General · Genre · Length · One Shoot · sad

Secret Behind (One Shoot)


IMG_20141012_112309Edit

Title: Secret Behind

Author: ts_sora

Cast: iKON B.I (Kim Han Bin) and other members

Length: one-shoot

Disclaimer: The story belongs to me and the casts belong to their entertainment company. No plagiarisme juseyoo

A/N: anyeong! Well, pertama kali buat fanfiction dengan cast Han Bin, karena habis nonton mix and match hehe. Yang gatau, silakan tonton ya, sblm baca ini/? Haha. Episode ‘treasure hunt’ wajib ditonton *-* just enjoy

————————————————————————————-

——————————————————–

‘ This box is made of silver shell. This is my treasure, there is a secret behind it that i can’t tell. .’

Kim Han Bin membuka beberapa laci di kamar dimana ia tinggali. Ia berkali-kali mendengus saat apa yang ia cari selama ini tak ia ketemukan. Ya, sebenarnya barang tersebut selalu ia bawa kemanapun dan kapanpun, namun entah saat ini ia lupa dimana ia meletakannya.

Kim Han Bin berlari menuju ruang tengah, mencari benda yang ia cari tersebut di berbagai sudut ruangan, namun hasilnya sama saja. Ia melemparkan tubuhnya pada sofa bewarna putih tulang tersebut. Masih dengan mengerang, ia lantas memejamkan matanya. Entah bagaimana ia begitu ceroboh saat ini. Ya, bukankah kemarin ia menemukan barang tersebut saat Bobby menyembunyikannya? Dan bukankah ia meletakkan barang tersebut di jaketnya? Tapi. . saat ia terbagun hari ini, ia sama sekali tak menemukannya.

“Ada apa?”

Kim Han Bin membuka matanya dan kini ia dapat melihat laki-laki lain menduduki sofa yang sama dengannya. Ya, Jung Yun Hyeong. Kim Han Bin membuang nafasnya, ia frustasi saat ini. Barang tersebut tak pernah hilang sebelumnya, jika pun ia lupa meletakkannya, tak butuh waktu lama untuk mencarinya, bukan? Namun ia sama sekali tak menemukannya kali ini.

“Kotak itu hilang,” ucap Kim Han Bin lemas.

“Bagaimana bisa? Bukankah kau membawanya kemarin? Kau sudah mencarinya di kamarmu atau dimanapun?”

Kim Han Bin mengangguk lesu. Ya, ia telah mencari barang tersebut kemanapun dan yakinlah ia sama sekali tak menemukannya. Bagaimana jika seseorang menemukannya dan mengambilnya tanpa izin? Bagaimana jika barang itu tak kembali padanya?

Kim Han Bin mengerang keras hanya memikirkan banyak hal yang kini mengusik pikirannya. Jung Yun Hyeong membuang nafasnya pelan sebelum ia mengelus pundak laki-laki yang lebih muda darinya setahun tersebut.

“Bersihkan pikiranmu, aku yakin kau akan menemukannya,”

Seorang laki-laki lain sambil bersiul berjalan keluar dari lift yang ia tumpangi. Dengan nyanyian yang sedikit bising, ia melanjutkan langkahnya menuju dorm yang ia tinggali bersama beberapa orang yang lain.

Bobby menghentikan langkahnya saat sekiranya ia telah sampai pada dorm dimana ia tinggali untuk beberapa saat ini, namun sesuatu tengah mencuri perhatiannya kali ini. Ya, sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya berada cukup dekat dengan salah satu tempat sampah yang ada di depan dormnya.

“Oh–”

Bobby mengernyit bingung saat ia menatap barang yang ia baru saja genggam saat ini. Ya, sebuah kotak yang pernah ia lihat sebelumnya. Tapi, dimana? Dan entah kenapa sekarang ia menjadi seseorang yang sangat pelupa. Ia lantas memasukkan benda tersebut pada salah satu kantung jaket yang ia kenakan sebelum akhirnya ia menekan bel pada dormnya.

“Han Bin-ah, sedang apa kau?” ucapnya kali ini saat Han Bin tak langsung menyapanya saat tadi ia membukakan pintu untuknya. Ya, Han Bin lantas melanjutkan kembali kegiatanannya untuk mencari sesuatu di segala penjuru dorm-nya.

“Ia kehilangan harta karunnya,”

“Harta Karun?”

