fluff · G · Genre · Length · One Shoot · Rating · Teen

Babo ya Jung Chan Woo


 

2015-01-21-10-07-03_decoedit

 

Titte: Babo ya Jung Chan Woo

Author: ts_sora

Cast: iKon’s Jung Chan Woo and OC’s Choi Eun Ji

Length: one-shoot

Genre: fluff

Disclaimer: The artists are belongs to their company and This story is belongs to me. The original idea came from me. No plagiarism juseyo

A/N: anyeong haseyo.. baiklah, kini readers membawakan fanfiction baru dengan cast Jung Chan Woo. Mungkin beberapa orang mungkin bingung dengan siapa sebenarnya Jung Chan Woo. Jung Chan Woo adalah the final member of new group of YG yang akan debut secepatnya. Haha. Mungkin masih belum pada ngerti. Cobalah untuk cek Mix and Match, you’re gonna know him well :> Enjoy it.

 

#HappyChanWooDay

 

———————————————————————————————————————

 

 

Jung Chan Woo tersenyum tipis saat layar ponsel miliknya menampilkan sebuah nama yang tak asing lagi untuknya. Ya, Choi Eun Ji. Benar, hari ini ia berencana untuk bertemu dengan gadis yang ia kencani kurang lebih satu tahun terakhir. Jung Chan Woo kembali memasukkan ponsel miliknya dan menahan tawanya saat ini. Sekiranya ia ingin membuat sebuah kejutan untuk gadis itu.

 

Ya, setidaknya untuk beberap bulan yang lalu, mereka tak dapat bertemu satu sama lain. Hal ini dikarenkaan jadwalnya begitu padat untuk beberapa bulan belakangan ini. Benar, siapa yang tak mengenal Jung Chan Woo? Dia adalah salah satu laki-laki yang telah resmi menjadi member iKon. Sebelumnya, ia juga merupakan actor figuran pada beberapa drama Korea, ah dan satu lagi, ia adalah laki-laki muda dengan wajah tampan di Seoul.

 

Dan sudah pasti semua gadis-gadis memujanya. Namun, tidak untuk Choi Eun Ji.

 

Ya, gadis yang satu itu tak pernah memandangnya tampan, itu yang pernah diakui gadis itu saat mereka pertama kali bertemu. Bahkan, gadis itu tak pernah menyadari bahwa ia adalah seorang trainee pada salah satu perusahaan yang merupakan tiga perusahaan hiburan terbesar di Seoul. Entahlah, ia gadis yang tak peduli dengan hal-hal berbau seperti demikian.

 

Jung Chan Woo tersenyum saat sekiranya sebentar lagi ia akan tiba di salah satu café favorit keduanya. Jung Chan Woo mengembangkan senyumnya menatap setangkai bunga yang ia baru saja beli pada salah satu took bunga di tengah perjalanannya. Mungkin akan terlihat sedikit cheesy, namun—ayolah. Ia memang butuh sebuah perlindungan saat ini.

 

“H-hai,” ucap Jung Chan Woo menyembunyikan salah satu tangannya di balik punggung, sedangkan tangan lainnya ia sengaja lambaikan pada gadis berambut pendek yang tengah duduk pada salah satu meja. Senyum Jung Chan Woo sedikit getir mengingat gadis itu tak meresponnya.

 

Dengan nafas sedikit berat, laki-laki itu lantas mendudukkan dirinya pada salah satu bangku tepat di hadapan gadis tersebut. Masih sama tanpa senyum apapun, gadis itu masih menatapnya dengan pandangan yang–sedikit mengerikan.

 

“Aku–“

 

“Kau demam saat training bukan? Aku melihatnya,”
Jung Chan Woo sedikit mengernyit. Butuh beberapa detik ia mencerna kalimat tersebut, namun sebuah senyum kembali laki-laki itu tampakkan.

 

“Kau melihatnya?” tanyanya sedkit tak percaya. Ya, yang ia tahu, gadisnya tak menyukai jika dirinya mengikuti training, meski ia tahu bahwa mereka berkencan bahkan saat Chan Woo menjalani training.

