.

“Aku merindukanmu Sun Hwe,”

“Aku juga,”

Kini mereka mendudukkan diri mereka pada bangku taman yang sempat diduduki wanita bernama Lee Sun Hwe tadi.

“Dia anakmu?”

Wanita berambut pendek tersebut mengangguk pelan seraya mengelus rambut gadis kecil yang berada di sampingnya.

“Nam Jae Na, beri salam pada bibi ini,”

“Anyeong haseyo, Nam Jae Na imnida,” ucap gadis kecil itu terlihat malu-malu. Gadis kecil berkuncir dua itu lantas membungkukkan tubuhnya pada Ji Hyun saat ini. Ji Hyun hanya tersenyum tipis sebelum akhirmya ia ikut membungkukkan tubuhnya.

“Jae Na-ah, kau bisa bermain sekarang,”

Gadis kecil berkuncir dua itu pun lantas berlari menuju tempat bermain tak jauh dari pantauan orang tuanya tersebut.

“Bagaimana kabarmu?”

“Begitulah,” ucap Ji Hyun seraya terkekeh pelan. Wanita bernama Sun Hwe lantas juga ikut tertawa.

“Aku tak menyangka, kita sudah tua saat ini,”

“Tidak untukku,”

Sun Hwe menatap Ji Hyun tajam, ia memautkan bibirnya mendengar jawaban Ji Hyun saat ini.

“Oh menurutmu begitu? Karena aku yang telah memiliki anak, kau mengataiku tua?”

Protes Sun Hwe lantas membuat Ji Hyun tertawa lepas. Sun Hwe yang awalnya tidak terima dengan apa yang dikatakan Ji Hyun, membuat dirinya ikut tertawa bahkan lebih keras saat dari Ji Hyun. Ya, sudah lama sekali sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Sahabat selamanya, sebuah motto yang sengaja mereka buat sejak dulu. Mereka berharap, persahabatan ini akan berjalan selamanya.

“Aku tak mengira aku akan menikah setelah aku lulus SMA,”

“Ya, bukankah kau memang selalu menginginkan hal itu?”

“Ya! Kau kira aku ini perempuan yang pervert sejak SMA? Berhenti menggodaku!” ucap Sun Hwe yang kali inu benar-benar terlibat marah. Namun hal itu tak lantas membuat Ji Hyun berhenti. Sungguh, meski umur mereka bertambah, bahkan sampai ia memiliki anak, ia masih saja menggemaskan saat Ji Hyun menggodanya.

“Kau ingat dengan laki-laki yang kusukai sejak kita masuk di bangku SMA?”

Kali ini Sun Hwe terlihat antusias, sedangkan Ji Hyun tak lebih hanya mengernyit bingung. Menurutnya terlalu banyak laki-laki yang Sun Hwe sukai saat masih di bangku SMA.

“Apa kau lupa? Bukankah dia salah satu tetanggamu? Bukankah dia juga pernah bersekolah di SMP yang sama denganmu?” ucap Sun Hwe semakin bersemangat. Sesekali ini ia melihat ke atas, seakan mengingat sebuah nama yang sudah mulai ia lupakan. Namun, berbeda dengan Ji Hyun. Kali ini Ji Hyun hanya terdiam, senyumnya dan semangat menggodanya menghilang sepenuhnya. Wajah wanita itu entah menjadi muram. Ji Hyun lantas tertunduk.

“Ah! Kim Seok Jin! Bagaimana kabarnya saat ini? Aku sama sekali tak mengetahui kabarnya sejak kita lulus SMA,”

Ji Hyun dapat merasakan dadanya nyeri saat nama itu disebut. Ia memaksakan kedua ujung bibirnya terangkat, saat Sun Hwe masih saja terlihat bersemangat untuk mengingat masa dimana ia ingin melupakannya.

“Tunggu, bukankah kau dan dia sangat dekat? Bukankah dulu kau pernah akan menjodohkanku dengannya? Dimana dia sekarang? Apa kau tahu dimana sekarang?”

