fluff · Genre · Length · Vignette

Weird Couple


heeEdit

 

Title: Weird Couple
Author: ts_sora
Cast: Kim Hee Chul and The Girl as You
Genre: fluff
Length: Vignette

Disclaimer: This belongs to me and the casts belong to their entertainment company. No plagiarism juseyo

A/N: Anyeong! Tiba-tiba saja kepingin buat ini fanfiction. Padahal ga ada niat awalnya. Haha, ini semua karena ulah Kim Heenim oppa, kenapa tidak? Baru aja lihat airport fashionnya yang super konyol. Astaga bang, suka banget sama Frozen -,- Just Enjoy the story~

———————————————————————- —————————————————–

 
Aku menatap laki-laki cantik yang masih sibuk dengan beberapa boneka yang ada di etalase. Oh Tuhan, entah berapa jam aku harus menunggu laki-laki itu di sana yang masih bergelut dengan berbagai boneka yang sebenarnya diperuntukkan untuk para gadis.

 

“Menurutmu bagaimana? Bagus ini atau yang ini?” tanyanya yang kali ini memperlihatkan tiga buah boneka dari animasi kawakan Disney. Ya, Frozen. Sebuah boneka Elsa dan satu lagi adalah . . entahlah aku tak mengingat semua karakter animasi yang tak pernah kulihat itu. Yang aku ingat hanya satu, yaitu sebuah background music dengan kata yang sama ‘Let It Go’.

 

“Boleh kuperjelas? Semua boneka ini sama saja. Tak ada bedanya,” ucapku sedikit kesal. Laki-laki itu sedikit merengut mendengar jawaban dariku.

 

“Ya! Aku juga tahu, bisakah kau tak menggunakan volume setinggi itu padaku?”

 

Laki-laki itu lantas kembali lagi bergelut dengan boneka-boneka yang ada di etalase sekali lagi. Oh demi Tuhan, rasanya ingin sekali membunuh laki-laki cantik itu sekarang juga.

 

Aku tak mengerti bagaimana seorang laki-laki bisa sangat tergila-gila dengan tokoh animasi yang bahkan sama sekali tak nyata. Dan ayolah, lebih nyata mana aku atau tokoh animasi yang sangat ia kagumi itu?

 

Baiklah, ku akui, aku dan dirinya berkencan sejak dua tahun yang lalu. Dan sejujurnya, kami tak bisa disebut dengan pasangan yang biasa. Semua orang akan mengira kami adalah sepasang kekasih yang sangat aneh. Bagaimana tidak, kami tak pernah bersikap romantis atau manis satu sama lain. Dan payahnya, kepribadian yang seakan tertukar inilah, membuat semua orang mengira kami adalah pasangan yang aneh.

 

Kuakui, aku tak menyukai pakaian perempuan ataupun benda-benda yang kau sebut, feminine. Aku jarang sekali mengenakan make up, oh mungkin lebih tepatnya memang tak pernah, jarang mencuci rambutku atau sekedar merapikannya. Sedangkan laki-laki itu? Ia adalah laki-laki metroseksual yang terkadang diragukan gender-nya.

 

“Lihatlah!” ucapnya yang baru selesai berbelanja barang yang tidak berguna itu. Aku mendengus pelan karenanya.

 

“Oh baiklah, bisa kita pulang sekarang? Aku lelah,” ucapku tanpa memperdulikannya saat ini. Hari ini adalah hari libur nasional, dan sebenarnya kami akan menghabiskan waktu bersama, mungkin dengan berjalan-jalan sebentar atau makan siang bersama, namun nyatanya laki-laki itu yang menyita kesempatan hari ini. Bagaimana tidak, sudah tiga jam lamanya, dan laki-laki itu hanya menghabiskan waktunya dengan membuang uangnya dengan berbagai hal berbau tokoh animasi kesukaannya itu.

 

“Kau yang menyetir ya?”

 

“A-apa? Kau kira aku ini supirmu?”

 

“Ya! Kau ini bagaimana jika kau supirku, aku sudah menyuruhmu memakai seragam dan membayarmu tiap bulan,”

 

Aku mendengus keras. Aku lantas meraih kunci mobil miliknya dan berjalan menuju bangku mengemudi.

 

Di sepanjang peejalanan, kami memang tak banyak bicara. Terkadang laki-laki itu yanh akan menyanyikan beberapa lagu kesukaannya dengan suara yang kau bisa sebut. . sangat buruk. Atau, mendengar laki-laki itu berbicara sendiri dengan beberapa tokoh animasi yang ia beli tadi.

 

“Kau ingin makan apa?”

 

Aku mengunci bibirku saat ini saat laki-laki itu mulai bertanya. Sungguh, ia adalah orang yang sangat dan sangat menyebalkan. Entah kenapa, hubungan kami bisa berjalan begitu lama hingga sekarang. Bukan, bukan karena aku tak ingin mengakhirnya, namun entahlah, mungkin semua orang bisa menyebutku gila saat ini.

