Ficlet · G · Genre · Length · Rating · Romance

[FF Freelance] I Only Have You


 

I only have you

Author : haru_na

Tittle : I Only Have You

Cast : Jeon Jung Kook / Jung Kook BTS

Liliana Song as you or girl

Kim Tae Hyung / V BTS

Genre : Romace

Length : Ficlet

Rating : G

 

Lagi. Dia membuat ulah. Belum beberapa jam aku menasehatinya, belum beberapa jam aku meninggalkannya, hanya pergi membelikannya segelas jus stroberi kesukaannya, dan sekarang lihatlah apa yang sedang terjadi di tengah-tengah mall, dia menjambaki orang yang aku kurang mengerti apa permasalahan di antara mereka. Semua mata memandangi perkelahian mereka. Sungguh memalukan.

Dengan sigap aku segera menarik tubuh Lili. Dia memberontak, kekuatan di tubuh mungilnya sudah seperti atletik pria yang melakukan gym setiap waktu tapi bagaimanapun dia seorang wanita. Sekuat apapun dia mengeluarkan tenaganya, aku harus bisa menjauhkannya.

“Lepaskan!! Lepaskan aku, Jungkook!!” Raungnya sambil berusaha melepaskan pelukanku. “Urusanku dengan dia belum selesai!! Lepaskan!!” Tubuhnya semakin memberontak. Tanpa banyak bicara ku pinggul dia pundak kananku.

“Maafkan atas kekacauan ini.” Kataku menyesal sambil membungkuk berulang kali kepada orang-orang sekitar yang memasang wajah setengah heran dan setengahnya lagi jengkel.Sempat kulihat wanita dengan wajah kesal yang rambutnya benar-benar acak-acakan setelah dijambak oleh Lili, mungkin beberapa helai rambutnya rontok. Mungkin sebentar lagi kepalanya akan botak. Kejam sekali Lili, batinku.

Aku bawa Lili keluar dari mall dengan langkah cepat dan dia terus meronta-meronta ingin meneruskan aksi kejamnya lagi. Tak membutuhkan waktu lama, dia telah diam, tidak meronta-ronta lagi. Kuhentikan langkahku.

“Turunkan aku, Jungkook.” Pintanya dengan suara parau. “Aku lapar.” Katanya memelas. Aku hanya bisa menghembuskan napas. Kuturunkan dia dari pundakku. Kuperhatikan kepala dan wajahnya, tidak ada yang terluka. Wajahnya yang beringas tadi sudah menghilang digantikan dengan wajah imut seperti anak kucing yang kelaparan. Kuhembuskan napas sekali lagi. Lili selalu begitu. Dia mudah sekali membuatku jengkel, iba, dan merasa bersalah.

Kuperhatikan lagi tangan, kaki, dan tubuhnya. Tidak ada yang terluka. Rambutnya basah dan sedikit acak-acakan, aku membelainya pelan.

Dia memperhatikanku juga. Matanya tidak berhenti mengawasiku. Aku tahu. Tapi aku marah dan tak ingin bicara. Lili mengulurkan tangan kirinya. Aku hanya menatap tangannya yang terjulur itu.

“Tuntun aku. Jika kau tak menggandeng tanganku, aku akan kembali dan memukul wanita tadi.” Lili selalu begitu. Egois dan suka mengancam. Aku benci. Benci harus menuruti kemauannya. Dan sekarang lihatlah, aku menggandeng tangannya, melangkahkan kaki bersama, dan dia tersenyum menang. Sedangkan aku tetap benci. Aku benci untuk mengakui, aku terlalu mencintainya.