Ji Hyun ingin sekali menutup kedua telinganya saat wanita itu masih berbicara secara detail apa yang ingat tentang pria itu. Pria yang bahkan ia ingin lupakan sejak beberapa tahun yang lalu, pria yang seakan tak ingin dilupakan olehnya, pria yang kini entah kenapa datang dan ingin dirinya agar diingat.

Tidak, ia tidak ingin semua ingatan itu kembali. Semua kenangan yang tak ingin ia ingat, semua kenangan yang seakan membuatnya merasa bodoh. Namun, perlahan, entah kenapa semua kenangan tersebut seakan memaksa dirinya untuk mengingat. Semua kenangan tentangnya juga pria itu beberapa tahun yang lalu.

.
.
.
.

“Ji Hyun-ah!” pekik seorang gadis berseragam sekolah dengan tergesa-gesa. Ia melambaikan salah satu tangannya saat ia menemukan sosok sahabatnya tersebut tengah berdiri di depan loker siswa-siswi sekolah tersebut.

Ji Hyun, sang pemilik nama, ia terlihat kebingungan. Ia tak mengira bahwa temannya tersebut akan datang lebih awal saat ini. Ia lantas melebarkan senyumnya sedikit kaku dan lantas membalas lambaian tangan gadis tersebut.

“Ya! Aku heran, kenapa kau datang ke sekolah terlalu awal,” ucap gadis berkuncir satu itu yang terlihat mengatur nafasnya. Benar, berlari di pagi hari setidaknya membuatnya kelelahan.

Ji Hyun hanya tertawa pelan.

“Lalu kenapa kau datang terlalu awal juga?”

“Karena aku ingin tahu apa yang kau lakukan sepagi ini di sekolah,”

“Tak ada,” ucap Ji Hyun berkilah. Sun Hwe, gadis berkuncir satu itu memautkan bibirnya, ia lantas melipat kedua tangannya.

“Kau berbohong!”

“Memang tak ada,” ucap Ji Hyun yang kali ini dengan nada menggoda. Ia lantas menjulurkan lidahnya, seakan meledek sahabatnya tersebut. Oh ayolah, ia memang telah melakukan sesuatu tiap paginya. Itu alasan kenapa ia selalu datang terlalu awal tiap harinya. Dan ia tak mengira bahwa temannya tersebut akan datang pagi juga, namun beruntung ia melakukannya sebelum kedatangan temannya tersebut.

“Lihat saja aku akan mengetahui semua rahasiamu cepat atau lambat,”

“Coba saja kalau kau bisa,” ucap Ji Hyun kali ini meledek. Ia lantas menyentil dahi temannya yang terlihat lebar tersebut dan membuat sang empunya mengerang kesal.

“Awas kau!” ucap Sun Hwe kali ini benar-benar kesal. Ia lalu berlari mengejar temannya tersebut yang kini berlari menjauhinya.

“Ji Hyun-ah, a–was!”

‘Bruak’

Sun Hwe mempercepat laju kakinya saat ia menemukan Ji Hyun terjatuh karena baru saja ia bertabrakan dengan salah seorang siswa di sana.

Ji Hyun mengelus salah satu sisi dahinya yang sekiranya telah membentur sesuatu. Oh ayolah, ia memang telah menabrak seseorang dan kini orang tersebut tepat di bawahnya. Ji Hyun yang mengetahui hal tersebut lantas menjauhkan dirinya. Ia beranjak dari tempat dari dimana ia terjatuh, ia lalu mengulurkan salah satu tangannya demi membantu siswa tersebut.

“Maafkan aku, maafkan aku, aku tadi tidak melihat kau–”

Kalimat Ji Hyun terpotong saat kini siswa tersebut beranjak dengan usahanya sendiri. Ia terlihat kesakitan, namun sedetik kemudian ia terlihat terkekeh pelan di balik rasa sakitnya.

“Tak apa. Lagipula, tadi aku juga tidak melihatmu,”

Ji Hyun yang kini mengetahui siapa yang tadi ia tabrak, terdiam seketika. Ia tertunduk malu. Semu pada kedua pipinya tiba-tiba saja terlihat. Bukankah ini terlalu awal untuk laki-laki itu datang? Kenapa kali ini ia datang begitu awal?