Jung Yun Hyeong yang baru saja keluar dari kamar mandi mengangguk pelan. Sedangkan Han Bin tak memperdulikan pembicaraan keduanya. Ya, ia mulai kesal saat ini, mengingat ia sama sekali tak menemukan barang yang hilang sejak tadi pagi.

Bobby meletakkan dua buah kantung plastic yang ia bawa dari luar di atas meja makan.

“Harta karun?” tanya Bobby sekali lagi saat Jung Yun Hyeong juga Kim Jin Hwan berjalan mendekatinya. Mereka mengangguk bersamaan.

“Kau lupa? Bukankah kemarin kau yang menyembunyikannya saat permainan itu?”

“Permainan apa?” tanya Bobby sekali lagi. Oh baiklah, ia memiliki kelemahan dalam mengingat. Hal tersebutlah yang membuatnya mudah melupakan sesuatu, lebih tepatnya semua hal. Oh ayolah, ia sama sekali tak bisa mengingatnya saat ini. Dan demi Tuhan, ia sepertinya mengingat sesuatu, namun otaknya sekiranya masih tertidur pulas saat ini.

“Oh ayolah Kimbab, dimana kau menyembunyikannya?” tanya Han Bin tiba-tiba. Bobby lantas memutar tubuhnya memandang laki-laki yang tengah kesal saat ini dengan tatapan bingung.

“Apa maksudmu?”

“Kau kemarin yang menyembunyikannya, dan sekarang kau ingin mengerjaiku lagi? Ayolah ini sama sekali tidak lucu,” tambah Han Bin kali ini. Nada suaranya kini jauh berbeda dengan biasanya. Ya, ia terlihat marah saat ini, bahkan sangat marah.

“Aku sama sekali tak mengerti apa maksudmu?”

“Kubilang ini tidak lucu. Kau yang menyembunyikannya kan? Mengakulah!”

Semua orang terkejut saat Kim Han Bin baru saja memukul meja makan dengan segenap tenaganya. Ya, mereka memilih bungkam saat suasana seakan memanas saat ini. Kim Han Bin tak seperti biasanya akan memakai kata-kata kasar atau sekedar menaikkan intonasi suaranya pada orang lain. Dan mereka kini mengerti seberapa pentingnya barang tersebut untuk Han Bin.

Bobby menarik nafasnya dalam-dalam. Ya, ia tak ingin jika kali ini ia ikut tersulut emosi. Bagaimana tidak, ia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Han Bin. Dan saat ini, Han Bin tengah menuduhnya dengan apa yang sama sekali tak ia perbuat?

Bobby beranjak dari bangku makannya. Dan tanpa banyak bicara ia lantas melangkahkan kakinya keluar dari dormnya sekali lagi.

Bobby menekan-nekan layar sentuh ponsel miliknya, sekedar mengganti beberapa lagu yang tengah ia dengarkan saat ini. Ia lantas melepas kedua earphone yang ia kenakan saat ini. Ia lalu mengerang.

Oh baiklah, entah kenapa suasana hatinya sangat buruk saat ini. Bahkan lagu-lagu yang menjadi favoritnya saat menjadi nyanyian sumbang yang sangat ia benci.

Bagaimana tidak, hari ini Han Bin berbicara kasar dan menuduhnya seakan ia telah melakukan sesuatu yang salah. Ya, bahkan sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Ada apa dengan Han Bin hari ini? Apa ia lupa meminum pil datang bulan? Sehingga ia mudah sekali marah di masa datang bulannya sekarang?

Oh ayolah, itu adalah prasangka tertolol yang pernah ada. Lalu, kenapa?

Bukankah Yun Hyeong juga Jin Hwan mengatakan bahwa ia baru saja kehilangan sesuatu? Sesuatu. . yang berharga bukan? Sesuatu yang laki-laki itu anggap sebagai harta karunnya?

Tunggu, harta karun?

Ya, bukankah kemarin ia juga beberapa orang lainnya memainkan permainan treasure hunt? Dimana semua orang akan menyembunyikan barang yang dianggap sebagai harta karun bagi orang lain dan sang pemilik akan mencarinya?

“Oh!”

Bobby merogoh kantung sakunya saat ini dan ya, ia memang tengah mengantungi satu-satunya harta karun milik Han Bin.

“Ini dia. Ya, aku harus mengembalikannya,” ucap Bobby yang pada akhirnya beranjak dari bangku taman yang ia duduki. Ia bersiap untuk berlari menuju dormnya, namun ia mengurungkan niatnya kembali. Ia kemudian memutuskan untuk kembali menduduki bangku taman tersebut.