 

“A-aku–Maksudku, ibumu yang memberitahuku tentang itu,” aku gadis itu sedikit berusaha membenahi nada suaranya. Jung Chan Woo sedikit kecewa mendengarnya, namun kemudian ia teringat pada sesuatu yang ia sembunyikan di balik punggungnya sedari tadi.

 

“Jang!” ucap Chan Woo sedikit berisik. Ya, kini ia memperlihatkan setangkai bunga yang sengaja ia beli tadi. Ya, berharap gadis itu tersenyum.

 

“Untukku?”
Jung Chan Woo menghembuskan nafasnya pasrah.

 

“Apakah dalam beberapa bulan, seseorang bisa berubah sepenuhnya? Kau tahu, aku berharap kau memberikan aku sesuatu atau–kau tahu kan, sebuah ucapan yang–entahlah,”

 

Jung Chan Woo meletakkan tangkai bunga tersebut di meja. Ia menarik kedua tangannya kembali dan ia sengaja masukkan ke dalam kedua kantung sakunya. Ia lantas mengalihkan pandangannya saat ini. Oh ayolah, ia sangat mengenal gadis yang ada di hadapannya, namun saat ini ia seperti bertemu dengan seorang gadis yang baru ia kenal beberapa menit yang lalu.

 

Choi Eun Ji membuang nafasnya kali ini saat laki-laki itu bertindak seperti demikian. Ia lantas memaksa kedua ujung bibirnya untuk terangkat.

 

“C-chan Woo..”

 

“AH!!”

 

Jung Chan Woo membalikkan tubuhnya saat sekiramnya ia mendengar sebuah suara yang terdengar begitu melengking. Ia terkejut saat beberpa gadis berseragam sekolah berlari ke arahnya. Ia menatap Choi Eun Ji yang berada di hadapannya dengan sedikit canggung. Ya, ia tahu akan seperti ini jadinya. Dan akan selalu seperti ini saat ia berada bersama Choi Eun Ji.

 

Choi Eun Ji mengangguk pelan. Ia tahu apa arti tatapan Chan Woo padanya. Ia akan menjadi seorang idola secepatnya, dan ini adalah salah satu resiko berkencan engan seorang Chan Woo. Ya, berusaha menjadi seseorang yang tak terlihat.

 

Choi Eun Ji beranjak dari bangkunya, ia meraih tas miliknya dan berjalan pergi meninggalkan Chan Woo, sat sekiranya gadis-gadis berserangam tadi mulai menyerang Chan Woo. Ya, sekumpulan penggemar yang ingin dilayani oleh idolanya.

 

 

Jung Chan Woo mengetikkan beberap kata pada ponsel miliknya sebelum ia mengirimkannya pada sebuah kontak. Benar, Choi Eun Ji. Ia mengigit bibir bawahnya sembari menatap sebuah kamar yang berada di lantai dua pada sebuah rumah berukuran cukup besar yang berada tak jauh di hadapannya.

 

Namun tirai jendela kamar tersebut tak terbuka atau mungkin sengaja tidak dibuka sejak beberapa jam yang lalu.

 

Oke, ia tahu bahwa Choi Eu Ji marah padanya saat ini. Dan ia berani bertaruh, Choi Eun Ji tak akan sudi membalas pesannya untuk bebrepa minggu ke depan—oh tidak, mungkin selamanya.

 

Jung Chan Woo menekan kontak gadis itu sebelum ia menekan ikon ‘panggil’. Ia sedikit mengerang saat setidaknya gadis itu masih saja mendiamkan dirinya.

 

“Choi Eun Ji! Aku tahu kau ada di sana! Aku akan menunggumu di sini, jika perlu berhari-hari!”

 

 

Choi Eun Ji membuka sedikit tirai jendelanya. Ia membuang nafasnya kesal. Ya, setidaknya sosok laki-laki itu tidak pergi sejak dua hari yang lalu. Benar, Jung Chan Woo.