 

“Kau marah?”

 

“Mungkin,” ucapku terlampau singkat. Ia mendengus pelan. Ia lantas meletakkan boneka dan bantal yang memiliki desain yang sama tersebut pada bangku belakang. Ia lalu menatapku saat ini. Ya, menatap seorang supir yang masih fokus dengam kemudinya.

 

“Kau marah karena aku menghabiskan waktu?”

 

“Itu benar,”

 

“Kau ingin pulang sekarang?”

 

Aku menatapnya dengan pandangan membunuh saat ini. Bagaimana bisa ia akan menggagalkan rencana awal kami? Apa ia tak tahu bagaimana cacing-cacing di perut sudah memberontak?

 

“Kau gila? Kau ingin aku membunuhmu dengan cara mengarahkan mobil ini ke jurang?”

 

Kim Hee Chul, laki-laki cantik itu lantas tertawa lepas saat ini.

 

“Aigoo, my baby. Kau tahu, sampai saat ini aku meragukan bahwa kau adalah seorang perempuan,”

 

“Sinting,” rutukku yang bertambah kesal. Laki-laki cantik itu pun tertawa lebih keras dari sebelumnya.

 

“Siapa yang sinting?”

 

“Kau,”

 

“Kau yakin?”

 

“Ya itu benar! Mana ada seorang laki-laki yang menghabiskan uangnya hanya untuk benda yang tak berguna? Lihatlah, kau membeli beberapa boneka dengan figur yang sama, bantal dengan gambar figur yang sama, dan. .”

 

Mataku tertuju pada tas tangan bewarna pink yang dengan jelas tergambar dua gadis tokoh animasi Frozen di sana. Dan argh, itu pink!

 

“Kau ini laki-laki, bagaimana bisa kau membeli semua ini? Kau seharusnya membeli miniatur mobil atau. . beberapa majalah dewasa kalau perlu,”

 

“Majalah dewasa? Kau ingin aku menjadi laki-laki hidung belang?”

Aku menelan ludahku berat.

 

“T-tidak, maksudku. .”

 

“Boleh kutahu warna pakaian dalammu saat ini?”

 

“Ya! Kau ingin aku membunuhnu saat ini?” ucapku yang kali bersiap dengan salah satu kepalan tangan yang bisa saja aku luncurkan kapan saja. Laki-laki itu lantas terkekeh sekali lagi.

 

“Ayolah, aku bukan seorang hidung belang. Mungkin tidak untuk sekarang,”

 

“Belilah miniatur mobil, maka semua orang akan bisa mengenalimu sebagai seorang laki-laki,”

 

“Dan belilah pakaian perempuan, agar semua orang dapat melihatmu sebagai seorang perempuan,” potongnya yang kali ini disertai kekehan sekali lagi. Aku mendengus pelan. Baiklah, mungkin itu benar. Tapi, aku benar-benar tak menyukai hal-hal yang seperti demikian. Dan memang, mungkin kepribadian kami tertukar sejak kami dilahirkan.

 

“Kau tak bisa disebut sebagai perempuan,”

 

“Terserah,” ucapku kalah. Ya, ini bukanlah sekali atau dua kali dalam hidup di saat harus mengalah dengan laki-laki yang sebenarnya lebih tua dariku itu. Jujur, kami selalu bertengkar, berselisih akibat masalah yang kau bisa bilang, selalu dia yang memulai. Dia sangat memuakkan, kuakui itu, terkadang ia sangat brengsek, tapi kau tak bisa menolak saat ia ingin bertemu dengannya, itulah yang aku rasakan selama ini.

 

“Apa kau lebih menyukai tokoh itu?”

 

“Apa?” tanya Kim Hee Chul mengulang. Ya, setidaknya ia sibuk kembali dengan beberapa boneka dan bantal figur yang ia beli tadi.

 

“Kutanya, apa kau lebih menyukai tokoh-tokoh animasi itu?”

 

“Jika dibanding apa?”

 

Aku berdehem pelan. Mungkin ini sedikit aneh saat harus menanyakan hal ini pada laki-laki itu, namun ayolah, mungkin sesekali itu perlu ditanyakan. Karena yang kutahu, Kim Hee Chul tak pernah mengatakan bagaimana ia mencintaiku atau seberapa besar perasaannya terhadapku. Ia lebih sering mengatakan hal itu pada boneka atau bantal kesayangannya, ya dengan tokoh animasi kesukaannya. Dan setidaknya aku hanya ingin memastikan apakah laki-laki itu masih normal atau tidak.

 

“Dengan. . dengan. . denganku,” ucapku setengah berbisik. Kim Hee Chul sempat mendekatkan kepalanya lebih dekat denganku, berusaha mendengar apa yang aku katakan barusan. Ia mengernyit namun ia kemudian,

 

“Ya! Kau kira aku bisa mendengar ucapanmu barusan?”