“Berhentilah mogok bicara, Jeon Jongkook. Aku janji tak akan mengulanginya lagi.” Pintanya dengan wajah sangat memelas. Tempat duduknya diseret mendekati kursi yang aku duduki. Kami sekarang sedang menikmati makanan siap saji, bukan kami, lebih tepatnya Lili yang lebih menikmati makan siangnya daripada aku, di kafe langganan kami. Kedua tangannya merengkuh wajahku untuk menatapnya. “Aku benar-benar menyesal atas kejadian tadi, Jungkook. Kau tahu sendiri kan hubunganku dengan Kim Taehyung? Wanita itu tiba-tiba menjelek-jelekkanku, memakiku yang tak pantas bekerja satu panggung dengan Taehyung. Jika aku harus memilih, aku juga tak mau satu panggung dengannya. Fans Taehyung terlalu banyak dan agresif. Pertama wanita itu memakiku, masa bodoh dengan sikapnya. Lalu dia melakukan hal tersebut untuk kedua, ketiga, dan keempat dia melengkingkan suaranya hingga beberapa orang menoleh dan menatapku dengan tatapan yang…” Lili memberikan jeda dari penjelasannya. Setelah menghembuskan napas berat, dia memulai pembicaraan lagi, “Jijik. Dan aku tidak menyukainya. Tapi aku masih diam dan hanya menatap wanita itu. Ingin sekali aku memotong tubuhnya menjadi bagian-bagian kecil. Kemudian salah satu temannya menyiram kepalaku dengan air dan mereka tertawa. Aku berusaha menahannya Jungkook. Percayalah, aku melakukan seperti apa yang kau katakan. Tapi setelah itu, aku tak bisa menahannya. Aku siram balik teman dari wanita itu. Sebenarnya Jungkook, aku melawan 2 orang wanita yang agresif. Aku bergantian melawan mereka, temannya takut dan sedikit mundur sedangkan wanita itu…”

Aku sudah tak tahan lagi menahan tawa. Liliana Song, harus kau tahu kau wanita yang lebih agresif daripada wanita lain.

“Yaa Jungkook, kenapa kau tertawa? Kau belum tahu seberapa gesitnya aku menghindari jambakan mereka.” Katanya sedikit kesal. Siang itu Lili bercerita tanpa jeda hingga hari menjelang malam.

Jam 7 malam kuantarkan dia ke studio untuk mengambil script jadwal acara yang akan dia bacakan sebagai MC bersama Taehyung 3 hari lagi. Untuk kedua kalinya dia akan satu panggung dengan Taehyung. Aku tak membencinya, hanya tidak menyukai kedekatan mereka.

“Kau tunggu di sini saja, Jungkook. Setelah mengambil scriptnya, aku langsung kembali.” Setelah aku mengangguk, dia berlari memasuki studionya.

Kulirik jam tanganku, 20 menit telah berlalu dan dia belum kembali. Mungkin sebentar lagi, batinku. Panjang umur, kulihat dia keluar dari pintu studio dengan wajah sumringah, pipinya yang tembem, merah merona. Kuurungkan langkah kakiku yang siap untuk menghampirinya setelah kulihat seorang laki-laki berada di belakang Lili. Ya, dia Kim Taehyung. Mereka berdua tertawa bersama dan terlihat akrab. Pikiran di otakku sudah tidak karuan melihat keakraban mereka. Prasangka buruk menghampiri hatiku kemudian disusul rencana yang lebih buruk lagi untuk melenyapkan keakraban mereka.

Tapi sekejap hati dan otakku mendingin setelah tangan Lili menggandeng tangan kiriku.

“Seperti janjiku kemarin. Perkenalkan pacarku, Jeon Jongkook. Jungkook, Ini V, partnerku. Sebenarnya aku ingin mempertemukan kalian lebih cepat tapi jadwal kerjamu begitu padat, V. Tapi untunglah hari ini kalian bisa bertemu.” Kata Lili. Aku pun menyalaminya dan membungkukkan badan.

“Jungkook.” Kataku pendek.

“Taehyung. Kau sepertinya lebih mudah daripada aku, Jungkook?” Tanyanya untuk mengakrabkan diri.

“Iya, hyung. Lebih mudah 2 tahun dari umur hyung. Saya sudah sering mendengar tentang hyung dari celotehannya Lili.” Kataku berusaha mengakrabkan diri dengan Taehyung. Dia tersenyum dan Lili sepertinya bahagia dengan perkenalan ini.

“Kau jauh lebih tampan daripada foto di ponsel Lili yang sering dipamerkannya kepadaku.”

“Ah, tidak hyung.” Kataku merendahkan diri. Bukannya ingin membandingkan diri secara fisik tapi dia jauh, jauh, jauh lebih tampan apabila dilihat langsung daripada di televisi. Giginya yang tersusun rapi membuat senyumnya sempurna. Perempuan mana yang tidak tertarik dengan kharisma yang dipancarkannya.