 

Ia membenci laki-laki itu. Ya, apakah ia tiodak tahu bahwa ia merindukannya selama ini? Ia hanya bisa melihat laki-laki itu lewat layar televisi miliknya untuk beberapa hari yang lalu? Melihat laki-laki itu yang benra-benra berusaha keras untuk meraih mimpinya? Melihat laki-laki itu dimarahi oleh salah satu hyung-nya? Melihatnya berlatih hingga ia jatuh sakit? Apa ia tak tahu bahwa ia benar-benar tak meninggalkan bahkan untuk sedetik pun saat acara itu dilangsungkan?

 

Dan saat ia bisa bertemu dengannya, kenapa ia seakan tak mempedulikannya? Atau—memang dirinya yang membuang waktunya saat ia bertemu dengan laki-laki itu?

 

Choi Eun Ji kembali menatap laki-laki yang masih tidak mau bergeming dari tempatnya lewat sela tirai yang tadi ia buka sedikit. Ia tersenyum tipis saat ia dapat melihat laki-laki itu menyapa beberapa orang yang berlalu lalang di hadapannya. Ya, laki-laki itu memang laki-laki yang sangat sopan. Bukan, bahkan terlampau sopan.

 

Senyum Choi Eun Ji menghilang perlahan saat ia teringat kembali dimana laki-laki itu menemuinya di café beberapa hari yang lalu. Ya, Jung Chan Woo terlihat begitu kurus, bahkan ia tak yakin saat itu ia bertemu dengan Chan Woo yang bahkan ia hafal pada timbunan lemak pada kedua pipinya.

 

Apakah laki-laki itu sudah makan? Laki-laki itu terlalu lama menghabiskan waktnya di depan sana menunggunya. Dan ia tahu pasti bahwa laki-laki itu sama sekali belum memakan sesuatu. Apa ia harus membukakan tirai jendela ini? Atau menelponnya dan mengatakan bahwa ia memaafkan laki-laki itu? Suaya ia bisa pulang dan memakan makan siangnya?

 

Ah tidak.

 

Ia tak mau melakukannya. Toh, ini semua adalah salah laki-laki itu. Jika laki-laki itu tak mengabaikannya saat itu, ia tak akan semarah ini padanya dan laki-laki ytak mungkin berada di sana untuk menunggunya.

 

Choi Eun Ji menunjuk-nunjuk sebuah bingkai foto yang sengaja ia letakkan pada sebuah meja dekat ranjang tidurnya. Ya, sebuah foto laki-laki itu tengah terpampang pada bingkai tersebut. Choi Eun Ji mengerucutkan bibirnya seraya masih menunjuk-nunjuk foto laki-laki yang masih tersenyum lebar di sana.

 

“Babo ya Jung Chan Woo ya,”

 

 

Choi Eun Ji berjalan sedikit mengendap-endap, menatap sekelilingnya. Ia lantas membuang nafasnya lega. Baiklah laki-laki itu tidak ada di di sini lagi. Benar, di saat hari-hari dimana ia harus sekolah, laki-laki itu pasti berada di tempat trainingnya saat ini, berlatih untuk menjadi salah satu idol nantinya. Tapi—apakah ia tak akan menunggunya lagi untuk sebuah maaf darinya?

 

Ah, apa yang kau pikirkan Choi Eun Ji.

 

Choi Eun Ji membuka tirai jendelanya saat ia tiba di kamar miliknya. Ia memandang sebuah pohon dimana laki-laki itu biasa menunggunya. Baiklah, apa laki-laki itu benar tak datang kali ini?

 

Oh!

 

Choi Eun Ji menutup kembali tirai jendelanya saat sesosok laki-laki mengenakan jaket bewarna hitam dengan tudung yang sengaja ia kenakan, berjalan menuju pohon yang Choi Eun Ji klaim sebagai pohon Chan Woo.

 

Choi Eun Ji tersenyum puas, sekiranya laki-laki itu adalah Chan Woo. Baiklah, ia akui kini ia lebih mirip seorang penguntit yang memandangi kekasihnya sendiri pada cela tirai jendela miliknya kini.