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya laki-laki itu yang sekiranya takut bila Ji Hyun terluka, meski seharusnya keadaannya yang harus diperhatikan. Ji Hyun menggeleng cepat. Kini ia terlihat lebih kikuk dari sebelumnya.

“Maaf, aku terburu-buru kali ini. Sampai jumpa di kelas,”

Dan beberapa detik kemudian, laki-laki itu lantas pergi meninggalkannya. Ji Hyun memandang punggung yang menjauhinya. Ia mengembangkan senyumnya malu. Oh ayolah, ia baru saja menabrak laki-laki itu tadi. Laki-laki yang bahkan ia kagumi sejak ia di bangku SMP. Namun, apakah laki-laki itu menyadari perasaannya selama ini?

“Ya!” Ji Hyun mengerang saat baru saja Sun Hwe memukul kepalanya pelan. Sahabatnya tersebut terlihat cemas tadi dan bodohnya Ji Hyun tak menyadari kehadiran Sun Hwe yang berada di belakangnya dari tadi.

“Kau tahu dia kan? Kim Seok Jin, dia satu kelas dengan kita”

“Aku tahu,” jawab Ji Hyun yang terlihat datar, sangat berbeda dengan intonasi bicara Sun Hwe tadi.

“Dia tetanggamu bukan? Kau mengenalnya bahkan saat di bangku SMP bukan?”

Ji Hyun mengangguk malas. Bagaimana tidak, ia tahu kebiasaan Sun Hwe yang dengan mudah menyukai siapa saja yang ia lihat, namun kali ini entah kenapa ia merasa tak perlu peduli.

“Kau harus membantuku untuk mendekatinya, otteh?” tanya Sun Hwe yang terlihat begitu bersemangat saat ini. Ji Hyun membulatkan kedua matanya tentang apa yang baru saja gadis itu katakan padanya, namun untuk sekian detik, ia hanya menggigit bibir bawahnya tanpa kata apapun.

 

 

‘Apa kau melihat Seok Jin? Apa yang ia lakukan sekarang? Ya, Ji Hyun-ah, jawab pesanku kali ini’

Jeon Ji Hyun memutar bola matanya malas. Entah ini adalah pesan dari Sun Hwe yang keberapa yang ia dapat hari ini. Oh bukan, beberapa minggu ini, gadis itu seakan menerornya dengan pertanyaan yang sama. Benar tentang Kim Seok Jin. Jujur, Ji Hyun tak menyukai saat dimana Sun Hwe menyukai Seok Jin dan seakan memaksanya agar membuat keduanya dekat. Apa ia tidak tahu, ia memang satu sekolah dengan Seok Jin saat SMP, rumah mereka juga cukup dekat, namun ayolah, ia sama sekali tak pernah berbicara langsung dengan laki-laki itu, meski ia telah menyimpan perasaan sukanya terhadap laki-laki itu sejak dulu.

Jeon Ji Hyun menggelengkan kepalanya cepat. Bukan, saat ini, ia harus mencari keberadaan adik laki-lakinya yang entah sejak tadi siang menghilang. Adik yang memiliki selisih delapan tahun tersebut, siang tadi pergi dengan beberapa temannya dengan menggunakan sepedanya. Padahal yang ia tahu, adik laki-lakinya tak terlalu lihai dalam menaiki sepeda.

“Jung Kook-ah!” panggilnya sesaat ia melihat sosok laki-laki yang mirip dengan adiknya tengah menaiki sepedanya. Dan benar, itu memang Jung Kook. Laki-laki kecil itu lantas memalingkan kepalanya ke belakang dan lantas melepaskan salah satu genggaman tangannya pada kemudi sepedanya untuk melambaikan tangannya. Namun, laki-laki kecil itu tak melihat bahwa seseorang berada di depannya.

“Jung Kook-ah, di depanmu!”

Dan,

‘Brak!’