Bagaiamana bisa ia mengembalikannya? Bukankah tadi Han Bin uring-uringan hanya karena kehilangan barang ini? Bahkan ia tak segan memarahinya hanya karena barang ini?

Jika ia datang dan lantas mengembalikan barang ini pada Han Bin, tidakkah ia akan bertambah kesal padanya? Ya, seakan memang dialah yang menyembunyikan barang tersebut. Padahal kenyataannya, ia menemukannya di depan dorm hari ini.

Bobby memandangi kotak yang berlapis kulit kerang bewarna silver tersebut. Ya, ini tak lebih dari sebuah kotak saja. Tapi, kenapa Han Bin seakan tak mau kehilangannya? Dan bukankah selama ini laki-laki itu selalu membawanya kapanpun dan dimanapun?

“Apa istimewanya?” Bobby memutar mutar kotak berlapiskan kulit kerang tersebut. Sesekali ia membolak-balikkan kotak tersebut demi mencari sesuatu yang sekiranya menarik dan baiklah, kotak ini memang tak memiliki hal yang menarik. Tapi, tunggu.

Bobby melihat sisi lain kotak tersebut yang terlihat janggal. Kotak tersebut lebih nampak seperti kotak penyimpan cincin. Bobby sering menemukan kotak sejenis di beberapa tempat penjual perhiasan saat ia menemani ibunya. Dan ya, kotak ini memanglah kotak penyimpan cincin.

Mata Bobby membulat sempurna sekarang saat sekiranya memang benar sebuah cincin bermata merah terlihat dari kotak tersebut. Dengan mata berbinar-binar, Bobby lantas meraih cincin tersebut, namun senyumnya perlahan menghilang saat ia tahu bahwa cincin tersebut adalah cincin imitasi.

“Untuk apa Han Bin menyimpannya?”

Bobby lantas mengembalikan letak cincin tersebut seperti semula. Benar, untuk apa Han Bin menyimpan benda tersebut? Jika Han Bin seorang perempuan, ia dapat memakluminya, namun untuk seorang Han Bin, apakah tidak terlalu aneh?

“Oh tidak!”

Bobby baru saja menjatuhkan kotak tersebut saat ia melempar-lemparkannya dengan salah satu tangannya. Bobby lantas beranjak dari bangkunya dan hendak mengambil kotak tersebut, namun sayang salah seorang pejalan kaki dengan tidak sengaja menendangnya.

“Sh*t,” rutuknya yang lantas berlari mengejar kotak yang baru saja tertendang tadi. Namun sekali lagi seorang pejalan kaki, dengan terkesan ‘sengaja’ menendang kotak itu dan kali ini, kotak tersebut berada sangat jauh darinya.

Bobby mempercepat laju langkahnya demi mendapatkan kotak tersebut. Ya, Han Bin mungkin akan membunuhnya saat ini akibat hilangnya kotak itu di tangannya hari ini. Dan yakinlah, Bobby tidak bisa membayangkan hal itu.

Saat Bobby ‘sedikit lagi’ sampai pada kotak yang kini berada sendirian di jalanan setapak itu, nampak seorang wanita yang meraih kotak tersebut dan dengan sengaja membuka kotak tersebut.

“M-maaf,” ucap Bobby menyela saat wanita itu mengamati isi kotak yang daritadi ia kejar. Dengan sedikit membungkuk Bobby kembali berkata,

“Maaf, itu punya salah seorang temanku,”

Wanita itu nampak menyesal saat menatap Bobby yang kini berada di hadapannya. Ia lantas menutup kembali kotak tersebut dan memberikannya pada laki-laki yang berada di hadapannya tersebut.

Dengan senyum menyesal, Bobby kembali membungkuk, sebagai salah satu ucapan terima kasih dan maaf darinya. Ia lantas menggenggam erat kotak tersebut pada tangan kanannya. Ya, kali ini ia tak akan kehilangan benda itu lagi. Dan ia memang harus mengembalikannya sekarang.

“T-tunggu. .”

Bobby menghentikan langkahnya cepat saat ia yakin bahwa seseorang memintanya berhenti. Ia terliihat bingung saat ini karena wanita tadi yang memintanya untuk berhenti.

“I-itu milik salah seorang temanmu?” tanya wanita itu sedikit ragu. Bobby mengangguk cepat.