 

Senyum gadis itu perlahan menghilang, saat ia yakin bahwa laki-laki tidak terlihat sehat saat ini. Ya, itu terlihat dari wajahnya yang terkesan pucat saat ini. Dan—ya,wajahnya tak bersemangat saat ini.Apakah laki-laki itu mulai lelah menungguinya?

 

Ia akui, ia mulai tak tahan saat ini. Tapi—tidak! Ia tak bisa mengalah atas perang dingin yang ia mulai sendiri. Ya, ini semua karena Chan Woo, dan semua adalah kesalahan Chan Woo. Bila saja saat itu ia tak mengabaikannya. Ya—seperti itu.

 

Choi Eun Ji membuang nafasnya, ia masih terlihat khawatir saat ini. Ia lantas menutup tirai jendelanya sepenuhnya.

 

“Baiklah, lihat saja Chan Woo ya, seberapa kuat kau menungguku hm?” ucapnya begitu tegas, namun di dalam hatinya, “kuharap ia baik-baik saja,”

 

 

Choi Eun Ji mengigit bibir bawahnya saat sekiranya Chan Woo masih tak bergemin dari tempatnya. Ya, kini langit benar-benar menggelapkan dirinya dan ia tahu, salah satu ramalan cuaca m,engatakan bahwa mala mini akan turun hujan. Oh ayolah, apakah laki-laki itu tak menonton ramalan itu?

 

Bodoh. Tak mungkin. Karena ia tahu, laki-laki itu tak berada di mana-mana selain berada di depan rumahnya berjam-jam. Ah bukan, lebih tepatnya berhari-hari.

 

Choi Eun Ji masih saja memandangi laki-laki itu lewat celah tirai jendela yang sengaja ia buka sedikit. Wajahnya terlihat khawatir sejak bebrepa jam yang lalu, namun ia bertambah khawatir saat bebrapa titik hujan menampakkan dirinya.

 

Laki-laki itu berjalan lebih mendekat pada pohon berukuran cukup besar tersebut, sekedar melindungi dirinya, namun usahanya sia-sia saat hujan begitu lebat saat ini. Laki-laki itu terlihat begitu basah kuyub, meski ia tengah mengenakan jaket saat ini.

 

Choi Eun Ji lantas berlari menuju pintu depan, mengambil sebuah payung dan hendak memutar knop pintu, namun—apakah ia harus memberikan payung tersebut? Dan ia merasa tak berkemanusiaan karna membiarkan laki-laki itu berada di sana berhari-hari menungguinya?

 

Choi Eun Ji mengurungkan niatnya sekali lagi. Ia masih membawa sebuah payung pada salah satu tangannya dan kembali memasuki kamarnya. Ia kembali menatap laki-laki itu dari jauh. Masih sama, lewat sebuah sela tirai jendela yang terbuka sedikit.

 

Choi Eun Ji merasa bersalah saat ini. Ya, bagaimana tidak, ia berpura-pura tidak melihat laki-laki itu tengah kehujanan menungguinya, sengaja tak membukakan pintu untuknya, dan—ayolah, apa yang telah ia buat selama ini? Ia tahu ia sangat berlebihan saat ini.

 

Jung Chan Woo terlihat membersihkan wajahnya dari beberapa tetes hujan yang membasahi wajahnya sedari tadi. Namun usahanya gagal total, meski ia berusaha beribu kali, hasilnya tetap saja. Matanya masih intens menatap jendela kamar Choi Eun Ji, berharap seseorang tersenyum padanya atau memberikan sebuah payung untuknya. Meski harapannya mulai pupus perlahan.

 

Jung Chan Woo tahu, ia nampak bodoh saat ini karena berada di luar saat hujan tengah turun dengan derasnya, tapi ia tak peduli itu. Ia tahu bahwa saat ini Choi Eun Ji tengah berada di sana dan menunggunya. Ya, ia tahu itu. Choi Eun Ji bukanlah oranglah yang tega melakukan inin semua padanya.

 

Namun sekiranya salah satu ujung bibirnya entah mengapa terangkat. Ya, setidaknya sesuatu tengah melintas di otaknya saat ini.