Ji Hyun berlari menghampiri adiknya tersebut yang kini entah bagaimana posisinya. Namun sekiranya adiknya beruntung saat ini, dibandingkan dengan korban yang yang adiknya tabrak. Ji Hyun mengigit bibirnya saat ia tahu siapa yang adiknya tabrak kali ini. Ji Hyun lantas membantu adiknya tersebut berdiri dahulu sembari memikirkan ucapan apa yang akan ia katakan sebagai permintaan maaf kali ini.

“Akh! Ya, Kau lagi? Apa dia adikmu?” tanya laki-laki itu yang setengah menahan rasa sakitnya akibat sepeda Jung Kook mendarat dengan sangat baik di tubuhnya. Ji Hyun lantas dengan cepat membantu laki-laki itu untuk menjauhkan sepeda tersebut dari tubuhnya.

“M-mianhae,”

Seok Jin, laki-laki itu, mengelus punggung dan salah satu lengannya yang sekiranya kesakitan. Ia bertaruh kecelakaan ini lebih buruk dari sebelumnya.

“Ah, benar, kau dan adikmu sama saja, ini konyol jika aku ditabrak dua kali,”

“T-tapi, kami memang tidak sengaja,” ucap Ji Hyun membela diri. Jung Kook yang terlihat ketakutan kini telah bersembunyi tepat di balik punggung Ji Hyun.

“Kalau ini tidak sengaja, apa kau akan menabrakku lagi dengan alasan yang sama?”

Ji Hyun terlihat kesal dengan reaksi laki-laki iti kali ini. Bukankah ini berlebihan? Tidakkah ia tahu, yang menabraknya barusan adalah laki-laki berumur delapan tahun dan tak lebih?

“Ya! Aku sudah meminta maaf padamu bukan? Tidakkah kau tahu bahwa adikku baru saja bisa mengemudikan sepedanya?!”

Kim Seok Jin mengerjapkan matanya tak percaya saat gadis di hadapannya baru saja menggunakan intonasi yang begitu tinggi padanya. Padahal yang ia tahu bahwa gadis itu tak pernah berbuat demikian padanya. Dan kini, ia bisa melihat wajah gadis itu benar-benar kesal padanya.

“Ayo Jung Kook-ah, kita pulang,” ucap Ji Hyun yang kali ini membawa adiknya pergi dari sana meninggalkan laki-laki itu sendiri.

“Y-ya!? Bagaimana denganku?”

 

 

“Sudah kubilang, Kim Seok Jin itu menyebalkan,” gerutu Ji Hyun menatap air hujan yang mulai deras turun. Ia menghela nafasnya. Baiklah, ia tadi baru saja bertengkar dengan Sun Hwe akibat hal yang menurutnya sebenarnya tak penting. Bagaimana bisa Sun Hwe bilang Kim Seok Jin tidak menyebalkan? apa gadis itu tidak tahu bahwa kemarin laki-laki itu memarahinya adiknya? Meski. . tidak langsung.

Kenapa dulu ia menyukai laki-laki itu? Setelah ia tahu bahwa laki-laki itu terlihat menyebalkan, apa bisa ia tetap menyukai laki-laki itu?

Dan kini Sun Hwe meninggalkannya sendiri. Padahal seperti biasanya mereka selalu pulang bersama. Apa Sun Hwe tidak tahu bahwa kali ini ia harus pulang kemalaman akibat hujan saat ini, dan Sun Hwe berjanji yang akan membawa payungnya, tapi kini ia meninggalkannya sendiri.

Jeon Ji Hyun terkejut saat ia seseorang baru saja membuka lebar payung tepat di sampingnya. Orang tersebut lantas meletakkan payungnya tepat di atas kepala Ji Hyun juga dirinya. Orang tersebut lalu berdehem canggung.

“Ayo pulang,”

Ji Hyun yang mengetahui siapa laki-laki itu lantas memalingkan wajahnya tak peduli.

“Geurae, aku yang salah,” ucap laki-laki itu meyakinkan. Laki-laki itu lantas mengangkat sebelah tangannya yang sedari tadi menggenggam sebuah kantung plastic berukuran sedang.

“Aku membeli beberapa obat, jika adikmu terluka. T-tapi, apa ia benar baik-baik saja?”