“B-bisa kau antarkan aku, untuk bertemu dengan temanmu?”

Bobby mengernyit tak mengerti. Ia hampir saja akan melanjutkan langkahnya sebelum wanita itu kembali berkata,

“Kumohon,”

Kim Han Bin memutar meja makan dorm berulang-ulang. Pada salah satu tangannya, ia tengah menggenggam ponsel miliknya. Baiklah ia akui bahwa tadi ia benar-benar keterlaluan. Tak seharusnya ia berkata kasar dan menggunakan intonasi yang sangat buruk pada Bobby. Ia juga tak seharusnya menuduh laki-laki itu yang mengambil barang yang menjadi satu-satunya selama ini ia simpan.

“Tenang saja, ia akan baik-baik saja. Ia akan pulang saat ia lapar,” ucap Kim Jin Hwan yang sibuk dengan ponsel miliknya. Kim Han Bin mendengus pelan. Bukan. Bukan karena Bobby yang belum pulang hingga sekarang, tetapi rasa bersalah dan menyesal karena apa yang ia perbuat tadi.

Kim Han Bin lantas berlari menuju pintu saat sekiranya seseorang tengah menekan bel pintu dorm.

“Ya! Kimbab ah!” Kim Han Bin lantas memeluk laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya sekarang. Jujur ia tak tahu apa yang harus ia katakan sebagai salah satu bentuk permohonan maafnya, jadi ia melakukan hal tersebut

Kim Han Bin lantas merenggangkan pelukannya saat ia tahu bahwa temannya tersebut sama sekali tak merespon apa yang tadi ia lakukan. Tatapan Bobby datar saat ini, dan kiranya Kim Han Bin berpikir bahwa Bobby benar-benar marah karenanya saat ini.

“Y-ya, Bobby h-hyung. A-aku menyesal karena–”

Belum habis apa yang dikatakan laki-laki tersebut, tiba-tiba sosok wanita muda tengah berjalan ke arahnya. Untuk sesaat Han Bin terdiam di tempatnya saat kedua matanya menangkap sosok yang tak asing baginya, namun sekian detik selanjutnya ia lantas mengalihkan pandangannya saat wanita itu tersenyum padanya.

“Hai Han Bin,” ucap wanita mud itu melambaikan salah satu tanggannya yang terasa begitu canggung. Kim Han Bin mengunci mulutnya. Ya seakan ia mengharamkan wanita muda itu untuk bertemu dengannya

Kini Kim Han Bin tengah memainkan kotak berlapiskan kulit kerang bewarna perak pada salah satu tangannya. Sedangkan seorang wanita duduk tak jauh darinya dan sedari tadi menatap Han Bin, seakan meminta laki-laki yang mendiamkan dirinya selama setengah jam ini, untuk membuka mulutnya.

Wanita muda itu lantas meraih cangkir yang berisikan teh hangat yang tadi Kim Jin Hwan berikan padanya beberapa menit yang lalu dan meminumnya. Masih sama, ia masih menatap laki-laki-laki itu yang sekiranya masih diam.

Mereka tengah berada di ruang tamu dorm. Ya, hanya berdua. Sekiranya ada sesuatu atau lebih tepatnya banyak hal yang ingin mereka bicarakan saat keduanya lama tak berjumpa. Namun, mereka entah enggan untuk memulainya.

“Bagaimana kabarmu, Han Bin-ah?”

“Baik,” ucap Han Bin begitu singkat. Wanita muda itu menggigit bibir bawahnya. Respon yang diberikan tak sesuai yang ia harapkan selama ini.

“Senang aku bisa bertemu denganmu sekali lagi, semenjak–kejadian itu,”

Kim Han Bin kini meletakkan dengan kasar kotak cincin itu pada meja yang ada di hadapannya, hingga siapapun yang ada di sana dapat mendengar suara yang dihasilkan. Kim Han Bin mendengus pelan.

“Maafkan aku,”

“Jadi kau datang hanya untuk itu?” Nada suara Kim Han Bin tak pernah membaik sejak wanita muda itu menjajakkan kakinya di dormnya. Wanita muda itu terdiam sesaat.

“Kau tahu aku tak bermaksud menyakitimu,”

“Tak bermaksud katamu? Tak bermaksud katamu?!” Kim Han Bin membuang nafasnya. Ya, intonasi yang terdengar begitu kasar tanpa sadar keluar kembali dari bibirnya saat ini sekali lagi. Wanita itu tertunduk.