 

 

Choi Eun Ji dapat melihat wajah Chan Woo sangat jauh dikatakan sehat. Ya, ia tak baik-baik saja dan kini telah menunggunya di luar dengan derasnya hujan. Choi Eun Ji menggenggam erat pegangannya pada payung entah telah berapa menit ia genggam sedari tadi. Ia sudah mengenakan jaketnya dan sebenranya telah siap untuk keluar kapan saja menemui laki-laki itu—tapi entahlah, ia masih belum bisa melangkahkan kakinya keluar sana.

 

Kini Jung Chan Woo bersandar pada pohon yang sama basahnya dengan dirinya saat ini. Lkai-laki itu terlihat menutup kedua matanya sejenak. Entahlah, tapi sungguh itu membuat Eun Ji ketakutan saat ini. Apakah laki-laki itu benar baik-baik saja?

 

Namun benar apa yang ia pikirkan. Semenit kemudian tubuh laki-laki itu tumbang dan mendarat bebas pada jalanan yang kini basah kuyup. Choi Eun Ji terlihat begitu cemas saat ini. Baiklah, ia harus keluar saat ini.

 

Ia berlari menuju anak tangga begitu cepat dan pasti dengan sebuah payung yang senantiasa bersamanya. Sungguh, ia kali ini tak bisa bernafas dengan baik. Bagaiamna tidak, Chan Woo tergeletak di sana karenanya!

 

Jung Eun Ji berlari menuju kerumunan orang yang tengah mengerumuni Chan Woo saat ia telah memastikan payungnya terbuka dengan sempurna saat ini. Ia menggigit bibirnya saat benar Chan Woo lah yang kini tak sadarkan diri di hadapannnya.

 

“Ya, Chan Woo ya. Bangunlah,”

 

Choi Eun Ji menepuk salah satu pipi laki-laki itu perlahan. Bagaimana tidak beberapa orang juga tengah mengakhawatirkan laki-laki itu saat ini. Bhkan ia tahu bahwa salah seorang telah memanggilkan petugas medis demi laki-laki itu. Oh baiklah, Choi Eun Ji kau membuat semuanya terasa begitu buruk. Namun. .

 

Sebuah suara aneh entah kenapa terdengar. Choi Eun Ji yakin bahwa suara tersebut berasal dari Chan Woo yang kini masih tak sadarkan diri, namun laki-laki itu tiba-tiba saja mengangkat sempurna kedua ujung bibirnya bahkan laki-laki itu tak segan terkekeh saat ini.

 

Choi Eun Ji juga beberapa orang lain yang mencoba menolongnya masih menatap laki-laki yang tidur pada pangkuan gadisnya tersebut bingung. Mereka masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi sebelum laki-laki itu benar emmbuka matanya lebar. Dengan masih setengah terkekeh, ia berkata,

 

“Aku lapar,”

 

 

Choi Eun Ji mengaduk ramen cup nya dengan begitu kesal. Ia menatap laki-laki yang tengah melahap cup kedua ramennya. Laki-laki yang merasa sedikit risih dengan pandangan tersebut lantas menghentikan aksinya.

 

“Wae?” tanya laki-laki itu polos. Choi Eun Ji melayangkan sebuah pukulan ya g cukup keras padah salah satu tangan laki-laki itu yang berhasil membuat si empunya mengerang.

 

“Kau berpura-pura pingsan dank au maih bilang kenapa?”

 

“Ada apa? Aku benar-benra lapar,” ucap laki-laki itu masih membela. Ia lalu mengelus sebelah tangannya yang tadi tersakiti.

 

“Ya! Bagaimana kau bisa bilang begitu? Kau membuat semua orang khawatir? Bagaimana jika petugas medis itu akhirnya datang eoh?”

 

“Itu bagus kan? Mereka akan menyalahkanmu akrena membiarkanku menunggumu berhari-hari,”

 

“Ya!” Choi Eun Ji telah bersiap dengan cup ramen yang sama sekali belum ia sentuh untuk segera ia siramkan pada kekasihnya sebelum akhirnya semua orang yang ada di convience store tengah memandangnya. Choi Eun Ji menarik nafasnya dalam sebelum ia mengeluarkannya kembali.