Ji Hyun menahan tawanya, saat Kim Seok Jin kini memang terlihat khawatir.

“A-aku serius,”

“Dia baik-baik saja–” ucap Ji Hyun yang kini menatap laki-laki yang berada di sampingnya saat ini. Namun, kedua matanya lantas menangkap sebuah perban yang berada pada salah satu telapak tangan laki-laki tersebut. Benar, dia adalah korban sebenarnya dari tabrakan kemarin, dan seharusnya ia yang harus diperhatikan keadaannya saat ini.

“Itu bagus,”

Kim Seok Jin terlihat lega mendengarnya. Ia lantas melebarkan senyumnya saat ini.

“M-maaf,”

“Hmm?”

“Kubilang m-maaf,”

Kim Seok Jin terkekeh pelan.

“Maaf untuk menabrakku atau karena kau meninggalkanku saat itu hingga aku kehujanan?”

Ji Hyun memautkan bibirnya. Oh benar, ia melupakan hal itu. Ia meninggalkan laki-laki itu terluka dan lantas meninggalkannya hingga kehujanan. Tapi ayolah, jika laki-laki itu tak menyebalkan, ia tak mungkin meninggalkannya.

“Haha, aku sudah memaafkanmu. Hey, kau masih ingat dengan apa yang temanmu katakan saat kita di SMP?”

Ji Hyun mengernyit tak mengerti, namun laki-laki itu terlihat begitu senang.

“Mereka bilang, kau gadis pembawa hujan. Karena saat kau bersama mereka di luar, hujan akan selalu turun,”

“Ya!”

Kim Seok Jin tertawa lepas.

“Gadis pembawa hujan,”

Ji Hyun memautkan bibirnya sekali lagi. Entah kenapa laki-laki itu bahkan ingat dengan apa yang dikatakan teman-teman sekelasnya saat SMP. Tapi. . bagaimana laki-laki itu ingat dengan julukan itu?

Ji Hyun sekali lagi hanya dapat terdiam saat laki-laki itu masih menertawainya. Ia menundukkan kepalanya sesaat ia dapat merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya sekali lagi. Benar, meski laki-laki begitu menyebalkan, ia masih menyukai laki-laki itu.

.
.
.

Jeon Ji Hyun memandang air hujan yang entah tiba-tiba saja turun di Hongdae saat ini. Kini, ia tengah berada pada salah satu halte dekat taman. Dan kali ini, Sun Hwe juga telah meninggalkannya. Setidaknya, suaminya yang tercinta telah menjemputnya beberapa menit yang lalu, dan ia tak mau merepotkan sahabatnya juga suaminya tersebut. Namun, mungkin itu adalah pemikiran bodoh karena ia membuang kesempatan itu.

Ji Hyun menghela nafasnya. Sekiranya hujan masih saja terlihat deras, jalanan juga terlihat sepi saat ini. Ia bertaruh semua orang kini tengah berada di kediaman masing-masing, tengah menghangatkan diri mereka.

Ji Hyun menggosokkan kedua telapak tangannya, berharap hangat di tubuhnya tidak hilang karena udara dingin akibat hujan saat ini. Mungkin kali ini, ia harus pulang malam, karena hujan yang tak ada akhir saat ini. Oh ayolah, dimana bus yang biasanya lewat di jalan tersebut? Ia bertaruh, ia sama sekali tak melihatnya saat ini.

Jeon Ji Hyun menatap ponsel miliknya. Apa ia harus menghubungi seseorang untuk menjemputnya? Tapi. . tidak. Im Si Wan berada di Hongkong saat ini, dan ia tak mungkin memintanya untuk menjemputnya, dan. .

Jeon Ji Hyun meletakkan kembali ponsel miliknya pada salah satu kantung pada tas jinjingnya. Pria itu. . apa harus ia meminta pria itu untuk menjemputnya?

Jeon Ji Hyun menggigit bibir bawahnya. Dua jam lebih ia bersama dengan Sun Hwe tadi, dan hal yang selalu wanita itu bahas adalah Kim Seok Jin. Mungkin bagi wanita itu, semua hal tersebut tak berdampak apa-apa baginya, namun tidak bagi Ji Hyun.