“Kau membuat salah satu muridmu merasa kecewa atas mimpinya, kau membuat salah satu muridmu berhenti untuk menghormatimu,”

“Apa maksudmu?”

Kim Han Bin tekekeh pelan. Kekehannya terdengar begitu sinis saat ini.

“Bukankah kau yang seakan membuat semua muridmu menyukaimu dan oh setelahnya kau akan menyakitinya dengan membuat harapan mereka pupus begitu saja?”

“Cukup!” pekik wanita muda itu saat ini. Nafasnya terengah saat ini. Ya, ia yakin ia juga tersulut emosi karena laki-laki yang memiliki selisih umur yang cukup jauh dengannya itu.

Kim Han Bin terdiam. Ia juga tersulut emosinya. Ia lantas mengambil nafas dalam-dalamnya sebelum ia mengeluarkannya perlahan. Ia terlalu berlebihan? Tidak. Ia hanya tak tahan dengan semua hal yang mengusik pikirannya selama bertahun-tahun, perasaan tersakiti yang ia umpatkan selama bertahun-tahun dan kini bagai sebuah mimpi, hal tersebut meminta ingin diingat untuk kesekian kalinya

“Aku tak pernah bermaksud demikian. Aku tak pernah bermaksud untuk membuat murid-muridku menyukaiku atau menaruh harapan padaku, Han Bin,”

“Lalu apa?”

“Aku menganggap kalian adalah muridku, adikku. . termasuk kau Han Bin,”

“Lalu kenapa kau memutuskan untuk pergi begitu saja?”

Wanita muda itu menggigit bibir bawahnya. Matanya terlihat nanar saat ini. Ia tak pernah menyangka akan seperti ini akhirnya. Ya, laki-laki yang ia kenal sejak beberapa tahun lalu, seorang laki-laki yang terlihat begitu lembut dan ceria, kini seakan berubah menjadi laki-laki tegas dan kuat.

“Karena aku tak mau menyakitimu,” ucap wanita itu begitu pelan. Hingga Kim Han Bin yakin melihat beberapa bulir air mata dari guru kesayangannya tersebut. Mungkin dahulu, tidak untuk sekarang.

Kim Han Bin menarik nafasnya saat ini.

“Kau berbicara seolah kau menyayangiku,” ucap Han Bin pelan. Wanita itu mengangkat wajahnya dan benar beberapa bulir air mata memang terlihat di kedua pipinya saat ini.

“Aku menyayangimu Han Bin, sama seperti dulu, sama seperti apa yang aku katakan beberapa tahun yang lalu,” ucap wanita itu saat ini. Nada suaranya terdengar bergetar.

Kim Han Bin tersenyum sinis. Benar, wanita itu memang mengatakannya saat itu. Saat dimana ia benar-benar menyukai seorang perempuan saat itu. Menyukai perempuan yang lebih tua darinya, perempuan yang lebih pantas ia sebut sebagai salah satu gurunya saat di bangku Sekolah Menengah Pertama..

Hal bodoh tersebutlah yang membuatnya nekat untuk menyimpan semua uang jajannya untuk membeli sebuah cincin imitasi yang ia tujukan untuk gurunya tersebut. Baiklah, ia memang sangat naive karena terlalu dini mengenal apa itu cinta. Hingga ia memutuskan untuk memberikan cincin tersebut.

Kotak cincin yang ia gunakan bukan sebuah kotak cincin biasa. Ya, ayahnya dahulu juga menyatakan cintanya pada ibunya dengan memberikan cincin yang diletakkan pada kotak yang sama. Sebuah kotak yang bernilai sangat tinggi untuk Han Bin, dan ia bermaksud untuk memberikannya saat ia juga gurunya tersebut pergi bersama nantinya.

Sebelumnya Han Bin juga menyimpam uang sakunya demi membeli dua tiket kebun binatang. Karena dirinya ingin sekali melihat seekor simpanse, wanita muda itu mengetahui hal itu dan ia pernah berjanji untuk menemaninya untuk itu suatu saat nanti.

Namun, semuanya pupus. Semua harapan dan mimpi Han Bin sirna begitu saja saat Han Bin tanpa sengaja bertemu wanita muda itu dengan seorang pria yang mana adalah calon suaminya saat itu. Wanita itu lantas memutuskan untuk berhenti mengajar dua hari setelah sebuah undangan pernikahan keduanya datang ke sekolahnya.