 

“Kau tak ingat kau menghiraukanku saat itu?”

 

“Aku? Bukannya kau yang menghiraukanku? Aku bahkan datang, kau hanay memberikan ekspresi dingin tanpa mengatakan sesuatu yang berarti,”

 

Cho Eun Ji menarik nafasnya sekali lagi sebelum akhirnya ia benar-benar mendudukkan diirnya kembali pada bangku yang tadi ia duduki. Ia lantas mengambil kembali cup ramennya dan meniup-niupinya perlahan. Biklah, inti dari semua kesalahan memang berasal darinya. Dari pertemuan mereka dan saat membiarkan laki-laki itu menungguinya berhari-hari.

 

Jung Chan Woo membuang nafasnya. Baiklah, ia sedikit keterlaluan saat ini. Ia meletakkan cup ramen kosong miliknya. Ia memandang Choi Eun Ji yang enggan menatapnya kali ini. Ia lantas meraih salah satu tangan gadis itu, meminta gadis itu untuk menatapnya.

 

“Aku minta maaf. Bukan kau yang salah, tapi aku,” ucap Jung Chan Woo merekahkan senyumnya saat mata keduanya saling bertemu.

 

Choi Eun Ji merasa kalah saat ini. Ya, ia memang menunggu saat Jung Chan Woo mengatakan maaf padanya, namun itu yang membuatnya merasa bertambah buruk.

 

“Aku tahu kau sama sekali tak menyukai saat aku melakukan sebuah training untuk menjadi seorang idola. Tapi. . aku tak bisa menghentikan itu semua,” ucap Jung Chan Woo dengan sebuah senyum lain. Namun senyum itu terasa menyedihkan untuk dilihat.

 

“Jika aku memang memilih untuk menjadi seorang idola, dan padanya akhirnya kau akan marah besar padaku—kau boleh memarahiku mulai sekarang. Tapi maaf aku tak bisa menghentikan langkahku untuk mengejar mimpiku,” imbuh laki-laki itu sekali lagi. Kini ia tak mau memandang gadis yang ada di hadapannya saat ini. Entahlah. Ia sama sekali tak ingin melihat reaksi yang akan diberikan gadis itu di hadapannya.

 

“Atau. . jika kau ingin menamparku, kau bisa menamparku sekarang. Tapi jangan pernah kau memberikanku pilihan untuk memilihmu atau mimpiku. .”

 

Jung Chan Woo berusaha keras menelan ludahnya yang terasa sangat sulit untuknya. Ya, bagaimana tidak, kalimat barusan adalah sebuah kalimat yang secara terang-terangan meminta sebuah peperangan dengan Choi Eun Ji. Percayalah, Choi Eun Ji pernah memarahinya habis-habisan hanya karena ia mengikuti acara itu. Ya, sebuah acara survival untuk menjadi member tetap sebuah group yang akan debut secepatnya.

 

“Karena aku tak akan pernah memilih salah satu antar keduanya,” lanjutnya dengan kalimat sedikit bergetar. Ia lantas menutup matanya saat ini. Entahlah, ia merasa bodoh saat ini. Ia lebih pantas dikatakan sebagai seorang penakut saat berhadapan dengan gadis seperti Choi Eun Ji. Oh bukan, mungkin lebih tepatnya satu-satunya gadis yaitu Choi Eun Ji.

 

Choi Eun Ji terdiam saat kalimat tersebut dilontarkan dan ia masih terdiam saat laki-laki itu menutup matanya tanpa alasan. Choi Eun Ji membuang nafasnya pelan sebelum ia benar-benar beranjak dari bangkunya seklai lagi. Ia mendongakkan tubuhya bebrepa derajat ke depan sebelum akhirnya sebuah kecupan ia layangkan pada dahi laki-laki itu.