 

Aku membuang nafasku berat, lalu menatapnya dengan tatapan kesal sekali lagi.

 

“KUBILANG, JIKA DIBANDINGKAN DENGANKU, BODOH!”

 

Kim Hee Chul tertawa saat ia mendengar teriakanku barusan. Tawanya bahkan tak berhenti sampai saat ini. Ya, hal tersebut membuatku hampir mati oleh karena rasa malu. Sungguh ini memalukan. Jujur, ini adalah pertanyaan konyol pertama yang aku luncurkan untuknya dan beginikah responnya? Sial!

 

“Aigoo, kau menjadi seorang perempuan sekarang?” tanyanya yang berusaha menghentikan tawanya. Ia lantas menghapus air mata yang sempat terlihat pada ujung matanya. Cih, ia telihat sangat bahagia saat menggodaku.

 

“Kau tahu, kenapa aku menyukaimu?”

 

“Kenapa?”

 

“Karena kukira kau adalah seorang gadis yang tak menyukai laki-laki,”

 

“Ya!”

 

Kim Hee Chul kenbali tertawa saat ini. Namun tawanya terhenti saat aku berhasil memasukkan salah satu figur kesayangannya pada mulutnya. Ia mengerang pelan.

 

“Ayolah, bagaimana bisa kau cemburu dengan semua figur yang aku beli? Ini hanyalah boneka, dan bantal biasa, tak ada istimewanya. Jika aku menyukai seseorang yang mirip dengan Anna atau Elsa diluar sana, dan menikahinya, kau boleh cemburu,”

 

“Aku serius!”

 

Kim Hee Chul terkekeh pelan mendengar protesku. Ia lantas meraih pucuk kepalaku dan mengelusnya pelan. Sebuah senyum ia sengaja kembangkan.

 

“Aku mencintaimu, apa itu belum cukup?”

 

Kim Hee Chul berteriak saat aku dengan tidak sengaja menginjak edal rem dengan sangat tiba-tiba, hingga kami berdua bisa saja terpental bila kami lupa mengenakan seatbelt kami. Ia mengerang saat sekiranya dahinya mencium kaca mobil dengan lumayan keras.

 

“Ya! Kau ini bisa menyetir tidak? Kau tahu, aku berusaha romantis tadi,”

 

“Mana aku tahu? Aku tidak sengaja menginjak rem,” ucapku yang masih saja terdengar kesal. Aku menatap Kim Hee Chul yang mengelus dahunya yang kesakitan. Ya, aku bisa melihat ada luka lebam di sana. Oh sungguh, aku memang bodoh dalam hal ini. Aku memang tak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya dan sialnya reaksiku begitu payah.

 

“Apa masih sakit?” tanyaku khawatir. Ia masih mengelus dahinya dengan beberapa rambut miliknya. Ia merengut, aku tahu ia mencoba menahan rasa sakitnya saat ini.

 

“Turunlah,” ucapnya pelan yang masih mengelus dahinya. Wajahnya datar, apakah laki-laki itu marah saat ini?

 

“A-apa?”

 

“Iya, turun. Biar aku yang menyetir,”

 

Aku menelan ludahku yang terasa sangat berat. Benar laki-laki itu sekiranya marah dengan apa yang baru kuperbuat tadi. Tapi sungguh, aku tak bermaksud melakukannya tadi.

 

“Kenapa? Dan tumben sekali kau ingin menyetir saat ini? B-bukankah. .” ucapku yang berusaha mempertahankan bangku kemudiku. Sungguh, sungguh konyol jika ia menurunkanku di jalan saat ini.

 

“Kau ini cerewet sekali? Aku saja yang menyetir karena saat ini kau sudah berubah menjadi perempuan. Aku tak mau mereka mengecapku sebagai laki-laki tak bertanggung jawab, karena membiarkan kekasihnya menyetir,” ucapnya sambil tersenyum jahil padaku. Aku memautkan bibirku kesal. Bukankah selama ini memang aku yang seakan menjadi supirnya?

 

“Kau kira aku ini laki-laki?

 

“Bukankah memang seperti itu selama ini? Hahaha. Ayolah, aku saja yang menyetir. Aku tak ingin kau mengakhiri hidupku dengan membiarkanmu menerjunkan mobil ini ke jurang,”

 

.
.
.
.
.
.
.

 

Edit

Advertisements

2 thoughts on “Weird Couple

  1. komen lagi ^^ , walaupun mereka berdua sama-sama anehnya tapi mereka saling mencintai . buktinya mereka pas berantem ya berantem aja terus tiba tiba enggak berantem . memang couple yang aneh , coba buat member choco ball pasti seru mereka juga anehkan.

    Like

  2. Aigoo.. We are really really weird couple tsora. I like them and your story ofcourse😍 penasaran gimana mereka pertama kali kenal hingga memutuskan utk berkencan. Pasti bnyak hal2 konyol di antara mereka😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s