Bahkan, satu nama yang ia ingat sampai saat ini. Nama seseorang yang mungkin dapat menjemputnya di saat hujan saat ini, satu nama yang membuatnya rindu dengan hujan saat ini. Benar, Ji Hyun tahu bahwa Si Wan saat ini berada di Hongkong, mungkin kalau ia istri yang baik, nama yang akan diingat saat hujan seperti ini adalah nama suaminya. Seperti, apakah Si Wan memikirkannya, jika saja Si Wan di sini paati dia akan menjemputnya, namun sayang semua itu tidak ada di pikirannya saat ini. Justru, nama pria lain di luar sana yang kini ia pikirkan.

Kenapa semua ingatannya tentang beberapa tahun yang lalu kembali? Bukankah ia mati-matian untuk melupakan semuanya? Bukankah ia telah mati-matian berusaha untuk melupakan pria itu? Tapi, kenapa begitu mudah semua datang kembali padanya saat ini?

Bagaimana jika Si Wan tahu tentang semua ini? Bagaimana jika. .pada akhirnya ia tetapi tak bisa melupakan pria itu nantinya? Tapi, entah kenapa ia memang membutuhkan pria itu bahkan saat ini.

Ji Hyun menyeka kedua matanya yang terasa penuh oleh air saat ini. Ia bukan istri yang baik, ia tahu itu.

“Apa kau akan menunggu hujan sampai reda?”

Ji Hyun mendongakkan wajahnya saat sekiranya seseorang kini tengah berada tepat di hadapannya. Ya, laki-laki tersebut lantas mengembangkan senyumnya saat keduanya akhirnya bertatap. Laki-laki tersebut tengah membawa sebuah payung pada salah satu tangannya tersebut.

“Kau tak bisa menunggu hujan reda, kau lupa kalau kau ini gadis pembawa hujan?” ucap laki-laki itu lantas meletakkan payung yang telah mengembang sempurna tepat di tas kepala Ji Hyun saat ini. Ia menyeringai tipis saat setidaknya ia melihat beberapa air mata pada pipi wanita tersebut, yang bahkan ia tak tahu apa penyebabnya.

“Ayo kita pulang,”

.
.
.
.

-To Be Continued-

Advertisements

17 thoughts on “A Man of Yesterday Chapter 1

  1. Jin salah apaaaa? wah ada siwan zea, memang mereka mirip ya?
    ceritanya seru thor, aq masih penasaran knp jihyun bs benci sama jin,
    mereka tmn sekolah? next aq tunggu author-nim :))

    Like

  2. Biarpun udh nikah 2 taun ama siwan tapi kl siwan pergi² trs pasti jihyun keinget jin kakaaka
    thor q suka konfliknya tapi feel suami istri siwan jihyun kurang dapat,
    slebihnya bgus ^~^

    Like

  3. Seru thor ada jungkook jg, pembawaan cerita jg menarik,
    kepo lanjutanya, posisinya udh ada siwan g mungkin kan jihyun balik sama jin? X_X

    Like

  4. Lanjut..lanjut authornim
    aku suka ceritanya…
    pengen tau ekspresi siwan nanti pas tau istrinya msh suka jin keekekek
    pake hajar” gt seru kali xD

    Like

  5. Gag sabar buat baca next chaprer~
    ceritanya seru thor apalagi ada siwan zea hhhhh next’nya pgn liat gmn kl jin jg siwan ktmu XDD
    keep writing author :3

    Like

  6. KOk aku nyesek yaa ngebayangin ada di posiai Siwan.huhuhu.. dia pasti terluka klw tau istrinya msh memikirkan pria lain selain dirinya.huhuh..
    Tp, sbnrtnya Jin sama Jihyun punya masalah apa dlunya? Adohh..penasaran nie… cpt dilanjut yaa Authornim >_<

    Like

  7. Dear author ts kkkk kenapa kamh sangat pandai menyimpan masa lalu jihyun dan jin, >< ikut galau bacanya T.T
    Update update update

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s