“Harus ku akui, kau hebat Jungkook bisa bertahan dengan Lili selama 2 tahun ini. Hubunganku dengan Lili kandas setelah berjalan kurang dari setahun.” Hubungan? Hubungan apa? Tanyaku bingung dalam hati. Aku pun menoleh kepada Lili meminta penjelasan tapi sepertinya dia tidak menangkap kebingunganku.

“Ah, Taehyung… kejadian itu sudah lama sekali. Waktu itu kau masih terlihat sangat tampan tapi sekarang…” Kata Lili sambil tersenyum menggoda dan melirik dengan tatapan pura-pura sinis.

“Waktu itu? Jadi maksud kamu aku yang sekarang sudah tidak tampan lagi?” Tanya Taehyung pura-pura marah.

“Tunggu!” Kataku dengan suara yang mampu mengagetkan dua orang yang sedang becanda itu. “Hubungan apa yang kalian maksud?” Entah bagaimana raut mukaku saat itu hingga membuat Lili mengenggam tanganku lebih erat.

 

———————————————————————————————————

 

Lili benar-benar keterlaluan. Aku seperti orang bodoh saja saat bertemu dengan Taehyung. Dia menceritakan Taehyung yang ini, yang itu, apa yang akan mereka lalukan nantinya di panggung, apa saja yang mereka lakukan setelahnya, dan bla bla bla. Tapi Lili tidak pernah mengatakan bahwa Taehyung adalah mantan pacarnya saat di sekolah tinggi (SMA). Dua tahun aku bersamanya dan aku sama sekali tidak tahu hubungan mereka. Argh.. jelas saja mereka terlihat akrab dan cepat menemukan chemistry saat di panggung, rupanya…

Aku uring-uringan beberapa hari ini. SMS dan panggilan dari Lili aku abaikan. Tapi anehnya dia tidak mengunjungiku di apartemen atau di kampus. Entah dia merasakan kekesalan hatiku atau tidak, sepertinya dia tidak peduli. Profesinya sebagai MC pun semakin melejit, fans Taehyung yang semula tidak menyukai chemistry mereka berdua di panggung, semakin mengelu-elukan mereka dan berharap mereka berdua dapat mengisi acara lagi bersama. DAMN IT! Umpatku. Benar-benar panas melihat mereka berdua di televisi bersama. Apalagi di SNS, fans shipper mulai bermunculan. Vsong-lah, HyungNa-lah, apalah… Kuputuskan untuk keluar mencari udara segar. Mungkin semangkok ramen di minimarket depan bisa menghangatkan pikiranku.

Saat kubuka pintu apartemen, Liliana berdiri dengan badan sedikit gemetar. Entah berapa lama dia sudah berada di depan pintu apartemenku, yang aku tahu saat dia mendongkakkan kepalanya untuk menatapku, wajahnya kusut dan ada bekas air mata tapi pipinya tetap merah merona. Perasaan jengkel dan kesal yang menjalar di hatiku tiba-tiba hilang entah kemana. Ingin sekali aku menyentuhnya, membelai rambutnya lalu memeluknya dengan erat dan mengatakan aku di sini untukmu. Selalu ada untukmu. Namun ingatan tentang hubungannya dengan Kim Taehyung tak bisa kualihkan dari otakku. Rasa cemburu dan gengsiku sebagai laki-laki terlalu tinggi. Yang aku lakukan hanya membalas tatapannya, menunggu dia bicara atau menjelaskan semuanya yang telah terjadi.

Apa yang dilakukan Liliana? Dia tersenyum kemudian ragu-ragu dia menyentuh tanganku.

“Aku… aku menyukai Kim Taehyung, Jungkook-ah.” Katanya ragu-ragu. Ah… cepat atau lambat dia akan mengatakan hal ini. Aku tak siap mendengarkannya meskipun aku telah mengantisipasi emosiku untuk tidak mengamuk. “Tapi…” Lanjutnya. Sepertinya dia sudah memperkirakan reaksiku akan seperti apa jadi dia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, erat, sebelum aku melangkah mundur. “Semakin aku di sisinya, semakin aku teringat padamu. Jungkook-ah… aku tak bisa bila itu bukan kamu.” Katanya mantap.