“Kau tahu seorang murid akan salah mengartikan hal itu,” ucap Kim Han Bin saat ini.

Wanita muda itu lantas mengusap air matanya. Ya, ia merasa menyesal tentang apa yang dilakukannya saat itu, namun sekiranya semua terkesan percuma dan sama sekali tak mengubah apapun. Terasa. . sia-sia

“Maafkan aku Han Bin,”

Wanita muda itu lalu beranjak tempat duduknya, mengambil nafasnya dalam-dalam, berusaha mengontrol perasaaannya dan menghentikan tangisnya saat ini. Ia lalu menatap Kim Han Bin lurus, meski laki-laki itu tak menatapnya

“Aku tahu kau tak menyukai kehadiranku saat ini. Tapi, sekali lagi terima kasih atas jamuan ini,”

Wanita muda itu lantas meraih tas yang tadi ia bawa dan berjalan menuju pintu depan dan pergi begitu saja.

Kim Han Bin sempat melihat wanita itu saat ada di ujung pintu dan akhirnya benar-benar pergi. Tak dapat ia pungkiri bahwa ia merindukan wanita itu juga, namun apa yang ia bisa?

Saat ia bertemu saja, perasaan marah yang menguasainya bahkan semua gerak-geriknya terasa begitu salah. Meski ia begitu marah pada wanita itu, meski ia begitu membenci sosok itu, ia tak pernah menyesal telah menyukai juga mencintai wanita itu.

Ya, perasaan yang memang salah untuknya, namun ia tak pernah menyesal akan adanya hal itu. Pengalaman pahit yang tersimpan dengan baik pada kotak berlapiskan kulit kerang perak itu, akan selamanya ada di sana sampai kapanpun. Ia memang ingin melupakannya. Tapi ia tahu itu tak mungkin.

Meski ia sangat ingin melupakannya, dibalik itu semua, ia juga ingin mengingatnya. Maka tugasnya sekarang adalah untuk menyimpannya dengan baik. Sebuah rahasia yang hanya dia yang tahu.

“K-kau baik-baik saja?”

Kim Jin Hwan juga beberapa laki-laki yang lain menatapnya begitu cemas. Ya, ia tahu, mereka mendengar semua percakapan antar dirinya juga wanita itu. Kim Han Bin menarik nafas panjangnya sebelum ia menyunggingkan kedua ujung bibirnya.

“Aku lapar, bisakah kita makan sekarang?”

Advertisements

9 thoughts on “Secret Behind (One Shoot)

  1. baca ini sedih banget ngelihat si hanbin 😦 , saemnya terlalu memberi perhatian dan membuat salah sangka benci sama saemnya . “hanbin ah noona siap menemanimu kapan saja asal kau bisa melupakan saem itu” hehehehhe . gak mau deh ngelihat hanbin marah plus sedih mending lihat dia tersenyum bahagia . good job aku tunggu yang lain ne authornim

    Like

    1. Jangan hanbin ah, sama nunna yg satu ini aja XD hehehe. Makasi jagiya, uda mau baca πŸ˜€ thanks uda mau komen. Okay, kyknya hrus buat next member ikon heheh

      Like

  2. Hahahhaha hanbin galau xD kkkk
    Aduuh sama nuna cantik ini aja xD g jauhlah umurnya hahhah xD /hugs hanbin/
    Omooo ini ada bobyyy kyaaaa pngn baca bobby juga kkkk xD buat ff ttg bobby dong authornimmm kkkk
    Oh q kira td cwe itu hayi hahha xD lol lain kali buat hanbin sama hayi xD /slaps/ mereka new pairing hahhhaa
    Cerita lucu sih, imut2 bahsanya bagus ^^
    Keep writing kkk
    Sering buat fluff xD

    Like

    1. Jangan hanbin, dia tua hehehe. Canda nunna πŸ™‚ yap makasi banyak nunna ud mau baca hehe. Iya rencananya mau bkin bobby tp gatau kapan nih hehe. Skali lagi makasi uda mau baca dan komen πŸ˜€

      Like

  3. Yaampun aku kira tadi kenapa si hanbin marah cuma gara-gara kotak cincin hilang cincin imitasi pula ternyata bukan nilainya yang berharga taping sejarahnya juga kenangannya.. Wkwkwk beneran kasian lihat hanbin, aku bener-bener gk bisa komen kalo ff yang ceritanya ditinggal nikah.. Nyerah nyerah itu menyakitkan XD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s