 

Bagai sebuah sengatan listrik tertentu, Jung Chan Woo membuka kedua matanya dengan sangat sempurna. Ia masih bisa merasakan kecuupan gadis itu pada dahinya saat ini sebelum akhirnya gadis itu mulai menjauh perlahan dan kembali duduk di bangkunya. Gadis itu berdehem pelan seakan berusaha menghilangkan kecanggungan tentang apa yang baru saja ia lakukan tadi. Ya, itu terlihat jelas dari semua merah di kedua pipinya yang dapat Chan Woo lihat dengan sangat jelas saat ini.

 

“Bodoh,” ucap Choi Eun Ji yang sedikit mengayunkan salah satu tangannya di wajahnya. Ya, suhu tubuhnya kini tiba-tiba saja meningkat atas tindakan yang err—tanpa sadar Choi Eun Ji lakukan.

 

“K-kau kira aku akan menghentikan langkahmu? Kau kira aku tidak mendukungmu selama ini?”

 

Jung Chan Woo masih berada di bangkunya, menatap gadis itu tak mngerti. Bahkan ia masih tak paham atas kecupan yang diberikan gadis itu padanya tadi. Ya, hal ini adalah hal pertama yanggadis itu lakukan padanya.

 

Choi Eun Ji mengatur nafasnya agar laki-laki itu tak menertawainya akibat rasa gugup yang ia alami, namun tetap saja.

 

Choi Eun Ji memang tengah berbicara dengan laki-laki itu namun kedua matanya sibuk untuk memmandangi hal lain.

 

“S-saat itu—m-maksudku saat kau bilang kau akan mengikuti acara itu, a-aku hanya takut kau akan kelelahan dan pada akhirnya jatuh sakit atau pada nantinya tak terpilih, jadi aku melarangmu,”

 

Choi Eun Ji menarik nafasnya sekali lagi sebelum pada akhirnya ia membuka mulutnya,

 

“Tapi kau begitu giat berlatih, bahkan memang saat kau jatuh sakit, kau masih mau berlatih. B-bahkan aku tersulut emosi saat salah satu hyung-mu bertindak seenaknya padamu. S-saat itu, aku benar-benar ingin memintamu pulang,”

 

“Sehingga, aku tahu kau memang ingin menjadi bagian dari merka. Dari saat itu pula, aku benar-benra ingin mendukungmu. K-kau tahu, aku terkadang merasa menjadi kekasih yang paling buruk karena menjadi satu-satunya orang yang tidak mendukungmu,” imbuh Choi Eun Ji pada akhirnya. Ia masih menundukkan kepalanya sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk memandang laki-laki yang ada di hadapannya.

 

Choi Eun Ji merasa lega saat laki-laki itu menatapnya dengan senyum yang mengembang dengan sangat baik, namun hal itu lantas membuatnya semakin gugup.

 

“Jadi kau menonton acara itu?” tanya Jung Chan Woo menggebu-gebu. Kenapa tidak? Ia sangat senang saat ini.

 

“Tentu,” jawab Choi Eun Ji sedikit tenang kiranya.

 

“Kau juga melakukan voting untukku?”

 

“Ya, bahkan dengan berbagai cara. Ah, aku bahkan datang pada fan meeting kalian,” ucap Choi Eun Ji yang kini dapat menghilangkan sepenuhnya rasa gugupnya. Seperti dugaannya, Jung Chan Woo merasa begitu senang atas pengakuannya saat ini. Dan baiklah, apakah laki-laki itu mengetahui bahwa tadi ia benar-benar gugup?

 

“Wah daebak!” ujar Jung Chan Woo menepuk tangannya saat ini. Ia benar-benar bangga mendengar apa yang dikatakan gadis itu padanya. Siapa yangv menyangka bahwa gadis itu akan melakukan itu semua uintuknya? Yang ia tahu, gadis itu adlah orang yang berada di garis terdepan yang tidak mendukungnya. Oh tunggu, bukan sepenuhnya, lebih tepatnya ia terlalu khawatir tentang apa yang akan Chan Woo hadapi nantinya.