Namun apa yang aku lakukan? Aku melepaskan genggaman tangannya dan saat dia berusaha mengenggam tanganku lagi, aku menepisnya. Entah setan mana yang merasukiku. Hatiku terlalu beku untuk menerima pengakuan seperti itu.

“Cukup, Liliana. Pulanglah. Ini sudah hampir larut malam. Maaf aku tak bisa mengantarmu. Aku terlalu capek dengan semua ini.” Bodohnya aku. Kututup pintu apartemenku tanpa melihat reaksi Lili atau mendengar penjelasannya lagi. Tak begitu lama, kudengar langkah kakinya menjauh dari pintu apartemenku.

“Arrgh…” Ku tendang tempat sampah yang tak bersalah sekencang-kencangnya hingga isinya berhamburan kemana-mana. Ada apa denganku? Sudah jelas-jelas Liliana memilihku, kenapa aku malah menyuruhnya pergi, apalagi keadaan Lili seperti itu. Belum sempat aku menanyakannya, arghh… kenapa?! Sesalku.

Tiba-tiba bel apartemenku berbunyi. Sial, kenapa ada tamu datang di saat yang tidak tepat seperti ini? Ahhh.. bodoh amat. Kubuka pintu apartemenku dan secara tiba-tiba sebuah tinju mendarat mulus di pipi kiriku membuat pembuluh darah pecah sehingga darah mengucur dari bibirku. Bertepatan dengan itu, suara teriakan seorang perempuan juga terdengar. Belum sempat aku melihat siapa yang memukul dan yang menjerit, sebuah pukulan mendarat mulus di perutku.

“Ugh…” aku mengerang kesakitan.

“Bodoh sekali kau, Jungkook!!” Rupanya Kim Taehyung. Dia mencengkeram kerah bajuku dengan kuat hingga membuat aku sulit bernapas.

“Hentikan, Kim Taehyung!!!” Suara Lili lebih histeris lagi sambil berusaha melepaskan cengkraman taehyung dariku.
Lagi. Aku terjebak pada situasi yang sulit aku mengerti. Entah karena aku terlalu bodoh atau mereka mempunyai dunianya sendiri dan aku kebetulan masuk ke dunia mereka, aku tidak tahu. Aku tidak mengerti.

“Asal kau tahu, Jungkook!!! Liliana datang malam-malam ke rumahku hanya untuk mengatakan bahwa dia tak bisa hidup tanpamu. Setelah mengatakannya kepadaku, dia langsung berlari ke sini. Entah dia tersesat di jalan atau tidak, kau lebih mengetahuinya.” Kim Taehyung melepaskan cengkramannya dan mendorongku hingga aku terjatuh. Liliana menghampiriku dan memelukku. “Tetapi kau malah membiarkannya pergi. Aku tak habis pikir dengan sikapmu.” Kata Taehyung uring-uringan sambil menendang tempat sampah. “Selesaikan malam ini juga urusan kalian!! Kau Jungkook, jangan coba-coba membiarkan Liliana pergi lagi!!!” Kim Taehyung menutup pintu apartemenku dengan sangat keras. Kenapa dia yang marah? Seharusnya aku yang kesal. Aku membutuhkan penjelasan dari semua ini.

Aku mendengar isakan tangis Liliana. Dia menangis hingga seluruh tubuhnya bergetar. Kucoba melepaskan pelukannya tapi dia tak rela. Pelukannya semakin erat.

“Li…” Panggilku lembut. “Jika kau terus memeluk seperti ini, koran esok hari akan ada headline ‘Pria terbunuh setelah dicekik mesra oleh kekasihnya’. Konyol sekali. Aku tak mau mati seperti itu, Li.” Liliana melepaskan pelukannya dan masih menangis. Kuusap air matanya dengan lembut. Make-upnya sudah belepotan. Matanya seperti mata panda. Panda dengan pipi merona. Ahh… curang sekali kau, Lili. Rasa kesalku menguap begitu saja.

Masih dengan isakan tangis, dia berjalan mengambil kotak P3K, menuntunku menuju sofa di ruang tamu. Dengan hati-hati dia mengobati luka di bibirku yang entah kenapa sama sekali tidak terasa sakit. Aku memegang tangannya yang sedang mengobati lukaku.