 

“Karena aku telah berhasil melakukannya, apa kau tak menyiapkan sesuatu untukku? Seperti hadiah mungkin?”

 

Choi Eun Ji terdiam saat ini. Oh baiklah, ia baru saja melakukannya tadi, apakah laki-laki itu tak menyadarinya?

 

“B-bukankah tadi..”

 

“Ah, kau bilang saat kau mencium dahiku tadi?” ucap Jung Chan Woo tanpa ragu. Dalam sekejap Choi Eun Ji dapat merasakan wajahnya benar-benar bersemu merah saat ini. Oh ayolah, apakah laki-laki itu ingin mengerjainya saat ini?

 

Choi Eun Ji mengangguk ragu.

 

“Mwo? Kau bilang itu sebuah hadiah? Kau seharusnya memberikanku sebuah hadiah lebih dari itu..”

 

Jung Chan Woo meletakkan kedua tangannya di meja saat ini. Sebuah senyum nakal entah kenapa terlihat di bibirnya saat ini. Choi Eun Ji tahu apa maksud itu.

 

“Ya! jangan pernah berpikiran yang aneh-aneh,”

 

Jung Chan Woo tertawa lepas kali ini. Oh baiklah, ia memang menginginkan itu, tapi ia tahu itu bukan saatnya. Tujuan utamanya hanya ingin membuat gadis itu itu tersipu, itu saja.

 

“Oh ayolah kau harus memberiku sesuatu,” ucap Jung Chan Woo yang kali ini benar-benar menghentikan tawanya. Ia lantas meraih cup ramen milik Choi Eun Ji yang kini bebas dari genggaman gadis itu. Ia kemudian melahapnya.

 

Choi Eun Ji membiarkan adanya hal itu. Matanya masih intens memandang Jung Chan Woo yang masih melahan ramen dingin miliknya kini. Ia melihat laki-laki itu dari ujung rambut, wajah bahkan apa yang dikenakan sekarang. Sekiranya tubuh laki-laki itu mulai mongering perlahan akibat air conditioner di convience store saat ini.

 

Ia lalu melihat sebuah robekan kecil pada lengan jaket milik Chan Woo, kemudian sebuah senyum lain mulai terbentuk di wajahnya.

 

“Ah! Bagaimana kalau sebuah jaket baru?”

 

Jung Chan Woo menatap kembali gadis yang dihadapannya sembari mengunyah ramen yang ada di mulutnya sebelum ia benar-benar menelannya dengan sangat baik.

 

“Mwoya? Tidak, kau memberikan jaket ini setengah tahun yang lalu, dank au ingin memberiku lagi? Andwae,”

 

“Ya! Lihat lubang yang ada di jaket itu? Kau terlalu sering mengenakannya. Warananya saja sudah berubah,”

 

“Andwae, ini sudah cukup nyaman,”

 

Choi Eun Ji merengut. Oh ayolah ia ingin memberikan sebuah jaket baru untuk laki-laki itu. Namun sekiranya laki-laki itu menolaknya dengan mentah-mentah. Sebuah ide lain kemudian terlintas begitui saja di otaknya. Choi Eun Ji lantas mengambil sebuah cup ramen yang tadi Chan Woo makan. Cup yang emmang tak berisikan ramen tersebut, setidaknya masih tersisa kuahnya saja.

 

Choi Eun Ji lantas beranjak dari bangkunya, ia lantas menyiramkan kuah berminyak dan masih memiliki bau khas ramen tersebut pada jaket yang dikenakan Chan Woo. Choi Eun Ji kini tertawa puas saat melihat ekspresi Chan Woo.

 

“Kau harus menerimanya,” ucap Choi Eun Ji yang memasang ancang-ancang untuk berlari saat ini.

 

“Y-aya, C-Choi Eun Ji, apa yang kau—“

 

“Kau harus menerima hadiahku annti,” ucap Choi Eun Ji menjulurkan lidahnya sebelum ia benar-benar melarikan diri dari laki-laki itu.

 

 

Oh baiklah Jung Chan Woo, kau benar-benar bodoh.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s