“Sudah tidak sakit lagi, Lili.” Kataku lembut.

“Tapi hatimu sakit.” Katanya sambil menyentuh dadaku. Air matanya menetes. “Jungkook-ah, biarkan aku menjelaskan ini semua. Jangan potong semua penjelasanku, ya. Aku mohon. Dengarkan baik-baik. Jangan menyuruh pergi. Biarkan aku di sini. Kumohon…”

“Sebelum aku mendengarkan penjelasanmu yang mungkin akan membuat kita tidak tidur malam ini, sebaiknya kau mandi terlebih dahulu. Aku juga akan merapikan apartemenku yang seperti kapal pecah. Aku tidak tahan melihat kamu dan apartemenku berantakan. Bagaimana?” Liliana mengangguk dan segera melangkah menuju kamar mandi. Aku pun segera bangkit dari tempat dudukku tapi ughh… nyeri di perutku masih terasa. Sialan Kim Taehyung!

Tak berapa lama, ruanganku telah rapi kembali dan tak lama juga Liliana keluar dari kamar mandi. Wajahnya segar kembali tetapi matanya masih tetap sendu.

“Duduklah terlebih dahulu, Li, akan kubuatkan secangkir coklat panas kesukaanmu.” Liliana menggeleng, aku tetap keukeuh.
Saat sedang mengaduk coklat, Liliana tiba-tiba memeluk punggungku.

“Aku tidak akan menyuruhmu pergi, Li.” Kataku sambil menyentuh lengannya dengan lembut.

“There’s nothing wrong with two of us, we just need to talk. Nothing in this world can split the two of us. You did nothing wrong, so please stop being so angry.” (TEEN TOP – I’M SORRY)

“I only have you.” Kataku lembut.

“Please return to me. Hold my hand again.” Aku membalikkan badanku dan tersenyum tulus kepadanya.

“Drink it, Liliana. It can makes you feel better.” Liliana meminum coklat panas itu sedikit demi sedikit hingga tak tersisa. Kugandeng tangannya dan mengajaknya ke kamar tidur. “Tidurlah, Li.” Kutarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.

“Tapi, Jungkook…” Kucium pipi merah meronanya sebelum dia melanjutkan perkataanya.

“Kau bisa ceritakan esok hari, Li. Aku akan tetap di sini. Tetap di sampingmu jadi kau tidak perlu khawatir.” Kataku sambil membelai rambutnya. Liliana mengangguk dan memejamkan matanya.

“Ada yang kau risaukan lagi?” Tanyaku karena tiba-tiba dia membuka matanya.

“Iya.” Katanya.

“Katakan!” Dia mengenggam erat tanganku.

“Bisakah kau menciumku, Jungkook? Agar aku yakin kamu…” Kukecup bibirnya lembut. Dia membalas kecupanku. Kemudian dia tertidur lelap hingga keesokan harinya.

Advertisements

12 thoughts on “[FF Freelance] I Only Have You

  1. Wah ini keren thor~ ciatt ciaat knp suka sekali kalo liat kookie & tae pukul pukulan di ff wkekee
    bgus bhs fanficnya jg kece sayangnya endingnya murang jls byk konflik yg aku blm jelas, tapu suka kok
    di tnggu karya lainnya xD

    Like

    1. Terima kasih sudah baca ff saya 🙂 sengaja bikin endingnya ngambang karena *niatnya nih* bikin sekuelnya hehe.. ff pertama jadi mungkin masih banyak kekurangan. Sekali lagi terima kasih sudah nyempetin waktu buat baca dan comment 🙂

      Like

    1. Mohon bantuan doa ya… semoga saya dapat inspirasi dan waktu untuk membuat sequelnya. Serius.. sampai detik ini saya belum menemukan dorongan untuk mengetik 😦

      Like

  2. Hai L!

    Ternyata ini ff mu? Sebenarnya aku udh lama baca ini. Maaf ya…

    Biasanya Vkook jadi sahabat, saudara atau sebagainya tp dsni jd rival. Antimainstream dah…

    Skli lg maaf ya terlambat corat-coretnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s